• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pada sub bab ini menurut `Efiaty A dkk (2007), THT sebenarnya merupakan salah satu cabang ilmu kedokteran yang khusus menangani masalah penyakit di bagian telinga, hidung dan tenggorokan. Sejarah di bidang ini dimulai tahun 1851 dimana salah satu ahlinya yaitu Helmholz telah dapat melihat bagian-bagian dari telinga, hidung dan tenggorokan. Pada tahun 1854 ahli lain yakni Garein sudah dapat melihat laring (bagian dari saluran pernapasan). Pada tahun 1890 Killian dan Kusmal telah menyempurnakan alat yang dapat digunakan untuk melihat esofagus (bagian dari saluran makanan) dan bronkus (bagian dari saluran pernapasan).

Dalam bidang ini terjadi kemajuan pesat sejak ditemukan alat pengukur ketajaman pendengaran (audiometer) pada tahun 1940. Pada tahun 1954 dan tahun 1960 para ahli telah dapat melakukan bedah mikro pada telinga dan laring. Penemuan-penemuan tersebut menjadikan THT sebagai bidang yang berperan besar dalam dunia kedokteran. Jika seseorang menderita penyakit THT maka orang itu akan kesulitan dalam mendengarkan, berkomunikasi, melakukan fungsi penciuman, berbicara dan menelan makanan. Untuk selanjutnya berikut akan dipaparkan jenis-jenis penyakit THT yang akan menjadi ruang lingkup bahasan dalam skripsi ini.

a. Otitis Eksterna

Gejalanya adalah sebagai berikut : 1. Suhu tubuh normal terkadang panas

2. Nyeri telinga spontan dan bertambah nyeri waktu mengunyah atau telinga tersentuh.

4. Gatal pada liang telinga

5. Otorea purulin bercampur darah bila furunkel pecah (cairan kental bercampur darah)

Pengobatan : tetes telinga yang mengandung Niostatin, diberikan 3 kali sehari, selama satu minggu. Juga diberikan Analgesik berupa Metampiron 500 mg selama 3-5 hari.

b. Otitis Media

Gejalanya adalah sebagai berikut :

1. suhu tubuh normal terkadang ada yang demam disertai sakit kepala, mual dan muntah

2. telinga terasa penuh, demam

3. grebeg-grebeg, batuk, pilek, nyeri telinga. 4. Gangguan pendengaran.

5. Nyeri pada liang telinga sapai dalam telinga 6. Keluar cairan pada telinga.

Pengobatan : Dekongestan oral (Psedoefedrin) 3 kali 30-60 mg setiap hari selama 5-7 hari, tetes hidung (Efidrin 1% 3 kali sehari 3 tetes). Antibiotika diberikan selama 7 hari yaitu berupa Ampisilin (3-4 kali 500 mg oral), Eritromisin (3 kali 500 mg oral). c. Sinusitis Maksilaris

Gejalanya adalah sebagai berikut : 1. Nyeri pada daerah pipi dan kepala 2. Mengeluarkan cairan kental dan berbau 3. Suara bindeng

4. Hidung terasa buntu

5. Pada pemeriksaan mioskopi anterion, mukosa tampak merah 6. Badan panas dan batuk-batuk

7. Rasa kering pada tenggorokan

Pengobatan : Dekongestan lokal diberikan 5-7 hari, untuk dewasa : Efedrin 1%, Oksimetazolin Hidroklorida 0,05% (semprot hidung), Doksisiklin 2 kali 100 mg tiap hari selanjutnya 1 kali 100 mg per hari, selama 5-10 hari. Untuk anak-anak : Efedrin 05%, Oksimetazolin Hidroklorida 0,025% (tetes hidung).

d. Rinitis Alergi

Gejalanya adalah sebagai berikut :

1. serangan timbul bila terjadi kontak dengan alergen penyebab (sesuatu yang menyebabkan alergi)

2. didahului rasa gatal pada hidung atau mata

3. bersin-bersin paroksisma, pilek encer dan hidung buntu 4. gangguan penciuman, mata sembab dan mata berair 5. kadang disertai sakit kepala

6. punya riwayat alergi

Pengobatan : Hindari penyebab alergi, Antihistamin (CTM 3x2 4mg) atau Laratadin/ Astemizole 1x10 mg sehari(tetes hidung). Larutan Efedrin ½-1% atau Oksimetazolin 0,025% - 0,05%. Dekongestan oral : Psedoefedrin 2-3x30-60 mg sehari.

e. Tonsilitis

Gejalanya adalah sebagai berikut : 1. mula-mula tenggorokan terasa kering

2. disusul timbulnya rasa nyeri jika menelan 3. nyeri menelan dan biasanya menjalar ke telinga 4. tidur mendengkur

5. demam (dapat terjadi demam tinggi), nyeri pada kepala 6. mulut berbau busuk

7. tenggorokan kering dan batuk-batuk

Pengobatan : diberikan antibiotik pada tosilitis karana strptokokus, jika kasusnya ringan diberi Fonoksimetil penisilin 4x500 mg per hari sedangkan untuk anak-anak 7,5 – 12,5 mg per hari dosis berat badan 4 x sehari. Diberikan Eritromisin 4x500 mg (anak-anak 12,5 mh/kg BB/ dosis, 4 kali sehari) diberikan selama 5-10 hari.

f. Faringitis

Gejalanya adalah sebagai berikut :

1. Tenggorokan terasa kering dan panas, kemudian timbul nyeri menelan di bagian tengah tenggorokan

2. Demam, sakit kepala dan terasa lesu

3. Terjadi pembesaran kelenjar regional yang nyeri jika ditekan. Faring tampak merah

4. Nyeri menelan dan kepala 5. Batuk-batuk

Pengobatan : diberikan Alanalgesik berupa parasetamol 3x500 mg / hari, Ampisilin 4x500 mg/hari atau amoksilin 3x500 mg/hari.

BAB III

METODE PENELITIAN

Dalam penelitian akan dilakukan beberapa tahapan kerja untuk mencapai tujuan penulisan dengan pengimplementasian menggunakan metode Certainty Factor. Adapun langkah – langkah kerja dalam penelitian ini akan dijelaskan sebagai berikut.

3.1 Identifikasi Masalah

Permasalahan yang dihadapi dalam membangun sistem pakar yang dapat mendiagnosa penyakit THT (Telinga, Hidung dan Tenggorokan) adalah bagaimana cara merancang aplikasi sistem pakar tersebut sehingga dapat memberikan solusi-solusi tersebut secara efisien.

3.2 Studi Pustaka dan Pengumpulan Informasi

Studi pustaka dilakukan untuk melengkapi pengetahuan dasar tentang permasalahan dan metode yang digunakan sehingga dapat menunjang dalam menyelesaikan permasalahan ini. Pada tahapan ini dilakukan pengumpulan informasi diantaranya adalah sebagai berikut :

a) Metode Wawancara ( Interview )

Wawancara atau tanya jawab langsung dengan pihak-pihak terkait dalam hal ini adalah seorang dokter spesialis dalam bidang THT (Telinga, Hidung dan Tenggorokan) dan beberapa sampel user yang bersedia untuk diidentifikasi gejala-gejala penyakitnya.

b) Metode Kepustakaan ( Library Research )

Data yahg diperoleh dengan cara mengumpulkan data melalui buku ,jurnal ilmiah dan sumber-sumber lain ( internet ) yang relevan dengan permasalahan

yang dihadapi dalam hal ini tentang gejala-gejala penyakit, pencegahan penyakit serta obat-abatan yang digunakan. Kemudian hasil pengumpulan informasi digunakan untuk menentukan parameter gejala dan kesimpulan diagnosa yang akan digunakan untuk mendesain struktur sistem diagnosa penyakit yang sesuai. 3.3 Perancangan Sistem

Pada tahap ini terdiri dari beberapa tahapan dalam perancangan sistem pakar dengan menggunakan metode Certainty Factor. Adapun langkah-langkah perancangan sistem adalah sebagai berikut :

Langkah 1 : Mengumpulkan data dasar dan informasi sebagai acuan tentang operasional sistem. Jenis-jenis data dasar yang diperlukan dalam sistem pakar antara lain :

Pakar, berisi data pakar sumber pengetahuan gejala-gejala dan pencegahan selanjutnya serta obat-obatan. Data pakar meliputi :

a) Fasilitas penjelas berisi gejala-gejala dan pencegahan selanjutnya serta obat-obatan.

b) Pertanyaan untuk user di dapat dari buku atau referensi valid yang bersumber dari pakar. Soal yang disusun dalam bentuk pernyataan.

c) CF, berisi data CF pakar dan CF user yang ditawarkan oleh sistem kepada pertanyaan pada setiap soal

Dokumen terkait