IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Penutupan/Penggunaan Lahan
Hasil interpretasi citra dan observasi lapangan di DAS Bonehau menunjukkan bahwa terdapat delapan kelas penutupan/penggunaan lahan yang terdiri dari hutan lahan kering primer, hutan lahan kering sekunder, semak belukar, pertanian lahan kering, sawah, lahan terbuka, permukiman dan tubuh air. Luas pada setiap jenis penutupan/penggunaan lahan tahun 2001 dan 2016 dapat dilihat pada Tabel 1, sedangkan peta kelas penutupan/penggunaan lahan hasil interpretasi
citra Landsat 7 ETM+ tahun 2001 dan citra Landsat 8 ETM+ tahun 2016 disajikan
pada Gambar 4 dan Gambar 5.
Tabel 1. Penutupan/penggunaan lahan tahun 2001 dan 2016
No
Kelas
Penutupan/Penggunaan Lahan
Luas (ha) Persentase (%)
2001 2016 2001 2016
1 Hutan Lahan Kering Primer 45.921,10 42.930,00 39,29 36,73
2 Hutan Lahan Kering Sekunder 51.462,25 50.030,00 44,03 42,80
3 Semak Belukar 15.758,38 16.680,00 13,48 14,27
4 Pertanian Lahan Kering 2.957,39 6.038,55 2,53 5,17
5 Sawah 66,77 435,14 0,06 0,37
6 Lahan terbuka 75,70 75,52 0,06 0,06
7 Pemukiman 128,92 192,92 0,11 0,17
8 Tubuh Air 520,77 509,15 0,45 0,44
Total 116.891,28 116.891,28 100,00 100,00
Tabel 1 menunjukkan bahwa penutupan/penggunaan lahan tahun 2001 ke tahun 2016 mengalami perubahan secara signifikan. Perubahan yang terjadi berupa penurunan atau penambahan luasan pada masing-masing jenis penutupan/penggunaan lahan. Penutupan/penggunaan lahan yang mengalami penurunan yaitu hutan lahan kering primer, hutan lahan kering sekunder, lahan terbuka, dan tubuh air, sedangkan jenis penutupan/penggunaan lahan yang mengalami penambahan yaitu semak belukar, pertanian lahan kering, sawah dan permukiman.
21 Gambar 4. Peta Penutupan/Penggunaan Lahan DAS Bonehau Tahun 2001
22 Gambar 5. Peta Penutupan/Penggunaan Lahan DAS Bonehau Tahun 2016
23 Gambar 6. Peta Perubahan Penutupan/Penggunaan Lahan Tahun 2001 ke 2016
24 Perubahan penutupan/penggunaan lahan di DAS Bonehau merupakan peristiwa terjadinya perubahan kondisi penutupan/penggunaan lahan tertentu menjadi penutupan/penggunaan lahan yang berbeda dengan rentang waktu 15 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa setiap tahunnya terjadi perubahan penutupan/penggunaan lahan berupa penurunan ataupun penambahan luasan pada setiap jenis kelas penutupan/penggunaan lahan. Perubahan penutupan/penggunaan lahan tahun 2001 ke tahun 2016 disajikan pada Gambar 6.
Hasil interpretasi citra Landsat 7 ETM+ tahun 2001 dan citra Landsat 8
ETM+ tahun 2016 menujukkan bahwa hutan lahan kering primer mengalami
penurunan luas dari 45.921,10 ha menjadi 42.930,00 ha atau berkurang 6,51 % dari luas hutan lahan kering primer pada tahun 2001. Penurunan ini terjadi karena hutan lahan kering primer terkonversi menjadi hutan lahan kering sekunder, semak belukar dan pertanian lahan kering. Hal yang sama terjadi pada kelas hutan lahan kering sekunder, hutan lahan kering sekunder mengalami penurunan luas dari 51.462,25 ha menjadi 50.030,00 ha atau berkurang 2,78 % dari luas hutan lahan kering sekunder pada tahun 2001. Penurunan luasan hutan lahan kering sekunder terjadi karena adanya konversi menjadi hutan primer, semak belukar, pertanian lahan kering, lahan terbuka dan tubuh air di tahun 2016. Kelas lahan terbuka juga mengalami penurunan luasan dari 75,70 ha di tahun 2001 menjadi 75,52 ha di tahun 2016 atau berkurang 0,25 % dari luas lahan terbuka di tahun 2001. Penurunan ini terjadi karena adanya konversi lahan terbuka di tahun 2001 menjadi semak belukar dan pertanian lahan kering di tahun 2016. Hal yang sama juga terjadi pada kelas tubuh air, tubuh air mengalami penurunan luas dari 520,77 ha di tahun 2001 menjadi 509,15 ha di tahun 2016 atau bekurang 2,23 % dari luas tubuh air di tahun 2001. Hal ini terjadi karena adanya konversi tubuh air menjadi hutan sekunder. Untuk kelas semak belukar, semak belukar mengalami penambahan luasan dari 15.758,38 ha di tahun 2001 menjadi 16.680,00 ha di tahun 2016, atau bertambah 5,85 % dari luas semak belukar di tahun 2001. Hal ini terjadi karena adanya konversi lahan dari hutan lahan kering primer, hutan lahan kering sekunder, pertanian lahan kering dan lahan terbuka di tahun 2001 menjadi semak belukar di tahun 2016. Hal yang sama juga terjadi kelas pertanian lahan
25 kering, pertanian lahan kering mengalami penambahan luasan dari 2.957,39 ha di tahun 2001 menjadi 6.038,55 ha di tahun 2016 atau mengalami penambahan luas 104,18 % dari luas pertanian lahan kering ditahun 2001. Hal ini terjadi karena adanya konversi hutan lahan kering primer, hutan lahan kering sekunder, semak belukar, pertanian lahan kering dan lahan terbuka di tahun 2001 menjadi pertanian lahan kering di tahun 2016. Hal ini juga terjadi pada kelas sawah, sawah mengalami penambahan luas 66,77 ha di tahun 2001 menjadi 435,14 ha di tahun 2016 atau mengalami penambahan luas 551,70 % dari luas sawah di tahun 2001. Hal ini terjadi karena adanya konversi semak belukar dan pertanian lahan kering di tahun 2001 menjadi sawah di tahun 2016. Permukiman juga mengalami penambahan luasan dari 128,92 ha di tahun 2001 menjadi 192,92 ha ditahun 2016 atau bertambah 49,65 % dari total luas permukiman di tahun 2001. Hal ini terjadi karena adanya konversi dari semak belukar, pertanian lahan kering dan sawah di tahun 2001 menjadi permukiman di tahun 2016.
Hasil interpretasi citra Landsat 8 ETM+ tahun 2016 berupa kelas
penutupan/penggunaan lahan dilakukan uji akurasi hasil interpretasi citra. Uji akurasi dilakukan untuk mengetahui sejauh mana keakuratan interpretasi citra yang telah dilakukan. Pengujian tersebut dilakukan dengan membandingkan data hasil interpretasi citra tahun 2016 dengan data hasil observasi lapangan tahun 2016. Hasil uji akurasi diperoleh dari tabel confusion matriks model overall accuracy disajikan pada Lampiran 1.
Lampiran 1 memberikan informasi total pengambilan titik sampel pada setiap kelas penutupan/penggunaan lahan yang berjumlah 185 titik. Bagian baris
merupakan total titik data hasil interpretasi citra Landsat 8 ETM+ tahun 2016,
pada bagian kolom menunjukkan total titik data hasil pengecekan lapangan, sedangkan pada bagian diagonal menunjukkan jumlah titik sampel setiap kelas penutupan/penggunaan yang terbukti benar setelah dilakukan pengecekan lapangan. Data interpretasi pada C1.1 diambil titik sampel sebanyak 25 titik, tetapi berdasarkan hasil ground check hanya 20 titik yang sesuai, sementara 5 titik lainnya ditemukan pada C1.2 dan C1.5. Data interpretasi pada C1.2 dari total 25 titik sampel hanya terdapat 20 titik yang sesuai di lapangan, 5 titik lainnya
26 ditemukan di C1.4 dan C1.5. Data interpretasi pada C1.3 dari 25 titik sampel yang diambil hanya terdapat 21 titik yang sesuai di lapangan, 4 titik lainnya ditemukan pada C1.2. Data interpretasi pada C1.4 sama halnya pada C1.3, dari 25 titik sampel yang diambil di lapangan, 4 titik lainnya ditemukan di C1.3 dan C1.5. Data interpretasi pada C1.5 dari 25 titik sampel hanya 22 titik yang terbukti dilapangan, 3 titik lainnya ditemukan di C1.4. Data interpretasi pada C1.6 dari 25 titik sampel yang diambil 21 titik yang sesuai di lapangan, 4 titik lainnya ditemukan di C1.4, sedangkan data titik sampel hasil interpretasi yang semuanya terbukti benar di lapangan terdapat pada hasil interpretasi C1.7 dan C1.8.
Hasil dari confusion matriks titik pengecekan lapangan masing-masing kelas penutupan/penggunaan lahan, diketahui terdapat 185 titik sampel (N). Jumlah titik yang terbukti benar dilapangan sebanyak 160 titik (X). Dari hasil tersebut kemudian dilakukan uji akurasi berupa overall accuracy untuk mengetahui persentase tingkat kepercayaan dari masing-masing kelas penutupan/penggunaan lahan pada DAS Bonehau.
Overall accuracy menujukkan tingkat kepercayaan hasil interpretasi citra
Landsat secara keseluruhan. Dengan melihat keberagaman kelas
penutupan/penggunaan lahan pada DAS Bonehau dan hasil perhitungan overall accuracy yaitu 86,5 %, hal ini menujukkan bahwa hasil interpretasi citra Landsat dapat diterima.