• Tidak ada hasil yang ditemukan

17

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pengertian Umum Deposito Mudhorobah

Definisi umum mudhorobah secara fikih, menurut Sadr adalah kontrak khusus antara pemilik modal dan pengusaha dalam rangka mengembangkan usaha yang modalnya berasal dari pihak pertama dan kerja dari pihak kedua, mereka bersatu dalam keuntungan dengan pembagian berdasarkan persentase. Jika proyek (usaha) mendatangkan keuntungan, maka laba dibagi berdua berdasarkan kesepakatan yang terjalin antara keduanya, jika modal tidak mempunyai kelebihan atau kekurangan, maka tidak ada bagi pemilik modal selain modal pokok tersebut, begitu pula dengan pengusaha tidak mendapatkan apa-apa. Jika proyek rugi yang mengakibatkan hilangnya modal pokok maka kerugian itu sedikit ataupun banyak ditanggung oleh pemodal1.

Sementara makna mudhorobah dalam sistem perekonomian modern, menjadi berkembang. Pihak yang terlibat dalam kerjasama ini ada tiga2: (1) pihak yang menyimpan dana (depositor), (2) pihak yang membutuhkan dana atau pengusaha (debitur), (3) pihak yang mempertemukan antara keduanya (bank).

1

Kazim Sadr, The Role of Musharakah Financing in the Agricultural Bank of Iran. 1996. Hlm. 25

2

18

Pihak pertama, depositor inilah yang seharusnya menjadi shahibul maal sebab dia yang memiliki dana yang secara sadar akan digunakan untuk kepentingan usaha. Sementara pihak kedua, debitur, adalah mudharib-nya depositor karena dia yang menggunakan dana depositor untuk digunakan sebagai modal usaha. Sedangkan pihak ketiga, bank, adalah pihak yang menjembatani keinginan keduanya.

B. Deposito pada Bank Syariah

1. Ketentuan Umum Deposito Mudharobah

Adapun ketentuan umum Deposito Mudharobah antara lain:

a. Dalam transaksi ini nasabah bertindak sebagai shahibul maal atau pemilik dana, Bank bertindak sebagai mudharib atau pengelola dana.

b. Dalam kapasitasnya sebagai mudharib, Bank dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah dan pengembangannya, termasuk didalamnya Mudharobah dengan pihak lain. c. Modal harus dinyatakan dengan jumlahnya, dalam bentuk tunai bukan

piutang.

d. Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nisbah dan dituangkan dalam akad pembukuan rekening.

e. Bank sebagai mudhorib menutup biaya operasional deposito dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya.

19

f. Bank tidak diperkenankan untuk mengutangi nisbah keuntungan nasabah tanpa persetujuan yang bersangkutan.3

2. Pertimbangan Dewan Syariah Nasional Menetapkan Deposito Mudharobah4 a. Keperluan masyarakat dalam peningkatan kesejahteraan dalam bidang

investasi, pada masa kini memerlukan jasa perbankan di bidang penghimpunan dana dari masyarakat adalah deposito, yaitu simpanan dana berjangka yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian nasabah penyimpan dengan bank.

b. Kegiatan deposito tidak semuanya dapat dibenarkan hukum Islam (syariah). Deposito yang mengandung unsur riba tidak dibenarkan Islam. Islam membenarkan deposito dengan sistem bagi hasil.

c. DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang bentuk-bentuk Muamalah Syari’ah untuk dijadikan pedoman dalam pelaksanaan deposito pada Bank Syari’ah.

Dasar penetapan deposito tersebut didasarkan pada: QS. An-Nisa (4); 29

3

Muktar Alshodiq (penyunting), Briefecase Books Edukasi Profesional Syari’ah Fatwa-fatwa Ekonomi Syari’ah Kontemporer, (Jakarta Renasian, 2005 M), h. 45

4

20

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu, Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”

QS. Al-Baqoroh (2): 283

21

Artinya: “Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu'amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, Maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, Maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) Menyembunyikan persaksian. dan Barangsiapa yang menyembunyikannya, Maka Sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Secara teknis pemakaian prinsip akad mudharabah ke dalam produk deposito sebagai instrumen penghimpunan dana dari masyarakat pada Bank Syariah telah di atur dalam pasal 5 Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/46/PBI/2005 tentag akad penghimpunan dan penyaluran dana bagi Bank yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah.

Dalam kegiatan penghimpunan dana dalam bentuk tabungan atau deposito berdasarkan mudharabah berlaku persyaratan paling kurang sebagai berikut:

a. Bank bertindak sebagai pengelola dana dan nasabah bertindak sebagai pemilik dana;

b. Dana disetor penuh kepada Bank dan dinyatakan dalam jumlah nominal;

c. Pembagian keuntungan dari pengelolaan dana investasi dinyatakan dalam bentuk nisbah;

22

e. Bank tidak menjamin dana nasabah, kecuali diatur berbeda dalam prundang-undangan yang berlaku.

C. Teori Bagi Hasil

1. Pengertian Umum Bagi Hasil (Profit Loss Sharing)

Konsep bagi hasil yang digambarkan dalam buku fikih pada umumnya diasumsikan bahwa para pihak yang bekerja sama bermaksud untuk memulai atau mendirikan usaha patungan (joint venture). Ketika semua mitra usaha turut berpartisipasi sejak awal beroperasi dan tetap menjadi mitra usaha sampai usaha berakhir pada waktu semua aset dilikuidasi. Jarang sekali ditemukan konsep usaha yang terus berjalan (running businnes) ketika mitra usaha bisa datang dan pergi setiap saat tanpa memengaruhi jalannya usaha. Hal ini disebabkan buku-buku fikih islam ditulis pada waktu usaha tidak sebesar dan serumit usaha zaman sekarang, sehingga konsep running businnes

tidak mendapat perhatian. Namun demikian, itu tidak berarti bahwa konsep bagi hasil tidak dapat diterapkan untuk pembiayaan suatu usaha yang sedang berjalan.

Konsep bagi hasil berlandaskan pada beberapa prinsip dasar. Selama prinsip-prinsip dasar ini dipenuhi, detail dari aplikasinya akan bervariasi dari

23

waktu ke waktu. Ciri utama pola bagi hasil adalah bahwa keuntungan dan kerugian ditanggung bersama baik oleh pemilik dana maupun pengusaha.

Beberapa prinsip dasar yang dikemukakan oleh usmani5, adalah sebagai berikut:

1. Bagi hasil tidak berarti meminjamkan uang, tetapi merupakan partisipasi dalam usaha.

2. Investor atau pemilik dana harus ikut menanggung risiko kerugian usaha sebatas proporsi pembiayaanya.

3. Para mitra usaha bebas menentukan, dengan persetujuan bersama, rasio keuntungan untuk masing-masing pihak, yang dapat berbeda dari rasio pembiayaan yang disaratkan.

4. Kerugian yang ditanggung oleh masing-masing pihak harus sama dengan proporsi investasi mereka.

Ciri bagi Hasil menurut Antonio Syafii6:

1. Penentuan besarnya rasio/nisbah bagi hasil disepakati pada waktu akad dengan berpedoman pada kemungkinan untung rugi.

5

M. taqi Usmani, an intoduction to islamic finance, idaratul ma’arif. Karachi. 1999.

24

2. Besarnya rasio bagi hasil didasarkan pada jumlah keuntungan yang diperoleh.

3. Rasio bagi hasil tetap tidak berubah selama akad masih berlaku, kecuali diubah atas kesepakatan bersama.

4. Bagi hasil bergantung pada keuntungan usaha yang dijalankan. Bila usaha merugi, kerugian akan ditanggung bersama.

5. Jumlah pembagian laba meningkat sesuai dengan pembagian keuntungan.

Dapat disimpulkan bahwa bagi hasil adalah suatu sistem yang meliputi tata cara pembagian hasil usaha antara penyedia dana dengan pengelola dana. Pembagian hasil usaha ini salah satu contohnya dapat terjadi diantara pihak bank dengan pihak nasabah. Kedua belah pihak sama-sama sepakat bahwa modal usaha yang diberikan pihak pertama akan dikelola pihak kedua secara professional dan bertanggung jawab.

2. Teori Bagi Hasil (Profit Loss Sharing) Dalam Perbankan Syari’ah

Sebagaimana diketahui, bank yang beroperasi berdasarkan prinsip-prinsip Islam menawarkan sistem bagi hasil kepada nasabahnya. Artinya, selain pembagian untung dan rugi sama-sama ditanggung oleh kedua belah pihak, dan juga dapat dipahami bahwa keuntungan yang akan diperoleh

25

nasabah bisa berubah-ubah, semuanya tergantung pada pendapatan atau keuntungan yang diperoleh bank syariah.

Perhitungan bagi hasil di bank syariah ada dua jenis7; pertama

Profit/Loss Sharing, adalah perhitungan bagi hasil didasarkan kepada hasil net dari total pendapatan setelah dikurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan tersebut. Kedua Revenue Sharing, adalah perhitungan bagi hasil didasarkan kepada total seluruh pendapatan yang diterima sebelum dikurangi dengan biaya-biaya yang telah dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan tersebut. Bank-bank syariah di Indonesia umumnya menerapkan sistem Revenue Sharing. Pola ini dapat memperkecil kerugian bagi nasabah, jika bagi hasil didasarkan pada profit sharing, maka kemungkinan yang akan terjadi adalah bagi hasil yang akan diterima oleh para

shahibul maal akan semakin kecil.

Prinsip bagi hasil dalam perbankan syari’ah menjadi prinsip utama dan terpenting, karena keuntungan (bagi hasil) merupakan imbalan atas usaha dan modal, besar-kecilnya pun tergantung kesepakatan kedua pihak. Dalam qawaid fiqhiyah (kaidah fiqh) dikatakan “algharam bil ghanam” (ada untung rugi), prinsip ini memenuhi prinsip keadilan ekonomi8. Dan didalam kaedah

7

Tim Pengembangan Perbankan Syariah, Institut Bankir Indonesia. Konsep, Produk & Implementasi Operasional. Jakarta: Djambatan. 2003

8

26

bisnis dikatakan bahwa setiap yang akan menghasilkan keuntungan yang besar, terkandung juga risiko yang besar (high risk, high return).

Bagi pihak yang akan menjalankan prinsip ini, maka harus membuat kesepakatan di awal yang berkaitan dengan usaha yang akan dijalankan dan menetapkan nisbah (bagian) bagi hasil masing-masing pihak menurut cara pembagiannya. Usaha yang akan dijalankan merupakan usaha-usaha yang dibenarkan menurut syariah, tidak boleh ditanamkan pada usaha yang diharamkan. Yang akan dibagi hasilkan adalah keuntungan bersih dari usaha tersebut tetapi boleh juga dibuat kesepakatan diantara dua pihak jika bagi hasil diperhitungkan dari total sales. Karena yang dibagi hasilkan merupakan suatu keuntungan, maka besar kecilnya nominal keuntungan akan mengalami turun-naik, tergantung dari usaha dan kesungguhan dalam mengelola usaha tersebut.

3. Prinsip Bagi Hasil Menurut Syari’ah

Prinsip bagi hasil (profit sharing), secara umum dalam perbankan syariah dapat dilakukan dalam empat akad utama9, yaitu al-musyarakah, al-mudharabah, almuzara’ah dan al-mushaqah. Walau demikian, prinsip yang paling banyak dipakai adalah al-musyarakah dan al-mudharabah, sedangkan

27

al-muzara’ah dan al-mushaqah dipergunakan khusus untuk plantation financing atau pembiayaan pertanian oleh beberapa bank islam.

Al-musyarakah adalah akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana (atau amal/expertise) dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan resiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.

Adapun yang menjadi landasan syariah akad al-musyarakah ini adalah Al-Qur’an Surat An-Nisaa ayat 12, yang artinya:

“…maka mereka berserikat pada sepertiga…”

Selanjutnya di dalam Al-Qur’an surat As-shaad ayat 24, dikatakan pula: “…dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain kecuali orang

yang beriman dan mengerjakan amal saleh…”

Sedangkan Hadits Nabi yang berkaitan dengan hal ini dari Abu Hurairah yang artinya:

Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW, bersabda: Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman: Aku pihak ketiga dari dua orang yang berserikat

28

Hadits ini menunjukkan kecintaan Allah kepada hamba-hambaNya yang melakukan perkongsian selama saling menjunjung tinggi amanat kebersamaan dan menjauhi penghianatan.

Istilah mudharabah berasal dai kata dharb fi al-ardh – orang yang bepergian di atas bumi (yadhribuna fi al-ardh) mencari karunia Allah (al-Muzammil:20). Karena pekerjaan dan perjalanannya, mudharib berhak atas sebagian keuntungan usaha. Dalam sunnah, para fukaha bersandar pada praktik mudharabah antara Nabi SAW dan Khadijah sebelum pernikahannya, ketika Nabi SAW mengadakan perjalanan dagang ke syria untuk Khadijah. Jadi, dalil hukum yang dipergunakan untuk mendukung model ini adalah al-Quran dan Sunnah10.

Secara teknis, Al-Mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama (shahibul mal) menyediakan seluruh (100%) modal, sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola. Keuntungan usaha berdasarkan mudharabah dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak, sedangkan apabila rugi di tanggung oleh pemilik modal selama kerugian itu bukan akibat kelalaian sipengelola. Seandainya kerugian itu diakibatkan karena kekurangan atau kelalaian si pengelola, si pengelola harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut.

10

Mervyn dan latifa. Perbankan Syariah Prinsip, Praktik, dan Prospek. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta. 2007

29

Landasan syari’ah yang mendasari akad ini adalah Qur’an Surat Al-Muzzammil ayat 20, yang artinya:

“…dan dari orang-orang yang berjalan dimuka bumi mencari sebagian karunia Allah…”

Sedangkan Hadits Nabi menyatakan sebagai berikut:

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Sayyidina Abbas bin Abdul muthalib jika memberikan dana kemitra usahanya secara mudharabah ia mensyaratkan agar dananya tidak dibawa mengarungi lautan, menuruni lembah yang berbahaya, atau mmbeli ternak. Jika menyalahi peraturan tersebut, yang bersangkutan bertanggung jawab atas dana tersebut. Disampaikanlah syarat-syarat tersebut kepada Rasulullah SAW, dan Rasulullah membolehkannya.”

Secara umum mudharabah terbagi menjadi dua jenis11, yaitu:

Mudharabah Muthlaqah dan Mudharabah Muqayyadah. Mudharabah muthlaqah adalah bentuk kerjasama antara shahibul maal dan mudharib yang cakupannya sangat luas dan tidak dibatasi oleh spesifikasi jenis usaha, waktu dan daerah bisnis.

Sedangkan Mudharabah Muqayyadah, atau disebut juga dengan istilah

restricted mudharabah/specified mudharabah adalah kebalikan dari mudharabah muthlaqah. Si mudharib dibatasi dengan batasan jenis usaha, waktu atau tempat usaha. Adanya pembatasan ini seringkali mencerminkan kecenderungan umum si shahibul maal dalam memasuki jenis dunia usaha.

11

Wahbah Az-Zuhaily, Al-Fiqhu Al-Islaamiyu wa Adillatuhu,., halaman 840. Baca juga Muhammad Syafi i Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktik., halaman 97.

30

Kerjasama mudharobah ini merupakan kerjasama kepercayaan penuh oleh karena itu, mudharib sebagai pihak yang diberi amanah dan dipercaya untuk mengelola usaha hendaknya dapat meneladani sifat Rasul yaitu STAF

(siddiq, tabligh, amanah, fathanah). Sikap dan tingkah laku mudharib

hendaknya shiddiq (benar,jujur), tabligh (komunitkatif, keterbukaan, transparan), amanah (tanggung jawab, dapat dipercaya, kredibilitas), dan

fathanah (cerdik, bijaksana, intelektual). Tanpa dilandasi hal tersebut, tidak ada keadilan antara pemilik dana dan pengelola dana. Kejujuran, keterbukaan, amanah sangat diperlukan oleh para pengelola bank syariah, terutama yang berkaitan dengan pembagian hasil usaha yang merupakan karakteristik utama bank syariah.

BAB III

GAMBARAN UMUM BANK BUKOPIN SYARIAH

A. Sejarah Singkat Bank Bukopin Syariah

Pada tahun 2000, melalui Urusan Syariah, Bank Bukopin mulai mengembangkan produk perbankan Syariah yang sesuai dengan ajaran dan prinsip-prinsip Islam yang beroperasi di bawah Direktorat Usaha Koperasi, Kecil dan Mikro (UKKM). Cabang Syariah pertama Bank Bukopin dibuka di Jakarta pada Desember 2001,saat ini Bank Bukopin mempunyai 5 kantor cabang dan 3 kantor cabang pembantu Syariah1 dan 29 kantor layanan syariah (office channeling). Bank Bukopin mendapatkan ijin operasi dari Bank Indonesia dan kegiatannya diatur dalam kebijakan khusus yang ditetapkan oleh Dewan Syariah Nasional dan Bank Indonesia (berkaitan dengan produk dan kegiatan operasionalnya) yang merupakan bentuk pengawasan tambahan sebagaimana diuraikan pada bagian “Pengawasan dan Peraturan Perbankan Indonesia”. Produk-produk Bank Syariah disetujui terlebih dahulu oleh Dewan Syariah Nasional dan Bank Indonesia sebelum di luncurkan ke pasar.

Urusan Syariah menawarkan produk pembiayaan, pendanaan, dan jasa-jasa lain termasuk simpanan (seperti tabungan Bank Bukopin lainnya, giro dan deposito berjangka), jasa sewa beli (ijaroh mumtahiyah bit Tamlik) untuk pembelian barang-barang, jual beli (Murabahah) untuk pemilikan rumah,

1

www.bukopin.co.id, diakses pada tanngal 08 November 2009

kendaraan, investasi, dan barang konsumsi lainnya, dan pembiayaan dengan sistem bagi hasil (Mudharabah Musyarakah) sesuai dengan hukum Islam.

Lalu pada tanggal 11 Desember 2008, dilakukan acara peresmian (Grand Launching) pembentukan Bank Syariah Bukopin. Pembentukan Bank Syariah Bukopin ini telah mendapatkan persetujuan Bank Indonesia melalui Surat Keputusan Gubernur Bank Indonesia No.10/69/KEP.GBI/DpG/2008 tanggal 27 Oktober 2008.

Komposisi pemegang saham Bank Syariah Bukopin saat ini adalah sebagai berikut : PT Bank Bukopin Tbk sebesar 65,44%, PT Mega Capital Indonesia sebesar 9,46%, PT Jamsostek (Persero) sebesar 9,46%, PT Bakrie Capital Indonesia sebesar 2,16%, dan lainnya sebesar 1,57%.

B. Visi dan Misi Bank Bukopin Syariah2 1. Visi

Menjadi Bank Syariah Pilihan dengan Pelayanan Terbaik 2. Misi

a. Memberikan pelayanan terbaik pada nasabah.

b. Membentuk sumber daya insani yang profesional dan amanah.

c. Memfokuskan pengembangan usaha pada sektor UMKM (Usaha Mikro Kecil & Menengah).

d. Meningkatkan nilai tambah kepada stakeholder.

2

www.syariahbukopin.co.id, diakses pada tanggal 08 November 2009

C. Budaya Perusahaan3

Budaya Perusahaan merupakan suatu cerminan aturan perilaku yang umum disebut dengan Kode Etik. Dalam menjalankan kegiatan usahanya serta menimbang nature bisnis yang dijalankan Bank Bukopin erat dengan unsur

Trust (Kepercayaan), maka sebagai suatu organisasi, Bank Bukopin dituntut untuk memiliki suatu aturan yang mengikat seluruh jajarannya dalam bertindak sesuai dengan standar tertinggi dalam integritas profesional dan personal diseluruh aspek kegiatan perusahaan, serta mematuhi seluruh undang-undang, tata tertib, peraturan dan kebijakan Perusahaan.

Berkenaan dengan hal tersebut, Bank Bukopin Syariah telah mengembangkan nilai-nilai dasar yang menjadi inti dari pengembangan budaya perusahaan Bank Bukopin Syariah yang mencakup 5 (lima) budaya perusahaan :

1. Fokus pada nasabah

Memahami, mengembangkan, melayani dan memenuhi kebutuhan serta keinginan bagi pihak yang membutuhkan, baik internal maupun eksternal

2. Kerjasama

Saling membantu, melakukan koordinasi dan bekerjasama sehingga menghasilkan sinergi positif

3. Disiplin

3

Ibid

Mematuhi setiap peraturan, ketentuan dan memenuhi komitmen baik internal maupun eksternal

4. Kompetensi

Memiliki pengetahuan, ketrampilan, wawasan dan pengalaman dalam bidang tugasnya serta senantiasa meningkatkannya

5. Integritas

Memiliki, menjunjung tinggi dan menjalankan nilai-nilai kejujuran, ketulusan, menghindari benturan kepentingan dan pengalahgunaan kewenangan.

D. Struktur Organisasi

Direksi Bank Syariah Bukopin

Direktur Utama : Bapak Riyanto

Direktur Bisnis : Bapak Eriandi

Direktur Pelayanan dan Consumer : Ibu Tantri Indrawati. Direktur Manajemen Resiko & Kepatuhan : Djoni Edward Dewan Komisaris :

Komisaris Utama : Ir. Harry Harmono Busiri. Komisaris Independen : Drs. Hajriyanto Y Thohari, MA.

Prof. DR Bambang Setiaji, M.Sc.

Dewan Pengawas Syariah :

Ketua : Prof. DR HM Din Syamsudin, MA Anggota : DR H. Anwar Abbas, MA., M.Ag.

H. Ikhwan Abidin, MA E. Produk dan Jasa Bank Bukopin Syariah4

1. Giro Wadi'ah

Simpanan yang dapat digunakan sebagai alat pembayaran dan penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan Cek atau sarana perintah pembayaran lainnya atau melalui pemindahbukuan lainnya.

Akad yang digunakan adalah akad wadi’ah yad dhamanah. Wadi’ah yad dhamanah adalah yang berarti mustawda (bank) dapat memanfaatkan dana dan menyalurkan dana yang disimpan serta menjamin bahwa dana tersebut dapat ditarik setiap saat oleh muwwadi (nasabah).

a. Keuntungan – keuntungan yang didapat : 1) Keamanan dana terjamin .

2) Dapat dicairkan sewaktu-waktu.

3) Dapat digunakan sebagai referensi Bank. 4) Dapat dijadikan jaminan pembiayaan

5) Dapat ditarik dan disetor di seluruh outlet Bank Bukopin (Syariah & Konvensional) secara Real time on line.

b. Fasilitas – fasilitas :

4

Jurnal Bank Bukopin Syariah

1) Buku cek atau bilyet giro.

2) Fasilitas ATM BUKOPIN Syariah.

3) Pengiriman laporan rekening koran tiap bulan dalam bentuk statement bank sesuai kebijakannya dapat memberikan bonus.

c. Persyaratan dan Ketentuan :

1) Diperuntukan bagi perorangan dan badan usaha 2) Tanda pengenal : KTP/SIM/Paspor

3) Khusus badan hukum : SIUP, NPWP, Akta pendirian, Ijin

usaha, dll

4) Setoran awal : - Perorangan & Koperasi Rp. 1.000.000,-

- Badan hukum Rp. 2.000.000,- 2. Tabungan Siaga Wadi'ah

Simpanan dalam mata uang rupiah yang penyetoran dan penarikannya berdasarkan syarat-syarat tertentu yang telah disepakati.

Akad yang digunakan adalah akad wadi’ah yad dhamanah. Wadi’ah yad-dhamanah adalah yang berarti mustawda (bank) dapat memanfaatkan dana dan menyalurkan dana yang disimpan serta menjamin bahwa dana tersebut dapat ditarik setiap saat oleh muwwadi (nasabah).

a. Keuntungan – keuntungan yang didapat : 1) Keamanan dana terjamin.

2) Tidak dikenakan biaya administrasi bulanan.

3) Dapat dijadikan jaminan pembiayaan sesuai dengan kebijakan pembiayaan.

4) Dapat ditarik dan disetor di seluruh outlet Bank Bukopin (Syariah & Konvensional) secara Real time on line.

b. Fasilitas – fasilitas :

1) Mendapat fasilitas ATM yang tergabung dalam jaringan ATM Bukopin, ATM Bersama, ALTO, dan BCA/Prima dan Visa Elektron 2) Fasilitas Elekronic Banking (SMS Banking, Internet Banking, dan

Phone Banking)

3) Dapat digunakan sebagai sarana untuk melakukan pembayaran tagihan dan auto debet (pembayaran Listrik, PAM, Telepon, Seluler, Pendidikan, Kartu Kredit dan ZIS (Zakat Infaq Shodaqoh)) 4) Bank sesuai kebijakannya dapat memberikan bonus

c. Persyaratan dan ketentuan : 1) Diperuntukan bagi perorangan 2) Mengisi formulir kartu ATM

3) Tanda pengenal : KTP/SIM/Paspor 4) Setoran awal : Rp. 50.000,- 5) Setoran berikutnya : min Rp. 10.000,- 6) Saldo minimum : Rp. 35.000,-

7) Penarikan melalui teller : Maks Rp. 100 juta/hari (konfirmasi) 8) Penarikan melalui ATM : Maks Rp. 10 juta/hari

9) Penutupan Rekening : Rp. 15.000 3. Tabungan Haji

Simpanan untuk perorangan dalam bentuk mata uang rupiah yang mempunyai rencana menunaikan ibadah Haji atau Umroh.

Akad yang digunakan adalah akad wadi’ah yad dhamanah. Wadi’ah yad dhamanah adalah yang berarti mustawda (bank) dapat memanfaatkan dana dan menyalurkan dana yang disimpan serta menjamin bahwa dana tersebut dapat ditarik setiap saat oleh muwwadi (nasabah).

a. Keuntungan – keuntungan yang didapat : 1) Keamanan dana terjamin.

2) Tidak dikenakan biaya administrasi bulanan.

3) Kemudahan dalam merencanakan ibadah haji / Umroh. 4) Setoran ringan.

5) Dapat disetor di seluruh outlet Bank Bukopin (Syariah &

Dokumen terkait