IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4. Perawatan Tanaman
4.2 Penyakit pada Tanaman dan Buah Stroberi
Berdasarkan hasil pelaksanaan magang kerja di PT. Kusuma Agrowisata ditemukan 4 macam penyakit yang umumnya menjadi masalah pada tanaman stroberi, yaitu C. acutatum (antraknosa), P. obscurans (hawar daun), dan S. macularis f.sp. fragariae (embun tepung). Penyakit penting di lokasi pengamatan yang menjadi masalah untuk buah stroberi, yaitu B. cinerea atau kapang kelabu, C. acutatum atau antraknosa, dan S. macularis f.sp. fragariae atau lebih dikenal dengan nama embun tepung (powdery mildew):
1. Antraknosa (C. acutatum)
Tanaman stroberi yang terinfeksi oleh antraknosa ditandai dengan munculnya bercak berwarna coklat kemerahan yang tidak memiliki pusat bercak, muncul pada ujung atau pada sepanjang tepi daun. Pada beberapa tanaman yang terserang lebih parah, maka seluruh daun akan mengering berwarna coklat dengan sedikit warna coklat kemerahan. Antraknosa juga menyerang bunga, dan buah stroberi. Bila menyerang bunga maka bunga akan layu dan mengering, apabila menyerang buah maka akan muncul lesi atau luka kering berwarna coklat yang akan semakin membesar disertai dengan munculnya misellium, luka tersebut mengakibatkan buah menjadi kering dan tersisa bijinya saja (Gambar 14).
Gambar 14. Gejala penyakit antraknosa pada daun (A), bunga (B), dan buah stroberi (C dan D)
Antraknosa menyebabkan lesi pada tangkai daun, kumpulan tangkai, buah membusuk dan kadang-kadang mahkota juga membusuk. Penyakit ini sering terlihat pada tanaman yang tumbuh di tanah yang iklim mikro di sekitar tanaman lebih hangat. Kerusakan dari antraknosa dapat mengakibatkan kematian tanaman (Elmhirst, 2005). Gejala busuk buah antraknosa dalam masa pematangan buah akan muncul lesi cekung, bulat tegas, terdapat bintik-bintik cekung yang biasanya berubah menjadi coklat gelap atau hitam. Bintik-bintik berukuran sekitar 1-2 mm dan biasanya berwarna hitam, atau abu-abu terang. Pertumbuhan misellium dan spora di tempat lembab. Gejala ini biasanya muncul setelah stolon dan tangkai terinfeksi (Ullio, 2004).
Pengendalian penyakit antraknosa yang dilakukan di kebun stroberi PT.Kusuma Agrowisata menggunakan teknik pengendalian mekanik. Pengendalian mekanik dengan cara mencabut daun, bunga maupun buah yang terinfeksi bersamaan dengan kegiatan pewiwilan maupun penyiangan gulma. Pengendalian penyakit ini kurang berjalan efektif dikarenakan penyakit antraknosa bertransmisi dengan bahan tanam (Le-gard, 2000 dalam Ivanovic et al., 2007). Investigasi oleh Eastburn dan Gubler (1990) dalam Ivanovic et al. (2007) berpendapat bahwa jamur ditransmisikan dan terinfestasi dalam tanah dan melekat pada mahkota stroberi. EPPO Bulletin (2004) dalam Ivanovic et al. (2007) menekankan bahwa bahan tanam yang terinfeksi adalah awal dari menyebarnya penyakit ini Beberapa studi telah menunjukkan bahwa C. acutatum dapat bertahan pada tanaman stroberi (Howard et al., 1992 dalam Ivanovic et al., 2007). Perlakuan yang efektif
mengendalikan penyakit Colletotrichum biasanya melibatkan penggunaan satu atau kombinasi dari berikut: 1) kultivar tahan, 2) kontrol budidaya, 3) kontrol kimia, dan 4) pengendalian biologis menggunakan organisme antagonis.Bio-fungisida yang mengandung bakteri antagonis Bacillus subtilis dan Candida oleophila berada di tahap pengujian untuk menentukan efikasi terhadap C. acutatum (Wharton & Uribeondo, 2004). Untuk memaksimalkan hasil produksi, penggunaan kultivar tahan seharusnya dimaksimalkan di lahan karena stroberi varietas Sweet Charlie tidak menunjukkan gejala busuk buah antraknosa walaupun tumbuh berdekatan dengan kultivar rentan yang menunjukkan gejala parah akibat penyakit ini (Chandler et al., 2009).
2. Embun Tepung (S. macularis f.sp. fragariae)
Misellium jamur berwarna putih dapat ditemui di bagian permukaan maupun bagian bawah daun terinfeksi, yang selanjutnya akan muncul bercak berwarna ungu kemerahan pada daun, dan tepi daun mulai menggulung ke atas. Penyakit ini juga menginfeksi buah dengan cara menutupi permukaan buah dengan misellium tipis berwarna putih (Gambar 15).
Gambar 15. Gejala penyakit embun tepung pada daun (A dan B) dan buah Stroberi (C)
Embun tepung dianggap penyakit moderat yang dapat mempengaruhi buah, daun dan bunga. Penyakit ini menghasilkan bercak putih yang berkembang di permukaan daun bawah dan atas, tepi daun menggulung ke atas, buah yang belum matang mungkin gagal untuk mematangkan, menjadi keras, retak dan warna berubah menjadi merah pudar (Ullio, 2009). Serangan embun tepung pada bunga, daun dan buah dan dapat menyebabkan kerugian tanaman yang berat selama kondisi hangat dan lembab. Bunga yang terinfeksi ditutupi dengan miselium putih yang menyebabkan
kurangnya penyerbukan. Daun yang terinfeksi berubah menjadi ungu kemerahan atau memiliki bintik-bintik ungu kecil. Infeksi pada buah hijau (belum matang) dapat berakibat pada berhentinya pematangan, buah keras, roset dan pecah-pecah. Buah matang yang terinfeksi menjadi lunak, dan biasanya memiliki rasa yang agak datar atau pahit yang membuat buah tidak layak jual (Elmhirst, 2005). Pada kultivar rentan, pertumbuhan miselium padat dan memiliki banyak rantai konidia (spora) memberikan bagian yang terinfeksi seperti tertutupi oleh tepung (Peres & Mertely, 2013).
Pengendalian yang dilakukan di lapang untuk penyakit ini menggunakan fungisida berbahan aktif Fenarimol seperti Rubigan 120 EC sesuai dosis anjuran. Penyemprotan fungisida dilakukan terjadwal sebulan sekali tanpa ada kegiatan monitoring penyakit terlebih dahulu. Penyemprotan dilakukan di pagi hari dan akan tetap dilanjutkan sampai siang hari apabila seluruh blok belum terselesaikan, sehingga blok yang terjadwal penyemprotan siang hari tidak akan mendapatkan fungisida secara maksimal karena cuaca yang panas akan membuat fungisida cepat menguap. Pengelolaan budidaya yaitu mengelola gulma dan mengatur jarak tanam untuk meningkatkan sirkulasi udara yang baik, serta menghindari nitrogen berlebih dan menjadikan lokasi tanam memiliki drainase udara yang baik cukup membantu dalam mengatasi penyebaran penyakit embun tepung karena sampai saat ini belum ada varietas tahan (Carrol et al., 2015).
3. Hawar Daun (P. obscurans)
Gejala hawar daun yangmuncul di lokasi pengamatan ditandai dengan munculnya warna coklat keunguan dengan tepi ungu kemerahan pada salah satu ujung atau di sisi helai daun, yang selanjutnya berkembang luas menjadi nekrotik. Luka pada daun berbentuk V, memiliki pusat berwarna coklat terang. Hawar daun juga dapat menyerang buah stroberi ditandai dengan melunaknya buah, warna memudar, busuk dengan luka mengkerut berwarna hitam gelap karena diselimuti oleh misellium (Gambar 16).
Gambar 16. Gejala penyakit hawar pada daun (A dan B) dan buah stroberi (C)
Hawar daun dianggap sebagai penyakit ringan pada stroberi yang mempengaruhi daun dan menyebabkan busuk lunak pada buah yang matang. Bintik-bintik bulat besar ditemui pada daun dengan tiga zona warna yang berbeda. Bintik tersebut dapat membentuk area berbentuk V dibatasi oleh vena yang memanjang ke tepi daun. Penyakit ini dapat menjadi penyakit paling buruk selama kondisi basah dan di dataran rendah atau daerah teduh, menyebar dari tanaman yang terinfeksi oleh angin dan percikan air dari irigasi (sprinkler) atau hujan, dan dari stolon yang terinfeksi sebelumnya (Ullio, 2009).
Berdasarkan penelitian Carroll et al. (2015) pengendalian secara mekanik dapat dilakukan untuk penyakit hawar daun di lapang yaitu mencabut daun dan buah yang terinfeksi bersamaan dengan kegiatan pewiwilan atau penyiangan gulma. Pengendalian ini apabila dilakukan secara teratur akan mengurangi jumlah inokulum, tetapi apabila semakin banyak daun yang terinfeksi dapat melemahkan tanaman stroberi dan dapat memberikan inokulum dalam jumlah besar yang mengakibatkan infeksi berat di musim tanam berikutnya (Babadoost, 1996). Menciptakan sirkulasi udara (jarak tanam dan pengendalian gulma) akan mengurangi waktu dedaunan untuk mongering setelah irigasi dan membatasi periode infeksi (Carroll et al., 2015).
4. Kapang kelabu (B. cinerea)
Gejala serangan penyakit yang ditemui di lapang selanjutnya adalah kapang kelabu yang disebabkan oleh B.cinerea, ditandai dengan munculnya koloni jamur berwarna abu-abu menyelimuti permukaan buah
stroberi, apabila sudah parah maka seluruh permukaan buah stroberi akan tertutupi jamur (Gambar 17).
Gambar 17. Penyakit kapang kelabu menginfeksi buah stroberi
Jamur abu-abu Botrytis, juga dikenal sebagai kapang kelabu adalah jamur yang menginfeksi buah stroberi matang dan hampir matang. Buah terinfeksi akan melunak dan mulai membusuk, akhirnya menjadi ditutupi dengan jamur abu-abu (Barney, 1999). Berdasar pada penelitian yang dilakukan oleh Balitjestro (2014) buah muda yang terinfeksi menjadi busuk coklat, warna coklat menyebar lalu buah menjadi kering dan permukaannya ditutupi bubuk keabu-abuan seperti berdebu. Penyakit ini berkembang sangat pesat pada tempat penyimpanan setelah buah dipanen, dan menyebar ke buah lain yang sehat. Pada kondisi yang mendukung pertumbuhan jamur, buah dapat membusuk dalam waktung 48 jam setelah dipanen. Pengendalian penyakit kapang kelabu di lahan dengan cara membuang buah yang terinfeksi bersamaan dengan kegiatan pewiwilan dan penyiangan gulma.
Tak satu pun dari varietas stroberi yang tersedia secara komersial memiliki tingkat ketahanan terhadap kapang kelabu, sehingga manajemen penyakit bergantung pada berbagai praktek manajemen budidaya, dan pengaplikasian fungisida tepat waktu. Penggunaan irigasi tetes dan mulsa plastik membantu mengurangi air tergenang pada tanaman dan mencegah buah dari tanah yang lembab (Ferrin, 2010). Gunakan baris dan jarak tanam yang direkomendasikan untuk mempercepat pengeringan daun setelah hujan dan irigasi, menghindari irigasi sprinkler jika memungkinkan, memilih buah setidaknya setiap hari dan simpan di suhu dingin dengan cepat, dan buang buah yang membusuk dari baris tanaman (Barney, 1999). Penelitian yang telah dilakukan oleh Permatasari et. al. (2008) menunjukkanpengendalian
biologis juga dapat dilakukan untuk mengendalikan kapang kelabu, agensia hayati terbaik dalam menekan B. cinerea in vitro dan in vivo adalah Bacillus sp. isolat stroberi lokal dengan tingkat penghambatan antagonis, zona hambatan, masa inkubasi, dan luas serangan masing-masing sebesar 68,67%, 0,74 cm, 1,5 hari, dan 1,680 cm2.
Pengamatan penyakit pada tanaman stroberi varietas Sweet Charlie dan Rosa Linda masing-masing dilakukan di 2 lokasi dengan umur tanaman yang berbeda. Stroberi varietas Sweet Charlie berada di lokasi A1 dengan umur tanaman 8 bulan dan lokasi B1 dengan umur tanaman 1 bulan, stroberi varietas Rosa Linda berada di lokasi C1 dengan umur tanaman 7 bulan dan lokasi D1 dengan umur tanaman 6 bulan. Pengamatan gejala penyakit pada tanaman dilakukan secara visual yang kemudian dihitung intensitas kejadian penyakitnya. Perhitungan kejadian IP digunakan untuk mengetahui tingkat kerusakan tanaman yang disebabkan oleh patogen terhadap tanaman stroberi di PT. Kusuma Agrowisata. Hasil perhitungan IP disajikan dalam Tabel 3:
Tabel 3. Persentase survey perhitungan intensitas penyakit (IP) pada stroberi varietas Sweet Charlie umur 8 dan 1 bulan, dan stroberi varietas Rosa Linda umur 7 dan 6 bulan
Lokasi Umur Tanaman (bulan) IP (%) Antraknosa Embun
Tepung Hawar Daun
A1 8 0 41 59
B1 1 0 0 26
C1 7 50 14 36
D1 6 84 16 0
Berdasar pada hasil perhitungan IP , kejadian penyakit antraknosa tertinggi yang disebabkan oleh C.acutatum ditemukan pada tanaman stroberi varietas Rosa Linda berumur 6 bulan di lokasi D1 dengan nilai IP sebesar 84%, dan lokasi C1 sebesar 50%. Lokasi C1 dan D1 yang berdekatan memungkinkan penyebaran antraknosa dapat berlangsung dengan cepat, sedangkan pada varietas Sweet Charlie yang berada di lokasi A1 dan B1 tidak ditemukan tanaman yang memiliki gejala terserang antraknosa dikarenakan varietas Sweet Charlie tahan terhadap penyakit antraknosa (Chandler et al., 2009).
Nilai IP penyakit embun tepung yang menginfeksi tanaman stroberi di lokasi pengamatan A1 sebesar 40%, lokasi B1 0%, lokasi C1 sebesar 14%, dan lokasi D1 sebesar 16%. Di lokasi B1 tidak ditemui gejala embun tepung dikarenakan kondisi tanaman masih baru sehingga gejala penyakit ini belum bisa dilihat secara visual, sedangkan di lokasi A1, C1, dan D1 ditemukan penyakit embun tepung karena penyiraman menggunakan sprinkler menimbulkan percikan-percikan air yang memudahkan penyebaran penyakit ini. Kondisi tanaman yang rimbun juga mendukung penyebaran penyakit, karena tanaman yang rimbun menyebabkan kondisi pertanaman hangat dan lembab yang mendukung bagi penyakit embun tepung untuk menginfeksi tanaman stroberi.
Nilai IP hawar daun tertinggi berada di lokasi A1 sebesar 59%, C1 sebesar 36%, B1 sebesar 26% dan di lokasi D1 tidak ditemukan tanaman yang terinfeksi penyakit hawar daun. Penggunaan bahan tanam di lokasi kebun stroberi PT. Kusuma Agrowisata tidak memperhatikan kondisi tanaman induk, sehingga bahan tanam yang digunakan di lokasi A1, B1, dan C1 dimungkinkan menggunakan bahan tanam yang telah terinfeksi oleh penyakit hawar daun sebelumnya sehingga nilai IP hawar daun di lokasi A1, B1, dan C1 lebih tinggi daripada lokasi D1.
4.4 Pengendalian
Upaya penanggulangan penyakit tanaman stroberi yang telah dilakukan oleh PT. Kusuma Agrowisata jika dilihat secara keseluruhan belum dilakukan secara optimal, terbukti dengan belum dilakukan pengendalian terhadap penyakit kapang kelabu, hawar daun, dan antraknosa. Kegiatan penyemprotan dengan fungisida juga dilakukan hanya dengan sistem kalender yang telah dijadwalkan tanpa memonitoring penyakit dari awal pemilihan bahan tanam sampai panen. Selain itu kegiatan penyemprotan tidak hanya dilakukan di pagi hari sehingg pengaplikasian fungisida antar blok tidak merata.
Saat produksi stroberi dibatasi oleh hama dan penyakit tanaman, pemahaman tentang faktor-faktor yang terlibat didalamnya dapat menjadi manajemen budidaya dan pengendalian yang efektif. Perkembangan penyakit dan kerusakan karena serangga sangat tergantung pada karakteristik dan kondisi tanaman (inang), populasi patogen atau hama, dan lingkungan. Karakteristik inang
yang mempengaruhi kerentanan terhadap penyakit dan hama termasuk fisiologi, dan varietas (genetika). Agresivitas atau virulensi, kelimpahan, dan fisiologi adalah karakteristik dari populasi hama atau patogen yang mempengaruhi kemampuan mereka untuk menyebabkan penyakit atau kerusakan. Pada saat yang sama, kondisi lingkungan abiotik seperti suhu, kelembaban, cahaya, dan kimia tanah dapat mempengaruhi hubungan antara inang dan hama atau patogen, dan dapat menimbulkan atau mencegah penyakit. Selain itu, kehadiran, kelimpahan dan aktivitas musuh alami dapat memainkan peran penting dalam menentukan status OPT. Untuk berhasil meminimalkan penyakit dan kerusakan akibat patogen atau hama, semua aspek yang relevan dari inang, patogen atau hama, dan lingkungan harus dikelola dalam jangka waktu tertentu. Meskipun hama dan patogen tanaman sangat berbeda dalam biologi, hama dan patogen sering memiliki cukup kesamaan dalam strategi dan sejarah hidup sehingga sangat memungkinkan manajemen akan sukses di bawah sekumpulan prinsip-prinsip yang mendasar. Prinsip-prinsip ini meliputi penghindaran (eksklusi), pemberantasan (eradikasi), dan perlindungan (proteksi), yang didefinisikan sebagai berikut (Carrol et al., 2015):
1. Eksklusi: prinsip ini berfokus pada pencegahan dan meminimalkan faktor-faktor yang mendukung perkembangan hama dan patogen. Beberapa praktek yang mengecualikan atau membatasi patogen dan kehadiran hama meliputi: • membuat lokasi tanam dengan drainase tanah yang baik, dan lokasi tanam
dengan drainase udara yang baik. Membuat sirkulasi udara lancar dengan cara mencabut tanaman mati atau layu, dan mengurangi gulma; praktek ini memungkinkan buah dan daun di lokasi tanam dapat kering lebih cepat. • penggunaan bahan tanam bebas hama dan penyakit.
• mencegah percikan hujan dan penyebaran partikel tanah dengan menerapkan lapisan mulsa yang tebal di bawah dan di sekitar tanaman. • melakukan praktek manajemen gulma, gulma dapat menjadi tuan rumah
untuk patogen dan arthropoda menguntungkan.
• menghindari penanaman stroberi dekat dengan tanaman lain atau habitat yang menjadi inang patogen penyakit dan/atau hama.
2. Eradikasi: prinsip ini berkaitan dengan membasmi populasi patogen atau hama. Praktik-praktik ini meliputi:
• melakukan kegiatan sanitasi penanaman, pencabutan bahan tanam yang terinfeksi termasuk buah masak, sampah dedaunan, dan tanaman untuk membasmi patogen dan hama. Pemusnahan ini dilakukan dengan cara pembakaran, mengubur, dan pengomposan.
• memanfaatkan beberapa alternatif kontrol biologis yang tersedia untuk penekanan, akan tetapi saat ini belum ada taktik pengendalian biologis terpercaya yang telah dikembangkan untuk penyakit stroberi meskipun biopestisida telah tersedia.
3. Proteksi: prinsip ini didasarkan pada perlindungan tanaman dari infeksi patogen dan kerusakan hama. Praktek yang melindungi tanaman dengan faktor meminimalkan infeksi dan kerusakan meliputi:
• penanaman varietas stroberi yang tahan penyakit atau kurang rentan terhadap penyakit.
• menghindari pemupukan nitrogen berlebihan karena banyak patogen, serangga dan tungau berkembang pada jaringan sukulen.
• menjauhkan buah dari tanah dengan menggunakan mulsa di bawah dan di sekitar tanaman.
• melakukan kegiatan pemanenan buah segera dan menyimpan buah di suhu rendah untuk melindungi dari busuk buah dan infestasi serangga pada buah yang masak.
• pengaplikasian fungisida, insektisida, atau mitisida dapat melindungi jaringan rentan dari penyakit dan kerusakan akibat serangga.
V. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian tentang hasil kegiatan magang kerja di PT. Kusuma Agrowisata, Kota Batu – Jawa Timur dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Kegiatan budidaya stroberi yang dilakukan di PT. Kusuma Agrowisata belum memenuhi persyaratan budidaya yang baik dilihat dari tidak maksimalnya kegiatan pemilihan bibit yang sehat dan bebas dari hama dan penyakit, sehingga setiap periode tanam selanjutnya selalu muncul penyakit yang sama dengan periode tanam sebelumnya.
2. Pengendalian hama dan penyakit tanaman stroberi yang dilakukan di PT. Kusuma Agrowisata dilakukan dengan 2 cara yaitu secara mekanik dengan membuang bagian tanaman atau buah yang sakit, dan secara kimia menggunakan pestisida sintetis berbahan aktif Fenarimol untuk mengendalikan penyakit embun tepung yang dilakukan secara terjadwal tanpa dilakukan kegiatan monitoring.
3. Berdasar hasil wawancara, di PT. Kusuma Agrowisata belum pernah dilakukan pengamatan mengenai pengaruh penyakit terhadap hasil produksi stroberi sehingga pengendalian penyakit belum dilakukan secara maksimal. 4. Berdasar hasil pengamatan ditemukan 4 jenis penyakit pada tanaman
stroberi yaitu antraknosa, embun tepung, hawar daun, dan kapang kelabu. 5.2 Saran
Berdasar pada hasil pengamatan dan kesimpulan yang didapat selama magang di PT. Kusuma Agrowisata, saran untuk kegiatan pengendalian penyakit stroberi sebagai berikut:
1. Kegiatan peremajaan tanaman stroberi untuk dijadikan bibit harus diperhatikan untuk menghindari bibit yang berasal dari tanaman sakit. 2. Penggunaan varietas tahan lebih diutamakan.
3. Kebersihan alat kebun harus diperhatikan untuk menghindari penularan penyakit antar blok.
4. Setelah melakukan kegiatan pemupukan ataupun pemberian pestisida cair hendaknya jangan melakukan kegiatan penyiraman menggunakan sprinkler
atau penyiraman menggunakan selang karena pupuk atau pestisida akan hilang terbawa oleh aliran air, sehingga tanaman tidak dapat menyerap pupuk atau pestisida tidak berfungsi dengan maksimal.
5. Sebaiknya kegiatan penyemprotan pestisida dilakukan pagi hari karena suhu udara di siang hari mempercepat penguapan pestisida.
6. Perlu diadakan kegiatan monitoring hama dan penyakit agar dapat menentukan ambang ekonomi yang selanjutnya dapat menjadi dasar dalam melakukan kegiatan pengelolaan hama dan penyakit di kebun stroberi.