• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.4 Penyakit-Penyakit Kulit Karena Komplikasi Penyakit

Penyakit kulit dapat menjadi penanda dari penyakit sistemik seperti yang ditunjukkan oleh Demirseren et al. (2014) dalam penelitiannya yang mengatakan bahwa infeksi kulit oleh jamur, bakteri, dan virus sering dijumpai pada penderita diabetes melitus. Pada penderita diabetes juga ditemukan psoriasis, dan ulkus diabetikum (foot ulcer). Hafner dan Sprecher (2012) mengatakan bahwa ulkus diabetikum umumnya muncul di pressure points dan tonjolan tulang seperti di kaput metatarsal, ibu jari, dan tumit.

Kelainan kulit sering dijumpai pada penderita Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). Pada 10-20% pasien yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) ditemukan gejala eritema exantem disertai demam yang berlangsung selama 3-6 minggu setelah inokulasi pertama HIV. Infeksi virus juga sering ditemukan seperti herpes zoster, oral hairy leucoplakia, kutil genitalia. Infeksi jamur seperti kandidiasis, dan dermatitis seboroik juga sering ditemukan. Infeksi bakteri seperti abses staphylococcus, dan infeksi mikobakteria juga sering ditemukan pada penderita HIV/AIDS (Marks dan Miller, 2013).

2.5 PENYAKIT-PENYAKIT YANG SERING DIJUMPAI DI BANGSAL RAWAT INAP

Penelitian yang dilakukan oleh Balai et al. (2017) di India menunjukkan bahwa penyakit kulit yang sering dijumpai di bangsal rawat inap adalah infeksi jaringan kulit, dermatitis, dan reaksi simpang obat. Hasil yang sama juga diperoleh pada penelitian yang dilakukan oleh Huang dan Chong (2016) di Singapura. Balai et al.

(2017) juga menambahkan bahwa Sindrom Steven Johnson adalah salah satu jenis reaksi simpang obat yang umum dijumpai. Penelitian oleh Parajuli et al. (2013) di Nepal juga menemukan bahwa Sindrom Steven Johnson merupakan jenis reaksi simpang obat tertinggi dijumpai di bangsal rawat inap.

16

Infeksi jaringan kulit adalah penyakit kulit yang sering dijumpai di bangsal rawat inap. Di mana infeksi oleh bakteri menduduki urutan pertama, diikuti dengan infeksi oleh virus pada urutan kedua. Infeksi oleh virus yang umum dijumpai adalah infeksi oleh virus Varicella zoster (Huang dan Chong, 2016).

Ulkus dekubitus sering ditemukan pada pasien di bangsal rawat inap seluruh dunia. Ulkus dekubitus adalah cedera terlokalisasi pada kulit dan/atau jaringan di bawahnya, dan umumnya berada di atas tonjolan tulang. Disebabkan oleh tekanan, atau tekanan yang disertai gesekan pada kulit. Ulkus dekubitus dapat menjadi rute infeksi, memperpanjang lama perawatan di bangsal rawat inap, dan meningkatkan angka mortalitas pada beberapa pasien. Sakrum adalah lokasi tersering ditemukan ulkus dekubitus. Diikuti dengan tumit dan krista iliaka pada urutan kedua dan ketiga (Jiang et al., 2014).

Miliaria atau disebut juga biang keringat adalah kelainan pada saluran kelenjar keringat ekrin. Disebabkan oleh obstruksi akibat retensi keringat di saluran kelenjar keringat. Miliaria dibagi atas 3 tipe, setiap tipe mencerminkan letak obstruksi saluran kelenjar keringat, mulai dari stratum korneum sampai dermoepidermal junction (Miller, 2012). Miliaria sering dijumpai di negara tropis seperti Indonesia.

Miliaria yang ditemukan pada pasien di bangsal rawat inap dapat disebabkan ventilasi ruangan yang buruk ditambah oleh cuaca yang panas di negara tropis (Al-Hilo et al., 2012).

Diabetes masih merupakan tantangan dalam dunia kesehatan pada abad ke-21.

Dari semua pasien diabetes yang dirawat di bangsal rawat inap, sebanyak 47%

pasien dirawat karena ulkus diabetikum. Pasien diabetes di bangsal rawat inap juga dapat mengidap ulkus diabetikum ketika sedang dirawat (McInnes, 2012).

17

2.6 KERANGKA TEORI

Gambar 2.1 Kerangka teori penelitian

Kulit

indikasi gawat darurat Penyakit kulit karena

komplikasi penyakit sistemik

Penyakit kulit yang dirawat di bangsal rawat inap

18

2.7 KERANGKA KONSEP

Berdasarkan tujuan penelitian di atas, maka kerangka konsep dari penelitian ini adalah:

Gambar 2.2 Kerangka konsep penelitian

Pasien bangsal rawat inap dengan diagnosis penyakit

kulit

Diagnosis utama penyakit kulit

Jenis kelamin

Usia

Lama perawatan

Diagnosis penyerta penyakit kulit

Jenis kelamin

Usia

Lama perawatan

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 RANCANGAN PENELITIAN

Rancangan penelitian ini adalah deskriptif dengan pengumpulan data secara retrospektif. Deskriptif yaitu penelitian yang melihat gambaran fenomena kesehatan yang terjadi di dalam suatu populasi tertentu. Retrospektif adalah pengumpulan data dimulai dari efek atau akibat yang telah terjadi.

3.2 LOKASI PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di instalasi rekam medis RSUP Haji Adam Malik Medan.

3.3 POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh data rekam medis pasien di bangsal rawat inap dengan diagnosis penyakit kulit, baik diagnosis utama atau diagnosis tambahan di RSUP Haji Adam Malik Medan pada periode 2016.

Sampel dalam penelitian ini diambil dengan metode total sampling. Ada pun kriteria inklusi dan eksklusi penelitian ini, yakni:

1. Kriteria inklusi

Rekam medis pasien di bangsal rawat inap dengan diagnosis utama dan/atau diagnosis penyerta berupa penyakit kulit.

2. Kriteria eksklusi

Data rekam medis yang tidak lengkap memuat informasi yang diperlukan.

20

3.4 METODE PENGUMPULAN DATA

Pengumpulan data diperoleh melalui pencatatan data sekunder, yaitu data rekam medis pasien di bangsal rawat inap dengan diagnosis penyakit kulit di RSUP Haji Adam Malik Medan pada periode 2016.

3.5 DEFINISI OPERASIONAL

Definisi operasional dari penelitian perlu dijabarkan untuk menghindari perbedaan persepsi dalam menginterpretasikan masing-masing variabel penelitian.

Adapun definisi operasional dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Kelompok usia adalah usia pasien yang tertera pada rekam medis pada saat diagnosis ditegakkan.

Alat ukur: data rekam medis

Hasil ukur: (bayi dan anak-anak) ≤9 tahun, (remaja) 10-19 tahun, (dewasa) 20-59 tahun, (lanjut usia) ≥60 tahun

Skala pengukuran: ordinal

2. Jenis kelamin adalah perbedaan antara laki-laki dan perempuan.

Alat ukur: data rekam medis Hasil ukur: laki-laki, perempuan Skala pengukuran: nominal

3. Penyakit kulit adalah penyakit kulit yang didiagnosis oleh dokter berupa diagnosis utama dan/atau diagnosis penyerta.

Alat ukur: data rekam medis

Hasil ukur: penyakit kulit seperti yang tertera pada rekam medis Skala pengukuran: nominal

21

4. Diagnosis utama adalah penyakit kulit yang didiagnosis oleh dokter sebagai diagnosis utama.

Alat ukur: data rekam medis

Hasil ukur: penyakit kulit sebagai diagnosis utama seperti yang tertera pada rekam medis

Skala pengukuran: nominal

5. Diagnosis penyerta adalah penyakit kulit yang didiagnosis oleh dokter sebagai diagnosis penyerta.

Alat ukur: data rekam medis

Hasil ukur: penyakit kulit sebagai diagnosis penyerta seperti yang tertera pada rekam medis

Skala pengukuran: nominal

6. Lama perawatan penyakit penyerta kulit adalah interval antara hospitalisasi dan onset penyakit penyerta kulit.

Alat ukur: data rekam medis

Hasil ukur: kurun waktu seperti yang tertera pada rekam medis dalam hitungan hari.

Skala pengukuran: ordinal

7. Lama perawatan penyakit utama kulit adalah kurun waktu antara mulainya pasien dirawat di bangsal rawat inap untuk penyakit utama kulit sampai selesai perawatan.

Alat ukur: data rekam medis

Hasil ukur: kurun waktu seperti yang tertera pada rekam medis dalam hitungan hari.

Skala pengukuran: ordinal

22

3.6 METODE ANALISIS DATA

Data kemudian dianalisis secara komputerisasi dengan menggunakan program SPSS (Statistical Product and Service Solutions) kemudian didistribusikan secara deskriptif dengan menggunakan tabel distribusi dan dilakukan pembahasan sesuai dengan pustaka yang ada.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Penelitian dilaksanakan di RSUP Haji Adam Malik Medan, di mana rumah sakit ini merupakan rumah sakit kelas A dan merupakan pusat rujukan wilayah pembangunan A yang meliputi Provinsi Sumatera Utara, Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, dan Riau. Rumah Sakit ini berada di Jalan Bunga Lau No.17 Km 12 Kecamatan Medan Tuntungan Kotamadya Medan, Provinsi Sumatera Utara. Data diambil dari instalasi rekam medis yang merupakan basis data dan pusat riwayat kesehatan pasien.

Sampel dalam penelitian ini adalah 204 data rekam medis pasien di bangsal rawat inap dengan diagnosis penyakit kulit, baik diagnosis utama atau diagnosis penyerta di RSUP Haji Adam Malik Medan pada periode 2016.

Tabel 4.1 Distribusi frekuensi karakteristik sampel penelitian berdasarkan jenis kelamin.

Jenis Kelamin Jumlah (n) Persentase (%)

Laki-laki 104 51

Perempuan 100 49

Jumlah 204 100

Dari tabel 4.1, dapat dilihat bahwa distribusi frekuensi karakteristik sampel penelitian terbanyak berdasarkan jenis kelamin terdapat pada jenis kelamin laki-laki sebanyak 104 orang (51%). Sedangkan, pada jenis kelamin perempuan sebanyak 100 orang (49%). Hasil yang sama juga diperoleh dalam penelitian oleh Bale dan Chee (2012) mengenai pola penyakit kulit pasien di bangsal rawat inap sebuah rumah sakit tersier di Australia yang menunjukkan bahwa dari 97 pasien, sebanyak 54 orang (56%) adalah laki-laki dan 43 orang (44%) adalah perempuan.

24

Tabel 4.2 Distribusi frekuensi karakteristik sampel penelitian berdasarkan kelompok usia.

Kelompok Usia Jumlah (n) Persentase (%)

Bayi dan anak-anak (≤9 tahun) 15 7,4

Remaja (10-19 tahun) 16 7,8

Dewasa (20-59 tahun) 120 58,8

Lanjut usia (≥60 tahun) 53 26

Jumlah 204 100

Dari tabel 4.2, dapat diketahui bahwa distribusi frekuensi karakteristik sampel penelitian terbanyak berdasarkan kelompok usia terdapat pada dewasa (20-59 tahun) sebanyak 120 orang (58,8%). Penelitian oleh Balai et al. pada tahun 2012 juga mendapatkan bahwa dari 1560 pasien di bangsal rawat inap dengan penyakit kulit, kelompok usia terbanyak merupakan dewasa (20-59 tahun) dengan jumlah 1112 orang (71,2%).

Kelompok usia dewasa (20-59 tahun) merupakan kelompok usia tertinggi pada penelitian ini. Hal ini mungkin disebabkan karena kelompok usia dewasa merupakan kelompok usia yang aktif, sehingga meningkatkan risiko untuk mengidap penyakit-penyakit kronis.

Tabel 4.3 Distribusi frekuensi karakteristik sampel penelitian berdasarkan jenis diagnosis penyakit kulit.

Jenis Diagnosis Kulit Jumlah (n) Persentase (%)

Penyerta 158 77,5

Utama 46 22,5

Jumlah 204 100

Dapat dilihat pada tabel 4.3, bahwa penyakit kulit yang diderita oleh sampel penelitian lebih banyak merupakan diagnosis penyerta dengan jumlah 158 diagnosis (77,5%). Sedangkan penyakit kulit sebagai diagnosis utama hanya berjumlah 46 diagnosis (22,5%). Rasio perbandingan antara diagnosis penyerta kulit dan diagnosis utama kulit adalah 79:23.

25

Penyakit kulit yang ditemukan pada pasien di bangsal rawat inap lebih banyak merupakan diagnosis penyerta dibanding sebagai diagnosis utama. Hal ini mungkin disebabkan diagnosis utama penyakit kulit lebih banyak ditangani di instalasi rawat jalan. Sehingga, penyakit kulit yang dijumpai pada pasien di bangsal rawat inap merupakan penyakit kulit yang memerlukan pengawasan, atau merupakan tanda kelainan penyakit sistemik (Fernandes et al., 2012).

Tabel 4.4 Distribusi frekuensi karakteristik sampel penelitian berdasarkan diagnosis penyakit penyerta kulit.

Diagnosis Penyakit Penyerta Kulit Jumlah (n) Persentase (%)

Ulkus Dekubitus 77 48,7

Furunkel dan Karbunkel 16 10,1

Penyakit Kulit Terinduksi Obat 14 8,9

Eritroderma 8 5,1

Selulitis 6 3,8

Miliaria Rubra 5 3,2

Dermatitis Popok 4 2,5

Infeksi Lokal Kulit dan Subkutan 4 2,5

Ulkus Ekstremitas Bawah 4 2,5

Stevens-Johnson Syndrome 3 1,9

Dermatitis Seboroik 2 1,3

Impetigo 2 1,3

Staphylococcal Scalded Skin Syndrome 2 1,3

Toxic Epidermal Necrolysis 2 1,3

Dermatisis Seboroik 1 0,6

Dermatitis Kontak Alergi 1 0,6

Dermatitis Kontak Okupasional 1 0,6

Limfadenitis Akut 1 0,6

Dari tabel 4.4, dapat dilihat bahwa diagnosis penyakit penyerta kulit yang paling banyak diderita oleh sampel penelitian adalah ulkus dekubitus sebanyak 77 orang (48,7%). Diikuti dengan furunkel dan karbunkel sebanyak 16 orang (10,1%), penyakit kulit terinduksi obat sebanyak 14 orang (8,9%).

26

Tabel 4.5 Distribusi frekuensi karakteristik sampel penelitian berdasarkan penyakit utama.

Diagnosis Penyakit Utama Jumlah (n) Persentase (%)

Septikemia 24 15,2

Anemia 21 13,3

Infeksi Human Immunodeficiency Virus 13 8,2

Diabetes Mellitus 12 7,6

Gagal Jantung Kongestif 8 5,1

Efusi Pleura 4 2,5

Bronkopneumonia 3 1,9

Hidrosefalus 3 1,9

Infark Serebral 3 1,9

Perdarahan Intraserebral 3 1,9

Systemic Lupus Erythematosus 3 1,9

Tuberculosis of Lung 3 1,9

Tuberculosis of Pleura 3 1,9

Acute Kidney Injury 2 1,3

Cirrhosis of Liver 2 1,3

Fracture of Lumbar Spine 2 1,3

Hypertensive Renal Failure 2 1,3

Iskemia Serebral Kronis 2 1,3

Leukemia Limfoblastik Akut 2 1,3

Neoplasma Maligna Tulang 2 1,3

Stroke Hemoragik 2 1,3

Tetralogy of Fallot 2 1,3

Benign Neoplasm of Brain 1 0,6

Campak 1 0,6

Cholelithiasis 1 0,6

Defisiensi Alpha-1-antitrypsin 1 0,6

Diffuse Brain Injury 1 0,6

Displacement of Intervertebral Disc 1 0,6

Electrolyte Imbalance 1 0,6

Endokarditis Akut 1 0,6

Hyperimmunoglobulin E Syndrome 1 0,6

Infark Miokardium Akut 1 0,6

Iskemia Jantung Kronis 1 0,6

Leukemia Myeloblastik Akut 1 0,6

Lumbago 1 0,6

Malignant Neoplasm of Prostate 1 0,6

Meningioma 1 0,6

Meningitis Bakterial 1 0,6

Myelodysplastic Syndrome 1 0,6

Neoplasma Maligna Tiroid 1 0,6

Non-Hodgkin Limfoma 1 0,6

Open Wound of Elbow 1 0,6

Patent Ductus Arteriosus 1 0,6

Penyakit Paru Obstruktif Kronik Eksaserbasi Akut 1 0,6

Perdarahan Gastrointestinal 1 0,6

Pneumonia Kongenital 1 0,6

Polisitemia Vera 1 0,6

Spinal Tuberculosis 1 0,6

Spondilosis 1 0,6

Subtrochanteric Fracture 1 0,6

Trombositosis 1 0,6

Tuberculous Peripheral Lymphadenopathy 1 0,6

27

Dilihat dari tabel 4.5, dapat diketahui bahwa diagnosis penyakit utama yang banyak diderita oleh sampel penelitian adalah septikemia sebanyak 24 orang (15,2%), anemia sebanyak 21 orang (13,3%), dan infeksi Human Immunodeficiency Virus sebanyak 13 orang (8,2%).

Pada penelitian ini, ulkus dekubitus merupakan penyakit penyerta kulit tertinggi dari sampel penelitian. Menurut Lyder et al. (2012) pada penelitiannya mengenai ulkus dekubitus pada pasien di bangsal rawat inap, pasien dengan diagnosis penyakit kronis, seperti diabetes melitus, iskemia serebral kronis, gagal jantung kronis juga memiliki risiko yang lebih tinggi untuk menderita ulkus dekubitus.

Jiang et al. (2014) melaporkan sakrum sebagai lokasi yang sering terkena ulkus dekubitus. Diikuti dengan kalkaneus dan krista iliaka sebagai lokasi kedua dan ketiga yang sering terkena ulkus dekubitus. Nasution (2014) mengatakan pada ulkus dekubitus sering terjadi infeksi nosokomial yang dapat berdampak menimbulkan komplikasi penyakit kronis lain lagi.

Tabel 4.6 Distribusi frekuensi karakteristik sampel penelitian berdasarkan penyakit utama kulit.

Diagnosis Penyakit Utama Kulit Jumlah (n) Persentase (%)

Furunkel dan Karbunkel 8 17,4

Stevens-Johnson Syndrome 8 17,4

Penyakit Kulit Terinduksi Obat 6 13

Selulitis 5 10,9

Infeksi Lokal Kulit dan Subkutan 1 2,2

Pemfigoid Bulosa 1 2,2

Ulkus Dekubitus 1 2,2

Ulkus Extremitas Bawah 1 2,2

Total 46 100

28

Dilihat dari tabel 4.6, penyakit kulit yang banyak didiagnosis sebagai penyakit utama di bangsal rawat inap adalah furunkel dan karbunkel yang diderita sebanyak 8 orang (17,4%), dan Steven-Johnson Syndrome juga sebanyak 8 orang (17,4%).

Diikuti dengan penyakit kulit terinduksi obat sebanyak 6 orang (13%).

Pada hasil penelitian, ditemukan pasien dengan diagnosis kulit utama Trichilemmal cyst, Epidermal cyst, Follicular cyst. Umumnya penyakit ini tidak ditangani di bangsal rawat inap. Kemungkinan besar pasien-pasien dengan diagnosis yang telah disebutkan di atas dirawat di bangsal rawat inap untuk indikasi operasi dan pantauan pasca tindakan operasi.

Furunkel dan karbunkel juga bukan merupakan penyakit kulit yang umum ditangani di bangsal rawat inap. Pasien dengan diagnosis ini ditangani karena penyakit sistemik kronis yang diderita seperti septikemia, anemia, diabetes mellitus dan lainnya.

Penyakit kulit baik sebagai diagnosis utama maupun sebagai diagnosis penyerta yang umum dijumpai pada sampel penelitian adalah infeksi jaringan kulit yakni furunkel dan karbunkel, dan selulitis, serta reaksi simpang obat yakni Steven-Johnson Syndrome, eritroderma dan penyakit kulit terinduksi obat. Hasil ini serupa dengan hasil penelitian yang dilaksanakan oleh Balai et al. (2017) di India, penelitian oleh Huang dan Chong (2016) di Singapura, dan penelitian Pramuningtyas et al. (2012) di Surakarta.

Menurut Pramuningtyas et al. (2012), angka infeksi jaringan kulit yang tinggi di bangsal rawat inap negara tropis disebabkan oleh personal hygiene pasien yang kurang, gizi yang kurang, dan iklim yang panas dan lembap. Marthoenis et al.

(2015) juga berpendapat bahwa sanitasi bangsal rawat inap Indonesia yang buruk merupakan faktor pencetus penyakit-penyakit kulit pada pasien di bangsal rawat inap. Kemudian, angka pasien yang melebihi kuota perawat bertugas menyebabkan perawat tidak dapat sepenuhnya memperhatikan personal hygiene setiap pasien, termasuk skin hygiene.

29

Penelitian Lihite et al. (2016) di India mengenai obat yang memicu Steven-Johnson Syndrome dan Toxic Epidermal Necrolysis menunjukkan bahwa, obat golongan anti-mikroba sangat sering memicu Steven-Johnson Syndrome dan Toxic Epidermal Necrolysis. Diikuti dengan obat anti-konvulsan dan anti-piretik. Lihite et al. (2012) juga berpendapat angka kejadian Steven-Johnson Syndrome dan Toxic Epidermal Necrolysis yang tinggi dapat meningkatkan angka mortalitas di sebuah rumah sakit.

Tabel 4.7 Distribusi frekuensi karakteristik sampel penelitian lama perawatan penyakit penyerta kulit yang diderita pasien.

Lama Perawatan Penyakit Penyerta Kulit (hari) Jumlah (n) Persentase (%)

58 1 0,6

30

Dari tabel 4.7, dapat dilihat bahwa lama perawatan penyakit penyerta kulit terlama adalah 58 hari, lama perawatan penyakit penyerta kulit tersingkat adalah 3 hari. Lama perawatan penyakit penyerta kulit yang paling banyak dijumpai pada sampel adalah 12 hari sebanyak 12 orang (7,6%), diikuti dengan 7 hari, dan 15 hari masing-masing sebanyak 11 orang (7%). Rata-rata lama perawatan penyakit penyerta kulit pada penelitian ini adalah 16 hari.

Tabel 4.8 Distribusi frekuensi karakteristik sampel penelitian berdasarkan lama perawatan penyakit utama kulit yang diderita pasien.

Lama Perawatan Penyakit Utama Kulit (hari) Jumlah (n) Persentase (%)

38 1 2.2

31

Dari tabel 4.8, dapat dilihat bahwa lama perawatan penyakit utama kulit terlama adalah 38 hari, lama perawatan penyakit utama kulit tersingkat adalah 4 hari. Lama perawatan penyakit utama kulit yang banyak dijumpai pada sampel adalah 13 hari sebanyak 6 pasien (13%), diikuti dengan 6 hari sebanyak 5 pasien (10,9 %), 11 hari sebanyak 5 pasien (10,9%), dan 16 hari sebanyak 4 pasien (8,7%). Rata-rata lama perawatan penyakit utama kulit pada penelitian ini adalah 14 hari.

Tabel 4.9 Distribusi frekuensi karakteristik sampel penelitian berdasarkan rata-rata lama rawat inap 5 diagnosis penyakit penyerta kulit terbanyak.

Diagnosis Penyakit Penyerta

Kulit Jumlah

(n) Rata-Rata Lama Rawat Inap (hari)

Ulkus Dekubitus 77 14,08

Furunkel dan Karbunkel 16 20,13

Penyakit Kulit Terinduksi Obat 14 15,64

Eritroderma 8 17

Selulitis 6 15,5

Jumlah 121 82,35

Dari tabel 4.9 dapat dilihat bahwa furunkel dan karbunkel adalah penyakit dengan rata-rata lama perawatan terlama di antara 5 diagnosis penyakit penyerta kulit terbanyak, yaitu 20,13 hari.

Tabel 4.10 Distribusi frekuensi karakteristik sampel penelitian berdasarkan rata-rata lama rawat inap 5 diagnosis penyakit utama kulit terbanyak.

Diagnosis Penyakit Utama Kulit Jumlah (n) Rata-Rata Lama Rawat Inap (hari)

Furunkel dan Karbunkel 8 15,88

Stevens-Johnson Syndrome 8 16,13

Penyakit Kulit Terinduksi Obat 6 13,17

Selulitis 5 11

Eritroderma 4 12,25

Jumlah 31 68,43

Dari tabel 4.10 dapat dilihat bahwa Steven-Johnson Syndrome adalah penyakit dengan rata-rata lama perawatan terlama di antara 5 diagnosis penyakit utama kulit terbanyak, yaitu 16,13 hari.

32

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata lama perawatan penyakit utama kulit pada sampel penelitian adalah 14 hari. Hasil ini mendekati dengan hasil penelitian Bale dan Chee (2012) di Australia dengan rata-rata lama perawatan 10 hari, dan penelitian Samorano-Lima et al. (2014) di Brazil dengan rata-rata lama perawatan 13 hari.

Pasien dengan length of stay yang lama memiliki risiko yang tinggi untuk menderita ulkus dekubitus. Begitu juga sebaliknya, pasien dengan komplikasi ulkus dekubitus cenderung memiliki lama perawatan yang lebih lama (Jiang et al., 2014).

Ditambah lagi, pada ulkus dekubitus juga dapat menyebabkan bakterimia dan menimbulkan komplikasi, misalnya osteomielitis, endokarditis, sepsis sehingga semakin memperlama lama perawatan (Nasution, 2012).

Selain ulkus dekubitus, penyakit penyerta kulit yang lainnya juga dapat memperlama perawatan seorang pasien. Angka lama perawatan yang tinggi akan berdampak pula pada tarif pengeluaran yang tinggi dan tidak efektif (Bale dan Chee, 2012). Beberapa tindakan preventif seperti, peningkatan personal hygiene, menggunakan pakaian yang mudah didekontaminasi, pemakaian masker pada pasien rentan menular infeksi, dan pengurangan tindakan invasif terhadap pasien dapat menurunkan angka penyakit kulit di bangsal rawat inap (Nasution, 2012).

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan mengenai gambaran penyakit kulit di bangsal rawat inap RSUP H. Adam Malik Medan pada periode 2016, maka dapat diambil kesimpulan berupa:

1. Berdasarkan jumlah penderita penyakit kulit, baik diagnosis utama atau diagnosis penyerta di RSUP H. Adam Malik Medan pada periode 2016, didapati sebanyak 204 orang.

2. Berdasarkan jenis diagnosis penyakit kulit, didapati jenis diagnosis penyakit kulit yang lebih banyak diderita pasien di bangsal rawat inap RSUP H. Adam Malik Medan pada periode 2016 adalah diagnosis penyerta dengan jumlah 158 diagnosis (77,5%) dibanding dengan diagnosis utama hanya berjumlah 46 diagnosis (22,5%).

3. Berdasarkan jenis kelamin, didapati jenis kelamin yang lebih banyak menderita penyakit kulit di bangsal rawat inap RSUP H. Adam Malik Medan pada periode 2016 adalah laki-laki dengan jumlah 104 orang (51%), dibanding dengan perempuan berjumlah 100 orang (49%).

4. Berdasarkan kelompok usia, didapati kelompok usia yang paling banyak menderita penyakit kulit di bangsal rawat inap RSUP H. Adam Malik Medan pada periode 2016 adalah kelompok usia dewasa (20-59 tahun) dengan jumlah 120 orang (58,8%).

5.A. Berdasarkan lama perawatan penyakit penyerta kulit, didapati rata-rata interval antara lama perawatan penyakit penyerta kulit di bangsal rawat inap RSUP H. Adam Malik Medan pada periode 2016 adalah 16 hari.

34

B. Berdasarkan lama perawatan penyakit utama kulit, didapati rata-rata lama perawatan penyakit utama kulit di bangsal rawat inap RSUP H. Adam Malik Medan pada periode 2016 adalah 14 hari.

5.2 SARAN

Dari serangkaian proses penelitian yang telah dilakukan, maka dapat diberikan beberapa saran yang diharapkan bermanfaat bagi semua pihak yang terkait dalam penelitian ini. Adapun saran tersebut, berupa:

1. Bagi semua rumah sakit khususnya RSUP H. Adam Malik Medan, disarankan untuk meningkatkan sanitasi rawat inap dan personal hygiene pasien dan tenaga medis mengingat tingginya diagnosis penyakit kulit sebagai penyakit penyerta.

2. Bagi seluruh tenaga medis yang bertugas di bangsal rawat inap khususnya di RSUP H. Adam Malik Medan, agar dapat melakukan tindakan preventif terhadap ulkus dekubitus sebagai diagnosis penyerta kulit tertinggi di bangsal rawat inap RSUP H. Adam Malik Medan.

3. Bagi seluruh instalasi rekam medis khususnya di RSUP H. Adam Malik Medan, disarankan untuk mengupayakan kelengkapan data tiap pasien, sehingga penelitian selanjutnya dengan metode pengambilan data rekam medis dapat memperoleh sampel yang lebih banyak.

4. Diharapkan penelitian ini dapat menjadi rujukan untuk penelitian yang berkaitan.

35

DAFTAR PUSTAKA

Al-Hilo, M. M., Al-Saedy, S. J. & Alwan, A. I. 2012, ‘Atypical Presentation of Miliaria in Iraqi Patients Attending Al -Kindy Teaching Hospital in Baghdad:

A Clinical Descriptive Study’, American Journal of Dermatology and Venereology [Online], vol. 1, no. 3, pp. 41-46, accessed 3 June 2017, Available at: http://www.sapub.org/global/showpaperpdf.aspx?doi=10.5923/j.ajdv.201201 03.02

Amado, A., Sood, A. & Taylor, J. S. 2012, ‘Irritant Contact Dermatitis’ in Fitzpatrick's Dermatology in General Medicine, eds., Goldsmith, L. A., Katz, S. I., Gilchrest, B. I., Paller, A. S., Leffell, D. J. & Wolff, K., McGraw-Hill, New York.

Androphy, E. J. & Kirnbauer, R. 2012, ‘Human Papilloma Virus Infections’ in Fitzpatrick's Dermatology in General Medicine, eds., Goldsmith, L. A., Katz, S. I., Gilchrest, B. I., Paller, A. S., Leffell, D. J. & Wolff, K., McGraw-Hill, New York.

Balai, M., Gupta, L. K., Khare, A. K., Mittal, A., Mehta, S. & Bharti, G. 2017,

‘Pattern of inpatient referrals to dermatology at a tertiary care centre of South

‘Pattern of inpatient referrals to dermatology at a tertiary care centre of South

Dokumen terkait