BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
B. Penyajian Data
1. Konsep Kurikulum Mandiri Terpadu
Kurikulum Mandiri Terpadu pada dasarnya merupakan rekayasa ulang kurikulum yang telah ada dengan cara memadukan kurikulum penerintah dengan kurikulum pesantren. Tujuannya agar santri tidak hanya mampu memahami ajaran agama saja, namun ia mampu memahami ilmu-ilmu umum.
Pengembangan model kurikulum ini didasarkan pada kecermatan para pengajar di lingkungan PPPI Miftahussalam terhadap UUD 1945 Pasal 31 Ayat 5. Sebagaimana diamanatkan undang-undang, yang intinya bahwa penyelenggaraan pendidikan seyogyanya megembnagan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjungjung tinggi nilai-nilai agama. Nah kami sebagai lembaga pendidikan yang konsen dan fokus pada pengembangan ilmu-ilmu agama sebagai pedoman hidup para santri pada masa yang akan datang juga ingin agar mereka memahami ilmu-ilmu umum yang berkembang di masyarakat, sehingga hati mereka diisi, otakpun ikut diisi. Di sini keseimbangan hati dan otak jadi pertimbangan kami memnyusun kurikulum mandiri terpadu. (Wawancara dengan Abah Kasno Matholi, S. Pd. pada tanggal 7 Oktober 2016)
Pemaduan kurikulum Iptek dan Imtaq merupakan usaha nyata Pondok Pesantren Pendidikan Islam Miftahussalam sebagai penyelenggara pendidikan. Kami melakukan sebuah inovasi dalam
mengembangkan kurikulum untuk meningkatkan kualitas santri secara keilmuan dan pengamalan.
Pemanduan imtaq (mata pelajaran pendidikan agama Islam) dengan iptek, baik dalam bentuk iptek yang terdapat dalam mata pelajaran umum atau konsep dan teori iptek yang ada di luar mata pelajaran tersebut. Misalnya kitab Fikih dipadukan dengan konsep dan teori ilmiah yang sedang banyak diperbincangkan dikalangan masyarakat seperti pembahasan tentang puasa yang dipandang dan dipadukan dengan kesehatan dan penelitian beberapa ahli. (Wawancara dengan bapak Kidam, S. Pd. pada tanggal 17 Oktober 2016).
PPPI Miftahussalam berinovasi dengan mengembangkan kurikulum yang telah ada. Kegiatan perencanaan dan pengembangan kurikulum dilakukan oleh tim penyusun kurikulum yang memakan waktu kurang lebih 2 (dua) tahun dalam melakukan pengamatan. Tim penyusun kurikulum saling bekerja sama dengan ustadz dan ustadzah dalam melakukan pengamatan terhadap santri. (Wawancara dengan bapak Drs. Nur Abdullah, M. Pd. pada tanggal 17 Oktober 2016).
Adanya konsep kurikulum mandiri terpadu menuntut ustadz/ustadzah lebih kreatif dan tanggap dengan berbagai fenomena yang ada sehingga mampu memadukan kedua kurikulum dengan baik. Ustadz/ustadzah dituntut banyak membaca dan menyusun konsep pembelajaran dengan baik agar para santri mampu memahami bahan ajar secara utuh dan menyeluruh. Harapan terbesarnya adalah mampu
menghasilkan santri yang memiliki nilia-nilai religiusitas yang tinggi dan berintelektual tinggi juga. (Wawancara dengan Ibu Lili Yulianti, S. Pd. pada tanggal 26 Oktober 2016)
2. Bentuk Kurikulum Mandiri Terpadu
Pemahaman terhadap materi ajar bagi santri sangat penting, tetapi akan jauh lebih penting dan lebih bermakna jika santri mampu memahami materi ajar yang menumbuhkan keimanan pada Allah swt. Misalnya kita belajar tentang pergeseran bumi yang mengakibatkan gempa bumi. Kita kupas materi itu secara tuntas lalu kita padukan dengan pesan Allah swt dalam al Quran surat Al Zalzalah. Dari sini kita ngajak agar santri berpikir lebih dalam dan lebih luas lagi bahwa apa yang terjadi di alam semesta sudah digambarkan dalam kitab suci kita. Harapannya, para santri semakin meningkat keimanannya. Nah, disini kami coba santri itu selain otaknya diisi dengan ilmu pengetahuan, hatinya pun diisi agar kepandaian yang mereka peroleh tidak lantas membuat mereka sombong. (Wawancara dengan Abah Kasno Matholi, S. Pd. pada tanggal 7 Oktober 2016)
Al Quran dan Hadits merupakan dasar hukum Islam yang utama. Berbagai persoalan banyak diceritakan di sana, baik tentang alam, hukum, kisah hari akhir dan sebagainya. Semuanya telah jelas tercantum dan para santri juga tahu. Akan tetapi untuk memudahkan pemahaman perlu adanya perpaduan sumber hukum Islam tersebut dengan fenomena alam yang ada di tengah masyarakat kita. Misalnya kita mengkaji kitab
akhlak yang disitu kita analogikan dengan penanaman dan perawatan pohon agar bisa tumbuh dengan baik, demikian pula dengan penanaman akhlak pada diri santri.
Dalam merencanakan dan mengembangkan kurikulum PPPI Miftahussalam melakukan perumusan tujuan umum, penentuan tema umum, penentuan kerangka waktu, bentuk pola sekuen materi, strategi pembelajaran, serta penetapan bentuk penilaian. Dalam kegiatan tersebut tim penyusun kurikulum menyusun terlebih dahulu untuk kemudian di musyawarakan bersama ustadz dan ustadzah. Hal tersebut dimaksudkan agar ustadz dan ustadzah ikut terlibat dalam perencanaan dan pengembangan kurikulum karena guru merupakan ujung tombak dalam penerapan kurikulum tersebut nantinya. Ustadz dan ustadzah diberikan kesempatan untuk berkomentar dan memberi saran sesuai dengan pengalamannya dalam mengajar santri. (Wawancara dengan ibu Lili Yulianti pada tanggal 26 Oktober 2016)
3. Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum Mandirir Terpadu
PPPI Miftahussalam berinovasi dengan mengembangkan kurikulum yang telah ada. Kegiatan perencanaan dan pengembangan kurikulum dilakukan oleh tim penyusun kurikulum yang memakan waktu kurang lebih 2 (dua) tahun dalam melakukan pengamatan. Tim penyusun kurikulum saling bekerja sama dengan ustadz dan ustadzah dalam melakukan pengamatan terhadap santri. (Wawancara dengan bapak Drs. Nur Abdullah, M. Pd. pada tanggal 17 Oktober 2016).
Dalam merencanakan dan mengembangkan kurikulum PPPI Miftaussalam melakukan perumusan tujuan umum, penentuan tema umum, penentuan kerangka waktu, bentuk pola sekuen materi, strategi pembelajaran, serta penetapan bentuk penilaian. Dalam kegiatan tersebut tim penyusun kurikulum menyusun terlebih dahulu untuk kemudian di musyawarakan bersama ustadz dan ustadzah. Hal tersebut dimaksudkan agar ustadz dan ustadzah ikut terlibat dalam perencanaan dan pengembangan kurikulum karena guru merupakan ujung tombak dalam penerapan kurikulum tersebut nantinya. Ustadz dan ustadza diberikan kesempatan untuk berkomentar dan memberi saran sesuai dengan pengalamannya dalam mengajar santri. (Wawancara dengan ibu Lili Yulianti, S. Pd. pada tanggal 17 Oktober 2016)
4. Proses Implementasi Kurikulum Mandiri Terpadu
Implementasi merupakan suatu penerapan ide, konsep, kebijakan, atau inovasi dalam suatu tindakan praktis sehingga memberikan dampak, baik berupa perubahan pengetahuan, keterampilan maupun nilai dan sikap. Sedangkan yang dimaksud dengan implementasi kurikulum ialah suatu proses penerapan ide, konsep dan kebijakan kurikulum (kurikulum potensial) dalam suatu aktivitas pembelajaran, sehingga peserta didik menguasai seperangkat kompetensi tertentu sebagai hasil interaksi dengan lingkungan.
Implementasi atau penerapan kurikulum dilakukan oleh ustadz dan ustadzah yang merupakan ujung tombak. Tingkat keberhasilan dalam
suatu penerapan kurikulum ditentukan oleh mereka. Oleh sebab itu, PPPI Miftahussalam melakukan sosialisasi selain melibatkan ustadz dalam merencanakan kurikulum. Kemudian memberikan pelatihan berupa In-House Training agar ustadz dan ustadzah mampu memahami secara utuh kurikulum yang akan disampaikan kepada santri. Selain itu, menciptakan ruang belajar santri yang kondusif dan sesuai dengan materi yang akan diajarkan. PPPI Miftahussalam juga melakukan pengembangan fasilitas dan sumber belajar agar sesuai dengan kurikulum yang dilaksanakan. Misalnya dengan menambah jumlah buku-buku non fiksi, karya ilmiah, jurnal ilmiah serta majalah yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.
Kemudian mendisiplinkan peserta didik, dalam hal ini membiasakan santri untuk tidak menyepelekan kegiatan belajar mengaji. Karena biasanya santri yang juga bersekolah akan mudah menyepelekan kegiatan belajar mengaji. Selanjutnya, profesionalisme kepala madrasah diniyah juga menjadi hal yang diperhatikan oleh pengasuh PPPI Miftahussalam yaitu dengan melakukan supervisi kepala madrasah diniyah secara berkala.
Kemudian mengubah paradigma guru mengenai kegiatan belajar mengaji yang selama ini masih berpusat pada ustadz bukan kepada santri. Hal tersebut dikarenakan sudah menjadi tradisi dan ciri khas dalam pondok pesantren bahwa santri harus takdim dan sendiko dawuh dengan setiap apa yang dikatakan oleh ustadz. Namun, PPPI Miftaussalam mencoba berinovasi dengan merubah tradisi pembelajaran berpusat pada
ustadz menjadi berpusat pada santri tanpa menghapuskan sifat takdim dan sendiko dawuh tersebut memang bukan hal yang mudah untuk dilakukan perlu proses dan waktu yang lama untuk mewujudkannya. (Wawancara dengan bapak Kidam, S. Pd. pada tanggal 26 Oktober 2016).
Dalam kegiatan belajar mengaji strategi pembelajaran yang digunakan adalah student centered dimana siswa yang menjadi pusat pembelajaran. Ustadz hanya mendampingi saja serta memberikan penilaian terhadap individu santri berdasarkan sikap dan kemampuan intelektual santri. Metode yang dilakukan ialah dengan membagi santri menjadi beberapa kelompok dalam kelas, kemudian ustadz memberikan tema pada masing-masing kelompok untuk dianalisis dan dipresentasikan dalam kelas. Ustadz mendampingi dan memberi klarifikasi. (Wawancara dengan bapak Kastono, M. S. I. pada tanggal 29 Oktober 2016).
5. Evaluasi Implementasi Kurikulum Mandiri Terpadu
Sebagai tahapan terakhir dari kegiatan implementasi kurikulum dituntut adanya ketuntasan aktivitas dan keterukuran hasil yang dicapai. Menurut Raka Joni bentuk evaluasi dalam kurikulum terpadu pada dasarnya tidak berbeda dengan bentuk evaluasi kurikulum konvensional, hanya saja dalam evaluasi kurikulum terpadu di samping evaluasi terhadap proses dan hasil harus banyak diarahkan pada evaluasi dampak pengiring.
Evaluasi yang dilakukan masih sama dengan yang lainnya yaitu dengan UTS dan UAS mengenai tema-tema yang telah dibahas bersama dalam kelas. Akan tetapi ustadz juga melakukan penilaian terhadap sikap santri dalam mengikuti kegiatan belajar mengaji, kedisiplinan, kehadiran dan tanggung jawab teradap tugas yang telah diberikan oleh ustadz. (Wawancara dengan bapak Drs. Nur Abdullah, M. Pd. pada tanggal 29 Oktober 2016).
Evaluasi kurikulum dilakukan oleh tim penyusun kurikulum yang melakukan musyawarah pada akhir semester. Musyawarah tersebut juga melibatkan ustadz, ustadzah serta pengasuh dan kepala madrasah diniyah. Hal yang dimusyawarahkan antara lain hasil dari implementasi kurikulum mandiri terpadu sudah sesuai kah dengan tujuan atau belum. Jika sudah sesuai perlu ditingkatkan lagi agar hasil yang dicapai menjadi maksimal. Sedangkan jika belum sesuai maka akan dilakukan analisis dan perbaikan pada bagian yang belum maksimal. (Wawancara dengan bapak Kasbiyanto, M. Pd. I. pada tanggal 9 November 2016).
Evaluasi atau penilaian dilakukan bukan hanya tertulis melainkan juga penilaian secara lisan mengenai beberapa hal yang memang harus diafalkan oleh santri. Hal tersebut dilakukan agar santri mampu memahami isi dari kitab-kitab yang telah diajarkan. Tugas ustadz dan ustadzah selain memberikan penilaian terhadap kemampuan intelektual santri juga memberikan penilaian terhadap kemampuan dan sikap santri dalam hal tanggung jawab terhadap tugas yang telah diberikan,
kemampuan bekerja sama dalam kelompok, bagaimana menghargai orang lain serta pemahaman terhadap keadaan lingkungan sekitar. (Wawancara dengan ibu Lili Yulianti pada tanggal 9 November 2016). 6. Hambatan dan Tantangan Implementasi Kurikulum Mandiri Terpadu
Hambatan-hambatan yang ada dalam implementasi kurikulum terpadu sangatlah beragam. Hal tersebut tergantung pada letak geografis lembaga pendidikan, kondisi sumber daya manusia yang ada dalam lembaga, keadaan sarana dan prasarana lembaga, dana yang dimiliki dan lain-lain.
PPPI Mifatahussalam mengalami beberapa hambatan dalam penerapan kurikulum mandiri terpadu, diantaranya adalah:
a. Sumber daya manusia dalam hal ini ustadz dan ustadzah yang masih belum bisa memahami secara utuh tentang konsep kurikulum mandiri terpadu sehingga dalam melakukan kegiatan belajar mengaji belum maksimal.
b. Kesadaran santri yang juga belum maksimal untuk menjaga setiap sarana yang telah disediakan di pondok pesantren. Banyak buku yang lama belum dikembalikan dan juga tidak menjaga dengan baik buku yang telah dipinjam.
c. Penyalahgunaan Free Wi-Fi yang menjadi fasilitas pondok untuk kegiatan lain di luar kegiatan belajar mengaji.
d. Kurangnya kedisiplinan santri dalam melaksanakan kegiatan belajar mengaji dengan alasan lelah di madrasah sehingga kurang fokus
dengan diniyah. (Wawancara dengan bapak Kasbiyanto, M. Pd. I. pada tanggal 9 November 2016)
Penilaian kurikulum mandiri terpadu dirasa sangat merepotkan oleh ustadz dan ustadzah. Karena harus melakukannya dua kali yaitu pada evaluasi seperti UTS dan UAS serta pada kegiatan belajar mengaji. Selain itu, meminta santri untuk melakukan dan mengerjakan tugas itu juga tidak mudah. Santri mengeluh lelah dengan semua kegiatan di madrasah sehingga saat kegiatan diniyah menjadi kurang fokus dan cenderung untuk menyepelekan. Kurikulum yang juga dirasa berat untuk ustadz dalam menyusun tema materi dan mengaitkannya dengan ilmu pengetahuan teknologi karena harus melakukan dua kali yaitu memahami dengan baik makna dari kitab dan juga harus mengetahui mengenai informasi tentang pengetahuan dan teknologi yang ada saat ini. (Wawancara dengan ibu Lili Yulianti, S. Pd. pada tanggal 9 November 2016).