Dari sejumlah kematian ibu sebanyak 28 orang, 9 (32.14 %) orang dikarenakan keracunan kehamilan (pre eklamsi dan eklamsi), sebanyak 5 (17.85 %) orang dikarenakan pendarahan dan penyebab lainnya adalah ibu syok septic CA ciste Ovari, gagal nafas, gagal
LAKIP Dinas Kesehatan Kabupaten Pasuruan Tahun 2014 43
jantung, HIV, TBC, Emboli ketuban dan hepatitis sebanyak 14 orang. Keracunan kehamilan dapat diketahui selama kehamilan, sehingga apabila kualitas pemeriksaaan kehamilan baik maka dapat terdeteksi jika ada gejala Pre Eklamsi dan Eklamsi. Saat ini kualitas ANC (Ante Natal Care) / Pemeriksaan Kehamilan lebih baik, hal ini dapat dilihat dari hasil pemeriksaan ibu hamil yang seharusnya diperiksa 4 kali (K4) sudah mencapai 89.90 % walaupun belum mencapai targetnya 95%. Pemeriksaan (K4) yang berkualitas adalah pemeriksaan kehamilan yang dilakukan secara rutin, pada trimester 1 sebanyak 1 kali, pada trimester 2 sebanyak 1 kali dan pada trimester 3 sebanyak 2 kali. 2) Penolong Persalinan
Berdasarkan penolong persalinan, dari 28 kematian ibu hamil 21 (75 %) diantaranya ditolong oleh Dokter Spesialis Kandungan, 3 (10.71 %) orang ditolong oleh Bidan, 1 orang ditolong oleh dukun bayi dan 3 orang ditolong oleh dokter umum.
Hal ini sebenarnya bila bidan mendapatkan pasien komplikasi dengan penyakit, para bidan lansung memberikan rujukan kepada Dokter Spesialis Kandungan, namun para pasien tersebut terlambat memutuskan untuk mau dirujuk. Untuk mengatasi hal tersebut harus ada komunikasi antara bidan dan dokter spesialis kandungan agar
LAKIP Dinas Kesehatan Kabupaten Pasuruan Tahun 2014 44
sebelum dirujuk sudah dilakukan pertolongan awal serta adanya sistem jejaring rujukan antara bidan, Puskesmas Poned dan RSUD. 3) Tempat Kematian
Berdasarkan tempat kematian ibu bersalin, maka sebanyak 8 orang ibu bersalin meninggal di RSUD Bangil, 2 orang di perjalanan, 2 orang di RSUD Kota Pasuruan, 3 di RS. Dr. Soetomo, 2 orang di RS Mitra Sehat dan 1 orang di rumah, RS Sidoarjo 2, RS Pusdik 3, di Puskesmas 1, di RS Lawang 1, RS Probolinggo 1 dan di RS Saiful Anwar Malang 1. Melihat beberapa kasus yang terjadi maka penanganan secara cepat di RSUD Bangil harus lebih ditingkatkan kembali serta rujukan berjenjang harus di jalankan agar tidak terjadi keterlambatan penanganan dan keterlambatan mengirim pasien. Angka kematian ibu melahirkan per 100.000 kelahiran hidup tahun 2013-2014secara rinci dapat dilihat pada tabel IV-2.10 dan gambar IV-2.10.
LAKIP Dinas Kesehatan Kabupaten Pasuruan Tahun 2014 45
Tabel IV-2.10.
Angka Kematian Ibu Melahirkan Tahun 2013 - 2014
S u m b
Sumber data: Dinas Kesehatan kab. Pasuruan
Kegiatan-kegiatan yang sudah dan akan terus dilakukan untuk menurunkan angka kematian ibu melahirkan adalah:
1) Pembinaan Puskesmas Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED) oleh Tim Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK).
Tahun
Angka Kematian Ibu Melahirkan(per 100.000 KH) Jumlah Kelahiran
Hidup(Kelahiran)
Kematian Ibu Melahirkan(Orang)
Angka Kematian Ibu Melahirkan(Per 100.000
KH)
2013 24.921 28 112,36
2014 26.055 28 107,46
LAKIP Dinas Kesehatan Kabupaten Pasuruan Tahun 2014 46
2) Pelaksanaan Program Emas (Expanding Maternal and Neonatal Survival).
3) Pertemuan kader KIBBLA 4) Audit Maternal Perinatal
5) Pengembangan P4K bagi mitra terkait
6) Penelusuran Pemantauan Wilayah Setempat KIA (P-PWS KIA) ibu 7) Supervisi fasilitatif
8) Pelatihan APN
9) Pelatihan Kelas ibu hamil
10) Kemitraan Bidan dan dukun bayi – kader (melalui PERDA nomor 2 tahun 2009 tentang KIBBLA).
11) Peningkatan pemeriksaan ibu hamil melalui revitalisasi posyandu. k. Persentase penduduk yang memanfaatkan Puskesmas
Indikator ini digunakan untuk menggambarkan bahwa puskesmas sebagai tempat pelayanan kesehatan strata 1 (pertama) dibutuhkan oleh masyarakat sebagai upaya kuratif, promotif dan preventif. Diperoleh dengan membandingkan jumlah kunjungan pasien puskesmas dengan jumlah penduduk.
Penduduk yang pernah berobat di Puskesmas tahun 2014 sebesar 87.04% atau sebanyak 1.367.197 jiwa dari 1.570.699 total jumlah
LAKIP Dinas Kesehatan Kabupaten Pasuruan Tahun 2014 47
penduduk di Kabupaten Pasuruan. Jika dibandingkan dengan realisasi tahun 2013 (84,51% atau sebanyak sebanyak 1.315.752 jiwa dari 1.556.837 total jumlah penduduk), maka mengalami peningkatan sebesar 2.53% yang berarti lebih baik dari target RPJMD tahun 2013-2018sebesar 82,68%.Hal ini menunjukkan bahwa Puskesmas masih menjadi pilihan untuk pengobatan dan dipercaya oleh masyarakat dalam penanganan kuratif disamping kegiatan preventif dan promotifnya.
.Tabel IV-2.11.
Pemanfaatan Puskesmas oleh Penduduk Tahun 2013-2014
Tahun Kunjungan Penduduk %
2013 1.315.752 1.556.837 84,51
2014 1.367.197 1.570.699 87,04
Sumber data: Dinas Kesehatan Kab. Pasuruan
Pemanfaatan Puskesmas oleh Penduduk tahun 2013-2014 dapat diilustrasikan pada gambar IV-2.11.
LAKIP Dinas Kesehatan Kabupaten Pasuruan Tahun 2014 48
Peningkatan pemanfaatan puskesmas ini dikarenakan:
1) Kecepatan menindaklanjuti dari hasil survey kepuasan masyarakat terhadap pelayanan di puskesmas ;
2) Perbaikan sarana dan prasarana di Puskesmas, mulai perbaikan gedung yang sesuai standar, alat kesehatan dan SDM;
3) Penerapan manajemen mutu (ISO 9001:2008) di 7 Puskesmas (Gempol, Grati, Pandaan, Purwodadi, Purwosari, Ngempit dan Bangil );
Upaya yang dilakukan untuk terus meningkatkan pemanfaatan Puskesmas oleh masyarakat dilakukan melalui peningkatan standar mutu layanan kesehatan.
LAKIP Dinas Kesehatan Kabupaten Pasuruan Tahun 2014 49
l. Rasio Posyandu per satuan balita.
Indikator ini digunakan untuk mengetahui tingkat ketersediaan posyandu di masyarakat, diperoleh dengan perhitungan jumlah posyandu dibagi jumlah balita dikalikan 1.000.
Rasio Posyandu per 1.000 balita tahun 2014 sebesar 15,16 posyandu. Hal ini bisa dilihat dari 1.885 posyandu telah melayani sebanyak 124.342 balita atau dengan kata lain 1 posyandu melayani 67 balita. Jika dibandingkan dengan realisasi 2013 sebesar 14,89 posyandu, maka mengalami peningkatan sebesar 0.31, tetapi bila dibandingkan jumlah balita terlayani dan jumlah posyandu tahun 2014 mengalami peningkatan dibanding tahun 2013, rasio Posyandu terhadap jumlah balita masih tinggi, artinya ada 67 balita yang dilayani dalam 1 posyandu, padahal seharusnya 1 posyandu hanya melayani 59 balita. Rasio tersebut masih diperbolehkan dalam pelayanan posyandu yaitu antara 50 – 100 balita. Rasio Posyandu per 1.000 balita tahun 2013-2014 sebagaimana tabel IV-2.12 dan gambar IV-2.12.
LAKIP Dinas Kesehatan Kabupaten Pasuruan Tahun 2014 50
Tabel IV-2.12.
Jumlah posyandu per 1.000 balita tahun 2013-2014 Tahun Jumlah Posyandu (Unit) Jumlah sasaran terdaftar Rasio posyandu (per 1.000 sasaran) 2013 1.885 126.601 14,89 2014 1.885 124.342 15,16
Sumber data: Dinas Kesehatan kab. Pasuruan
Upaya yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Pasuruanuntuk meningkatkan Rasio Posyandu per 1.000 balita melalui revitalisasi posyandu, pemberian jasa insentif kader, pemantapan kinerja kader posyandu, lomba posyandu dan jambore kader.
LAKIP Dinas Kesehatan Kabupaten Pasuruan Tahun 2014 51