TATA CARA PENGELUARAN BARANG DARI KAWASAN PABEAN UNTUK DIMASUKKAN KE KAWASAN BEBAS
B. Penyampaian Pemberitahuan Pabean dengan menggunakan media Penyimpan Data Elektronik dan Pemeriksaan Pabean
1. Pengusaha menyiapkan PPFTZ-01 dengan menggunakan aplikasi PPFTZ-01, berdasarkan dokumen pelengkap pabean.
2. Pengusaha menyampaikan ke Kantor Pabean hasil cetak PPFTZ-01 dalam rangkap 3 (tiga), media penyimpan data elektronik, dan dokumen pelengkap pabean.
3. Pejabat penerima dokumen menerima berkas PPFTZ-01, dan memeriksa kesesuaian hasil cetak PPFTZ-01 dengan data dalam media penyimpan data elektronik.
4. Pejabat penerima dokumen mengunggah (upload) data dari media penyimpan data elektronik ke SKP Kantor Pabean, kemudian · mengembalikan media penyimpan data elektronik kepada pengusaha.
5. SKP melakukan penelitian status pengusaha, dalam hal hasil penelitian menunjukkan: 5.1. pengusaha tidak memiliki izin sebagai pengusaha di Kawasan Bebas, selain yang
dikecualikan dari kewajiban sebagai pengusaha;
5.2. pengusaha tidak memiliki Nomor Identitas Kepabeanan (NIK), selain yang dikecualikan dari NIK; dan/atau
5.3. pengusaha atau PPJK diblokir, SKP menerbitkan respons penolakan.
6. Dalam hal SKP tidak menemukan data izin sebagai pengusaha atau data NIK, untuk keperluan pengecekan pengecualian sebagaimana dimaksud pada butir 5.1 dan 5.2, SKP meneruskan data PPFTZ-01 kepada Pejabat yang menangani penelitian status pengusaha untuk dilakukan penelitian apakah pemasukan barang ke Kawasan Bebas termasuk yang dikecualikan dari izin sebagai pengusaha dan/atau NIK, kemudian merekam hasil penelitiannya dalam SKP.
7. Dalam hal hasil penelitian tidak menunjukkan hal sebagaimana dimaksud pada butir 5:
7.1. SKP melakukan penelitian data PPFTZ-01 meliputi: 7.1.1. kelengkapan pengisian data PPFTZ-01;
7.1.2. nomor dan tanggal B/L, AWB atau nomor pengajuan tidak berulang; 7.1.3. kode dan nilai tukar valuta asing ada dalam data NDPBM;
7.1.4. pos tarif tercantum dalam BTKI;
7.1.5. PPJK memiliki Nomor Pokok PPJK (NP PPJK), dalam hal menggunakan PPJK;
7.1.6. jumlah jaminan yang dipertaruhkan oleh PPJK;
7.1.7. kesesuaian jenis izin usaha serta jumlah dan jenis barang yang dimasukkan dengan izin usaha serta jumlah dan jenis barang yang ditetapkan oleh Badan Pengusahaan Kawasan dalam hal barang yang dimasukkan adalah barang konsumsi; dan
7.1.8. kesesuaian data PPFTZ-01 dengan BC 1.1. meliputi:
7.1.8.1. nomor dokumen pengangkutan (B/L, AWB House B/L, House AWB, dll) yang tercantum dalam PPFTZ-01 dengan yang tercantum dalam pos atau sub pos BC 1.1;
7.1.8.2. jumlah container, nomor container, dan ukuran container dalam hal barang dikemas dalam container.
7.2. Dalam hal pengisian data PPFTZ-01 sebagaimana dimaksud pada butir 7.1.1 sampai dengan 7.1.8 tidak sesuai:
7.2.2. Pengusaha melakukan perbaikan data PPFTZ-01 sesuai respons penolakan dan mengirimkan kembali data PPFTZ-01 yang telah diperbaiki.
8. Dalam hal hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada butir 7.1.1 sampai dengan 7.1.8 telah sesuai:
8.1. SKP memberikan tanggal pengajuan dan melakukan penelitian pemenuhan ketentuan larangan/pembatasan; dan
8.2. menyampaikan permintaan data nomor dan tanggal BC 1.1 pos dan/atau sub pos BC 1.1, dalam hal hasil penelitian sebagaimana dimaksud butir 7.1.8 menunjukkan nomor dan tanggal BC 1.1, pos dan/atau sub pos BC 1.1 belum tercantum.
9. SKP melakukan penelitian pemenuhan ketentuan larangan/pembatasan berdasarkan pos tarif dan/atau uraian jumlah dan jenis barang yang diberitahukan dalam PPFTZ-01.
9.1. dalam hal berdasarkan pemberitahuan dari pengusaha dalam PPFTZ-01 menunjukkan · barang yang diberitahukan wajib memenuhi ketentuan larangan/pembatasan dan persyaratannya belum dipenuhi, SKP menerbitkan Nota Pemberitahuan Barang Larangan atau Pembatasan (NPBL) dengan tembusan kepada unit pengawasan.
9.2. apabila dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari setelah tanggal penerbitan NPBL pengusaha tidak menyerahkan dokumen yang dipersyaratkan maka SKP menerbitkan NPP.
9.3. dalam hal berdasarkan pemberitahuan dari pengusaha dalam PPFTZ-01 menunjukkan:
9.3.1. barang tidak wajib memenuhi ketentuan larangan/pembatasan atau ketentuan larangan /pembatasannya telah dipenuhi; dan
9.3.2. hasil penelitian data sebagaimana dimaksud pada butir 7.1 huruf h hasilnya sesuai,
SKP memberikan nomor dan tanggal pendaftaran PPFTZ-01 sebagai tanda bahwa PPFTZ-01 telah memenuhi syarat formal.
9.4. dalam hal penelitian pemenuhan ketentuan larangan/pembatasan tidak dapat dilakukan oleh SKP sehingga perlu penelitian lebih lanjut oleh Pejabat, SKP meneruskan data PPFTZ-01 kepada Pejabat yang menangani penelitian ketentuan larangan/pembatasan untuk dilakukan penelitian.
9.4.1. dalam hal berdasarkan pemberitahuan dari pengusaha dalam PPFTZ-01 menunjukkan barang wajib memenuhi ketentuan larangan/pembatasan dan ketentuan larangan/pembatasan belum dipenuhi, Pejabat yang menangani penelitian barang larangan/pembatasan merekam hasil penelitian untuk selanjutnya SKP menerbitkan Nota Pemberitahuan Barang Larangan atau Pembatasan (NPBL) dengan tembusan kepada unit pengawasan.
9.4.2. apabila dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari setelah tanggal penerbitan NPBL Pengusaha tidak menyerahkan dokumen yang dipersyaratkan, SKP menerbitkan NPP.
9.4.3. dalam hal berdasarkan pemberitahuan dari pengusaha dalam PPFTZ-01 menunjukkan barang tidak wajib memenuhi ketentuan larangan/pembatasan atau ketentuan larangan dan pembatasan telah dipenuhi, Pejabat yang menangani penelitian barang larangan dan pembatasan merekam hasil penelitian, untuk selanjutnya SKP:
9.4.3.1. memberikan nomor dan tanggal pendaftaran PPFTZ-01 sebagai tanda bahwa PPFTZ-01 telah memenuhi syarat formal, dalam hal pengisian data PPFTZ-01 sebagaimana dimaksud pada butir 7.1. huruf h telah sesuai; dan
9.4.3.2. meneruskan data PPFTZ-01 kepada Pejabat pemeriksa dokumen.
10. Dalam hal PPFTZ-01 telah mendapatkan nomor dan tanggal pendaftaran, SKP menetapkan perlu tidaknya dilakukan pemeriksaan fisik dengan metode acak atau berdasarkan Nota Hasil Intelijen (NHI).
11. Dalam hal terhadap barang ditetapkan tidak dilakukan Pemeriksaan Fisik, SKP menerbitkan SPPB.
12. Dalam hal terhadap barang ditetapkan dilakukan Pemeriksaan fisik:
12.1. SKP menerbitkan Sur at Pemeriksaan Fisik (SPF) dan disampaikan oleh Pejabat pemeriksa dokumen kepada pengusaha.
12.2. pengusaha menyampaikan pemberitahuan kesiapan pemeriksaan fisik kepada Pejabat pemeriksa dokumen dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) hari kerja setelah tanggal Sur at Pemeriksaan Fisik (SPF).
12.3. Pejabat pemeriksa barang menerima invoice/packing list dan instruksi pemeriksaan dari Pejabat pemeriksa dokumen.
12.4. Pejabat pemeriksa barang melakukan Pemeriksaan Fisik barang dan mengambil contoh barang jika diperlukan, membuat LHP dan membuat BAP Fisik.
12.5. Pejabat pemeriksa barang merekam LHP ke dalam SKP dengan tembusan kepada unit pengawasan, kemudian mengirim LHP dan BAP Fisik kepada Pejabat pemeriksa dokumen.
12.6. dalam hal diperlukan, unit pengawasan segera berkoordinasi dengan Pejabat pemeriksa dokumen.
12.7. Pejabat pemeriksa dokumen menerima LHP dan BAP Fisik, untuk dilakukan penelitian.
12.8. dalam hal diperlukan uji laboratorium, Pejabat pemeriksa dokumen mengirimkan contoh barang dan invoice/ packing list ke laboratorium.
12.9. dalam hal hasil Pemeriksaan Fisik dan hasil Uji laboratorium serta penelitian tarif dan nilai pabean menunjukkan kesesuaian dengan pemberitahuan, serta ketentuan larangan ·dan pembatasan telah dipenuhi, Pejabat pemeriksa
12.10. dalam hal hasil penelitian menunjukkan tidak sesuai dan tidak ada tindak lanjut dari unit pengawasan, pejabat pemeriksa dokumen melakukan penelitian tarif dan nilai pabean, serta pemenuhan ketentuan tentang larangan dan pembatasan.
12.11. berdasarkan penelitian sebagaimana dimaksud pada butir 12.10, Pejabat pemeriksa dokumen menerbitkan NPBL dalam hal ditemukan barang yang wajib memenuhi ketentuan larangan atau pembatasan.
12.12. pengusaha menyerahkan persyaratan yang terkait dengan ketentuan larangan atau pembatasan.
12.13. Pejabat pemeriksa dokumen menerbitkan SPPB melalui SKP setelah melakukan penelitian tentang pemenuhan ketentuan larangan dan pembatasan.
C. Penyampaian Pemberitahuan Pabean Melalui Pertukaran Data Elektronik dan