Kayu sebagai bahan bangunan perumahan dan gedung mempunyai kelemahan, antara lain dapat rusak atau lapuk akibat serangan organisme perusak
kayu berupa serangga dan jamur (Hariyanto et al. 2000). Agen biodeterirasi tersebut menyebabkan menurunnya kualitas dan kuantitas kayu. Terjadinya proses biodeteriorasi ditandai dengan adanya kerusakan pada kayu oleh faktor-faktor perusak, seperti adanya cacat-cacat berupa lubang gerek (bore holes), pewarnaan (staining), pelapukan (decay), lembap (damp), rekahan (brittles), dan pelunakan (softing). Setiap tanda-tanda kerusakan yang terlihat merupakan gejala spesifik dari salah satu faktor penyebab, sedangkan adanya tanda serangan sendiri sekaligus merupakan kriteria bahwa kayu atau hasil hutan yang bersangkutan telah terserang hama, penyakit atau penyebab lainnya (Tarumingkeng, 2004). Selanjutnya dikemukakan bahwa proses biodeteriorasi tersebut dapat diperparah jika kondisi lingkungan, termasuk suhu dan kelembaban, mendukung berkembangnya agen biodeteriorasi.
1. Rayap
Rayap pada mulanya merupakan serangga yang termasuk ordo isoptera. Dimana serangga ini bersifat sosial dengan sistem kasta yang berkembang dengan baik. Ciri-ciri kelompok ini adalah memiliki dua pasang sayap mirip membran berukuran sama, yang menempel pada bagian toraks dan bagian mulut pengunyah (Nicholas 1987). Namun, berdasarkan hasil analisis molekuler dan analisis morfologi menunjukkan bahwa rayap masuk dalam golongan kecoak yang berkerabat dekat dengan Cryptocercus. Kekerabatan rayap dan Cryptocercus merupakan kerabat dekat dari Ordo Blatodea sehingga konsekuensi dari analisis filogeni tersebut diusulkan bahwa isoptera tidak digunakan lagi untuk nama kelompok rayap dan sekaligus ditempatkan suku termitidae untuk mengakomodasi semua jenis rayap dan tingkatan famili yang ada sekarang diturunkan tingkatan taksonnya (Inward et al. 2007 dalam Zumarlin 2011).
Rayap diperkirakan telah menghuni bumi sekitar 220 juta tahun yang lalu atau 100 juta tahun sebelum serangga sosial lainnya menghuni bumi (Nandika et
al. 2003). Di beberapa bagian dunia, rayap sering disebut sebagai semut putih. Hal
ini dikarenakan perut rayap miskin sclerotization, terutama pada kasta pekerja, sehingga mereka tampak putih (Pearce 1997). Sigit dan Hadi (2006) diacu dalam Herdiansyah (2007) menjelaskan sebenarnya rayap banyak memberikan manfaat bagi ekosistem bumi, sebagai makrofauna tanah rayap memiliki peran dalam
pembuatan lorong-lorong di dalam tanah dan mengakibatkan tanah menjadi gembur sehingga baik untuk pertumbuhan tanaman. Nandika et al. (2003) pun menyatakan rayap memiliki peran dalam membantu manusia sebagai dekomposer dengan cara menghancurkan kayu atau bahan organik lainnya dan mengembalikan sebagai hara ke dalam tanah.
Bagai dua sisi mata uang, rayap pun dapat menjelma sebagai mikroorganisme perusak kayu yang sangat berbahaya serangannya. Nicholas (1973) menyatakan bahwa rayap biasa menyerang kayu yang kurang padat, yaitu bagian kayu awal dari riap tumbuh. Apabila kayu awal habis maka rayap siap untuk memakan kayu akhir. Selain itu, Nandika et al. (2003) mengatakan rayap mampu merusak komponen bangunan gedung, bahkan juga menyerang dan merusak mebeler di dalamnya, buku-buku, kabel-kabel listrik serta barang-barang yang disimpan.
Menurut Lee (2007) dalam Diba et al. (2010), rayap dikenal sebagai kelompok hama yang serius dalam dunia. Rayap tanah C. curvignathus Holmgren adalah kelompok penting dari hama serangga perkotaan di daerah negara tropis. Untuk mencapai sasarannya rayap tanah dapat menembus tembok yang tebalnya beberapa centimeter, menghancurkan plastik, kabel bahkan bentuk konstruksi bangunan seperti : slab dan basement serta penghalang fisik lainnya. Jangkauan serangan sampai bagian-bagian yang tinggi dengan membuat sarang di dalam bangunan yang jauh dari tanah dan memanfaatkan sumber-sumber kelembaban yang tersedia dalam bangunan tersebut. Kondisi ini berlaku pada rayap tanah
Coptotermes curvignathus yang hidupnya mutlak tergantung dari adanya air dan
tanah sebagai kebutuhan penting untuk kehidupan rayap (Nandika et al. 2003). Hal ini berbeda dengan rayap kayu kering yang mempunyai kemampuan hidup pada kayu-kayu kering dalam rumah, bangunan atau gedung-gedung, mereka tidak membangun sarang-sarang atau terowongan-terowongan pada tempat terbuka sehingga sulit untuk diketahui.
Rayap memiliki keragaman spesies yang cukup tinggi, tercatat 2500 spesies telah berhasil diidentifikasi. Spesies tersebut terbagi kedalam tujuh famili, 15 sub-famili, dan 200 genus yang tersebar di berbagai negara di dunia (Nandika et al. 2003). Rayap mudah dijumpai di dataran rendah tropik. Hal ini dikarenakan
penyebaran dan aktifitas rayap sangat dipengaruhi oleh faktor suhu dan curah hujan, Namun demikian, beberapa genus rayap dapat hidup di daerah-daerah dingin seperti Archotermopsis yang hidup di puncak Pegunungan Himalaya (ketinggian 3000 mdpl). Di Indonesia ditemukan 200 spesies rayap yang terdiri dari 3 famili yaitu Kalotermitidae, Rhinotermitidae dan Termitidae.
2. Jamur
Jamur merupakan tumbuhan tingkat rendah yang tidak mempunyai zat hijau daun (chlorophyl). Untuk hidupnya mereka harus memperoleh makanan dari bahan-bahan organik yang dihasilkan oleh tumbuhan hijau melalui fotosintesa. Dengan demikian kayu sebagai produk tumbuhan hijau menjadi sumber makanan bagi jamur. Pelapukan kayu oleh jamur merupakan proses kimia antara enzim-enzim yang dikeluarkan oleh jamur dengan senyawa-senyawa pada kayu (holoselulosa dan lignin) sehingga terbentuk senyawa-senyawa lain yang lebih sederhana. Dengan demikian senyawa-senyawa tersebut dapat diabsorbsi dan digunakan dalam proses metabolisme untuk perkembangan jamur. Akibat dari proses tersebut maka sifat-sifat kayu (fisik, kimia, mekanik) mengalami perubahan yang cenderung merugikan (Tambunan dan Nandika 1989).
Jamur perusak kayu menurut Panshin dan de Zeuw (1970) dapat dipisahkan menjadi dua kelompok yaitu : jamur perusak kayu (wood destroying fungi) dan jamur pewarna kayu (wood staining fungi). Jenis-jenis cendawan/jamur perusak kayu :
a. Pembusuk coklat (brown rot)
Brown rot disebabkan oleh jamur (Basidiomycetes) yang dapat masuk ke
dalam kayu menghasilkan pembusukan. Brown rot membutuhkan kadar air yang rendah untuk tumbuh dan berkembang. Nicholas (1973) menjelaskan hanya fraksi karbohidrat akan dihapus secara luas oleh pembusuk coklat, dan residu menjadi semakin tinggi di fraksi lignin. Brown rot juga mengakuisisi warna coklat kayu, sering seakan hangus, cenderung retak di permukaan, dan mengalami penyusutan normal.
b. Pembusuk putih (white rot)
White rot adalah golongan jamur yang termasuk ke dalam kelas
selulosa sehingga kayu cenderung kehilangan warna. Ridout (2001) menjelaskan pembusukan dimulai dengan proses depolimerisasi selulosa. Akibat dari pembusukan white rot, menyebabkan munculnya serat putih dan bisa terjadi kehilangan berat hingga mencapai 95 %. White rot dalam bangunan cenderung tumbuh subur dalam keadaan lebih basah dibandingkan dengan jamur brown rot. Jamur ini sering terdapat dibagian luar jendela dan di bawah atap yang bocor.
c. Busuk lunak (soft rot)
Soft rot adalah jamur perusak kayu dari klas Ascomycetes dan klas
Deuteromicetes atau “Fungi imperfecti”. Cara penyerangan hanya bagian tertentu saja dari dinding sel yang dirombak yaitu bagian tengah dinding sekunder. Penyerangan jamur dimulai melalui noktah sel. Struktur kayu yang diserang tidak banyak berubah tetapi kekuatan akan berkurang serta menjadi lunak dan berwarna kotor pada permukaannya. Soft rot sering dijumpai pada kayu yang berhubungan dengan tanah (Panshin dan de Zeuw 1970).
d. Jamur pewarna kayu (staining fungi)
Jamur Pewarna kayu adalah jamur yang tumbuh pada kayu tetapi tidak merombak komponen-komponen kayu sehingga tidak banyak mempengaruhi kekuatannya. Jenis jamur perusak warna kayu antara lain :
1) Mold adalah jamur yang menyerang permukaan kayu dimana miseliumnya tidak menembus ke dalam kayu, tetapi hanya menyebabkan pewarnaan pada kayu yang diserangnya (Nandika et al. 1996). Mold nampak seperti benang-benang halus, berwarna putih sampai keabu-abuan atau hijau biru, hijau kekuning-kuningan atau seperti tepung kemerah-merahan pada permukaan kayu, sehingga warna kayu menjadi rusak pada bagian permukaanya. Mold pada umumnya menyerang permukaan kayu gubal, akan tetapi dapat juga menyerang kayu teras. Selain itu, mold sering dijumpai apabila temperatur udara yang rendah pada periode yang panjang (Panshin and de Zeuw 1970).
2) Jamur blue stain
Blue stain adalah jenis jamur yang menyerang kayu segar (baru ditebang)
menyerang kayu teras. Serangannya sering terjadi bersamaan denga n serangan kumbang ambrosia. Hal ini karena jenis jamur tersebut merupakan makanan dari kumbang ambrosia. Jenis jamur blue stain yang paling sering menyerang kayu adalah jenis Ceratocystis. Kayu yang terserang jamur ini akan kehilangan warna aslinya.
3. Kumbang
Kumbang (ordo Coleoptera) merupakan anggota kelas insecta dengan jumlah spesies kira-kira 350.000 atau 40 % dari seluruh spesies serangga. Anggota dari ordo Coleoptera sering disebut bubuk, dan dibagi menjadi dua golongan yaitu bubuk kayu kering dan bubuk kayu basah.
a. Bubuk kayu kering
Jenis kumbang ini disebut bubuk kayu kering (powder post beetles) karena larva dari jenis ini menggerek kayu dan ekskremen-ekskreman yang dihasilkan bentuknya halus menyerupai tepung. Bubuk kayu kering ini hanya terdapat pada kayu kering. Pola serangan bubuk kayu kering sejajar dengan arah serat Beberapa famili yang terpenting dari ordo ini adalah : Lyctidae,
Anobidae, Cerambycidae, dan Bostrichidae (Kollman et al. 1975).
b. Bubuk kayu basah
Serangan bubuk kayu basah dilakukan oleh jenis Ambrosia beetles atau “Pinhole borer”. Bubuk ini hidup dari fungi (mold) yang hidup pada dinding lubang-lubang gereknya. Bubuk ini banyak menyerang kayu yang baru ditebang. Umumnya untuk hidup ia membutuhkan kadar air di atas 40 % sedang pada kadar air di bawah 25 % kumbang ini akan mati (Tambunan dan Nandika 1989).