• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBAHASAN 3.1. Laporan Keuangan Perusahaan

3. Return on Equity (ROE)

3.8. Penyajian Laporan Keuangan

Laporan keuangan disajikan dengan maksud untuk melihat kondisi keuangan pada periode tertentu. Adapun kondisi kegiatan, perkembangan dan kemerosotan pada PT. Garuda Indonesia Tbk dilihat dari laporan keuangan selama tiga tahun berturut-turut yang meliputi Laporan Neraca dan Laporan Laba Rugi tahun 2014 hingga 2016.

Adapun laporan neraca dan laporan laba rugi pada tahun 2014 hingga 2016 dilihat sebagai berikut:

Tabel 3.1

Kas dan setara kas 434.327.498

Piutang usaha 120.623.827

Piutang lain-lain, bersih 8.349.932

Persediaan 202.500.872

Uang Muka Lancar Lain 17.569.327

Pajak dibayar di muka 27.243.487

Jumlah Aset Lancar 810.514.943 ASET TIDAK LANCAR

Dana cadangan perawatan pesawat 786.933.317 Uang muka tidak lancar 1.458.892.521

Beban tangguhan 56.738.532

Jumlah Aset Tidak Lancar 2.302.564.372

TOTAL ASET 3.113.079.315

EKUITAS

Modal saham 1.309.433.569

Tambahan modal di setor (161.948.287)

Saldo Laba (287.873.266)

Kepentingan non pengendali 15.969.623

TOTAL EKUITAS 879.467.591

Sumber : Data Diolah,2018

Aset lancar terdiri atas kas dan setara kas, piutang usaha, piutang lain-lain, persediaan, uang muka lancar dan pajak dibayar dimuka dengan total aset lancar

sebesar 810.514.943. Aset tidak lancar terdiri atas dana cadangan pesawat, uang muka tidak lancar dan beban tangguhan dengan total aset tidak lancar sebesar 2.302.564.372. Total aset lancar dan aset tidak lancar sebesar 3.113.079.315.

Ekuitas perusahaan terdiri atas modal saham dan kepentingan non pengendali serta dikurangi tambahan modal disetor dan saldo laba kemudian total ekuitas menjadi sebesar 879.467.591

Tabel 3.2

Laporan Laba Rugi Konsolidasi PT. Garuda Indonesia Tbk

Untuk tahun yang berakhir 31 desember 2014 (dinyatakan dalam USD)

Pendapatan Bersih 3.933.530.272 Beban Pokok Pendapatan (3.693.012.061)

Laba Bruto 240.518.211

Beban umum dan administrasi (244.510.498)

Beban penjualan (354.822.396)

Beban keuangan (73.321.080)

Pendapatan keuangan 12.091.904

Laba (rugi) selisih kurs, bersih 8.896.197 Bagian atas hasil bersih pada

Pedapatan bersih sebesar 3.933.530.272 dikurangi dengan beban pokok pendapatan sebesar 3.693.012.061 hasilnya merupakan laba kotor yaitu sebesar 240.518.211. Laba kotor dikurangi beban umum dan administrasi, beban

penjualan, beban keuangan, beban lainnya, rugi lainnya kemudian ditambah dengan pendapatan keuangan, laba selisih kurs, bagian atas hasil bersih pada pengendalian bersama entitas dan pendapatan lainnya, hasilnya merupakan laba (rugi) sebelum pajak. Laba (rugi) sebelum pajak ditambah dengan pendapatan pajak hasilnya merupakan laba (rugi) bersih. Pada tahun 2014, perusahaan mengalami kerugian dengan nilai rugi bersih sebesar 368.911.279.

Tabel 3.3

Kas dan setara kas 519.972.655

Piutang usaha 121.527.641

Piutang lain-lain, bersih 17.581.571

Persediaan 233.902.249

Uang Muka Lancar Lain 34.833.391

Pajak dibayar di muka 80.030.516

Jumlah Aset Lancar 1.007.848.005 ASET TIDAK LANCAR

Dana cadangan perawatan pesawat 1.012.753.651 Uang muka tidak lancar 1.232.339.156

Beban tangguhan 57.070.174

Jumlah Aset Tidak Lancar 2.302.162.981

TOTAL ASET 3.310.010..986

EKUITAS

Modal saham 1.309.433.569

Tambahan modal di setor (161.948.287)

Saldo Laba (213.964.526)

Kepentingan non pengendali 17.202.429

TOTAL EKUITAS 950.723.185

Sumber : Data Diolah,2018

Aset lancar terdiri atas kas dan setara kas, piutang usaha, piutang lain-lain, persediaan, uang muka lancar dan pajak dibayar dimuka dengan total aset lancar

sebesar 1.007.848.005. Aset tidak lancar terdiri atas dana cadangan pesawat, uang muka tidak lancar dan beban tangguhan dengan total aset tidak lancar sebesar 2.302.162.981. Total aset lancar dan aset tidak lancar sebesar 3.310.010.986.

Ekuitas perusahaan terdiri atas modal saham dan kepentingan non pengendali serta dikurangi tambahan modal disetor dan saldo laba kemudian total ekuitas menjadi sebesar 950.723.185

Tabel 3.4

Laporan Laba Rugi Konsolidasi PT. Garuda Indonesia Tbk

Untuk tahun yang berakhir 31 desember 2015 (dinyatakan dalam USD)

Pendapatan Bersih 3.814.984.745 Beban Pokok Pendapatan (3.197.270.093)

Laba Bruto 617.719.652

Beban umum dan administrasi (224.907.111)

Beban penjualan (309.608.281)

Beban keuangan (68.584.517)

Pendapatan keuangan 6.597.482

Laba (rugi) selisih kurs, bersih 15.213.543 Bagian atas hasil bersih pada

Pedapatan bersih sebesar 3.814.984.745 dikurangi dengan beban pokok pendapatan sebesar 3.917.270.093 hasilnya merupakan laba kotor yaitu sebesar 617.719.652. Laba kotor dikurangi beban umum dan administrasi, beban

penjualan, beban keuangan, beban lainnya, kemudian ditambah dengan pendapatan keuangan, laba selisih kurs, bagian atas hasil bersih pada pengendalian bersama entitas, pendapatan lainnya dan laba lainnya, hasilnya merupakan laba (rugi) sebelum pajak. Laba (rugi) sebelum pajak ditambah dengan pendapatan pajak hasilnya merupakan laba (rugi) bersih. Pada tahun 2015, perusahaan mendapatkan laba bersih sebesar 77.974.161.

Tabel 3.5

Kas dan setara kas 578.702.739

Piutang usaha 191.295.565

Piutang lain-lain, bersih 21.172.730

Persediaan 280.298.538

Uang Muka Lancar Lain 48.930.986

Pajak dibayar di muka 44.732.744

Jumlah Aset Lancar 1.007.848.005 ASET TIDAK LANCAR

Dana cadangan perawatan pesawat 1.241.870.703 Uang muka tidak lancar 1.313.497.051

Beban tangguhan 17.068.334

Jumlah Aset Tidak Lancar 2.572.436.088

TOTAL ASET 3.737.569.390

EKUITAS

Modal saham 1.309.433.569

Tambahan modal di setor (101.639.752)

Saldo Laba (214.987.869)

Kepentingan non pengendali 17.091.271

TOTAL EKUITAS 1.009.897.219

Sumber : Data Diolah,2018

Aset lancar terdiri atas kas dan setara kas, piutang usaha, piutang lain-lain, persediaan, uang muka lancar dan pajak dibayar dimuka dengan total aset lancar

sebesar 1.007.848.005. Aset tidak lancar terdiri atas dana cadangan pesawat, uang muka tidak lancar dan beban tangguhan dengan total aset tidak lancar sebesar 2.572.436.088. Total aset lancar dan aset tidak lancar sebesar 3.737.569.390.

Ekuitas perusahaan terdiri atas modal saham dan kepentingan non pengendali serta dikurangi tambahan modal disetor dan saldo laba kemudian total ekuitas menjadi sebesar 1.009.897.219.

Tabel 3.6

Laporan Laba Rugi Konsolidasi PT. Garuda Indonesia Tbk

Untuk tahun yang berakhir 31 desember 2016 (dinyatakan dalam USD)

Pendapatan Bersih 3.863.921.565 Beban Pokok Pendapatan (3.258.941.986)

Laba Bruto 604.979.579

Beban umum dan administrasi (244.510.498)

Beban penjualan (354.822.396)

Beban keuangan (88.278.664)

Pendapatan keuangan 7.180.597

Laba (rugi) selisih kurs, bersih (19.170.712) Bagian atas hasil bersih pada

Pedapatan bersih sebesar 3.863.921.565 dikurangi dengan beban pokok pendapatan sebesar 3.258.941.986, hasilnya merupakan laba kotor yaitu sebesar 604.979.579. Laba kotor dikurangi beban umum dan administrasi, beban

penjualan, beban keuangan, rugi selisih kurs, rugi pengendalian bersama entitas, beban lainnya dan rugi lainnya, kemudian ditambah dengan pendapatan keuangan dan pendapatan lainnya, hasilnya merupakan laba (rugi) sebelum pajak. Laba (rugi) sebelum pajak ditambah dengan pendapatan pajak hasilnya merupakan laba (rugi) bersih. Pada tahun 2015, perusahaan mendapatkan laba bersih sebesar 9.364.858

Adapun perhitungan rasio profitabilitas dengan menggunakan laporan neraca dan laporan laba rugi PT. Garuda Indonesia pada tahun 2014 hingga 2016 sebagai berikut :

Rumus untuk mencari net profit margin dapat digunakan sebagai berikut.

1. Net Profit Margin =

Net Profit Margin menunjukan besaran presentase laba bersih yang diperoleh dari setiap penjualan. Menurut Sitanggang (2012:30) Semakin tinggi rasio Net Profit Margin, menunjukan bahwa perusahaan mempunyai margin yang tinggi dari setiap penjualan terhadap seluruh biaya, bunga dan pajak yang diperhitungkan perusahaan. Pada tahun 2014, PT. Garuda Indonesia Tbk, mengalami kerugian besar yang mengakibatkan nilai Net Profit Margin pada tahun tersebut menjadi sebesar -9,3%. Hal ini mengartikan bahwa perusahaan tidak efisen dalam mengeluarkan biaya-biaya sehubungan dengan kegiatan operasinya. Hal ini dapat diihat dari besarnya beban pokok penjualan. Namun pada tahun 2015 nilai Net Profit Margin mengalami kenaikan cukup pesat dibandingan tahun sebelumnya yaitu sebesar 2%. Meskipun meningkat, Net Profit Margin tahun 2015 tidak dapat dikategorikan baik karena jumlahnya yang terlalu kecil. Kemudian pada tahun 2016, perusahaan mengalami penurunan nilai Net Profit Margin dibanding tahun 2015, Net Profit Margin tahun 2016 sebesar 0,2%, penurunan ini disebabkan oleh kerugian yang diterima perusahaan yang disebabkan oleh selisih nilai kurs yang menyebabkan kerugian yang cukup besar.

Net Profit Margin pada ketiga tahun tersebut mengalami fluktuasi,, dimulai dari kerugian yang terjadi pada tahun 2014 akibat kesalahan manajemen dalam mengatur beban pokok penjualan, kemudian sedikit meningkat di tahun 2015 dan kembali turun ditahun 2016 dikarena kerugian yang diakibatkan oleh selisih nilai kurs. Meskipun dapat dikategorikan membaik jika dilihat dari tahun 2014 ke tahun 2016, akan tetapi rasio ini bisa lebih ditingkatkan jika pengeluaran

biaya, beban dan pengeluaran pajak bisa lebih ditekan sehingga net profitnya bisa lebih maksimal.

Rumus untuk mencari return on investment dapat digunakan sebagai berikut.

2. Return on Investment (ROI)=

Menurut Sitanggang (2012:30) Semakin tinggi rasio Return on Investment menunjukan bahwa perusahaan mampu memanfaatkan aset yang dimiliki untuk memperoleh laba bersih perusahaan. Perhitungan Return on Investment (ROI) tahun 2014 menunjukkan bahwa tingkat pengembalian investasi yang diperolehnya sebesar -11.8%, lalu pada tahun 2015 naik menjadi 2,3%, kemudian pada tahun 2016 turun menjadi 0,2%. Artinya pada tahun 2014, perusahaan tidak mampu melakukan pengembalian atas invesatasi hal ini disebabkan karena terjadinya kerugian pada tahun 2014, kemudian pada tahun 2015 ROI meningkat

menjadi 2,3%, hal ini menunjukan adanya perbaikan manajemen untuk memperoleh Return on Investment. Lalu pada tahun 2016 kembali turun menjadi 0,2%, hal ini masih disebebakan oleh kerugian yang dihasilkan dari selisih kurs yang terjadi pada tahun 2016.

Kenaikan ROI dari tahun 2014 ke tahun 2015 disebabkan oleh laba bersih yang meningkat akan tetapi aset meningkat. Aset terbagi dua yaitu aset lancar dan aset tidak lancar. Kenaikan aset lancar dipengaruhi oleh meningkatnya piutang usaha, piutang lain-lain, dan pesediaan. Sedangkan peningkatan aset tidak lancar dipengaruhi oleh meningkatnya dana cadangan perawatan pesawat dan beban tangguhan. Pada tahun 2015, perusahaan mampu memaksimalkan sumber daya yang dimiliki sehingga menjadikan laba bersih meningkat yang mengakibatkan meningkatnya nilai ROI tahun 2015 dibanding tahun 2014.

ROI turun pada tahun 2016 dibandingkan dengan ROI tahun 2015, hal ini mengartikan aset-aset yang dimiliki perusahaan belum mampu dimaanfaatkan dengan baik sehingga menurunkan laba bersih perusahaan.

Rumus untuk mencari return on equity dapat digunakan sebagai berikut.

3. Return on Equity (ROE) =

= 0.082

Menurut Sitanggang (2012:32) semakin tinggi rasio Return on Equity menunjukan bahwa perusahaan mampu memperoleh margin laba bersih, memanfaatkan aset yang dimiliki dan bauran pembiayaan untuk memberikan tingkat hasil bagi pemegang saham perusahaan. Perhitungan Return on Equity (ROE) tahun 2014 menunjukkan bahwa tingkat pengembalian investasi yang diperoleh sebesar -41.9%, lalu untuk tahun 2015 meningkat menjadi 8.2%, kemudian pada tahun 2016 turun menjadi menjadi 0,92%. Artinya hasil pengembalian investasi pada tahun 2014 ke tahun 2015 meningkat sebesar 50.1%

dan ini menunjukkan kemampuan manajemen untuk memperoleh Return on Equity (ROE). Dan pada tahun 2015 ke tahun 2016 pengembalian investasi menurun sebesar 7.28% yang menunjukkan kegagalan manajemen untuk meningkatkan Return on Equity (ROE).

Kenaikan ROE dari tahun 2014 ke tahun 2015 disebabkan oleh laba bersih mengalami kenaikan signifikan dan ekuitas mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Peningkatan ini berarti perusahaan mampu memaksimalkan tingkat pengembalian ekuitas untuk mengasilkan laba bersih dan artinya perusahaan bisa memuaskan kepentingan pemegang saham. Penurunan ROE dari tahun 2015 ke tahun 2016 disebabkan oleh laba bersih mengalami penurunan yang cukup berarti

namun ekuitas meningkat. Kenaikan ekuitas karena meningkatnya kepentingan non pengendal. Penurunan ini berarti perusahaan tidak mampu meningkatkan tingkat pengembalian ekuitas untuk menghasilkan laba bersih dan artinya perusahaan tidak bisa memuaskan kepentingan pemegang saham.

Adapun tabel perubahan rasio profitabilitas PT. Garuda Indonesia sebagai berikut.

Table 3.7

Perubahan Rasio Profitabilitas PT. Garuda Indonesia Tbk

Rasio 2014 (%) 2015 (%) 2016 (%)

NPM -9,3 2 0,2

ROI -11,8 2,3 0,6

ROE -41,9 8,2 0,92

Sumber : Data Diolah,2018

1. Net profit margin pada tahun 2015 sebesar 2% mengalami kenaikan dibandingkan dengan tahun 2014 yaitu sebesar -9,3%. Tahun 2016, NPM sebesar 0,2% mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2015.

2. Return on investment pada tahun 2015 sebesar 2,3% mengalami kenaikan dibandingkan dengan tahun 2014 yaitu sebesar -11,8%. Tahun 2016, ROI sebesar 0,6% mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2015.

3. Return on equity pada tahun 2015 sebesar 8,2% mengalami kenaikan dibandingkan dengan tahun 2014 yaitu sebesar -41,9%. Tahun 2016, ROE sebesar 0,92% mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2015.

3.9. Analisis Perbandingan dengan Rasio Profitabilitas Perusahaan Sejenis

Dokumen terkait