• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyangkalan Terdakwa Ditingkat Persidangan (diPengadilan Negeri Makassar)

Dahulu bangunan ini terbagi menjadi dua fungsi yakni Raad Van Justiutia, merupakan pengadilan untuk orang – orang Cina, dan orang pribumi keturunan bangsawan yang letaknya dibagian utara bangunan, dan Landraad yang merupakan pengadilan untuk orang – orang pribumi, letaknya dibagian selatan bangunan.

B. Penyangkalan Terdakwa Ditingkat Persidangan (diPengadilan

kata lain bahwa terdakwa menyangkali keterangannya di tingkat persidangan,dengan alasan, bahwa pada saat memberikan keterangan di hadapan penyidik, terdakwa dipaksa atau dipukul untuk mengakui tindak pidana yang didakwakan kepadanya

Dalam hal ini yang dimaksudkan dengan “Keterangan terdakwa ialah apa yang terdakwa nyatakan di sidang tentang perbuatan yang ia lakukan atau yang ia ketahui sendiri atau ia alami sendiri” (Pasal 189 ayat (1) KUHAP).

Berpijak pada ketentuan Pasal 189 ayat (1) KUHAP di atas, pada prinsipnya keterangan terdakwa adalah apa yang diberikan terdakwa di sidang pengadilan. Meskipun demikian ketentuan itu ternyata tidak mutlak, karena keterangan terdakwa yang diberikan di luar sidang dapat pula digunakan untuk membantu menemukan bukti di persidangan asalkan keterangan itu didukung oleh suatu alat bukti yang sah sepanjang mengenai hal yang didakwakan kepadanya (Pasal 189 ayat (2) KUHAP).

Hal ini dapat dimaklumi karena pada prinsipnya KUHAP menganut asas fair trial, dimana dalam asas ini terdakwa memiliki hak untuk memberikan keterangan secara bebas (Pasal 153 ayat (2) huruf b KUHAP), termasuk hak untuk menarik keterangannya di sidang pengadilan. Namun satu hal yang perlu diingat, KUHAP hanya memberikan jaminan kebebasan untuk memberikan keterangan, bukan kebebasan untuk menyampaikan kebohongan.

Dalam penulisan tesis ini penulis mengambil kasus terjadinya penyangkalan terdakwa yang terjadi di pengadilan Negeri Makassar dengan Putusan Nomor : 179/Pid.Sus/2017/PN.Mks tanggal 11 April 2017, dalam perkara tindak pidana “pencurian dengan kekerasan yang dilakukan di jalan umum, yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu” sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 365 ayat (2) ke-1 dan 2 KUHP.

Dengan menyangkal atau mengingkari pengakuan tersebut, maka sesungguhnya terdakwa telah melakukan Penyangkalan di persidangan, yaitu keterangan yang terkait dengan pengakuan yang telah diberikan terdakwa di hadapan penyidik dan tertuang dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP).

Intinya bahwa keterangan terdakwa yang dicabut dalam persidangan pengadilan adalah keterangan pengakuan terdakwa yang diberikan pada saat pemeriksaan penyidikan. Dan pengakuan tersebut dimuat dalam Berita Acara Pemeriksaan penyidikan yang ditandatangani oleh terdakwa dan penyidik.

Berdasarkan hasil pemeriksaan di persidangan, diketahui bahwa benar telah terjadi Penyangkalan terdakwa, dimana terdakwa dalam keterangannya di persidangan, menarik seluruh keterangan pengakuan yang diberikannya pada tingkat pemeriksaan penyidikan di kepolisian.

Dengan alasan bahwa pada waktu dilakukan pemeriksaan di depan

Penyidik, terdakwa dipaksa untuk mengaku dan dipukul sehingga merasa tersiksa baik fisik maupun psikisnya.

Keterangan terdakwa di muka persidangan yang menyangkal atau mengingkari isi BAP dari Penyidik inilah, yang merupakan inti dari bentuk Penyangkalan terdakwa dalam persidangan, dimana dalam persidangan terdakwa secara jelas dan terbukti telah menyangkal tuntutan Penuntut Umum dengan memberikan keterangan kepada Majelis Hakim yang pada pokoknya terdakwa tidak membenarkan seluruh isi dari BAP.

Untuk menjelaskan perihal terjadinya Penyangkalan oleh terdakwa dalam persidangan, berikut akan diuraikan fakta-fakta yang menandakan telah terjadinya Penyangkalan terdakwa dalam persidangan:

a. Fakta dari hasil pemeriksaan alat bukti keterangan terdakwa dalam persidangan disesuaikan dengan pengakuan terdakwa dalam BAP.

Berikut beberapa hasil pemeriksaan di pengadilan Negeri Makassar terhadap terdakwa yang menunjukan adanya penyangkalan atas isi BAP berdasarkan pertanyaan hakim dalam persidangan:

1) Terdakwa mengatakan, bahwa sebelumnya pernah diperiksa di kepolisian

2) Terdakwa mengatakan, bahwa semua keterangan yang terdakwa berikan waktu itu dtidak benar karena pada saat diperiksa terdakwa dipukul

3) Terdakwa mengatakan, bahwa masalah yang terdakwa ketahui sehingga terdakwa diajukan kepersidangan ialah mengenai masalah pencurian

4) Terdakwa mengatakan, bahwa terdakwa hanya melakukan jambret pada hari sabtu tanggal 26 November 2016, sekira pukul 22.00 Wita di Jl. Andalas Makassar, sedangkan barang yang terdakwa ambil waktu itu adalah HP

5) Terdakwa menerangkan, bahwa pencurian dengan laptop di Jl.

Ws. Husodo, terdakwa tidak pernah melakukan pencurian laptop tersebut

6) Terdakwa mengatakan, bahwa dengan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang terdakwa akui semua pada saat dipolisi ialah terpaksa mengakui karena disiksa dipukul lalu terdakwa menanda tangani berita acara tersebut karena sudah tidak tahan dipukul

7) Terdakwa menerangkan, bahwa terdakwa masih ingat siapa yang memukul terdakwa waktu itu yang itu terdakwa dipukul oleh polisi yang melakukan pemeriksaan pada tingkat penyidikan

8) Terdakwa mengatakan, bahwa terdakwa kenal dengan saksi Irwan alias Cambang bin Abd Salam (terdakwa dalam perkara terpisah) baru sekitar 1 (satu) bulan di jl. Laiya Makassar

9) Terdakwa menerangkan, bahwa terdakwa tidak kenal dengan orang yang bernama Aco, nama itu hanya asal disebut saja oleh saksi Irwan alias Cambang Bin Abd. Salam (terdakwa dalam perkara terpisah) karena dipaksa

10) Terdakwa mengatakan, bahwa yang lebih dulu ditangkap adalah saksi Irwan alias Cambang Bin Abd. Salam (terdakwa dalam perkara terpisah), lalu sekitar 1 (satu) jam kemudian baru terdakwa ditangkap

11) Terdakwa menerangkan, bahwa pada saat kejadian terdakwa berada dirumah terdakwa bersama dengan orang tua terdakwa dan tetangga

12) Terdakwa mengatakan, bahwa terdakwa diperlihatkan CCTV pada saat diperiksa tetapi hanya sekilas saja dan itu tidak jelas 13) Terdakwa menerangkan, bahwa sebelum ditanda tangani

Berita Acara pemeriksaan diperlihatkan kepada terdakwa 14) Terdakwa mengatakan, bahwa terdakwa dipukul pada saat

sebelum dan sesudah diperiksa

15) Terdakwa menerangkan, bahwa Berita Acara Pemeriksaan (BAP) terdakwa yang ditanda tangani itu bukan keterangan terdakwa tetapi hanya cerita dari saksi Irwan alias Cambang Bin Abd. Salam (terdakwa dalam perkara terpisah)

16) Terdakwa mengatakan, bahwa pada saat terdakwa diperiksa di Kejaksaan tidak membantah karena terdakwa takut dikarenakan polisi waktu itu ikut

17) Terdakwa menerangkan, bahwa pada saat terdakwa dilakukan pemeriksaan oleh polisi saat itu bersama dengan saksi Irwan alias Cambang Bin Abd. Salam (terdakwa dalam perkara terpisah) dan berkas langsung digabung

18) Terdakwa mengatakan, bahwa awalnya terdakwa diperiksa sehubungan dengan masalah Jambret di Jl. Andalas Makassar, kemudian terdakwa dipaksa juga oleh polisi untuk mengakui pencurian Laptop di Jl. WS. Husodo Makassar

Dari uraian di atas, diketahui bahwa terdakwa telah menyangkal semua isi BAP atau mengingkari semua pengakuan yang diberikannya di tingkat pemeriksaan penyidikan, selain itu

terdakwa juga memberikan keterangan baru yang tidak diutarakan di depan penyidik.

Dengan adanya penyangkalan atau pengingkaran tersebut, maka terbukti bahwa terdakwa benar-benar telah mencabut keterangannya di sidang pengadilan.

b. Fakta yang termuat dalam surat penuntutan.

Dalam petikan surat tuntutan juga terdapat keterangan yang menunjukan adanya Penyangkalan terdakwa dalam persidangan, antara lain sebagai berikut:

“Keterangan terdakwa yang tidak mengakui Berita Acara Pemeriksaan dari Penyidik dan tidak mengakui perbuatannya dan memberikan keterangan yang berbelit-belit, juga mencabut semua keterangan yang diberikannya waktu penyidikan, adalah tanpa alasan yang mendasar”.

Dari petikan surat tuntutan di atas, dapat disimpulkan bahwa pada prinsipnya Penuntut Umum juga menilai telah terjadi Penyangkalan terdakwa di persidangan. Penilaian penuntut umum ini semakin memperjelas, bahwa terdakwa,memang telah mencabut keterangannya di sidang pengadilan.

c. Fakta yang termuat dalam pledoi atau pembelaan dari penasehat hukum terdakwa.

Dalam persidangan terdakwa, didampingi penasehat hukum bernama H. Syamsuddin Sampara, SH., M.Hum, Muh. Fajrin, Sh dan Syaiful Syahrir,SH. Kesemuanya advokat / Penasehat hukum pada kantor Advokat / Penasehat hukum “ Kelara Keadilan “ yang beralamat di jalan SungaiKelara No.28 Makassar, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tertanggal 4 Februari 2017 dan telah di daftarkan di Kepaniteraan Pengadilan Negeri tertanggal 7 Februari 2017 Nomor : 78 / Pid / 2017 / UB.

Yang mana dalam isi pembelaan dari penasihat hukum terdakwa, yang pada pokoknya menyatakan bahwa unsur – unsur dari dakwaan Jaksa Penuntut Umum tidak terpenuhi karena terdakwa tidak melakukan perbuatan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum, sedangkan keterangan dari terdakwa dalam Berita Acara pemeriksaan (BAP), terdakwa bukanlah keterangan dari terdakwa melainkan keterangan yang dikarang oleh saksi Irwan Alias Cambang Bin Abd. Salam (terdakwa dalam perkara terpisah), dan terdakwa menandatangani Berita Acara Pemeriksaan (BAP) tersebut karena dipaksa dan dipukul oleh penyidik.

d. Fakta yang tertuang dalam petikan putusan pidana.

Dalam petikan putusan pengadilan Nomor : 179 / Pid.Sus / 2017 / PN. Mks, tanggal 11 April 2017, terutama pada bagian

pertimbangan-pertimbangan Majelis Hakim terhadap keterangan terdakwa, juga terdapat penjelasan yang menandakan adanya Penyangkalan terdakwa di persidangan. Berikut petikannya:

Bahwa pada intinya terdakwa dalam keterangannya di muka persidangan menyangkal semua dakwaan Penuntut Umum.

Bahwa di muka persidangan terdakwa menarik seluruh keterangannya yang tertuang di Berita Acara yang di buat Penyidik, dengan alasan bahwa pada waktu diperiksa di depan Penyidik terdakwa dipaksa dan dipukul untuk mengaku di depan Penyidik.

Berdasarkan fakta-fakta di atas, diketahui dan terbukti bahwa terdakwa dalam persidangan benar-benar telah mencabut keterangan pengakuan yang diberikannya di tingkat pemeriksaan penyidikan.

Namun demikian, yang menjadi masalah utama dalam penulisan hukum ini, bukanlah masalah dicabut atau tidaknya keterangan terdakwa dalam persidangan, melainkan masalah mengenai bagaimana hukumnya Penyangkalan terdakwa tersebut, dibolehkan atau tidak?. Apakah dengan adanya penyangkalan tersebut terdakwa terhindar dari tuntutan hukum ?. Dan apakah dengan adanya penyangkalan terdakwa tersebut dapat mematahkan dakwaaan dan mempengaruhi putusan hakim ?. Untuk menjawabnya, maka penulis dalam pembahasan ini akan

menganalisis dan melakukan tinjauan hukum lebih lanjut terkait dengan masalah Penyangkalan yang dilakukan oleh terdakwa di tingkat persidangan sesuai dengan putusan pengadilan Negeri Makassar kelas IA Khusus Nomor : 179/Pid.Sus/2017/PN.Mks, tanggal 11 April 2017.

Suatu hal yang ironi dalam masalah ini jika terdakwa menarik atau mencabut kembali keterangan pengakuan yang diberikan dalam pemeriksaan penyidikan di sidang pengadilan. Kalau dipukul rata hampir setiap keterangan pengakuan yang diberikan dalam pemeriksaan penyidikan, selalu dicabut kembali disidang pengadilan.

Terdapat kecenderungan umum setiap tersangka akan memberikan keterangan pengakuan dalam pemeriksaan penyidikan. Jarang tersangka yang menyangkal kesalahan yang disangkakan dalam persidangan, semua berjalan dengan lancar mengakui kesalahan yang disangkakan sehingga pada umumnya Berita Acara penyidikan sedemikian rupa jelasnya mengutarakan dan menggambarkan jalannya perbuatan tindak pidana yang disangkakan.

Terlepas dari semua itu, bagaimana hukumnya pencabutan keterangan pengakuan terdakwa ditingkat persidangan, apakah undang – undang membenarkan pencabutan keterangan yang diberikan terdakwa diluar sidang tersebut.

Ditinjau dari segi yuridis, terdakwa “berhak” dan dibenarkan

“mencabut kembali” keterangan dan pengakuan yang diberikan

dalam penyidikan. Undang-undang pun pada dasarnya tidak membatasi hak terdakwa untuk mencabut kembali keterangan yang demikian, asalkan pencabutan dilakukan selama pemeriksaan persidangan pengadilan berlangsung dan pencabutan itu mempunyai landasan alasan yang berdasar dan logis (M. Yahya Harahap, 2003:

325).

Menilai alasan pencabutan keterangan pengakuan, memerlukan kearifan dan ketelitian. Sehingga dalam mepertimbangkan alasan pencabutan keterangan pengakuan, dari hakim dituntut kemampuan kecakapan hukum dan keterampilan penguasaan yang matang akan seluk beluk pembuktian dan penilaian kekuatan pembuktian yang diatur dalam hukum acara pidana serta dipadu dengan “intuisi dan seni mengadili“ . Jika ini semua dimiliki oleh hakim, dia mampu menilai dan mempertimbangkan alasan pencabutan dengan mantap dan utuh.

Pencabutan kembali tanpa dasar yang logis adalah pencabutan yang tidak dapat dibenarkan oleh hukum, sebagaimana ditegaskan oleh beberapa Yurisprudensi, yang dijadikan pedoman dalam praktek peradilan sampai sekarang. Hal ini dapat dilihat dari putusan Mahkamah Agung tanggal 23 Februari 1960, No. 299 K/Kr/1959, yang menjelaskan:

“pengakuan terdakwa di luar sidang yang kemudian di sidang pengadilan dicabut tanpa alasan yang berdasar merupakan petunjuk tentang kesalahan terdakwa”.

Dari putusan ini dapat dilihat, antara lain:

1) Penyangkalan pengakuan yang dibenarkan hukum adalah pencabutan yang dilandasi dengan alasan yang berdasar dan logis,

2) Pencabutan tanpa dasar alasan, tidak dapat diterima,

3) Penolakan Penyangkalan pengakuan, mengakibatkan pengakuan tetap dapat dipergunakan sebagai pembantu menemukan alat bukti.

Yurisprudensi yang senada dengan putusan di atas, antara lain putusan Mahkamah Agung tanggal 25 Februari 1960, No. 225 K/Kr/1960, tanggal 25 Juni 1961, No. 6 K/Kr/1961 dan tanggal 27 September 1961, No. 5 K/Kr/196, yang menegaskan:

“pengakuan yang diberikan di luar sidang tidak dapat dicabut kembali tanpa dasar alasan” (M. Yahya Harahap, 2003: 327).

Dari putusan-putusan di atas jelaslah bahwa setiap pencabutan wajib disertai dengan alasan yang berdasar dan logis. Pencabutan harus disertai dengan alasan yang berdasar dan logis mengandung arti, bahwa pencabutan tersebut harus didasari alasan-alasan yang dapat dibuktikan kebenarannya. Sehingga bila ada terdakwa yang mencabut keterangannya di persidangan dengan alasan bahwa pada

saat pemeriksaan penyidikan dirinya dipukul dan dipaksa mengakui perbuatan terdakwa oleh penyidik, maka hakim harus membuktikan alasan tersebut terlebih dahulu, sebelum menerima atau menolak Penyangkalan terdakwa.

Walaupun pada dasarnya terdakwa dibolehkan untuk mencabut keterangannya di persidangan, namun pada kenyataannya Penyangkalan terdakwa di persidangan, sulit untuk dapat diterima oleh Hakim, salah satu alasannya adalah bahwa setelah dilakukan cross check dengan saksi verbalisan (penyidik) yang memeriksa terdakwa pada tingkat penyidikan, ternyata alasan terdakwa yang mendasari pencabutan tersebut tidak terbukti, sehingga pencabutan ditolak oleh hakim.

Dalam petikan putusan pengadilan Nomor : 179 / Pid.Sus / 2017 / PN. Mks, tanggal 11 April 2017 pada uraian di atas disebutkan bahwa terdakwa dalam persidangan pengadilan mencabut semua keterangan pengakuan yang diberikannya di depan penyidik dengan alasan bahwa pada saat diperiksa di depan Penyidik, terdakwa dipukul dan dipaksa untuk mengakui perbuatan tersebut, sehingga merasa tersiksa baik fisik maupun psikisnya maka terdakwa mengakui perbuatan yang disangkakan oleh penyidik.

Akan tetapi, pada akhirnya yaitu saat pembacaan putusan, hakim menolak pencabutan tersebut, dengan pertimbangan-pertimbangan pokok sebagai berikut:

Menimbang, bahwa sejak awal persidangan telah pula didengar keterangan saksi verbalisan yang telah disumpah menurut agamanya, menerangkan bahwa pemeriksaan terdakwa tidak ada pemaksaan oleh penyidik dan saksi Verbalisan menjelaskan bahwa keterangan atau alasan penyangkalan terdakwa dalam persidangan adalah salah .

Menimbang bahwa atas bantahan dari terdakwa tersebut selanjutnya saksi menyatakan tetap pada keterangannya dan bahwa sebelum hakim Majelis mempertimbangkan lebih lanjut untuk memperoleh fakta – fakta, perlu dipertimbangkan mengenai terdakwa yang membantah seluruh keterangannya didalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) di Penyidik.

Menimbang, bahwa sejak awal persidangan yaitu pada waktu pemeriksaan saksi-saksi, terdakwa menanggapi bahwa semua keterangan saksi yang menyangkut inti dakwaan adalah tidak benar, akan tetapi pada akhir persidangan yaitu pada waktu terdakwa ataupun penasehat hukum terdakwa diberikan kesempatan untuk mengajukan pembelaan, pada pokoknya menyatakan bahwa unsur – unsur dari dakwaan Jaksa penuntut Umum tidak terpenuhi karena terdakwa tidak melakukan perbuatan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum, sedangkan keterangan didalam Berita Acara Pemeriksaan terdakwa bukanlah

keterangan dari terdakwa melainkan keterangan yang dikarang oleh saksi Irwan alias Cambang Bin Abd Salam (Terdakwa dalam perkara terpisah), dan terdakwa menandatangani Berita Acara Pemeriksaan (BAP) tersebut karena dipaksa dan dipukul.

Telah mendengar dan membaca tanggapan dari Jaksa Penuntut Umum atas pembelaan dari Penasehat hukum terdakwa, tanggal 6 April 2017, yang pada pokoknya menyatakan tetap pada tuntutannya.

Telah mendengar tanggapan dari penasehat hukum terdakwa tanggal 6 April 2017, atas tanggapan dari Jaksa Penuntut Umum yang menyatakan pada pokoknya tetap pada pembelaannya.

Menimbang, bahwa terdakwa diajukan kemuka persidangan didakwa melakukan tindak pidana sebagaimana dalam surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum dalam Dakwaan Tunggal, tertanggal 12 januari 2017 sebagai berikut :

Bahwa ia terdakwa bersama dengan IRWAN alias Cambang Bin Salam(penuntutannya diajukan dalam berkas perkara terpisah) serta Lk. ACO dan seseorang yang yang tidak dikenal identitasnya yang merupakan teman dari Lk. ACO(kesemuanya masuk dalam daftar pencarian orang / DPO), pada hari Jumat tanggal 18 November 2016 sekira jam 00.10 Wita atau setidak tidaknya pada suatu waktu dalam bulan November tahun 2016, bertempat di jl. Dr.

Wa. Husodo Kec. Wajo Kota Makassar tepatnya depan toko Prima atau setidak tidaknya pada tempat lain yang masih dalam daerah hukum pengadilan Negeri Makassar, mengambil barang yaitu 1 (satu) unit laptop merek Asus warna putih yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain yakni Dahlan Bin Muchtar dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum yang didahului, disertai atau diikuti dengan kekerasan atau ancaman kekerasan terhadap orang dengan maksud akan menyiapkan atau memudahkan pencurian itu jika tertangkap tangan supaya ada kesempatan bagi dirinya sendiri atau bagi kawannya yang turut melakukan kejahatan itu akan melarikan diri atau supaya barang yang dicuri itu tetap ada ditangannya, yang dilakukan dijalan umum yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu, perbuatan tersebut terdakwa lakukan dengan cara sebagai berikut :

Bahwa pada waktu dan tempat tersebut diatas berawal ketika terdakwa bersama dengan Lk. Irwan serta Lk.ACO dan teman dari Lk. ACO Bertemu di jalan Laiya Kota Makassar, selanjutnya terdakwa bersama dengan Lk. Irwan, Lk. Aco dan teman dari Lk. Aco kemudian sepakat untuk berkeliling mencari target inscara dengan cara menggunakan sepeda motor, dimana terdakwa berboncengan dengan Lk. Irwan sedangkan Lk. Aco berboncengan dengan teman Lk. Aco. Selanjutnya pada saat berada di Jl. Irian Kota Makassar, Lk.

Aco yang melihat situasi sekitar penjual roti bakar yang dalam

keadaan sepi kemudian menghentikan laju sepeda motor yang dikendarainya diikuti oleh terdakwa yang berada dibelakang, lalu Lk.

Teman Aco turun dariu sepeda motor sambil mengeluarkan sebilah parang yang terhunus yang disimpan dipinggangnya, melihat hal tersebut dua orang yang berada ditempat itu lalu lari pergi menyelamatkan diri, selanjutnya Lk. Aco kemudian mengambil sebuah Laptop warna putih yang berada diatas meja, sedangkan terdakwa dan Lk. Irwan tetap berada diatas sepeda motor sambil mengamati situasi sekitar. Setelah Lk. Aco mengambil Laptop, terdakwa bersama Lk. Irwan, Lk. Aco dan teman Lk.Aco kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut, dimana Laptop yang sebelumnya telah diambil tetap berada pada Lk. Aco untuk dicarikan pembeli. Selanjutnya beberapa hari kemudian pada saat terdakwa bertemu dengan Lk. Aco, Lk. Irwan lalu diberi uang tunai sebesar Rp.

800.000,- (delapan ratus ribu rupiah) oleh Lk. Aco yang merupakan uang hasil penjualan laptop dan uang tersebut Lk. Irwan bagi dengan terdakwa sebesar Rp. 400.000,- (empat ratus ribu rupiah).

Menimbang, bahwa atas bantahan dari terdakwa tersebut selanjutnya saksi menyatakan tetap pada keterangannya.

Menimbang,bahwa sebelum Hakim Majelis mempertimbangkan lebih lanjut untuk memperoleh fakta – fakta, perlu dipertimbangkan

mengenai terdakwa yang membantah seluruh keterangannya didalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dari Penyidik.

Menimbang, bahwa terdakwa membantah seluruh keterangannya didalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dari penyidik tetapi terdakwa tidak dapat membuktikan bantahannya atau mengajukan alat bukti yang bisa mendukung bantahannya tersebut, sedangkan keterangan dari saksi penyidik (saksi Verbalisan) yang memeriksa dan membuat Berita Acara Pemeriksaan (BAP) untuk terdakwa pada pokoknya menerangkan bahwa saksi tidak melakukan pemukulan terhadap terdakwa pada saat dilakukan pemeriksaan, semua keterangan itu berdasarkan atas keterangan saksi Irwan alias Cambang Bin Salam (terdakwa dalam perkara terpisah) yang menunjuk terdakwa dan keterangan saksi Ade Irawan alias Ade Bin Anwaryang mengenali sepeda motor milik terdakwa yang digunakan pada saat kejadian, awalnya terdakwa ditangkap kasus jambret di Jl. Andalas Kota Makassar, kemudian dikembangkan dan saksi Irwan alias Cambang Bin Salam(terdakwa dalam perkara terpisah) mengakui kalau dia bersama dengan terdakwa pernah juga mencuri laptop di Jl. Ws. Husodo Makassar.

Menimbang, bahwa berdasarkan keterangan dari saksi penyidik (saksi Verbalisan) tersebut maka dapat ditarik keksimpulan bahwa

bantahan atas Berita Acara pemeriksaan (BAP) dari terdakwa tidak berdasarkan alasan yang syah menurut hukum.

Menimbang, bahwa menurut Yurispriudensi yaitu putusan Mahkamah Agung tanggal 23 Februari 1960, No. 299 K/Kr/1959, yang menjelaskan: “pengakuan terdakwa di luar sidang yang kemudian di sidang pengadilan dicabut tanpa alasan yang berdasar merupakan petunjuk tentang kesalahan terdakwa”.selain itu berdasarkan putusan Mahkamah Agung tanggal 25 Februari 1960, No. 225 K/Kr/1960, tanggal 25 Juni 1961, No. 6 K/Kr/1961 dan tanggal 27 September 1961, No. 5 K/Kr/196, yang menegaskan:“pengakuan yang diberikan di luar sidang tidak dapat dicabut kembali tanpa dasar alasan”.

Menimbang, bahwa oleh karena bantahan terdakwa atas Berita Acara Pemeriksaan dari penyidik tanpa dasar alasan, maka sesuai Yurisprudensi Mahkamah Agung tersebut diatas adalah “ Pengakuan terdakwa diluar sidang yang kemudian disidang pengadilan dicabut tanpa alasan yang berdasar merupakan petunjuk tentang kesalahan terdakwa”. Untuk itu Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dari penyidik untuk terdakwa dapat dipergunakan sebagai petunjuk kesalahan terdakwa.

Menimbang, bahwa berdasarkan keterangan, keterangan terdakwa yang dapat dipergunakan sebagai petunjuk tentang kesalahan terdakwa sebagaimana pertimbangan diatas, serta barang

bukti yang diajukan didalam persidangan, setelah dihubungkan satu sama lain, karena persesuaiannya, maka dapat diperoleh fakta – fakta sebagai berikut :

- Bahwa benar pada hari Jumat, tanggal 18 Nopember 2016 sekira pukul 00.10 Wita, bertempat di Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo Makassar, tepatnya di depan Toko Prima Tunggal, telah terjadi tindak pidana pencurian dengan korbannya adalah saksi Dahlan Bin Muhtar dan saksi Ade Iriawan

- Bahwa benar kronologis kejadiannya pada saat itu saksi Dahlan Bin Muhtar bersama dengan saksi Ade Iriawan sedang berjualan roti bakar di Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo Makassar, tepatnya didepan toko Prima Tunggal, tiba – tiba pelaku yang berjumlah 4 (empat) orang dengan menggunakan 2 (dua) sepeda motor berhenti dan salah satu dari pelaku mendatangi dan memesan roti, lalu tiba – tiba pelaku mengeluarkan parang dari pinggang sebelah kirinya dan ketika itu saksi Dahlan Bin Muhtar berteriak pada saksi Ade Iriawanyang sedang bermain Laptop “awasko Ade” lalu saksi Dahlan Bin Muhtar bersama dengan saksi Ade Iriawanberlari menyelamatkan diri sehingga pelaku tersebut mengambil 1 (satu) unit laptop merek Asus warna putih dan yang berada diatas meja jualan.

- Bahwa benar saksi Dahlan Bin Muhtar kenal dengan barang bukti yang diajukan pada persidangan ini (Foto sepeda motor Yamaha

Mio GT DD 4558 XO), bahwa sepeda motor tersebut yang digunakan oleh pelaku.

- Bahwa benar terdakwa dan saksi Irwan alias Cambang Bin. Abd Salam (terdakwa dalam perkara terpisah) ditangkap karena peristiwa jambret pada hari Sabtu, tanggal 26 Nopember 2016, sekira pukul 22.00 Wita

- Bahwa benar terdakwa dan saksi Irwan alias cambang Bin. Abd.

Salam (terdakwa dalam perkara terpisah) oleh saksi Muh. Yaspar Guntur dan saksi Iwan Siswanto lalu dibawa ke kantor Polsek wajo untuk diinterogasi, di Polsek Wajo pada saat itu saksi Irwan alias Cambang bin Abd. Salam (terdakwa dalam perkara terpisah) menjelaskan bahwa benar pada hari Jumat, tanggal 18 Nopember 2016 sekira pukul 00.10 Wita bertempat di Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo Makassar, tepatnya di depan toko Prima Tunggal, terdakwa bersama dengan saksi Irwan alias Cambang Bin Abd.

Salam (terdakwa dalam perkara terpisah), juga bersama dengan Lk. Aco (DPO) yang berboncengan dengan orang yang tidak dikenal oleh terdakwa, telah mengambil 1 (satu) unit Laptop merek asus warna putih milik saksi Dahlan Bin Muhtar, cara terdakwa mengambil laptop tersebut adalah sesuai dengan keterangan yang diberikan saksi Irwan alias Cambang Bin Abd. Salam (terdakwadalam perkara terpisah), yaitu awalnya terdakwa bersama teman – temannya berkumpul di Jl. Laiya Makassar,

kemudian berangkat dengan mengendari 2 (dua) unit motor dimana terdakwa berboncengan dengan saksi Irwan alias Cambang Bin Abd. Salam (terdakwa dalam perkara terpisah) dengan menggunakan sepeda motor Yamaha Mio GT DD 4558 XO, sedangkan Lk. Aco (DPO) berboncengan dengan orang yang tidak dikenal terdakwa, menggunakan motor honda Beat bermaksud untuk jalan – jalan, pada saat melintas di Dr. Wahidin Sudiro Husodo Makassar tiba Lk. Aco (DPO) berhenti didepan penjual roti bakar, kemudian orang yang dibonceng oleh Lk. Aco (DPO) turun dari sepeda motornya lalu mengeluarkan parang, kemudian korban bersama dengan temannya melarikan diri karena takut, lalu orang yang dibonceng oleh lk.Aco (DPO) mengambil laptop merek Asus warna putih yang tersimpan diatas meja jualan.

- Bahwa benar pada saat saksi Muh. Yaspar Guntur dan saksi Iwan Siswanto melakukan interogasi, pengakuan dilakukan oleh saksi Irwan alias Cambang Bin Abd. Salam (terdakwa dalam perkara terpisah) dan saksi menunjuk terdakwa.

- Bahwa benar yang dikatakan oleh saksi Irwan alias Cambang Bin Abd. Salam (terdakwa dalam perkara teripsah) waktu itu ia berempat malakukan pencurian.

- Bahwa benar setelah terdakwa ditangkap, lalu saksi Muh. Yaspar Guntur dan saksi Iwan Siswanto melakukan konfrontir dengan

saksi Dahlan Bin Muhtar, kemudian saksi Dahlan Bin Muhtar mengatakan bahwa dia hanya mengenali kendaraan yang dipergunakan oleh terdakwa saja.

- Bahwa benar selain selain saksi Muh. Yaspar Guntur dan Iwan Siswanto melakukan konfrontir, waktu itu diperlihatkan CCTV yang diambil dari gereja sekitar temapat kejadian perkara kepada saksi Irwan alias Cambang Bin Abd. Salam (terdakwa dalam perkara terpisah), saat itu saksi Irwan alias Cambang Bin. Abd. Salam (terdakwa dalam perkara terpisah) lalu menjelaskan semua yang ada pada CCTV.

- Bahwa benar yang di jelaskan oleh saksi Irwan alias Cambang Bin Abd. Salam (terdakwa dalam perkara terpisah) waktu itu kalau yang mengancam korban adalah lk. Aco (DPO), sedangkan terdakwa dan saksi Irwan alias Cambang Bin Abd. Salam (terdakwa dalam perkara terpisah) hanya menunggu diatas sepeda motor saja.

Menimbang dengan adanya fakta – fakta hukum tersebut selanjutnya Hakim Majelis akan mempertimbangkan apakah terdakwa dapat dinyatakan bersalah serta dapat dijatuhi hukuman atas dakwaan yang didakwakan oleh Penuntut Umum kepada terdakwa.

Menimbang bahwa terdakwa diajukan kemuka persidangan ini karena didakwa dengan dakwaan yang disusun dalam bentuk

Dokumen terkait