• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

B. PENYAJIAN DATA 1. Karakteristik Responden

Responden yang dimaksud disini adalah para pedagang di pasar Lima, pasar Baru, pasar Niaga, dan pasar Sudimampir. Karakteristik responden perlu diketahui untuk melakukan segmentasi dan mengetahui kebribadian individu, sehingga dalam menerapkan strategi untuk mengetahui tingkat kepedulian masyarakat banjarmasin dalam mengantisipasi kerusakan pada uang kertas rupiah. Peneliti melibatkan 100 pedagang yang ada di empat pasar tersebut, dan krakteristik-krakteristik pengguna adalah sebagai berikut.

a. Jenis Kelamin

Pada umumnya laki-laki ataupun perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk menyampaikan sebagian pendapatnya. dengan persyaratan mereka adalah pedagang di pasar Lima, pasar Baru, pasar Niaga, dan pasar Sudimampir.

Tabel 4.1

Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

No Jenis Kelamin Frekuensi Persentase

1 Laki-laki 85 85%

2 Perempuan 25 25%

Total 100 100%

Sumber: hasil penelitian 2015 (Data diolah)

Dapat dilihat dari Tabel 4.1 bahwa jumlah responden dalam penelitian ini laki-laki sebanyak 85 orang atau 85% dan perempuan sebanyak 25 orang atau 25%. Berbadasarkan tabel diatas pada penelitian ini responden

didominasikan oleh laki-laki, selisih nilai keduanya cukup besar yaitu sebesar 60 orang atau 60%.

b. Umur

Dilihat dari kebiasaan, seseorang sudah memiliki pemikiran yang matang atau keinginan untuk mempunyai pekerjaan sendiri, umur > 20 tahun. Sedangkan kalau kita lihat, ada pedagang yang masih berumur < 20 tahun.

Tabel 4.2

Karakteristik Responden Berdasarkan Umur

No Umur Frekuensi Persentase

1 < 20 tahun 4 4%

2 21–35 tahun 11 11%

3 36–50 tahun 46 46%

4 > 50 tahun 39 39%

Total 100 100%

Sumber : hasil penelitian 2015 (Data Diolah)

Pada penelitian ini jumlah responden yang berumur < 20 tahun sebanyak 4 orang atau 4%, umur 21-35 tahun sebanyak 11 orang atau 11%, umur 36-50 tahun sebanyak 46 orang atau 46%, dan umur > 50 tahun sebanyak 39 orang atau 39%.

c. Pendidikan

Tabel 4.3

Karakteristik Responden berdasarkan Pendidikan Akhir

No Pendidikan Frekuensi Persentase

1 SD 14 14%

2 SMP 27 27%

3 SMA 53 53%

Total 100 100% Sumber : hasil penelitian 2015 (Data diolah)

Pada penelitian ini jumlah responden yang menyelesaikan pendidikan akhir SD 14 orang atau 14%, SMP 27 orang atau 27%, SMA 53 orang atau 53%, sedangkan yang menyelesaikan pendidikan sampai SARJANA hanya 6 orang atau 6%.

d. Jenis Jualan

Tabel 4.4

Karakteristik Responen Berdasarkan Jenis Jualan

No Jenis Jualan Frekoensi Persentase

1 Obat-obatan 9 9% 2 Buah-buahan 7 7% 3 Konveksi 26 26% 4 Elektronik/kaset 11 11% 5 warung makan 10 10% 6 Tas/sepatu/sendal 10 10% 7 Kosmetik 5 5% 8 Lain-lain 22 22% Total 100 100%

Sumber : hasil penelitian 2015 (Data diolah)

Pada penelitian ini kita bisa lihat, responden mempunyai jenis julalan yang beraneka ragam, yaitu penjual obat-obatan sebanyak 9 orang atau 9%, penjual buah-buahan sebanyak 7 orang atau 7%, penjual kerudung atau pakaian (konveksi) sebanyak 26 orang atau 26%, penjual elektronik dan kaset sebanyak 11 atau 11%, penjual makanan atau warung makan sebanyak 10 orang atau 10%, penjual tas, sepatu, dan sendal sebanyak 10 orang atau 10%, penjual kosmetik sebanyak 5 orang atau 5%, dan yang lainnya, seperti

jam, kacamata, alat penangkap ikan, pecah-belah, plastik, dan klontongan sebanyak 22 orang atau 22%.

e. Lokasi Pasar

Tabel 4.5

Karakteristik Responden Berdasarkan lokasi Pasar

No Pasar Frekuensi Persentase

1 Pasar Lima 18 185%

2 Pasar Baru 30 30%

3 Pasar Niaga 9 9%

4 Pasar sudimampir 43 43%

Total 100 100%

Sumber : hasil penelitian 2015 (Data diolah)

Pada penelitian ini jumlah responden berdasarkan lokasi pasar yaitu, pasar Lima sebanyak 18 orang atau 18%, pasar Baru 30 orang atau 30%, pasar Niaga 9 orang atau 9%, dan pasar Sudimampir sebanyak 43 orang atau 43%. Pengukuran tingkat kepedulian dan faktor yang paling dominan akan menggunakan skala Rating Scale yaitu cara yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok individu mengenai kejadian, sesuatu yang lagi diperbincangkan atau gejala sosial. Tetapi dibuat dalam tabel yang terdiri dari katagori, frekuensi, jumlah, skor dan persentasi, penjelasan lebih lanjut detailnya yaitu sebagai berikut.

-Katagori adalah suatu pertanyaan kepada responden tentang seputar hal yang berkaitan dengan penulis angkat.

-Frekuensi adalah jumlah responden yang menjawab masing-masing pilihan (Sangat setuju, setuju, kurang setuju, tidak setuju).

-Jumlah skor adalah jumlah responden yang menjawab sesuai pilihannya dikalikan dengan nilai masing-masing jawaban.

Sangat setuju = 4 x jumlah responden yang memilih Setuju = 3 x jumlah responden yang memilih Kurang setuju = 2 x jumlah responden yang memilih Tidak setuju = 1 x jumlah responden yang memilih

-Persentasi adalah jumlah skor dibagi dengan nilai tertinggi dikalikan dengan 100%. Cara mendapatkan nilai tertinggi adalah sangat peduli yaitu bernilai 4 x total responden.

-Kreteria Interprestasi skor menggmbarkan tingkat kepedulian, yaitu: 0% - 25% = Tidak Peduli

26%-50% = Kurang peduli 51%-75% = Peduli

76%-100% = Sangat peduli

2. Tingkat Kepedulian Masyarakat Banjarmasin Dalam Mengantisipasi Kerusakan Pada Uang Kertas Rupiah

Berdasarkan hasil pengumpulan jawaban responden, maka gambaran mengenai tingkat kepedulian masyarakat Banjarmasin dalam mengantisipasi kerusakan pada uang kertas rupiah, dapat penulis uraikan dibawah ini.

Terkait dengan pengukuran tingkat kepedulian dalam mengantisipasi kerusakan uang kertas rupiah, penulis membagikan ke beberapa indikator sebagai berikut.

a. Tindakan

Tabel 4.6

Penukaran Uang Kertas Rupiah Tidak Layak Edar atau Rusak pada Bank Indonesia Banjarmasin

No Katagori Frekuensi Jumlah

Skor Persentase 1 Sangat setuju (4) 4 16 4% 2 Setuju (3) 18 54 18% 3 Kurang setuju (2) 25 50 25% 4 Tidak setuju (1) 53 53 53% Total 100 173 100% Total Persentase = 173/400 x 100 % 43,25% Sumber : hasil penelitian 2015 (Data diolah)

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa responden yang menukarkan uang kertas rupiah tidak layak edar atau rusak pada Bank Indonesia ada beberapa tingkatan yaitu sebanyak 4 orang atau 4% memilih sangat setuju, 18 orang atau18% memilih setuju, 25 orang atau 25% memilih kurang setuju, dan 53 orang atau 53% memilih tidak setuju.

Jadi, berdasarkan data diatas pada tabel 4.6 yang paling besar yaitu yang memilih tidak setuju. Dan untuk total persentase sendiri sebesar 43,25%.

Tabel 4.7

Penukaran Uang Kertas Tidak layak Edar atau Rusak Pada Pelayanan Kas keliling

No Katagori Frekuensi Jumlah Skor Persentase 1 Sangat setuju (4) 7 28 7% 2 Setuju (3) 21 63 21% 3 Kurang setuju (2) 32 64 32% 4 Tidak setuju (1) 40 40 40% Total 100 195 100% Total Persentase = 195/400 x 100% 48,75% Sumber : hasil penelitian 2015 (Data diolah)

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa responden yang menukarkan uang kertas rupiah tidak layak edar atau rusak pada pelayanana Kas keliling ada beberapa tingkatan yaitu sebanyak 7 orang atau 7% memilih sangat setuju, 21 orang atau 21% memilih setuju, 32 orang atau 32% memilih kurang setuju, dan 40 orang atau 40% memilih tidak setuju.

Jadi, berdasarkan data diatas pada tabel 4.7 yang paling besar yaitu yang memilih tidak setuju. Dan untuk total persentase sendiri sebesar 48,75%.

Tabel 4.8

Penukaran Uang ketas Tidak layak Edar atau Rusak Pada Jasa Penukaran Uang

No Katagori Frekuensi Jumlah

Skor Persentase 1 Sangat setuju (4) 6 24 6% 2 Setuju (3) 22 66 22% 3 Kurang setuju (2) 34 68 34% 4 Tidak setuju (1) 38 38 38% Total 100% 196 100% Total Persentase = 196/400 x 100 % 49,00% Sumber : hasil penelitian 2015 (Data diolah)

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa responden yang menukarkan uang kertas rupiah tidak layak edar atau rusak pada Jasa Penukaran Uang ada beberapa tingkatan yaitu sebanyak 6 orang atau 6% memilih sangat setuju, 22 orang atau 22% memilih setuju, 34 orang atau 34% memilih kurang setuju, dan 38 orang atau 38% memilih tidak setuju.

Jadi, berdasarkan data diatas pada tabel 4.8 yang paling besar yaitu yang memilih tidak setuju. Dan untuk total persentase sendiri sebesar 49,00%.

b. Antisipasi

Tabel 4.9

Penyuluhan Terkait Penukaran Uang Tidak Layak Edar atau Rusak Oleh Bank Indonesia Banjarmasin

No Katagori Frekuensi Jumlah

Skor Persentase 1 Sangat setuju (4) 6 24 6% 2 Setuju (3) 53 159 53% 3 Kurang setuju (2) 23 46 23% 4 Tidak setuju (1) 18 18 18% Total 100% 247 100% Total Persentase = 247/400 x 100% 61,75% Sumber : hasil penelitian 2015 (Data diolah)

Berdasarkan tabel diatas, penyuluhan terkait penukaran uang tidak layak edar atau rusak ada beberapa tingkatan yaitu sebanyak 6 orang atau 6% memilih sangat setuju, 53 orang atau 53% memilih setuju, 23 orang atau 23% memilih kurang setuju, dan 18 orang atau 18% memilih tidak setuju.

Jadi, berdasarkan data diatas pada tabel 4.9 yang paling besar yaitu yang memilih setuju. dan untuk total persentase sendiri sebesar 61,75%.

Tabel 4.10

Merapikan Lembaran Uang kertas Sebelum Disimpan

No Katagori Frekuensi Jumlah

Skor Persentase 1 Sangat setuju (4) 7 28 7% 2 Setuju (3) 42 129 42% 3 Kurang setuju (2) 37 74 37% 4 Tidak setuju (1) 14 14 14% Total 100 245 100% Total Persentase = 245/400 x 100% 61,25% Sumber : hasil penelitian 2015 (Data diolah)

Berdasarkan tabel diatas, responden yang merapikan uang kertas sebelum disimpan ada beberapa tingkatan yaitu sebanyak 7 orang atau 7% memilih sangat setuju, 42 orang atau 42% memilih setuju, 37 orang atau 37% memilih kurang setuju, dan 14 orang atau 14% memilih tidak setuju.

Jadi, berdasarkan data diatas pada tabel 4.10 yang paling besar yaitu yang memilih setuju. dan untuk total persentase sendiri sebesar 61,25%

Tabel 4.11

Menyimpan/mengumpulkan Uang Tidak Layak Edar atau Rusak Untuk Ditukarkan Pada Jasa Penukaran Uang Yang Disediakan Oleh Bank

No Katagori Frekuensi Jumlah Skor Persentase 1 Sangat setuju (4) 5 20 5% 2 Setuju (3) 38 114 38% 3 Kurang setuju (2) 45 90 45% 4 Tidak setuju (1) 12 12 12% Total 100% 236 100% Total Persentase = 236/400 x 100% 59,00% Sumber : hasil penelitian 2015 (Data diolah)

Berdasarkan tabel diatas, responden menyimpan/mengumpulkan uang tidak layak edar atau rusak untuk ditukarkan ditempat penukaran yang disediakan oleh Bank Indonesia ada beberapa tingkatan yaitu sebanyak 5 orang atau 5% memilih sangat setuju, 38 orang atau 38% memilih setuju, 35 orang atau 45% memilih kurang setuju, dan 12 orang atau 12% memilih tidak setuju.

Jadi, berdasarkan data diatas pada tabel 4.11 yang paling besar yaitu yang memilih setuju. dan untuk total persentase sendiri sebesar 59,00%.

c. Partisipasi

Tabel 4.12

Tidak Menggunakan Uang Tidak Layak Edar atau Rusak Dalam bertransaksi

No Katagori Frekuensi Jumlah

Skor Persentase 1 Sangat setuju (4) 2 8 2% 2 Setuju (3) 57 171 57% 3 Kurang setuju (2) 26 52 26% 4 Tidak setuju (1) 15 15 15% Total 100% 246 100% Total Persentase = 246/400x 100% 62,00% Sumber : hasil penelitian (Data diolah)

Berdasarkan tabel diatas, responden yang tidak menggunakan uang tidak layak edar atau rusak didalam bertransaksi ada beberapa tingkatan yaitu sebanyak 2 orang atau 2% memilih sangat setuju, 57 orang atau 57% memilih setuju, 26 orang atau 26% memilih kurang setuju, dan 15 orang atau 15% memilih tidak setuju.

Jadi, berdasarkan data diatas pada tabel 4.12 yang paling besar yaitu yang memilih setuju. dan untuk total persentase sendiri sebesar 62,00%.

Tabel 4.13

Tidak Menerima Uang Tidak Layak Edar atau Rusak Dari Pembeli Dalam Bertransaksi

No Katagori Frekuensi Jumlah

Skor Persentase 1 Sangat setuju (4) 8 32 8% 2 Setuju (3) 53 159 53% 3 Kurang setuju (2) 24 48 24% 4 Tidak setuju (1) 14 14 14% Total 100 253 100% Total Persentase = 253/400 x 100% 63,25% Sumber : hasil penelitian 2015 (Data diolah)

Berdasarkan tabel diatas, responden yang tidak menerima uang tidak layak edar atau rusak dari pembeli didalam bertransaksi ada beberapa tingkatan yaitu sebanyak 8 orang atau 8% memilih sangat setuju, 53 orang atau 53% memilih setuju, 24 orang atau 24% memilih kurang setuju, dan 14 orang atau 14% memilih tidak setuju.

Jadi, berdasarkan data diatas pada tabel 4.13 yang paling besar yaitu yang memilih setuju. dan untuk total persentase sendiri sebesar 63,25%.

Tabel 4.14

Tidak Memberikan Uang Tidak layak Edar atau Rusak Kepada Pembeli Dalam Bertransaksi

No Katagori Frekuensi Jumlah

Skor Persentase 1 Sangat setuju (4) 4 16 4% 2 Setuju (3) 48 144 48% 3 Kurang setuju (2) 36 72 36% 4 Tidak setuju (1) 12 12 12% Total 100% 244 100% Total Persentase = 244/400 x 100% 61,00% Sumber : hasil penelitian 2015 (Data diolah)

Berdasarkan tabel diatas, responden yang tidak memberikan uang tidak layak edar atau rusak kepada pembeli didalam bertransaksi ada beberapa tingkatan yaitu sebanyak 4 orang atau 4% memilih sangat setuju, 48 orang atau 48% memilih setuju, 36 orang atau 36% memilih kurang setuju, dan 12 orang atau 12% memilih tidak setuju.

Jadi, berdasarkan data diatas pada tabel 4.14 yang paling besar yaitu yang memilih setuju. Dan untuk total persentase sendiri sebesar 61,00%.

Memperhatikan hasil kuesioner yang telah diuraikan dalam tabel-tabel tersebut, maka dapat diketahui secara keseluruhan mengenai gambaran Tingkat Kepedulian Masyarakat Banjarmasin Dalam Mengantisipasi Kerusakan Pada Uang Kertas Rupiah, dengan dibagi menjadi 3 indikator

terdiri atas 9 pertanyaan yang diajukan, maka untuk setiap skor dengan indikator masing-masing dapat diperolah persentase sebagai berikut:

1). Tindakan, yaitu terdiri atas :

Tabel 4.6 Menukarkan uang kertas rupiah tidak layak edar atau rusak pada Bank Indoneesia mendapat persentase sebesar 43,25%. Tabel 4.7 Menukarkan uang kertas rupiah tidak layak edar atau rusak pada pelayanan Kas Keliling mendapat persentase 48,75%. Tabel 4.8 Menukarkan uang kertas rupiah tidak layak edar atau pada Jasa Penukaran Uang mendapat persentase 49,00%. Jadi, nilai rata-rata persentase untuk indikator Peduli sebesar 47,00%.

2). Antisipasi, yaitu terdiri atas:

Tabel 4.9 Penyuluhan terkait penukaran uang tidak layak edar atau rusak oleh Bank Indonesia mendapat persentase 61,75%. Tabel 4.10 Merapikan lembaran uang kertas rupiah sebelum menyimpan mendapat persentase 61,75%. Tabel 4.11 Menyimpan uang kertas rupiah tidak layak edar atau rusak untuk ditukarkan ditempat penukaran uang yang disediakan olah Bank Indonesia mendapat persentase 59,00%. Jadi, rata-rata persentase untuk indikator Antisipasi sebesar 60,67 %.

3). Partisipasi uang, yaitu terdiri atas:

Tabel 4.12 Tidak menggunakan uang tidak layak edar atau rusak didalam bertransaksi mendapat persentase 62,00%. Tabel 4.13 Tidak menerima

uang tidak layak edar atau rusak dari pembeli didalam bertransaksi mendapat persentase 63,25%. Tabel 4.14 Tidak memberikan uang tidak layak edar atau rusak kepada pembeli didalam bertransaksi mendapat persentase 61,00%. Jadi, nilai rata-rata persentase untuk indikator Fisik uang sebesar 62,08%.

Rata-rata persentase dari 3 indikator adalah sebagai berikut:

= = 0,4243 x 100% = 42,43% 0% - 25% = Tidak Peduli 26%-50% = Kurang peduli 51%-75% = Peduli 76%-100% = Sangat peduli

Jadi, dapat disimpulkan dari seluruh responden yang penulis ajukan, maka nilai persentase untuk tingkat kepedulian masyarakat Banjarmasin dalam mengantisipasi kerusakan pada uang kertas rupiah yaitu 42,43% atau berada pada tingkatan kurang peduli.

3. Faktor yang paling dominan melatar belakangi adanya tingkat kepedulian masyarakat Banjarmasin dalam mengantisipasi kerusakan pada uang kertas rupiah.

47,00% + 60,67% + 62,08% 400

Berdasarkan faktor-faktor diatas yang sudah dijelaskan penulis maka untuk faktor yang paling dominan yaitu faktor partisipasi, dapat dijelaskan sebagai berikut:

Tabel 4.15

Sumber : Hasil penelitian 2015 (Data diolah)

Dari penjelasan diatas untuk rata-rata faktor Partisipasi adalah sebesar 63,25%, ini lebih besar persentasinya dibandingkan dengan faktor yang lain. Sehingga inilah yang dianggap sebagai faktor yang paling berpengaruh terhadap tingkat kepedulian masyarakat dalam mengantisipasi kerusakan pada uang kertas rupiah.

No Pertanyaan Katagori Jawaban persentase SP P KP TP Jlh % Jlh % Jlh % Jml % 1. Tidak menggunakan uang tidak layak edar atau rusak didalam bertransaksi

2 2% 57 57% 26 26% 15 15% 62,00%

2. Tidak menerima uang tidak layak edar atau rusak dari pembeli didalam bertransaksi

8 8% 53 53% 24 24% 14 14% 63,25%

3. Tidak memberikan uang tidak layak edar atau rusak kepada pembeli didalam

bertransasksi

C. Analisis Data

Memperhatikan uraian pada bagian sebelumnya mengenai tingkat kepedulian masyarakat dalam mengantisipsi kerusakan pada uang kertas rupiah dari aspek gambaran peduli dan antisipasi terhadap uang kertas sendiri, juga dari faktor yang paling dominan yang melatar belakangi adanya kepedulian terhadap uang kertas rupiah, ternyata dari kuesioner yang dijawab para responden ternyata bervariasi.

Berikut ini analisis kedua perumusan masalah tersebut, dilihat dari 3 faktor (Peduli, antisipasi, dan partisipasi) yang terbagi menjadi 9 pertanyaan mengenai uang kertas rupiah tidak layak edar atau rusak.

1. Tingkat kepedulian responden dilihat dari faktor Tindakan

Berdasarkan penyajian data dari 100 orang responden menunjukkan bahwa faktor peduli berada pada katagori tidak setuju yaitu untuk nilai persentasinya sebesar 47,00%.

Pada penelitian ini faktor Peduli di uji dengan 3 buah pertanyaan yaitu tanggapan responden mengenai:

a. Menukarkan uang kertas rupiah tidak layak edar atau rusak pada Bank Indonesia banjarmasin.

b. Menukarkan uang kertas rupiah tidak layak edar atau rusak pada pelayanan Kas Keliling.

c. Menukarkn uang kertas rupiah tidak layak edar atau rusak pada Jasa Penukaran Uang.

Tabel 4.16 No Pertanyaan Katagori Jawaban persentase SP P KP TP Jlh % Jlh % Jlh % Jml % 1. Menukarkan uang

kertas rupiah tidak layak edar atau rusak pada Bank Indonesia

4 4% 18 18% 25 25% 53 53% 43,25%

2. Menukarkan uang kertas rupiah tidak layak edar atau rusak pada pelayanan kas keliling

7 7% 21 21% 32 32% 40 40% 48,75%

3. Menukarkan uang kertas rupiah tidak layak edar atau rusak pada jasa penukaran uang

6 6% 22 22% 34 34% 38 38% 49,00%

Sumber : Hasil penelitian 2015 (Data diolah)

Hasil yang didapat dari pertanyaan diatas menunjukkan bahwa pelayanan yang diberikan Bank Indonesia melalui ketersediaan tempat penukaran uang didalam kantor Bank Indonesia sendiri, juga pelayaanan Kas Keliling yang ditepatkan di pasar, masih perlu ditingkatkan.

Dari hasil pernyataan responden terkait pertanyaan yang penulis ajukan, sebagian besar responden mengatakan tidak mengetahui adanya pelayanan Kas Keliling yang diadakan oleh Bank Indonesia. Selain itu mereka juga tidak punya waktu yang cukup untuk pergi ke tempat penukaran uang yang disediaan langsung didalam kantor Bank Indonesia. Kita lihat lagi dari landasan teori bagian pertama, dari pengertiaan uang secara garis besar adalah sesuatu yang dapat diterima secara umum yang digunakan para pelaku ekonomi sebagai alat pembayaran dari

transaksi ekonomi yang dilakukan seperti pembelian barang, artinya setiap orang yang melakukan transaksi jual-beli pasti menggunkan uang. Kedua, berdasarkan bahan dan fungsi uang sendiri. Uang disini berbahan kertas dan salah satu fungsinya sebagai alat pembayaran. Sehingga kita bisa lihat, uang yang terbuat dari kertas rentan mengalami kerusakan kalau tidak kita perlakukan dengan baik. Hal ini juga diperjelas lagi dengan peraturan perundangan pada Rancangan Undang-undang Bank Indonesia pasal 24 dan pasal 35 tentang Larangan Perusakan Uang Rupiah dan Sangsi Hukum atas perusakan Uang Kertas Rupiah.

Sehingga sangat disayangkan, pasilitas yang diberikan oleh Bank Indonesia untuk kalancaran dan kenyamanan penggunaan uang kertas rupiah untuk bertransaksi dengan menyediakan tempat penukaran uang tidak dimanfaatkan masyarakat dengan baik.

2. Tingkat kepedulian responden dilihat dari faktor antisipasi.

Berdasarkan penyajian data dari 100 orang responden menunjukkan bahwa faktor peduli berada pada katagori setuju yaitu untuk nilai persentasinya sebesar 60,67%.

Pada penelitian ini faktor Antisipasi di uji dengan 3 buah pertanyaan yaitu tanggapan responden mengenai:

a. Penyuluhan terkait penukaran uang kertas rupiah tidak layak edar atau rusak oleh Bank Indonesia

c. Menyimpan atau mengumpulkan uang kertas rupiah tidak layak edar atau rusak yang dimiliki untuk ditukarkan ditempat penukaran uang yang disediakan oleh Bank Indonesia.

Tabel 4.17 No Pertanyaan Katagori Jawaban persentase SP P KP TP Jlh % Jlh % Jlh % Jml % 1. Penyuluhan terkait penukaran uang kertas rupiah tidak layak edar atau rusak oleh Bank Indonesia sangat membantu

6 6% 53 53% 23 23% 18 18% 61,75%

2. Merapikan lembaran uang kertas rupiah sebelum disimpan.

7 7% 42 42% 37 37% 14 14% 61,25% 3. Menyimpan uang

kertas tidak layak edar atau rusak yang kita miliki untuk ditukarkan ditempat penukaran uang yang disediakan oleh Bank Indonesia.

5 5% 38 38% 45 45% 12 12% 59,00%

Sumber : Hasil penelitian 2015 (Data diolah)

Hasil yang didapat dari pertanyaan diatas menunjukkan bahwa masih perlu diadakan penyuluhan lebih lagi tekait antisipasi kerusakan uang kertas rupiah yang berhubungan dengan memperlakukan uang kertas rupiah itu sendiri baik pada penggunaannya, maupun penyimpanannya.

Kita lihat lagi dari landasan teori hubungan kepedulian dalam mengantisipasi kerusakan pada uang kertas rupiah bisa kita lihat pada jenis-jenis kepedulian. Disini masyarakat berada pada jenis kepedulian pribadi dan bersama. Artinya tindakan masyarakat sebagai seseorang yang peduli secara tidak langsung terlihat dari sebuah sikap untuk mengantisipasi uang kertas rupiah itu sendiri yang sebenarnya sebuah tindakan yang tanpa disadari individu dia telah peduli dengan dirinya dan peduli dengan sesamanya.

3. Tingkat kepedulian responden dilihat dari faktor Partisipasi

Berdasarkan penyajian data dari 100 orang responden menunjukkan bahwa faktor peduli berada pada katagori setuju yaitu untuk nilai persentasinya sebesar 62.,08%.

Pada penelitian ini faktor Fisik uang di uji dengan 3 buah pertanyaan yaitu tanggapan responden mengenai:

a. Tidak menggunkan uang rupiah tidak layak edar atau rusak didalam bertransaksi.

b. Tidak menerima uang rupiah tidak layak edar atau rusak dari pembeli didalam bertransaksi.

c. Tidak memberikan uang rupiah tidak layak edar atau rusak kepada pembeli didalam bertansaksi.

Hasil yang didapat dari pertanyaan diatas bahwa sebagian besar responden tidak menggunakan uang tidak layak edar atau rusak didalam bertransasi. Hal itu dapat dilihat dari responden tidak menerima uang

tidak layak edar atau rusak dari pembeli. maupun sebaliknya, responden tidak memberikan uang tidak layak edar atau rusak kepada pembeli.

Adapun uang tidak layak edar atau rusak yang ada, didapat dari pembeli ketika ramai dan juga diselipkan dilembaran uang rupiah yang lain. Sehingga tidak mengetahui adanya uang tidak layak edar atau rusak.

Untuk meyakinkan mengenai tingkat kepedulian masyarakat Banjarmasin dalam mengantisipasi kerusakan pada uang kertas rupiah sehingga penulis melakukan survey kelapangan dengan cara mempertanyakan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan uang kertas rupiah tidak layak edar atau rusak, ini dilakukan untuk mendapatkan jawaban yang benar-benar jujur dari para responden. Dengan metode ini, perusahaan atau Bank Indonesia memperoleh tanggapan langsung dari para responden bahwa Bank Indonesia perlu meningkatkan pelayanannya terhadap masyarakat.

Pertanyaan yang dilakukan di dalam kuesioner sendiri untuk mengetahui tingkat kepedulian masyarakat maka dibahas mengenai pelayanan yang diberikan oleh Bank Indonesia kepada masyarakat menunjukkan bahwa mereka setuju, dari hasil kuesioner mereka menyatakan hal tersebut sangat membantu.

Memperhatikan kuesioner yang dijawab oleh 100 orang responden mengenai tingkat kepedulian dalam mengantisipasi kerusakan pada uang kertas rupiah ternyata memberikan jawaban yang bervariatif pada tiap kuesionernya. Namun pada umumnya secara keseluruhan rata-rata responden memberikan persentase sebesar 42,43% atau pada skor 2 dengan katagori kurang peduli. Sehigga dapat disimpulkan bahwa pedagang di pasar Lima, pasar Baru, pasar Niaga, dan pasar Sudimampir masih kurang peduli.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data yang penulis kemukakan pada Bab sebelumnya maka dapat diambil kesimpulan bahwa indikator yang menjadi acuan tingkat kepedulian masyarakat Banjarmasin dalam mengantisipasi kerusakan pada uang kertas rupiah, yaitu sebagai berikut.

1. Mengenai Tingkat Kepedulian, hasil komulatif dari 3 variabel diperoleh persentasenya sebesar 42,43% dengan katagori kurang peduli. Artinya tingkat kepedulian masyarakat Banjarmasin dalam mengantisipasi kerusakan pada uang kertas rupiah ini masih kurang peduli. Hal ini bisa kita lihat dari banyaknya ketidak tahuan para pedagang dengan adanya pelayan yang diberikan oleh Bank Indonesia baik di kantor maupun melalui kegiatan Kas Keliling yang biasanya berada di dekat pasar.

2. Mengenai Partisipasi sendiri, diperoleh nilai rata-rata persentase sebesar 62,08% dengan katagori peduli, dimana sebagian besar masyarakat tidak

Dokumen terkait