Berisi tentang kesimpulan penelitian serta implikasi keterbatasan penelitian.
Untuk mengatasi keterbasan penelitian tersebut, disertakan pula saran bagi
8 BAB II
LANDASAN TEORI
A. Teori Stakeholder
Stakeholder theory mengatakan bahwa perusahaan bukanlah entitas yang hanya berorientasi untuk kepentingannya sendiri namun harus memberikan manfaat
bagi stakeholdernya (pemegang saham, kreditur, konsumen, supplier, pemerintah, masyarakat, analis, dan pihak lain), dengan demikian keberadaan suatu perusahaan
sangat dipengaruhi oleh dukungan yang diberikan oleh stakeholder kepada perusahaan tersebut, Tamba (2011).
Stakeholder pada dasarnya dapat mengendalikan atau memiliki kemampuan untuk mempengaruhi pemakaian sumber-sumber ekonomi yang digunakan oleh
perusahaan. Oleh karena itu, ketika stakeholder mengendalikan sumber ekonomi yang penting bagi perusahaan, maka perusahaan akan bereaksi dengan cara-cara yang
memuaskan keinginan stakeholder, Anis (2007) dalam Tamba (2011).
Stakeholder theory umumnya berkaitan dengan cara-cara yang digunakaan perusahaan untuk mengelola stakeholdernya. Cara-cara tersebut tergantung pada strategi yang diadopsi oleh perusahaan.
Model perencanaan perusahaan dan kebijakan bisnis fokus pada
perkembangan dan penentuan nilai strategi perusahaan yang dibuat oleh kelompok
yang mendukung serta menghendaki perusahaan terus berlangsung. Model corporate social responsibility (CSR) dari stakeholder melanjutkan model perencanaan
9
perusahaan yang meliputi pengaruh eksternal dalam perusahaan atau kelompok
khusus yang fokus pada isu-isu sosial. Model CSR mengikuti perubahan permintaan
sosial dari kelompok non-tradisional. Ulman (1985) dalam Tamba (2011),
menyimpulkan bahwa teori stakeholder menyediakan aturan yang tidak sah dalam pembuatan keputusan strategi perusahaan yang mempelajari dari aktivitas CSR. Hasil
dari penelitain Roberts (1992) dalam Tamba (2011) yang menggunakan teori
stakeholder yaitu stakeholder power, strategic posture, dan kinerja ekonomi berhubungan dengan pengungkapan CSR. Hal ini mengidentifikasikan bahwa tingkah
laku investor sebagai salah satu penggunaan laporan keuangan yang dapat mempengaruhi CSR. Sebaliknya investor dalam melakukan investasi dapat menggunakan CSR sebagai pertimbangan selain menggunakan laba.
B. Teori Legitimacy
Salah satu faktor yang dimasukkan oleh banyak peneliti sebagai motif dibalik
pengungkapan informasi sosial dan lingkungan adalah keinginan untuk melegitimasi
operasi organsasi, Deegan (2002) dalam Tamba, (2011), yang dimaksud dengan
operasi organisasi dalam penelitian ini adalah operasi perusahaan dengan kepemilikan
institusi dan kepemilikan asing. Kedudukan perusahaan sebagai bagian dari
masyarakat ditunjukkan dengan operasi perusahaan yang seringkali mempengaruhi
masyarakat sekitarnya. Eksistensinya dapat diterima sebagai anggota masyarakat,
10
diri dengan norma yang berlaku dalam masyarakat tersebut atau bahkan merugikan
anggota komunitas tersebut, Ririn (2009) dalam Tamba (2011).
Ghozali dan Chariri (2007) dalam Tamba (2011), menjelaskan bahwa teori
legitimasi sangat bermanfaat dalam menganalisis perilaku organisasi, karena teori
legitimasi adalah hal yang paling penting bagi organisasi. Teori legitimasi dilandasi
oleh kontrak sosial yang terjadi antara perusahaan dengan masyarakat dimana
perusahaan beroperasi dan menggunakan sumber ekonomi. Legitimasi teori dapat
dilihat sebagai sesuatu yang diberikan masyarakat kepada perusahaan dan sesuatu
yang diinginkan atau dicari perusahaan dari masyarakat, Chariri (2011).
Dengan melakukan pengungkapan sosial, perusahaan merasa keberadaan dan
aktivitasnya terlegitimasi. Gray et al. (1995) dalam Tamba (2011), menyatakan
bahwa perusahaan yang melaporkan kinerjanya berpengaruh terhadap nilai sosial
dimana perusahaan tersebut beroperasi. Hal ini disebabkan karena legitimasi
dipengaruhi oleh kultur, interpretasi masyarakat yang berbeda, sistem politik dan
ideologi pemerintah.
Praktik-praktik tanggungjawab sosial dan pengungkapan sosial yang
dilakukan perusahaan dapat dipandang sebagai suatu usaha untuk memenuhi
harapan-harapan masyarakat terhadap perusahaan. Perusahaan yang selalu berusaha untuk
menyelaraskan diri dengan norma-norma yang ada di dalam masyarakat dan
mengantisipasi terjadinya legitimacy gap maka perusahaan tersebut dapat terus dianggap sah dalam masyarakat dan dapat terus bertahan hidup.
11
C. Agency Teory
Hubungan keagenan adalah hubungan antara dua pihak dimana salah satu
menjadi agent dan pihak yang lain sebagai principal, Hendriksen dan Van Breda (2000) dalam Waryanto (2010).
Jensen dan Meckling, (1976) dalam Waryanto (2010), menjelaskan adanya
konflik kepentingan dalam hubungan keagenan. Terjadinya konflik kepentingan
antara pemilik dan agen karena kemungkinan agen bertindak tidak sesuai dengan
kepentingan prinsipal, sehingga memicu biaya keagenan. Rustiarini (2008),
menjelaskan bahwa teori keagenan memandang perusahaan sebagai nexus of contract, yaitu organisasi yang terikat kontrak dengan beberapa pihak seperti pemegang saham, supplier, karyawan (termasuk manajer), dan pihak-pihak lain yang
berkepentingan. Teori keagenan mengemukakan bahwa pihak principal (pemilik) dan
agent (manajer) memiliki kepentingan yang berbeda sehingga memicu adanya
konflik, yang disebut dengan konflik keagenan.
Teori agensi mampu menjelaskan potensi konflik kepentingan diantara
berbagai pihak yang berkepentingan dalam perusahaan (Waryanto, 2010).
D. Pengertian Corporate Social Responsibility dan Pengungkapan Corporate Social Responsibility
1. Pengertian Corporate Social Responsibility (CSR)
Untung (2008) hal.1 dalam Tamba (2011) memberikan pengertian mengenai
12
Corporate Social Responsibility adalah komitmen perusahaan atau dunia bisnis untuk berkontribusi dalam pengembangan ekonomi yang berkelanjutan dengan
memperhatikan tanggungjawab sosial perusahaan dan menitikberatkan pada
keseimbangan antara perhatian terhadap aspek ekonomis, sosial, dan lingkungan.
Jadi CSR merupakan upaya perusahaan dalam menciptakan suatu keadaan yang
saling menguntungkan antara perusahaan, shareholder maupun stakeholders.
Menurut Global Reporting Initiative (GRI) (Tamba, 2011) dalam konten analisis terkandung tema tentang pengungkapan pertanggungjawaban sosial, yang
terdiri dari:
a. Ekonomi
Tema ini berisi sembilan item yang mencakup laba perusahaan yang
dibagikan untuk bonus pemegang saham, kompensasi karyawan, pemerintah,
membiayai kegiatan akibat perubahan iklim serta aktivitas terkait ekonomi
lainnya.
b. Lingkungan Hidup
Tema ini berisi tiga puluh item yang meliputi aspek lingkungan dari proses
produksi, yang meliputi pengendalian polusi dalam menjalankan operasi
bisnis, pencegahan dan perbaikan kerusakan lingkungan akibat pemrosesan
13 c. Ketenagakerjaan
Tema ini berisi empat belas item yang meliputi dampak aktivitas perusahaan
pada orang-orang dalam perusahaan tersebut. Aktivitas tersebut meliputi :
rekruitmen, program pelatihan, gaji dan tuntutan, mutasi dan promosi dan
lainnya.
d. Hak Asasi Manusia
Tema ini berisi sembilan item yang mencakup berapa besar jumlah investasi
yang melibatkan perjanjian terkait hak asasi manusia, pemasok dan kontraktor
yang menjunjung hak asasi, kejadian yang melibatkan kecelakaan atau
kriminal terhadap karyawan di bawah umur, dan aktivitas lainnya.
e. Kemasyarakatan
Tema ini berisi delapan item yang mencakup aktivitas kemasyarakatan yang
diikuti oleh perusahaan, misalnya aktivitas yang terkait dengan kesehatan,
pendidikan dan seni serta pengungkapan aktivitas kemasyarakatan lainnya.
f. Tanggungjawab atas Produk
Tema ini berisi sembilan item yang melibatkan aspek kualitatif suatu produk
atau jasa, antara lain kegunaan durability, pelayanan, kepuasan pelanggan,
kejujuran dalam iklan, kejelasan/kelengkapan isi pada kemasan, dan lainnya.
2. Prinsip-prinsip CSR
Menurut Tamba (2011), prinsip-prinsip CSR sesuai dengan ISO 26000
14 a. Kepatuhan kepada hukum
b. Menghormati instrument/badan-badan internasional
c. Menghormati stakeholders dan kepentingannya d. Akuntabilitas
e. Transparansi
f. Melakukan tindakan pencegahan
g. Menghormati dasar-dasar hak asasi manusia
3. Manfaat CSR
Jika dikelompokkan, sedikitnya ada empat manfaat CSR terhadap perusahaan
(Edi, 2008) dalam Tamba (2011):
a. Brand differentiation. Dalam persaingan pasar yang kian kompetitif, CSR bisa
memberikan citra perusahaan yang khas, baik, dan etis di mata publik yang
pada gilirannya menciptakan customer loyalty. The Body Shop dan BP
(dengan bendera “Beyond Petroleum”-nya), sering dianggap sebagai memiliki image unik terkait isu lingkungan.
b. Human resources. Program CSR dapat membantu dalam perekrutan karyawan
baru, terutama yang memiliki kualifikasi tinggi. Saat interview, calon karyawan yang memiliki pendidikan dan pengalaman tinggi sering bertanya
tentang CSR dan etika bisnis perusahaan, sebelum mereka memutuskan
menerima tawaran. Bagi staf lama, CSR juga dapat meningkatkan persepsi,
15
c. License to operate. Perusahaan yang menjalankan CSR dapat mendorong
pemerintah dan publik memberi ”ijin” atau ”restu” bisnis, karena dianggap telah memenuhi standar operasi dan kepedulian terhadap lingkungan dan
masyarakat luas.
d. Risk management. Manajemen resiko merupakan isu sentral bagi setiap
perusahaan. Reputasi perusahaan yang dibangun bertahun-tahun bisa runtuh
dalam sekejap oleh skandal korupsi, kecelakaan karyawan, atau kerusakan
lingkungan. Membangun budaya ”doing the right thing” berguna bagi perusahaan dalam mengelola resiko-resiko bisnis.
4. Pengungkapan CSR
Tuntutan terhadap perusahaan untuk memberikan informasi yang transparan,
organisasi yang akuntabel serta tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) memaksa perusahaan untuk memberikan informasi mengenai aktivitas sosialnya, Anggraini (2006) dalam Nurkhin (2009). Shareholder maupun
stakeholders membutuhkan informasi tentang sejauh mana perusahaan telah
melakukan aktivitas sosialnya melalui laporan keuangan perusahaan, sehingga
hak-hak shareholder maupun stakeholders dapat terpenuhi melalui pengungkapan CSR. Perusahaan, selain mempunyai tanggungjawab kepada para pemegang saham
16
yang dilaporkan dalam laporan tahunan seperti yang dinyatakan dalam PSAK No.1
paragraf kesembilan:
Perusahaan dapat pula menyajikan laporan tambahan seperti laporan
mengenai lingkungan hidup dan laporan nilai tambah (value added statemen), khususnya bagi industri dimana faktor-faktor lingkungan hidup memegang peranan
penting dan bagi industri yang menganggap pegawai sebagai kelompok pengguna
laporan yang memegang peranan penting.
E. Struktur Kepemilikan Saham
Struktur kepemilikan (ownership structure) yang dimaksud dalam penelitian ini adalah perbandingan jumlah saham yang dimiliki oleh “orang dalam“ (insiders) dengan jumlah saham yang dimiliki oleh investor, atau dengan kata lain struktur
kepemilikan saham dalam penelitian ini adalah proporsi kepemilikan institusional,
dan kepemilikan asing dalam kepemilikan saham perusahaan.
1. Kepemilikan Institusional
Kepemilikan institusional adalah kepemilikan saham oleh pihak-pihak yang
berbentuk institusi seperti yayasan, bank, perusahaan asuransi, perusahaan investasi,
dana pensiun, perusahaan berbentuk perseroan (PT), dan institusi lainnya. Institusi
biasanya dapat menguasai mayoritas saham karena mereka memiliki sumber daya
yang lebih besar dibandingkan dengan pemegang saham lainnya. Oleh karena
menguasai saham mayoritas, maka pihak institusional dapat melakukan pengawasan
17
saham lain sehingga pihak institusional dituntut untuk mengungkapkan
kegiatan-kegiatan perusahaan sebagai tanggungjawab yang harus dijalankan. Waryanto (2010)
mengutip tulisan dari Firth dan Kim (2005) dalam Mursalim (2007) yang menyatakan
semakin besar tingkat kepemilikan institusional dalam perusahaan maka tekanan
terhadap manajemen perusahaan untuk mengungkapkan tanggungjawab sosial
perusahaan juga semakin besar dikarenakan para pemegang saham institusional
memiliki opportunity, resources, dan expertise untuk menganalisis kinerja dan tindakan manajemen, dan investor institusional sebagai pemilik sangat
berkepentingan untuk membangun reputasi perusahaan.
Menurut Jensen dan Meckling (1976) dalam Tamba (2011), salah satu cara
untuk mengurangi agency cost adalah dengan meningkatkan kepemilikan institusional yang berfungsi untuk mengawasi agen, sehingga mendorong
pengawasan yang optimal terhadap kinerja manajemen. Hal ini menunjukkan bahwa
peningkatan presentase kepemilikan institusional dapat menurunkan presentase
kepemilikan manajerial karena kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional
bersifat saling menggantikan sebagai fungsi monitoring, Suranta dan Machfoedz
(2003: 215) dalam Tamba (2011).
Struktur kepemilikan saham institusional dapat diukur sesuai dengan proporsi
kepemilikan saham yang dimiliki oleh institusi yang dapat diperoleh dengan
18
Total saham institusi yang dimaksud adalah jumlah presentase saham yang dimiliki
oleh institusi pada akhir tahun. Sedangkan total saham yang beredar, dihitung dengan
menjumlahkan seluruh saham yang diterbitkan oleh perusahaan tersebut pada akhir
tahun.
2. Kepemilikan Asing
Kepemilikan asing adalah persentase kepemilikan saham yang dimiliki oleh
investor asing. Jika dilihat dari sudut pandang stakeholders, pengungkapan CSR merupakan alat yang dipilih untuk memperlihatkan kepedulian perusahaan terhadap
lingkungan masyarakat. Menurut Angling ( 2010), dalam Tamba (2011) apabila
perusahaan memiliki kontrak dengan foreign stakeholders baik dalam ownership dan
trade, maka perusahaan akan lebih didukung dalam melakukan pengungkapan CSR.
Perusahaan dengan kepemilikan asing akan memiliki tingkat pengungkapan CSR
lebih tinggi karena perusahaan dengan kepemilikan asing biasanya lebih sering
menghadapi masalah asimetri informasi dikarenakan alasan hambatan goegrafis dan
bahasa, sehingga melaui program CSR yang dilakukan oleh perusahaan diharapkan
akan mendapatkan tanggapan yang positif dari pihak-pihak yang berkepentingan
sehingga akan mempunyai dampak yang baik bagi kelangsungan operasional
perusahaan. Tamba (2011) mengutip tulisan dari Susanto (1992) dalam Angling
19
kepemilikan saham asing harus memberikan pengungkapan yang lebih dibandingkan
dengan yang tidak memiliki kepemilikan saham asing seperti:
a. Perusahaan asing mendapatkan pelatihan yang lebih baik dalam bidang
akuntansi dari perusahaan induk di luar negeri.
b. Perusahaan tersebut mungkin mempunyai sistem informasi yang lebih efisien
untuk memenuhi kebutuhan internal dan kebutuhan perusahaan induk.
c. Kemungkinan permintaan yang lebih besar pada perusahaan berbasis asing
dari pelanggan, pemasok, dan masyarakat umum.
Sehingga berdasarkan alasan-alasan tersebut perusahaan dengan kepemilikan asing
diharapkan akan lebih terbuka dalam hal pengungkapan kegiatan-kegiatan yang
dilakukan oleh perusahaan dan akan lebih peduli terhadap pihak-pihak yang
berkepentingan dengan perusahaan serta lingkungan disekitar perusahaan berdiri.
Struktur kepemilikan asing dapat diukur sesuai dengan proporsi saham biasa yang
dimiliki oleh asing, dapat dirumuskan:
Total saham asing yang dimaksud adalah jumlah persentase saham yang dimiliki oleh
pihak asing pada akhir tahun. Sedangkan total saham yang beredar, dihitung dengan
menjumlahkan seluruh saham yang diterbitkan oleh perusahaan tersebut pada akhir
20 F. Ukuran Perusahaan
Ukuran perusahaan adalah suatu skala dimana dapat diklasifikasikan besar
kecilnya perusahaan menurut berbagai cara, antara lain dengan menghitung: total
aset, nilai pasar saham, dan jumlah karyawan, Tamba (2011). Jika semakin besar
ukuran perusahaan maka kapasitas produksinya juga semakin besar, sehingga
kemungkinan akan meningkatkan segala resiko yang terjadi akibat dari kegiatan
operasional perusahaan, sehingga hal ini mendorong pihak manajemen untuk
melakukan pengungkapan CSR yang berguna untuk meminimalkan tingkat resiko
yang mungkin terjadi. Selain itu, apabila semakin besar ukuran suatu perusahaan,
maka akan memiliki karyawan yang semakin banyak pula, sehingga tuntutan yang
dihadapi manajemen semakin besar, dan dengan perusahaan melakukan kegiatan
CSR maka diharapkan akan mampu memenuhi tuntutan yang ada dari semua pihak
yang berkepentingan dengan perusahaan. Pengungkapan CSR yang dilakukan
perusahaan juga akan menghindarkan perusahaan terhadap terjadinya legitimacy gap. Dalam penelitian ini, ukuran perusahaan dihitung dengan rumus:
SIZE= log (total aset) G. Penelitian Terdahulu
1. Pengaruh Struktur Kepemilikan Saham Terhadap Pengungkapan Tanggungjawab Perusahaan
Rustiarini (2010) melakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh
struktur kepemilikan terhadap pengungkapan CSR dengan menggunakan
21
menunjukkan variabel kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, dan
kepemilikan asing secara bersama-sama berpengaruh pada pengungkapan
CSR. Secara individual, kepemilikan manajerial tidak berpengaruh terhadap
CSR, hal ini dimungkinkan karena secara statistik rata-rata jumlah
kepemilikan saham manajerial perusahaan-perusahaan di Indonesia relatif
kecil sehingga belum terjadi keselarasan antara pemilik dengan manajer.
Adanya kepemilikan manajerial yang relatif kecil menyebabkan manajer
belum dapat memaksimalkan nilai perusahaan melalaui pengungkapan CSR.
Kepemilikan institusional tidak mempunyai pengaruh terhadap CSR. Hal ini
mencerminkan kepemilikan institusi di Indonesia belum mempertimbangkan
tanggungjawab sosial sebagai salah satu kriteria dalam melakukan investasi
sehingga para investor institusi cenderung tidak menekan perusahaan untuk
mengungkapkan CSR secara detail dalam laporan tahunan perusahaan.
Sedangakan penelitian ini menemukan pengaruh antara kepemilikan asing
terhadap pengungkapan CSR, hal ini terjadi dimungkinkan karena secara
umum perusahaan dengan kepemilikan asing di Indonesia peduli terhadap
isu-isu sosial, misalnya hak asasi manusia, pendidikan, tenaga kerja, dan
lingkungan sebagai isu kritis yang secara ekstensif harus diungkapkan dalam
22
2. Pengaruh ukuran perusahaan, ukuran dewan komisaris, kepemilikan institusional, kepemilikan asing, dan umur perusahaan terhadap Corporate Social Responsibility Disclosure.
Indah dan Rahmawati (2010), melakukan penelitian pada perusahaan
Property dan Real Estate untuk mengetahui pengaruh ukuran perusahaan, ukuran dewan komisaris, kepemilikan institusional, kepemilikan asing, dan
umur perusahaan terhadap Corporate Social Responsibility Disclosure. Hasil dari penelitian ini menunjukkan terdapat pengaruh ukuran perusahaan
terhadap corporate social responsibility disclosure, hal ini dapat diinterpretasikan bahwa semakin besar suatu perusahaan, maka semakin luas pengungkapan tanggungjawab sosial yang dibuat perusahaan. Ukuran dewan
komisaris berpengaruh terhadap corporate social responsibility disclosure, hal ini dimungkinkan karena dewan komisaris dianggap sebagai mekanisme
pengendalian intern tertinggi, yang bertanggungjawab untuk memonitor
tindakan manajemen puncak. Dikaitkan dengan pengungkapan tanggungjawab
sosial perusahaan, maka tekanan terhadap manajemen juga akan semakin
besar untuk mengungkapkannya, sehingga kebanyakan penelitian
menunjukkan adanya hubungan positif antara dewan komisaris dengan tingkat
pengungkapan informasi oleh perusahaan. Kepemilikan institusional tidak
berpengaruh terhadap CSR, mungkin hal ini disebabkan karena institusi yang
menanamkan modalnya pada perusahaan lain belum mempertimbangkan
masalah tanggungjawab sosial sebagai salah satu kriteria dalam melakukan
23
perusahaan untuk mengungkapkan corporate social responsibility secara detail dalam laporan tahunan perusahaan, dan kepemilikan asing tidak
mempunyai pengaruh terhadap corporate social responsibility disclosure, alasan yang dapat digunakan untuk menjelaskan hal tersebut adalah bahwa
kemungkinan kepemilikan asing pada perusahaan di Indonesia secara umum
belum mempedulikan masalah lingkungan dan sosial sebagai isu kritis yang
secara ekstensif diungkapkan dalam laporan tahunan. Kemungkinan lain
adalah sampel perusahaan dengan kepemilikan asing dalam penelitian ini
bukan perusahaan yang terkait langsung dengan sumber daya alam, sehingga
pengungkapan corporate social responsibility dalam laporan tahunan sifatnya masih voluntary atau sukarela saja. Umur perusahaan tidak berpengaruh terhadap corporate social responsibility disclosure.
Penelitian yang dilakukan oleh Waryanto (2010) dengan judul
Pengaruh Karakteristik Good Corporate Governance Terhadap Luas Pengungkapan CSR mendapatkan hasil bahwa dewan komisaris tidak
berpengaruh signifikan terhadap luas pengungkapan CSR, menurut Waryanto
(2010) hal ini kemungkinan terjadi karena besar kecilnya ukuran dewan
komisaris tidak menjamin adanya mekanisme pengawasan yang lebih baik,
karena bukan merupakan faktor penentu utama dari efektivitas pengawasan
terhadap manajemen perusahaan. Pengaruh jumlah rapat dewan komisaris
24
bahwa berapun jumlah rapat yang dilakukan dewan komisaris tidak akan
mempengaruhi luas pengungkapan CSR, hal ini dimungkinkan karena
rapat-rapat yang dilakukan oleh dewan komisaris kurang efektif, dikarenakan
adanya dominasi suara dari dewan komisaris yang mementingkan kepentingan
pribadi atau kelompoknya sehingga mengkesampingkan kepentingan
perusahaan, Muntoro (2006) dalam Waryanto (2010). Penagruh independensi
dewan komisaris terhadap luas pengungkapan CSR juga tidak mempunyai
pengaruh yang positif signifikan, hal ini terjadi karena dimungkinkan
pemilihan dan pengangkatan komisaris independen kurang efektif (FCGI,
2002) dalam Waryanto (2010). Waryanto (2010) mengutip tulisan dari
Vethanayagam et.al. (2006) dalam Hashim dan Devi (2007) bahwa banyak dewan komisaris tidak mempunyai kemampuan dan tidak dapat menunjukkan
independensinya sehingga fungsi pengawasan tidak berjalan dengan baik.
Pengaruh saham manajerial memiliki arah hubungan yang positif
namun tidak signifikan terhadap luas pengungkapan CSR. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa persentase saham yang dimiliki oleh manajer tidak
mempengaruhi luas pengungkapan CSR. Hal ini dimungkinkan karena secara
statistik jumlah kepemilikan saham manajerial rata-rata pada
perusahaan-perusahaan di Indonesia relatif kecil. Hal ini berarti, dengan kepemilikan
manajerial yang relatif kecil, masih terjadi konflik kepentingan antara pemilik
25
dengan kepentingan perusahaan atau pemilik. Pengaruh kepemilikan saham
institusional memiliki hubungan yang signifikan negatif terhadap luas
pengungkapan CSR. Hal ini dikarenakan semakin banyak saham perusahaan
yang dimiliki oleh pihak institusi, maka institusi mempunyai kemampuan
untuk melakukan intervensi terhadap jalannya perusahaan dan mengatur
proses penyusunan laporan keuangan. Akibatnya manajer terpaksa melakukan
tindakan tertentu demi untuk memenuhi kepentingan pihak-pihak tertentu,
diantaranya pemilik, Boediono (2005) dalam Waryanto (2010). Kepemilikan
saham asing dalam penelitian yang dilakukan oleh Waryanto (2010) tidak
mempengaruhi luas pengungkapan CSR, hal ini kemungkinan terjadi karena
perusahaan dengan kepemilikan asing di Indonesia secara umum belum
mempedulikan masalah lingkungan dan sosial sebagai isu kritis yang harus
secara ekstensif diungkapkan dalam laporan tahunan, Macmmud dan Djaman
(2008) dalam Waryanto (2010). Penelitian yang dilakukan oleh Waryanto
(2010) menemukan pengaruh yang positif signifikan antara ukuran perusahaan
terhadap luas pengungkapan CSR. Hal ini kemungkinan terjadi karena dalam
teori keagenan, apabila ukuran perusahaan lebih besar maka biaya keagenan
yang dikeluarkan akan lebih besar, sehingga untuk mengurangi biaya
keagenan tersebut perusahaan akan cenderung mengungkapkan informasi
26 H. Kerangka Pemikiran
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan dalam landasan teori, maka
variabel dalam penelitian ini dapat dirumuskan melalui suatu kerangka pemikiran
sebagai berikut: Ha (+) I. Hipotesis
Ha: Sruktur kepemilikan saham institusi, kepemilikan saham asing, dan ukuran perusahaan berpengaruh terhadap pengungkapan CSR.
Variabel Independen Pengungkapan CSR Variabel Dependen Kepemilikan Institusional, Kepemilikan Asing,dan Ukuran Perusahaan.
27 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Definisi Operasional Variabel Penelitian
Penelitian ini menggunakan variabel pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai variabel dependen, kepemilikan institusional, kepemilikan asing, dan ukuran (size) perusahaan sebagai variable independen.
1. Variabel Dependen (Y)
Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel
independen. Variabel dependen (Y) pada penelitian ini adalah pengungkapan
corporate social responsibility (CSR) yang akan diukur dengan indeks CSR (CSRI) dari Hackston & Milne (1996), yang terdiri dari: lingkungan, kesehatan dan
keselamatan tenaga kerja, tenaga kerja (lain-lain), energi, mutu produk, keterlibatan
perusahaan dalam masyarakat, hal-hal umum. Apabila item informasi yang
ditentukan diungkapkan dalam laporan tahunan maka diberi skor 1, dan jika item