Bab ini berisi kesimpulan yang didapat dari hasil analisis data, keterbatasan, dan saran bagi penelitian selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. PENGERTIAN BUDAYA
Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Segala sesuatu yang terdapat pada masyarakat ditentukan dan dipengaruhi oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri.
Schein (1995) mendefinisikan budaya sebagai suatu pola asumsi dasar, ditemukan, diciptakan dan dikembangkan oleh sekelompok orang, seperti cara belajar, mengatasi masalah integrasi intern dan adaptasi ekstern, yang dipertimbangkan secara valid, dipilih oleh anggota kelompok sebagai jalan yang benar. Budaya dapat dipandang sebagai pengertian yang unik karena tidak diucapkan terhadap anggota kelompok.
Hofstede (1980;1983) menjelaskan bahwa budaya sebagai suatu program kolektif dari pemikiran yang dapat membedakan antara satu kelompok manusia dengan yang lainnya.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.
Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup,
organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
B. POLA BUDAYA
Budaya adalah nilai dan attitude yang digunakan dan di yakini oleh suatu masyarakat atau negara. Hofstede menurunkan konsep budaya dari program mental yang dibedakan dalam tiga tingkatan (Hofstede 1980: 15), yaitu: 1) tingkat universal, yaitu program mental yang dimiliki oleh seluruh manusia, pada tingkatan ini program mental seluruhnya melekat pada diri manusia. 2) tingkat collective, yaitu program mental yang dimiliki oleh beberapa, tidak seluruh manusia hanya khusus pada kelompok atau kategori dan bisa dipelajari. 3) tingkat individual, yaitu program mental yang unik yang dimiliki oleh hanya seorang, dua orang tidak akan memiliki program mental yang persis sama, artinya sebagian kecil melekat pada diri manusia, dan lainnya dapat dipelajari dari masyarakat, organisasi atau kelompok lain.
Dalam ilmu sosial, pada umumnya tidak dapat dilakukan pengukuran suatu konstruk secara langsung, sehingga paling tidak harus digunakan dua pengukuran yang berbeda. Program mental ini oleh Hofstede dijelaskan dengan dua konstruk yaitu value (nilai) dan culture (budaya). Nilai didefinisikan sebagai suatu tendensi yang luas untuk menunjukkan state of affairs tertentu atas lainnya, yang pengukurannya menggunakan belief, attitudes, dan personality. Sedangkan culture didefinisikan oleh Hofstede (1991: 4) sebagai program mental yang berpola pikiran (thinking), perasaan (feeling), dan tindakan (action) atau disebut dengan “software of the mind”.
Pemrograman ini dimulai dari lingkungan keluarga, kemudian dilanjutkan dengan lingkungan tetangga, sekolah, kelompok remaja, lingkungan kerja, dan lingkungan masyarakat. Dengan demikian kebudayaan adalah suatu sistem nilai yang dianut oleh suatu lingkungan, baik lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan kerja, sampai pada lingkungan masyarakat luas. Pemrograman mental atau budaya ini dikembangkan melalui suatu sistem nilai yang berkembang dalam masyarakat, kemudian sistem nilai ini akan menjadi norma-norma sosial yang mempengaruhi perilaku sosial.
Hofstede (1980:27) menggambarkan pola budaya seperti pada gambar 2.1.
ORIGIN Of major groups Of population
CONSEQUENCES Structure and
functioning of instituions:
Family patterns Role of differentiation Social stratification
Forces of nature, Force of man:
Trade, Conquest Scientificdiscovery
Reinforcement Sumber: Hofstede (1980)
Gambar 2.1 Pola Budaya
C. TINGKATAN BUDAYA
Hofstede (1991:10) mengkategorikan lapisan budaya untuk mengelompokkan kebiasaan orang sesuai dengan lingkungannya:
a) Tingkatan nasional (national level), berdasarkan suatu negara.
b) Tingkatan daerah (regional), dan/atau suku (ethnic), dan atau agama (religion), dan atau bahasa (lingistic).
c) Tingkatan perbedaan jenis kelamin (gender).
d) Tingkatan generasi, misalnya orang tua dengan anak-anak.
e) Tingkatan sosial, dihubungkan dengan pendidikan, dan pekerjaan atau profesi.
f) Tingkatan organisasi atau perusahaan.
D. DIMENSI BUDAYA HOFSTEDE
Berdasarkan analisis faktor, Hofstede (1980) secara empiris menemukan ada empat dimensi program mental, yaitu:
1) Power Distance, merupakan dimensi budaya yang menunjukkan adanya ketidak sejajaran (inequality) bagi anggota yang tidak mempunyai kekuatan/kekuasaan dalam suatu institusi (keluarga, sekolah, dan masyarakat) atau organisasi (tempat bekerja). Perbedaan kekuasaan ini berbeda-beda tergantung dari tingkatan sosial, tingkat pendidikan, dan jabatan. Misalnya politisi dapat menyukai status dan kekuasaan, pebisnis menyukai kesejahteraan dan kekuasaan, dan sebagainya. Ketidak sejajaran ini dapat terjadi dalam masyarakat (perbedaan dalam karakteristik mental dan phisik, status sosial, kesejahteraan, kekuasaan, aturan, hukum, dan hak), keluarga, sekolah, dan ditempat kerja/organisasi (Nampak pada struktur organisasi dan hubungan antara boss-subordinate). Pada masyarakat yang mayoritas power distance tinggi, maka tidak ada persamaan tingkatan yang ada hanyalah pengakuan
tingkatan. Sedangkan pada masyarakat yang power distance kecil, maka tidak mengakui perbedaan dan membutuhkan persamaan tingkatan di dalam masyarakat.
2) Uncertainty Avoidance, merupakan dimensi budaya yang menunjukkan sifat masyarakat dalam menghadapi lingkungan budaya yang tidak terstruktur, tidak jelas, dan tidak dapat diramalkan. Pada masyarakat yang memiliki tingkat uncertainty avoidance tinggi akan dapat mengurangi dampak ketidakpastian dengan teknologi, peraturan dan ritual. Sebaliknya jika rendah maka praktik lebih tergantung pada prinsip dan penyimpangan dapat ditoleransi.
3) Individualitas versus kolektivitas merupakan dimensi kebudayaan yang menunjukkan adanya sikap yang memandang kepentingan pribadi dan keluarga sebagai kepentingan utama ataukah sebagai kepentingan bersama di dalam suatu kelompok. Dimensi ini juga dapat terjadi di masyarakat, dan organisasi. Dalam organisasi yang masyarakatnya mempunyai dimensi Collectivism memerlukan ketergantungan emosional yang lebih besar dibandingkan dengan masyarakat yang memiliki dimensi Individualism (Hofstede: 1980, 217).
4) Maskulinitas versus femininitas, merupakan dimensi budaya yang menunjukkan bahwa dalam tiap masyarakat terdapat nilai kinerja dan pencapaiannya, sedangkan feminine cenderung pada kualitas hidup masyarakat, hubungan persaudaraan, mode, dan peduli dengan yang lemah.
5) Hofstede dan Bond (1988) menambahkan dimensi budaya kelima yaitu Confucian Dynamism, yang kemudian dinamakan dengan orientasi jangka panjang. Hofstede (2001) mendefinisikan orientasi jangka panjang sebagai gambaran masa datang yang berorientasi pada reward dan punishment. Dimensi ini mengukur sejauh mana budaya menekankan nilai-nilai yang berorientasi menuju masa depan (orientasi jangka panjang) berbeda dengan mereka, yang berorientasi pada masa lalu dan masa kini (orientasi jangka pendek).
E. BUDAYA ETNIS ARAB
Bangsa Arab mempunyai akar panjang dalam sejarah, mereka termasuk ras atau rumpun bangsa Caucasoid, dalam sub ras Mediteranean yang anggotanya meliputi wilayah sekitar Laut Tengah, Afrika Utara, Armenia, Arabia dan Irania. Mereka mendiami wilayah jazirah Arabia yang dahulu merupakan sambungan dari wilayah gurun yang membentang dari Barat, Sahara di Afrika hingga ke Timur melintasi Asia, Iran Tengah dan Gurun Gobi di Cina. Wilayah itu sangat kering dan panas karena uap air laut yang ada di sekitarnya (Laut Merah, Lautan Hindia dan Laut Arab) tidak memenuhi kebutuhan untuk mendinginkan daratan luas yang berbatu itu.
Penduduk Arab tinggal di kemah-kemah dan hidup berburu untuk mencari nafkah, bukan bertani dan berdagang yang tidak diyakini sebagai kehormatan bagi mereka, memang negeri itu susah untuk ditanami.
Keberadaan masyarakat etnis Arab di Indonesia sudah berlangsung beratus-ratus tahun. Ada yang memerkirakan sejak penyebaran agama Islam
di wilayah Nusantara dan Tanah Melayu. Keberadaan etnis Arab tersebar di hampir semua kepulauan Nusantara sejalan dengan proses penyebaran agama Islam. Sebagian ahli berpendapat penyebaran Islam di Indonesia dilakukan oleh para saudagar dari Gujarat - sebuah wilayah di India- bukan oleh bangsa Arab secara langsung.
Di semua wilayah Nusantara keberdaan sub-etnik Arab selalu menempel (embedded) dengan etnik setempat. Walaupun disana-sini terlihat seakan-akan terjadi segregasi (adanya koloni "Kampung Arab") akan tetapi secara sosio-kultural sub-etnik Arab tetap mewujudkan diri dalam tampilan budaya setempat.
F. IAS (International Accounting Standard)
Standar Akuntansi Internasional (International Accounting Standards/IAS) disusun oleh empat organisasi utama dunia yaitu Badan Standar Akuntansi Internasional (IASB), Komisi Masyarakat Eropa (EC), Organisasi Internasional Pasar Modal (IOSOC), dan Federasi Akuntansi Internasioanal (IFAC). Badan Standar Akuntansi Internasional (IASB) yang dahulu bernama Komisi Standar Akuntansi Internasional (AISC), merupakan lembaga independen untuk menyusun standar akuntansi. Organisasi ini memiliki tujuan mengembangkan dan mendorong penggunaan standar akuntansi global yang berkualitas tinggi, dapat dipahami dan dapat diperbandingkan.
Iqbal, Melcher dan Elmallah (1997:18) mendefinisikan akuntansi internasional sebagai akuntansi untuk transaksi antar negara, pembandingan
prinsip-prinsip akuntansi di negara-negara yang berlainan dan harmonisasi standar akuntansi di seluruh dunia. Suatu perusahaan mulai terlibat dengan akuntansi internasional adalah pada saat mendapatkan kesempatan melakukan transaksi ekspor atau impor. Standard akuntansi internasional (IAS) adalah standard yang dapat digunakan perusahaan multinasional yang dapat menjembatani perbedaan-perbedaan antar Negara, dalam perdagangan multinasional.
Choi dan Mueller (1998), IAS (International Accounting Standards) adalah suatu upaya untuk memperkuat arsitektur keungan global dan mencari solusi jangka panjang terhadap kurangnya transparansi informasi keuangan.
Akuntansi Internasional memiliki peranan yang serupa dengan konteks yang luas, di mana lingkup pelaporannya adalah untuk perusahaan multinasional dengan transaksi dan operasi lintas batas negara atau perusahaan dengan kewajiban pelaporan kepada para pengguna laporan di negara lain. Proses akuntasinya juga tidaklah berbeda dengan kualifikasi standar pelaporan tertentu yang diatur secara internasional maupun lokal pada negara tertentu.
Tapi penting untuk diketahui mengenai dimensi internasional dari proses akuntansi pada tiap negara yang berbeda. Dimana perbedaan itu meliputi, perbedayaan budaya, praktik bisnis, dan aturan perundang-undangan mempengaruhi bagaimana perusahaan multinasional melakukan kegiatan operasionalnya dan memberikan laporan keuangannya.
Konsep dari akuntansi universal atau dunia adalah yang paling luas ruang lingkupnya. Konsep ini mengarahkan akuntansi internasioanal menuju formulasi dan studi atas satu kumpulan prinsip-prinsip akuntansi yang diterima secara universal. Tujuannya adalah untuk mendapatkan satu standardisasi lengkap atas prinsip-prinsip akuntansi secara internasional.
Di dalam kerangka kerja konsep ini, akuntansi internasional dianggap sebagai sebuah sistem universal yang dapat diterapkan di semua negara.
Sebuah seperangkat prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum (generally accepted accounting principles-GAAP) yang diterima di seluruh dunia, seperti yang berlaku di Amerika Serikat, akan dibentuk. Praktik dan prinsip-prinsip yang dikembangkan akan dapat diberlakukan di seluruh negara.
Konsep ini akan menjadi sasaran tertinggi dari suatu sistem internasional.
Konsep dari akuntansi komparatif atau akuntansi internasional mengarahkan akuntansi internasional kepada studi dan pemahaman atas perbedaan-perbedaan nasional di dalam skuntansi. Hal ini meliputi :
a) Kesadaran akan adanya keragaman internasional di dalam akuntansi perusahaan dan praktik-praktik pelaporan.
b) Pemahaman akan prinsip-prinsip dan praktik-praktik akuntansi dari masing-masing negara.
c) Kemampuan untuk menilai dampak dari beragamnya praktik-praktik akuntansi pada pelaporan keuangan.
G. PSAK (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan)
Pada dasarnya standar akuntansi merupakan pengumuman atau ketentuan resmi yang dikeluarkan badan berwenang di lingkungan tertentu tentang pedoman umum yang dapat digunakan manajemen untuk menghasilkan laporan keuangan. Standar akuntansi dibutuhkan agar para pemakai laporan keuangan memiliki persamaan pandangan dan pemahaman atas laporan keuangan. Dengan demikian, standar akuntansi memiliki peranan penting bagi pihak penyusun dan pemakai laporan keuangan sehingga timbul keseragaman atau kesamaan interpretasi atas informasi yang terdapat dalam laporan keuangan. Indonesia telah memiliki sendiri standar akuntansi yang berlaku, prinsip atau standar akuntansi yang secara umum dipakai di Indonesia tersebut lebih dikenal dengan nama Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang dikeluarkan oleh IAI (Ikatan Akuntan Indonesia).
PSAK (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan) merupakan kerangka acuan dalam prosedur yang berkaitan dengan penyajian laporan keuangan. PSAK disusun dan dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia.
Pernyataan Standar Akuntansi Keungan di Indonesia mengacu pada International Accounting Standards (IAS), namun penerapannya di Indonesia masih bersifat harmonisasi, belum mengadopsi secara utuh dan menyeluruh terhadap aturan-aturan IAS.
H. KEPUTUSAN ADOPSI IAS KE DALAM PSAK
Standar akuntansi di Indonesia saat ini belum menggunakan secara penuh (full adoption) standar akuntansi internasional atau International Accounting Standard (IAS). Standar akuntansi di Indonesia yang berlaku saat ini mengacu pada US GAAP (United Stated Generally Accepted Accounting Standard), namun pada beberapa pasal sudah mengadopsi IAS yang sifatnya harmonisasi. Adopsi yang dilakukan Indonesia saat ini sifatnya belum menyeluruh, baru sebagian (harmonisasi). Era globalisasi saat ini menuntut adanya suatu sistem akuntansi internasional yang dapat diberlakukan secara internasional di setiap negara, atau diperlukan adanya harmonisasi terhadap standar akuntansi internasional, dengan tujuan agar dapat menghasilkan informasi keuangan yang dapat diperbandingkan, mempermudah dalam melakukan analisis kompetitif dan hubungan baik dengan pelanggan, supplier, investor, dan kreditor. Namun proses harmonisasi ini memiliki hambatan antaralain nasionalisme dan budaya tiap-tiap negara, perbedaan sistem pemerintahan pada tiap-tiap negara, perbedaan kepentingan antara perusahaan multinasional dengan perusahaan nasional yang sangat mempengaruhi proses harmonisasi antar negara, serta tingginya biaya untuk merubah prinsip akuntansi.
Menurut Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK), terdapat 5 tingkatan pengapdosian IAS, yaitu:
1. Full Adoption
Suatu negara mengadopsi seluruh produk IAS dan menerjemahkan IAS word by word ke dalam bahasa yang negara tersebut gunakan.
2. Adopted
Mengadopsi seluruh IFRS namun disesuaikan dengan kondisi di negara tersebut.
3. Piecemeal (Sedikit Demi Sedikit)
Suatu negara hanya mengadopsi sebagian besar nomor IAS yaitu nomor standar tertentu dan memilih paragraf tertentu saja.
4. Referenced
Sebagai referensi, standar yang diterapkan hanya mengacu pada IAS tertentu dengan bahasa dan paragraf yang disusun sendiri oleh badan pembuat standar.
5. Not adopted at all
Suatu negara sama sekali tidak mengadopsi IAS.
Dalam pengadopsian IAS ke dalam PSAK perlu dipertimbangkan lebih jauh mengenai sifat adopsi yang cocok diterapkan di Indonesia, meliputi adopsi secara penuh IAS dan adopsi IAS yang bersifat harmonisasi yaitu mengadopsi IAS disesuaikan dengan kondisi ekonomi, politik, dan sistem pemerintahan di Indonesia. Adopsi IAS secara penuh akan meningkatkan keandalan dan daya banding informasi keuangan secara internasional, namun adopsi seutuhnya akan bertentangan dengan sistem pajak pemerintahan Indonesia atau kondisi ekonomi dan politik lainnya.
Untuk mencapai adopsi IAS secara penuh pada tahun 2012, kalangan akademisi khususnya bidang akuntansi harus siap terlebih dahulu terhadap perubahan ini. Penyesuaian terhadap perubahan tersebut memerlukan waktu
dan usaha yang keras, karena penyesuaian terhadap peraturan yang baru menyangkut banyak aspek dan bukanlah hal yang dapat terjadi dalam waktu yang singkat.
I. PENGEMBANGAN HIPOTESIS
Hofstede (1980; 1983) meneliti dimensi budaya di 39 negara. Dia mendefinisikan budaya sebagai “The collective programming of the mind which distinguishes the members of one human group from another’
(Hofstede 1983). Pada pengembangan hipotesis penelitian ini akan diambil dari penelitian Hofstede dan Bond.
1. Power Distance
Menurut Hofstede (2005), jarak kekuasaan didefinisikan "sebagai sejauh mana anggota yang tidak kuat lembaga dan organisasi dalam suatu negara mengharapkan dan menerima kekuasaan yang didistribusikan merata di negara-negara dengan jarak kekuasaan tinggi ada perbedaan yang jelas antara peran "bawahan" dan "atasan." Sedangkan Williams dan Zinkin (2008) menyatakan bahwa "Masyarakat dengan power distance yang tinggi mengharapkan untuk menerima dan menerima perintah dari pihak berwenang." Dalam konteks keputusan adopsi IAS, IASB kemungkinan akan dilihat sebagai badan otoritatif dalam hal penyebarluasan standar-standar akuntansi internasional.
H1: Terdapat pengaruh Power Distance terhadap keputusan adopsi IAS ke dalam PSAK.
2. Individualism
Merupakan kecenderungan terhadap suatu tatanan sosial yang tersusun longgar dibandingkan terhadap tatanan yang tersusun ketat dan saling tergantung. Hope (2003) menguji isu untuk sample yang lebih besar yang mewakili 39 negara. Hasil regresi menunjukkan hanya mendukung untuk hipotesa individualism mempunyai hubungan positif dengan disclosure. Dalam hal keputusan adopsi IAS, Stovall dan John (2010) menyimpulkan bahwa negara sangat individualistis akan enggan untuk menyerahkan kontrol terhadap proses penetapan standar akuntansi untuk organisasi internasional di luar, sementara masyarakat kolektivis akan lebih mungkin untuk menghasilkan suatu pengaturan badan standar internasional dalam hal ini adalah IAS.
Pada penelitian Clement et al. (2010) menjelaskan bahwa Negara yang sangat individualis akan enggan untuk menyerahkan control proses penetapan standar akuntansi kepada organisasi internasional luar, sedangkan masyarakat dengan kolektivitas akan dapat mengahasilkan suatu pengaturan badan standar internasional yaitu IAS.
H2: Terdapat pengaruh Individualism terhadap keputusan adopsi IAS ke dalam PSAK.
3. Masculinity
Sejauh mana peranan gender dibedakan dan kinerja serta pencapaian yang dapat dilihat lebih ditekankan daripada hubungan dan perhatian. Nilai masculine menekankan pada nilai kinerja dan
pencapaian yang nampak, sedangkan feminine lebih pada preferensi pada kualitas hidup, hubungan persaudaraan, modis dan peduli pada yang lemah. Menurut penelitian Stovall dan John (2010), dalam masyarakat yang sangat maskulin, individu biasanya akan lebih memilih otonomi atas ketergantungan pada orang lain.. Selain itu, individu mungkin akan merugi untuk mengikuti aturan dalam budaya maskulinitas yang tinggi, terutama jika aturan-aturan yang diamanatkan oleh organisasi internasional di luar seperti IASB.
Clement et al. (2010), dalam suatu masyarakat yang sangat maskulin, individu biasanya akan memilih kemandirian daripada kebergantungan kepada orang lain. Selain itu, individu mungkin akan melawan untuk mengikuti aturan-aturan dalam budaya maskulinitas yang tinggi, khususnya jika aturan-aturan tersebut diamanatkan oleh organisasi internasional luar seperti IASB.
H3: Terdapat pengaruh Masculinity terhadap keputusan adopsi IAS ke dalam PSAK
4. Uncertanty Avoidance
Sejauh mana masyarakat merasa tidak nyaman dengan ambiguitas dan suatu masa depan yang tidak pasti. Masyarakat dengan tingkat menghindari ketidak pastian yang rendah akan lebih santai sehingga praktik lebih tergantung prinsip dan penyimpangan akan lebih bisa ditoleransi. Hofstede (2005, p. 167) menjelaskan bahwa penghindaran ketidakpastian "diketahui sejauh mana anggota suatu budaya merasa
terancam oleh situasi ambigu." Anggota masyarakat dengan penghindaran ketidakpastian yang tinggi akan lebih suka dan stabil dengan situasi yang akrab dan mungkin menyukai situasi baru. Dalam penelitian Clement et al. (2010) terdapat hipotesis bahwa negara-negara dengan penghindaran ketidakpastian yang tinggi akan enggan untuk beralih dari perangkat standar akuntansi khusus negara saat ini dengan mengadopsi IAS.
H4: Terdapat pengaruh Uncertainty Avoidance terhadap keputusan adopsi IAS ke dalam PSAK
5. Confucian Work Dynamics
Dimensi ini mengukur sejauh mana budaya menekankan nilai-nilai yang berorientasi menuju masa depan (orientasi jangka panjang) berbeda dengan mereka, yang berorientasi pada masa lalu dan masa kini (orientasi jangka pendek). Dimensi ini ditemukan oleh Hofstede dan Bond (1998).
Implikasi konfusianisme menunjukkan bahwa individu-individu dari budaya jangka panjang mungkin melihat implikasi etis dari pemotongan sudut untuk mencapai keuntungan jangka panjang lebih negatif daripada individu-individu dari budaya jangka pendek (Cohen et al, 1995.). Temuan ini mendukung gagasan yang berorientasi jangka panjang individu akan lebih idealis dan kurang relativistik dari individu yang berorientasi jangka pendek.
H5: Terdapat pengaruh Confucian Work Dynamics terhadap keputusan adopsi IAS dalam PSAK.
J. KERANGKA TEORITIS
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh budaya terhadap keputusan adopsi IAS (International accounting Standards) ke dalam PSAK di Indonesia, survei terhadap etnis Arab. Untuk memudahkan dalam menganalisa maka dibuatlah kerangka teoritis sebagai berikut :
Variabel Independen Variabel Dependen
Budaya Arab (X) Power Distance Individualism
Masculinity
Uncertainty Avoidance Confusion Work Dynamics
Keputusan Adopsi IAS (International Accounting Standart) ke dalam PSAK (Y)
Gambar 2. 2 Kerangka Teoritis
BAB III
METODE PENELITIAN
A. DESAIN PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah pengujian hipotesis (hypothesis testing) yang menjelaskan mengenai sifat dari hubungan antar variabel, yaitu dalam dimensi budaya Hofstede antara lain: Power Distance, Individualism, Masculinity, Uncertainty Avoidance, dan Confucian Works Dynamics dari survei etnis Arab berpengaruh terhadap keputusan adopsi IAS (International Accounting Standards) ke dalam PSAK di Indonesia.
B. POPULASI, SAMPEL, DAN TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL
Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian. Sedangkan sampel adalah bagian dari populasi (elemen) yang memenuhi syarat untuk dijadikan sebagai objek penelitian (Sekaran 2000: p.267).
Populasi yang menjadi obyek dalam penelitian ini adalah seluruh etnis Arab di Indonesia. Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini dengan metode purposive sampling. Purposive sampling merupakan prosedur penarikan sampel yang dikumpulkan dari sekelompok
(target) anggota populasi tertentu dan dapat memberikan informasi kepada peneliti Sampel yang diambil dalam penelitian ini dengan kriteria :
a. Mahasiswa S1 jurusan akuntansi yang beretnis Arab di berbagai Universitas.
b. Karyawan swasta maupun pemerintah yang beretnis Arab dan berlatar belakang pendidikan akuntansi di berbagai perusahaan.
c. Responden yang mempunyai pengetahuan tentang akuntansi termasuk standar akuntansi internasional.
d. Sampel diambil secara acak dari keseluruhan populasi, di mana kuesioner yang kembali dan telah dijawab secara lengkap oleh responden dianggap menjadi sampel.
C. DATA DAN METODE PENGUMPULAN DATA
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer dikumpulkan melalui survei dan membagikan kuesioner pada responden. Kuesioner merupakan sejumlah pertanyaan atau pernyataan tertulis yang akan diisi oleh responden sebagai teknik pengumpulan data.
Kuesioner ini diadopsi dari penelitian Ming Yi- Wu (2006) digunakan untuk mengukur variabel budaya Hofstede power distance, individualism, masculinity, uncertainty avoidance, Confucian work dinamycs, dan keputusan Adopsi IAS ke dalam PSAK di Indonesia. Metode pengumpulan data dengan studi lapangan. Studi lapangan adalah penelitian yang secara langsung membagikan kuesioner dengan daftar pertanyaan-pertanyaan untuk
mendapatkan data primer kepada responden yang dianggap memenuhi syarat
mendapatkan data primer kepada responden yang dianggap memenuhi syarat