• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Kesimpulan. B. Saran

BAB II

KAJIAN PUSTAKA A. Pengertian Pernikahan

Kamus Besar bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mengartikan kata “nikah” sebagai (1) perjanjian antara laki-laki dan perempuan untuk bersuami isteri(dengan resmi); (2) perkawinan.(Depdikbud,1989:614). Al-Quran mengunakan kata ini untuk makna tersebut, disamping secara majazi diartikanya dengan hubungan seks. Kata ini dalam berbagai bentuknya ditemukan sebanyak 23 kali. Secara bahasa pada mulanya kata nikah digunakan dalam arti”berhimpun”(shihab,1999:191).

Pernikahan merupakan ketetapan Ilahi atas segala makhluk. Hal ini dijelaskan oleh Allah dengan firmanya:

` ÏBur È e@à2 >äóÓx« $oYø) n=yz È û÷üy` ÷ry— ÷/ä3 ª=yès9 tb r ㍩. x‹ s? ÇÍÒÈ

Artinya,”dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah”.(QS AL-Dzariyat (51):49)

z` »ys ö6ß™ “ Ï%©!$# t, n=y{ yl ºurø—F{ $# $yg¯=à2 $£J ÏB àM Î7/Yè? Þ Ú ö‘F{ $# ô` ÏBur óOÎgÅ¡ àÿRr& $£J ÏBur Ÿ w tb qßJ n=ôètƒ ÇÌÏÈ

Artinya,”Maha suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui”.

Demikian juga para ahli fiqih menjelaskan arti kata nikah atau zawaj

“akad” (ﺪﻘﻋ). Dalam arti terminologis dalam kitab-kitab fiqih banyak diartikan dengan: akad atau perjanjian yang mengandung maksud membolehkan hubungan kelamin dengan mengunakan lafaz na-ka-ha atau za-wa-ja.

Para ahli fiqih biasa mengunakan rumusan definisi sebagaimana tersebut di atas dengan penjelasan sebagai berikut:

a. Pengunaan lafaz akad ( ﺪﻜﻋ ) Untuk menjelaskan bahwa perkawinan itu adalah suatu perjanjian yang dibuat oleh orang-orang atau pihak-pihak yang terlibat dalam perkawinan. Perkawinan dibuat dalam bentuk akad karena ia adalah peristiwa hukum, bukan peristiwa biologis atau semata hubungan kelamin antara laki-laki dan perempuan.

b. Pengunaan ungkapan yang bermaksud membolehkan hubungan kelamin, karena pada dasarnya hubungan laki-laki dengan perempuan adalah terlarang, kecuali ada hal-hal membolehkanya secara hukum syara’. Di antara hal yang membolehkan hubungan kelamin adalah akad nikah di antara keduanya. Dengan demikian akad itu adalah suatu usaha untuk membolehkan sesuatu yang asalnya tidak boleh itu.

c. Mengunakan kata lafaz na-ka-ha atau za-wa-ja mengandung maksud bahwa akad yang membolehkan hubungan kelamin antara laki-laki dan perempuan mesti dengan mengunakan kata na-ka-ha atau za-wa-ja oleh karena dalam awal islam disamping akad nikah itu adalah usaha yang membolehkan hubungan laki-laki atas seorang perempuan atau disebut juga perbudakan. Bolehnya hubungan kelamin dalam dalam bentuk ini

tidak disebut perkawinan atau nikah, tetapi mengunakan kata”

tasarri”.(Syarifuddin,2003:75)

Perlu dicatat, bahwa walaupun Al-Quran menegaskan bahwa kawin atau berpasangan merupakan ketetapan ilahi bagi mahkluk-Nya, dan walaupun Rosullulah SAW menegaskan bahwa nikah adalah sunahnya, tetapi dalam saat yang sama Al-Quran dan sunnah menetapkan ketentuan-ketentuan yang harus diindahkan lebih-lebih karena masyarakat yang ditemuinya melakukan praktik-praktik yang amat berbahaya serta melanggar nilai-nilai kemanusiaan, seperti misalnya mewarisi secara paksa isteri mendiang ayah (ibu tiri) (QS Al-nisa’[4]: 19). Bahkan menurut Al-Qurthubi ketika larangan diatas turun, masih ada yang mengawini mereka atas dasar suka sama suka sampai dengan turunnya surat Al-Nisa’[4]:22 yang secara tegas menyatakan:

Ÿ w ur (#qßs Å3 Zs? $tB yx s3 tR Nà2 ät!$t/#uä šÆ ÏiB Ïä!$|¡ ÏiY9$# žw Î) $tB ô‰s% y# n=y™ 4 ¼çm¯RÎ) tb $Ÿ2 Z pt± Ås »sù $\Fø) tBur uä!$y™ur ¸x ‹Î6y™ ÇËËÈ

“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita yang telah dinikahi oleh ayahmu, tetapi apa yang telah lalu(dimaafkan oleh allah)”.

Imam bukhori meriwayatkan melelui isteri nabi, aisyah bahwa pada masa jahiliyah, dikenal empat macam pernikahan, pertama, pernikahan sebagaimana berlaku kini, dimulai dengan pinangan terhadap orang tua atau wali, membayar mahar dan menikah. Kedua, adalah seorang suami memerintahkan kepada isterinya apabila telah suci dari haid untuk menikah ( hubungan seks) dengan seseorang, dan apabila ia telah hamil maka ia kembali

untuk digauli oleh suaminya, ini dilakukan guna mendapat keturunan yang baik. Ketiga, sekelompok lelaki kurang dari sepuluh orang, kesemuanya mengauli seorang wanita, dan bila ia hamil kemudian melahirkan, ia memangil seluruh anggota kelompok tersebut kemudian ia menunjuk salah seorang yang dikehendakinya untuk dinisbahkan kepadanya nama anak itu, dan yang bersangkutan tidak boleh mengelak. Keempat, hubungan seks yang dilakukan oleh wanita tunasusila, yang memasang bendera atau tanda di pintu-pintu kediaman mereka dan bercampur dengan siapapun yang suka kepadanya. Kemudian islam datang melarang cara perkawinan tersebut kecuali cara pertama(shihab,1999:193)

Adapun Undang-undang perkawinan yang berlaku di Indonesia merumuskanya, bahwa Pernikahan merupakan ikatan lahir dan batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan untuk membentuk keluarga (rumah tangga) bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (pasal 1 UU Nomor 1 tahun 1974).

Digunakanya kata”seorang pria dengan seorang wanita” mengandung arti bahwa perkawinan itu hanyalah antara jenis kelamin yang berbeda. Hal ini menolak perkawinan sesama jenis yang waktu ini telah dilegalkan oleh beberapa Negara barat. Digunakanya ungkapan sebagai suami isteri mengandung arti bahwa perkawinan itu adalah bertemunya dua jenis kelamin yang berbeda dalam suatu rumah tangga, bukan hanya hidup bersama. Kemudian disebutkanya berdasar ketuhanan Yang Maha Esa menunjukan

bahwa perkawinan itu bagi islam adalah peristiwa agama dan dilakukan untuk memenuhi perintah agama.

Dalam aturan pernikahan nasional Indonesia ditegaskan bahwa hubungan pernikahan bukan hanya sebatas hubungan keperdataan yamg bertujuan kenikmatan duniawi semata, melainkan dimaknai juga sebagai hubungan yang bersifat suci. Dalam pasal 2 ayat (1) UU Nomor 1 tahun 1974, semakin nyata bahwa pernikahan dalam aturan nasional tidak terlepas dari agama dan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat karena dikatakan”Pernikahan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaanya itu”.

Pelaksanan pernikahan di Indonesia bukan hanya didasarkan atas prinsip saling menyukai, tetapi ada syarat-syarat materiil dan formil pernikahan yang harus dipenuhi oleh masing-masing calon mempelai. Jika syarat tersebut tidak dipenuhi maka secara legal pernikahan tidak dapat dilaksanakan. Syarat materiil pernikahan secara umum diambil dari aturan-aturan agama yang ada di Indonesia, Islam sebagai agama mayoritas tentu memiliki andil besar dalam mempengaruhi penentuan syarat materiil pernikahan dalam hukum nasional Indonesia, seperti aturan tentang larangan pernikahan,masa tunggu bagi wanita yang bercerai, pembebanan nafkah keluarga, dan lain sebagainya. Sebagai konsekuensi syarat materiil, sehubungan dengan pasal 2 ayat (1) Undang-undang Nomor 1 tahun 1974, jika sebuah pernikahan tidak memenuhi syarat materiil yang telah mendapat

penegasan dalam undang-undang, maka terhadap pernikahan tersebut dapat dilakukan pencegahan atau dibatalkan jika telah terlaksana.

Dalam Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 selain menentukan syarat materiil juga mengatur syarat formil pernikahan dengan tujuan untuk mewujudkan tertib pernikahan di Indonesia. Dalam pasal 2 ayat(2) Undang-undang tersebut dijelaskan bahwa “tiap-tiap pernikahan dicatat menurut perundang-undangan yang berlaku”.

Dalam memaknai syarat materil dan formiil pernikahan di Indonesia selama ini masih terjadi ambiguitas, dalam artian apakah syarat formil hanya sebatas berkaitan dengan administrasi pernikahan ataukah mempengaruhi syarat materiil. Secara ideal, agar tujuan Negara dalam mewujudkan tertib administrasi pernikahan terwujud, pencatatan pernikahan semestinya dikukuhkan bukan hanya pada tataran administrasi tetapi diintegrasikan menjadi syarat materil pernikahan. Sehingga pernikahan di anggap sah bukan hanya sebatas memenuhi rukun dan syarat pernikahan yang ditentukan oleh agama dan kepercayaan masing-masing, tetapi pernikahan dikatakan sah jika dicatatkan pada instansi yang berwenang.

Pandangan pertama menentang ide tersebut, karena dalam agama Islam pencatatan pernikahan bukan merupakan rukun nikah. Dalam Islam yang dikategorikan rukun nikah adalah: ijab dan qobul, wali, 2 orag saksi dan kedua mempelai sebagaimana disebut dalam pasal 14 Inpres Nomor 1 tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam. Sehingga menurut pandangan yang

pertama ini disebuah Negara yang menjamin penduduknya secara bebas untuk menjalankan ajaran agama dan kepercayaanya (pasai 29 ayat 2 UUD tahun 1945) tidak dibenarkan untuk memaksakan sebuah ajaran agama tunduk terhadap aturan hukum nasional. Negara harus menjamin kesucian sebuah agama dan tidak mencampurinya dengan hal-hal lain diluar aturan agama tersebut.

Pandangan kedua berpendapat bahwa ide pengintegrasian syarat formil atau administrasi pernikahan menjadi syarat materiil tidak bertentangan dengan agama. Agama Islam mengajarkan tentang kewajiban bagi setiap Negara mentaati pemimpin mereka, selama ketaatan tersebut bukan untuk sesuatu perbuatan keingkaran kepada Allah SWT, pencatatan pernikahan bertujuan untuk kemaslahatan bagi warga negaranya. Karena saat ini pada sebagian masyarakat telah mulai kehilangan nilai sakral pernikahan. Sebagai imbas dari kondisi sosial tersebut sering terjadi perbuatan yang tidak bertangung jawab dari satu pihak yang terikat dalam sebuah pernikahan, terjadi perceraian tanpa kontrol, poligami yang serampangan, kekerasan dalam rumah tangga, anak yang ditelantarkan oleh orang tuanya, dan banyak kejadian sosial lain yang membuktikan kondisi penyimpangan sosial tersebut.

B. Poligami ÷b Î)ur ÷LäêøÿÅz žw r& (#qäÜÅ¡ ø) è? ’ Îû 4‘ uK»tGu‹ø9$# (#qßs Å3 R$$sù $tB z> $sÛ Nä3 s9 z` ÏiB Ïä!$|¡ ÏiY9$# 4Óo_÷WtB y] »n=èOur yì »t/â‘ur ( ÷b Î*sù óOçFøÿÅz žw r& (#qä9ω÷ès? ¸oy‰Ïn ºuqsù ÷rr& $tB ôM s3 n=tB öNä3 ãY»yJ ÷ƒr& 4 y7 Ï9ºsŒ #’oT÷Šr& žw r& (#qä9qãès? ÇÌÈ

Artinya; “dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”.

Ayat ini dapat menjadi dasar bolehnya poligami, sayang ayat ini sering disalah pahami. Ayat ini turun sebagaimana diuraikan oleh Aisyah r.a menyangkut sikap sementara orang yang ingin mengawini anak-anak yatim yang kaya lagi cantik, dan berada dalam pemeliharaanya, tetapi tidak ingin memberikan mas kawin yang sesuai serta tidak memperlakukanya secara adil. Ayat ini melarang hal tersebut, dengan satu kalimat susunan yang sangat tegas. Penyebutan dua, tiga atau empat pada hakekatnya adalah dalam rangka tuntutan berlaku adil kepada mereka. Redaksiayat ini mirip dengan ucapan seorang yang melarang orang lain memakan makanan tertentu, dan untuk menguatkan larangan itu dikatakanya, “ Jika anda khawatir akan sakit bila makan makanan ini, maka habiskan saja makanan selainya yang ada dihadapan anda selama anda tidak khawatir sakit”. Tentu saja perintah menghabiskan makanan yang lain menekankan larangan memakan makanan tertentu itu.

Perlu juga digaris bawahi bahwa ayat ini, tidak membuat satu peraturan tentang poligami, karena poligami telah dikenal dan telah dilaksanakan oleh syariat agama dan adat istiadat sebelum ini. Ayat ini juga tidak mewajibkan poligami atau menganjurkanya, dia hanya berbicara tentang bolehnya poligami, dan itupun merupakan pintu darurat kecil, yang hanya dilalui saat amat diperlukan dan dengan syarat yang tidak ringan(Shihab, 1999:200).

Dalam ayat 129 surat an-Nisa Allah berfirman:

` s9ur (#þqãè‹ÏÜtFó¡ n@ b r& (#qä9ω÷ès? tû÷üt/ Ïä!$|¡ ÏiY9$# öqs9ur öNçFô¹ tym ( Ÿ x sù (#qè=ŠÏJ s? ¨@à2 È @øŠyJ ø9$# $yd r â‘x‹ tGsù Ïps)¯=yèßJ ø9$$x. 4 b Î)ur (#qßs Î=óÁ è? (#qà)­Gs?ur   c Î*sù © ! $# tb %x. #Y‘ qàÿxî $VJ ŠÏm§‘ ÇÊËÒÈ

Artinya: “dan kamu sekali-kali tidak akan dapat Berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. dan jika kamu Mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Kedua ayat tersebut diatas menunjukan bahwa asas perkawinan dalam Islam adalah monogami. Kebolehan poligami, apabila syarat-syarat yang dapat menjamin keadilan suami kepada isteri-isteri terpenuhi. Dan syarat keadilan ini, menurut isyarat ayat 129 di atas, terutama dalam hal membagi cinta yang sulit dilakukan. Namun demikian, hukum Islam tidak menutup rapat-rapat pintu kemungkinan untuk berpoligami, sepanjang persyaratan keadilan di antara isteri dapat dipenuhi dengan baik(Rofiq,1998:170).

Dalam undang-undang perkawinan pada prinsipnya juga menganut asas monogami, dimana pada saat yang bersamaan atau dalam satu perkawinan seorang pria hanya dapat mempunyai seorang wanita sebagai isterinya. Sebaliknya seorang wanita hanya boleh mempunyai seorang pria sebagai suaminya. Begitu pula dengan yang ada dalam KUHPerdata hanya saja ketentuan dalam KUHPerdata merupakan ketentuan yang mutlak. Tidak seperti yang terdapat dalam Undang-undang perkawinan, yang mana poligami diperbolehkan dengan alasan dan syarat tertent, pasal 3 undang-undang perkawinan menentukan:

1) Pada asasnya dalam suatu perkawinan seorang pria hanya boleh mempunyai seorang isteri. Seorang wanita hanya boleh mempunyai seorang suami.

2) Pengadilan dapat member ijin kepada seorang suami untuk beristeri lebih dari seorang apabila dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan.

Selanjutnya pasal 4 Undang-undang perkawinan menentukan:

1) Dalam hal seorang suami akan beristeri lebih dari seorang, sebagaimana tersebut dalam pasal 3 ayat (2) Undang-undang ini, maka ia wajib mengajukan permohonan kepada Pengadilan di daerah tempat tinggalnya.

2) Pengadilan dimaksud dalam ayat (1) pasal ini hanya memberikan ijin kepada seorang suami yang akan beristeri lebih dari seorang apabila:

a. Isteri tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai isteri;

b. Isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan;

c. Isteri tidak dapat melahirkan keturunan;

Pasal 5 Undang-undang perkawinan memuat aturan bahwa:

1) Untuk dapat mengajukan permohonan kepada Pengadilan sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (1) Undang-undang ini harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

a. Adanya persetujuan dari isteri/isteri-isteri;

b. Adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan-keperluan hidup isteri-isteri dan anak-anak mereka;

c. Adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap isteri-isteri dan anak-anak mereka.

Persejutuan dalam ayat (1) huruf a pasal ini tidak diperlukan bagi seorang suami apabila isteri/isteri-isterinya tidak mungkin dimintai persetujuannya dan tidak dapat menjadi pihak dalam perjanjian, atau apabila tidak ada kabar dari isterinya selama sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun, atau karena sebab-sebab lainya yang perlu mendapat penilaian dari Hakim Pengadilan.

Membaca ketentuan tersebut, maka dapat diambil kesimpulan bahwa jika dalam keadaan tertentu seperti isteri mandul, cacat atau sakit yang tidak

dapat disembuhkan dan tidak mampu melaksanakan kewajibanya sebagai isteri, maka suami dapat meminta ijin kepada isteri untuk menikah lagi.

C. Nikah Sirri.

Tim redaksi Tanwirul afkar menulis bahwa menurut yahya bin yahya (ulama malikiyah), nikah sirri adalah nikah yang dipersaksikan oleh dua orang saksi sebelum digauli (dukhul). Kemudian Tim redaksi tersebut juga mengutip pendapat Wahbah az-Zuhaili yang menyatakan nikah sirri adalah suami berpesan kepada saksi agar nikahnya tidak diberitahukan kepada isterinya atau orang lain, walaupun keluarga sendiri.

Dari sini sebenarnya yang dimaksud nikah sirri adalah pernikahan yang disembunyikan dari pengetahuan khayalak ramai. Paling banter yang mengetahui pernikahan itu hanya empat pihak: suami, wali, saksi dan isteri. Orang lain tidak tahu karena memang disembunyikan. Sehingga sebuah pernikahan yang diketahui oleh lebih dari empat pihak tersebut, meskipun tidak dicatat oleh petugas pencatat nikah, tidak bisa dikatakan nikah sirri dalam terminologi fiqih.

Selanjutnya ulama berselisih dalam memandang sah tidaknya nikah sirri dalam pengertian fiqih tersebut. Menurut Malikiyah tidak sah, menurut hanafiyah dan syafi’iyah sah, sedang menurut ulama hanabiyah nikah sirri tersebut makruh.

Dalam konteks Indonesia, nikah sirri yang dipahami selama ini tidak sama dengan nikah sirri yang dimaksud oleh fiqih. Karena kebanyakan

orang melihat bahwa nikah sirri itu adalah nikah yang tidak dicatatkan meskipun telah memenuhi syarat dan rukun nikah, serta diketahui banyak orang. Dan nikah seperti ini dalam hukum islam adalah sah. Sehingga sebagai akibatnya, segala hal yang diperkenankan oleh adanya akad nikah yang sah, boleh dilakukan oleh suami isteri. Tetapi bagaimanapun aturan undang-undang nasional perlu diperhatikan.

Berdasarkan ketentuan perundang-undangan dalam Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan, pada pasal 2 ayat (2) jo pasal 3, 34, 36 Undang-undang Nomor 23 tahun 2006 tentang Administrasi kependudukan, maka sewajibnyalah para pihak yang melangsungkan perkawinan diantara mereka melakukan pencatatan. Pencatatan atas perkawinan yang dilakukan tersebut, dibuktikan dengan memperoleh kutipan akta perkawinan sebagai bukti yang dapat dipercaya dari suatu perkawinan. Mereka yang tidak memiliki kutipan akta perkawinan karena perkawinanya hanya memenuhi ketentuan agama dan tidak memenuhi aturan Negara yang termuat dalam undang-undang maupun dalam peraturan pelaksanaanya tersebut pada umumnya dikenal dengan nikah sirri.

Faktor yang menjadi penyebab terjadinya pernikahan sirri antara lain adalah sebagai berikut:

b. Ketidaktahuan hokum para pihak yang melakukan perkawinan sirri dalah suami atau isteri atau salah satu dari keduanya tidak tau akan status dan akibat hukum dari perkawinan sirri yang mereka lakukan. c. Lemahnya sanksi hukum terhadap pihak yang melakukan nikah sirri. d. Kurang biaya bagi seorang untuk melangsungkan perkawinan dan

mencatatkan secara resmi di KUA.

Selain alasan tersebut di atas, pernikahan sirri sering digunakan sebagai penyenlundupan hukum, untuk melegalkan adanya poligami bagi mereka yang sebenarnya tidak memenuhi aturan yang diisyaratkan undang-undang.

Sebenarnya perkawinan demikian membawa akibat yang tidak baik bagi isteri dan anak, dan pihak yang banyak dirugikan dalam perkawinan sirri adalah anak. Apabila perkawinan orangtuanya putus maka anak luar kawin tidak dapat menuntut haknya sebagai anak, menuntut kasih sayang, pendidikan, nafkah dari seorang ayah, karena anak luar kawin tersebut tidak mempunyai alat bukti bahwa laki-laki tersebut adalah ayahnya.

Mengenai hubungan antara kedua orang tua dan anak akibat dari perkawinan sirri dapat diuraikan sebagai berikut:

a) Anak-anak yang dilahirkan tersebut adalah anak luar kawin.

b) Di dalam akta kelahiran anak hanya tercantum nama ibunya saja, sedangkan nama ayahnya tidak tercantum karena tidak memiliki akta

pernikahan yang membuktikan bahwa anak tersebut anak sah dari hasil perkawinan antara kedua orangtuanya.

c) Karena anaknya adalah anak luar kawin maka hubungan hokum yang ada antara ibu dan keluarga ibu saja.

d) Anak-anak perkawinan sirri tidak berhak mewaris bapaknya, kecuali bapaknya member wasiat atau hibah atas nama luar kawin tersebut. D. Kedudukan Anak dalam Kompilasi Hukum Islam

1. Anak Sah.

Dalam Kompilasi Hukum Islam dijelaskan tentang kriteria anak sah (anak yang dilahirkan dalam ikatan pernikahan yang sah), sebagaimana tercantum dalam pasal 99 Kompilasi Hukum Islam yang berbunyi bahwa anak sah adalah:

a. Anak yang dilahirkan akibat pernikahan yang sah.

b. Hasil pembuahan suami isteri yang diluar rahim dan dilahirkan oleh isteri tersebut.

Ada tiga hal yang dapat menetapkan keabsahan seorang anak dari bapaknya menurut syari’at Islam, Yaitu:

1. Hubungan suami isteri yang terjadi dalam perkawinan yang sah. 2. Pengakuan (Ikrar)

3. Pembuktian(Bayyinah)(Darajat,1995:131)

Bila suami istri telah melakukan hubungan sebagai suami istri kemudian dari hubungan tersebut istri hamil, kemudian melahirkan anak, maka anak yang lahir itu adalah anak yang sah yang bapak dan ibu dari anak tersebut dapat diketahui dengan pasti sesuai ketentuan agama. Keabsahan anak yang demikian tidak memerlukan pengakuan (ikrar) dari pihak suami atau isteri dan tidak memerlukan pembuktian keabsahan anak, berdasar hadist.

“Rosullulah SAW bersabda : Anak itu milik yang mempunyai tikar(suami) dan bagi pezina(dikenai) hukum rajam”.

Maksud hadist di atas ialah anak itu milik suami ibunya, sedang bagi pezina adalah hukuman rajam dan anak yang lahir dari hasil perzinaan tidak mempunyai bapak.

Ketetapan sahnya anak yang dilahirkan isteri dari suaminya diperlukan syarat-syarat berikut,(Darajat,1995:132) yaitu:

1) Ketetapan kehamilan isteri

Ada beberapa keadaan yang menyebabkan anak yang dilahirkan isteri tidak dapat disebut sebagai suami, yaitu:

a) Suami belum baligh belum mempunyai sperma, sehingga jika ia melakukan perkawinan, kemudian isterinya hamil, maka anak yang lahir tidak dapat dibangsakan kepada anak suaminya.

b) Suami isteri mempunyai tempat tinggal yang berjauhan sedemikian rupa sehingga tidak memungkinkan melakukan hubungan suami isteri. Mereka tidak berhubungan suami isteri lebih dari dua tahun, kemudian

isteri hamil maka anak yang lahir tidak bisa dibangsakan kepada bapaknya.

2) Masa kehamilan

a) Batas minimal kehamilan

Seluruh madzhab fiqih sepakat bahwa batas minimal kehamilan adalah enam bulan”(Mughniyah,1994:99). Allah berfiman :

$uZøŠ¢¹ urur z` »|¡ SM} $# Ïm÷ƒy‰Ï9ºuqÎ/ $·Z»|¡ ômÎ) ( çm÷Fn=uHxq ¼çm•Bé& $\d öä. çm÷Gyè|Ê urur $\d öä. ( ¼çmè=÷Hxq ur ¼çmè=»|Á Ïùur tb qèW»n=rO öky­ 4

Artinya: “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan”(Q.S Al Ahqof:15)

Dan firman Allah SWT:

$uZøŠ¢¹ urur z` »|¡ SM} $# Ïm÷ƒy‰Ï9ºuqÎ/ çm÷Fn=uHxq ¼çm•Bé& $·Z÷dur 4’n?tã 9` ÷dur ¼çmè=»|Á Ïùur ’ Îû È û÷ütB%tæ È b r& ö à6 ô©$# ’ Í< y7 ÷ƒy‰Ï9ºuqÎ9ur ¥’n<Î) 玍ÅÁ yJ ø9$#

Artinya: “dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik)

Dokumen terkait