BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Penyajian data
Untuk mengetahui hasil penelitian sistem pengupahan kebun sawit di Desa Pasar Kembang Kecamatan Keritang Kabupaten Indragiri Hilir. Akan dijelaskan dalam beberapa penyajian data dari pihak pemilik kebun sawit yang menjadi subjek dalam penelitian ini. Berikut adalah hasil wawancara dari subjek penelitian tersebut.
1. Subjek
Nama : Jamhuri
Jabatan : Pemilik kebun sawit Hari/Tanggal : Kamis/14 Mei 2020 Pukul : 12.53-13.10 WIB
Tempat : Parit Kongsi, Desa Pasar Kembang.
Bapak Jamhuri merupakan pemilik kebun sawit yang terletak di Dusun Binaria I Desa Pasar Kembang. Peneliti awalnya menanyakan kepada Bapak Jamhuri saat peneliti melakukan wawancara, yaitu:
a. Bagaimana sistem pengupahan yang dikelola dikebun sawit bapak, apakah menggunakan sistem harian, mingguan, bulanan atau borongan pak?
“Sistem pengupahan pada kebun saya sistem borongan”.13
b. Kenapa pak menggunakan sistem borongan?
“Karena menggunakan sistem borongan tak ada yang terikat, bebas orang yang pekerjanya, seperti kalau membronding, meracun, itu sistemnya sistem upah borongan tidak harian”.14
c. Kalau bapak dalam menetapkan upah itu apakah ada kesepakatan pak dengan pekerja?
“Ada kesepakatan, orang yang bekerja nanya, kalau saya meletakkan harganya apa sesuai apa tidak, kalau tidak sesuai dia naikkan harga, kalau sesuai dia tanggkap”. 15
d. Kapan pemberian upah itu dilakukan pak?
“Kalau sudah selesai dia membronding, menyemprot, langsung dibayar, langsung bayarkontan”.16
e. Jenis pekerjaan apa saja yang dikerja kan dikebun sawit milik bapak? “Jenis-jenis pekerjanya seperti naikkan lumpur supaya paritnya bagus alian airnya jadi kebun komposisinya jadi kering, buahnya meningkat, hasilnya itu jadi tidak semak paritnya lancar pengairannya. Jadi satu bulan ibarat itu, kalau kerja jatah satu bulan untuk kebun sawit (biaya perawatan kebun), yang dua bulan untuk orang tuan kebun (biaya hidup), jadi kebun itu bagus. Seperti
membronding, menyusun pelepah sawit, sudah bronding kan
13 Wawancara dengan Bapak Jamhuri, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 14 Mei 2020. 14 Wawancara dengan Bapak Jamhuri, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 14 Mei 2020 15 Wawancara dengan Bapak Jamhuri, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 14 Mei 2020 16 Wawancara dengan Bapak Jamhuri, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 14 Mei 2020
menyusun pelepah, mengambil hasinya mendodos, sudah bronding kan nanti sampai terip nya mendodos sawit langsung upah lanser nya”.17
f. Dari jenis-jenis pekerjaan yang bapak sebutkan berarti itu mempunyai upah kan pak. Itu setiap pekerjaan apakah ada perbedaan upah pak?
“Ada”.18
g. Contohnya seperti apa pak?
“Kalaudodos satu kilo Rp 2.00,-, kalo gali parit pakai depa kalau orang kini hari pakai meter, Rp 4.000,- permeter bisa juga Rp 5.000,- yang penting perundingan antara pekerja dengan yang punya”.19 h. Selain mendodos, bronding?
“Memupuk, memupuk hitung perkarung atau borongan”. 20
i. Kalau seperti pembersihan lain pak seperti menyemprot itu berapa pak?
“Menyemprot itu hitung per gelen berapa harga racun”.21
j. Bisa contohkan seperti apa pak, berapa harga racun itu maksudnya? “Kalau racun harganya Rp 300.000,- jadi borongannya Rp 300.000,-, itu kalau habis kalau tidak bisa juga pakai pakai satu tengki, per tengkinya Rp 5.000,-. Kalau yang mau upah tadi mau, tapi kebanyakan orang pakai borongan, saling tidak terikat”.22
k. Apakah dalam pengelolaan kebun sawit bapak itu, bapak memberikan bonus atau tunjangan?
17 Wawancara dengan Bapak Jamhuri, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 14 Mei 2020 18 Wawancara dengan Bapak Jamhuri, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 14 Mei 2020 19 Wawancara dengan Bapak Jamhuri, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 14 Mei 2020. 20 Wawancara dengan Bapak Jamhuri, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 14 Mei 2020. 21 Wawancara dengan Bapak Jamhuri, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 14 Mei 2020. 22 Wawancara dengan Bapak Jamhuri, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 14 Mei 2020.
“Saya tidak memberi tunjangan atau bonusan tapi satu tahun sekali dikasihlah THR kalau waktu lebaran”.23
l. Dalam bapak memberikan upah itu apakah ada kendalanya pak? “Tidak ada kendalanya, yang penting sesuai sama sesuai, cocok sama cocok, tidak saling mengena, yang pekerja senang yang tuan nya pun senang”.24
Pendapat Bapak Jamhuri sebagai pemilik kebun sawit di Desa Pasar Kembang mengenai sistem pengupahan kebunnya menggunakan sistem borongan dikarenakan dengan menggunakan sistem borongan maka pekerjanya bebas dan tidak terikat dalam mengelola kebun sawit miliknya. Untuk penetapan upah Bapak Jamhuri mengakatan ada kesepakatan yaitu dengan melakukan negosiasi atau berdiskusiterlebih dahulu mengenai upah dengan pekerja. Jenis jenis pekerjaan yang dikerjakan oleh pekerja di kebun sawit milik bapak Jamhuri yaitu
pendodosan (pemanenan buah sawit), bronding (memotong pelepah
sawit), penyemprotan, dan pemupukan.Untuk upah bapak Jamhuri mengakatan ada perbedaan upah pada setiap jenis pekerjaan yang dilakukan. Kemudian pemberian upah kepada pekerja dalam mengelola kebun sawit miliknya dilakukan setelah pekerja selesai mengerjakan pekerjaannya. Untuk tunjangan atau bonus Bapak Jamhuri tidak memberikan bonus setiap waktu kecuali tunjangan tahunan yaitu THR.
23 Wawancara dengan Bapak Jamhuri, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 14 Mei 2020. 24 Wawancara dengan Bapak Jamhuri, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 14 Mei 2020.
2. Subjek
Nama : Erwan
Jabatan : Pemilik kebun sawit Hari/Tanggal : Kamis/28 Mei 2020 Pukul : 11.15-11.30 WIB
Tempat : Parit Kongsi, Desa Pasar Kembang
Peneliti menanyakan kepada Bapak Erwan selaku pemilik kebun sawit di Dusun Binaria I Desa Pasar Kembang, dengan awal pentanyaan: a. Bagaimana sistem pengupahan dalam pengelolaan kebun sawit bapak, apakah mengunakan harian, borongan, mingguan atau bulanan?
“Kalau kebun sawit saya diupahkan secara borongan, dia kan tak setiap hari, misalnya sekali tiga bulan, kalau mendodos sekali lima belas hari sesuai dengan berapa banyaknya”.25
b. Apakah dalam penetapan upah itu ada kesepakatan dengan pihak pekerja nya pak?
“Untuk penetapan sesuai dengan keadaan lingkungan. Pengupah tidak merasa keberatan makanya dia bisa mengerjakan”.26
c. Kemudian pak, kapan bapak itu memberikan upah kepada pekerja? “Upah diberikan setelah uang diterima dari tokeh(dari pembeli buah sawit) tersebut, atau yang bekerja setiap hari membersihkan kebun setelah selesai, dibayar upahnya”.27
d. Dalam pengelolaan kebun sawit bapak itu, kan ada jenis-jenisnya itu pak?
25 Wawancara dengan Bapak Erwan, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 28 Mei 2020. 26 Wawancara dengan Bapak Erwan, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 28 Mei 2020. 27 Wawancara dengan Bapak Erwan, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 28 Mei 2020.
“Iyaa… misalnya pembersihannya lain upahnya, itu mungkin sekali tiga bulan, pemupukan lain upahnya, membuang pelepah lain pula upahnya, mendodos lain pula upahnya beda beda”.28
e. Setiap jenis pekerjaan beda-beda upahnya pak?
“Beda-beda upahnya, dia pun kalau dodos paling tidak sekali lima belas (15) hari, kalau buang pelepah sekali tiga (3) bulan ataupun pembersihan kebun tersebut mungkin juga sekali tiga (3) bulan itu bedanya, jadi beda upahnya”.29
f. Contohnya pak, seperti misalkan disebutkan kalau mendodos itu upahnya berapa?
“Mendodos (panen buah) perkilonya Rp 3.00,- perkilo, kalau buang
pelepah perbatang, satu batang Rp 5.000,- pembersihannya sesuai dengan harga racun, berapa harga racun kalau Rp 250.000,- lima liter ya Rp 250.000,- upahnya”.30
g. Kemudian berapa jumlah upah yang diberikan kepada pekerja bila selesai melakukan pekerjaannya misalkan pendodosan?
“Pendodosan tergantung banyak hasilnya dapat satu(1) ton ya
upahnyaRp 300.000,- satu (1) ton, upah lanser lagi”.31
h. Apakah dalam pengelolaan kebun sawit bapak itu ada memberikan tunjangan atau bonus kepada pekerja?
“Untuk bonus Paling-paling waktu hari lebaran mungkin THR, itu cuma”.32
i. Kemudian apakah ada kendala dalam memberikan upah ini bagi bapak?
“Rasa rasanya tak ada kendala kalau bagi pekerja tak tau juga”.33
28 Wawancara dengan Bapak Erwan, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 28 Mei 2020. 29 Wawancara dengan Bapak Erwan, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 28 Mei 2020. 30 Wawancara dengan Bapak Erwan, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 28 Mei 2020. 31 Wawancara dengan Bapak Erwan, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 28 Mei 2020. 32 Wawancara dengan Bapak Erwan, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 28 Mei 2020. 33 Wawancara dengan Bapak Erwan, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 28 Mei 2020.
Pendapat Bapak Erwan selaku pemilik kebun sawit di Dusun Binaria I Desa Pasar Kembang dalam pengelolaan kebun sawit miliknya menggunakan sistem borongan dikarenakan pemanenan buah sawit dilakukansetiap 15 hari sekali dan untuk perbersihan kebun sawit setiap 3 bulan sekali.Untuk penetapan upah dilihat pada keadaan lingkungan atau harga pasaran dan pekerja tidak keberatan dalam mengerjakan kebun miliknya. Adapun jenis pekerjaan yang dikelola dikebun sawit Bapak Erwan ialah mendodos (memanen buah), bronding (pembuangan pelepah), dan penyemprotan. Dalam pengelolaan kebun sawit bapak Erwan terdapat perbedaan upah dari setiap jenis pekerjaan yang dilakukan. Dalam pemberian upah Bapak Erwan memberikan upah setelah uang di terima dari tokeh (pembeli buah sawit) atau setelah pekerja selesai melakukan pekerjaannya. Untuk pemberiaan bonus Bapak Erwan hanya memberikan THR di waktu lebaran.
3. Subjek
Nama : Jumiati
Jabatan : Pemilik kebun sawit Hari/Tanggal : Minggu/31 Mei 2020 Pukul : 14.57-15.15 WIB
Tempat : Parit baru, Desa Pasar Kembang
Ibu Jumiati merupakan pemilik kebun sawit yang terletak Dusun Binaria I Desa Pasar Kembang. Peneliti awalnya menanyakan kepada bapak Jamhuri saat peneliti melakukan wawancara, yaitu:
a. Bagaimana sistem pengupahan dalam pengelolaan kebun sawit yang ibu miliki. Beliau menjawab:
“Yang saya miliki sistem pengupahannya adalah borongan”.34
b. Mengapa borongan bu?
“Ya karna borongan tadi kalau misalnya, tidak mungkin naik kan, per sekilo aja tentukan borongan. Selesai bekerja kan dihitung borongan baru disitu sistem pengupahannya”.35
c. Apakah dalam penetapan upah ada kesepakatan dengan pekerja sebelum melakukan pekerjaan?
“Jelas pasti ada”.36
d. Kapan pemberian upah itu dilakukan kepada pekerja?
“Untuk pemberian upah setelah pekerjaan itu selesai semua baru kita beri upah”.37
e. Kemudian jenis pekerjaan apa saja yang dikerjakan oleh pekerja dikebun sawit milik ibu?
“Ada beberapa jenis pekerjaan, yang pertama ibarat kalau saya dalam kebun sawit ini ada tiga, yang petama sistemnya seperti di piring ya, disinikan namanya dipiring untuk membersihkan batangnya tadi, yang kedua namanya tadi di bronding, dibronding itu adalah memotong pelepah sawit dan yang ketiga baru kita pupuk. Kemudian setelah itu baru kita dodos, kita dodos itu dalam lima belas (15) hari sekali minimal”.38
f. Kemudian apakah ada perbedaan dalam pemberian upah setiap jenis pekerjaan yang dilakukan?
“Ada, seperti yang tadi saya katakan kalau dipiring itu perbatang, sebatangnya Rp 3.000,- kemudian yang namanya dibronding tadi
34 Wawancara dengan Ibu Jumiati, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 31 Mei 2020 35 Wawancara dengan Ibu Jumiati, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 31 Mei 2020 36 Wawancara dengan Ibu Jumiati, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 31 Mei 2020 37 Wawancara dengan Ibu Jumiati, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 31 Mei 2020 38 Wawancara dengan Ibu Jumiati, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 31 Mei 2020
upahnya satu batangnya Rp 5.000,- kemudian penyemprotan itu tergantung antara pengupah sama yang punya kebun”.39
g. Kalau pemdodosan?
“Kalau pendodosan itu sistem perkilo, kalau perkilonya biasanya yang umumnya orang disini Rp 2.00,- pekilo, jadi kalikan aja berapa kilonya”.40
h. Berapa jumlah upah yang diberikan kepada para pekerja dalam mengerjakan kebun sawit ibu?
“Itu tadi sudah dikatakan bahwa setiap jenis pekerjaan tadi seperti
broding kan Rp 5.000,-miring Rp 3.000,- dan penyemprotan itukan
tergantung banyak, antara pekerja dengan pekebun tadi, jadi tergantung berapa kesepakatan nya aja”.41
i. Apakah ada bonus diluar upah yang diberikan kepada pekerja?
“Itu tergantung pekerjaannya kalau misalnya pekerjaan itu bagus, rajin, ya mungkin kita lebih dari pada pekerja yang biasa-biasa”.42 j. Apakah ada kendala dalam memerikan upah kepada pekerja bu?
“Kalau masalah kendala itu tergantung tadi, kalau orang itu malas tentu kita agak, gimana ya, kapok (jera) kata orang jawanya. Kapok kalau dia malas. Tapi kalau dia rajin ya InsyaAllahakan berlanjut seterusnya”.43
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti kepada Ibu Jumiati sebagai pemilik kebun sawit yang berada di Dusun Binaria I Desa Pasar Kembang pengelolaan kebun sawit miliknya menggunakan sistem upah borongan. Dalam penetapan upah Ibu Jumiati dengan pekerja ada kesepakatan sebelum mengelola kebun miliknya. Adapun jenis-jenis pekerjaan yang dikerjakan oleh pekerja dikebun sawit
39Wawancara dengan Ibu Jumiati, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 31 Mei 2020 40Wawancara dengan Ibu Jumiati, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 31 Mei 2020 41 Wawancara dengan Ibu Jumiati, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 31 Mei 2020 42 Wawancara dengan Ibu Jumiati, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 31 Mei 2020 43 Wawancara dengan Ibu Jumiati, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 31 Mei 2020.
miliknya antara lain adalah piring (membersihkan area sekitar pohon sawit), bronding (memotong pelepah sawit), dodos (panen buah sawit), dan penyemprotan. Dalam pemberian upah, ibu Jumiati memberikan upah setelah pekerjaan itu selesai. Dalam pengelolaan kebun sawit, ibu Jumiati mengatakan ada perbedaan pada setiap jenis pekerjaan yang dikerjakan oleh pekerja dan untuk tunjangan atau bonus ibu Jumiati akan memberikan apabila pekerja melakukan pekerjaannya dengan bagus, jika pekerja rajin dan bagus maka akan diberikan bonus lebih dari pekerja yang biasa-biasa saja.
4. Subjek
Nama : M. Andi
Jabatan : Pemilik kebun sawit Hari/Tanggal : Kamis/31 Mei 2020 Pukul : 14.13-14.30 WIB
Tempat : Parit Bandung, Desa Pasar Kembang
Bapak M. Andi merupakan salah satu pemilik kebun sawit yang terletak di Dusun Binaria I Desa Pasar Kembang. Peneliti pada awalnya menanyakan kepada Bapak Andi saat peneliti melakukan wawancara, yaitu:
a. Bagaimana sistem pengupahan dalam pengelolaan kebun sawit milik bapak?
“Untuk sistem pengupahan dikebun milik saya, saya menggunakan sistem borongan, karena hasil panen tidak dilakukan setiap hari yaitu lima belas (15) hari sekali”.44
b. Apakah dalam penetapan upah itu ada kesepakatan dengan pekerja nya?
“Kalau untuk kesepakatan dalam penetapan upah sudah ada perjanjian dari awal dengan pekerja”.45
c. Kapan pak pemberian upah itu dilakukan pak?
“Kalau untuk pemberian upah tergantung ya, tapi kalau untuk saya sendiri setelah pekerjaan selesai upah akan saya akan berikan kepada pekerja”.46
d. Jenis pekerjaan apa saja yang dikerjakan atau dikeola dikebun sawit milik bapak?
“Kalau untuk kebun milik saya pribadi saya mempekerjakan pekerja hanya untuk memanen selebihnya pekerjaan saya lakukan sendiri”.47
e. Berapa jumlah upah yang diberikan kepada pekerja dalam mengerjakan kebun sawit milik bapak?
“Untuk kebun sawit milik saya setiap pemanenan buah sawit saya selalu memberikan upah sesuai dengan angka pasaran upah disini yaitu Rp 2.00,- per Kg”.48
f. Apakah ada bonus diluar upah yang diberikan kepada pekerja atau tunjangan lainnya?
“Untuk bonus sesekali terkadang saya melebihkan untuk para pekerja”.49
g. Apakah ada kendala dalam memeberikan upah kepada para pekerja?
44 Wawancara dengan Bapak M. Andi, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 31 Mei 2020. 45 Wawancara dengan Bapak M. Andi, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 31 Mei 2020. 46 Wawancara dengan Bapak M. Andi, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 31 Mei 2020. 47 Wawancara dengan Bapak M. Andi, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 31 Mei 2020. 48 Wawancara dengan Bapak M. Andi, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 31 Mei 2020. 49 Wawancara dengan Bapak M. Andi, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 31 Mei 2020.
“Sama sekali tidak”.50
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti kepada Bapak Andi sebagai pemilik kebun sawit yang berada di Dusun Binaria I Desa Pasar Kembang dalam pengelolaan kebun sawit miliknya menggunakan sistem upah borongan, dikarenakan pemanenan buah sawit tidak dilakukan setiap hari melainkan hanya setiap 15 hari sekali. Dalam penetapan upah Bapak Andi ada kesepakatan yaitu melakukan perjanjian awal dengan pekerja. Dalam pengelolaan kebun sawit miliknya Bapak Andi hanya mempekerjakan pekerja untuk memanen buah sawit saja, untuk pekerjaan lainnya dilakukan dengan sendiri.Dalam pemberian upah Bapak Andi memberikan upah setelah pekerjaan itu selesai Untuk pemberian bonus, terkadang bapak andi memberikan secara lebih diluar upah kepada pekerja.
5. Subjek
Nama : Jelita
Jabatan : Pemilik kebun sawit Hari/Tanggal : Minggu/21 Juni 2020 Pukul : 15.58-16.15 WIB
Tempat : Parit Kongsi, Desa Pasar Kembang
Peneliti menanyakan kepada Ibu Jelita selaku pemilik kebun sawit yang berada di dusun Binaria I Desa Pasar Kembang, dengan pertanyaan awal yaitu:
50 Wawancara dengan Bapak M. Andi, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 31 Mei 2020.
a. Sistem pengupahan yang dipakai dikebun sawit ibu, memakai borongan, harian, bulan atau mingguan?
“Borongan”.51
b. Mengapa memakai borongan?
“Kalau pakai borongan itu kan hasil setiap terip, satu terip setengah bulan, jadi setiap terip itu berapa dapat hasil dari sawit itu, itulah yang dikasih upah yang kerja. Pekerja kan mendodos misalnya dapat satu sehari itu dapat berapa ton atau berapa pikul (kuintal) gitu itulah hasilnya”.52
c. Dalam penetapan upah ada tak perjanjian awal dengan pekerja sawit? “Ada, itu setiap pekerja itu pasti ada perwanjian awal, kalau tidak itu kan mana yang ambil upah yang mau tau hasilnya, jadi kalau sudah tau berapa, mau atau tidak yang pekerja, kalau dia mau berarti dia cocok rundingnya langsung dia dodos. Jadi setiap terip itu ada yang tetap yang kerja ada juga yang tidak. Jadi pasti ada perundinganlah”.53
d. Kapan pemberian upah dilakukan?
“Kalau pemberian upah pasti setiap selesai kerja lah, setiap selesai
dodos, nimbang, siap nimbang kita ambil uang di tokeh, langsung
dikasih”.54
e. Jenis pekerjaan yang dikerjakan dikebun sawit milik ibu, itu apa saja bu?
“Dodos sama nyemprot”.55
f. Ada perbedaan upah antara keduanya?
“Ada. Kalau dodos kami itu kan setiap terip Rp 3.00,- perkilo. Rp 3.00,- perkilo itu langsung bronding (buang pelepah) seberapa dapat lah pelepah itu. Jadikan tak ada lagi waktu hari untuk buang pelepah untuk hari lain, langsung dodos itulah langsung buang pelepahnya.
51 Wawancara dengan Ibu Jelita, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 21 Juni 2020. 52 Wawancara dengan Ibu Jelita, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 21 Juni 2020. 53 Wawancara dengan Ibu Jelita, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 21 Juni 2020. 54 Wawancara dengan Ibu Jelita, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 21 Juni 2020. 55 Wawancara dengan Ibu Jelita, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 21 Juni 2020.
Kalau upah semprot sistemnya itu borongan juga berapa tengki habisnya itu atau berapa liter satu kebun itu. Kadang-kadang habis juga dua liter kadang tak sampai kan. Jadi satu tengki itu upah Rp 10.000”.56
g. Berapa jumlah upah yang diberikan kepada pekerja dalam mengerjakan kebun sawit milik ibu?
“Itu dilihat pendapatan lah, kalau pendapatan satu (1) ton, dikali Rp 3.00,-dikali satu ton berapa. Jadi kalau hitungan pikul (kuintal) berapa pikul (kuintal) dapatnya, dapat dua pikul (kuintal) dapat tiga
pikul (kuintal) dikalikan Rp 3.00”.57
h. Apakah ada bonus atau tunjangan yang diberikan kepada pekerja diluar upah?
“Tidak ada”.58
i. Apakah ada kendala dalam memberikan upah?
“Juga tidak ada kendala, tidak ada kendala sudah sepakat dari awal”.59
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti kepada Ibu Jelita sebagai pemilik kebun sawit yang berada di Dusun Binaria I Desa Pasar Kembang, dalam pengelolaan kebun sawit miliknya menggunakan sistem upah borongan, dikarenakan pemanenan buah sawit dilakukan setiap 15 hari sekali dan tergantung dengan banyaknya jumlah hasil sawit yang di hasilkan. Dalam penetapan upah ibu Jelita ada kesepakatan yaitu melakukan perjanjian awal dengan pekerja. Jenis pekerjaan yang dikelola dikebun sawit milik ibu Jelita ialah pemanenan buah sawit dan
56 Wawancara dengan Ibu Jelita, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 21 Juni 2020. 57 Wawancara dengan Ibu Jelita, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 21 Juni 2020. 58 Wawancara dengan Ibu Jelita, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 21 Juni 2020. 59 Wawancara dengan Ibu Jelita, Pemilik Kebun Sawit, Pada Tanggal 21 Juni 2020.
penyemprotan. Ibu Jelita mengatakan dalam pengelolaan kebun nya ada perbedaan upah pada setiap bentuk pekerjaan yang dilakukan.Untuk pemberian upah ibu Jelita mengatakan bahwa pemberian upah dilakukan setelah pekerja selesai melakukan pekerjaannya. Dalam pengelolaan kebun sawit miliknya ibu Jelita tidak memberikan bonus kepada pekerja.
D. Validitas dan Reliabilitas Instrumen
1. Uji Kredibilitas (derajat kepercayaan/validitas internal)
Dalam penelitian ini,cara pengujian kredibilitas data hasil penelitianyang digunakan peneliti antara lain dilakukan dengan:
a. Peningkatan ketekunan dalam penelitian
Peningkatan ketekunan dalam penelitian yang dilakukan peneliti ialah dengan mengecek kembali apakah data yang telah dikumpulkan dan disajikan sudah benar atau belum yaitu dengan cara membaca berbagai referensi, buku, dan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan hasil penelitian yang telah didapatkan. Dengan membaca maka wawasan peneliti menjadi luas dan dapat digunakan untuk memeriksa data yang ditemukan salah atau tidak,sehingga data yang dibuat semakin berkualitas.
b. Menggunakan bahan referensi
Bahan referensi yang dimaksud ialah adanya pendukung untuk membuktikan data yang telah ditemukan peneliti. Dalam laporan penelitian ini, peneliti melengkapi hasil wawancara informan dengan
rekaman wawancara, foto-foto, dokumentasi, sehingga menjadi lebih dipercaya.
2. Pengujian Transferability (keteralihan/validitas eksternal)
Supaya orang lain bisa memahami hasil penelitian yang dilakukan peneliti dan nantinya hasil penelitian tersebut dapat diterapkan dan diaplikasikan, peneliti dalam membuat laporan dilakukan dengan memberikan uraian yang rinci, jelas, sistematis, dan dapat dipercaya. Dengan demikian, pembaca menjadi jelas atas penelitian ini, sehingga bisa memutuskan dapat atau tidak untuk diterapkan di tempat lain. Apabila pembaca mendapatkan gambaran yang jelas mengenai hasil penelitian ini, maka penelitian ini memenuhi standar transferability.
3. Pengujian Dependability (kebergantungan/reliabilitas)
Pengujian dependabilitydilakukan dengan cara mengaudit keseluruhan proses penelitian, caranya dilakukan oleh dosen