• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyakit yang Penyembuhannya Harus ke Pengobatan Trradisional

BAB V PEMBAHASAN

Matriks 4.12 Penyakit yang Penyembuhannya Harus ke Pengobatan Trradisional

memberikan jawaban sebagaimana dituliskan pada Matriks4.12berikut :

Matriks 4.12 Penyakit yang Penyembuhannya Harus ke Pengobatan Tradisional Sekaligus ke Pengobatan Medis (Fragmentation)

Informan 1

Ooo.. ada juga. Misal seperti penyakit paru-paru yang“Bibitnya” (bibit penyakit.) ada, karena mungkin berbuat salah keorang lain. Jadi “bibitnya” dikeluarkan dulu, baru kemudian bisa diobati oleh medis. Karena kalau hanya dengan pengobatan medis, “bibitnya” gak bisa keluar, jadi perlu pengobatan tradisional. Pengobatan tradisional, gak bisa menyembuhkan bekas luka karena penyakit tersebut, jadi butuh pengobatan medis untuk menyembuhkan lukanya, jadi wajib di kombinasikan pengobatannya. Tandanya, kalau kita sudah obatkan ke tradisional. Misalnya, hasilnya gak sembuh total.

Informan 2

Ada juga. Misal terkilir atau patah tulang karena kecelakaan. Kita bawa ke pengobatan tradisional, tukang kusuk untuk menyambungnya karena tukang kusuk yang ahlinya, tapi untuk bekas lukanya itu harus ke medis biar gak infeksi. Sekalian dia, kalau gak ya... lamalah sembuhnya, atau mungkin gak sembuh-sembuh, kalau ke medis doang.

Informan 3

Mmm. Ada juga. Istilahnya seperti penyakit yang tadi. Yang kena sakit guna-guna itu, bisa juga kita bawa ke medis dan tradisional. Namun tradisionalnya yang dominan. Ke medis dibawa untuk mengurangi rasa sakit dan gatalnya saja. Kita mungkin perlu bius dan tablet untuk menghilangkan gatalnya. Trus penyakit maag tadi juga bisa kita bawa ke tradisionalsekaligus ke medis. Tapi sebatas hanya menjaga makanan lah..misalminum air daun jambu biji. Hanya lebih dominanpengobatannya ke medis. Pengobatan itu kan

sejalan, kombinasi dia.

Informan 4

Kalau yang seperti itu gimana ya... kurang tau pasti aku. Tapi memangada juga yang seperti itu. Macam tetangga sebelah inilah. Sakit anaknya itu diobatinya ke medis, diobatinya juga ke tradisional. Sakitnya itu mukanya pucat, badannya kuning. Diobatinya ke medis, juga ke tradisional. Tapi memang belum sembuh. Kadang penyakit sekarang aneh-aneh, jadi ke dokter sama ke dukun jugalah sekalian biar makin cepat sembuh sakitnya itu.

Informan 5

Akulah itu... Dua-duanyanya kupakai bersamaan. Itu untuk penyakit-penyakit yang komplikasilah. Misalnya terlalu lama seseorang menderita penyakit karena dibuat (diguna-gunai) orang lain, sehingga bekas-bekasnya harus diobati dengan pengobatan medis. Anggota badan yang digerogoti oleh ulat-ulat yang dikirimkan, akhirnya membuat anggota badan luka. Jadi pengobatannya harus digabung. Untuk mengeluarkan bibitnya atau ulatnya dengan menggunakan pengobatan tradisional dan untuk bekasnya dengan menggunakan pengobatan medis. Tanda-tandanya, kadang-kadang penyakitnya, penyakit yang biasa menurut medis, tapi tidak sembuh-sembuh juga. Jadi yang pertama itu kita harus ke dukun untuk mengeluarkan ulatnya dan bibit penyakitnya baru kemudian kemedis. Hal-hal seperti itu diarahkan oleh orang tua, orang-orang pintar zaman dulu.

Informan 6

Ada. Contohnya penyakit terkilir pada anak-anak. Kita datang ke medis, setelah dikasih obat penurun panas baru kita bawa ke tukang kusuk, karena meluruskan urat lebih jago tukang kusuk. Hal seperti ini ditandai dengan

kondisi panas badan anak yang tidak merata. Misal, badan anak panas tetapi telapak tangan dan kakinyadingin. Berarti ada yang salah di badannya. PemahamanPemahaman seperti ini muncul karena pengalaman, apalagi anakku kan gak Cuma satu, jadi harus tahu kan tiap anak ada beda-bedanya kadang kalau sakit kan.

Informan 7

Mm...ada juga. Misal penyakit karena kena guna-guna Kita obati kedukun kampung, kita obati juga ke medis. Gitu kata kawan, kita ikuti saran mereka. Soalnya sudah diobati ke tradisional gak sembuh, ke medis juga gak sembuh, ya... mungkin aja harus dua-duanya. Gak tahu pasti kita kan apa sebab sakitnya, kadang kata dukun beda, kata dokter juga beda, jadi harus dua-duanya kan.

Informan 8

Itu sih alasan besarnya supaya cepet sembuh, yaa ke medis juga berobat dan ke alternatif juga berobat. Yaa.. kalau dari ceroita-cerita orang kan kek gitu, ada katanya orang pintar yang bisa nyembuhin penyakit, yaa kesanalah kita berobat, ada katanya dokter yang paten yaa kesana jugalah kita berobat, intinya kalau sakit ini kita cuma pengen sehat ajanya kan, itu ajalah paling yang penting kan kalau sakit harus berobat biar sakitnya hilang.

Informan 9

Hmmm... kalau seperti itu kurang tahu juga, kalau pendapat saya sih bisa juga sih pake keduanya, mau pake yang alternatif maupun pake yang tradisonal, dua- duanya sah-sah saja, namanya juga ikhtiar cari obat biar sembuh kalau sakit, kadang kalau cuma berobat ke dokter kan belum pasti sembuh dia sakitnya kan, entah baru ketemu obatnya kalau udah berobat ke alternatif

atau ke tabib gitulah.

Berdasarkan Matriks 4.12diatas, menggambarkan tentang penyakit yang pengobatannya harus ke pengobatan tradisional sekaligus ke pengobatan medis modern. Semua informan mengatakan bahwa ada penyakit yang memang pengobatannya harus demikian. Hal ini dilakukan agar prosesnya cepat sembuh dan hasilnya maksimal, karena kalau hanya menggunakan salah satu jenis pengobatan saja, sembuhnya mungkin sulit atau bahkan mungkin tidak sembuh- sembuh. Misal penyakit paru-paru yang disebabkan karena di guna-guna orang lain, “bibit” (racun yang dikirimkan oleh orang lain, baik melalui makanan maupun melalui doa-doa) penyakitnya harus dikeluarkan dengan cara pengobatan tradisional, namun bekas lukanya harus disembuhkan dengan pengobatan medis, ataupun kasus sakit seperti patah tulang, membutuhkan pengobatan ke dukun patah untuk menyembuhkan patah tulangnya, namun juga harus ke pengobatan media atau ke dokter untuk mengobati rasa sakit atau mendapatkan obat penghilang rasa sakitnya.

4.3.7 Proses Membatalkan atau Penghentian Proses Pengobatan (Discontinuity)

Ketika informan ditanya akan pandangan dan pendapat mereka tentang penyakit yang tidak dapat disembuhkan, sehingga melakukan proses membatalkan atau penghentian proses pengobatan (discontinuity), maka informan memberikan jawaban sebagaimana dituliskan pada Matriks 4.13 berikut :

Matriks 4.13 Proses Membatalkan atau Penghentian Proses Pengobatan (Discontinuity)

Informan Pernyataan

Informan 1

Kalau yang seperti itu, ya... tidak ada. Semua penyakit pasti ada obatnya. Hanya saja karena benturan ekonomi, ini sering terjadi. Jadi pasrah saja, ataupun karena penyakitnya parah ali, dan udah capek berobat kemana- mana.

Informan 2

Tidak ada itu. Tidak ada penyakit yang tidak ada obatnya. Tapikadang-kadang tidak ketemu. Jadinya pasrah...

Informan 3

Kalau aku mengatakannya tidak ada. Yang paling penting pengobatan dan kita berusaha. Selagi mampu harus terus diobatkan. Tuhan pun kan bilang “berusahalah kamu”. Jadi nggak ada kata berhenti, kalau sudah berobat harus sampai tuntas. Biar sembuhnya gak setengah-setengah dan penyakitnya gak kambuh- kambuh lagi.

Informan 4

Kalau yang seperti itu mungkin tidak ada. Cuma, hanya saja keputusasaan seseorang itu, sehingga muncul bahasa “sudahlah tidak perludiobati lagi”. Namun yang namanya penyakit, tidak ada yang pengobatannya berhenti di tengah jalan. Yaa paling karena udah habis uang kan, terus udah gak ada yang bisa bantu. Tapi jaranglah kek gitu, kalau yang sakit orang kampung pasti warga kampungnya sama-sama bantu., dikampung kan masih bisa kita sama-sama bantu, yaa walaupun sedikit kalau rame-rame kita kan cukup juganya itu. Informan 5 Sebenarnya itu tidak ada. Hanya saja karena faktor

ekonomi dan penyakit yang diderita tidak kunjung sembuh, akhirnya pasrah dan memberhentikan proses pengobatan.

Informan 6

Tidak ada penyakit yang seperti itu. Namun karena persoalan dana, banyak juga yang seperti itu. Pasrah menerima, tapi kalau masih ada uang pastilah terus diobati.

Informan 7

Wah...kalau penyakit yang seperti itu tidak ada nak. Semua penyakit pasti ada obatnya, kecuali satu, ajal. He..he..he... Kalau emang udah gitu takdirnya dia meninggal kan, yaa itu udah takdir.

Informan 8

Kalau udah sembuh total barulah berhenti berobatnya, kalau masih sakit yaa ngapain berhenti berobat, kalau masih ada uang yaa lanjut berobah biar bisa sembiuh total, tapi kalau udah habis uang kita yaa kekmana mau dibuat, yaa pasrahlah, syukur-syukurkan ada yang bantu untuk biaya berobat kalau kita sakit kan

Informan 9

Kalau udah sehat, udah bisa kerja, barulah berhenti berobatnya. Tapi kalau masih sakit tapi harus berhenti berobat, yaa gimana mau dibilangkan, gak ngerti juga, namanya juga kondisi ekonomi orang kan beda-beda kalau udah gak sanggup lagi berobat yaa apa boleh buat. Yaa tapi kan seharusnya gak boleh kayak gitu namanya juga sakit yaa harusnya kan berobat sampe tuntas aja gitu, sampe bener-bener sembuh total.

Berdasarkan Matriks 4.13 diatas, menggambarkan tentang penyakit yang dalam masa pengobatannya, proses pengobatannya dicukupkan ataupun tidak dilanjutkan lagi. Semua informan menyatakan bahwa tidak ada penyakit yang demikian. Setiap penyakit pasti ada obatnya. Hanya saja karena permasalahan ekonomi dan juga sudah berusaha tapi tidak juga sembuh, akhirnya timbul rasa

pasrah sehingga proses pengobatannya tidak dilanjutkan lagi walaupun proses pengobatannya belum selesai dan masih dalam keadaan sakit.

BAB V PEMBAHASAN

Pandangan masyarakat tentang batasan sehat maupun batasan sakit tidak selalu sama di antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain. Pandangan ini menyebabkan masyarakat tidak selalu melakukan cara yang sama dalam hal menyembuhkan penyakit yang diderita. Artinya ketika mengalami sakit, sebagian besar orang-orang akan melakukan pengobatan dengan berbagai cara. Proses yang dilakukan anggota masyarakat dalam mencari pemecahan terhadap masalah kesehatan yang dialami, dilakukan dengan cara memanfaatkan pengobatan medis dan non medis sebagai pilihan dalam berobat, bahkan ada yang menggabungkannya dalam proses pengobatan. Pola pengobatan yang dilakukan didasarkan kuat oleh pola pencarian pengobatan yang dipahami.

5.1 Gambaran Karakteristik Informan tentang Pola Pencarian Pengobatan

5.1.1 Umur

Dari hasil penelitian umur informan bervariasi antara 26 – 64 tahun, dimana ditemukan golongan umur tersebut memilih pengobatan medis maupun non medis dalam mengobati penyakit yang dialaminya. Dalam memilih jenis pengobatan antara informan yang berumur dewasa muda (< 50 tahun) ataupun dewasa tua (> 50 tahun) tidak ada perbedaan yang mendasar terhadap kepercayaan dan keyakinan akan jenis pengobatan medis maupun non medis. Pemilihan jenis pengobatan di dasarkan pada jenis penyakit yang di derita.

muda (< 50 tahun) ataupun dewasa tua ( > 50 tahun), bahwa yang namanya sakit harus segera diobati, sebagai berikut :

Yang pasti berobatlah kalau sakitnya sudah nggak tertahan lagi. Apapun proses pengobatannya. Mau medis, mau tradisional, mau ke dokter atau ke tabib yang pasti berobat. ” (Matriks 4.7 informan 1; pernyataan untuk usia < 50 tahun ).

Kalau sakit yang pertama kali itu kepuskesmaslah, kemedis dulu. Kemudian kalau tidak sembuh baru kedukun” (Matriks 4.7 informan 7; pernyataan untuk usia > 50 tahun)

Demikian juga pandangan informan akan penyakit ringan yang tidak perlu di obati. Tidak ada perbedaan yang mendasar. Baik dewasa muda maupun dewasa tua memiliki pandangan yang hampir sama sebagaimana pernyataan informan berikut :

Ya.. ada juga lah. Seperti pilek atau demam-demam biasa. Penyakit- penyakit ringan seperti ini, menurut pengalaman saya biasanya sembuh sendiri. Kita banyak minum dan istirahat, biasanya nanti akan sembuh sendiri” (Matriks 4.8 informan 4, pernyataan untuk usia < 50 tahun). “Biasanya penyakit-penyakit ringan, pening, nggak enak badan, atau flu batuk lah palingan. Tapi kalau saya, tidak ada yang seperti itu. kalau sakit yaa ke dokter lah, gak mahal-mahal kalinya kalau sakitnya belum parah”.(Matriks 4.8 informan 7, pernyataan untuk usia > 50 tahun).

Pencarian pengobatan yang dilakukan informan ketika mereka sedang sakit adalah berdasarkan kepercayaan dan keyakinan masing-masing bukan karena tingkat umur seperti yang disebutkan Kalengi (1994), bahwa masyarakat yang memanfaatkan pengobatan tradisional sebagaian besar pada kelompok umur tua, karena pengobatan tradisional tersebut biasanya diperoleh secara turun- temurun atau berdasarkan pengalaman.

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilaksanakan oleh Tinendung (2011) yang menjelaskan bahwa masyarakat akan memilih alternatif pengobatan baik secara modern maupun tradisional untuk menyembuhkan penyakit yang diderita, tanpa adanya pertimbangan faktor umur. Hal ini didasari prinsip bahwa semua jenis umur memiliki hak yang sama untuk memperoleh pengobatan apabila sedang mengalami sakit.

Hasil penelitian ini juga sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Raflis (2013) yang menjelaskan bahwa umur tidak memengaruhi keputusan seseorang untuk mengambil langkah pengobatan apabila mengalami sakit. Sebagian besar jenis penyakit tidak spesifik menyerang kelompok umur tertentu dan relatif dapat tejadi pada semua kelompok umur, sehingga semua kelompok umur memiliki kesemapatan yang sama memperoleh kesembuhan apabila terkena sakit atau penyakit.

5.1.2 Jenis Kelamin

Dari sembilan orang informan, enam orang berjenis kelamin laki-laki dan tiga orang berjenis kelamin perempuan. Dalam hal pencarian pelayanan pengobatan, laki-laki lebih memilih memastikan terlebih dahulu penyakitnya, jika memang masih dapat tidak dilakukan proses pengobatan baik pengobatan tradisional maupun medis, karena menurut batas ukuran mereka masih merupakan penyakit yang ringan (misalnya, pilek atau demam biasa) maka tidak akan dilakukan pengobatan. Sedangkan bagi perempuan, yang namanya sakit harus segera dilakukan pengobatan baik secara medis maupun pengobatan tradisional. Kesimpulan ini didapat dari pernyataan berikut :

Tergantung penyakitnya apa dulu...kalau sakit ringan-ringan aja seperti panas, atau demam biasa, kita tunggu aja dulu atau tidur lah dulu. Kalau beberapa hari belum sembuh-sembuh baru dibawa berobat.” (Matriks 4.7 informan 2 : pernyataan dari informan laki-laki) .

Kalau sakit haruslah diobati. Gak ada penyakit yang sembuh sendiri. Nanti makin parah kalau dibiarin kan, nanti tiba-tiba udah parah aja, kan

dokternya yang tahu penyakit apa sama obatnya kalau kita sakit kan.”

(Matriks 4.7 informan 5 : pernyataan dari informan perempuan).

Dalam hal ini, terlihat bahwa laki-laki biasanya menganggap remeh terhadap suatu permasalahan kesehatan. Beda halnya dengan perempuan yang memang sudah sewajarnya harus segera melakukan pertolongan terhadap bahaya yang mengancam (sakit). Hal ini sejalan dengan pandangan Foster dan Anderson (2005) yang menyatakan bahwa perempuan (Ibu) umumnya lebih peduli terhadap kondisi kesehatan keluarga.

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukanoleh Tinendung (2011) yang menjelaskan bahwa dalam keluarga biasanya ibu memiliki peranan yang paling penting dalam proses penyembuhan anggota keluarga yang sakit, perasaan ibu akan sangat sensitif apabila ada keluarga yang sakit dan dengan segera akan melakukan upaya pencarian pengobatan baik secara modern maupun tradisional apabila ada anggota keluarga yang sakit agar segera mendapatkan penyembuhan.

Hal serupa dengan hasil penelitian ini juga dijelaskan oleh hasil penelitian Raflis (2013) yang menjelaskan bahwa perempuan memiliki tingkat emosional dan sensitivitas yang tinggi dalam merespon suatu keadaan atau kondisi sakit, sehingga seorang perempuan akan lebih cepat dalam mencari pola pengobatan

dalam penyembuhan suatu penyakit. Terdapat hubungan yang spesifik antara jenis kelamin dengan pola pencarian pengobatan untuk memperoleh kesembuhan. 5.1.3 Suku Bangsa

Dari sembilan informan, tiga orang informan bersuku jawa, tiga orang informan bersuku Karo, dua orang informan bersuku Batak, dan satu orang informan bersuku Minang. Dalam hal pencarian pelayanan pengobatan. Responden yang bersuku Batak lebih memilih memastikan terlebih dahulu penyakitnya, jika memang masih bisa tidak dilakukan proses pengobatan baik pengobatan tradisional maupun medis, karena menurut batas ukuran responden masih merupakan penyakit yang ringan (misalnya, pilek atau demam biasa) maka tidak akan dilakukan pengobatan. Sedangkan bagi responden yang bersuku Karo, Jawa dan Minang yang namanya sakit harus segera dilakukan pengobatan baik secara medis maupun pengobatan tradisional.

Tergantung penyakitnya apa dulu...kalau sakit ringan-ringan aja seperti panas, atau demam biasa, kita tunggu aja dulu atau tidur lah dulu. Kalau beberapa hari belum sembuh-sembuh baru dibawa berobat. Pengalaman ku, begitulah...biasanya sembuh sendiri. Yaa sakit itu paling seringnya karena kecapean aja kan”. (Matriks 4.7 informan 2; Pernyataan infroman bersuku Batak).

Kalau sakit haruslah diobati. Gak ada penyakit yang sembuh sendiri. Nanti makin parah kalau dibiarin kan, nanti tiba-tiba udah parah aja, kan dokternya yang tahu penyakit apa sama obatnya kalau kita sakit kan”. (Matriks 4.7 informan 5; Pernyataan infroman bersuku Karo).

Kalau sakit yang pertama kali itu kepuskesmaslah, kemedis dulu.

Kemudian kalau tidak sembuh baru kedukun”. (Matriks 4.7 informan 7; Pernyataan infroman bersuku Jawa).

Dalam hal ini, terlihat bahwa informan yang bersuku Karo, Jawa, dan Minang sangat cepat dalam merespon keluhan sakit dan langsung melakukan pencarian pengobatan, Beda halnya dengan orang Batak yang menunggu atau mengenalisis terlebih dahulu permasalahan kesehatan yang dihadapi, jika dianggap perlu barulah mencarai upaya pengobatan.

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Raflis (2013) yang menjelaskanbahwa suku bangsa tertentu memiliki sensitivitas yang berbeda untuk merespon suatu keadaan sakit. Hal ini bisa jadi dikarenakan karena faktor sosial budaya yang menjadi kebiasaan dalam masyarakat untuk memilih sejauh mana batasan sakit untuk dilakukan pola pengobatan tertentu. 5.1.4 Tingkat Pendidikan

Pendidikan informan bervariasi, mulai dari tamat SD sampai dengan Strata 1 (S-1). Tamat SD sebanyak tiga orang, tamat SMP sebanyak satu orang, tamat SMA sebanyak tiga orang dan tamat sarjana (S-1) sebanyak dua orang. Dalam hal ini informan yang berpendidikan rendah (SD dan SMP) maupun tinggi (SMA dan S1) umumnya menyegerakan melakukan proses pengobatan.Kesimpulan ini di dasarkan pada pernyataan informan, sebagaimana berikut :

Yang pertama itu adalah memberikan pertolongan sementara pada penyakitnya. Contohnya dibawa kerumah sakit ataupun puskesmas, biar tahu kita sakitnya apa ataupun minum jamu yang kita buat sendiri”. (Matriks 4.7 informan 3, pernyataan informan dengan tingkat pendidikan SD).

Yang pasti berobatlah kalau sakitnya sudah nggak tertahan lagi. Apapun proses pengobatannya. Mau medis, mau tradisional, yang pasti berobat. Itu lah yang diajarkan orang tua saya dulu”. (Matriks 4.7 informan, Pernyataan informan dengan tingkat pendidikan SMP).

Kalau sakit haruslah diobati. Gak ada penyakit yang sembuh sendiri. Nanti makin parah kalau dibiarin kan, nanti tiba-tiba udah parah aja, kan dokternya yang tahu penyakit apa sama obatnya kalau kita sakit kan”. (Matriks 4.7 informan 5, Pernyataan informan dengan tingkat pendidikan SMA).

Yang pasti berobatlah kalau sakitnya sudah nggak tertahan lagi. Apapun proses pengobatannya. Mau medis, mau tradisional, mau ke dokter atau ke tabib yang pasti berobat”. (Matriks 4.7 informan 1; Pernyataan informan dengan tingkat pendidikan S-1).

Menurut Agoes A. dan T. Jacob (2006), suatu fakta menunjukkan bahwa dimanapun atau dinegara manapun yang bertaraf pendidikan rendah mapun tinggi, termasuk Indonesia, pelayanan kesehatan biasanya diberikan untuk dua jenis pengobatan yakni medis dan non medis. Walaupun pengobatan medis telah membuktikan eksistensinya sebagai pengobatan yang berhasil, namun masih banyak pula orang sakit yang mencari pengobatan non medis.

Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat Notoatmodjo (2010) yang menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan pengenalan dan pemahaman terhadap kesehatan medis (modern) juga semakin meningkat, sehingga pemanfaatan ramuan obat tradisional hanya sebagai cadangan atau bila diperlukan mendadak. Dimana pendidikan memiliki peranan yang penting dalam mengadopsi pengetahuan secara baik. Namun pada masyarakat setempat, tidaklah demikian. Informan yang berpendidikan tinggi tidak mengutamakan jenis pengobatan medis dibanding dengan jenis pengobatan non medis. Pola pencarian pengobatan dipengaruhi oleh lingkungan (teman, orang tua, kerabat) dan unsur kepercayaan.

5.1.5 Jenis Pekerjaan

Empat orang responden memiliki pekerjaan atau mata pencaharian sebagai seorang petani, tiga orang sebagai pedangang, satu orang sebagai wiraswasta dan satu orang sebagai seorang pegawai. Responden yang bekerja sebagai seorang wiraswasta cenderung untuk menunggu terlebih dahulu pabila mengalami permasalhan atau penyakit, tidak langusng melakukan upaya pengobatan. Berbeda dengan responden yang bekerja sebagai pegawai, petani, dan pedagang yang langsung melakukan upaya pencarian pengobatan apabila terjadi permasalahan kesehatan atau penyakit. Kesimpulan ini dapat dilihat dari pernyataan informan sebagai berikut :

“Tergantung penyakitnya apa dulu...kalau sakit ringan-ringan aja seperti panas, atau demam biasa, kita tunggu aja dulu atau tidur lah dulu. Kalau beberapa hari belum sembuh-sembuh baru dibawa berobat. Pengalaman

ku, begitulah...biasanya sembuh sendiri.” (Matriks 4.7 informan 2; Pernyataan nforman yang bekerja sebagai wiraswasta).

Yang pasti berobatlah kalau sakitnya sudah nggak tertahan lagi. Apapun proses pengobatannya. Mau medis, mau tradisional, mau ke dokter atau ke tabib yang pasti berobat”. (Matriks 4.7 informan 1; Pernyataan Informan yang bekerja sebagai pegawai).

Yang pasti berobatlah kalau sakitnya sudah nggak tertahan lagi. Apapun proses pengobatannya. Mau medis, mau tradisional, yang pasti berobat”. (Matriks 4.7 informan 6; Pernyataan Informan yang bekerja sebagai petani).

Kalau sakit haruslah diobati. Gak ada penyakit yang sembuh sendiri. Nanti makin parah kalau dibiarin kan, nanti tiba-tiba udah parah aja, kan dokternya yang tahu penyakit apa sama obatnya kalau kita sakit kan”. (Matriks 4.7 informan 5; Pernyataan Informan yang bekerja sebagai petani).

Dalam hal ini, terlihat bahwa informan yang bekerja sebagai pegawai, petani, dan pedagang sangat cepat dalam merespon keluhan sakit dan langsung

melakukan pencarian pengobatan, beda halnya dengan informan yang bekerja sebagai seorang wiraswasta yang cenderung menunggu atau menganalisis terlebih

Dokumen terkait