• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS

B. Penyajian Data dan Analisis

Dalam setiap penelitian haruslah disertai dengan penyajian data sebagai penguat, sebab inilah yang telah dianalisa data yang telah digunakan, sehingga dari data yang dianalisa tersebut dihasilkan suatu kesimpulan.

Adapun dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode observasi, interview, dokumenter dan data lapangan sebagai alat untuk meraih tujuan serta mendapatkan data sebanyak mungkin, akan tetapi lebih memberikan porsi yang lebih intensif pada metode observasi dan interview guna mendapatkan data yang kualitatif dan autentik yang berimbang, dan dilakukan dengan menggunakan metode dokumenter.

Dalam penelitian ini peneliti berusaha memaparkan gambaran tentang Kepemimpinan Kiai Dalam Pengembangan Sekolah Di SMK A-Imam Kalisat Jember, dengan fenomena dan data yang telah diperoleh dilapangan dan setelah mengalami proses peralihan data dengan berbagai metode yang digunakan yakni dari data yang khusus ke data yang umum, pada akhirnya sampai pada pembuktian data, karena data yang diperoleh sudah dianggap represrntative untuk dijadikan sebuah laporan.

Sebagaimana telah dijelaskan bahwa dalam penelitian ini menggunakan metode observasi, interview dan dokumenter sebagai alat untuk meraih data sebanyak mungkin terhadap berbagai hal yang berkaitan dan mendukung untuk mengeksplorasi dan mengumpulkan data dalam penelitian ini.

Untuk mendapatkan data yang berkualitas dan intensifikasi secara beruntun akan disajikan data tentang :

1. Kepemimpinan Situasional Kiai Dalam Pengembangan Sekolah Di SMK AL-Imam Kalisat Jember Tahun Pelajaran 2017/2018

Kepemimpinan merupakan sesuatu yang penting dalam kehidupan suatu lembaga pendidikan, karena pada sekelompok manusia yang di dalamnya selalu mendambakan untuk dapat menikmati hidup yang layak baik lahir maupun batin yang selalu mendapat perlindungan dan pelayanan dari seorang pemimpin. Pada dasarnya tipe kepemimpinan merupakan suatu pendekatan yang menekankan pada asumsi bahwa perilaku tertentu dalam mempengaruhi bawahannya untuk ikut dalam menentukan keberhasilan dalam kepemimpinannya.

Dari sisi lain walaupun semua kepemimpinan mencangkup penggunaan kemampuan yang dimiliki untuk mempengaruhi pihak lain, namun tetap para pemimpin berbeda-beda dalam menggunakan tipe kepemimpinan dalam rangka mencapai tujuan.

Tipe kepemimpinan terkadang bisa berubah-ubah, tergantung situa dan kodisinya untukmenerapkan sebuah tipe kepemimpinan dalam mejalankan roda organisasi untuk pencapaian tujuan sebuah lembaga pendidikan tersebut.

Menurut KH. Akhmad Zuhri selaku kiai (Pengasuh) PP Al-Imam berpendapat mengenai kepemimpinan kiai situasional dalam pengembangan sekolah adalah sebagai berikut:

“Yang mempunyai kewenangan penuh dalam sekolah itu adalah saya, mau di bagaimanakan sekolah tersebut. Setiap kebijakan sekolah harus ada persetujuan saya sepertihalnya SK guru, gajinya guru dan yang berhak memberhentikan kepala sekolah dan guru itu semua adalah saya karena sekolah berada dibawah naungan pondok pesantren jadi pertanggung jawabannya kepada saya.

Kepala sekolah dalam mengatur lingkungan sekolah ada batasan-batasannya juga karena kepala sekolah hanya sebagai pelaksana saja dari kebijakan kiai dan kepala sekolah tidak bisa melenceng dari kebijakan/aturan yang sudah ditetapkan oleh kiai, aturan/kebijakan sekolah dikeluarkan berdasarkan hasil rapat bersama, akan tetapi rapat itu tidak sah apabila tidak dihadiri oleh kiai itu yang pertama, yang kedua rapat meskipun sudah mencapai forum tapi kiai tidak setuju maka itu harus dikaji ulang lagi.”115 Berdasarkan uraian wawancara tersebut, kiai merupakan sosok yang mempunyai kewenangah penuh dalam sekolah karena sekolah berada di bawah naungan pondok pesantren dan memiliki sekolahnya adalah kiai, jadi secara otomatis kiai yang merupakan pemilik sekolah dalam memanajemen sekolah semua terserah kiai seperti SK guru, honor guru, dan kewenangan memberhentikan kepala sekolah dan guru semuanya kiai yang memutuskan hal tersebut, mau di bagaimanakan sekolah itu, semuanya haknya kiai.

Kepala sekolah merupakan pelaksana saja dari kebijakan kiai, semua yang sudah ditetapkan oleh kiai yang menjalankan adalah kepala sekolah dan karyawan lainnya, semua kebikan yang sudah ditetapkan oleh kiai harus ditaati karena itu merukan amanah dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan, kepala sekolah tidak bisa keluar dari batasan-batasan yang sudah ditetapkan oleh kiai, keputusan/kebijkan yang ditetapkan tidak semata-mata hanya dipuskan sepihak oleh kiai saja melaikan itu semua

115 Akhmad Zuhri, Wawancara, Kalisat, 14 September 2017.

hasil rapat/musyawarah bersama dalam menetapkan sebuah kebijakan yang akan dilaksanakan disekolah.

Pelaksanaan rapat harus diikuti oleh kiai, karena rapat tersebut tidak akan sah apabila kiai tidak ikut serta dalam rapat tersebut yang itu menyangkut kepentingan sekolah, meskipun rapat sudah disepaki bersama apabila kiai tidak setuju mengenai rapat yang sudah diadakan maka semua itu harus di diskusikan lagi karena kiai tidak setuju terkait apa yang sudah dibicarakan di dalam rapat tersebut. Semua kebijakan bisa dilaksanakan apabila itu semua mendapatkan persetujuan dari kiai. Kiai bersikap seperti itu karena itu merupakan hak dan kewajiban seorang kiai yang merupakan pemilik sekolahan tersebut.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti pada tanggal 18 September 2017 di SMK Al-Imam mengadakan rapat terkait kedisiplinan guru/pegawai/siswa, dalam rapat tersebut titik fokusnya terletak pada kiai. Artinya kebijakan akhir yang diambil dalam rapat ada pada kiai, peserta rapat tidak mempunyai keleluasaan untuk memilih dan memutuskan hasil dari rapat yang sudah di adakan meskipun itu kepala sekolah sekalipun merekan hanya sebagai penyumbang ide-ide saja dalam pelaksanaan rapat tersebut.116

Menurut Erika Darmayanti selaku kepala sekolah SMK Al-Imam berpendapat mengenai kepemimpinan kiai situasional dalam pengembangan sekolah adalah sebagai berikut:

116 Observasi, Kalisat, 18 September 2017

“Kepemimpinan kyai masih cenderung ke pengambilan keputusan secara sepihak, semua kebijakan terletak kepada keputusan kiai, kami hanya bisa bilang setuju…setuju..saja, kalok istilah saya (ABS : Asal Bapak Senang), akan tetapi masih ada sisi positif dan negatif di dalamnya, positifnya dalam masalah internal diselesaikan secara kekeluargaan seperti keaktifan guru-guru, kerajinan guru-guru dan lainnya, negatifnya kiai dalam mengambil sebuah kebijakan kurang professional, contohnya seperti kelulusan siswa dan promosi sekolah (PPDB) penerimaan peserta didik baru, semuanya itu kyai ikut andil didalamya khusnya untuk anak pondok. kyai menjadi penasehat untuk bawahannya bisa dibilang payungnya sekolah. Kepemimpinan yang seperti itu sudah biasa menurut saya dalam lembaga pendidikan yang dinaungi oleh pondok pesantren, masih bisa dikatakan cukup baik meskipun dengan kepemimpinan yang sedemikian, dari pada lembaga yang penah saya temui yang itu lebih parah lagi kepemimpinannya dari pada disini.”117

Mengenai pengembangan sekolah SMK Al-Imam menurut Erika Darmayanti berpendapat bahwa:

“Dalam rangka pengembangan sekolah semuanya atas kerjasama kyai dan para karyawan sekolah lainnya bisa berkembang sampai sekarang yaitu sudah bisa melaksanakan tupoksinya masing-masing dengan baik. Akan tetapi semua itu tidak terlepas dari pengawasan kyai dalam pelaksanaannya.”118

Dari hasil wawancara diatas menunjukkan bahwa kepemimpnan kiai tidak terlepas dari tipe kepemimpinan otokratis, karena kebijakan selalu kiai yang memutuskan dan harus didengarkan oleh yang lainnya (Asal Bapak Senang), selain kai tidak bisa menetapkan sebuah kebijakan didalam sekolah tersebut, seperti kelulusan seiswa kiai ikut sera didalamnya dalam memutuskan kebijakan untuk siswa khususnya anak pondok.

117 Erika Darmayanti, Wawancara, Kalisat, 14 September 2017.

118 Erika Darmayanti, Wawancara, Kalisat, 14 September 2017.

Untuk pengembangan sekolah semua dilakukan atas kerjasama kiai dan karyawan sekolah sehingga sekolah bisa berkembamg maju lebih baik dari pada sebelumbya, karena guru dan karyawan sekolah sudah tahu akan tupoksinya masing-masing sehingga pelaksanaannya menjadi lancar dan maksimal.

Hal senada disampaikan oleh M. Ali Imron selaku Waka Sarpras SMK Al-Imam berpendapat sebagai berikut:

“Kyai dalam kepemimpinannya menurut saya selama berada disekolah ini tidak bisa diganggu gugat kalau sudah menentukan sebuah kebijakan, apa dan bagaimana kemauan kyai harus diikuti, seperti halnya dikeritik masalah anak pondok yang jarang masuk sekolah tapi tetap dinaikkan kelas, kyai tidak mau dikritik terkait hal tersebut alasannya anak pondok sedikit dan takut berhenti santrinya klok tidak dinaikkan kelas. Jika memaksa maka kiya akan ambil tindakan dengan memecat karyawan tersebut yang tidak mengikuti aturannya. Kyai kurang mengayomi terhadap bawahannya, jika ada permasalah disekolah seringkali di selesaikan sendiri tanpa ada kordinasi dan musyawaroh kepada guru-guru lain akibatnya semangat guru menjadi berkurang atas tindakan tersebut. Untuk sarpras, seperti pembangunan sekolah kyai yang menghendel semuanya terutama pemilihan tukang dan gaji tukang semua kyai yang menentukan, semua yang berkaitan tentang pembangunan sekolah kyai yang menanganiya tanpa ada campur tangan yang lainnya alasanya karana kyai bisa memantau jalannya pembangunan tersebut sehingga sesuai dengan yang beliau inginkan. ”119

Menurut M. Ali Imron terkait pengembangan sekolah bahwa:

“Selalu menjalin interaksi yang dekat kepada pengambil kebijakan dana bantuan dan melakukan lobi, relasi serta komitmen pekerjaan harus selesai pada waktunya, semua itu dilakukan oleh kyai dan kepala sekolah untuk menjalin relasi dengan pihak yang akan memberikan bantuan.”120

119 Ali Imron, Wawancara, Kalisat, 04 November 2017.

120 Ali Imron, Wawancara, Kalisat, 04 November 2017.

Dari pernyataan M. Ali Imron bahwa kepemimpinan kyai lebih kepada kepemimpinan otokratis, semua keputusan terletak pada kyai yang merupakan keputusan final dan keputusan/kebijakan yang sudah ditetapkan tidak boleh di bantah atau diganggu gugat, semuanya harus mengikuti kemauan kyai, apabila tidak ditiruti maka akan menanggung resikonya sendiri, bisa-bisa dipecat dari sekolah tersebut. Seperti pembanguna sekolah, semua itu kyai yang menanganinya tanapa ada campur tangan dari dari yang lainnya.

Dalam pengembangan sekolah tidak terlepas dari peran kyai, kepala sekolah dan karyawan lainnya, kyai dan kepala sekolah sudah bisa menjalin relasi dan lobi dengan pihak bantuan serta bisa berkomitmen dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan sekolah.

Hasil dokumentasi yang peneliti dapatkan. Seperti halnya dalam rapat kenaikan kelas hususnya anak pondok yang sekolah di SMK. Ketika guru telah memutuskan kepada salah satu siswa untuk tidak dinaikkan kelas karena telah dianggap tidak sesuai dengan kriteria kenaikan kelas, pada kenyataannya hal tersebut masih bisa dipertimbangkan bahkan, siswa tersebut masih bisa naik kelas ketika rapat. Mengapa demikian karena setiap rapat kenaikan kelas kyai selalu ikut andil dalam rapat tersebut.

Hal tersebut sesuai dengan kebijakan kyai tentang kenaikan kelas anak pondok yang sekolah SMK akan tetap naik kelas selama mereka taat aturan pondok dan patuh apa yang disarankan oleh kyai.121 Hal tersebut

121 Dokumentasi (Data-data siswa 2017/2018), SMK Al-Imam Kalisat, 14 September 2017.

dikuatkan oleh pernyataan salah satu santri yang mondok sekaligus siswa kelas XI di SMK Al-Imam, yaitu Muhammad Noval mengatakan bahwa:

“Selama saya dan anak pondok lainnya tidak menentang kyai dan selulu nurut aturan-aturan dari beliau, kami pasti akan naik kelas, meskipun kata guru-guru tidak akan dinaikkan kelas apabila kata kyai akan dinaikkan pasti akan naik kelas, karena tidak akan ada yang berani menentang keputusan kiyai.”122

Dari hasil wawancara diatas dapat dianalisis bahwa anak pondok yang sekolah di SMK tidak perlu cemas atau khawatir masalah naik tidaknya tentang kenaikan kelas, dikarenakan selama mereka nurut dan taat kepada kiyai mereka akan tetap aman di sekolah, artinya kiyai akan ikut campur di dalam kebijakan sekolah apabila itu berkaitan dengan anak yang mondok di pesantrennya dan menggunakan kekuasaan sebagai pengasuh untuk membuat anak pondok tetap aman disekolah selama mereka taat kepada kyai.

Menurut Rina Rahayuningsih selaku Bendahara SMK Al-Imam berpendapa bahwa:

“Memang benar bahwa kyai dalam memutuskan kebijakan dalam pelaksanaan rapat selalu memutuskan atas kehendaknya beliau sendiri, tetapi tergantung situasi dan kondisi kyai, dalam forum musyawarah bisa berjalan dengan lancar apabila kondisi kyai dalam keadaan tenang tanpa ada masalah baik itu masalah pribadi atau maslah yang berkenan dengan sekolah, begitu juga sebaliknya, apabila kyai ada masalah maka semuanya akan cenderung otokratis dan semua kemauannya harus dituruti tanpa terkecuali, apabila tidak dituruti kemauan beliau maka semua karyawanpun dalam forum tersebut akan terkena imbasnya juga. Tapi beliau memang lebih sering keotoktarisnya dalam memutuskan sebuah kebijakan tanpa memperhitungkan pendapat yang lain apakan setuju atau tidak, terutama pembiayaan pembangunan sekolah dan pembagian gaji guru/honor, yang menentukan honor guru mau dikasik berapa

122 Muhammad Noval, Wawancara, Kalisat, 14 September 2017.

yang menentukan adalah kyai. yang pasti…kalok beliau sudah memutuskan kebijakan harus dituruti mau tidak mau, suka tidak suka kami harus nurut aja apa yang sudah beliau tentukan.”123 Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa kyai tidak selamanya kepemimpinanya otokratis melainkan tergantung situasi dan kodisi kyai itu sediri, kyai akan cenderung otokratis ketika beliau kondisinya sedang tidak setabil atau sedang ada problem, jida kondisi kyai seperti itu maka dalam pelaksanaan musyawarah tersebut tidak akan kondusif dikarnakan kondisi kyai yang kurang memungkinkan, jika seperti itu kyai tidak akan memikirkan lingkungan sekitarnya melainkan kyai akan bertindak atas kemauannya sediri tanpa memikirkan yang lainnya.

Seperti pembiayaan untuk pembangunan sekolah dan pemberian gaji untuk guru, masalah pembiayaan yang berkaitan dengan pembangunan sekolah dan honor guru yang menentukan/menangani adalah kyai karena menurut beliau, beliaulah yang berhak menentukan gaji untuk setiap guru mau berikan berapa.

Meskipun kondisi kyai baik tidak ada problem apapun, kyai tetap akan congdong kepada otokratis kepemimpinannya akan tetapi dalam pelaksaaan rapat akan lebih kondusif apabila kyai dalam keadaan tenang tanpa ada problem apupun dibandingkan ketika kondisi kyai yang sedang ada problem.

Menurut Lya Vestiarini selaku Waka Kurikulum SMK Al-Imam berpendapa bahwa:

123 Rina Rahayuningsih, Wawancara, Kalisat, 15 September 2017.

“Pada proses pengambilan keputusan memang tetap mengacu pada proses-proses demokratis, akan tetapi dalam proses pengambilan keputusan memang tidak terlepas dari ide-ide yang ada pada perkembangan musyawarah, tapi semua itu akan mengacu pada satu keputusan yang tidak harus disepakati oleh peserta musyawarah yaitu keputusan kyai seperti jadwal kegiatan/hari efektif sekolah dan penentuan mata pelajaran yang akan dipegang oleh guru, keputusan tersebut diambil oleh kyai sebagai keputusan final, karena demokratis yang di terapkan di dunia barat tidak selamanya cocok dengan dinamika sekolah yang berada dibawah naungan pondok pesantren. Selebihnya kyai mengikuti prosedur yang sudah ditetapkan oleh pusat terkait kurikulum. ”124

Kiyai dalam proses pengambilan keputusan tidak terlepas dari unsur-unsur musyawarah, kyai selalu menampung dan menerima usulan-usulan dari peserta musyawarah untuk membuat jalannya musyawarah tetap kondusif dan aktif, meskipun demikian keputusan akhir dari hasil musyawaroh terletak kepada kyai yang itu tidak harus ada persetujuan dari siapapun, karena keputusan kyai merupakan keputusan final yang siapapun harus setuju atas keputusan yang sudah dikeluarkan oleh seorang kyai.

Berdasarkan hasil wawancara , bahwasannya kepemimpinan otokratis kyai dalam pegembangan sekolah di SMK AL-Imam Kalisat Jember Tahun Pelajaran 2017/2018 adalah semua keputusan terletak pada kyai yang merupakan keputusan final dan keputusan/kebijakan yang sudah ditetapkan tidak boleh di bantah atau diganggu gugat, semuanya harus mengikuti kemauan kiyai (Asal Bapak Senang) apabila tidak dituruti maka akan mendanggung resikonya sendiri, bisa-bisa dipecat dari sekolah tersebut.

124 Lya Vestiarini, Wawancara, Kalisat, 18 September 2017.

Berdasarkan hasil wawancara, observasi dan dokumentasi yang dilakukan peneliti di SMK AL-Imam Kalisat Jember mengenai kepemimpinan kiyai otokratis dalam pengembangan sekolah di SMK AL-Iman Kalisat dapat disimpulakan bahwa kebijakan penuh yang diambil dalam setiap rapat ada pada kiyai, peserta rapat tidak mempunyai keleluasaan untuk memilih dan memutuskan dari hasil rapat yang sudah di adakan sekalipun itu kepala sekolah, seperti : 1). Penetapan SK guru, 2).

Kewenangan memberhentikan kepala sekolah dan guru. 3). Kelulusan siswa, 4). Sarpras (pembangunan sekolah), 5). Keuangan (pemberian gaji/honor guru), 6). SDM (perekrutan guru dan PPDB), 7). Kurikulum ( mata pelajaran yang akan dipegang oleh guru, dan jadwal kegiatan/hari efektif sekolah). Semua itu menunjukan bahwa dalam kepemimpinannya kyai selalu otokratis dalam mengambil sebuah kebijakan yang berada di sekolah, entah itu terkait sarpras, keuangan, SDM, dan kurikulum.

2. Kepemimpinan Demokratis Kiai Dalam Pengembangan Sekolah Di SMK AL-Imam Kalisat Jember Tahun Pelajaran 2017/2018

Kepemimpinan yang demokratis memiliki kemampuan menerima saran-saran dan pendapat dari orang lain dalam rangka mensukseskan tujuan dari sebuah organisasi, bermusyawarah merupakan hal yang dibutuhkan dalam tipe ini, kerena dengan adanya musyawarah atau pendapat dari orang lain akan muncul sebuah kemufakatan bersama untuk ketercapaian tujuan organisasi atau sebuah lembaga pendidikan sehingga terlaksanalah visi dan misi sekolah tersebut atas kesepakatan bersama.

Tipe kepemimpinan demokratis ini memberikan kebebasan terhadap bawahannya untuk mengutarakan pendapat dan ide-ide yang dimilikinya tanpa ada rasa takut dan sungkan, karena dalam tipe ini pendapat dan ide-ide dari bawahan merupakan hal yang penting untuk membuat sekolah menjadi lebih baik dan berkualitas.

Tipe ini sering kali dipakai oleh kyai secara baik dalam melakukan musyawarah yang berkenaan terkait program yang akan dilakukan oleh sekolah, dengan melibatkan beberapa staf yang ada disekolah tersebut.

Menurut KH. Akhmad Zuhri selaku kyai (Pengasuh) PP Al-Imam mengutarakan pendapatnya mengenai Kepemimpinan Kyai dalam pengembangan sekolah bahwa:

“Dalam memutuskan sebuah kebijakan sekolah tidak sembarangan memutuskan sendiri, itu semua ada campur tangan dari kepala sekolah dan staf lainnya yang berada di sekolah.

Semua hal yang berkenaan tentang program atau kegiatan yang akan dilakukan di sekolah akan di musyawarahkan secara bersama seperti penentuan kepala sekolah dan waka, itu semua dipuskan secara musyawarah. Dengan beberapa pertimbangan, pendapat-pendapat yang diutarakan akan disaring dan akan dipilih beberapa pendapat yang itu memang merupakan pendapat yang paling tepat dari pendapat lainnya untuk membuat sekolah menjadi maju dan berkualiatas. Tapi yang mempunyai wewenang untuk metuskan yang mana yang baik buat sekolah itu adalah saya, pendapat tersebut bisa disetujuai asalkan saya setuju.”125

Berdasarkan hasil wawancara di atas, program atau kegiatan yang di jalankan oleh sekolah selalu di musyawarahkan bersama guru-guru, karena untuk mengeluarkan sebuah kebijakan tidak sembarangan mengeluarkan begitu saja. Dengan adanya musyawarah hasil yang di

125 Akhmad Zuhri, Wawancara, Kalisat, 14 September 2017.

peroleh bisa lebih maksimal karena di dalam musyawarah akan banyak usulan-usulan yang berbeda-beda, sehingga dengan begitu bisa memilih yang mana yang baik untuk sekolah itu yang akan dipilih. Kebijakan bisa bisa dikeluarkan apabila ada persetujuan oleh kyai.

MenurutErika Darmayanti selaku kepala sekolah SMK Al-Imam berpendapat bahwa:

“Musyawarah itu memang penting untuk memperoleh hasil yang baik untuk sebuah lembaga pendidikan, baik itu terkait peserta didik, guru-guru, dan lembaga itu sendiri, karena dengan adanya musyawarah semuanya akan berperan di dalamnya, artinya elemen-elemen yang ada disekolah akan memiliki rasa tanggung jawab penuh terhadap kepentingan sekolah. Seperti halnya untuk membuat sekolah lebih baik atau berkualitas dari pada sebelumnya, semua itu dilakukan atas kerja keras dan kerjasama guru-guru dan karyawan yang lainnya dengan didasari dari hasil musyawarah.”126

Berdasarkan hasil wawancara di atas menurut Erika Darmayanti selaku kepala sekolah bahwasannya musyawarah merupakan hal yang penting harus dilakukan untuk memperoleh hasil yang baik yang sesuai dengan visi dan misi sekolah, kerena dengan musyawarah akan muncul gagasan-gasan dari peserta musyawarah yang akan mengantarkan sekolah ke jalan kesuksesan dan akan menumbuhkan rasa tanggung jawab yang besar terhadap sekolah karena sudah diperca untuk ikut andil dalam rangka membuat sekolah lebih maju dan berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik khususna..

Sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Bapak Didik Hartono selaku Waka Humas SMK Al-Imam berpendapat bahwa:

126 Erika Darmayanti, Wawancara, Kalisat, 14 September 2017.

“Melakukan Musyawarah itu penting, karena dengan begitu bisa menambahkan motivasi guru-guru dan bisa memecahkan sebuah masalah dengan baik-baik sehingga solusi atau hasil yang didapatkan dengan demokratis akan memperoleh hasil yang baik untuk internal sekolah hususnya bagi lembaga.”127

Berdasarkan pernyataan-pernyataan yang telah diungkapka oleh waka humas Bapak Didik Hartono bahwa melakukan musyawarah merupakan hal yang penting demi mendapatkan hasil yang baik untuk sekolah. Dengan musyawarah juga bisa menambah motivasi guru-guru, karena dengan mereka ikut andil dalam forum musyawarah guru-guru akan merasa bahwa mereka memang sangat dibutuhkan dan tidak diabaikan oleh sekolah.

Menurut Erfan Bahtiar selaku Kajur TKJ SMK Al-Imam berpendapat bahwa:

“Pada intinya ketika musyawarah itu masih bisa di terima pendapatnya dan cocok dengan apa yang diinginkan oleh kyai, maka kiyai lebih cenderung mengikuti keputusan dan pandangan dari hasil musyawarah tersebut, kyai hanya akan memberikan pandangan atau arahan saja terhadap usulan yang diajukan.”128 Dari pernyataan Erfan Bahtiar selaku KAJUR TKJ berpendapat bahwa Kyai bisa menerima usulan dan keputusan dari peserta rapat apabila usulan dan keputusan tersebut sesuai dengan keinginan dan harapa kyai.

Kyai hanya hanya memberikan arahan saja ketika musyawarah berlangsung selama usulan dan pendapat masih bisa diterima oleh kyai.

Menurut Bapak Saudi Selaku Kajur TSM SMK Al-Imam berpendapat bahwa:

127 Didik Hartono, Wawancara, Kalisat, 10 Oktober 2017.

128 Erfan Bahtiar, Wawancara, Kalisat, 11 Oktober 2017.

Dokumen terkait