• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berisi kesimpulan yang diambil berdasarkan hasil analisa, serta saran-saran untuk penyempurnaan tugas akhir ini di masa depan.

17

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian

Rem dirancang untuk mengurangi kecepatan (memperlambat) dan menghentikan kendaraan. Rem juga dibutuhkan untuk parkir pada tempat yang menurun. Rem sangat penting sebagai alat keselamatan dan menjamin berkendara dalam kondisi aman. (Sumber: New Step 1 Training)

Menurut para ahli otomotif, rem merupakan kebutuhan sangat penting untuk keamanan berkendara dan dapat berhenti ditempat yang diinginkan, dan dalam berbagai kondisi dapat berfungsi dengan baik dan aman.

Gambar 2.1 Sistem Rem Mobil

( sumber : http://remsistem.blogspot.com )

2.2 Prinsip Kerja Rem

Prinsip rem adalah menghilangkan energi gerak sehingga mengakibatkan terciptanya energi yang lain seperti panas dan bunyi. Umumnya, rem bekerja karena adanya sistem gabungan penekanan melawan sistem gerak putar. Efek pengereman (braking effect) diperoleh dari adanya gesekan yang ditimbulkan antara dua objek / benda.

18

Gambar 2.2 : Prinsip kerja rem

( sumber; http://www.viarohidinthea.com/2014/10/sistem-rem-brake-system.html )

2.3 Tipe Rem

Rem yang dipergunakan pada kendaraan bermotor dapat digolongkan menjadi beberapa tipe tergantung pada penggunaannya.

- Rem kaki (foot brake) digunakan untuk mengontrol kecepatan dan

menghentikan kendaraan.

- Rem parkir (parking brake) untuk memarkir kendaraan.

2.3.1 Rem Kaki ( Foot Brake )

Rem kaki (foot brake) dikelompokkan menjadi dua tipe rem : rem hidraulik (hydraulic brake) dan rem pneumatik (pneumatic brake). Rem hidraulik lebih merespon dan lebih cepat dibanding tipe lainnya, dan konstruksinya lebih mudah dan sederhana. Rem hidraulik juga mempunyai konstruksi khusus yang handal (superior design flexibility). Dengan adanya keuntungan tersebut, rem hidraulik banyak digunakan pada kendaraan penumpang dan truk ringan.

Sistem rem pnuematik termasuk kompresor atau sejenisnya yang menghasilkan udara yang bertakanan yang digunakan untuk menambah daya pengereman. Rem pneumatik sering digunakan pada truk dan bus.

19 Gambar 2.3 Mekanisme Kerja Rem Kaki

( sumber; http://www.viarohidinthea.com/2014/10/sistem-rem-brake-system.html )

1) Mekanisme Kerja a. Master Silinder

Fungsi master silinder adalah mengubah gerak pedal rem ke dalam tekanan hidraulis. Master silinder terdiri dari reservoir tank yang berisi minyak rem, demikian juga piston dan silinder yang membangkitkan tekanan hidraulik.

Tipe dan konstruksi master silinder

Master silinder dibagi kedalam dua tipe : Tipe tunggal dan Tipe ganda. Master silinder tipe ganda (tandem type master cylinder) banyak digunakan dibanding tipe tunggal (single type master cylinder). Master silinder tipe tunggal umumnya banyak digunakan untuk pengoperasian

unit kopling yang menggunakan tipe hidraulik.

20 Master silinder tipe tandem, sistem hidrauliknya dipisahkan menjadi dua, masing-masing untuk roda depan dan untuk roda belakang. Dengan demikian bila salah satu tidak bekerja, maka yang lainnya tetap akan berfungsi dengan baik. Pada sistem penggerak roda belakang, piston no.1 untuk roda depan dan piston no.2 untuk roda belakang. Pada kendaraan penggerak roda depan, terdapat beban tambahan pada roda depan, untuk mengatasi hal ini digunakan diagonal split hydraulic system.

Gambar 2.5 Bentuk Master Silinder Ganda

Cara Kerja

Saat pedal rem tidak diinjak

Piston cup no. 1 & 2 terletak di antara inlet port dan compensating port, sehingga terdapat saluran antara silinder dan reservoir tank.

21 Saat pedal rem diinjak

Piston no. 1 bergerak ke kiri dan piston cup menutup compensating port, sehingga menyebabkan tekanan hidraulik dalam silinder bertambah dan tekanan ini diteruskan ke silinder roda kembali ke reservoir.

Gambar 2.7 Posisi saat pedal rem diinjak

Saat pedal rem dibebaskan

Piston kembali ke posisi semula oleh tekanan hidraulik dan tegangan

return spring, dan minyak kembali ke reservoir.

Gambar 2.8 Posisi saat pedal rem dibebaskan

Outlet Check Valve

Pada beberapa master silinder terdapat outlet check valve yang berfungsi untuk mempertahankan tekanan sisa pada pipa rem (1 kg/cm2) untuk mencegah terlambatnya pengereman.

22 Gambar 2.9 Outlet Check Valve

b. Booster Rem

Booster rem berfungsi melipatkan gandakan daya penekan pedal rem, sehingga pengemudi tidak memerlukan penekanan yang kuat.

Booster rem dapat dipasang menjadi satu dengan master silinder (tipe integral) atau dapat juga dipasangkan dengan cara terpisah dari master silinder itu sendiri. Booster rem dilengkapi diafragma (membran) yang bekerja dengan adanya perbedaan tekanan antara tekanan atmosfer dengan pemvacuman yang dihasilkan dari dalam intake manifold mesin.

Boster rem terdiri dari rumah booster, piston booster, membran, reaction

mechanism dan mekanisme katup pengontrolan. Booster body dibagi menjadi

bagian depan dan bagian belakang, dan masing-masing ruang dibatasi dengan membran dan piston booster. Mekanisme katup pengontrol mengatur tekanan di dalam ruang tekan variasi. Termasuk katup udara, katup vacum, katup pengontrol den sebagainya yang berhubungan dengan pedal rem melalui batang penggerak katup.

23 Gambar 2.10 Konstruksi Booster Rem

2) Mekanisme Rem

a. Rem Tromol ( Drum Brake )

Pada rem tromol, kekuatan tenaga pengereman (self energizing action /

effect) diperoleh dari sepatu rem yang diam menekan bagian dalam tromol

yang berputar.

Gambar 2.11 Bentuk Tromol Rem

Komponen

Komponen rem tromol terdiri dari : backing plate, silinder roda (wheel

cylinder), sepatu rem dan kanvas (brake shoe & lining), tromol rem (brake drum).

Gambar 2.12 Penampang Rem Tromol

24

Backing Plate

Backing plate terbuat dari baja press, karena sepatu rem terkait pada backing

plate, maka aksi daya pengereman tertumpu pada backing plate.

Gambar 2.13 Backing Plate

( sumber : http://www.viarohidinthea.com/2014/10/sistem-rem-brake-system.html )

Silinder Roda

Ada dua tipe silinder roda (wheel silinder): double piston dan single piston. Bila timbul tekanan hidraulik pada master silinder maka akan menggerakkan piston cup, piston akan menekan ke arah sepatu rem, kemudian menekan tromol rem.

Apabila rem tidak bekerja, piston akan kembali ke posisi semula karena kekuatan pegas pembalik sepatu rem.

Bleeder plug berfungsi sebagai baut pembuangan udara yang terdapat pada

sistem rem.

25 (sumber :

http://www.viarohidinthea.com/2014/10/sistem-rem-brakesystem.html)

Sepatu Rem dan Kanvas Rem ( Brake Shoe and Lining )

Sepatu rem terbuat dari plat baja Kanvas rem dipasang dengan cara dikeling atau dilem.

Kanvas terbuat dari campuran fiber metalic, brass, lead, plastic. Kanvas harus mempunyai koefisien gesek yang tinggi dan harus dapat menahan panas dan aus. Koefisien tersebut sebisa mungkin tidak mudah dipengaruhi oleh keadaan turun naiknya temperatur dan kelembaban yang silih berganti.

Gambar 2.15 Konstruksi Sepatu Rem dan Kanvas

Tromol Rem

Tromol rem (brake drum) terbuat dari besi tuang (gray cast iron). Tromol rem ini letaknya sangat dekat dengan sepatu rem tanpa bersentuhan dan berputar bersama roda.

Ketika kanvas menekan bagian dalam dari tromol akan terjadi gesekan yang menimbulkan panas yang mencapai suhu 200 - 300°C

26 Gambar 2.16 Penampang Tromol Rem

b. Rem Cakram ( Disc Brake )

Rem cakram (disc brake) terdiri dari cakram (disc rotor) yang terbuat dari besi tuang yang berputar dengan roda, dan disc pad yang berfungsi untuk mendorong dan menjepit cakram.

Rem piringan efektif karena rotor piringannya terbuka terhadap aliran udara yang dingin dan karena rotor piringan tersebut dapat membuang air segera. Karena itulah gaya pengereman yang baik dapat terjamin walau pada kecepatan tinggi. Sebaliknya berhubung tidak adanya self energing effect, maka dibutuhkan gaya pedal yang lebih besar dibandingkan dengan rem teromol. Karena alasan inilah maka booster rem biasanya digunakan untuk membantu gaya pedal.

27

Keuntungan :

- Radiasi panas baik

- Bila terkena air lebih cepat kering - Konstruksi sederhana

- Mudah dalam perawatan serta penggantian pad

Kerugian :

- Membutuhkan tekanan hidraulis yang besar - Pad lebih cepat aus

Komponen – Komponen Utama :

- Piringan ( Disc Rotor ) - Kaliper

- Pad Rem ( Disc Pad )

Piringan ( Disc Rotor )

Disc rotor terbuat dari besi tuang dalam bentuk solid (biasa) dan

berlubang-lubang untuk ventilasi. Tipe ventilasi digunakan untuk menjamin pendinginan yang baik untuk mencegah fading (koefisien gesek berkurang) dan menjamin umur pad dan tahan lam.

Tipe Solid Tipe Ventilasi Tipe Solid Dengan Tromol

28

Pad Rem

Pad (disc pad) terbuat dari campuran metallic fiber dan serbuk besi, yang disebut semi metallic disc pad.

Pada pad diberi celah untuk menunjukkan tebal batas pad yang diijinkan (mempermudah pemeriksaan).

Pada beberapa pad terdapat anti-squel shim yang berfungsi untuk mencegah bunyi saat pengereman, dan pad wear indicator untuk menginformasikan keausan pad yang sudah tipis.

Gambar 2.19 Bentuk-Bentuk Pad Rem

Kaliper

Kaliper merupakan bagian yang tidak bergerak dari rem cakram. Dimana terdapat silinder rem berikut sepatu rem dan piringannya. Cara kerjanya, bila pedal diinjak, maka silinder rem akan bekerja secara hidrolik menjepit pad, sehingga menghentikan perputaran roda cakram.

Kaliper juga disebut dengan cylinder body, memegang piston-piston dan dilengkapi dengan saluran dimana minyak rem disalurkan ke silinder.

29

Jenis – Jenis Caliper :

a. Tipe Fixed Caliper (Double Piston)

Pada tipe ini daya pengereman didapat bila pad ditekan piston secara hidraulis pada kedua sisi disc. Fixed Caliper adalah desain yang sangat baik dan dijamin dapat bekerja lebih akurat.

Gambar 2.20 Tipe Fixed Caliper

b. Tipe Floating Caliper (Single Piston)

Pada tipe ini hanya terdapat satu piston. Tekanan hidraulis dari master silinder mendorong piston (A) dan selanjutnya menekan disc. Pada saat yang sama tekanan hidraulis menekan sisi pad (B), menyebabkan caliper bergerak ke kanan dan menjepit cakram dan terjadilah pengereman.

30

2.3.2 Rem Parkir

Rem parkir (parking brake) terutama digunakan untuk memarkir kendaraan.

Rem parkir terbagi menjadi dua tipe : tipe roda belakang dan tipe center brake. Kendaraan penumpang menggunakan tipe roda belakang, dan kendaraan truk atau niaga menggunakan tipe center brake.

Gambar 2.22 Penempatan Rem Parkir pada Kendaraan

Cara kerja rem tangan dapat dilihat pada gambar dibawah. Gerakan tuas rem tangan yang kurang sama saja tidak ada gerak bebas pada rem belakang yang akan menyebabkan sepatu rem belakang tertarik serta akan menimbulkan panas yang berlebihan pada rem belakang dan penggunaan bahan bakar menjadi lebih boros. Sebaliknya, gerakan tuas rem tangan yang berlebihanpun tidak akan dapat memberikan kekuatan pengereman yang cukup untuk

31 Gambar 2.23 Konstruksi Rem Tangan

Di bawah ini beberapa tipe tuas yang digunakan tergantung pada design tempat

duduk pengemudi dan sistem kerja yang dikehendaki.

Gambar 2.24 Tipe-Tipe Tuas Rem Tangan

Tuas rem parkir dilengkapi dengan rachet untuk mengatur tuas pada suatu posisi pengetesan. Pada beberapa tuas rem parkir mur penyetelannya dekat dengan tuas rem un-tuk memudahkan penyetelan.

Kabel rem parkir memindahkan gerakan tuas ke tromol rem sub-assembly. Pada rem parkir roda belakang, dibagian tengah kabel diberi equalizer untuk menyamakan daya kerja pada roda kiri dan kanan. Tuas intermediate

(intermediate lever) dipasang untuk menambah daya pengoperasian. Gambar 2.25 Bagian-Bagian Rem Parkir

32

BAB III

METODOLOGI PEMBUATAN TUGAS AKHIR

3.1 Pemilihan Peralatan dan Bahan

Adapun dalam pembuatan simulasi sistem pengereman ini, membutuhkan beberapa bahan yang diperlukan, antara lain:

1) Rem cakram dan rem tromol masing-masing 1 set 2) Boster rem

3) Master silinder

4) Pedal rem kaki dan rem tangan

5) Besi persegi ukuran 40 x 40 mm sebanyak +

/- 10 meter 6) Besi poros as O 25 mm sebanyak 1,6 meter

7) Pully sebanyak 3 buah 8) V-Belt sebanyak 2 buah 9) Bearing sebanyak 4 buah 10) Motor AC 1 phase

3.2 Pembuatan Rangkaian Sistem Rem

33 booster rem, master silinder dan pedal rem.

Gambar 3.1 Rangkaian Sistem Rem

3.3 Perancangan Dudukan Trainer

Pada tahap ini dilakukan penyusunan untuk penempatan rem cakram, rem tromol, booster rem, master silinder, pedal rem, rem tangan dan motor.

34

3.4 Perancangan Rangka

Gambar 3.3 Bentuk Rangka Alat

Adapun pada tahap ini dilakukan pembuatan rangka dudukan alat. Rangka dibuat seperti diatas dengan tujuan agar membedakan dengan simulasi sistem pengereman yang dibuat senior yang lalu dan memudahkan bagi orang dalam melihat proses kerja simulasi sistem pengereman dengan baik. Rangka dudukan alat tersebut dibuat dengan ukuran 100 cm x 70 cm x 70 cm.

35

3.5 Instalasi Rem

Pada tahap ini dilakukan pemasangan selang atau pipa dari master silinder

menuju rem cakram dan rem tromol.

36

3.6 Diagram Alir Kegiatan

Studi literatur

Pemilihan peralatan dan bahan

Analisa kerusakan yang terjadi pada rem Perbaikan Percobaan alat Kesimpulan Selesai Mulai Perawatan

37

BAB IV

PERAWATAN DAN PERBAIKAN REM CAKRAM DAN TROMOL

4.1 Tinjauan Umum Rem Cakram dan Tromol

Simulasi rem cakram dan tromol yang dibuat untuk media pembelajaran bagi mahasiswa untuk dapat mempelajari system pengereman. Pada simulasi ini mahasiswa juga dapat mempelajari gaya yang terjadi pada saat pengereman, seperti gaya gesek yang terjadi pada kampas rem dengan piringan rem yang digunakan pada simulasi ini yaitu, rem tromol, rem cakram dan rem parkir.

Gambar 4.1 Pedal dan rantai

38 Gambar 4.3 Booster rem, master silider dan rem parker

Gambar 4.4 Pedal rem

Simulasi pengereman yang dibuat ini dioperasikan dengan cara memutar tuas yang dihubungkan dengan rantai ke poros yang berhubungan langsung dengan rem tromol dan poros rem cakram, yang mana kedua rem tersebut di hubungkan dengan menggunakan puly dan v-belt. Sehingga kita dapat menghentikan putarannya dengan menekan pedal rem ataupun pedal rem parker.

Prinsip kerja rem tromol adalah dengan cara memanfaatkan gesekan antara tromol dan sepatu rem, begitu juga pada rem cakram yang juga memanfaatkan gesekan sepatu rem dengan pirigan cakramnya.

39

4.2 Kondisi Simulasi Sistem Pengereman 4.2.1 Kondisi pada simulasi

Adapun kondisi yang terjadi dalam simulasi antara lain :

1. Booster rem agak terasa keras sewaktu ditekan, sedangkan pada mobil ringan, disebabkan pada simulasi ini tidak tedapat hisapan angin intake mesin dan hanya memanfaatkan udara luar sebagai pendorong diafragma yang terdapat dalam booster rem. Oleh karena itu, penulis memasang pentin pada booster rem dengan tujuan untuk menyambungkan pada kompresor. Akan tetapi tidak terdapat perubahan pada booster rem.

2. Posisi rem cakram dan rem tromol berada diatas, sedangkan pada mobil posisi rem berada dibawah. Apabila posisi rem cakram dan rem tromol dibawah, maka otomatis pedal rem kaki berada diatas. Kekuatan tangan tidak sebesar dengan kekuatan kaki dalam proses penekanan pedal rem pada simulasi ini. Oleh sebab itu penulis merancang pedal rem dibawah dan rem cakram diatas agar penekannya lebih kuat dan pedal rem kaki sesuai dengan fungsinya.

4.2.2 Kondisi pada mobil ( sebenarnya )

Adapun kondisi yang terdapat pada mobil antara lain:

1. Booster rem terasa ringan dikarenakan adanya hisapan angin intake mesin. 2. Rem cakram dan rem tromol berada dibawah.

4.3 Masalah Yang Terjadi Pada Rem Cakram dan Tromol

Sebelum kita melakukan perbaikan rem ini kita harus mengetahui kerusakan yang terjadi pada masing-masing komponen . Karena itu kita perlu melakukan pemeriksaan terlebih dahulu dengan langkah pemeriksaan seperti dibawah ini :

40 1) Pemeriksaan Secara Visual

Pemeriksaan ini dapat kita lakukan dengan cara langsung melihat kerusakan-kerusakan yang terjadi pada tiap komponen simulasi rem ini, seperti gambar dibawah ini :

a) Kampas rem cakram yang telah menipis

Gambar 4.5 Kampas rem yang sudah menipis

b) Selang minyak rem yang sudah rusak

41 c) Kertas packing master silinder yang sudah rusak

Gambar 4.7 Kertas packing yang rusak

d) Tangki minyak rem yang kosong

42 e) Tromol dan piringan cakram yang berkarat

Gambar 4.9 Tromol dan piringan cakram berkarat

2) Analisa Masalah

a) Kampas rem menipis

Kampas rem menipis dikarenakan umur pakai dari kampas rem tersebut telah habis sehingga sehingga kampas rem harus diganti dengan yang baru.

b) Selang minyak rem yang sudah rusak

Selang minyak rem rusak di karenakan terlalu lamanya dibiarkan kosong pada tangki minyak rem dan selang minyak rempun tidak pernah dialiri oleh minyak rem sehingga selang rem tersebut berkarat yang menyebabkan terjadinya kebocoran dan mudah patah.

c) Kertas packing pada mastersilinder

Kertas packing tersebut sudah rusak di karenakan umur pakai telah habis, sehingga kertas packing tersebut tidak bias digunakan lagi. d) Tangki minyak rem yang kosong

43 Pada saat penulis membuat alat simulasi rem ini, tangki minyak dalam keadaan kosong karena sudah lama tidak terpakai.

e) Tromol dan piringan cakram yang berkarat

Hal ini disebabkan karena terlalu lama tidak terpakai sehingga tromol dan piringan cakram tersebut berkarat

4.4 Langkah Perawatan dan Perbaikan

1) Perawatan dan Perbaikan Rem Cakram

Pada rem cakram ini yang mengalami masalah pada kampas rem yang sudah menipis sehingga perlu diganti dengan yang baru dan membersihkan piringan cakram yang sudah berkarat sehingga hasil pengereman lebih maksimal.

2) Perawatan dan perbaikan Rem Tromol

Perawatan dan perbaikan yang dilakukan adalah sebagai berikut : a) Bersihkan tromol dengan menggunakan amplas

44 b) Bersihkan kampas rem yang berdebu atau kotor

Gambar 4.11 Kampas rem tromol yang dibersihkan

c) Pentin untuk keluaran minyak rem pada saat proses bleeding tidak ada sehingga perlu dipasang degan yang baru

d) Cek piston apakah masih bekerja atau tidak

45

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari tugas akhir ini adalah sebagai berikut :

1) Dapat melakukan pembongkaran, pergantian dan pemasangan pada rem tromol dan rem carkram dengan baik dan benar serta dapat mempelajari fungsi dari setiap komponen-komponen yang ada pada rem tersebut.

2) Gangguan yang sering terjadi pada system rem adalah rem tidak berfungsi dengan baik ( kurang pakem ).

3) Melakukan perawatan dan perbaikan rem dapat berguna dalam berkendara untuk menjamin keselamatan dalam berkendara, agar berkendara lebih nyaman dan mengurangi persentase kecelakaan.

5.2 Saran

Adapun saran yang dapat penulis sampaikan adalah :

1) Lakukan pemeliharan system rem ini dengan baik dan benar 2) Gunakan peralatan sesuai dengan fungsinya masing-masing

3) Jika terjadi kerusakan pada salah satu bagian system rem cepat lakukan perbaikan agar tidak terjadinya kerusakan pada bagian yang lain.

46

DAFTAR PUSTAKA

 Otomotif.2015.Cara-Kerja-Rem. http://carageek.com/otomotif/cara-kerja-rem/1073/

 PT.Astra Daihatsu Motor.2001.Training Manual Basic 2.Jakarta: PT.Astra Daihatsu Motor

 Rohidinthea.2014.SistemRem.http://www.viarohidinthea.com/2014/10/sistem

-rem-brake-system.html

 Toyota Astra Motor.1995.New Step 1 Training Manual.Jakarta: PT. TAM Training Centre

 Tribun Otomotif.2014.Alasan teknis kenapa rem tromol lebih pakem dari rem cakram.http://m.tribunnews.com/otomotif/2014/04/17/alasan-teknis-kenapa-rem-tromol-lebih-pakem-dari-rem-cakram/

Dokumen terkait