• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dalam bab ini berisikan tentang kesimpulan dan saran yang diperoleh dari bab sebelumnya.

BAB II

TELAAH PUSTAKA

II.1. Pengertian Usaha Eceran (Retailing)

Perdagangan eceran atau sekarang kerap disebut perdagangan ritel, bahkan disingkat menjadi bisnis ritel, adalah kegiatan usaha menjual barang atau jasa kepada perorangan untuk keperluan diri sendiri, keluarga atau rumah tangga.(Hendri Ma’ruf, 2005:7).

Usaha eceran adalah usaha makanan dan minuman yang lebih sering disebut sebagai supermarket sedangkan untuk non-food disebut dengan departement store.(Hidayat, 2005:8)

Bauran strategi eceran ini terdiri dari pengelolaan barang dagangan (merchandising), pajangan toko dan pajangan produk, penetapan harga, pengelolaan SDM (wiraniaga), komunikasi pemasaran, pelayanan dan lokasi.(M.

Taufiq Amir, 2005:24)

5 fungsi yang dilakukan oleh perusahaan ritel yaitu : (Richard, 2007: 139)

1. Menggoda pelanggan untuk masuk 2. Mendisplay produk

3. Menampilkan harga atau display promosional 4. Membawa pelanggan melalui berbagai area 5. Mengkomunikasikan budaya perusahaan ritel

Retailing merupakan semua kegiatan penjualan barang kepada konsumen akhir untuk pemakaian pribadi dan rumah tangga, bukan untuk keperluan bisnis.

Ada empat fungsi utama retailing, yaitu:(Tjiptono, 2003:91) 1. Membeli dan menyimpan barang

2. Memindahkan hak milik barang

3. Memberikan informasi mengenai sifat dasar dan pemakaian barang tersebut 4. Konsumen (dalam kasus tertentu).

Definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa usaha eceran (ritell) merupakan aktivitas penjualan barang atau jasa yang langsung kepada konsumen akhir dan bukan untuk dijual kembali.

Pola perilaku pelanggan yang sedikit demi sedikit berubah, perlu direspon secara aktif oleh peritel untuk dapat mempertahankan keberlanjutan usahanya dalam jangka panjang. Pelanggan sangat memperhatikan hal-hal yang terkait dengan nilai tambah terhadap kenyamanan mereka dalam melakukan aktifitas belanja. Mengingat berubahnya pandangan bahwa belanja merupakan aktifitas rekreasi, maupun pemenuhan keanekaragaman kebutuhan mereka dalam satu lokasi.

Paradigma ritel modern merupakan pandangan yang menekankan pengelolaan ritel dengan menggunakan pendekatan modern dimana konsep pengelolaan peritel lebih ditekankan dari sisi pandang pemenuhan kebutuhan konsumen yang menjadi pasar sasarannya. Beberapa ciri dari paradigma pengelolaan ritel modern adalah sebagai berikut :

1. Lokasi strategis merupakan faktor penting dalam bisnis ritel 2. Prediksi cermat terhadap potensi pembeli

3. Pengelolaan jenis barang dagangan terarah 4. Seleksi merek yang sangat ketat

5. Seleksi ketat terhadap pemasok

6. Melakukan catatan penjualan dengan cermat

7. Melakukan evaluasi terhadap keuntungan per produk 8. Arus kas terencana

9. Pengambilan bisnis terencana.

II.2.Tahap-Tahap Pembelian a. Berhubungan dengan toko

Adanya keinginan membeli produk akan mendorong konsumen untuk mencari toko pusat perbelanjaan (mall) tempat ia membeli produk tersebut. Kontak dengan toko akan dilakukan oleh konsumen untuk menentukan toko mana yang akan dikunjungi. Berbagai cara telah dilakukan oleh pemilik toko dan pusat pertokoan agar bisa menarik konsumen untuk mengunjungi tokonya. Para pemilik toko biasanya mencari lokasi yang sangat strategis agar tokonya mudah dulihat oleh konsumen.

b. Mencari produk

Setelah konsumen mengunjungi toko maka selanjutnya ia harus mencari dan memperoleh produk yang akan dibelinya. Ia harus mencari lokasi dimana produk ditempatkan didalam toko tersebut. Pemilik toko berkepentingan agar konsumen selalu mengunjungi tokonya, sedangkan produsen berkepentingan untuk mempromosikan produknya agar dibeli konsumen.

c. Transaksi

Dari proses pembelian adalah melakukan transaksi yaitu melakukan pertukaran barang dengan uang, memindahkan kepemilikan barang dari toko kepada kosumen. Kenyamanan seorang konsumen berbelanja disebuah toko bukan saja ditentukan oleh banyaknya barang yang tersedia, kemudahan memperoleh barang didalam toko, dan daya tarik promosi dari produk tersebut, juga ditentukan oleh kenyamanan proses akhir atau transaksi yang dilakukan konsumen.

II.3. Pengertian Lingkungan dan Situasi Konsumen

Lingkungan berbelanja adalah sebuah suasana dari lingkungan berbelanja yang dapat mengubah emosi konsumen, yang dapat merubah suasana hati konsumen yang mempengaruhi perilaku pembelian.(Amir, 2004 : 109)

Konsumen tidak hidup sendiri, ia berinteraksi dengan keluarganya, saudara-saudaranya, teman-temannya, dan orang-orang sekelilingnya. Konsmuen

hidup bersama dengan orang lain. Konsumen adalah makhluk social yang dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya dan mempengaruhi lingkungan sosialnya.

Jika diamati, banyak konsumen yang membeli produk yang tidak direncanakan sebelumnya. Keinginan membeli suatu merek produk bias dating tiba-tiba karena berbagai alas an situasional. Walaupun perilaku pembelian karena tekanan situasional tidak berlangsung terus menerus pada setiap individu, namun bias dipastikan bahwa setiap orang pernah pernah melakukan pembelian suatu produk karena tekanan situasional.

Situasi yng menekankan konsumen untuk melakukan pembelian bisa terjadi pada berbagai tempat dan waktu.Contohnya bisa saja seseorang membeli suatu produk karena pada saat itu melihat adanya potongan harga yang menarik.Bahkan mungkin saja seseorang melakukan pembelian suatu produk karena mendengar music yang membangkitkan kenangan masa lalu, jadi pengaruh situasional sangat penting terhadap perilaku pembelian.

II.4. Respon Lingkungan Berbelanja

Respon afektif lingkungan atau perilaku berbelanja dapat diuraikan oleh 3 (tiga) indikator yaitu:(Mehrabian dan Russell, 2005: 144)

1. Pleasure

Plesure mengacu pada tingkat dimana individu merasakan baik, penuh kegembiraan, bahagia, atau yang berkaitan dengan situasi tersebut. Pleasure diukur dengan penilaian reaksi lisan ke lingkungan. Dalam konseptualisasi

sekarang, pleasure dikenal dengan pengertian lebih suka, kegemaran, perbuatan positif, atau approach-avoidance.

2. Arousal

Arousal mengacu pada tingkat dimana seseorang merasakan siaga, digairahkan, atau situasi aktif. Arosal secara lisan dianggap sebagai laporan responden dimana seperti dirangsang, ditentang, atau diperlonggar.

3. Dominance

Dominance ditandai dengan laporan responden yang merasa dikendalikan oleh lingkungan.Model psikologi lingkungan untuk studi pada lingkungan suasana toko, keadaan emosional, dan perilaku. Hasil yang didapat yaitu pleasure secara positif berhubungan dengan kesediaan untuk membeli dan arousal berhubungan dengan waktu yang dihabiskan ditoko dan kesediaan berinteraksi dengan karyawan toko.

II.5. Perilaku Konsumen

Perilaku konsumen adalah proses pengambilan keputusan dan kegiatan fisik individu dalam upaya memperoleh dan menggunakan barang dan jasa (Angipora, 2000:56).

Perilaku konsumen didefinisikan sebagai studi tentang unit pembelian dan proses penukaran yang melibatkan perolehan, konsumsi, dan pembuangan barang, jasa, mengalaman, serta ide-ide (Mowen, 2001:6).

Perilaku konsumen didefinisikan sebagai perilaku yang menampilkan konsumen dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi dan membuang

produk dan jasa yang mereka harapkan akan memuaskan kebutuhan mereka (Kotler, 2003 :11).

Perilaku konsumen juga dapat didefinisikan sebagai proses pengambilan keputusan dan kegiatan fisik individu yang terlibat dalam mengevaluasi, memperoleh, menggunakan, atau membuang barang dan jasa.

Perilaku konsumen adalah suatu tindakan yang langsung dalam mendapatkan, mengkonsumsi, serta menghabiskan barang dan jasa termasuk proses keputusan yang mendahului tindakan tersebut (Umar, 2002:50).

perilaku konsumen adalah aktifitas mental dan fisik yang dilakukan oleh pelanggan rumah tangga (konsumen akhir) dan pelanggan bisnis yang menghasilkan keputusan untuk membayar, membeli, dan menggunakan produk dan jasa tertentu. (Sheet 2004).

Perilaku konsumen merupakan hal terpenting yang harus dipelajari terus oleh pemasar guna mengetahui dan mengkaji apa yang sedang dibutuhkan dan diinginkan pihak konsumen. Setelah perusahaan mengetahui apa yang ada dibenak konsumen pada suatu produk, maka perusahaan harus menyusun strategi untuk menciptakan produk yang sesuai dengan keinginan konsumen supaya produk tersebut diterima pasar dengan tangan terbuka sehingga mendatangkan pendapatan bagi perusahaan.

II.6. Pengertian Pembelian Tidak Terencana.

Pembelian tidak terencana adalah pembelian secara spontan, bersifat relaks serta terkesan terburu-buru karena didorong oleh aspek psikologis emosional suatu produk.

Sebagian orang menganggap kegiatan belanja dapat menjadi alat untuk menghilangkan setres, menghabiskan uang dapat mengubah suasana hati seseorang berubah secara signifikan , dengan kata lain uang adalah sumber kekuatan dan bisa memiliki segalanya.

Untuk menciptakan rangsangan terhadap pengalaman menyenangkan yang dapat dirasakan oleh pelanggan, ritel dapat menggunakan latar belakang musik, pajangan visual serta demonstrasi produk didalam toko.Lingkungan toko dapat di tata sedemikian rupa agar para pelanggan yang memasuki area toko masuk keluar dari situasi dan kejenuhan yang dialami sehari-hari.

Pembelian spontan yaitu keputusan yang dibuat oleh pelanggan secara spontan atau seketika setelah melihat barang dagangan. Ritel dapat mendorong perilaku pembelian spontan dengan menggunakan cara pemajangan (display) yang menonjol untuk menarik perhatian pelanggan dan merancang suatu keputusan belanja berdasarkan analisis yang tidak berkesinambungan. Produk-produk yang diharapkan dibeli oleh pelanggan atas dasar pembelian spontan ini biasanya dipajang pada tempat-tempat yang mudah dilihat oleh pelanggan, misalnya dikasir atau tempat pembayaran (Christina, 2006:37).

Pembelian tidak terencana, berarti kegiatan untuk menghabiskan uang yang tidak terkontrol atau tidak sesuai dengan kebutuhannya, kebanyakan pembelian

pada barang-barang yang tidak diperlukan.Barang-barang yang dibeli secara tidak terencana lebih banyak pada barang yang diinginkan untuk dibeli, dan kebanyakan dari barang itu tidak diperlukan konsumen.

Perilaku pembelian impulsive banyak didominasi wanita, hal ini dapat dipahami karena dalam melakukan pembelian barang barang proses pengambilan keputusannya banyak dipegang wanita.(Amir, 2004: 119).

Pembelian impulsive adalah kecendrungan konsumen untuk melakukan pembelian secara spontan , tidak terefleksi, secara terburu-buru san didorong oleh aspek psikologis emosional terhadap suatu produk dan tergoda atas ajakan pasar.

(Hirschman dan Stren, 2003 : 98).

Pikiran manusia memiliki ide-ide dan rangsangan yang kadang-kadang bersifat sadar dan kadang-kadang berada dibawah sadar yang mempengaruhi perilaku pembelian.Manusia tidak menyadari seluruh motif mereka dan hal tersebut menerangkan mengapa para konsumen sering kali tidak menyadari atau tidak menunjukkan alasan-alasan rill mereka, mengapa mereka membeli atau tidak membeli. Para pemasar menyimpulkan adanya terdapat perbedaan luas antara apa yang dinyatakan orang-orang akan dibeli dan apa yang sebenarnya mereka beli. Pembelian secara tidak terencana berarti kegiatan menghabiskan uang yang tidak terlalu diperlukan.

Pembelian tidak terencana mempunyai dasar pertimbangan yang masuk akal. System penjualan dengan pelayanan sendiri (self service) dan tata ruang yang terbuka (open display)akan menimbulkan situasi pemasaran dimana

perencanaan dapat ditunda sampai pembeli masuk kedalam toko (Setiadi, 2003:

356).

Menurut Rook dan Fisher, pembelian impulsive adalah kecendrungan konsumen untuk melakukan pembelian secara spontan, tidak terefleksi, secara terburu-buru didorong oleh aspek psikologis emosional terhadap suatu produk dan tergoda oleh persuasi dari pemasar.

Rook menjelaskan pula bahwa pembelian impulsive terjadi ketika konsumen mengalami pengalaman tiba-tiba, memiliki dorongan yang kuat dan keras hati untuk membeli sesuatu dengan segera.

Beberapa macam dari barang-barang konsumen adalah pembelian tidak terencana.Dan yang dilaporkan paling sering adalah pakaian, perhiasan, ornamen-ornamen yang dekat dengan diri sendiri serta penampilan, yang kemudian dikelompokkan menjadi pembelian tidak terencana tinggi dan tidak terencana rendah.Konsumen yang membeli produk tidak terencana rendah cendrung berpikir apakah belanja merupakan nilai yang baik untuk uang, dan apakah belanja itu praktis atau berguna.Contoh produk pembelian tidak terencana rendah adalah produk-produk perawatan tubuh.

Karakteristik pembelian tidak terencana atau impulsif buying mempunyai sejumlah karakteristik, sebagai berikut :(Kacen, J dan Lee, 2002 : 87)

1. Adanya perasaan yang berlebihan akan ketertarikan dari produk yang dijual

2. Adanya perasaan untuk segera memiliki produk yang dijual

3. Mengabaikan segala konsekuensi dari pembelian sebuah produk 4. Adanya perasaan puas

5. Adanya konflik yang terjadi antara pengendalian dengan kegemaran di dalam diri orang terstebut.

Tipe-tipe pembelian tidak terencana atauimpulsif buyingdapat diklasifikasikan dalam empat tipe yaitu planned impulsif buying, reminded impulsif buying, sugestion impulsif buying , dan pure impulsif buying.

1. Planned impulsif buying merupakan pembelian yang terjadi ketika konsumen membeli produk berdasarkan harga spesial dan produk-produk tertentu.

2. Reminded impulsif buying merupakan pembelian yang terjadi karena tiba-tiba teringat untuk melakukan pembelian produk tersebut. Dengan demikian konsumen pernah melakukan pembelian sebelumnya atau pernah melihat produk tersebut dalam iklan.

3. Sugestion impulsif buying merupakan pembelian yang terjadi pada saat konsumen melihat produk, melihat tata cara pemakaian atau kegunaannya, dan memutuskan untuke melakukan pembelian. sugestion impulsif buying dilakukan oleh konsumen meskipun konsumen tidak benar-benar membutuhkannya, dan pemakaiannya masih akan digunakan pada masa yang akan datang.

4. Pure impulsif buying merupakan pembelian secara impulsif yang dilakukan karena adanya luapan emosi dari konsumen sehingga melakukan pembelian terhadap produk diluar kebiasaan pembeliannya.

Barang-barang pembelian tidak terencana ada dua macam, yaitu :

a) Barang-barang pembelian tidak terencana tinggi

Konsumen yang membeli barang-barang pembelian tidak terencana tinggi adalah konsumen dengan suasana hati yang baik dan membeli tanpa memikirkan harga dan kegunaan.Hal tersebut membuat konsumen, merasa menjadi seseorang yang diinginkan dan dapat mengekspresikan keunikan dari diri konsumen.Contoh barang-barang pembelian tidak terencana tinggi adalah baju-baju.

b) Barang-barang pembelian tidak terencana rendah

Konsumen yang membeli barang-barang pembelian tidak terencana rendah cendrung berfikir apakah pembelian merupakan nilai yang baik untuk uang, dan apakah pembelian itu praktis atau berguna.Contoh barang-barang pembelian tidak terencana rendah adalah produk-produk perawatan tubuh.Setiap toko didesain untuk mengatur kegiatan dan pembelian konsumen.Dengan

demikian dapat membuat konsumen untuk melakukan pembelian tidak terencana dan menghabiskan lebih dari perkiraan.

Jika diamati banyak konsumen yang membeli produk yang tidak direncanakan sebelumnya. Keinginan membeli produk bisa datang tiba-tiba karena berbagai alasan. Walaupun perilaku pembelian tidak terencana tidak berlangsung terus menerus, namun bisa dipastikan bahwa setiap orang pernah melakukan pembelian tidak terencana ( Sutisna, 2009 : 5).

Pembelian tidak terencana terjadi karena tidak terencana semata-mata, karena diingatkan ketika melihat barangnya,karena timbul kebutuhandan pembelian tidak terencana yang direncanakan tetapi merek, jenis, ukuran atau info spesifik lainnya belum diputuskan. Keputusan membeli dibuat di toko ketika melihat-lihat barang yang tersedia.

Berdasarkan teori diatas dapat disimpulkan bahwa pembelian tidak terencana dipengaruhi oleh lingkungan belanja yang ada dalam toko ritel tersebut.

II.7. Pandangan Islam Terhadap Jual-beli.

Allah SWT. Telah menjadikan manusia masing-masing saling membutuhkan satu sama lain, supaya mereka tolong-menolong, tukar-menukar keperluan dalam segala urusan kepentingan hidup masing-masing, baik dengan jual beli, sewa-menyewa, bercocok tanam atau perusahaan yang lain-lain, baik dalam urusan kepentingan sendiri maupun untuk kemaslahatan cara umum.

Dengan cara demikian kehidupan masyarakat menjadi teratur dan subur, pertalian yang satu dengan yang lain pun menjadi teguh. Akan tetapi , sifat loba dan tamak tetap ada pada manusia, suka mementingkan diri sendiri supaya hak masing-masing jangan sampai tersia-sia,dan juga menjaga kemaslahatan umum agar pertukaran dapat berjalan dengan lancar dan teratur.

Oleh sebab itu, agama memberi peraturan yang sebaik-baiknya: karena dengan teraturnya muamalat, maka penghidupan manusia menjadi terjamin pula dengan sebaik-baiknya sehingga perbantahan dan dendam-mendendam tidak akan terjadi.

Nasihat luqmanul hakim kepada anaknya, ‘’wahai anakku! Berusahalah untuk menghilangkan kemiskinan dengan usaha yang halal. Sesungguhnya orang yang berusaha dengan jalan yang halal itu tidaklah akanmendapat kemiskinan.

Jadi, yang dimaksud dengan muamalat ialah tukar-menukar barang atau sesuatu yang memberi manfaat dengan cara yang ditentukan, seperti jual beli, sewa-menyewa , upah- mengupah , pinjam –meminjam, urusan bercocok tanam , brserikat, dan usaha lainnya.

Dalam Surat Al-Baqarah: ayat 275 yang menyatakan aturan Jual Beli



“Orang orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.

Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba)

maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal didalamnya”.

(Q.S. Al-Baqarah: (2) 275)

Berdasarkan ayat diatas dinyatakan arti riba disini adalah berlebih-lebihan, dengan adanya pembelian tidak terencana tersebut para konsumen akanlupa diri dengan kegiatan berbelanja yang dilakukannya.Allah mengharamkan riba Karena sifat yang berlebihan tersebut termasuk golongan setan.

II .8. Penelitian Terdahulu

Penelitian-penelitian terdahulu tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pembelian tidak terencana dilakukan oleh :

Hatane Samuel (2005) denganjudul Dampak Respon Emosi Terhadap Kecenderungan Perilaku Pembelian Impulsif Konsumen Online dengan Sumberdaya yang Dikeluakan dan Orientasi Belanja Sebagai Variabel Mediasi.

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pengaruh stimulus antara frmat media ofline dengan format media online terhadap respon emosi dan kecendrungan perilaku pembelian impulsif. Ditemukan bahwa stimulus dari format media online memberikan dampak respon emosi dan kecedrungan prilaku pembelian impulsif yang lebih kuat. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh konsumen produk pariwisata, yaitu tujuan wisata buday kabupaten bangkalan dengan produk pendukungnya. Sampel yang dipilih sebagai partisipan merupakan non robability sampling yaitu bentuk purposive sampling. Penelitian ini mengambil sampel melalui kuesioner terkumpul melalui 390 mahasiswa.

Purba (2008) dengan judul “ Analisis Pengaruh Respon lingkungan Berbelanja Terhadap Pembelian Tidak Terencana Pada Hypermart Sun Plaza

Medan”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh respon lingkungan berbelanja yang terdiri dari pleasure, dominance, arousal terhadap pembelian tidak terencana belanja konsumen di Hypermart Sun Plaza Medan. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh signifikan baik secara individu maupun secara bersama-sama dari ketiga variabel bebas terhadap variabel terikat.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa variabel pleasure merupakan variabel yang paling berpengaruh terhadap pembelian tidak terencana pada konsumen Hypermarket Sun Plaza Medan.

II.9. Hipotesis.

Dari uraian diatas serta perumusan masalah maka penulis membuat suatu hipotesis sebagai berikut: didugalingkungan berbelanja berpengaruh positif terhadap pembelian tidak terencana di Matahari Department Store Mall SKA Pekanbaru.

II.10.Definisi Operasional Variabel.

Dalam penelitian ini operasional variabelnya adalah sebagai berikut : 1. Respon Lingkungan berbelanja (variabel bebas)

2. Pembelian tidak terencana (variabel terikat)

Tabel II.1 : Definisi Operational Variabel

Variabel Indikator Sub Indikator Skala

Ukur

1. Perasaan nyaman dengan suasana belanja yang tenang.

2. Perasaan senang dengan adanya promosi ‘beli 2 gratis 1’ yang ditampilkan pada produk

3. Perasaan senang dengan adanya fasilitas pembayaran pembayaran dengan kartu kredit ataupun debit.

4. Perasaan puas dengan adanya pemberian diskon besar-besaran

5. Perasaan santai dalam berbelanja.

Likert

Kegairahan (arousal)

1. Perasaan tertarik terhadap lingkungan berbelanja yang memberikan program promosi pada produk

2. Perasaan lebih bersemangat berbelanja karena adanya diskon besar-besaran

3. Rasa ingin tahu yang kuat terhadap produk-produk yang ditampilkan.

4. Desain toko yang rapi dan unik, membuat saya tertarik untuk mengamati suatu produk.

5. Tertarik untuk berbelanja di matahari department store mall SKA pekanbaru karena kelengkapan produk yang di miliki matahari department store mall SKA pekanbaru.

Likert

Dominasi (dominance)

1. Pembelian dipengaruh oleh

suasana lingkungan

berbelanja.

2. Pembelian dipandu oleh

Likert

suasana lingkungan berbelanja dalam melakukan pembelian.

3. cendrung dipengaruhi oleh orang lain untuk berbelanja di matahari department store mall SKA pekanbaru.

4. Keputusan pembelian berada ditangan sendiri.

5. Selalu ingin membeli sesuatu untuk kebutuhan keluarga/

tema bukan untuk diri sendiri.

Pembelian

1. Melakukan pembelian tidak direncanakan

2. Pembeli terpengaruh dari promosi yang ditawarkan pramuniaga.

3. Sering membeli pakaian secara spontan di matahari department store mall SKA pekanbaru.

4. Sering membeli barang yang tidak benar-benar dibutuhkan di matahari department store mall SKA pekanbaru ketika perasaan sedang senang.

5. Sering melakukan pembelian barang ketika ada produk model terbaru.

Likert

Sumber : Semuel 2005

BAB III

METODE PENELITIAN

III.1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Matahari Department Store Mall SKA Pekanbaru Jalan Soekarno Hatta.

III.2. Jenis dan Sumber Data

1. Data primer yaitu yang diperoleh dari kuesioner yang disebarkan kepada responden terpilih berisikan mengenai sikap pengunjung dalam berbelanja di Matahari Department Store Mall SKA pekanbaru yang di olah sesuai kebutuhan penelitian. Data ini bersumber dari pengunjung matahari department store mall SKAPekanbaru.

2. Data sekunder. yaitu data yang diperoleh dari dalam bentuk yang sudah jadi baik berupa laporan maupun informasi dari pihak perusahaan ataupun pihak lain yang terkait.

III.3. Populasi dan Sampel 1. Populasi.

Dalam penelitian ini Populasinya adalah seluruh jumlah pengunjung Matahari Mall SKA Pekanbaru.Disini populasinya sebanyak3.572.745 jiwa.

Tabel III.1 :Data Jumlah Pengunjung Seluruh Mall SKA dan Pengunjung

1 Januari 2011 742.940 297.176

2 Februari 2011 669.076 267.630

3 Maret 2011 721.376 288.550

4 April 2011 728.752 291.501

5 Mei 2011 765.402 306.161

6 Juni 2011 775.744 310.298

7 Juli 2011 807.675 323.070

8 Agustus 2011 871.274 348.509

9 September 2011 694.022 277.609

10 Oktober 2011 733.356 293.342

11 November 2011 651.760 260.704

12 Desember 2011 770.488 308.195

Jumlah 8.931.865 3.572.745

Sumber: Mall SKA 2. Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi yang diambil untuk mewakili populasi secara keseluruhan yang akan dijadikan responden dalam suatu penelitian. Teknik penelitian yang digunakan dalam menentukan jumlah responden adalah dengan menggunakan rumus slovin (Umar, 2003:146).

Rumus Slovin:

e : Persentase kelonggaran ketidak telitian karena kesalahan.

Pengambilan sampel yang masih dapat ditoleril atau diinginkan.Dalam penelitian ini sebesar 10%.

n= N

1+N( )

n= 3.572.745 1+3.572.745(0,1)

n= 3.572.745 1 + 3.572.745(0,01)

n= 3.572.745 1 + 3.572. 45

n = 99,99 dibulatkan menjadi 100 responden

Asumsi pengambilan populasi dan sampel ini yaitu seluruh jumlah pengunjung Matahari Mall SKA Pekanbaru pada tahun 2011. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah metode accidental sampling, yaitu metode pengambilan sampel yang dilakukan berdasarkan kebetulan. (Ginting dan Situmorang, 2008: 141).Dalam arti pembeli yang kebetulan melakukan transaksi pembelian minimal tiga kali selama seumur hidup di Matahari Mall SKA

Asumsi pengambilan populasi dan sampel ini yaitu seluruh jumlah pengunjung Matahari Mall SKA Pekanbaru pada tahun 2011. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah metode accidental sampling, yaitu metode pengambilan sampel yang dilakukan berdasarkan kebetulan. (Ginting dan Situmorang, 2008: 141).Dalam arti pembeli yang kebetulan melakukan transaksi pembelian minimal tiga kali selama seumur hidup di Matahari Mall SKA

Dokumen terkait