• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN PEMBAHASAN DATA

A. Penyajian Data

Ada tiga data yang disajikan pada bab ini, yaitu (1) penerapan metode NHT (Numbered Heads Together) dalam pembelajaran menulis pantun pada siswa kelas VII SMP Negeri I Kuwarasan, (2) pengaruh penggunaan metode NHT (Numbered Heads Together) terhadap aktivitas dan minat dalam pembelajaran menulis pantun pada siswa kelas VII SMP Negeri I Kuwarasan, dan (3) peningkatan kemampuan menulis pantun siswa kelas VII H SMP Negeri 1 Kuwarasan setelah menggunakan metode NHT (Numbered Heads Together).

1. Penerapan Metode NHT (Numbered Heads Together) dalam Pembelajaran Menulis Pantun pada Siswa Kelas VII SMP Negeri I Kuwarasan

Penerapan pembelajaran menulis pantun dengan metode NHT pada siswa kelas VII SMP Negeri 1 Kuwarasan terdapat tiga tahapan, yaitu prasiklus, siklus I, dan siklus II.

Tabel 5

Penerapan Pembelajaran Menulis Pantun dengan Metode NHT (Numbered Heads Together) Tahap

Penelitian Prasiklus

Siklus I Siklus II

Perencanaan 1. Menentukan jadwal penelitian

2. Penentukan pembatasan materi yang diajarkan 3. Menyusun RPP

4. Menyiapkan materi yang berkaitan dengan pantun 5. Menyiapkan sumber belajar yang akan digunakan 6. Menyusun instrumen penelitian berupa lembar

pengamatan (observasi) dan lembar angket (kuesinoner)

7. Menyiapkan lembar tes menulis pantun

1. Peneliti bersama guru mengidentifikasi permasalahan yang ada pada diri siswa dalam menulis pantun

2. Menyusun RPP

3. Menyiapkan materi menulis pantun 4. Menyiapkan lembar tes menulis pantun

5. Menyusun instrumen penelitian berupa lembar pengamatan (observasi), lembar aangket (kuesioner), dan dokumentasi foto

1. Membuat RPP

2. Menyiapkan materi menulis pantun

3. Memberi kesempatan pada siswa untuk bertanya 4. Menyiapkan lembar tes menulis pantun

5. Menyusun instrumen penelitian berupa lembar pengamatan (observasi), lembar angket (kuesioner), dan dokumentasi foto

Pelaksanaan 1. Penulis menjelaskan materi tentang pantun 2. Penulis dan siswa bertanya jawab mengenai pantun 3. Siswa diberi tugas untuk menulis pantun

1. Penulis menjelaskan materi tentang pantun (pengertian pantu, syarat-syarat pantun, dan jenis-jenis pantun)

2. Siswa mencatat hal-hal penting dari pembelajaran 3. Membacakan contoh pantun

4. Membentuk kelompok, tiap kelompok beranggotakan 4 siswa 5. Membagikan nomor yang berbeda-beda pada masing-masing

anggota kelompok

6. Siswa ditugasi menulis pantun sesuai dengan syarat-syarat pantun 7. Siswa ditunjuk secara acak berdasarkan penomoran pada

masing-masing kelompok untuk mempresentasikan hasil pekerjaannya

1. Penulis mengulas kembali materi pantun yang telah diberikan 2. Penulis membacakan contoh pantun

3. Menyuruh siswa untuk berkumpul dengan anggota kelompok yang telah terbentuk pada siklus I

4. Membagikan nomor pada masing-masing anggota kelompok. Setiap siswa diberi nomor yang berbeda-beda untuk

mempertanggungjawabkan hasil pekerjaan secara individual 5. Siswa ditugasi menulis pantun

6. Siswa ditunjuk secara acak berdasarkan penomoran pada masing-masing kelompok untuk mempresentasikan hasil pekerjaannya

Pengamatan 1. Penulis melakukan pengamatan pada proses pembelajaran

2. Observasi dilakukan dengan mengisi lembar observasi dan angket (kuesinoer)

1. Penulis melakukan pengamatan pada proses pembelajran dengan metode NHT

2. Observasi dilakukan dengan mengisi lembar pemngamatan dan angket

1. Penulis melakukan pengamatan pada proses pembelajran dengan metode NHT

2. Observasi dilakukan dengan mengisi lembar pemngamatan dan angket

Refleksi 1. Penulis melakukan analisis dan memaknai hasil perlakuan pada prasiklus

2. Penulis berusaha mengidentifikasi permasalahan yang ada pada diri siswa dalam menulis pantun

1. Penulis melakukan analisis dan memaknai hasil perlakuan pada siklus I

2. Penulis berusaha mengidentifikasi permasalahan yang ada pada diri siswa dalam menulis pantun

1. Penulis melakukan analisis dan memaknai hasil perlakuan pada siklus II

2. Penulis berusaha mengidentifikasi permasalahan yang ada pada diri siswa dalam menulis pantun.

2. Pengaruh Penggunaan Metode NHT (Numbered Heads Together) Terhadap Aktivitas dan Minat dalam Pembelajaran Menulis Pantun pada Siswa Kelas VII SMP Negeri I Kuwarasan

a. Observasi

Penulis mengadakan tes pratindakan pada tanggal 9 Mei 2014. Tes menulis tersebut dilakukan agar penulis dapat mengetahui kemampuan siswa dalam menulis pantun. Pratindakan dilakukan satu kali, yaitu pada awal siswa dalam menulis pantun. Tugas yang diberikan berupa tugas menulis pantun dengan tema bebas.

Pada pratindakan siswa, pembelajaran menulis pantun dengan metode NHT belum diterapkan. Instrumen penelitian yang penulis gunakan untuk mengetahui aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran menulis pantun adalah lembar observasi. Hasil observasi prasiklus tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 6

Hasil Observasi Prasiklus

No Uraian Siklus I Skor Total Skor Maksimal Presentase

1 Keseriusan siswa selama mengikuti pelajaran

2 4 50%

2 Keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran

1 4 25%

3 Keterlibatan siswa dalam menjawab pertanyaan

1 4 25%

4 Sikap siswa dalam kegiatan pembelajaran

2 4 50%

5 Perhatian siswa terhadap penjelasan yang diberikan guru

1 4 25%

Jumlah 7 20

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa hasil rata-rata aktivitas belajar siswa pada prasiklus, yaitu 35% masuk kategori rendah hal ini terbukti pada aspek (1) keseriusan siswa selama mengikuti pelajaran mencapai skor 2 atau 50% dari jumlah siswa, pada aspek (2) keaaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran mencapai skor 1 atau 25% dari jumlah siswa, (3) keterlibatan siswa dalam menjawab pertanyaan mencapai skor 1 atau 25% dari jumlah siswa siswa, (4) sikap siswa dalam kegiatan pembelajaran memperoleh skor 2 atau 50% dari jumlah siswa, dan (5) perhatian siswa terhadap penjelasan yang diberikan guru memperoleh skor 1 atau 25% dari jumlah siswa. Hasil aktivitas siklus I dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 7

Hasil Observasi Siklus I

No Uraian Siklus I Skor Total Skor Maksimal Presentase

1 Keseriusan siswa selama mengikuti pelajaran

3 4 75 %

2 Keaktifan siswa dalam kegiatan

pembelajaran 2 4 50%

3 Keterlibatan siswa dalam menjawab pertanyaan

2 4 50%

4 Sikap siswa dalam kegiatan pembelajaran

3 4 750%

5 Perhatian siswa terhadap penjelasan yang diberikan guru

2 4 55%

Jumlah 13 20

Rata-rata (13:20) x 100%= 60%

Dari tabel di atas dapat dideskripsikan hasil skor aktivitas belajar siswa pada siklus I setelah digunakan tindakan, yaitu dengan menggunakan metode

NHT dengan nilai rata-rata mencapai 60% atau masuk dalam kategori cukup. Penulis mengamati betul aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung dan pemberian skor pada setiap aspeknya. Hal ini terbukti pada aspek (1) keseriusan siswa selama proses pembelajaran mencapai skor 3 atau 75% sisswa, pada aspek (2) keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran mencapai skor 2 atau 50% siswa, (3) keterlibatan siswa dalam menjawab pertanyaan mencapai skor 2 atau 50%, (4) sikap siswa dalam kegiatan pembelajaran memperoleh skor 3 atau 75%, dan (5) perhatian siswa terhadap penjelasan yang diberikan guru memperoleh skor 2 atau 50% siswa. Hasil aktivitas siswa siklus II dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 8

Aktivitas Belajar Siswa Siklus II

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa metode NHT memberikan pengaruh positif terhadap aktivitas belajar siswa pada siklus II

No Uraian Siklus II Skor Total Skor Maksimal Presentase

1 Keseriusan siswa selama mengikuti pelajaran

4 4 100 %

2 Keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran

3 4 75%

3 Keterlibatan siswa dalam menjawab pertanyaan

3 4 75%

4 Sikap siswa dalam kegiatan pembelajaran

4 4 100%

5 Perhatian siswa terhadap penjelasan yang diberikan guru

3 4 75%

Jumlah 17 20

mencapai nilai rata-rata sebesar 85% atau dapat dikatakan masuk dalam kategori tinggi. Penulis mengamati betul aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Adapun penilaian setiap aspek, yaitu (1) keseriusan siswa selama proses pembelajaran mencapai skor 4 atau 100% dari jumlah sisswa, pada aspek (2) keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran mencapai skor 3 atau 75% dari jumlahsiswa, (3) keterlibatan siswa dalam menjawab pertanyaan mencapai skor 3 atau 75% dari jumlah siswa, (4) sikap siswa dalam kegiatan pembelajaran memperoleh skor 4 atau 100% dari jumlah siswa, dan (5) perhatian siswa terhadap penjelasan yang diberikan guru memperoleh skor 3 atau 75%dari jumlah siswa.

b. Angket

Dalam penelitian ini digunakan angket yang harus diisi oleh seluruh siswa. Pengisian angket bertujuan untuk mengetahui jawaban siswa mengenai pembelajaran menulis pantun. Angket siswa berisi hasil pengetahuan, pengalaman, ungkapan perasaan dan kesan siswa selama mengikuti proses pembelajaran menulis pantun. Skor minat siswa dalam pembelajaran menulis pantun pada angket dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 9

Hasil Angket Prasiklus

No Pertanyaan

Jawaban

Setuju Tidak

Setuju

1 Saya tertarik dengan kegiatan belajar mengajar bahasa Indonesia

10 (31,25%)

22 (68,75%) 2 Saya tertarik dengan kegiatan

pembelajaran menulis pantun

15 (46,87%)

17 (53,13%) 3 Jika ada tugas menulis pantun, saya senang

mengikutinya

13 (40,62%)

19 (59,38%) 4 Saya tidak pernah mengalami kendala atau kesulitan dalam menulis pantun (40,62%) 13 (62,5%) 19 5 Saya tahu cara menulis pantun (46,87%) 15 (15,13%) 17 6 Pembelajaran menulis pantun memerlukan banyak latihan (50%) 16 (50%) 16 7 Saya merasa bahwa pembelajaran yang selama ini dilakukan sudah membuat saya

mahir dalam menulis pantun

19

Tabel 10 Hasil Angket Siklus I

No Pertanyaan

Jawaban

Setuju Tidak

Setuju

1 Dengan adanya pembelajaran menulis pantun ini, saya lebih memahami tentang menulis pantun

19 (59,37%)

13 (25%) 2 Sebelum adanya pembelajaran

menggunakan metode NHT, saya kurang paham tentang menulis pantun

24 (75%)

8 (43,75) 3 Sebelum adanya pembelajaran

menggunakan metode NHT, saya kurang terampil dan kurang kreatif dalam menulis pantun

18 (56,25%)

14 (43,75%) 4 Adanya pembelajaran menulis pantun

dengan menggunakan metode NHT ini akan membantu saya dalam menulis pantun lebih baik, menarik, dan lancar

21

(65,62%) (34,38%) 11 5 Dengan adanya pembelajaran menulis

pantun menggunakan metode NHT, saya lebih tertarik untuk menulis pantun

20 (62,5%)

12 (37,5%) 6 Dengan adanya penerapan pembelajaran

menulis pantun dengan menggunakan metode NHT akan membantu saya dalam menuangkan ide-ide yang nantinya akan dikembangkan menjadi sebuah pantun

23 (71,87%)

9 (28,13%) 7 Dengan adanya pembelajaran menulis

pantun dengan metode NHT, harus perlu ditingkatkan lagi dan dikembangkan agar membantu para siswa untuk meningkatkan keterampilan menulis

25

Tabel 11

Hasil Angket Siklus II

No Pertanyaan

Jawaban

Setuju Tidak

Setuju

1 Dengan adanya pembelajaran menulis pantun ini, saya lebih memahami tentang menulis pantun

27 (84,37%)

5 (15,63%) 2 Sebelum adanya pembelajaran

menggunakan metode NHT, saya kurang paham tentang menulis pantun

25 (78,12%)

7 (21,88%) 3 Sebelum adanya pembelajaran

menggunakan metode NHT, saya kurang terampil dan kurang kreatif dalam menulis pantun

26 (81,25%)

6 (18,75%) 4 Adanya pembelajaran menulis pantun

dengan menggunakan metode NHT ini akan membantu saya dalam menulis pantun lebih baik, menarik, dan lancer

31 (96,87%)

1 (3,13%) 5 Dengan adanya pembelajaran menulis

pantun menggunakan metode NHT, saya lebih tertarik untuk menulis pantun

28 (87,5%)

4 (12,5%) 6 Dengan adanya penerapan pembelajaran

menulis pantun dengan menggunakan metode NHT akan membantu saya dalam menuangkan ide-ide yang nantinya akan dikembangkan menjadi sebuah pantun

29

(90,62%) (9,38%) 3 7 Dengan adanya pembelajaran menulis

pantun dengan metode NHT, harus perlu ditingkatkan lagi dan dikembangkan agar membantu para siswa untuk meningkatkan keterampilan menulis

30

(93,75%) (6,25%) 2

Dari tabel 9, 10, dan 11 di atas terlihat bahwa hasil tanggapan siswa setelah proses kegiatan pembelajaran menulis pantun pada prasiklus hasilnya sangat berbeda dengan pembelajaran siklus I dan siklus II. Dilihat dari hasil prasiklus jawaban siswa paling tinggi, yaitu kurang setuju dengan skor 68,75% pada pertanyaan saya senang mengikutinya dan pertanyaan saya tidak pernah mengalami kendala atau kesulitan dalam menulis pantun. Hal tersebut dapat

disimpulkan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam keterampilan menulis pantun. Oleh karena itu, siswa tidak senang jika ada tugas untuk menulis pantun. Mengetahui hal tersebut, penulis melakukan tindakan pada siklus I dengan menggunakan metode NHT sebagai media pembelajaran menulis pantun.

Pada siklus I, diketahui jawaban siswa yang menjawab setuju dengan skor 78,12% pada pertanyaan dengan adanya pembelajaran menulis pantun dengan metode NHT, harus perlu ditingkatkan lagi dan dikembangkan agar membantu para siswa untuk meningkatkan keterampilan menulis. Dari jawaban tersebut berarti siswa tertarik dalam pembelajaran menulis pantun dengan metode NHT.

Pada siklus II, siswa menjawab setuju, yaitu dengan skor 96,87% pada pertanyaan adanya pembelajaran menulis pantun dengan metode NHT ini akan membantu saya dalam menulis pantun lebih baik, menarik, dan lancar. Pertanyaan tersebut dapat disimpulkan bahwa metode NHT dapat membantu siswa untuk menulis pantun lebih baik, menarik, dan lancar.

c. Wawancara

Kegiatan wawancara dilakukan setelah selesai pembelajaran. Kegiatan wawancara yang dilakukan memiliki tujuan untuk menggali informasi yang berkaitan dengan kekuatan dan kelemahan penerapan metode NHT dalam pembelajaran menulis pantun.

Wawancara dilakukan dengan cara bertanya pada masing-masing perwakilan dengan pertanyaan yang sama. Pertanyaan tersebut meliputi: 1) minat siswa dalam menulis pantun, 2) kesan siswa mengikuti pembelajaran menulis

pantun dengan metode NHT, 3) pendapat siswa tentang metode NHT, 4) kesulitan yang dihadapi siswa dalam menulis pantun dengan menggunakan metode NHT, 5) apakah pembelajaran dengan menggunakan metode NHT memudahkan siswa dalam menulis pantun, dan 6) manfaat/keuntungan penerapan metode NHT dalam pembelajaran menulis pantun.

d. Dokumentasi

Dokumentasi foto digunakan sebagai bukti visual kegiatan pembelajaran yang dilakukan selama proses penelitian berlangsung. Pengambilan dokumentasi foto difokuskan pada kegiatan awal pembelajaran, aktivitas siswa dalam menulis pantun secara individu dan kelompok, presentasi, dan wawancara.

3. Kemampuan Menulis Pantun pada Siswa Kelas VII SMP Negeri I Kuwarasan Setelah Menggunakan Metode NHT (Numbered Heads Together)

Kemampuan menulis pantun dengan metode NHT terbagi menjadi tiga tahap, yaitu prasiklus, siklus I, dan siklus II. Hasil tes prasiklus merupakan kondisi awal pembelajaran menulis pantun sebelum menggunakan metode NHT. Hasil penelitian siklus I merupakan kondisi awal siswa dalam menulis pantun denganmetode NHT. Hasil siklus II merupakan perbaikan keterampilan menulis pantun pada siswa kelas VII SMP Negeri 1 Kuwarasan setelah mengikuti pembelajaran menulis pantun dengan metode NHT pada siklus I. Berikut ini penulis akan memaparkan hasil kemampuan menulis pantun siswa kelas VII SMP Negeri 1 Kuwarasan pada tahap prasiklus, siklus I, dan siklus II. Hal itu dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

No Siswa Kode Skor Prasiklus Aspek Jumlah Kategori Skor Siklus I Aspek Jumlah Kategori Skor Siklus II Aspek Jumlah Kategori

I II III IV I II III IV I II III IV

1 A1 20 11 10 11 52 Kurang 29 13 13 12 67 Cukup 34 15 15 14 78 Baik

2 A2 27 10 12 12 61 Cukup 30 12 13 12 67 Cukup 31 14 15 15 75 Baik

3 A3 19 10 10 11 50 Kurang 30 13 13 12 68 Cukup 35 14 15 14 78 Baik

4 A4 28 11 12 10 61 Cukup 29 12 11 13 65 Cukup 33 15 15 16 79 Baik

5 A5 25 11 12 11 59 Kurang 28 13 12 12 65 Cukup 34 15 13 14 76 Baik

6 A6 25 10 12 11 58 Kurang 30 12 13 12 67 Cukup 35 15 14 13 77 Baik

7 A7 28 11 11 12 62 Cukup 28 12 12 12 64 Cukup 34 14 14 15 77 Baik

8 A8 20 12 10 13 55 Kurang 30 14 12 12 68 Cukup 36 16 16 12 80 Baik

9 A9 28 11 12 12 63 Cukup 31 12 13 13 69 Cukup 35 15 13 15 78 Baik

10 A10 20 10 10 11 51 Kurang 30 12 12 12 66 Cukup 30 15 14 14 73 Baik

11 A11 27 11 11 12 61 Kurang 30 13 14 13 70 Baik 35 16 15 15 81 Baik

12 A12 31 14 15 11 71 Baik 31 14 15 14 74 Baik 34 15 15 15 79 Baik

13 A13 27 12 11 13 63 Cukup 31 13 12 13 69 Cukup 33 14 13 14 74 Baik

14 A14 21 11 12 12 56 Kurang 33 12 12 10 67 Cukup 36 16 16 15 83 Baik

15 A15 18 10 10 10 48 Kurang 30 12 13 13 68 Cukup 30 14 13 15 72 Baik

16 A16 28 11 11 16 66 Cukup 31 13 13 16 73 Baik 33 15 14 15 77 Baik

17 A17 25 11 11 11 58 Kurang 30 13 13 13 69 Cukup 33 16 14 16 79 Baik

18 A18 28 10 11 12 61 Cukup 31 15 16 15 77 Baik 35 16 16 16 83 Baik

19 A19 27 10 11 12 60 Cukup 30 12 12 13 67 Cukup 33 15 15 15 78 Baik

20 A20 27 10 10 11 58 Kurang 30 12 13 12 67 Cukup 34 15 16 15 80 Baik

21 A21 24 10 10 11 55 Kurang 31 13 14 12 70 Baik 33 14 15 15 77 Baik

Baik

25 A25 19 9 10 11 49 Kurang 30 12 12 12 66 Cukup 34 15 15 14 78 Baik

26 A26 27 12 10 12 61 Cukup 30 13 13 13 69 Cukup 35 15 15 15 80 Baik

27 A27 30 16 12 12 70 Baik 31 16 16 12 75 Baik 35 16 15 15 81 Baik

28 A28 27 11 12 10 60 Cukup 30 12 13 15 70 Baik 34 16 15 14 79 Baik

29 A29 25 10 10 11 56 Kurang 25 12 14 12 63 Cukup 33 16 14 15 78 Baik

30 A30 19 9 10 12 50 Kurang 26 12 12 12 62 Cukup 34 15 13 14 76 Baik

31 A31 28 10 10 12 60 Cukup 31 12 13 16 72 Baik 36 15 16 15 82 Baik

32 A32 28 11 10 11 60 Cukup 30 12 13 13 68 Cukup 33 15 15 15 78 Baik

Jumlah 807 347 349 371 1874

Kurang 957 407 417 409 2190 Cukup 1083 483 471 470 2507 Baik

Rata-rata 25,21 10,84 10,90 11,59 58,56 29,90 12,71 13,03 12,78 68,43 33,84 15,09 14,71 14,68 78,34

Keterangan

I : Ketepatan syarat-syarat pantun II : Kesesuaian isi dengan tema III : Pemilihan kata

Dari tabel 12 keterampilan menulis pantun nilai rata-rata kelas yang didapat adalah 58,56 masuk dalam kategori kurang. Nilai tertinggi pada prasiklus diperoleh pada kode siswa A12 dengan nilai tertinggi 71, jumlah tersebut diperoleh dari penggabungan skor aspek ketepatan syarat-syarat pantun 31, aspek kesesuaian isi pantun dengan tema 14, aspek pemilihan kata/diksi 15 dan aspek penulisan ejaan 11. Siswa tersebut memiliki nilai paling rendah pada aspek penulisan ejaan.

Nilai terendah pada prasiklus diperoleh pada kode siswa A15, dengan perolehan skor aspek ketepatan syarat-syarat pantun 18, aspek kesesuaian isi pantun dengan tema 10, aspek pemilihan kata/diksi 10, aspek penulisan ejaan 10, dan jumlah skor 48. Skor yang menonjol pada kode A15 adalah aspek ketepatan syarat-syarat pantun. Hasil skor pada siklus I dapat dilihat pada tabel berikut.

Pada siklus I keterampilan menulis pantun nilai rata-rata kelas yang didapat adalah 68,43 masuk dalam kategori cukup. Kode siswa A18 mendapatkan jumlah skor tertinggi pada siklus I, pada aspek ketepatan syarat-syarat pantun memperoleh skor 31, aspek kesesuaian isi pantun dengan tema memperoleh skor 15, aspek pemilihan kata/diksi 16 dan aspek penulisan ejaan 15, dengan jumlah 77.

Nilai terendah pada siklus I diperoleh pada kode A30 dengan perolehan skor aspek ketepatan syarat-syarat pantun 26, aspek kesesuaian isi pantun dengan tema 12, aspek pemilihan kata/diksi 12, aspek penulisan ejaan 12, dan jumlah skor 62.

Pada siklus II kode A24 mendapatkan skor tertinggi pada siklus II dengan perolehan skor pada aspek ketepatan syarat-syarat pantun 36, aspek kesesuaian isi pantun dengan tema 16, aspek pemilihan kata/diksi 17, aspek penulisan ejaan 16, dan jumlah skor 85.

Nilai terendah pada siklus II diperoleh pada kode siswa A15 dengan perolehan skor pada aspek ketepatan syarat-syarat pantun 30, aspek kesesuaian isi pantun dengan tema 14, aspek pemilihan kata/diksi 13, aspek penulisan ejaan 15, dan jumlah skor 72.

Dokumen terkait