BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1.6 Kecerdasan Buatan Secara Umum
Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence merupakan salah satu bagian ilmu komputer yang membuat agar mesin (komputer) dapat melakukan pekerjaan seperti dan sebaik yang dilakukan oleh manusia.
Teknologi kecerdasan buatan dipelajari dalam bidang-bidang, seperti: robotika, penglihatan komputer (computer vision), jaringan saraf tiruan (artificial
neural system), pengolahan bahasa alami (natural language processing),
pengenalan suara (speech recognition), dan sistem pakar (expert system).
1.7 Sistem Pakar
a. Pengertian Sistem Pakar
Secara umum, sistem pakar (expert system) adalah sistem yang berusaha mengadopsi pengetahuan manusia ke komputer agar komputer dapat menyelesaikan masalah seperti yang biasa dilakukan oleh para ahli. Bagi para ahli sistem pakar juga dapat membantu sebagai asisten yang berpengalaman.
Ada beberapa definisi tentang sistem pakar antara lain (Kusumadewi, 2003):
a. Menurut Dunkin: Sistem pakar adalah suatu program komputer yang dirancang untuk memodelkan kemampuan penyelesaian masalah yang dilakukan oleh seorang pakar.
b. Menurut Ignizio: Sistem pakar adalah suatu model dan prosedur yang berkaitan, dalam suatu domain tertentu, yang mana tingkat keahliannya dapat dibandingkan dengan keahlian seorang pakar.
c. Menurut Giarratano dan Riley: Sistem pakar adalah suatu sistem komputer yang bisa menyamai atau meniru kemampuan seorang pakar.
b. Ciri–Ciri Sistem Pakar
Suatu sistem dikatakan pakar apabila mempunyai ciri-ciri sebagai berikut (Kusumadewi, 2003):
b. Dapat memberikan penalaran untuk data-data yang tidak pasti.
c. Dapat mengemukakan rangkaian alasan-alasan yang diberikan dengan cara yang dapat dipahami.
d. Berdasarkan pada kaidah atau rule tertentu. e. Dirancang untuk dikembangkan secara bertahap. f. Keluarannya atau output bersifat anjuran.
c. Keuntungan Sistem Pakar
Ada beberapa keuntungan sistem pakar antara lain (Arhami, 2004): a. Menghimpun data dalam jumlah yang sangat besar.
b. Menyimpan data tersebut untuk jangka waktu yang panjang dalam suatu bentuk tertentu.
c. Mengerjakan perhitungan secara cepat dan tepat dan tanpa jemu mencari kembali data yang tersimpan dalam kecepatan tinggi.
d. Kelemahan Sistem Pakar
Disamping memiliki beberapa keuntungan, sistem pakar juga memiliki beberapa kelemahan antara lain (Kusumadewi, 2003):
a. Biaya yang diperlukan untuk membuat dan memeliharanya mahal. b. Sulit dikembangkan.
c. Sistem pakar tidak 100% bernilai benar.
e. Komponen Utama Sistem Pakar
Untuk membangun sistem pakar komponen-komponen dasar yang harus dimiliki paling sedikit adalah sebagai berikut:
a. Antar muka pemakai (User Interface). b. Basis pengetahuan (Knowledge Base). c. Mesin inferensi.
f. Basis Pengetahuan
Menurut Arhami, basis pengetahuan mengandung pengetahuan untuk pemahaman, formulasi, dan penyelesaian masalah. Komponen sistem pakar ini
disusun atas dua elemen dasar, yaitu fakta dan aturan. Fakta merupakan informasi tentang objek dalam area permasalahan tertentu, sedangkan aturan merupakan informasi tentang cara bagaimana memperoleh fakta baru dan fakta yang telah diketahui.
Ada dua bentuk pendekatan basis pengetahuan yang sangat umum digunakan, yaitu:
a. Penalaran berbasis aturan (Rule Base Reasoning)
Pengetahuan direpresentasikan dengan menggunakan aturan berbentuk IF-THEN. Bentuk ini digunakan apabila kita memiliki sejumlah pengetahuan pakar pada permasalahan tertentu, dan pakar dapat menyelesaikan masalah tersebut secara berurutan.
b. Penalaran berbasis kasus (Case Base Reasoning)
Basis pengetahuan akan berisi solusi-solusi yang telah dicapai sebelumnya. Kemudian akan diturunkan suatu solusi untuk keadaan yang terjadi sekarang (fakta yang ada).
g. Metode Inferensi
Komponen ini mengandung mekanisme pola pikir dan penalaran yang digunakan oleh pakar dalam menyelesaikan suatu masalah. Metode inferensi adalah program komputer yang memberikan metedologi untuk penalaran tentang informasi yang ada dalam basis pengetahuan dan dalam workplace, dan untuk memformulasikan kesimpulan (Turban, 1995).
Kebanyakan sistem pakar berbasis aturan menggunakan strategi inferensi yang dinamakan modus ponen. Berdasarkan strategi ini, jika terdapat aturan “IF A THEN B”, dan jika diketahui bahwa A benar, maka dapat disimpulkan bahwa B juga benar. Strategi inferensi modus ponen dinyatakan dalam bentuk:
[A And (A→B)] →B
dengan A dan A→B adalah proposisi-proposisi dalam basis pengetahuan.
Terdapat dua pendekatan untuk mengontrol inferensi dalam sistem pakar berbasis aturan, yaitu pelacakan ke belakang (Backward chaining) dan pelacakan ke depan (forward chaining).
1.8 Faktor Kepastian (Certainty Factor)
Dalam menghadapi suatu permasalahan sering ditemukan jawaban yang tidak memiliki kepastian penuh. Ketidakpastian ini dapat berupa probabilitas atau kebolehjadian yang tergantung dari hasil suatu kejadian. Hasil yang tidak pasti disebabkan oleh dua faktor, yaitu aturan yang tidak pasti dan jawaban pengguna yang tidak pasti atas suatu pertanyaan yang diajukan oleh sistem. Hal ini sangat mudah dilihat pada sistem diagnosis penyakit, dimana pakar tidak dapat mendefinisikan hubungan antara gejala dengan penyebabnya secara pasti, dan pasien tidak dapat merasakan suatu gejala dengan pasti pula. Pada akhirnya akan ditemukan banyak kemungkinan diagnosis.
Sistem pakar harus mampu bekerja dalam ketidakpastian. Sejumlah teori telah ditemukan untuk menyelesaikan ketidakpastian, termasuk diantaranya Probabilitas klasik, Probabilitas Bayes, Teori Hartley berdasarkan himpunan klasik, Teori Shannon berdasakan pada probabilitas, Teori Depmster-Shafer, Teori Fuzzy Zadeh, dan Faktor Kepastian.
Faktor kepastian diperkenalkan oleh Shortliffe Buchanan dalam pembuatan MYCIN. Certanity Factor (CF) merupakan nilai parameter klinis yang diberikan MYCIN untuk menunjukkan besarnya kepercayaan. CF menunjukkan ukuran kepastian terhadap suatu fakta atau aturan.
CF menunjukkan ukuran kepastian terhadap suatu fakta atau aturan.
Notasi faktor kepastian adalah :
CF[h,e] = MB[h,e]-MD[h,e] MB[h,e1^e2]=
. 0 MD[h,e1^e2] = 1 MB[h,e1] + MB[h,e2].(1-MB[h,e1]) lainnya
MD[h,e1^e2]=
. . 0 MB[h,e1^e2] = 1 MDh,e1] + MD[h,e2].(1-MD[h,e1]) lainnya
Dengan :
CF[h,e] = faktor kepastian.
MB[h,e] = ukuran kepercayaan terhadap hipotesis h, jika diberikan evidence e (antara 0 dan 1).
MD[h,e] = ukuran ketidakpercayaan terhadap hipotesis h, jika diberikan
edvidence e (antara 0 dan 1).
e = Evidence (peristiwa atau fakta). h = Hipotesis (dugaan).
1.9 Penyakit Tropik Infeksi
Menurut Rampengan (1992) penyakit Tropik Infeksi adalah suatu penyakit yang hanya ditemukan di daerah tropis, misalnya Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi yang berasal dari bakteri, virus, atau parasit.
2.4.1 Bronkiolitis Akut
Bronkiolitis adalah suatu peradangan pada bronkiolus (saluran udara yang
merupakan percabangan dari saluran udara utama), yang biasanya disebabkan oleh infeksi virus (Masjoer, 2000).
Gejala-gejala penyakit Bronkiolitis Akut adalah sebagai berikut: a. Batuk
b. Demam
c. Mengi/suara yang muncul saat anak mengeluarkan nafas d. Sesak nafas
e. Sianosi/warna kebiru-biruan pada kulit f. Takipneu/peningkatan usaha bernafas
2.4.2 Difteria
Difteria adalah suatu penyakit infeksi mendadak yang disebabkan oleh
kuman Corynebacterium Diphtheriae. Mudah menular dan menyerang terutama saluran nafas bagian atas.
Gejala-gejala penyakit Difteria adalah sebagai berikut: a. Demam
c. Nyeri tenggorokan d. Denyut jantung cepat e. Sakit kepala
2.4.3 Ensephalitis
Ensephalitis adalah peradangan akut otak yang disebabkan oleh infeksi
virus (Yuniraharjo, 2009). Terkadang ensephalitis dapat disebabkan oleh infeksi
bakteri, seperti meningitis, atau komplikasi dari penyakit lain seperti rabies
(disebabkan oleh virus) atau sifilis (disebabkan oleh bakteri). Penyakit parasit dan
protozoa seperti toksoplasmosis, malaria, atau primary amoebic meningoencephalitis, juga dapat menyebabkan ensephalitis pada orang yang sistem kekebalan tubuhnya kurang. Kerusakan otak terjadi karena otak terdorong terhadap tengkorak dan menyebabkan kematian.
Gejala-gejala penyakit Ensephalitis adalah sebagai berikut: a. Demam
b. Muntah c. Sakit kepala
d. Kaku kuduk/kaku pada leher e. Kejang berulang
2.4.4 Hepatitis Virus Akut
Hepatitis adalah suatu penyakit hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis, suatu anggota famili Hepadnavirus yang dapat menyebabkan peradangan hati akut atau menahun (Masjoer, 2000).
Gejala-gejala penyakit Hepatitis Virus Akut adalah sebagai berikut: a. Mual
b. Muntah
c. Nafsu makan berkurang d. Kotoran berwara gelap
e. Malaise/badan lemas tak bertenaga f. Nyeri sendi
2.4.5 Morbili
Morbili/campak adalah suatu infeksi virus yang sangat menular, yang
ditandai dengan demam, batuk, konjungtivitis (peradangan selaput ikat mata/konjungtiva), dan ruam kulit. Penyakit ini disebabkan karena infeksi virus campak golongan Paramyxovirus.
Gejala-gejala penyakit Morbili adalah sebagai berikut: a. Batuk
b. Demam
c. Fotofobia/silau terhadap cahaya
d. Koriza/hidung berlendir dan membengkak e. Nyeri otot
f. Mata merah
g. Terdapat bercak merah pada kulit
2.4.6 Meningitis Bakterial
Meningitis Bakterial, yang disebabkan oleh bakteri tertentu dan merupakan
penyakit yang serius. Salah satu bakteri yang diketahui menjadi penyebab
meningitis adalah meningococcal bacteria. Bakteri meningococcal sebetulnya
hidup tanpa mengganggu di tenggorokan dan hidung, namun pada kondisi tertentu mereka bisa menjadi aktif dan bertambah jumlahnya hingga akhirnya menyebabkan meningitis. Penyakit ini menyebabkan kematian.
Gejala-gejala penyakit Meningitis Bakterial adalah sebagai berikut: a. Demam b. Nyeri tenggorokan c. Muntah d. Sakit kepala e. Kaku kuduk f. Kejang berulang
g. Fotofobia/silau terhadap cahaya h. Hilang kesadaran
2.4.7 Parotitis Epidemica
Parotitis Epidemica/gondongan adalah penyakit menular dengan gejala
khas pembesaran kelenjar ludah terutama kelenjar parotis (Masjoer, 2000). Disebabkan oleh virus golongan paramyxovirus.
Gejala-gejala penyakit Parotitis Epidemica adalah sebagai berikut: a. Demam
b. Sakit kepala
c. Nafsu makan berkurang d. Malaise
e. Menggigil
f. Pembengkakan kelenjar pada leher
2.4.8 Pertusis
Pertusis/batuk rejan adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri pertusis
yang menyerang kerongkongan dan saluran pernafasan (Masjoer, 2000). Gejala-gejala penyakit Pertusis adalah sebagai berikut:
a. Batuk
b. Nafsu makan berkurang c. Malaise
d. Bersin-bersin e. Mata berair
2.4.9 Varisela/Cacar Air
Varisela adalah suatu penyakit infeksi akut primer menular, yang disebabkan oleh Varicella Zoster Virus.
Gejala-gejala penyakit Varisela adalah sebagai berikut: a. Demam
b. Malaise c. Sakit kepala d. Nyeri sendi
2.4.10 Poliomyelitis
Poliomyelitis/polio adalah penyakit paralisis atau lumpuh yang disebabkan oleh virus. Agen pembawa penyakit ini, sebuah virus yang dinamakan poliovirus (PV), masuk ke tubuh melalui mulut, mengifeksi saluran usus. Virus ini dapat memasuki aliran darah dan mengalir ke sistem saraf pusat menyebabkan melemahnya otot dan kadang kelumpuhan (paralisis).
Gejala-gejala penyakit Poliomelitis adalah sebagai berikut: a. Demam
b. Nyeri tenggorokan c. Sakit kepala d. Malaise e. Lumpuh layu
1.10 Sistem Basis data
Menurut Marlinda (2004) basis data adalah suatu susunan/kumpulan data operasional lengkap dari suatu organisasi/perusahaan yang diorganisir/dikelola dan disimpan secara terintegrasi dengan menggunakan metode tertentu menggunakan komputer sehingga mampu menyediakan informasi optimal yang diperlukan pemakainya.
Sedangkan, sistem basis data adalah suatu sistem menyusun dan mengelola record-record menggunakan komputer untuk menyimpan atau merekam serta memelihara data operasional lengkap sebuah organisasi/perusahaan sehingga mampu menyediakan informasi yang optimal yang diperlukan pemakai untuk proses mengambil keputusan.
Dalam menggunakan sistem basis data, terdapat beberapa keuntungan dan kerugian.
Keuntungan sistem basis data adalah:
a. Mengurangi kerangka data, yaitu data yang sama disimpan dalam berkas data yang berbeda-beda sehingga update dilakukan berulang-ulang.
c. Keamanan data dapat terjaga, yaitu dapat dilindungi dari pemakai yang tidak berwenang.
d. Integritas dapat dipertahankan. e. Data dapat digunakan bersama-sama. f. Menyediakan recovery.
g. Memudahkan penerapan standarisasi. h. Data bersifat mandiri (data independence). i. Keterpaduan data terjaga.
Sedangkan kerugian sistem basis data adalah: a. Diperlukan tempat penyimpanan yang besar.
b. Diperlukan tenaga yang terampil dalam mengelola data. c. Perangkat lunak mahal.
d. Kerusakan sistem basis data dapat mempengaruhi departemen yang terkait.
2.5.1 Komponen Sistem Informasi
Terdapat 5 komponen pokok sistem informasi, yaitu(Al-Bahra, 2005): 1. Data
Data merupakan komponen dasar dari informasi yang akan diproses lebih lanjut untuk menghasilkan informasi. Himpunan data akan memiliki sifat unik sebagai berikut:
a. Saling berkaitan (interrelated):
Data-data tersebut akan saling berkaitan/terintegrasi dan tersimpan secara terorganisir di dalam suatu media penyimpanan.
b. Kebersamaan (shared):
Data yang terintegrasi tersebut dapat diakses oleh berbagai macam pengguna/orang tetapi hanya satu yang dapat merubah yaitu Database
Administrator (DBA).
2. Hardware (Perangkat Keras)
Terdiri dari semua peralatan komputer yang digunakan untuk mengelola sistem basis data, berupa:
a. Peralatan untuk menyimpan data
Disk merupakan salah satu perangkat penyimpanan data yang paling sering
digunakan. Disk diorganisasikan berupa silinder-silinder dengan tiap permukaan terdapat head yang ditumpuk secara vertikal.
b. Peralatan input dan output
Peralatan input merupakan alat yang digunakan untuk menerima input (energi yang dimasukkan kedalam suatu sistem yang dapat berupa signal
input atau maintenace input). Sedangkan, peralatan output merupakan
suatu alat keluaran/tampilan suatu data setelah mengalami suatu proses. c. Peralatan komunikasi data
Komunikasi data adalah suatu bagian dari ilmu komunikasi yang mengkhususkan diri pada penyampaian informasi yang berupa teks dan gambar.
3. Software (Perangkat Lunak)
Sofware merupakan kumpulan dari perintah/fungsi yang ditulis dengan aturan
tertentu untuk memerintahkan komputer melaksanakan tugas tertentu.
4. Prosedur
Dokumentasi prosedur/proses sistem, buku penuntun operasional (aplikasi) dan teknis. Prosedur menghubungkan berbagai perintah, dan aturan yang akan menentukan rancangan dan pengguna sistem.
5. Manusia (Pengguna)
Manusia adalah mereka yang terlibat dalam kegiatan sistem seperti operator, pemimpin sistem dan sebagainya.
2.5.2 DBMS (Database Management System)
Menurut Marlinda (2004) kumpulan file yang saling berkaitan dan program untuk pengelolanya disebut DBMS. Basis data adalah kumpulan datanya, sedang program pengelolanya berdiri sendiri dalam suatu paket program yang komersial
untuk membaca data, mengisi data, menghapus data, dan melaporkan data dalam basis data.
2.5.2.1 Bahasa yang Terdapat di dalam DBMS
a. Data Definition Language (DDL)
Paket bahasa di dalam DBMS dibagi menjadi beberapa definisi. Pola skema basis data dispesifikasikan dengan suatu set definisi yang diekspresikan dengan suatu bahasa khusus yang disebut DDL (data definitions language). Hasil kompilasi perintah DDL adalah suatu set tabel yang disimpan di dalam
file khusus yang disebut data dictionary/directory. Suatu data directory adalah
suatu file yang berisi metadata, yaitu ”data mengenai data”. File ini dikonsultasikan sebelum data sebenarnya dibaca atau dimodifikasikan dalam suatu sistem basis data.
b. Data Manipulasi Language (DML)
Bahasa yang memperbolehkan pemakai mengakses atau memanipulasi data sebagai yang diorganisasikan sebelum model data yang tepat.
Secara dasar terdapat dua tipe DML, yaitu:
1. Procedural, pemakai harus menentukan data apa yang dibutuhkan dan
bagaimana mendapatkannya.
2. Non procedural, pemakai harus menentukan data apa yang dibutuhkan,
tanpa menentukan bagaimana mendapatkannya.
c. Query
Query adalah pernyataan yang diajukan untuk mengambil informasi.
Merupakan bagian DML yang digunakan untuk pengambilan informasi, disebut Query Language.
2.5.2.2 Keunggulan DBMS
Berikut beberapa keunggulan dari DBMS dibandingkan dengan sistem tradisional yang berbasis kertas (Al-Bahra, 2005):
a. Kepraktisan
Sistem yang berbasis kertas akan menggunakan kertas yang sangat banyak untuk menyimpan informasi, sedangkan DBMS menggunakan media penyimpanan sekunder yang berukuran kecil tetapi padat informasi.
b. Kecepatan
Mesin dapat mengambil atau mengubah data jauh lebih cepat dari pada manusia.
c. Mengurangi kejemuan
Orang cendrung menjadi bosan kalau melakukan tindakan-tindakan berulang yang menggunakan tangan (misal harus mengganti suatu informasi).
d. Kekinian
Informasi yang tersedia pada DBMS akan bersifat mutahir dan akurat setiap saat.
2.5.3 Model Entity Relationship
Merupakan suatu model untuk menjelaskan hubungan antara data dalam basis data data berdasarkan suatu presepsi bahwa real world terdiri dari objek-objek dasar yang mempunyai hubungan atau relasi antar objek-objek-objek-objek tersebut. Relasi antar objek dilukiskan dengan menggunakan simbol-simbol grafis tertentu.
Menurut Chen dalam Marlinda, model entity relationship adalah suatu penyajian data dengan menggunakan entity dan relatitionship.
Komponen-komponen yang terdapat di dalam Entity Relationship Model:
a. Entity
1. Adalah sesuatu yang dapat dibedakan dalam dunia nyata dimana informasi yang berkaitan dengannnya dikumpulkan.
2. Entity set adalah kumpulan entity yang sejenis.
Gambar 2.1 Entity
3. Simbol yang digunakan untuk entity adalah persegi panjang. 4. Entity set dapat berupa:
- Entity yang bersifat fisik, yaitu entity yang dapat dilihat.
- Entity yang bersifat konsep atau logik, yaitu entity yang tidak dapat
dilihat.
b. Relationship
2. Relationship tidak mempunyai keberadaan fisik, kecuali yang mewarisi hubungan antara entity tersebut.
3. Relationship set adalah kumpulan relationship yang sejenis.
4. Simbol yang digunakan adalah bentuk belah ketupat, diamond, atau
rectangle.
Gambar 2.2 Relationship
c. Atribute
1. Adalah karakteristik dari entity atau relationship yang menyediakan penjelasan detail tentang atau relatitionship tersebut.
2. Attribute value (nilai atribute) adalah suatu data aktual atau informasi yang disimpan disuatu atribute di dalam suatu entity atau relationship. 3. Terdapat dua jenis atribute, yaitu:
- Indentifier (key), untuk menentukan suatu entity secara unik.
- Descriptor (nonkey attribute), untuk menentukan karakteristik dari
suatu entity yang tidak unik.
4. Simbol yang digunakan adalah bentuk oval.
Gambar 2.3 Atribute
d. Indicator Tipe
1. Indicator tipe associative object
Berfungsi sebagai suatu objek dan suatu relationship.
2. Indicator tipe supertipe
Terdiri dari suatu objek dan suatu subkategori atau lebih yang dihubungkan dengan satu relationship yang tidak bernama.
Cardinality ratio adalah menjelaskan hubungan batasan jumlah keterhubungan
suatu entity dengan entity lainnya atau banyakknya entity yang bersesuaian dengan entity yang lain melalui relationship.
f. Derajat Relationship
Derajat relationship menyatakan jumlah entity yang berpartisipasi di dalam suatu relationship.
g. Partisipation Constraint
Menjelaskan apakah keberadaan suatu entity tergantung pada hubungannya dengan entity lain.
h. Representasi dari entity set
Entity set direpresentasikan dalam bentuk tabel dan nama yang uniqe. Setiap
tabel terdiri dari sejumlah kolom. Masing-masing kolom diberi nama yang
uniqe pula.
1.11 PHP
Menurut Peranginangin PHP merupakan singkatan dari PHP Hypertext
Preprocessor yang digunakan sebagai bahasa script server-side dalam
pengembangan web yang disisipkan pada dokumen HTML. Bahasa pemrograman PHP dibuat sebagai suatu metode untuk menciptakan komunikasi interaktif antara para netters dengan penyedia informasi tersebut (server). Dengan semakin berkembangannya suatu website, website sudah tidak diarahkan lagi pada suatu
website pasif melainkan ke dalam bentuk aktif dengan adanya form di dalam. Form ini merupakan embrio dari adanya proses interaksi antara para netters
dengan penyedia informasi tersebut (server).
2.7 Perangkat Lunak
Menurut Pressman (2002) pengujian adalah serangkaian aktifitas yang dapat direncanakan sebelumnya dan dilakukan secara sistematis. Pengujian perangkat lunak adalah satu elemen dari topik yang lebih luas yang sering diacu sebagai verifikasi dan validasi. Pengujian sistem adalah sederetan pengujian yang berbeda yang tujuan utamanya adalah sepenuhnya mempergunakan sistem berbasis komputer.
Dalam pengujian, kualitas dari data pengujian lebih penting dari pada jumlah datanya. Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk memilih data pengujian salah satunya adalah metode Black-Box.
Metode Black-Box, dimana data pengujian dipilih berdasarkan spesifikasi masalah tanpa memperhatikan detail internal dari program, untuk memeriksa apakah program dapat berjalan dengan benar. Pemilihan data pengujian paling tidak harus dipilih dengan cara berikut:
a. Easy values, yaitu data yang mudah diperiksa.
b. Typical realistic value, yaitu mencoba program dengan data pengujian untuk
melihat bagaimana program menggunakannya. Data ini harus cukup sederhana sehingga hasilnya dapat dihitung secara manual.
c. Extreme values, banyak program error pada suatu batas range dari aplikasi. d. Ilegal values, yaitu suatu data/nilai yang tidak diperbolehkan maupun data
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Metodologi Penelitian
3.1.1 Bahan Penelitian
Bahan penelitian berupa data penyakit-penyakit Tropik Infeksi anak yang diperoleh dari referensi buku dan pakar dari RS. Soedarso di mana pakar disini adalah dokter spesialis anak.
Data-data penyakit Tropik Infeksi anak yang diperlukan antara lain terdiri dari nama, gejala penyakit yang ada, definisi, solusi dari penyakit tersebut, dan gambar dari penyakit.
3.1.2 Alat yang Dipergunakan 3.1.2.1 Alat Penelitian
Alat penelitian merupakan alat yang digunakan untuk penelitian. Alat penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Data Flow Diagram (DFD), untuk menggambarkan aliran data pada sistem yang terdiri dari dua bagian utama yaitu sistem input data dan sistem analisis data.
b. Entity Relationship Diagram (ERD), untuk menjelaskan hubungan antardata dalam basis data berdasarkan objek-objek dasar data yang mempunyai hubungan antarrelasi.
3.1.2.2 Perangkat Lunak
Untuk membangun sistem pakar ini diperlukan beberapa perangkat lunak. Perangkat lunak yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
- Sistem operasi Windows XP Service Pack 2 - Macromedia Dreamweaver 8
- MYSQL Server 5.0 - Apache HTTP Server 2.0 - PHP 5.2.6
3.1.2.3 Perangkat Keras
Adapun hardware yang digunakan dalam pengembangan dan pengujian sistem yang dirancang adalah satu unit Personal Computer (PC).
3.1.3 Metode Penelitian
Metode penelitian yang akan dilakukan adalah: a. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dari RS. Soedarso Kota Pontianak dan melakukan konsultasi langsung kepada pakar penyakit anak dalam hal ini dokter spesialis anak mengenai data-data yang berkaitan dalam perancangan sistem pakar. b. Metode Perancangan Sistem
Perancangan sistem dimulai dengan melakukan perancangan basis data dari sistem yang akan dibangun. Kemudian dilakukan perancangan arus data diagram serta perancangan antarmuka. Setelah itu merancang metode yang digunakan dalam sistem pakar.
c. Metode Pengujian Sistem
Pengujian dilakukan untuk melihat kesamaan hasil metode berdasarkan perhitungan manual dan yang dilakukan oleh sistem. Untuk input data dilakukan dengan menggunakan metode Black Box.
3.1.4 Variabel atau Data
Data-data penyakit Tropik Infeksi anak yang dikumpulkan antara lain terdiri dari nama, gejala penyakit yang ada, definisi, solusi dari penyakit tersebut, dan gambar dari penyakit.
3.1.5 Analisis Hasil
Analisis hasil akan dilakukan dengan menggunakan metode Certainty
Factor (CF). Pasien akan melakukan proses diagnosa pada aplikasi, kemudian
aplikasi akan menghitung nilai CF yang didapat berdasarkan gejala yang diinputkan. Hasil dari aplikasi akan dilihat kesamaannya dengan perhitungan yang dilakukan pada proses manual. Dari hasil analisis ini akan ditarik kesimpulan apakah sistem telah berjalan sesuai dengan metode yang digunakan.
3.1.6 Diagram Alir Penelitian
Penelitian ini terdiri dari beberapa tahapan. Langkah-langkah penelitian yang dilakukan seperti terlihat pada Gambar 3.1 dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Studi literatur
Melakukan studi literatur mengenai sistem pakar serta penyakit Tropik Infeksi