Tabel 6
Distribusi 10 Penyakit Terbesar di Batang Toru Bulan Januari – Desember 2019
Nama Penyakit Jumlah Penderita
Sumber : Puskesmas Batang Toru
Universitas Sumatera Utara
Berdasarkan tabel 6 dapat dilihat bahwa penyakit terbanyak yang di derita masyarakat Batang Toru adalah Influenza yaitu sebanyak 1689 orang dan penyakit yang paling sedikit adalah DM dengan jumlah 76 orang.
Gambaran Karakteristik Responden
Data hasil penelitian diperoleh dari 25 orang yang akan diuraikan sesuai dengan tujuan penelitian yang terdiri dari umur, jenis kelamin, pendapatan dan pendidikan terakhir.
Distribusi karakteristik responden berdasarkan variabel umur dilihat dari tabel 7 menunjukkan bahwa dari 25 jumlah responden yang dilihat dari umur, responden dengan umur 51-60 tahun sebanyak 8 responden (32%), responden dengan umur 11-20 tahun sebanyak 7 responden (28%), responden dengan umur 21-30 tahun sebanyak 7 responden (28%), umur 0-10 tahun sebanyak 2 responden (8%) dan responden dengan umur 41-50 tahun sebanyak 1 responden (4%).
Distribusi karakteristik responden berdasarkan variabel jenis kelamin dilihat dari tabel 7 menunjukkan bahwa dari 25 jumlah responden yang dilihat dari jenis kelamin, responden yang berjenis kelamin laki – laki sebanyak 14 responden (56%), responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 11 responden (44%).
Distribusi karakteristik responden berdasarkan variabel pendapatan dilihat dari tabel 7 menunjukkan bahwa 25 dari jumlah responden yang dilihat dari pendapatan, responden dengan pendapatan 0 – 500.000 sebanyak 16 responden (64%), responden dengan pendapatan 600.0000 – 1.000.000 sebanyak 2 responden (8%), responden dengan pendapatan 1.600.000 – 2.000.000 sebanyak 2 responden (8%), pendapatan 1.100.000 – 1.500.000 sebanyak 1 responden (4%), pendapatan 2.100.000 – 2.500.000 sebanyak 1 responden (4%), pendapatan 3.100.000 – 3.500.000 sebanyak 1 responden (4%), pendapatan 4.100.000 – 4.500.000 sebanyak 1 responden (4%) dan pendapatan 4.600.000 – 5.000.000 sebanyak 1 responden (4%).
Distribusi karakteristik responden berdasarkan variabel pendidikan terakhir dilihat dari tabel 7 menunjukkan bahwa 25 dari jumlah responden yang
Universitas Sumatera Utara
dilihat dari pendidikan terakhir, responden dengan pendidikan terakhir pendidikan menengah (SLTA) sebanyak 13 responden (52%), responden dengan pendidikan terakhir pendidikan dasar (SD-SLTP) sebanyak 7 responden (28%), pendidikan terakhir perguruan tinggi sebanyak 3 responden (12%) dan pendidikan terakhir tidak tamat SD sebanyak 2 responden (8%).
Gambaran Pola Penggunaan Air Sungai
Berdasarkan hasil data penelitian pola penggunaan air sungai, sebanyak 25 responden (100%) mengatakan menggunakan air sungai sebagai air bersih, mengatakan menggunakan air sungai lebih dari 1 tahun, mengatakan ada ciri – ciri perubahan fisik seperti bau, perubahan warna, rasa dan kekeruhan air sungai yang dipergunakan, mengatakan ada perubahan fisik setelah adanya pertambangan.
Sebanyak 7 responden (28%) mengatakan menggunakan air sungai hanya untuk mencuci. Sebanyak 18 responden (72%) mengatakan menggunakan air sungai untuk lebih dari 1 pilihan (mencuci, mandi, memasak, minum.
Gambaran Keluhan Kesehatan Tabel 8
Distribusi Keluhan Kesehatan Penduduk Batang Toru
Keluhan Kesehatan n %
Tabel 8
Distribusi Keluhan Kesehatan Penduduk Batang Toru
Keluhan Kesehatan n %
Sudah berapa lama anda mengalami keluhan-keluhan tersebut?
5 Bulan 4 16
6-12 Bulan 14 56
24 Bulan 7 28
Kalau anda sudah pernah berobat, apakah gejala penyakit tersebut masih anda rasakan selama menggunakan Air Sungai tersebut?
Ya 9 36
Berdasarkan hasil data penelitian keluhan kesehatan sebanyak 25 responden (100%) mengalami keluhan kesehatan, yaitu sebanyak 2 responden (8%) mengatakan kulit menjadi merah dalam waktu 1 – 3 kali dalam seminggu.
Sebanyak 8 responden (32%) mengatakan gatal – gatal dalam waktu 1 – 3 kali dalam seminggu. Sebanyak 11 responden (44%) mengalami kesemutan dalam waktu 1 – 3 kali dalam seminggu. Sebanyak 2 responden (8%) mengatakan gemetaran pada tangan dan kaki dalam waktu 1 – 3 kali dalam seminggu.
Sebanyak 2 responden (8%) mengatakan sulit konsentrasi dalam waktu 1 – 3 kali dalam seminggu. Sebanyak 3 responden (12%) mengatakan sering gugup dalam waktu 1 – 3 kali dalam seminggu. Sebanyak 6 responden (24%) mengatakan sering mudah lelah. Sebanyak 13 responden (52%) mengatakan mudah lelah dalam waktu 1 – 3 kali dalam seminggu. Sebanyak 3 responden (12%) mengatakan sering buang air kecil. Sebanyak 6 responden (24%) mengatakan sering buang air kecil dalam waktu 1 – 3 kali dalam seminggu. Sebanyak 4 responden (16%) mengatakan susah buang air besar dalam waktu 1 – 3 kali dalam seminggu. Sebanyak 1 responden (4%) mengatakan gusi bengkak dalam waktu 1-3 kali dalam seminggu. Tidak ditemukan responden yang mengalami mual dan muntah. Sebanyak 4 responden (16%) mengatakan mengalami keluhan tersebut selama 5 bulan. Sebanyak 14 responden (56%) mengatakan mengalami keluhan tersebut selama 6 – 12 bulan. Sebanyak 7 responden (28%) mengatakan mengalami keluhan tersebut selama 24 bulan. Sebanyak 9 responden (36%) mengatakan masih merasakan gejala penyakit selama menggunakan air sungai setelah berobat. Sebanyak 16 responden (64%) mengatakan tidak merasakan
Universitas Sumatera Utara
gejala penyakit selama menggunakan air sungai setelah berobat. Sebanyak 25 responden (100%) mengatakan setelah sembuh masih menggunakan air sungai untuk keperluan sehari – hari.
Kandungan Merkuri pada Air Sungai di Sekitar Pengolahan Tambang Emas Tabel 9
Hasil Pemeriksaan Laboratorium Kadar Merkuri pada Air Sungai di Sekitar Pengolahan Tambang Emas Tahun 2017
Titik Pengambilan Sampel Kadar Merkuri (mg/L)
Outlet WPP 0,00005
Berdasarkan tabel 9 yang diperoleh dari data sekunder dapat dilihat bahwa pemeriksaan laboratorium kadar merkuri pada air sungai diperoleh 0,00005 mg/L atau jumlahnya belum melampaui batas maksimum cemaran logam pada air sungai menurut Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 dengan standar kandungan merkuri di dalam air yang aman adalah 0,001 mg/L untuk air golongan I.
Universitas Sumatera Utara
Tabel 10
Hasil Pemeriksaan Laboratorium Kadar Merkuri pada Air Sungai di Sekitar Pengolahan Tambang Emas Tahun 2018
Titik Pengambilan Sampel Kadar Merkuri (mg/L)
Outlet WPP 0,00005 bahwa pemeriksaan laboratorium kadar merkuri pada air sungai diperoleh 0,00005 mg/L atau jumlahnya belum melampaui batas maksimum cemaran logam pada air sungai menurut Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 dengan standar kandungan merkuri di dalam air yang aman adalah 0,001 mg/L untuk air golongan I.
Tabel 11
Hasil Pemeriksaan Laboratorium Kadar Merkuri pada Air Sungai di Sekitar Pengolahan Tambang Emas Tahun 2019
Titik Pengambilan Sampel Kadar Merkuri (mg/L)
Outlet WPP 0,00005
Sumber : Tim Terpadu Air Sisa Proses PT. Agincourt Resources pada pemeriksaan tahun 2019
Berdasarkan tabel 11 yang diperoleh dari data sekunder dapat dilihat bahwa pemeriksaan laboratorium kadar merkuri pada air sungai diperoleh 0,00005 mg/L atau jumlahnya belum melampaui batas maksimum cemaran logam pada air sungai menurut Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 dengan standar
Universitas Sumatera Utara
kandungan merkuri di dalam air yang aman adalah 0,001 mg/L untuk air golongan I.
Universitas Sumatera Utara
62 Pembahasan
Karakteristik Penduduk
Berdasarkan hasil wawancara kuesioner distribusi karakteristik responden berdasarkan variabel umur menunjukkan bahwa dari 25 jumlah responden yang dilihat dari umur, maka responden dengan umur 51-60 tahun sebanyak 8 responden (32%), berdasarkan variabel jenis kelamin menunjukkan bahwa responden yang berjenis kelamin laki – laki sebanyak 14 responden (56%), berdasarkan variabel pendapatan menunjukkan bahwa responden dengan pendapatan 0 – 500.000 sebanyak 16 responden (64%), berdasarkan variabel pendidikan terakhir dilihat bahwa responden dengan pendidikan terakhir pendidikan menengah (SLTA) sebanyak 13 responden (52%). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dosen IKP Padang, T. Zahra DJ menunjukkan bahwa kekuatan pendidikan memberikan kontribusi sebesar 59% terhadap pengetahuan seseorang dalam memahami pentingnya kesehatan. Pendidikan adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang dan berfungsi dalam perilaku yang akan mempengaruhi adanya pengetahuan yang dapat meningkatkan seseorang dalam hal kesehatan atau lainnya (Retno Putri,2017).
Pola Penggunaan Air Sungai
Dari hasil wawancara sebanyak 25 responden (100%) mengatakan menggunakan air sungai sebagai air bersih. Sebanyak 7 responden (28%) mengatakan menggunakan air sungai hanya untuk mencuci. Sebanyak 18 responden (72%) mengatakan menggunakan air sungai untuk lebih dari 1 pilihan
Universitas Sumatera Utara
(mencuci, mandi, memasak dan air minum). Sebanyak 25 responden (100%) mengatakan sudah menggunakan air sungai lebih dari 1 tahun. Sebanyak 25 responden (100%) mengatakan ada ciri – ciri perubahan fisik seperti bau, perubahan warna, rasa dan kekeruhan air sungai yang dipergunakan. Sebanyak 25 responden (100%) mengatakan ada perubahan fisik setelah adanya pertambangan..
PT. AR adalah satu – satu nya tambang emas di Indonesia yang memiliki Tim Terpadu yang fungsinya adalah ikut memeriksa dan memantau pemeriksaan kadar logam berat pada air sungai. Tim Terpadu Air Sisa Proses PT. Agincourt Resources rutin melakukan pembacaan hasil uji laboratorium kepada masyarakat setempat dan hasilnya menunjukan berada di bawah angka baku mutu yang telah ditetapkan menurut Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 yang artinya tidak ditemukan merkuri (Hg) di dalam sampel air sungai atau jumlahnya belum melampaui batas maksimum standar kandungan merkuri di dalam air yang aman adalah 0,001 mg/L untuk air golongan I. Hal ini sesuai dengan beberapa penelitian sebelumnya diantaranya (Harahap, 1991) logam berat merkuri mudah larut dan mengubah kestabilan dari bentuk karbonat menjadi hidroksida yang membentuk ikatan partikel pada perairan, kemudian mengendap menjadi lumpur. Penyebab merkuri tidak mudah terdeteksi di permukaan perairan karena merkuri memiliki sifat yang mudah mengikat bahan organik dan mengendap di dasar perairan sehingga memungkinkan akan lebih besar kandungan yang berada di dalam sedimen (Putri, 2018). Hal ini juga sejalan dengan penelitian (Rochyatun, 2006) kadar logam berat dalam sedimen lebih tinggi dibandingkan dalam air karena
Universitas Sumatera Utara
terakumulasi dari pengendapan dan logam berat di dalam air lebih kecil karena proses pengenceran dan pengaruh pola arus.
Keluhan Kesehatan
Berdasarkan hasil data penelitian keluhan kesehatan, sebanyak 25 responden (100%) mengalami keluhan kesehatan, yang paling banyak adalah kesemutan sebanyak 11 responden (44%) dan yang paling sedikit adalah mual dan muntah. Sebanyak 25 responden (100%) mengatakan setelah sembuh masih menggunakan air sungai untuk keperluan sehari – hari.
Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan pada 25 responden di Batang Toru diperoleh bahwa 25 responden (100%) mengalami keluhan kesehatan. Hal ini disebabkan oleh karena penduduk sudah menggunakan air sungai lebih dari 12 tahun, walaupun kadar merkuri tidak melebihi nilai baku mutu, namun merkuri dapat bersifat akumulatif pada tubuh manusia sehingga dapat menyebabkan keluhan kesehatan. Pada peristiwa keracunan kronis oleh merkuri, organ tubuh yang paling sering mengalami gangguan akibat keracunan adalah pencernaan dan sistem saraf (Nur, 2018). Jumlah merkuri yang masuk ke dalam tubuh akibat keracunan sangat sedikit sehingga tidak memperlihatkan pengaruh pada tubuh, namun jika merkuri masuk terus – menerus ke dalam tubuh dalam waktu lama maka kadar merkuri yang mengendap dalam tubuh menjadi sangat banyak dan melebihi batas tolerasi yang dimiliki tubuh sehingga gejala keracunan mulai timbul (Palar, 2008). Menurut penelitian (A Tri, 1997) salah satu gejala awal keracunan kronis merkuri adalah seringnya mengalami kesemutan.
Pada umumnya kesemutan yang diakibatkan oleh keracunan merkuri mulai dari
Universitas Sumatera Utara
daerah sekitar mulut hingga jari dan tangan (Trilianty, 2010). Kesemutan bersifat sementara dan berkepanjangan, kesemutan pada umumnya terjadi ketika saraf secara tidak sengaja mendapatkan tekanan sehingga aliran darah pada saraf tidak lancar.
Kandungan Merkuri pada Air Sungai di Sekitar Pengolahan Tambang Emas Data sekunder yang diperoleh dari Tim Terpadu Air Sisa Proses PT.
Agincourt Resources tahun 2017 dan 2018 menunjukkan bahwa kandungan merkuri pada air sungai berada di bawah angka baku mutu yaitu 0,00005 mg/L, dan tahun 2019 pengambilan sampel hanya dilakukan pada titik outlet WPP dikarenakan ketika berlangsungnya pengambilan sampel sungai dalam keadaan banjir, sehingga tidak memungkinkan untuk mengambil sampel di sungai, hasil yang di uji pada outlet WPP berada di bawah angka baku mutu yaitu 0,00005 mg/L. Dari data 3 tahun terakhir yang telah diperoleh menunjukkan bahwa pengambilan sampel yang di uji berada di bawah angka baku mutu yang telah ditetapkan menurut Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 dengan standar kandungan merkuri di dalam air yang aman adalah 0,001 mg/l (air golongan I).
Hal ini menunjukkan bahwa kadar Merkuri pada Air Sungai di Sekitar Pengolahan Tambang Emas Kecamatan Batang Toru masih aman dan memenuhi syarat yang artinya tidak ditemukan merkuri (Hg) di dalam sampel air sungai atau jumlahnya belum melampaui batas maksimum cemaran logam pada air sungai.
Penelitian kadar merkuri pada sedimen sungai dilakukan di Sungai Ranoyapo, Sulawesi Utara yang berada disekitar lokasi penambangan emas dengan teknik amalgamasi, dari lima tempat pengambilan sampel diperoleh hasil
Universitas Sumatera Utara
kandungan merkuri tertinggi adalah sebesar 1,3 ppm berat kering dan yang terendah adalah sebesar 0,05 ppm berat kering. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa jarak dari lokasi pertambangan menentukan tingkat konsentrasi merkuri yang terakumulasi dalam sedimen, semakin dekat jarak dari lokasi penambangan maka semakin tinggi pula konsentrasi merkuri (Rahmala, 2018).
Menurut (Putri, 2018) maraknya aktivitas penambangan emas di Kabupaten Kuantan, Riau mengakibatkan munculnya berbagai masalah terutama pencemaran air Sungai Kuantan yang menjadi lokasi aktivitas penambangan. Dari hasil penelitian didapatkan kadar logam berat merkuri 12,67 ppb – 13,60 ppb dan kadar merkuri ini sudah melampaui angka baku mutu yang diizinkan.
Badan Pengelolaan dan Pelestarian Lingkungan Hidup Daerah (BPPLHD) Kalimantan Tengah pada tahun 2002 melaporkan bahwa setiap tahun diperkirakan 10 ton merkuri (Hg) sisa penambangan emas tradisional di buang ke sungai. Di Kalimantan Tengah terdapat 65.000 penambang emas tradisional yang menggunakan merkuri (Hg) sebagai pelebur butir emas (Nurul dkk, 2016).
Berdasarkan penelitian tahun 2000 oleh Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, kadar merkuri di permukaan sungai atau Daerah Aliran Sungai (DAS) Tumbang Titi sebesar 0,63 μ g/l yang berarti melebihi ambang batas yaitu sebesar 0,001 menurut Peraturan Pemerintah No 20 Tahun 1990, dan kadar merkuri di tubuh ikan lokal juga melebihi ambang batas yaitu 0,4g/kg seperti ikan Belidak 1,08g/kg, ikan Toman 2g/kg, ikan Gabus 3,4 g/kg dan ikan Lais 0,67 g/kg. Pertambangan emas di desa Rengas Tujuh Kecamatan Tumbang Kabupaten
Universitas Sumatera Utara
Ketapang Kalimantan Barat ini adalah Pertambangan Emas Tanpa Izin (Siti, 2009).
Hasil penelitian kadar merkuri pada air sungai di Desa Hulawa Kecamatan Sumalata Timur Kabupaten Gorontalo Utara yang berada di sekitar tambang emas, dari 5 sampel air 2 sampel tidak memenuhi syarat nilai ambang batas yaitu 0,0213 ppm dan 0,0183 ppm (Pebriyanto, 2018).
Kadar merkuri akibat penambangan emas di sekitar sungai Tebaung Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat yang telah berlangsung sejak tahun 1999 di bagian hulu sungai sebesar 0,004 mg/l , di tengah sungai dan sebesar 0,0049 mg/l dan hilir Sungai 0,0063 mg/l telah melebihi baku mutu PP 82 Tahun 2001 untuk kelas 2 yaitu 0,002 mg/l. Sedangkan konsentrasi merkuri pada sedimen di bagian hulu sungai sebesar 0,1815 mg/l , tengah sungai sebesar 0,0585 mg/l dan hilir sungai sebesar 0,124 mg/l telah melebihi baku mutu PP 18 tahun 1999 yaitu 0,01 mg/l. Konsentrasi merkuri pada paku sayur yang tumbuh di sekitar hulu sebesar 0,0096 mg//kg, di bagian tengah sungai sebesar 0,0124 mg/kg dan hilir sungai sebesar 0,0193 mg/kg juga telah melebihi baku mutu SNI 7383-2009 yaitu 0,003 mg/kg (Ponti, 2017).
Penelitian Ponti (2017), Pebriyanto (2018), Siti (2009), Nurul dkk (2016), Putri (2018) dan Rahmala (2018) membuktikan bahwa kadar merkuri pada air sungai yang telah diteliti telah melebihi nilai baku mutu. Hal ini tidak sejalan dengan pemeriksaan kadar merkuri pada air Sungai Batang Toru yang tidak melebihi nilai baku mutu, namun hal ini bisa disebabkan karena proses pengolahan limbah tambang emas yang cukup baik. Adapun proses pengolahan
Universitas Sumatera Utara
limbah tambang emas ini adalah seluruh tailing/limbah tambang dibuang ke IPAL (Intsalasi Pengolahan Air Limbah). Kemudian seluruh tailing/limbah dari proses Tambang Emas Martabe dikumpulkan ke fasilitas penampungan tersendiri atau Tailing Storage Facility (TSF). Keamanan TSF merupakan prioritas utama Tambang Emas Martabe sebagai bagian dari penerapan komprehensif pertambangan berkelas dunia. TSF telah dirancang oleh konsultan teknik yang diakui secara internasional dan berpengalaman luas dalam perancangan dan pembangunan TSF. Desain yang digunakan telah disesuaikan dengan Panduan Keselamatan dan Keamanan untuk Bendungan Besar (International Committee on Large Dams/ICOLD) dan telah disetujui oleh Komisi Keamanan Bendungan.
Pembangunan tanggul TSF juga dilakukan dengan pengawasan ketat dan jaminan kualitas yang dilakukan secaran rutin. Sebagai tindak lanjut, perusahaan telah mengimplementasikan tinjauan keamanan dan keselamatan lanjutan tahunan TSF.
Jika curah hujan tinggi maka kolam tersebut akan penuh dan mengalirkan air sisa proses ke WPP (Water Processing Purification) yang kemudian akan dialirkan ke sungai, sehingga air sisa proses yang di alirkan ke sungai sudah melewati proses pemurnian pengolahan air dan kadar merkuri pada air masih aman dan memenuhi syarat sesuai nilai baku mutu yang telah ditetapkan.
Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan dalam penelitian ini adalah sulitnya menjalankan penelitian secara langsung di lapangan. Penulis tidak dapat mengambil sampel secara langsung. Penulis hanya menerima data sekunder dari pihak ketiga. Responden
Universitas Sumatera Utara
yang didapat hanya 25 orang yang menggunakan air sungai dan 8% diantaranya adalah anak – anak yang berusia dibawah 10 tahun.
Universitas Sumatera Utara
70
Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian mengenai analisis kadar merkuri pada air sungai Batang Toru di sekitar pengolahan tambang emas PT. AR diperoleh kesimpulan:
1. Karakteristik penduduk dilihat dari variabel umur, responden dengan umur 51-60 tahun sebanyak 8 responden (32%), dilihat dari variabel jenis kelamin, responden yang berjenis kelamin laki – laki sebanyak 14 responden (56%), dilihat dari variabel pendapatan, responden dengan pendapatan 0 – 500.000 sebanyak 16 responden (64%), dilihat dari variabel pendidikan terakhir, responden dengan pendidikan terakhir pendidikan menengah (SLTA) sebanyak 13 responden (52%).
2. Pola penggunaan air sungai oleh penduduk dengan menggunakan air sungai sebagai air bersih, menggunakan air sungai lebih dari 1 tahun, mengatakan ada ciri – ciri perubahan fisik seperti bau, perubahan warna, rasa dan kekeruhan air sungai yang dipergunakan dan mengatakan ada perubahan fisik setelah adanya pertambangan adalah 25 responden (100%).
3. Keluhan Kesehatan penduduk di sekitar aliran sungai Batang Toru yang adalah mengalami kesemutan 11 responden (44%), tidak pernah mual dan muntah, mengatakan mengalami keluhan tersebut selama 6 – 12 bulan yang paling dominan adalah 14 responden (56%), mengatakan tidak merasakan gejala penyakit selama menggunakan air sungai setelah berobat yang paling dominan adalah 16 responden (64%), mengatakan setelah sembuh masih
Universitas Sumatera Utara
menggunakan air sungai untuk keperluan sehari – hari yang paling dominan adalah yang paling dominan adalah 25 responden (100%).
4. Hasil pengukuran kadar merkuri tahun 2017 dan 2018 pada air sungai Batang Toru di sekitar pengolahan tambang emas PT. AR dengan titik pengambilan sampel pada outlet WPP 0,00005 mg/L, pada outlet pipa dissipater 0,00005 mg/L, pada 500m hulu pipa 0,00005 mg/L, pada 3m hilir pipa 0,00005 mg/L, pada 500m hilir pipa 0,00005 mg/L, pada 1000m hilir pipa 0,00005 mg/L, pada 2000m hilir pipa 0,00005 mg/L, pada 3000m hilir pipa 0,00005 mg/L.
Hasil pengukuran kadar merkuri tahun 2019 pada air sungai Batang Toru di sekitar pengolahan tambang emas PT. AR dengan titik pengambilan sampel pada outlet WPP 0,00005 mg/L. Hal ini menunjukkan bahwa dari data sekunder yang diperoleh titik yang di uji berada di bawah angka baku mutu yang telah ditetapkan menurut Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 dengan standar kandungan merkuri di dalam air yang aman adalah 0,001 mg/l (air golongan I).
Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka saran yang dapat diberikan oleh peneliti adalah :
1. Kepada peneliti selanjutnya untuk melakukan pemeriksaan mandiri kadar merkuri langsung pada air sungai dan tidak mengambil dari data sekunder.
Setelah melakukan pemeriksaan mandiri kadar merkuri maka kepada peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang kandungan merkuri pada tubuh penduduk seperti pada rambut atau urine.
Universitas Sumatera Utara
72 Daftar Pustaka
Achmadi. (2008). Horison baru kesehatan masyarakat di Indonesia. Jakarta:
Bumi Aksara.
Erlina. (2011). Metodologi penelitian. Medan: USU Press.
Gani, P. R., Jemmy, A., & Audy, D., & Wuntu. (2017). analisis air limbah pertambangan emas tanpa izin Desa Bakan Kecamatan Lolayan Kabupaten Bolaang Mongondow. Jurnal MIPA Unsrat, 6(2), 6-11.
Hakim, K. (2018). Analisis kandungan merkuri (Hg) pada air sumur gali masyarakat di sekitar pengolahan limbah tambang emas tradisional Desa Banua Rakyat Kecamatan Naga Juang Kabupaten Mandailing Natal (Skripsi, Universitas Sumatera Utara). Diakses dari http://repositori.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/11127/131000168.p df?sequence=1&isAllowed=y
Junita, N. R. (2013). Resiko keracunan merkuri (Hg) pada pekerja penambang emas tanpa izin (PETI) di Desa Cisarua Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor tahun 2013 (Skripsi, Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah).
Kalimantoro, T. T. (2016). Stabilisasi/solidifikasi tailing tambang emas rakyat Kulon Progo menggunakan semen portland dan tanah tras (Skirpsi, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh November).
Kristanto, P. (2002). Ekologi industri. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Lestarisa, T. (2010). Faktor – faktor yang berhubungan dengan keracunan merkuri (Hg) pada penambang emas tanpa izin di Kecamatan Kurun Kabupaten Gunung Mas Kalimantan Tengah (Tesis, Universitas Diponegoro). Diakses dari https://core.ac.uk/download/pdf/11722817.pdf Mustofa, S. (2013). Analisis kandungan merkuri air sumur gali masyarakat pada
penambangan emas tradisional Desa Saba Padang Kecamatan Hutaborgot Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2013 (Skripsi, Fakultas Kesehatan Masyarakat USU).
Notoatmodjo, S. (2014). Metodologi penelitian kesehatan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Palar, H. (2008). Pencemaran dan toksikologi logam berat. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Universitas Sumatera Utara
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 5 Tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah berdasarkan Jenis Industrinya.
Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 416 Tahun 1990 tentang Syarat – Syarat dan Pengawasan Kualitas Air.
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengolahan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran.
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 32 Tahun 2017 tentang Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan dan Persyaratan Kesehatan Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi, Kolam Renang, Solus Per Aqua, dan Pemandian Umum.
Prihantini, N. N. & Hutagalung, P. (2018). Paparan merkuri pada pekerja di industri kosmetik dalam kaitan dengan gangguan kesehatan. Jurnal Ilmiah WIDYA, 4(3), 331 – 336.
PT. Agincourt Resources. (2019). Profil PT. Agincourt Resources 2019.
Kabupaten Tapanuli Selatan.
Puskesmas Batang Toru. (2019). Profil Puskesmas Terjun Tahun 2019.
Kabupaten Tapanuli Selatan.
Putri, R. (2017). Hubungan antara tingkat pendidikan dan tingkat pengetahuan dengan perilaku hidup sehat kualitas lingkungan rumah (Skripsi, Universitas Lampung). Diakses dari http://digilib.unila.ac.id/26165/3/
SKRIPSI%20TANPA%20BAB%20PEMBAHASAN.pdf
Rianto, S., Setiani, O,. & Budiono. (2012). Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia, 11(2), 887–4141.
Robert J. & Kodoatie. (2008). Pengelolaan sumber daya air. Yogyakarta: Andi.
Rochyatun, E., Kaisupy, M., Taufik & Rozak, A. (2006). Distribusi logam berat dalam air dan sedimen di perairan muara sungai cisadane. MAKARA Sains, 10(1), 35–40.
Sembel, D. T. (2015). Toksikologi lingkungan. Yogyakarta: Andi.
Setiabudi, B. T. (2005). Penyebaran merkuri akibat usaha pertambangan emas di
Setiabudi, B. T. (2005). Penyebaran merkuri akibat usaha pertambangan emas di