• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyebab Konflik

Dalam dokumen DAKWAH DI DAERAH PASCA KONFLIK (Halaman 110-115)

BAB II TINJAUAN TEORETIS

B. Konflik dan Dinamika Masyarakat

2. Penyebab Konflik

2. Penyebab Konflik

Konflik memiliki sebab yang melatarbelakangi adanya konflik atau pertentangan. Terjadinya konflik dapat disebabkan oleh berbagai faktor yang dapat dibedakan dalam beberapa jenis yaitu:

a. Triggers (pemicu): peristiwa yang memicu sebuah konflik namun tidak diperlukan dan tidak cukup memadai untuk menjelaskan konflik itu sendiri.

133Dany Haryanto and G. Edwi Nugroho, Pengantar Sosiologi Dasar (Jakarta: PT. Prestasi Pustakarya, 2011), h. 113

b. Pivotal Faktor or root causes (faktor inti atau penyebab dasar): terletak pada akar konflik yang perlu ditangani supaya pada akhirnya dapat mengatasi konflik.

c. Mobilizing factors (faktor yang memobilisasi): masalah-masalah yang memobilisasi kelompok untuk melakukan tindakan kekerasan.

d. Aggravating factors (faktor yang memperburuk): faktor yang memberikan tambahan pada mobilizing factors dan pivotal factors, namun tidak cukup untuk dapat menimbulkan konflik itu sendiri.134

Selain itu, ada beberapa teori-teori utama mengenai sebab-sebab konflik135 sebagai berikut:

a. Teori Hubungan Komunitas (Community Relation Theory)

Teori ini menganggap bahwa terjadinya konflik disebabkan oleh polarisasi yang terus terjadi, ketidakpercayaan dan permusuhan di antara kelompok yang berbeda dalam suatu komunitas. Sasaran kerja yang didasarkan pada teori tersebut adalah: meningkatkan komunikasi dan saling pengertian antara kelompok yang mengalami konflik, serta mengusahakan toleransi dan agar masyarakat lebih bisa saling menerima keragaman yang ada di dalamnya.

b. Teori Kebutuhan Manusia (Human Needs Theory)

Menganggap bahwa konflik yang berakar disebabkan oleh kebutuhan dasar manusia (fisik, mental dan sosial) yang tidak terpenuhi atau dihalangi. Hal yang sering menjadi inti pembicaraan adalah keamanan, identitas, pengakuan, partisipasi, dan otonomi. Sasarannya: membantu pihak-pihak berkonflik untuk mengidentifikasi

134 Mukhsin Jamil, Mengelola Konflik Membangun Damai (Semarang: WMC (Walisongo Mediation Centre), 2007), h.16.

135 Konflik etnik bisa disebabkan oleh peristiwa yang sepele (trivial) atau oleh sentimen yang bersifat latent, misalnya perbedaan agama, kultur dan nilai-nilai yang menjadi paradigma kehidupan masing-masing etnik. Ahmad Nur Fuad dalam Thoha Hamim, dkk, Resolusi Konflik Islam Indonesia (Jogjakarta: PT. LKis Pelangi Aksara, 2007), h .40.

dan mengupayakan bersama kebutuhan yang tidak terpenuhi, serta menghasilkan pilihan-pilihan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

c. Teori Negosiasi Prinsip (Principled Negosiation Theory)

Menganggap bahwa konflik disebabkan oleh posisi-posisi yang tidak selaras dan perbedaan pandangan tentang konflik oleh pihak-pihak yang mengalami konflik.

Sasarannya: membantu pihak atau kelompok yang berkonflik untuk memisahkan perasaan pribadi dengan berbagai masalah, isu dan memampukan mereka untuk melakukan negosiasi berdasarkan kepentingan mereka daripada posisi tertentu yang sudah tetap kemudian melancarkan proses kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak atau semua pihak.

d. Teori Identitas (Identity Theory)

Berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh identitas yang terancam, yang sering berakar pada hilangnya sesuatu atau penderitaan di masa lalu yang tidak diselesaikan. Sasaran: melalui fasilitas lokakarya dan dialog antara pihak-pihak yang mengalami konflik, sehingga dapat mengidentifikasi ancaman dan ketakutan di antara pihak tersebut dan membangun empati dan rekonsiliasi di antara mereka.

Bersama-sama mencapai kesepakatan mengenai kebutuhan identitas semua pihak.

e. Teori Kesalahpahaman Antarbudaya (Intercultural Miscommunication Theory)

Berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh ketidakcocokan dalam cara-cara komunikasi di antara berbagai budaya yang berbeda. Sejalan dengan pendapat Deddy Mulyana dalam Baharuddin Ali mengatakan bahwa perbedaan budaya dan pandangan subyektivitas terhadap budaya dan kepentingan yang berbeda-beda sering memicu terjadinya konflik, karena semakin besar perbedaan budaya antara dua orang

semakin besar pula perbedaan persepsi mereka terhadap suatu realitas.136Sasaran:

menambah pengetahuan kepada pihak yang berkonflik mengenai budaya pihak lain, mengurangi streotip negatif yang mereka miliki tentang pihak lain, meningkatkan keefektifan komunikasi antarbudaya.

f. Teori Transformasi Konflik (Conflict Transformation Theory)

Berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh masalah-masalah ketidaksetaraan dan ketidakadilan yang muncul sebagai masalah sosial, budaya dan ekonomi.

Sasaran: mengubah struktur dan kerangka kerja yang menyebabkan ketidaksetaraan dan ketidakadilan termasuk kesenjangan redistribusi ekonomi, meningkatkan jalinan hubungan dan sikap jangka panjang di antar pihak yang berkonflik, mengembangkan proses dan sistem untuk mempromosikan pemberdayaan, keadilan, perdamaian, pengampunan, rekonsiliasi, pengakuan.137

Terjadinya konflik dan kekerasan menurut Zuly Qodir138 ada beberapa faktor pendorong (Akselerator) yang antara lain adalah:

a. Pertikaian antar pribadi, pertikaian antarpreman adalah yang paling sering dan banyak terjadi, tetapi gampang terseret pada isu SARA sehingga menimbulkan korban yang demikian hebat. Parsudi Suparlan menyebutkan terjadinya

136Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), h. 197 dalam Baharuddin Ali, Prinsip-Prinsip Dakwah Antarbudaya, Jurnal Berita Sosial. Edisi I. Desember 2013/ISSN. 23392584 (21 Nopember 2018).

137Sholihan dalam Mukhsin Jamil (ed.), Mengelola Konflik Membangun Damai (Semarang:

WMC (Walisongo Mediation Centre), 2007), h.16.

138Zuly Qodir, Konflik Kekerasan SARA di Indonesia di mana Seharusnya Kebijakan Negara? (Yogyakarta: 2008). Makalah. Disampaikan dalam kegiatan seminar nasional ‚Revitalisasi Agama untuk Resolusi Konflik di Indonesia‛ Kerjasama Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga dengan Pemerintah Propinsi Gorontalo. Di Hotel Saphir Yogyakarta, (14 Maret 2008).

pertikaian-pertikaian tersebut terkait dengan identitas sehingga memunculkan problem identitas kelompok (kesukubangsaan).

b. Provokator adalah idiom yang paling sering muncul tatkala konflik sosial terjadi.

c. Penegakan hukum yang lemah dan komunikasi yang lemah/mandeg.

d. Lemahnya komunikasi dengan kelompok lainnya sehingga dengan mudah terbawa arus informasi yang tidak jelas sumbernya. Komunikasi yang lemah sehingga gampang terprovokasi oleh desas desus.

e. Kebijakan transmigrasi, dan proyek otonomi daerah (putra daerah).

f. Adanya semangat kesukuan atau provinsialisme (nasionalisme etnisitas) yang demikian kuat sehingga representasi soal putra daerah yang harus menjadi pejabat, birokrat, pengusaha, penguasa, dan seterusnya tak jarang menghilangkan peran-peran masyarakat lain yang sama-sama hidup dalam satu daerah.

Konflik adalah perselisihan mengenai nilai-nilai atau tuntutan-tuntutan berkenaan dengan status, kuasa, dan sumber-sumber kekayaan yang persediaannya tidak mencukupi, di mana pihak-pihak yang sedang berselisih tidak hanya bermaksud untuk memperoleh barang yang diinginkan, melainkan juga memojokkan, merugikan, atau menghancurkan lawan mereka. Kriesberg mendefinisikan konflik dengan penekanan pada keyakinan (belief), karena konflik terjadi saat pihak-pihak menyakini bahwa mereka memiliki tujuan yang bertentangan satu sama lain.

Dikatakan pula oleh Coser,139 bahwa perselisihan atau konflik dapat berlangsung antara individu-individu, kumpulan-kumpulan, atau antara individu dengan kumpulan. Bagaimanapun konflik baik yang bersifat antar kelompok maupun yang intra kelompok (intern), selalu ada di tempat orang yang hidup bersama. Konflik

139KJ. Yeeger, Realitas Sosial (Jakarta: Gramedia, 1985), h. 211.

disebut sebagai unsur interaksi yang penting, dan sama sekali tidak boleh dikatakan bahwa konflik selalu tidak baik atau memecahbelah atau merusak. Justru konflik dapat menyumbangkan banyak terhadap kelompok dan mempererat hubungan antara anggotanya. Di dalam al-Qur’an dijelaskan firman Allah swt. QS Al-Hujura>t/49: 10

ِإ َنُِ َحَۡرُح ۡهُلَّنَرَم َ َّللَّٱ ْ

اُِوَّتٱَو ُۚۡهُلۡأََِخ َ

أ َ ۡينَب ْ اُِحِن ۡص َ

مَف ٞةَِۡخِإ َنٌُِِوۡؤُى ۡ لٱ اَىَّن ١٠

Terjemahnya:

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah swt., supaya kamu mendapat rahmat.140

Dalam teori konflik beranggapan bahwa masyarakat adalah suatu keadaan konflik yang berkesinambungan di antara kelompok dan kelas serta berkecenderungan ke arah perselisihan, ketegangan, dan perubahan141 sehingga masyarakat menjadi lahan tumbuh suburnya konflik.

Dalam dokumen DAKWAH DI DAERAH PASCA KONFLIK (Halaman 110-115)