• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP

B. Saran

1. Bagi Tokoh Masyarakat atau Kepala Desa

Diharapkan agar tokoh masyarakat dan instansi pemerintah desa menjaga, melindungi dan melestarikan tradisi yang sesuai dengan norma dalam bingkai kebaikan untuk mewujudkan kemaslahatan dan kesejahtraan masyarakat, sehingga masyarakat merasa nyaman akan meningkatkan nilai interaksi sosial yang lebih baik.

2. Bagi Masyarakat

Masyarakat hendaknya terus menciptakan pengetahuan dari nilai budaya dan tuntunan Ajaran Islam sehingga para generasi selanjutnya dapat membedakan mana kebaikan dan mana kemodhoratan. Selain itu masyarakat harus meningkatkan kemampuan diri memotivasi cara berfikir yang baik kedepannya untuk mewujudkan masyarakat yang milenial berupa kebaikan, kemanfaatan, keselamatan dan kebahagian.

3. Bagi Dukun Bayi

Dukun bayi hendaknya serius dalam melaksanakan tugasnya sebagai tonggak kebaikan dalam tradisi meret kandung sehingga target-target harus sesuai dengan harapan akan benar-benar tercapai. Selain itu dukun bayi menjadi juru penyelamat terhadap anak yang akan dilahirkan oleh karenanya harus benar-benar maksimal dengan tanggung jawabnya.

DAFTAR PUSTAKA Al Qur’an

Buku

Arikunto, Suharsimi.Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.

Jakarta: Rineka Cipta.

Ali Mohammad Daud. 2004. Hukum Islam Pengantar Ilmu Hukum Islam Dan Tata Hukum Islam Di Indonesia. Jakarta: PT. Raja Garafindo Persada.

Al-Syatibi.1991.Al-I’tishom. Beirut: Dar Al-Fikr.

Ahmad Saebani Beni, Hamid Abdul. 2010. Ilmu Akhlaq. Bandung: Pustaka Setia.

Bin Qasim Al Gazi, Muhammad. Syarah Fathul Qaarib. Surabaya Darul Ulum.

Depertemen Pendidikan Nasional.2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia.

(EdisiKetiga) Jakarta :Balai Pustaka.

Djam’an Satori, Aan Komariah. 2014. Metodologi Penelitian Kualitatif.

Bandung: Alfabeta.

Iain Jember. 2017. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Jember: Iain Jember Press.

Junaidi, Ahmad. 2014. Filsafat Hukum Islam. Jember: Stain Press.

Meleong, J Lexy. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT.

Remaja.

Mubarok, Abu Hazim. 2012. Fiqih Idola terjemahan Fathul Qorib Buku Satu. Jawa Barat: Mukjizat.

Muhajir, Noeng. 1996. Metodologi Penelitian Kualitatif . Yogyakarta:

Rakesarasin.

Mujtaba, Saifuddin. 2012. Ilmu Fiqih Sebuah Pengantar. Jember: Stain Jember Press.

Muniron, Dkk. 2009. Studi Islam Di Perguruan Tinggi. Jember: Stain Jember Press.

Munawar Kholil. 1955.Kembali Kepada Al-Quran Dan As-Sunnah.

Semarang: Bulan Bintang.

Harisudin, M Noor. 2013. Pengantar IlmuFiqih. Surabaya: Pena Salsabila.

Musfiqon. 2012. Panduan Lengkap Metodologi Penelitian Pendidikan.

Jakarta: PT.Prestasi Pustaka Raya.

Muhammad Makhdlori, Muhammad. 2012.JikaIngin Bahagia Bertransaksilah Dengan Allah. Jogjakarta: Sabil

Qayyum Said, M.Ridwan. 2006. Rahasia Sukses Fuqaha. Lirboyo: Mitra Gayatri

Nazir, Moh. 2013. Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia

Noor, Juliansyah. 2012. Metodologi Penelitian. Jakarta: Prenada Media Group.

Ninik Sri Wahyuni, Yusniati. 2017. Manusia Dan Masyarakat. Jakarta:

Ganeca Exact.

Khalil Al Qattan, Manna. 2012. Studi Ilmu-Ilmu Al Qur’an.Bogor: Pustaka Lentera Antar Nusa.

Sapiudin Shidiq. 2014. Ushul Fiqh. Jakarta: Jakarta Prenada Media Group.

Munawier, SamsulArifin. 2011. Dari Santri Untuk Negeri. Sidogiri:

Sidogiri Press.

Muhammad Syahrur. 2008. Metodologi Fihq Islam. Yogyakarta: Esaq Press.

Sarwono, Jhonatan.2006. Metode Penelitian Kualitatif & Kuntitatif.

Yogyakarta: Graha Ilmu.

Sugiyono.2011.Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D.

Riduan, Jhonatan. Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru Kayawan Dan Peneliti Pemula. Bandung: Alfabeta

Jalaluddin Al-Suyuti. 1987.Al-Asbah Wa Al-Nazdo’ir. Semarang: Maktabah Usaha.

Utomu Budi Setiawan. 2003. Fiqih Aktual.Jakaerta: Gema Insani Press.

Wahab Khallaf, Abdul.2002. Ilmu Ushulul Fiqh, Terj. Noer Iskandar Al-Bansany, Kaidah-Kaidah Hukum Islam. Jakarta: Pt. Raja Grafindo Persada.

Skripsi

Dewi Sri Marianty. 2014. FaktorFaktor Yang Mempengaruhi Terhadap Pijatan Bayi Usia 0-12 Bulan Di Komplek Tni Sabang. Skripsi Stikes U’budiyah Aceh.

Parsini. 2013. Pengaruh Pijat Bayi Terhadap Durasi Pada Bayi Usia 0-3 Bulan Di Rumah Bersalin Sragen, Skripsi, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Windri Hartika. 2016. Makna Tradisi Selapanan Pada Masyarakat Jawa Di Desa Gedung Agung Kecamatan Jati Agung Kabupaten Lampung Selatan. Universitas Lampung: Fakultas Keguruan

Sumber Internet Jurnal

Http://Www.Lontarmadura.Com/Pelet-Kandung-Upacara-Adat-Kehamilan-Masyarakat-Madura

Http://Web.Id/Kebudayaan.Madura

“TRADISI MERET KANDUNG DI DESA

GENDANG BARAT PULAU SAPUDI (Dalam Tinjauan Hukum Islam)”

1. Tradisi

Meret Kandung

2. Hukum Islam

a. Sejarah tradisi Meret Kandung.

b. Syarat pelaksanaan Meret kandung.

c. Prosesi Adat istiadat

a. Konsep Umum

b. Metode ijtihad

c. Qaidah fiqhiyah

1).Asal muasal tradisi meret kandung

2).faktor-faktor terbentuknya tradisi meret kandung 3).Akulturasi budaya meret kandung

1).Sarat-syarat meret kandung 2).Tujuan dan hikmahnya

1).Rangkaian upacara meret kandung

2).Nilai sosial dalam Relegi

1) Pengertian umum.

2) Sumber Hukum islam 3) Objek kajian Hukum islam

1) Qiyas 2) Istishlah

3) Maslahah mursalah 4) Al urf

1) Al adatu muhakkamah

1. Sumber primer - Kepala desa

- Masyarakat - Sesepuh desa - Tokoh adat

istiadat 2. Sumber Skunder

- Jurnal - Skripsi - Dokumenter - Kepustakaan - www.google

1.Pendekatan Penelitian Kualitatif

2.Metode pengumpulan data

a. Wawancara b. Observasi c. Dokumentasi

3.Teknik analisis data menggunakan Deskriptif Analisis

4.Keabsahan data a. Sumber b. Metode

1. Bagaimana tradisi meret kandung di Desa Gendang BaratPulau Sapudi ?

2. Bagaimana pandangan hukum islam terhadap tradisi meret kandung di Desa Gendang Barat Pulau Sapudi ?

2. Berapa dan siapa saja yang menjadi rujukan masyarakat 3. Berapa jumlah masyarakat desa gendang barat

4. Kegiatan apa saja yang di lakukan dalam upacara meret kandung 5. Bagaimana pelaksanaannya

6. Bagaimana proses pelaksanaannya

7. Apakah ada pemisah antara hadirin dan keuarga

B. Untuk Masyarakat dan Ibu Hamil

1. Kegiatan apa saja yang dilakukan pada saat hamil 2. Bagaimana prosesi meret kandung

3. Langkah apa saja sebelum acara meret kandung dilakukan 4. Sejauh mana ketenangan setelah acara memandikan 5. Apa saja yang dilakukan untuk mempersiapkan

3. Bagaiman rangkaian acaranya

4. Sejauh mana keseamatan menjadi tanggung jawab dukun bayi 5. Apakah ada permasalahan jikalau tidak melaksabm,nakan meret

kandung.

Prosesi Acara Memandikan Ibu Hamil Memegang Nyior Gedding (Kelapa Gading) Dan Suaminya Memegang Telur Ayam, Penutup TubuhnyaMenggunakan Kain Labun (Putih) Untuk Mudah Menyerap Dan Ibu Mertuanya Megang Sisir Untuk Merapikan Rambutnya.

Gambar 1.2

Acara Memandikan, Alat Yang Digunakan Gayung Terbuat Dari Tempurung Kelapa Yang Masih Ada Isinya Dan Gagangnya Menggunakan Pohon Kosambi Yang Masih Ada Daunnya.

Bersama, Para Tamu Undangan Tidak Di Perkenankan Untuk Melihat Acara Memandikan Kecuali Punya Ikatan Keluarga, Acara Ini Di Pinpin Oleh Seorang Kiai Setempat.

Gambar 1.4

Prosesi Penginjakan Telur Setelah Sebelumnya Telur Yang Tidak Pecah Ketika Dijatuhkan.

Gambar 1.5

Rangkaian Penyiraman Oleh Dukun Bayi, Interaksi Sosial Ini Merupakan Hukum Dari Tradisi Meret Kandung Untuk Menjadikan Adat Sebagai Kemaslahatan Dan Keselamatan Sehingga Sangat Perlu Di Laksanakan Dan Menjadi Kewajiban

Memandikan Dengan Menggunakan Bak Kecil Yang Di Sebut Dengan Air Kembang Tujuh Rupa Karena Airnya Di Campur Dengan Tujuh Macam Bunga

Gambar 1.7

Peneliti Saat Wawancara DenganTokoh Agama

Dokumen terkait