• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyakit Menular

BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN

POLA 10 PENYAKIT TERBANYAK DI PUSKESMAS

2. Penyakit Menular

Penyakit menular yang disajikan dalam bagian ini antara lain AFP, TB Paru, Pneumoni, HIV/AIDS, Diare, Kusta, Dipteri, Pertusis, Tetanus Neonatorum (TN), Campak, Polio, Hepatitis B, DBD, Malaria dan Filariasis.

a. Penyakit TBC/TB Paru

TBC atau dikenal juga dengan Tuberkulosis adalah merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh basil tahan asam disingkat BTA nama lengkapnya Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini dapat menyebar melalui droplet orang yang telah terinfeksi basil TB. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit yang pengendaliannya menjadi komitment global dalam MDGs.

Hampir 10 tahun lamanya Indonesia menempati urutan ke-3 dunia dalam hal jumlah penderita tuberkulosis (TB). Baru pada tahun 2009 turun ke peringkat ke-5 dan masuk dalam

milestone atau pencapaian kinerja 1 tahun Kementerian Kesehatan. Berdasarkan Data Badan

Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2007 menyatakan jumlah penderita Tuberkulosis di Indonesia sekitar 528 ribu atau berada di posisi tiga di dunia setelah India dan Cina. Dan laporan WHO pada tahun 2009, mencatat peringkat Indonesia menurun ke posisi lima dengan jumlah penderita TBC sebesar 429 ribu orang. Lima negara dengan jumlah terbesar kasus insiden pada tahun 2009 adalah India, Cina, Afrika Selatan, Nigeria dan Indonesia (sumber WHO Global Tuberculosis Control 2010). "Tentu saja kasus TB masih banyak, tapi perbaikan peringkat ini merupakan sebuah pencapaian,"

ungkap Menkes (Alm.) Endang Rahayu Sedyaningsih dalam evaluasi kinerja 1 tahun Kementerian Kesehatan di gedung Kemenkes, Jakarta, Jumat (22/10/2010). Dan pada Global Report WHO 2010, didapat data TB Indonesia, Total seluruh kasus TB tahun 2009 sebanyak 294.731 kasus, dimana 169.213 adalah kasus TB baru BTA positif, 108.616 adalah kasus TB BTA negatif, 11.215 adalah kasus TB Extra Paru, 3.709 adalah kasus TB Kambuh, dan 1.978 adalah kasus pengobatan ulang diluar kasus kambuh (retreatment, excl relaps). Sementara itu, untuk keberhasilan pengobatan dari tahun 2003 sampai tahun 2008 (dalam %) yakni tahun 2003 (87%), tahun 2004 (90%), tahun 2005 sampai 2008 semuanya sama (91%).

Pada tawal tahun 1995 WHO telah merekomendasikan strategi DOTS (Derectly Observed

Treatment Short-course) sebagai strategi penanggulangan secara ekonomis paling efektif (cost efective), yang terdiri dari 5 (lima) elemen kunci : 1) Komitmen politis; 2)Pemeriksaan dahak

mikroskopis yang terjamin mutunya; 3) Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus yang tepat, termasuk pengawasan langsung pengobatan; 4) Jaminan ketersediaan OAT yang bermutu; 5) Sistem Pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program secara keseluruhan.

Salah satu indikator yang digunakan dalam pengendalian TB adalah Case Detection Rate (CDR), yaitu proporsi jumlah pasien baru BTA positif yang ditemukan dan diobati terhadap jumlah pasien BTA positif yang diperkirakan ada dalam wilayah. Kementerian Kesehatan menetapkan target tersebut sebesar 73%.

0 20 40 60 80 100

Berdasarkan data yang masuk dari Kab/Kota pada tahun pada tahun 2013 jumlah kasus TB paru BTA (+) sebanyak 4.551 kasus, yang diobati tercatat sebanyak 4.460 kasus dengan kesembuhan sebesar 3.500 (78,5%), ini artinya angka kesembuhan TB Paru BTA (+) berada di bawah target sesuai renstra yang ingin dicapai tahun 2013 yakni sebesar 88%. Angka Penemuan Kasus (Case Detection Rate) Prov. NTT Tahun 2013 sebesar 44%, artinya tidak mencapai target renstra pada tahun 2013 yakni 70%. Pada lampiran tabel 11 dan 12 dan gambar 3.6 dan 3.7 dapat dilihat Penemuan Kasus per Kab/Kota dan Angka Kesembuhan Penderita TB Paru (Case Detection Rate TB per Kab/Kota.

GAMBAR 3.6

CAKUPAN CASE DETECTION RATE (CDR) TB DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR TAHUN 2013

0 20 40 60 80 100

Dari gambar 3.6 di atas dapat dilihat bahwa CDR tertinggi ada di Kab. Sumba Barat dan Belu yakni di atas 100%, dan terendah adalah Kab. Manggarai Timur yakni 12,76%.

GAMBAR 3.7

CAKUPAN ANGKA KESEMBUHAN TB DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR TAHUN 2013

Sumber : Profil Kabupaten/Kota Tahun 2013

Dari gambar 3.7 di atas dapat dilihat bahwa Cakupan Angka Kesembuhan Penderita TB (Suscess Rate) tertinggi ada di Kabupaten Manggarai yaitu sebesar 100% sedangkan terendah adalah Kab. Sabu Raijua yaitu sebesar 50%. Terdapat 10 (sepuluh) kabupaten yang mencapai target persentase angka kesembuhan penderita TB Paru BTA (+) tahun 2013 Provinsi NTT (88%)

yakni Kab .TTS, TTU, Manggarai Timur, Belu, dan Ende, Manggarai Barat, Flotim, Sikka, Lembata, dan Kab. Kupang.

b. Penyakit Pneumonia

Pneumonia adalah infeksi akut yang mengenai jaringan paru (alveoli). Infeksi dapat disebabkan oleh bakteri, virus maupun jamur. Pneumonia juga dapat terjadi akibat kecelakaan karena menghirup cairan atau bahan kimia. Populasi yang rentan terserang Pneumonia adalah anak-anak usia kurang dari 2 tahun, usia lanjut lebih dari 65 tahun, atau orang yang memiliki masalah kesehatan (malnutrisi, gangguan imunologi).

Pola 10 (sepuluh) penyakit terbanyak di rumah sakit umum daerah maupun data survei (SDKI dan Surkesnas) menunjukkan tingginya kasus ISPA. Penyakit ISPA juga masih merupakan penyebab utama pada kematian bayi dan balita di Nusa Tenggara Timur (Surkesnas 2001). Diketahui bahwa (80% - 90%) dari seluruh kasus kematian ISPA disebabkan Pneumoni dan merupakan penyakit yang akut dan kualitas penatalaksanaannya belum memadai.

Sementara laporan dari Profil Kabupaten/Kota se-Provinsi NTT menunjukkan cakupan penemuan Pneumonia pada Balita mengalami fluktuasi dari tahun 2011 – 2013. Pada tahun 2011 sebesar 7.048 kasus, pada tahun 2012 meningkat menjadi 8.554 kasus (19,2%), selanjutnya pada tahun 2013 meningkat menjadi 45.928 kasus (26,42%) dari target perkiraan kasus. Gambaran

0 20 40 60 80 100

Cakupan Penemuan dan Penangan Pneumonia pada balita ini dapat dilihat pada Lampiran Tabel 13 dan Gambar 3.8 berikut ini.

GAMBAR 3.8

CAKUPAN PENEMUAN DAN PENANGANAN PNEUMONIA PADA BALITA MENURUT KAB/KOTA DI PROVINSI NTT TAHUN 2013

Sumber : Profil Kabupaten/Kota Tahun 2013

Dari gambar tersebut di atas terlihat Kabupaten Kota yang mencapai target 100% untuk penemuan penderita pneumonia adalah adalah Kab. Sabu Raijua dan TTU.

c. Penyakit Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immuno Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) HIV/AIDS merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus Human

penderita mengalami penurunan ketahanan tubuh sehingga sangat mudah untuk terinfeksi berbagai macam penyakit lain. Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (atau disingkat HIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.

Sebelum memasuki fase AIDS, penderita terlebih dahulu dinyatakan sebagai HIV positif. Jumlah HIV positif yang ada di masyarakat dapat diketahui melalui 3 metode, yaitu pada layanan

Voluntary, Counseling and Testing (VCT).

HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.

Hukuman sosial bagi penderita HIV/AIDS umumnya lebih berat bila dibandingkan dengan penderita penyakit mematikan lainnya. Kadang-kadang hukuman sosial tersebut juga turut tertimpakan kepada petugas kesehatan atau sukarelawan, yang terlibat dalam merawat orang yang

Perkembangan penyakit HIV/AIDS terus menunjukkan peningkatan meskipun berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan terus dilakukan. Semakin tingginya mobilitas penduduk antar wilayah, menyebarnya sentra-sentra pembangunan ekonomi di Provinsi NTT, meningkatnya perilaku seksual yang tidak aman dan meningkatnya penyalahgunaan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya) melalui suntikan, secara simultan telah memperbesar tingkat risiko penyebaran HIV/AIDS.

Jumlah penderita HIV/AIDS dapat digambarkan sebagai fenomena gunung es (iceberg

phenomena) yaitu jumlah penderita yang dilaporkan jauh lebih kecil daripada jumlah penderita yang

sebenarnya. Di Provinsi NTT jumlah penderita HIV/AIDS yang sebenarnya belum diketahui dengan pasti.

Jumlah kasus HIV-AIDS dari tahun 2011 – 2013 selalu ada kasus baru, pada tahun 2011 kasus baru HIV sebanyak 247 kasus dan AIDS sebanyak 234. Sedangkan pada tahun 2012 kasus baru HIV sebanyak 261 kasus dan kasus baru AIDS sebanyak 257 kasus, dengan jumlah kematian sebanyak 84 kasus. Selanjutnya pada tahun 2013 kasus baru HIV sebanyak 178 kasus dan kasus baru AIDS sebanyak 283 kasus. Pengendalian HIV-AIDS sesuai target renstra pada tahun 2013 untuk penduduk dewasa (umur 15 – 49 tahun) per 1000 penduduk adalah sebesar 0,20

/00. Jika dilihat dari data yang ada bahwa target pengendalian HIV ini hanya sebesar 0,10/00, dan AIDS sebesar 0,20/00, artinya untuk HIV tidak mencapai target, sedangkan AIDS sudah mencapai target. Gambaran kasus baru AIDS pada tahun 2013 dapat dilihat pada Lampiran Tabel 14 dan Gambar 3.9 di bawah ini.

GAMBAR 3.9

JUMLAH KASUS BARU AIDS DI PROVINSI NTT TAHUN 2013

Sumber : Profil Kabupaten/Kota Tahun 2013

d. Penyakit Kusta

Kusta adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium leprae. Penatalaksanaan kasus yang buruk dapat menyebabkan Kusta menjadi progresif, menyebabkan kerusakan permanen pada kulit, saraf dan anggota gerak dan mata. Diagnosa kusta dapat ditegakkan dengan adanya kondisi sebagai berikut : a) Kelainan pada kulit (bercak) putih atau kemerahan disertai mati rasa; b) Penebalan saraf tepi yang disertai gangguan fungsi saraf berupa mati rasa dan kelemahan/kelumpuhan otot; c) Adanya kuman tahan asam di dalam kerokan jaringan kulit.

Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan menetapkan 2 (dua) kelompok beban Kusta yaitu Provinsi dengan beban Kusta tinggi (high endemic) jika Newly

Case Detection Rate (NCDR) ≥ 10 per 100.000 penduduk dan Kusta rendah (low endemic) jika NCDR ≤ 10 per 100.000 penduduk. NTT NCDR nya sebesar 7,13 berarti masuk kriteria low

endemic.

Pada tahun tahun 2011-2013 dilaporkan bahwa kasus Kusta mengalami fluktuasi, pada tahun 2011 sebesar 343 kasus dan pada tahun 2012 mengalami peningkatan menjadi 486 kasus seperti yang terlihat pada tabel 3.4 di bawah. Selanjutnya pada tahun 2013 menurun menjadi 430 kasus. Gambaran tentang penyakit kusta ini dapat dilihat pada lampiran tabel 17 s/d 20.

TABEL 3.4

JUMLAH PENDERITA BARU KUSTA MENURUT TIPE

DAN ANGKA PENEMUAN PENDERITA (CDR) PER 100.000 PENDUDUK DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR, TAHUN 2011 – 2013

Tahun Jumlah penderita kusta CDR/100.000

Penduduk

Tipe MB Tipe PB Semua Tipe

2011 243 100 343 7,2

2012 402 84 486 9,9

2013 395 35 430 8,68

CDR=Case Detection Rate, MB=Multi Basiler, PB=Pausi Basiler Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2013

0 25 50 75

Dari tabel 3.4 di atas dapat kita ketahui bahwa Provinsi NTT merupakan Provinsi dengan beban Kusta rendah (low endemic) dari tahun 2011 s/d 2013 (≤ 10 per 100.000 penduduk).

Berikut ini disajikan gambaran kasus baru Kusta tipe PB dan MB menurut Kabupaten/Kota dapat dilihat pada gambar 3.10 di bawah ini, dan lampiran tabel 17.

GAMBAR 3.10 PENDERITA BARU KUSTA

MENURUT KAB/KOTA DI PROVINSI NTT TAHUN 2013

Sumber : Profil Kabupaten/Kota Tahun 2013

Dari gambar 3.10 dapat kita lihat bahwa penderita baru Kusta yang paling banyak di Kota Kupang, Flotim, TTU, TTS dan Alor.

Dokumen terkait