• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyajian Data Informan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.2 Penyajian Data Informan

Dari Hasil observasi dan wawancara yang dilakukan peneliti kepada masing-masing informan maka diperolehlah data informan yang disajikan sebagai berikut:

Informan 1 Mariani M. Pd.

(Tanggal wawancara : 4 Oktober 2013)

Informan yang pertama adalah Ibu Mariani M. Pd. Ibu Mariani yang sehari-hari disapa Ibu Mar mengajar pelajaran Biologi. Beliau memiliki pengalaman mengajar selama 19 tahun. Pada awal pelajaran Ibu Mar memberi selalu memberikan motivasi belajar terlebih dahulu sebelum sedikit arahan tentang bab yang harus dipelajari. Beliau kemudian akan menyuruh peserta didik untuk membuat catatan-catatan penting pada kartu yang telah di sediakan. Ibu Mar akan menanyakan tentang materi apa saja yang peserta didik telah pelajari dan apa saja yang mereka belum pahami dari kartu-kartu tersebut.

“Pada awal pertemuan itu saya beri motivasi dulu. Terus ada saya suruh buat kartu-kartu. Misalnya kemarin saya kasih dia bab tentang virus, itu saya suruh buat kartu, besoknya saya tanya. Kalau ada yang anak nggak mengerti, nanti dia yang tanya saya jelaskan.”

Ibu Mar memiliki sudut pandang sendiri mengenai cara dalam mengatasi masalah belajar yang dialami oleh peserta didiknya. Ibu Mar menganggap siswa SMA sudah dewasa dan memiliki tanggung jawab sehingga pada proses belajar yang dilakukannya fokus kegiatan terletak pada siswa. Ibu Mar menganggap guru sebagai fasilitator sehingga peserta didik yang lebih aktif dalam belajar (student oriented). “Kalau di SMA anak-anak lebih dewasa dan sudah punya tanggung jawab. Jadi, guru hanya sebagai fasilitator, anak-anak yang banyak bekerja.”

Ibu Mar merasa bahwa peserta didiknya bersedia memperhatikan pelajaran yang diberikannya. Agar peserta didik merasa tertarik dengan pelajarannya ia menerapkan gaya belajar yang tidak monoton. Untuk menciptakan suasana belajar tidak monoton Ibu Mar menggunakan Media belajar. “Sama saya itu nggak monoton. Kalau tentang pelajaran umumnya mereka mau memperhatikan kalau belajar dengan saya. Karena saya kan mengajar pakai LCD.”

Ibu Mar akan menunjukkan video presentasi mengenai materi yang diajarkan. Dengan media presentasi peserta didik dapat melihat langsung hal-hal yang berkaitan dengan materi sehingga membantu mereka untuk memahami isi

materi yang akan dipelajari. “Orang ini belajarmisalnya tentang virus jadi,

langsung saya nampakkan ini virusnya. Misalnya tentang bioteknologi pembuatan bayi tabung langsung saya nampakkan. Jadi mereka terfokus. Habis itu metode saya ini sering presentasi ke depan pakai infokus.”

Agar cara belajar peserta didik yang berbeda dapat terakomodasi dengan baik maka Ibu makan Ibu mar memberi perhatian khusus kepada peserta didik yang pemahamannya lebih lambat. Ibu Mar memilih media yang dianggap cukup efektif untuk menarik perhatian mereka. Media infokus dengan media tersebut dianggap beliau dapat membuat peserta didiknya terfokus dalam belajar. Cara lain yang ditempuh Ibu Mar dalam mengakomodasi seluruh cara belajar peserta didik adalah dengan menerapkan berbagai metode pembelajaran.“Kalau saya, saya fokuskan sama anak yang lambat, Terus medianya saya pakai infokus jadi anak-anak itu terfokus. Terus metode yang saya pakai juga bermacam-macam biar anak-anak tidak cepat bosan.”

Sebagai bentuk perhatiannya kepada peserta didik yang memiliki pemahaman lamban Ibu Mar menunjuk tutor sebaya. Tutor sebaya bertugas untuk membantu siswa yang lebih lambat dalam memahami pelajaran sehingga peserta didik lebih termotivasi untuk belajar. “Kalau ada yang kurang itu ditolong sama yang pandai disuruh ajarin, pakai tutor sebaya. Jadi macam-macamlah yang kita buat supaya anak-anak semuanya tertarik buat belajar.”

Ibu Mar merasa cara yang beliau lakukan selama ini sudah cukup baik dalam menghindari masalah belajar. Sehingga yang di butuhkan adalah bagaimana menjaga komunikasi yang baik dengan peserta didik sehingga masalah belajar sebisa mungkin tidak timbul. Walaupun demikian Ibu Mar tidak menyangkal masih terdapat beberapa masalah belajar yang beliau temui.

“Saya rasa dengan saya menerapkan metode pembelajaran yang berbeda-beda, saya memakai media infokus terus ada tutor sebaya. Kemudian dengan saya memberi motivasi terus-menerus kepada mereka itu nggak akan ada masalahlah.. tinggal pintar-pintar kita saja bagaimana berkomunikasi dengan mereka.”

Masalah belajar yang sering dijumpai oleh Ibu Mar adalah peserta didik yang sering terlambat datang kesekolah, malas membuat PR dan suka mengolok-olok didalam kelas. Semua masalah belajar tersebut tentu saja membutuhkan suatu

cara dalam mengatasinya. “Terlambat datang kesekolah walaupun sudah jarang.

Kemudian malas, misalnya orang-orang itu saja yang nggak buat PR. Terus nggak sopan misalnya suka memberi julukan untuk temannya. Dipanggil temannya “Hei.. Neng! Neng itu boneng maksudnya.”

Ibu Mar biasanya mengatasi sendiri masalah belajar yang ditimbulkan peserta didiknya. Ibu Mar mengaku tidak langsung bersikap emosional dalam mengatasi masalah belajar tersebut. Beliau menempuh langkah pendekatan seperti menanyakan permasalahan yang dialami oleh peserta didik, memberikan nasehat. Kemudian Ibu Mar akan memperhatikan perubahan sikap yang terjadi selama peserta didik di dalam pembinaan.“Biasanya saya atasi sendiri dulu. Nggak langsung kejam, marah terus itu nggak. Yang pertama-tama dirangkul dulu terus saya tanyakan apa permasalahannya, saya beri nasehat. Kemudian kita lihat perubahan sikapnya ketika kita bina.”

Sebelumnya Ibu Mar sering terkendala akibat kurangnya bahan yang disediakan sekolah sehingga harus mengeluarkan dana pribadi untuk membuat ataupun membeli media belajar. Jika hal tersebut tidak memungkinkan untuk dilakukan maka beliau akan memanfaatkan media atau bahan-bahan yang tersedia. Ibu Mar merasa sarana dan prasarana belajar yang disediakan oleh sekolah semakin baik. Sekarang ini Ibu Mar Merasa didukung dengan adanya dana sekolah dan telah tersedianya internet yang disediakan disekolah.

“Kalau dulu alat belajar masih kurang. Kalau perlu apa-apa terpaksa kita beli pakai uang sendiri. Kalau nggak ya.. kita manfaatkan aja bahan yang ada. Kalau sekarang udah ada teknologi seperti internet. Jadi teknologi itu membuat lebih semangat. Kemudian dana sekolah pun lebih mendukung.”

Masalah belajar yang dirasakan Ibu Mar yang datangnya dari pemerintah adalah perubahan kurikulum yang belum jelas beliau ketahui akan bagaimana nantinya. Namun hal tersebut bukanlah hal yang terlalu mengganggu. Sebagai guru Ibu Mar telah menyadari akan hal tersebut dan telah mempersiapkan

diri.“Pergantian kurikulum sampai sekarang belum jelas kayak mana. Tapi, nggak terlalu ada masalah. Kalau RPP saya selalu buat.”

Masalah belajar lain yang Ibu Mar rasakan berasal dari situasi sosial budaya pada masyarakat. Ibu Mar merasa masih banyak orang tua yang tidak setuju untuk membeli buku pelajaran atau yang berbau pengetahuan kepadan anaknya. Sayangnya hal tersebut bukan terjadi pada orang tua yang memiliki perekonomian menengah kebawah namun orang tua yang mampu sekalipun masih enggan membelikan buku kepada anak-anaknya. Mereka merasa buku tidak bermanfaat setelah dibaca padahal mereka mampu memberikan uang jajan kepada anak mereka.“Orang tua nggak setuju membeli buku. Bukan masalah dana tapi orang yang mampu pun nggak mau beli buku. Dia merasa kalau beli buku nggak ada manfaat padahal kalau kasih jajan sama anaknya bisa.”

Ibu Mar merasa sebagai guru tidak memiliki masalah apapun. Beliau tidak suka mendiamkan masalah dan berusaha menyelesaikannya sesegera mungkin. Begitu juga apabila dia mengalami permasalahan dengan siswa maka akan segera di panggil dan dilakukan pembinaan.“Alhamdulillah kalau masalah pribadi belum ada, kalau saya kalau ada masalah saya selesaikan terus. Begitu juga dengan siswa kalau ada siswa yang bermasalah saya panggil terus, saya bina.”

Menurut Ibu Mar peserta didik sekarang kurang suka belajar dari pada yang terdahulu. Peserta didik yang sekarang cuek tentang hal-hal yang terjadi di sekeliling mereka. Mereka cenderung tidak mendengarkan apalagi melaksanakan nasehat yang diberikkan kepada mereka.“Kalau sekarang anak-anak kurang suka belajar. Jika dibandingkan dengan yang sekarang anak-anak tuh lebih cuek tentang apa saja. Mereka cenderung tidak mengindahkan nasehat.”

Ibu Mar merasa kecanggihan teknologi terutama internet dapat digunakan untuk memudahkan beliau mencari bahan-bahan dan materi sesuai dengan apa yang beliau ingin ajarkan. Beliau bisa memperlihatkan secara langsung pada peserta didik tentang materi ajar. Tetapi Ibu Mar menyayangkan peserta didik yang kurang menyadari manfaatnya untuk membantu mereka dalam belajar

dengan menggunakannya untuk hal-hal yang kurang bahkan tidak bermanfaat sama-sekali.

“Kalau sama saya lebih baik kalau belajar itu ada internet atau pakai modem orang ini. Karena lebih mudah nanti kalau kita cari bahan atau materi. Kalau perlu kita lihat tentang virus tinggal kita buka di internet mengenai virus. Jadi anak-anak bisa lihat langsung. Tapi sayang kadang anak anak ini memanfaatnya buat keperluan selain belajar.”

Ibu Mar mengenali masalah belajar melalui sikap dan gerak-gerik peserta didiknya. Sikap yang kurang sopan merupakan bentuk masalah belajar. Selain itu siswa tidak fokus dalam belajar sehingga jika diajukan pertanyaan maka jawabannya tidak sesuai dengan yang telah ditanyakan. Masalah belajar tidak hanya dialami oleh siswa yang lamban dalam menangkap pelajaran. Siswa yang pintar tetapi memiliki sikap yang tidak baik juga dinilai sebagai masalah belajar.

“Dari sikapnya, sikapnya itu tidak bagus, nggak sopan. Kemudian dia tidak fokus, kita tanya dia nggak nyambung. Jadi bisa kita liat dari gerak-geriknya. Ada kadang-kadang anak pandai tapi tingkahnya jelek, ada anak yang kurang tapi belum tentu jelek tingkahnya.”

Masalah belajar yang dihadapi oleh Ibu Mar kebanyakan berasal dari perorangan. Ibu Mar pernah menghadapi masalah belajar yang timbul dari seorang siswa yang tinggal di dayah. Karena tinggal di dayah siswa tersebut tidak sanggup mengatur waktunya sehingga sering tidak mengerjakan PR yang diberikan. “Biasanya ada satu dua orang. Kalau ramai-ramai itu nggak pernah apalagi dengan saya jarang orang itu bermasalah. Ada satu dulu ya, itu karena dia tinggal di dayah jadi sering kali nggak buat PR. Tapi, sekarang udah lulus anaknya.”

Ibu Mar merasa tanggung jawabnya dengan siswa seperti seorang Ibu dengan anak-anaknya. Beliau merasa dekat dengan peserta didiknya sama seperti anaknya sendiri. Bahkan kedekatan itu masih terus terjalin hingga peserta didik tersebut lulus.

« Seorang guru itu harus bertanggung jawab dan sebagai ibu dari anak-anak. Jadi saya dekat dengan anak-anak bahkan ada yang sudah lulus pun masih sering hubungan. Kalau saya bukan siswa pintar saja yang saya perhatikan tapi siswa yang kurang juga,

malah lebih lagi. Kalau tidak percaya boleh tanya sama mereka. Jadi semua saya perlakukan sama saja. »

Ibu Mar telah menerapkan kompetensinya dalam pengalamannya mengajar selama betahun-tahun. Menurutnya cara yang paling efektif dalam menyelesaikan masalah tersebut melalui prosedur yang baik. Masalah tersebut tidak perlu dibesar-besarkan sehingga apabila hannya masalah kecil cukup diselesaikan oleh guru bidang studi yang bersangkutan. Jika masalah yang cukup berat baru melibatkan wali kelas dan guru konseling melalui prosedur pembinaan yang telah diatur oleh sekolah.

« Kalau kita lihatkan prosedur bimbingan itu ada beberapa tahap memang kalau masalah kecil cukup dengan guru bidang studi kalau bermasalah dengan guru bidang studi. Kalau masalahnya berat itu harus dari guru bidang studi ke wali kelas. Dari wali kelas baru ke Bimpen. Nah, baru terakhir ke kepala sekolah setelah itu panggil orang tua.”

Ibu Mar merasa orang tua tidak perlu dilibatkan jika masalah tersebut hanya masalah belajar. Peserta didik yang bemasalah harus dibina terlebih dahulu melalui sistem pembinaan di sekolah. Setelah melalui pembinaan namun tidak terdapat perubahan dari sikap peserta didik barulah orang tua dilibatkan untuk ikut bekerja sama membina peserta didik tersebut.“Jadi ndak musti dia ada masalah sedikit langsung panggil orang tua.Apa juga gunanya kita sebagai pendidik jadi kita harus membina dulu kalau sudah nggak sanggup lagi baru dipanggil orang tua. Begitu menurut saya yang efektif.”

Informan 2

Tabligh Diniyati M. Pd.

(Tanggal wawancara : 08 Oktober 2013)

Ibu Tabligh Diniyati atau kerap disapa Ibu Dini adalah seorang guru Matematika. Selain mengajar beliau juga menjabat sebagai Kepala Bidang Pengembangan Pengajaran di sekolah. Proses belajar di kelas pada pelajaran Ibu Dini berjalan sebagaimana proses belajar pada umumnya. Pada awal proses belajar Ibu Dini biasanya melakukan kesepakatan dengan siswa tentang model pembelajaran yang akan diterapkan berasarkan materi. Pada tahap selanjutnya

bisanya menanyakan tentang pelajaran yang telah diajarkan sebelumnya sebelum memulai mengajarkan materi. Hal ini bertujuan untuk mengetahui apakah peserta didik telah menguasai materi yang telah diajarkan atau belum. Apabila ada peserta didik yang belum memahami materi sebelumnya maka Ibu Dini akan mengulang sebentar. Setelah itu Beliau akan mengajarkan materi selanjutnya dan diteruskan dengan latihan atau menerapkan model pembelajaran dan diskusi sesuai dengan kesepakatan dengan siswa pada awal pertemuan untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.

“Kalau proses belajar sehari-hari ketika masuk saya tanya gimana pelajaran yang kemarin apa sudah bisa. Kalau belum bisa kita ulang sedikit kalau sudah kita masuk ke pelajaran yang selanjutnya saya jelaskan sebentar kemudian saya berikan latihan kalau ada model pembelajaran kita lakukan diskusi dan sebagainya sesuai dengan kesepakatan dengan siswa.”

Agar suasana belajar menjadi menyenangkan Ibu Dini membangun pendekatan dengan peserta didik dengan membangun komunikasi layaknya seorang ibu dengan anaknya. Dengan begitu akan lebih mudah melakukan diskusi dalam menentukan model pembelajaran yang dianggap cocok untuk mengajarkan materi. Selain itu, peserta didik tidak sungkan dalam bertanya mengenai materi yang belum ia kuasai. Ibu Dini juga membuat jalur komunikasi lain selain di dalam kelas. Ibu Dini bersedia untuk ditemui utnuk berdiskusi masalah belajar di luar kelas, saat istirahat ataupun ketika pulang sekolah. Selain itu untuk membantu siswa yang mempunyai kesulitan dalam memahami pelajaran dengan membentuk kader tutor sebaya. Hal ini memungkinkan unutk dilakukan menimbang peserta didik memiliki cara masing-masing dalam belajar dan memahami materi pelajaran.

“Biasanya saya melakukan pendekatan sama anak-anak. Siswa saya anggap seperti anak sendiri. Pada awal pembelajaran saya tanyakan mau model pembelajaran model apa, kemudian saya tanya dimana yang kamu tidak bisa? “Owh..ternyata bu saya nggak bisa kalau pemfaktoran bu. Ok, nggak apa-apa!” Kita ajarin sama dia. Kalau nggak sempat saya panggil bisa, pakai tutor sebaya.”

Menyadari akan cara belajar peserta didik yang berbeda-beda maka Ibu Dini merasa perlu untuk melihat tipe-tibe anak. Ibu dini menerapkan perlakukan

berbeda-beda pada peserta didik sesuai dengan keadaan psikologis peserta didik dalam memahami materi pelajaran ketika mengajar.

“Kitakan lihat anaknya dulu, kita lihat tipe-tipe anak. Jadi misalnya ada anak yang memang harus kita suruh ke depan nah itu dia kita panggil ke depan kita ajarin di depan Ada anak kalau ke depan dia nggak pede takut malu nah itu kita taruh aja dia di bangku kita datangin ke bangku.”

Ibu Dini membuka jalur komunikasi untuk berdiskusi mengenai materi pelajaran di luar jam pelajaran. Selain itu Ibu Dini juga menggunakan media dan alat peraga sesuai dengan materi yang diajarkannya. Dengan begitu peserta didik dengan leluasa dapat berdiskusi tentang masalah belajar yang dialami sehingga dapat meminimalisir timbulnya masalah belajar.“Biasanya juga suka datang sore pas saya ada kegiatan di sekolah. Kalau media tergantung kondisi siswa, bisa pakai infokus, biasanya pakai kartu kalau alat peraga kurang tergantung materi dan kelas berapa.”

Ibu Dini meminimalisir timbulnya masalah belajar dengan menggunakan kedekatan. Kedekatan membuat peserta didik nyaman dalam belajar. Dengan adanya kedekatan antara guru dan peserta didik akan lebih leluasa dalam berdiskusi menceritakan masalah belajar yang dialaminya. Dengan begitu akan lebih mudah dalam mencari solusi yang tepat dalam mengatasi masalah belajar.

“Saya biasanya membangun kedekatan dengan siswa. Kemudian ya.. itu tadi ya, bagaimana saya dengan siswa itu dekat. Saya lebih suka mereka mengganggap saya seperti ibu juga teman. Saat mereka butuh bimbingan dari orang tua ya.. kita bimbing saat mereka mau cerita kita dengarkan.”

Masalah belajar yang biasanya ditemui oleh Ibu Dini dalam adalah peserta didik yang kurang memahami konsep dasar misalnya, operasional bilangan bulat dan pecahan. Hal ini menyebabkan banyak peserta didik yang menjadi malas belajar diakibatkan merasa materi belajar yang terlalu sulit untuk dipahami. Kurang memahami konsep dasar menyebabkan banyak siswa yang tidak menyukai mata pelajaran yang diajarkan oleh Ibu Dini.

Kalau malas masih ada, dia bilang “Bu dari SD saya lihat Matematika memang sulit bagi saya, saya nggak bisa, akhirnya saya malas”.

Ibu Dini perlu melakukan berbagai usaha dan pendekatan agar peserta didik tidak menganggap matematika sebagai pelajaran yang menakutkan. Salah satu cara yang dilakukan oleh Ibu Dini dengan memberikan bentuk materi dan soal yang paling mudah untuk dipahami. Ibu Dini memberikan tipe soal yang berbeda sesuai dengan kemampuan peserta didik.

“Kalau seperti itu biasanya saya beri materi yang paling mudah. Misalnya materi limit saya kasih soal yang paling mudah dan saya yakin dia bisa. Setelah saya kasih mereka bilang “Kok bisa saya bu ya..? Makanya dalam memberikan soal, nilai itu suka kadang-kadang tipe soal itu beda dengan kemampuan anak.”

Dari sekolah sendiri Ibu Dini merasa tidak ada masalah belajar yang timbul dikarenakan Ibu Dini menganggap sekolah telah menyediakan fasilitas belajar baik media seperti buku, infokus dan prasarana pendukung seperti laboraturium dll. Namun tidak dapat dipungkiri kelelahan yang dialami peserta didik diakibatkan sistem belajar hingga sore apabila tidak disiasati dengan baik maka akan menimbulkan masalah dalam belajar dan memerlukan penanganan.“Lelah memang ada tapi kita beri motivasi kepada mereka memberi gambaran ke depan dalam artian daripada mereka duduk di rumah tidak menentu arah disini kalian belajar terutama jika kalian nanti ingin kuliah.”

Perubahan kurikulum yang kerap dilakukan pemerintah menurut Ibu Dini bukanlah hal yang terlalu mempengaruhi dalam masalah belajar. Buku bukanlah sumber utama bagi seorang guru untuk mengejar melainkan keterampilan dalam memilih referensi dan cara dalam menyampaikan materi. Ibu Dini menganggap guru harus membuat cara dan perangkat sendiri dalam mengkomunikasikan materi pelajaran yang sesuai dengan kurikulum namun tetap dapat diterima oleh peserta didik. Dengan begitu materi dapat dirancang sesuai dengan silabus tetapi harus memperhatikan keadaan siswa baik dari segi kognitif dan pengalaman yang dengan disekitarnya

“Kalau perubahan kurikulum saya rasa kan tergantung kita mengajarnya. Yang penting kita mengajar bukan berdasarkan buku. Paling kita guru yang merasakan. Kalau anak-anak mereka tinggal mengikuti aja misalnya saya wajibkan punya satu buku wajib yang ada di perpustakaan buku penunjang lain terserah mereka boleh apa saja”

Masalah belajar yang dialami peserta didik juga dirasakan oleh Ibu Dini mendapat pengaruh dari keadaan sosial dan budaya masyarakat di lingkungannya. Sebelumnya Ibu Dini pernah merasakan jika ada sebagian masyarakat yang menganggap bahwa sekolah tidak begitu penting. Sehingga tidak jarang ada orang tua yang membiarkan anaknya tidak masuk sekolah dengan alasan mencari uang. Bahkan teguran dan panggilan dari sekolah acap kali tidak diindahkan. Mereka menganggap waktunya bekerja untuk mencari uang akan tersita dengan pergi memenuhi panggilan dari sekolah. Hal ini tentu saja mengurangi motivasi peserta didik dalam berprestasi di sekolah.

“Kalau dulu mungkin sekolah itu belum menjadi kebutuhan bagi mereka.Kalau anak tidak masuk sekolah tidak apa-apa. Kalau anak nggak masuk ke sekolah seminggu kita panggil orang tua nggak datang. Kalau kita datangin dia bilang “Kan saya perlu juga uang”.

Masalah yang dihadapi Ibu Dini sendiri sebagai seorang guru adalah mengatur waktu. Ibu Dini merasa sering merasa kekurangan waktu bersama peserta didiknya. Ibu Dini harus mengatur waktunya sebagai guru serta tugas tambahan yang diberikan sekolah serta sebagai ibu rumah tangga biasa di rumah. Ibu Dini kebingungan mengatur waktu ketika menemui banyak peserta didik yang bermasalah dalam belajar. Ibu Dini terpaksa memberi tugas khusus yang harus dikerjakan oleh peserta didik di rumah dan berusaha sebaik mungkin untuk

Dokumen terkait