• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab ini berisikan tentang kesimpulan dari hasil penelitian dan serta saran yang bermanfaat.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Persepsi

Pada dasarnya persepsi merupakan suatu proses yang terjadi dalam pengamatan seseorang terhadap orang lain. Persepsi terhadap suatu objek yang ada di sekitar manusia dasarnya berbeda dengan yang lainnya karena sebagai makhluk inividu setiap manusia memiliki pandangan yang berbeda sesuai dengan tingkat pengetahuannya dan pemahamannya. Bertambah tinggi pengetahuan dan pemahaman seseorang terhadap objek yang dipersepsikan maka semakin baik bentuk persepsi orang tersebut terhadap objek begitu pula sebaliknya.

Persepsi secara etimologi diartikan sebagai pandangan terhadap suatu objek tertentu (Purwodarminta, 1984:24). Persepsi juga bisa diartikan sebagai proses, pemahaman terhadap sesuatu informasi yang disampaikan oleh orang lain yang sedang saling berkomunikasi, berhubungan, atau kerja sama. Jadi, setiap orang tidak terlepas dari proses persepsi.

Menurut Kimbal Young (Walgito, 1999), persepsi adalah sesuatu yang menunjukkan aktifitas, merasakan mengidentifikasikan dan memahami objek baik fisik maupun sosial. Defenisi ini menekankan bahwa persepsi akan timbul setelah seseorang atau sekelompok orang terlebih dahulu merasakan kehadiran suatu objek dan setelah dirasakan akan menginterprestasikan objek yang dirasakan tersebut.

2.2 Pengertian Masyarakat

Pada dasarnya masyarakat terdiri atas berbagai lapisan. Walaupun secara

konseptual penegertian komunitas sendiri sangat luas, dan rumit tetapi lapisan–lapisan inilah yang sering disebut sebagai komunitas. Dalam skala

nasional yang disebut masyarakat Indonesia bukan sebuah masyarakat yang seragam. Ratusan dan bahkan ribuan kelompok atau komunitas yang ada membentuk masyarakat Indonesia dan memberikan gambaran lapisan sosial tersebut. Dengan keadaan tersebut sangat wajar jika di dalam masyarakat dapat terjadi ketegangan sosial antara kepentingan individu dan kelompok, atau antara kepentingan kelompok kecil dengan yang lebih besar.

2.3 Pengertian Implementasi

Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia Implementasi adalah sama dengan Pelaksanaan. Implementasi Kebijakan merupakan aspek yang penting dari keseluruhan proses kebijakan.

Lebih jauh Van Meter dan Van Horn dalam wahab (Wahab 1990 : 49) merumuskan proses Implementasi adalah tindakan–tindakan yang dilakukan oleh individu–individu, pejabat–pejabat atau kelompok–kelompok pemerintah atau swasta yang diarahkan pada tercapainya tujuan–tujuan yang telah digariskan dalam kebijaksanaan.

“Daniel A. Mazmanian dan Paul A. sabatier (1979) mengatakan bahwa defenisi Implementasi adalah memahami apa yang sebenarnya terjadi sesudah program dinyatakan berlaku atau dirumuskan merupakan fokus perhatian Implementasi kebijaksanaan, yaitu kejadian–kejadian atau kegiatan–kegiatan yang timbul setelah disyahkan pedoman–pedoman kebijaksanaan Negara, yang mencakup baik usaha–usaha untuk mengadministrasikannya maupun untuk menimbulkan akibat atau dampak nyata pada masyarakat” (Wahab 1990 : 51)

2.4 Pengertian Kebijakan

Banyak Defenisi yang dibuat oleh para ahli untuk menjelaskan arti kebijakan. Thomas Dye menyebutkan kebijakan sebagai pilihan pemerintah untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu (whatever government chooses to do or not to do).

H. Hugh Heglo menyebutkan kebijakan sebagai “a course of action intended to accomplish some end,” atau sebagai suatu tindakan yang bermaksud untuk mencapai tujuan tertentu.

Defenisi Heglo ini selanjutnya diuraikan oleh Jones dalam kaitan dengan beberapa isi dari kebijakan. Pertama, tujuan. Disini yang dimaksudkan adalah tujuan tertentu yang dikehendaki untuk dicapai.

Bukan suatu tujuan yang sekedar yang diinginkan saja. Dalam kehidupan sehari–hari tujuan yang hanya diinginkan saja bukan tujuan, tetapi sekedar keinginan. Setiap orang boleh berkeinginan apa saja, tetapi dalam kehidupan bernegara tidak perlu diperhitungkan. Baru diperhitungkan kalau ada usaha untuk mencapainya, dan ada faktor pendukung yang diperlukan. Kedua, rencana atau proposals yang merupakan alat atau cara tertentu untuk mencapainya. Ketiga, program atau cara tertentu yang telah mendapat persetujuan dan pengesahan untuk mencapai tujuan dimaksud. keempat, keputusan yakni tindakan tertentu yang diambil untuk menentukan tujuan, membuat dan menyesuaikan rencana, melaksanakan dan mengevaluasi program. kelima, dampak (efek), yakni dampak yang timbul dari suatu program dalam masyarakat.

2.5 Pengertian Program

Program merupakan tahap–tahap dalam penyelesaian rangkaian kegiatan yang berisi langkah–langkah yang akan dikerjakan untuk mencapai tujuan dan merupakan unsur pertama yang harus ada demi tercapainya kegiatan implementasi. Penanggulangan Kemiskinan merupakan upaya terus–menerus karena kompleksitas permasalahan yang dihadapi masyarakat miskin dan keterbatasan sumber daya untuk mewujudkan pemenuhan hak–hak dasar. Langkah–langkah penanggulangan kemiskinan tidak dapat ditanggulangi sendiri oleh sektor tertentu, tetapi harus multisektor terkait untuk meningkatkan efektifitas pencapaian program yang dijalankan. Oleh sebab itu, langkah–langkah yang ditempuh dalam penanggulangan kemiskinan dijabarkan ke dalam program–program sebagai berikut :

1. Pemenuhan Hak atas Pangan

Untuk memenuhi hak atas pangan dan meningkatkan sistem ketahanan pangan akan dilakukan melalui program diantaranya :

1.1Program Peningkatan Ketahanan Pangan

a. Peningkatan distribusi pangan, melalui penguatan kapasitas kelembagaan dan peningkatan infrastruktur yang mendukung sistem distribusi untuk menjamin keterjangkauan masyarakat atas pangan.

b. Diversifikasi pangan, melalui peningkatan ketersediaan pangan hewani, buah dan sayuran, terhadap pola konsumsi masyarakat menuju pola konsumsi dengan mutu yang semakin meningkat,

serta peningkatan minat dan kemudahan konsumsi pangan alterntif/pangan lokal.

c. Pencegahan dan penanggulangan masalah pangan melalui bantuan pangan kepada keluarga miskin/rawan pangan sesuai dengan kebutuhan pangan, dan pengembangan sistem antisipasi diri terhadap pangan.

d. Pendidikan dan sosialisasi mengenai pentingnya gizi yang berimbang dan tidak diskriminatif gender di dalam keluarga, kandungan kalori dan gizi dari pangan lokal selain beras, serta cara pengolahan bahan pangan dengan gizi berimbang.

e. Peningkatan kerjasama antar daerah dalam penyediaan dalam distribusi pangan.

f. Pelaksanaan pemantauan ketersediaan, dan harga bahan pangan di pasar induk dan pasar tradisional eceran.

2. Pemenuhana Hak atas Layanan Kesehatan

Untuk memenuhi hak dasar masyarakat miskin atas layanan kesehatan yang bermutu dilakukan melalui program–program diantaranya :

a. Program upaya kesehatan masyarakat b. Program upaya kesehatan perorangan

c. Program pencegahan dan pemberantasan penyakit d. Program perbaikan gizi masyarakat

e. Program sumber daya kesehatan

f. Program promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat g. Program kebijakan dan manajemen pembangunan kesehatan.

Selanjutnya Jones (1991 : 35), menyebutkan apakah program efektif atau tidak, maka standar penilaian yang dapat dipakai adalah organisasi, interpretasi, penerapan. Ketiga standar penilaian tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Organisasi

Maksudnya disini bahwa organisasi Pelaksanaan program. Selanjutnya organisasi tersebut harus memiliki struktur organisasi, adanya sumber daya manusia yang berkualitas sebagai tenaga pelaksana dan perlengkapan atau alat–alat kerja serta didukung dengan perangkat hukum yang jelas. Struktur organisasi yang kompleks, struktur ditetapkan sejak semula dengan desain dari berbagai komponen atau subsistem yang ada tersebut.

Sumber daya manusia yang berkualitas berkaitan dengan kemampuan aparatur dalam melaksanakan tugas–tugasnya. Aparatur dalam hal ini petugas yang terlibat dalam pelaksanaan program. Tugas aparat pelaksana program yang utama adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat yang dipercayakan kepadanya untuk mencapai tujuan Negara.

2. Interpretasi

Maksudnya agar program dapat dilaksanakan sesuai dengan peraturan atau ketentuan yang berlaku, harus dilihat apakah pelaksanaannya telah sesuai dengan petunjuk teknis yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang.

a. Sesuai Dengan Peraturan

Sesuai dengan peraturan berarti setiap pelaksanaan kebijaksanaan harus sesuai dengan peraturan yang berlaku baik Peraturan Tingkat Pusat, Propinsi, Kabupaten.

b. Sesuai Dengan Petunjuk Pelaksana

Sesuai dengan petunjuk pelaksana berarti kebijaksanaan dari peraturan sudah dijabarkan cara pelaksanaannya pada kebijaksanaan yang bersifat administratif, sehingga memudahkan pelaksana dalam melakukan aktivitas pelaksanaan program.

c. Sesuai Petunjuk Teknis

Sesuai dengan petunjuk teknis berarti kebijaksanaan yang sudah dirumuskan dalam bentuk petunjuk pelaksana dirancang lagi secara teknis agar memudahkan dalam operasionalisasi program.

3. Penerapan

Maksudnya peraturan atau kebijakan berupa petunjuk pelaksana dan petunjuk teknis telah berjalan sesuai dengan ketentuan, untuk dapat melihat ini harus pula dilengkapi dengan adanya prosedur kerja yang jelas, program kerja serta jadwal kegiatan disiplin.

a. Prosedur Kerja yang Jelas

Prosedur kerja yang sudah ada harus memiliki prosedur kerja agar dalam pelaksanaannya tidak terjadi tumpang tindih, sehingga tidak bertentangan antara unit kegiatan yang terdapat didalamnya.

b. Program Kerja

Program kerja harus sudah terprogram dan terencana dengan baik, sehingga tujuan program dapat direalisasikan dengan efektif.

c. Jadwal Kegiatan Disiplin

Program yang sudah ada harus dijadwalkan kapan dimulai dan diakhiri suatu program agar mudah dalam mengadakan evaluasi.

Di dalam setiap program dijelaskan mengenai : 1. Tujuan akan dicapai

2. Kegiatan kegiatan yang harus diambil

3. Aturan–aturan yang harus ada dipegang dan prosedur yang harus dilalui 4. Perkiraan anggaran yang dibutuhkan

5. Strategi Pelaksanaan. (Manila, 1996 : 43)

Dengan program ini maka segala bentuk rencana akan lebih terorganisir dan lebih mudah dioperasionalkan.

Program merupakan unsur pertama yang harus ada demi tercapainya kegiatan implementasi. Sedangkan unsur kedua yang harus dipenuhi dalam proses implementasi yaitu adanya kelompok masyarakat yang menjadi sasaran program sehingga masyarakat tersebut akan menerima manfaat dari program yang dijalankan serta terjadinya perubahan dan peningkatan pada kehidupannya. tanpa memberikan manfaat kepada masyarakat maka boleh dikatakan program tersebut telah gagal dilaksanakan.

Berhasil atau tidaknya suatu program diimplementasikan tergantung pada unsur pelaksanaannya. Dan unsur pelaksanaan ini merupakan unsur ketiga

Kegagalan atau keberhasilan implementasi dapat dilihat dari kemampuannya secara nyata dalam mengoperasionalkan program–program agar terciptanya sesuai tujuan serta terpenuhinya misi program, diperlukan kemampuan yang tinggi pada organisasi–organisasi pelaksanaannya.

2.6 Konsep Tentang Kesejahteraan Sosial 2.6.1 Defenisi Kesejahteraan Sosial

Kesejahteraan Sosial dalam artian yang sangat luas mencakup berbagai tindakan yang dilakukan manusia untuk mencapai tingkat kehidupan masyarakat yang lebih baik.

Kesejahteraan kalau diartikan secara harfiah mengandung makna yang luas dan mencakup berbagai segi pandangan atau ukuran–ukuran tertentu tentang suatu hal yang menjadi ciri utama dari pengertian tersebut.

Kesejahteraan bermula dari kata sejahtera, berawalan kata ke dan berakhirnya kata an. Sejahtera berarti aman, sentosa, makmur atau selamat, artinya terlepas dari segala macam gangguan dan kesukaran. Istilah sosial berasal dari bahasa Latin; socius yang berarti kawan atau teman.

Kesejahteraan sosial didalam berbagai bentuk kegiatannya meliputi Kesejahteraan Sosial di dalam berbagai bentuk kegiatannya meliputi semua bentuk intervensi sosial, terutama ditujukan untuk meningkatkan kebahagian dan kesejahteraan individu, kelompok maupun masyarakat sebagai keseluruhan. Dapat pula mencakup upaya dan kegiatan–kegiatan yang secara langsung ditujukan untuk penyembuhan, pencegahan, masalah–masalah sosial misalnya masalah kemiskinan, penyakit serta pengembangan sumber–sumber manusia.

Kesejahteraan sosial dewasa ini lebih ditujukan guna mencapai produktivitas yang maksimum, setiap masyarakat perlu mengembangkan cara–cara meningkatkan kemampuan, melindungi masyarakat dari gangguan– gangguan dan masalah–masalah yang dapat mengurangi dan merusak kemampuannya yang telah dimiliki.

beberapa defenisi atau pengertian tentang kesejahteraan sosial dapat dikemukakan sebagai berikut :

Arthur Dunham, mengemukakan kesejahteraan sosial sebagai suatu bidang usaha manusia, dimana didalmnya terdapat berbagai macam badan dan usaha sosial yang tujuannya meningkatkan kesejahteraan dari segi sosial pada bidang–bidang kehidupan keluarga dan anak, kesehatan, penyesuaian sosial, waktu senggang, standar–standar kehidupan dan hubungan–hubungan sosial. Menurut Walter A. Friedlaner (1961)

“Kesejahteraan sosial adalah sistem yang terorganisasi dari pelayanan–pelayanan sosial dan lembaga-lembaga yang bertujuan untuk

membantu individu dan kelompok untuk mencapai standar hidup dan kesehatan yang memuaskan dan relasi–relasi pribadi dan sosial yang memungkinkan mereka mengembangkan kemampuannya sepenuh mungkin dan meningkatkan kesejahteraannya selaras dengan kebutuhan keluarga dan masyarakatnya”. (Nurdin, 1989 : 29)

Elizabeth Wickended, kesejahteraan sosial termasuk di dalamnya adalah peraturan perundangan, program, tunjangan dan pelayanan yang menjamin atau memperkuat pelayanan untuk memenuhi kebutuhan sosial yang mendasar dari masyarakat serta menjaga ketentraman dalam masyarakat.

Menurut UU No. 6 tahun 1974 tentang Ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial, Pasal 2 ayat 1 yang berbunyi:

“Kesejahteraan Sosial adalah Suatu tata kehidupan dan penghidupan sosial materil maupun sprituil yang diliputi oleh rasa keselamatan, kesusilaan, dan ketentraman lahir batin, yang memungkinkan bagi setiap warga

Negara untuk mengadakan usaha untuk pemenuhan kebutuhan–kebutuhan jasmaniah, rohaniah dan sosial yang sebaik–baiknya bagi diri, keluarga, serta masyarakat dengan menjunjung

tinggi hak–hak azasi serta kewajiban manusia sesuai dengan pancasila”. (Nurdin, 1989 : 30)

Defenisi diatas menjelaskan bahwa kesejahteraan sosial adalah sesuai dengan yang sebaik–baiknya yaitu pemenuhan kebutuhan manusia yang terdiri dari aspek jasmaniah dan rohaniah.

2.6.2 Ciri–ciri Kesejahteraan Sosial

Semua kegiatan dibidang kesejahteraan sosial mempunyai ciri–ciri tertentu yang membedakannya dengan kegiatan-kegiatan lain :

1. Organisasi Formal

Yaitu kegiatan dibidang kesejahteraan sosial terorganisir secara formal. Usaha tolong menolong baik yang didorong oleh tradisi dan keagamaan tidak termasuk dalam kegiatan yang terorganisasi.

2. Sumber Dana Sosial

Tanggung jawab sosial merupakan unsur pokok dari pelayanan kesejahteraan sosial. Bagi lembaga–lembaga pelayanan sosial pemerintah,

mekanisme harus mencerminkan keinginan pemerintah karena lembaga–lembaga tersebut merupakan perwakilan pemerintah.Yang paling

penting dalam tujuan program usaha kesejahteraan sosial adalah tidak mengejar keuntungan.

3. Untuk Kebutuhan Manusia Secara Fungsional

Tujuan kebutuhan Kesejahteraan Sosial itu harus memandang kebutuhan manusia secara menyeluruh.

2.6.3 Tujuan Kesejahteraan Sosial

Kesejahteraan Sosial sebagai sistem mempunyai tujuan, yaitu :

1. Untuk mencapai kehidupan yang sejahtera dalam arti tercapainya standar

kehidupan pokok, sandang, perumahan, pangan, kesehatan dan relasi–relasi yang baik dengan lingkungannya.

2. Untuk mencapai penyesuaian diri yang baik.

Leonard Schneiderman, berdasarkan rumusan atau pendapat PBB dan beberapa ahli bidang kesejahteraan sosial menguraikan tujuan–tujuan sistem kesejahteraan sosial :

a. System maintenance (Sistem Pemeliharaan)

Tujuan Kesejahteraan mencakup pemeliharaan dan menjaga kesinambungan atau kelangsungan keberadaan serta nilai–nilai sosial.

b. System control

Tujuannya adalah mengadakan kontrol secara efektif terhadap perilaku yang tidak sesuai atau menyimpang dari nilai-nilai sosial yang ada.

c. System change (Sistem Perubahan)

Tujuan sistem ini adalah mengadakan perubahan kearah berkembangnya suatu sistem yang lebih efektif bagi anggota masyarakat.

2.6.4 Fungsi Kesejahteraan Sosial 1. Fungsi Penyembuhan (curative)

Kesejahteraan sosial melaksanakan fungsi penyembuhan bila didalamnya tercakup sekumpulan kegiatan yang ditujukan untuk menghilangkan kondisi–kondisi, ketidakmampuan fisik, emosional, dan sosial agar orang yang mengalami masalah tersebut dapat berfungsi secara normal kembali di dalam masyarakat.

2. Fungsi Pencegahan (preventif)

Kesejahteraan sosial yang bersifat pencegahan ditujukan untuk memperkuat keluarga, kelompok–kelompok, dan kesatuan–kesatuan masyarakat agar jangan sampai timbul masalah–masalah sosial yang baru. 3. Fungsi Pengembangan (development)

Kegiatan kesejahteraan sosial yang bersifat pengembangan tujuan–tujuan dan orientasinya untuk memberikan sumbangan langsung bagi proses pembangunan.

4. Fungsi Penunjang (supportive)

Kesejahteraan sosial pada fungsi penunjang ini mencakup kegiatan–kegiatan untuk membantu mencapai tujuan–tujuan sektor lain.

2.7 Usaha Kesejahteraan Sosial

Perhatian masyarakat atas taraf kehidupan yang lebih baik dari warganya diwujudkan dengan penyediaan berbagai bentuk usaha kesejahteraan sosial yang konkret. Usaha kesejahteraan sosial mengacu pada program, pelayanan dan berbagai kegiatan yang secara konkret (nyata) berusaha menjawab kebutuhan ataupun masalah yang dihadapi anggota masyarakat. Usaha kesejahteraan sosial itu sendiri dapat diarahkan pada individu, keluarga, kelompok, ataupun komunitas. Berdasarkan hal diatas dapat dirasakan bahwa kesejahteraan sosial tidaklah bermakna bila tidak diterapkan dalam bentuk usaha kesejahteraan yang nyata yang menyangkut kesejahteraan masyarakat.

Usaha kesejahteraan sosial dibutuhkan karena pada berbagai Negara terdapat warga masyarakat yang mempunyai kebutuhan dan masalah diluar kemampuan mereka untuk mengatasinya.

Hal ini tentunya ditunjang dengan perkembangan di dunia, bahwa kesejahteraan sosial (dan juga usaha kesejahteraan sosial) telah diterima masyarakat industrial modern sebagai salah satu fungsi guna membantu masyarakat dalam mengatasi masalah mereka. Banyak masalah yang dihadapi warga masyarakat dewasa ini, bila ditelusuri, terkait dengan perubahan sosial yang secara cepat.

Ada berbagai alasan maupun motivasi yang melandasi penyediaan berbagai kesejahteraan sosial, tetapi secara umum, menurut Thelma Lee Mandoza, ada tiga tujuan utama yang terkait dengan kesejahteraan sosial (yang pada umumnya berhubungan pada upaya memperoleh sumber daya yang sangat terbatas):

1. Tujuan yang bersifat kemanusiaan dan keadilan sosial .

Tujuan kesejahteraan sosial ini berakar dari gagasan ideal demokratik mengenai keadilan sosial, dan hal ini berasal dari keyakinan bahwa setiap manusia mempunyai hak untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki. Meskipun potensi tersebut kadang–kadang tertutup karena adanya hambatan fisik, sosial, ekonomi psikis, dan berbagai faktor lainnya yang menghambat dirinya untuk mengenali potensi yang mereka miliki.

2. Tujuan yang terkait dengan pengendalian sosial .

Tujuan ini berdasarkan pemahaman bahwa kelompok yang tidak diuntungkan, kekurangan ataupun tidak dipenuhi kebutuhannya dapat melakukan serangan (baik secara individu maupun kelompok) terhadap masyarakat (terutama yang sudah mapan). Oleh karena itu masyarakat tersebut harus berupaya mengamankan diri dari sesuatu yang dapat mengancam kehidupan.

3. Tujuan yang terkait dengan pembangunan ekonomi.

Tujuan pembangunan ekonomi memprioritaskan pada program–program yang dirancang untuk meningkatkan produksi barang dan pelayanan yang dapat diberikan, ataupun berbagai sumber daya lain yang dapat memberikan sumbangan terhadap pembangunan ekonomi.

2.8 Pengertian Pelayanan Kesejahteraan Sosial

Pelayanan kesejahteraan sosial merupakan pelayanan yang memungkinkan untuk memberikan kesempatan pada orang–orang dari golongan yang tidak dapat memanfaatkan adanya pelayanan sosial seperti pendidikan, kesehatan, perumahan, dan sebagainya. Pelayanan kesejahteraan sosial dapat bersifat pengobatan, penyembuhan, perbaikan, perlindungan, pencegahan, peningkatan dan pengembangan (Suparlan, 1983 : 92).

Pelayanan kesejahteraan sosial adalah usaha kesejahteraan sosial yang mengarah pada terciptanya kondisis sosial sasaran agar memiliki kembali rasa diri sehingga mampu menjalankan fungsi sosialnya dalam kehidupan masyarakat melalui usaha–usaha kesejahteraan sosial.

2.9 Pengertian Kecamatan

Pada UU Nomor 5 Tahun 1947, kecamatan merupakan wilayah administratif pemerintah dalam rangka dekonsentrasi yakni lingkungan kerja perangkat pemerintah yang menyelenggarakan pelaksanaan tugas pemerintahan umum di Daerah.

Sedangkan pada UU Nomor 32 Tahun 2004, kecamatan merupakan wilayah kerja Camat sebagai perangkat daerah kota. Artinya, apabila dulu kecamatan merupakan salah satu wilayah administrasi pemerintahan, selain

Nasional, Propinsi, Kabupaten/Kotamadya, dan kota Administratif. Pada undang-undang yang baru, kecamatan bukan lagi wilayah administratif

pemerintahan melainkan wilayah kerja dari perangkat daerah. Dengan perkataan lain dapat dikemukakan apabila dahulu kecamatan merupakan

wilayah kekuasaan, maka pada masa sekarang kecamatan adalah wilayah pelayanan.

2.10 Uraian tentang program kerja Kesejahteraan Sosial oleh Pemerintah Kecamatan Medan Selayang

2.10.1 Program Beras untuk Keluarga Miskin (Raskin)

Berdasarkan Surat Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Direktur Utama perum Bulog Pasal I ayat 1 bahwa, Program Beras Miskin merupakan program pemerintah dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan dan memberikan perlindungan kepada keluarga miskin melalui pendistribusian beras dalam jumlah dan harga tertentu.

Sedangkan Sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan nomor 117/PMK.02/2007 tentang Anggaran Biaya dan Pendapatan Perusahaan Umum Bulog dalam rangka Penugasan Pemerintah untuk Melaksanakan Pengelolaan Persediaan, Distribusi dan Pengendalian Harga Beras Tahun 2007 pada pasal 11 ayat 1 menyatakan bahwa, Pemerintah melalui perusahaan Umum Bulog menyelenggarakan program Raskin untuk memberikan perlindungan kepada rumah tangga miskin melalui bantuan beras bersubsidi guna memenuhi kebutuhan gizi dan mengurangi beban pengeluaran keluarga. Dimana pada ayat 2 Progarm Raskin sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dilakukan melalui pendistribusian beras paling banyak 10 Kg Per Kepala Rumah Tangga Miskin per bulan dengan harga jual Rp. 1.000,00 per Kg netto dititik distribusi.

2.10.2 Program Asuransi Kesehatan Keluarga Miskin (Askeskin)

Pada awal tahun 2005 pemerintah melalui SK Menteri Kesehatan No.1241/MENKES/SK/XI/2004 telah menjalankan program Jaminan Kesehatan Masyarakat Miskin atau yang sekarang dikenal dengan Asuransi Kesehatan Keluarga Miskin (Akeskin). Askeskin merupakan Program pelayanan Kesehatan gratis untuk masyarakat miskin, mulai dari pelayanan tingkat pertama di Puskesmas dan jaringannya, sampai pada pelayanan tingkat lanjutan dan pelayanan canggih di seluruh Rumah Sakit Pemerintah dan rumah Sakit Swasta yang ditunjuk.

Berdasarkan Undang–undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan didukung Keputusan Menkes No 1241 Tahun 2004, Pemerintah menunjuk PT. Askes untuk mengelola program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan bagi Masyarakat Miskin dan pada Undang–undang tersebut pada pasal 14 ayat 1 menyatakan bahwa, Pemerintah secara bertahap wajib mendaftarkan dirinya dan pekerjanya sebagai peserta kepada Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial, sesuai dengan jaminan sosial yang diikuti dan pada ayat 2 bahwa, penerima bantuan iuran sebagimana dimaksud pada ayat 1 adalah fakir miskin dan orang tidak mampu. Dimana tujuan dari pada Sistem Jaminan Sosil Nasional ini dicantumkan pada pasal 3 yaitu untuk memberikan jaminan terpenuhinya kebutuhan dasar hidup yang layak bagi setiap peserta dan/atau anggota keluarganya. Sedangkan iuran program Jaminan Sosial bagi fakir miskin dan orang tidak mampu dibayar oleh pemerintah dan ini sesuai dengan pasal 17 ayat 4 Undang-undang Nomor 40 tahun 2004.

2.10.3 Pelayanan bagi Penderita HIV/AIDS

HIV adalah Virus Penyebab AIDS Virus tersebut menyerang sistem kekebalan tubuh, sehingga menyebabkan orang yang terinfeksi HIV menjadi sangat rentan terhadap berbagai macam penyakit yang mengancamnya hidupnya.

Dalam hal Pelayanan bagi Penderita HIV/AIDS ini, pemerintah kecamatan Medan Selayang bekerjasama dengan Komisi Penanggulangan AIDS Kota Medan.

2.10.4 Penanggulangan terhadap korban penyalahgunaan NARKOBA (Narkotika, psikotropika, Zat Adiktif)

Narkotika merupakan zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis, maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan

Dokumen terkait