• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Penyajian Data (Hasil Penelitian)

1. Peran Pengembangan Jiwa Entrepreneurahip Berbasis Etika Bisnis Islam

Kegiatan Pengembangan jiwa entrepreneurship berbasis etika bisnis Islam di student mall Universitas Muhammadiyah Makassar tentunya diperuntukkan kepada pelaku bisnis dalam lingkup tersebut, terdiri dari beberapa indikator, yaitu:

a. Alasan Pelaku Bisnis Memilih Student Mall sebagai Tempat Usahanya

Menurut wawancara peneliti bersama pelaku bisnis dari berbagai bidang usaha yang digelutinya, salah satunya yaitu bersama Inisial R dari bidang kuliner yang telah menjadi pelaku bisnis di student mall sejak tahun 2018, menyampaikan alasannya memilih berusaha di student mall, yaitu:

“disebabkan target yang sudah pasti ada pembeli, tidak perlu takut tidak akan ada pembeli, dan di student mall sudah tentu Mahasiswa akan berbelanja di student mall. Selain itu juga Mahasiswa membutuhkan makan ketika telah selesai atau dijam istirahat perkuliahan.”

Hasil wawancara dengan pelaku bisnis di student mall dari bidang kuliner, yaitu Inisial R yang sehari-harinya berjualan makanan prasmanan, menyampaikan alasannya bahwa salah satu yang menjadi alasan kuat pelaku bisnis tertarik untuk melakukan aktivitas bisnis di student mall adalah target usaha yang tepat dan tentunya konsumen atau pembeli sudah pasti ada. Terlebih Universitas Muhammadiyah Makassar memiliki ribuan mahasiswa

yang membuat pelaku bisnis tidak akan takut kehilangan pembeli setiap harinya.

Hasil wawancara lainnya bersama Inisial F, pelaku bisnis bidang ATK/foto copy menyampaikan bahwa:

“usaha saya ini menjual barang-barang yang mahasiswa perlukan, apalagi tugas print dan foto copy itu berkaitan dengan mahasiswa. Jadi saya memilih melakukan usaha di student mall biar lebih berfokus dan sasaran tempatnya itu tepat.”

Hasil wawancara lainnya pun disampaikan oleh Inisial A yang telah melakukan usaha di student mall sejak tahun tahun 2019 yang melakukan aktivitas bisnis bidang fashion, menyampaikan bahwa:

“saya punya butik di samping warung bonena. Dulu saya punya butik disitu, terus ada disitu sesama penjual sarankan ke saya untuk masukan proposal ke student mall untuk buka jualan disana. Katanya disana lebih bagus dan mahasiswa juga lebih mudah akses kesana, tidak perlu keluar-keluar kampus juga. Dan juga saya kan menjual gamis, di student mall itu belum ada gamis, yang ada itu rata-rata kemeja. Cobami saya masukan ke atas ke yayasannya. Ya ternyata di ACC.”

Menurut penjelasan yang disampaikan oleh Inisial A tersebut, alasan utama Beliau memilih student mall menjadi tempat usahanya dikarenakan peluang usaha yang besar disana. Setelah mendapatkan saran dari sesama penjual, Beliau kemudian memasukkan proposal ke pihak pengelola kampus untuk melakukan usaha disana. Usaha yang di jalankan oleh Inisial A tersebut yaitu menjual pakaian gamis dimana kampus Universitas Muhammadiyah Makassar 99% adalah beragama Islam dan tentunya mahasiswi di kampus tersebut berpakaian syar‟i. Hal ini menjadi peluang bagi beliau.

Hasil wawancara lainnya kepada Inisial DM yang menjadi pelaku bisnis bidang campuran, menyampaikan alasan utamanya melakukan usaha di student mall, yaitu:

“itu saat itu pengelola student mall yang arahkan saya ke atas. Kan itu sebelumnya, saya menjual disampingnya gedung Iqra‟ yang sekarang sementara dibangun tempat parkir. 1 tahun itu disitu baru naik di gedung student mall. dan juga sebelumnya pernah di pinggir jalan depan kampus yang sekarang sudah jadi taman bunga depan. Saya memang memilih di student mall karena disitu memang mahasiswa suka sekali membeli jajan, dan barang-barang keperluannya. Dan memang selama saya menjual disitu, selalu lebih laku jualanku dibanding di tempat lain.”

Menurut hasil wawancara dengan pelaku bisnis bidang campuran, inisial DM menyampaikan bahwa telah lama melakukan usaha di sekitaran area kampus Universitas Muhammadiyah Makassar sejak sebelum adanya gedung student mall. Namun setelah adanya peraturan baru perihal pemfokusan tempat usaha menjadi satu, inisial DM kemudian berpindah lokasi ke student mall. Inisial DM pun menyampaikan bahwa pendapatannya selama berjualan di area kampus Universitas Muhammadiyah Makassar lebih banyak diibanding tempat lain yang pernah ditempati sebelum-sebelumnya.

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan dengan beberapa informan yang terkait langsung dengan penelitian ini, maka dapat disimpulkan, bahwasanya alasan pelaku bisnis memilih student mall menjadi tempat usahanya yaitu peluang yang besar dan target usaha yang tepat sasaran, dan pembeli/konsumen yang telah pasti.

b. Persyaratan menjalani aktivitas bisnis bagi pelaku bisnis di

student mall Universitas Muhammadiyah Makassar

Awal perjalanan menjadi pelaku bisnis di student mall Universitas Muhammadiyah Makassar, pihak pengelola student mall telah menetapkan persyaratan yaitu menandatangani kontrak perjanjian mengenai aturan tertulis yang berisi tata tertib dan seluruh aturan yang berlaku. Berikut ini adalah wawancara peneliti dengan pihak pengelola harian student mall, dalam hal ini Inisial HH mengatakan bahwa:

“Iya Ada, semua persyaratan dan aturan yang akan dijalankan oleh pelaku bisnis tertuang dalam aturan tertulis/ tanda tangan kontrak diatas materai 6000.”

Selanjutnya hasil wawancara peneliti dengan salah satu pelaku bisnis yang menjalankan usaha di bidang kuliner di student mall, Inisial R menjelaskan:

“persyaratannya, ya yang pertama kita harus menentukan menu yang di jual, menu yang ingin kita jual perlu untuk dilaporkan ke pihak pengelola. Jika telah disetujui oleh pihak pengelola, baru bisa acc barang yang ingin kita jual. Selain itu, kita tidak boleh meracik makanan atau menumis-numis yang menyengat seperti menumis lombok, ikan kering dan segala sesuatu yang akan mengganggu sirkulasi udara di student mall dan mengganggu barang jualan stand lain seperti fashion. Pembayarannya harus dilakukan tepat waktu. Dan tidak boleh melanggar aturan yang sudah ditetapkan oleh pihak pengelola dalam perjanjian kerjasama diatas materai.”

Hasil wawancara menurut Inisial F, pelaku bisnis bidang ATK/foto copy tentang persyaratan awal menjalankan bisnis di student mall, Beliau menyatakan bahwa:

“syaratnya melaporkan barang jualan, menandatangani kontrak perjanjian, dan tidak melanggar aturan.”

Selanjutnya hasil wawancara terkait penjelasan dari Inisial A, pelaku bisnis bidang fashion memberikan keterangan tentang persyaratana awal ketika ia memilih melakukan aktivitas bisnis di student mall, Beliau mengatakan bahwa:

“persyaratannya itu masukan proposal toh, terus di foto yang jualannya. Nanti didalam baru dikasihmi peraturan sama yayasan. Peraturannya itu kalau fashion, fashion tok ndak boleh masuk ee makanan. Terus ada jadwal hari jumat harus tidak menjual kalau shalat jumat. Pokoknya banyak peraturannya, semuanya itu ada di aturan kontrak yang saya tanda tangani diatas materai 6000.”

Hasil wawancara dengan pihak pengelola student mall dan juga pelaku bisnis bidang kuliner yaitu Inisial R, pelaku bisnis bidang ATK/foto copy yaitu Inisial F, dan pelaku bisnis bidang fashion yaitu Inisial A menjelaskan bahwa memang dalam menjalankan aktivitas bisnis di student mall, persyaratan yang dipenuhi tentunya adalah menyapakati aturan atau tata tertib yang telah disepakati bersama di atas materai 6000. Hal ini pun sejalan dengan hasil wawancara peneliti dengan pelaku bisnis dari bidang campuran, Bapak Inisial DM yang menyampaikan bahwa:

“ya masukkan proposal, membayar uang kontrak tahunan dan iuran bulanan. Kemudian saya kan jual barang campuran, berarti aturan atau syaratnya tidak boleh menjual barang lainnya seperti pakaian dan makanan. Itu diatur diaturan yang disepakati diawal perjanjian diatas materai 6000.”

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan dengan Informan penelitian yang terkait langsung dengan penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwasanya persyaratan menjalankan bisnis di student mall Universitas Muhammadiyah Makassar adalah menandatangani kontrak perjanjian diatas materai 6000

yang berisikan tentang aturan-aturan umum, aturan khusus, dan aturan sanksi bagi setiap pelanggaran yang terjadi. Pengaturan baik dari segi menu, dan seluruh aspek lainnya yang ditujukan kepada pelaku bisnis, semuanya telah jelas diterangkan.

c. Persaingan Usaha dan Strategi Pelaku Bisnis Menjalankan Usaha di Student Mall

Student mall memiliki berbagai macam jenis penjualan baik dari kuliner, ATK/foto copy, fashion, dan campuran. Peneliti tertarik ingin mengetahui bagaimana persaingan usaha dan strategi yang ada di student mall. Berikut hasil wawancara yang peneliti telah lakukan dengan pelaku bisnis dari bidang kuliner yaitu Inisial R memberikan penjelasannya sebagai berikut:

“menurut saya, aturan yang ditetapkan oleh pihak pengelola mengikis adanya persaingan usaha disana, karena jenis jualan dibatasi oleh penjual. Seperti yang ada di kuliner sebanyak 54 stand tidak menjual jenis kuliner yang sama, tetapi semua berbeda. Sehingga dengan begitu, ketika mahasiswa ingin membeli bakso misalnya, mahasiswa tidak akan bingung memilih stand mana, karena stand yang menjual bakso hanya satu atau dua stand saja. Selain itu juga, setiap penjual dengan senang hati akan mengarahkan mahasiswa yang ingin membeli keperluan atau berbelanja sesuatu yang diinginkannya, sehingga terbangun sikap saling membantu sesama penjual.”

Hasil wawancara kepada Inisial R mengenai strateginya dalam menjalankan usaha di student mall yaitu:

“diawal-awal usaha saya di student mall, pendapatan yang saya dapatkan sangat minim bahkan kadang minus. Setelah berkonsultasi dengan pengelola utama harian student mall, akhirnya saya bisa lebih bersabar dengan menu makanan yang saya lakukan dalam bentuk prasmanan. Saya juga mulai membangun strategi dengan mendekati mahasiswa secara personal, melakukan survei kecil-kecilan apa yang diinginkan oleh mahasiswa dan itu saya terapkan dan coba mengikuti apa kemauan mahasiswa tapi tetap dengan mengikuti aturan dari

pihak pengelola itu sendiri. Akhirnya setelah bulan ke 4 dan seterusnya, pendapatan saya mulai naik dan bahkan saya pernah bisa mendapatkan 2jt dalam 1 hari. Saya pun bisa menambah gaji dua karyawan saya. Intinya saya menerapkan bagaimana bukan hanya menjadi penjual, tetapi bisa bersahabat dengan mahasiswa dan harga jual yang saya berikan ke mahasiswa mengikut dengan kantong mahasiswa itu sendiri. Bahkan ketika mereka hanya beli lauk dan membawa nasi sendiri, saya tetap melayaninya.”

Hasil wawancara peneliti dengan Inisial R menjelaskan bahwa di student mall ia merasa tidak ada persaingan usaha. Aturan atau tata tertib yang dibuat oleh pihak pengelola dapat mampu mengikis adanya persaingan usaha disana. Membatasi jenis jualan setiap pelaku bisnis menurutnya merupakan solusi yang tepat dan adil bagi setiap penjual. Selain itu, Inisial R memiliki strategi khusus yaitu melayani konsumen atau pembelinya dengan cara yang lebih bersahabat dan memahami keinginan pelanggannya. Inilah yang menjadikan usaha Inisial R mengalami peningkatan pendapatan setelah 4 bulan pertama berpendapatan minim bahkan minus.

Hasil wawancara lainnya yaitu pada pelaku bisnis bidang ATK/foto copy, Inisial F tentang persaingan usaha di student mall yaitu:

“ya biasa-biasa saja, saya tidak merasa ada persaingan disana, yang usahanya ATK juga hanya berapa stand saja. Aturan juga yang diberikan menurut saya adil dan kita fokus dengan usaha masing-masing.”

Hasil wawancara kepada Inisial F mengenai strateginya dalam menjalankan usaha di student mall yaitu:

“strategi saya hanya fokus dengan melayani para mahasiswa maupun dosen dengan baik dan ikhlas.”

Hasil wawancara yang telah dilakukan kepada Inisial F mengenai persaingan usaha dan strategi tersebut menjelaskan bahwa ia menganggap bahwa tidak ada persaingan usaha di student mall dan juga strateginya cukup dengan fokus melayani dengan baik setiap pelanggannya dan juga ikhlas. Selain itu, Inisial F menyampaikan bahwa pendapatannya setiap hari di student mall rata-rata sebanyak 500 ribu/hari.

Wawancara lainnya juga yaitu kepada pelaku bisnis bidang kuliner, Inisial A, terkait persaingan usaha dan strategi. Berikut hasil wawancara bersama Inisial A terkait persaingan usaha yang dirasakannya di student mall yaitu:

“kalau persaingan, merasa tidak disaingi jaka disana, karena sendiri jka jual baju begini. Kalau jilbab banyak pesaing diatas, ndk merasa ji disaingi. Ya karena mereka juga yayasan enakki kalau ada yang jual, hanya dua orang yang diizinkan. Ndk boleh lagi ada yang masuk begitu. Kalau misal sudah ada yang jual jilbab cukup dua stand.”

Selanjutnya, hasil wawancara mengenai strategi inisial A dalam menjalankan usaha di student mall yaitu:

saya tidak punya strategi khusus, pakaian saya, saya pajang saja diluar yang terbaru. Karena tidak ada saingan toh, jadi kalau ada mahasiswa yang mau beli rok, pasti datang ke stand saya. Tidak ada pendekatan khusus ke mahasiswa.”

Hasil wawancara peneliti bersama Inisial A menjelaskan bahwasanya Inisial A merasa tidak ada persaingan yang ia rasakan dengan penjual lainnya di student mall. Ia juga tidak mempunyai strategi khusus dalam meningkatkan pendapatannya. Baginya, cukup tahu pakaian kekinian yang disukai Mahasiswa dan memajangnya paling depan di stand, sudah cukup membantu

dalam peningkatan pendapatannya. Pada awal usahanya di student mall, Inisial A mendapat pemasukan sebanyak 500 ribu sampai 1 juta perhari. Namun seiring berjalannya waktu semakin meningkat pendapatan.

Hasil wawancara selanjutnya kepada pelaku bisnis bidang campuran yaitu Inisial DM , mengenai persaingan usaha dan strategi usaha yang dilakukannya di student mall yaitu:

“ya biasa, sama saja seperti di pasar. Tapi lebih tertata di student mall. dan karena di batasi ki toh mengenai jumlah penjual campuran, jadi ndk merasa ada pesaing apapun disana. Biasa-biasa saja.”

Selanjutnya mengenai hasil wawancara tentang strategi Inisial DM di student mall Universitas Muhammadiyah Makassar yaitu sebagai berikut:

“ya strategi, kadang harga kita mainkan tapi tetap masih sesuai dengan aturan dan tidak menyimpang dari hukum syariat dan harga pasar, cuma mungkin sedikit lebih tinggi dibanding di luar karena disini kan kita bayar iuran. Kemudian cara kita mendekati pembeli juga berpengaruh itu, supaya enak toh. Kadang juga suka sekali pembeli berutang di tempatku, karena saya paham, namanya mahasiswa pasti biasa ada yang dia butuhkan tapi sementara tidak ada uangnya. Jadi biasa ku kasih utang, yang penting na bayarji sesuai dengan janjinya.”

Hasil wawancara dengan Inisial DM selaku pelaku bisnis di student mall Universitas Muhammadiyah Makassar menyampaikan bahwasanya ia merasa persaingan usaha yang terjadi di Universitas Muhammadiyah Makassar biasa-biasa saja. Terlebih karena aturan dan pembatasan bagi setiap pelaku bisnis menjadikan pelaku bisnis seperti merasa lebih terfokus pada usahanya dan tidak merasa disaingi. Sedangkan strategi yang

inisial DM lakukan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraannya yaitu lebih mempertimbangkan harga agar bisa dijangkau oleh mahasiswa. Pendapatan Inisial DM ketika diwawancarai mengenai jumlah pendapatan yang didapat setiap harinya di student mall, Beliau menyampaikan bahwa setiapnya harinya dapat memperoleh pendapatan 3 juta per hari.

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan dengan beberapa informan yang terkait langsung dengan penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa pelaku bisnis di student mall Universitas Muhammadiyah Makassar merasa tidak adanya persaingan yang terjadi antara sesamanya. Aturan dan tata tertib yang telah diatur oleh pihak pengelola student mall memberikan rasa adil dan aturan yang jelas kepada pelaku bisnis. Seperti pada pengaturan menu makanan atau barang yang dijual di setiap stand di student mall, diatur dan dibatasi secara jelas agar setiap stand-stand yang lain juga tak sepi pengunjung. Dibuktikan juga dari setiap pelaku bisnis yang telah diwawancarai memiliki peningkatan pendapatan dari awalnya melakukan usaha di student mall.

d. Kegiatan Pengembangan Jiwa Entrepreneurship berbasis Etika Bisnis Islam

Entreprenurship berbasis etika bisnis Islam adalah segala hal yang berkaitan dengan sikap, tindakan, dan proses yang dilakukan oleh para entrepreneur dalam merintis, menjalankan, dan mengembangkan usahanya yang diselaraskan dengan etika bisnis Islam. Student Mall sendiri memiliki aturan umum bahwa

pelaku bisnis yang melakukan ativitas bisnis disana wajib beragama Islam yang berarti segala aktivitas disana diatur dalam etika bisnis Islam. Aturan yang ditetapkan baik dari segi aturan umum, aturan khusus, dan aturan sanksi tidak lepas dari penerapan etika bisnis Islam. Selain adanya aturan yang ditetapkan, juga terdapat kegiatan yang membantu pelaku bisnis dalam meningkatkan jiwa entrepreneurship sehingga dalam menjalan aktivitas bisnisnya, pelaku bisnis bisa menghasilkan pendapatan yang bukan hanya dapat meningkatkan dari segi kuantitas, namun unsur halal, berkah, dan mensejahterahkan sesuai prinsip etika bisnis Islam juga bisa sejalan

Untuk mengetahui apakah memang di student mall memiliki kegiatan pengembangan jiwa entrepreneurship berbasis etika bisnis Islam dan pelaku bisnis benar-benar ikut andil dalam kegiatan tersebut dengan menerapkannya atau tidak, peneliti telah mewawancarai beberapa pelaku bisnis. Menurut Inisial R dari pelaku bisnis bidang kuliner:

“kalau mengenai pelatihan pengembangan jiwa entrepreneurship yang diadakan oleh pihak pengelola itu sendiri belum ada, tapi dosen-dosen di Universitas Muhammadiyah Makassar pernah melakukannya. Tapi yang diadakan oleh pihak pengelola student mall adalah dalam bentuk pengajian rutin bulanan yang wajib diikuti oleh seluruh elemen yang ada di student mall termasuk seluruh penjual. Dan materi yang diberikan adalah mengenai pembinaan jiwa entrepreneurship pelaku bisnis sesuai dengan etika bisnis Islam yaitu sejalan dengan prinsip syariah.”

Hasil wawancara lainnya yang disampaikan oleh Inisial F pelaku bisnis bidang ATK/Foto copy yaitu:

“iya pernah, seperti pengajian-pengajian rutin bulanan. Disuruhki untuk berbisnis dengan cara yang halal.”

Hasil wawancara lainnya yang disampaikan oleh Inisial A pelaku bisnis bidang Fashion yaitu:

“ya ada, di student mall itu selalu rutin adakan pengajian per bulannya, disitu pemateri adalah ustadz, dan materi yang dibawakan juga pasti tentang berbisnis yang baik secara Islami. Kalau mengenai etika bisnis Islam, itu sesuai mi dengan yang di jelaskan oleh pemateri. Seperti jangan ada yang curang kalau berdagang, disuruh untuk banyak bersedekah, disuruh shalat tepat waktu, taat dengan aturan yang sudah dibuat oleh pihak pengelola apalagi dalam hal kebaikan.”

Hasil wawancara lainnya yang disampaikan oleh Inisial DM pelaku bisnis bidang campuran yaitu:

“ada, kegiatan-kegiatan pengajian selalu kuikuti per bulannya itu, kemudian dilanjutkan dengan rapat yang dibahas penyampaian siapa-siapa yang melanggar selama sebulan belakangan dan diberi SP. “

Lebih lanjut, setelah mengikuti kegiatan pengembangan jiwa entrepreneurship yang dijalankan dalam bentuk pengajian rutin bulanan, Inisial R mengaku bahwa kegiatan pengembangan dalam bentuk pengajian itu membantu banyak dalam hal meningkatkan pendapatan dan kesejahteraannya yang sesuai dengan prinsip etika bisnis islam, sehingga tidak hanya meningkatkan tetapi apa yang diusahakan menurutnya dapat menjadi lebih berkah dan bermanfaat.

Menurut Inisial F dan Inisial A, setelah mengikuti kegiatan pengajian rutin bulan, pemahamannya terkait berbisnis sesuai prinsip etika bisnis Islam lebih dapat dipahami. Namun, hal lain diungkapkan oleh Inisial DM yang mengatakan bahwa secara umum mengenai pemahaman terkait jiwa entrepreneurship

berbasis etika bisnis Islam kurang dipahami. Walaupun begitu, ia tahu bahwa berdagang tidak boleh melanggar dan tidak boleh berbuat kecurangan.

Berdasarkan hasil wawancara yang peneliti telah lakukan dengan beberapa informan yang terkait dengan penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwasanya ada kegiatan pengembangan jiwa entrepreneurship di student mall dalam bentuk pengajian rutin bulanan yang membahas seputar berbisnis berdasarkan prinsip etika bisnis Islam. Setelah kegiatan itu dilakukan, beberapa informan telah memahami cara berbisnis dengan baik sesuai prinsip etika bisnis Islam.

e. Tingkat Pendapatan dan Kesejahteraan Pelaku Bisnis di

Student Mall Universitas Muhammadiyah Makassar

Hasil wawancara yang telah peneliti lakukan kepada pelaku bisnis inisial R terkait pendapatannya di student mall, menyatakan:

“dari awal merintis kadang pendapatan saya tidak mencapai 100 ribu, saya ingat sekali 3 bulan pertama pendapatan saya, saya ingat sekali saat itu 70 ribu perhari. Ini dikarenakan saat itu saya belum bisa membaca sikon dan membaca keinginan anak-anak mahasiswa. 3 bulan pertama itu pembayaran iuran per bulan saya itu nombok, saya gunakan dana pribadi. Tapi di bulan 4 selanjutnya saya sudah mulai bisa mendapatkan pendapatan 500 ribu keatas per hari dan mulai naik seiring berjalannya waktu. Pernah juga sebelum ada roling tempat, saya bisa mendapatkan 2 jt perhari. Alhamdulillah nak, kalau kebutuhan untuk sehari-hari keluarga iye tercukupi dan membantu banyak pendidikan anak-anakku.tapi kalau kebutuhan tersier ya iya belum terpenuhi.”

Hasil wawancara lainnya yang telah peneliti lakukan kepada pelaku bisnis inisial F terkait pendapatannya di student mall, menyatakan:

“500 ribu rupiah per hari. Kalau mengenai kebutuhan itu yang kita sebut, pastilah kebutuhan sehari-hari salah satunya dari usaha ini. Kebutuhan sekunder juga ia tapi untuk kebutuhan yang mewah-mewah itu ya doakan dan aminkan. Hehehe” Hasil wawancara lainnya yang telah peneliti lakukan kepada pelaku bisnis inisial A terkait pendapatannya di student mall, menyatakan:

“disana karena bajuku termasuk mahal toh dek, saya punya baju saja 250 ribu per satuan, jadi bisa kah dapat awal-awal

Dokumen terkait