Penyebaran monyet ekor panjang menurut Roonwal dan Mahnot (1997) meliputi beberapa kawasan di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Penyebarannya berada di Kepulauan Nikobar, Burma, Malaysia, Thailand, Vietnam Selatan, Indonesia (Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Kepulauan Nusa Tenggara) dan Filipina. Selain itu, monyet ekor panjang juga terdapat di Indocina dan pulau-pulau kecil lainnya (Lekagul dan McNeely 1977). Beberapa populasi monyet ekor panjang yang menempati berbagai pulau di Indonesia telah dinyatakan sebagai subspesies yang berbeda. Napier dan Napier (1967) menyatakan bahwa di Indonesia terdapat sepuluh subspesies monyet ekor panjang yaitu sebagai berikut.
1. M. f. Fascicularis: Sumatera, Riau, Lingga, Belitung, Banyak, Musala, Batu, Kalimantan dan Karimata.
2. M . f. Lasiae: Pulau Lasia.
3. M. f. Phaeura: Pulau Nias.
4. M. f. Fusca: Pulau Simalun.
5. M. f. Mordax: Pulau Jawa dan Bali.
6. M. f. Cupidae: Pulau Mastasiri.
7. M. f. Baweana: Pulau Bawean.
8. M. f. Tua: Pulau Maratua.
9. M. f. Limitis Pulau Timor.
10. M. f. Sublimitis: Pulau Lombok, Sumbawa, Flores dan Kambing.
14
Menurut Risdiyansyah et al. (2014), keberadaan populasi monyet ekor panjang sangat dipengaruhi oleh ketersediaan pakan, predator, dan keadaan vegetasi.
Monyet ekor panjang merupakan salah satu jenis satwa pemakan buah dan mempunyai kebiasaan makan yang sangat selektif. Mereka memakan bunga, buah, dan daun-daun muda yang terdapat pada tumbuhan tertentu. Vegetasi yang ada pada satu tempat merupakan salah satu faktor yang penting karena merupakan komponen dari habitat primata. Kondisi fisik seperti suhu, kelembaban dan kecepatan angin juga mempengaruhi aktivitas populasi monyet ekor panjang.
Struktur vegetasi mempengaruhi sebaran populasi. Monyet ekor panjang lebih menyukai vegetasi dengan kerapatan jarang dibandingkan dengan keberadaan populasi pada hutan lebat (Santoso, 1996).
Kondisi alam yang sesuai dan tidak ada gangguan dari predator maupun manusia, maka populasi monyet ekor panjang dapat bertambah dengan sangat cepat. Hal ini telah dibuktikan di Pulau Tinjil, dimana sebanyak 520 ekor induk monyet ekor panjang diintroduksi dan dalam kurun waktu 10 tahun telah dipanen sebanyak 680 ekor anakan (Kyes et al., 1997).
III. METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2015 di Cagar Alam Sibolangit, Sumatera Utara. Secara geografis terletak antara 3017′ 50″-3018′ 39″ LU dan 98036′ 0″-980 36’36″ BT (Departemen Kehutanan, 2002). Peta kawasan Cagar Alam Sibolangit dapat dilihat pada Gambar 2.
B. Alat dan Objek Penelitian
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah binokuler Nikon Monarch, kamera digital Sony, GPS (Global Positioning System) Garmin GPSmap 76CSx, kompas, peta wilayah, jam tangan, komputer, alat tulis, dan tally sheet (Tabel 1).
Objek penelitian yang diamati adalah monyet ekor panjang yang ada di dalam kawasan cagar alam dan kondisi vegetasi di sekitar lokasi penelitian.
Tabel 1. Contoh tally sheet pada penelitian penyebaran dan kelimpahan populasi monyet ekor panjang di Cagar Alam Sibolangit pada Mei 2015
Titik Pengamatan
Monyet ekor panjang (ekor)
Aktivitas Vegetasi Waktu Keterangan
16
C. Tahap Penelitian
Pelaksanaan penelitian ini meliputi tiga tahap sebagai berikut.
1. Tahap Persiapan, meliputi kegiatan kepustakaan dan observasi lapangan (prasurvey).
2. Tahap Pelaksanaan, meliputi kegiatan pengambilan data di lapangan (survey).
3. Tahap Akhir, meliputi kegiatan pengolahan dan analisis data yang telah diperoleh berdasarkan hasil survey di lapangan, penyusunan laporan (skripsi), seminar dan publikasi.
D. Metode Pengumpulan Data
1. Jenis Data yang Dikumpulkan a. Data Primer
Data primer yang dikumpulkan pada penelitian ini berupa informasi dan keterangan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan objek penelitian baik diperoleh melalui pengamatan langsung di lapangan maupun dari sumber
informasi terkait berupa : 1) keberadaan kelompok monyet ekor panjang di Cagar Alam Sibolangit, 2) jumlah individu monyet ekor panjang yang ditemui di area pengamatan, 3) kondisi vegetasi di sekitar lokasi monyet ekor panjang ditemukan dan 4) aktivitas monyet ekor panjang saat ditemukan.
b. Data Sekunder
Data sekunder berupa gambaran umum lokasi penelitian dan data mengenai monyet ekor panjang yang diperoleh dari studi literatur dari pustaka, jurnal, dan
17
terbitan lainnya yang mendukung penelitian untuk melengkapi data primer yang diambil dari lapangan.
2. Batasan Penelitian
Batasan penelitian ini adalah sebagai berikut.
a. Objek yang diamati adalah monyet ekor panjang.
b. Data yang diperoleh adalah jumlah individu monyet ekor panjang, lokasi monyet ekor panjang berada, kondisi vegetasi di lokasi ditemukannya monyet ekor panjang serta aktivitas monyet ekor panjang saat ditemukan.
c. Areal pengamatan adalah Cagar Alam Sibolangit di Desa Sibolangit Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara.
3. Teknik Pengambilan Data
a. Survey Pendahuluan (Prasurvey)
Tujuan survey pendahuluan agar peneliti mengetahui lokasi umum penelitian, mencocokkan peta kerja dengan kondisi lapangan, dan menentukan titik pengamatan. Informasi awal keberadaan monyet ekor panjang berupa sarang, tempat bermain, tempat makan atau tempat lain diperoleh dari pihak pengelola Cagar Alam Sibolangit dan masyarakat sekitar cagar alam yang kemudian diobservasi untuk membuktikan kebenarannya. Seluruh koordinat lokasi penemuan monyet ekor panjang dicatat menggunakan GPS. Saat melakukan survey pendahuluan, peneliti juga melakukan habituasi. Tujuan habituasi ini adalah agar satwa terbiasa dengan kehadiran manusia sehingga pada waktu pengamatan monyet tersebut tidak merasa terganggu.
18
b. Pengambilan Data di Lapangan
Pengamatan dimulai dari pukul 06.00 WIB sampai dengan pukul 18.00 WIB dengan metode area terkonsentrasi pada titik pengamatan yang telah ditentukan dan dilakukan pengulangan. Menurut Alikodra (1990) metode terkonsentrasi dilakukan dengan cara menetapkan lokasi-lokasi yang sesuai dengan
pergerakan dan kondisi lingkungan. Metode area terkonsentrasi dilaksanakan terkonsentrasi pada suatu titik yang diduga sebagai tempat dengan peluang perjumpaaan tinggi. Pengamatan dapat dilakukan pada tempat tersembunyi sehingga tidak mengganggu aktivitas satwa (Bismark, 2011). Data yang dicatat selama pengamatan adalah sebagai berikut. 1) Titik koordinat
keberadaan monyet ekor panjang ditemukan dan kegiatan monyet ekor panjang pada lokasi tersebut. Titik koordinat ini diperoleh dengan melakukan observasi di dalam Cagar Alam Sibolangit, dan mencari lokasi dimana monyet ekor panjang biasanya beraktivitas. 2) Kondisi vegetasi di lokasi monyet ekor panjang berada yang dicatat dengan metode rapid asessment. Menurut IUCN (2007), rapid assesment adalah metode yang dapat digunakan untuk
mengumpulkan dan mencatat dengan cepat dan akurat data pengamatan yang relevan, baik secara kualitatif dan kuantitatif pada lokasi pengamatan untuk mengetahui jenis pohon pakan, jenis pohon tidur dan pohon lain yang ada di sekitar lokasi aktivitas monyet ekor panjang. 3) Jumlah individu/ekor dari setiap kelompok yang ditemukan. 4) Aktivitas monyet ekor panjang saat ditemukan.
19
E. Analisis Data
1. Analisa Sistem Informasi Geografis (SIG)
Analisa SIG ini dilakukan dengan aplikasi ArcGis 10. ArcGis mampu menganalisis data geografi dan menyajikannya dalam bentuk spasial untuk mempermudah memberikan gambaran letak atau lokasi (Aspinall dan Pearson, 2000; Hebblewhite dan Haydon, 2010; Febrian dan Solikahah, 2013). ArcGis merupakan salah satu aplikasi perangkat lunak sistem informasi geografis yang dikembangkan oleh Environmental System Research Institute (ESRI) yang telah banyak dipakai baik kalangan akademisi, militer, pemerintah, maupun masyarakat umum khususnya dalam bidang kehutanan dan lingkungan hidup (Richards dan Host, 1994; Geoghegan et al., 1997; Tomkiewicz et al., 2010; Latif, 2014). Titik koordinat geografis tempat ditemukannya monyet ekor panjang yang telah dicatat kemudian dimasukkan pada peta digital Hutan Cagar Alam Sibolangit untuk kemudian dapat dilihat dan dianalisis distribusi monyet ekor panjang yang ada di lokasi penelitian.
2. Analisis Deskriptif
Data kelimpahan dan penyebaran monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang diperoleh di Cagar Alam Sibolangit ditabulasikan dan selanjutnya dijelaskan secara deskriptif sehingga diperoleh informasi mengenai gambaran kelimpahan dan persebarannya serta faktor-faktor yang mungkin mempengaruhinya. Data vegetasi digunakan untuk membantu mengetahui faktor yang mempengaruhi persebaran monyet ekor panjang.
20
Gambar 2.Peta Cagar Alam/Taman Wisata Alam Sibolangit (Kementerian Kehutanan, 2014).
IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
A. Sejarah Lokasi Penelitian
Pada tahun 1914 atas prakarsa DR. J.C. Koningbenger, Kebun Raya Sibolangit (Botanical Garden) didirikan oleh Tuan J.A. Lorzing sebagai cabang dari Kebun Raya Bogor. Dr. J. C. Koningbernger saat itu menjabat sebagai Direktur Kebun Raya Bogor. Penetepan kawasan Kebun Raya Sibolangit kemudian
ditindaklanjuti dengan proses Verbal Van Grensregling tertanggal 8 Desember 1927 tentang penentuan batas kawasan dan luas Kebun Raya Sibolangit saat itu adalah 127 ha.
Pada tanggal 10 Maret 1938 kawasan Kebun Raya Sibolangit tersebut diubah statusnya menjadi Cagar Alam berdasarkan Zelfbestuur Besluit (Z.b.) No. 37/PK.
Pada tahun 1956, lokasi Cagar Alam (Kebun Raya) Sibolangit bertambah luasnya sebesar 5,85 ha yang berasal dari bekas areal Hak Guna Usaha CV Seng Hap yang tertuang dalam Peta Perluasan CA sibolangit tanggal 29 Juli 1959 oleh Brigade V Planologi Kehutanan Pematang Siantar yang dikuatkan dengan SKPT Menteri Pertanian dan Agraria No.104/KA/1957 tanggal 11 Juni 1957.
Pada tahun 1980, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No.
636/Kpts/Um/1980 sebagian kawasan Cagar Alam Sibolangit seluas 24,85 ha
22
diubah statusnya menjadi Taman Wisata Alam (TWA). Luas Cagar Alam
Sibolangit sampai saat ini adalah 95,15 ha. Penetapan luas defenitif pada kawasan hutan Cagar Alam/Taman Wisata Sibolangit dilakukan pada 29 Desember 2011 dan dituangkan dalam SK.197/Menhut-II/2014.
B. Letak dan Luas
Secara administratif Cagar Alam Sibolangit terletak di Desa Sibolangit
Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang. Secara geografis Cagar Alam Sibolangit terbentang antara 98º36’36”- 98º36’56” BT dan 3º17’50”- 3º18’39”
LU. Cagar alam seluas 95,15 ha ini berbatasan dengan wilayah pertanian, hutan desa, dan areal penggunaan lain. Bagian Utara Cagar Alam Sibolangit berbatasan dengan wilayah Desa Sembahe dan Desa Batu Mbelin. Bagian Timur Cagar Alam Sibolangit berbatasan dengan wilayah Dusun Lau Bengkiewan, Desa Batu Mbelin dan wilayah Desa Sibolangit. Bagian Selatan berbatasan dengan TWA Sibolangit dan wilayah Desa Sibolangit. Bagian Barat berbatasan dengan Hutan Desa Sibolangit dan Wilayah Desa Sembahe.
C. Keadaan Fisik Lokasi Penelitian
Topografi Cagar Alam Sibolangit adalah bergelombang, mulai dari agak landai sampai tebing curam. Secara umum Cagar Alam Sibolangit merupakan wilayah tebing yang curam dan hanya memiliki sedikit wilayah landai. Hal ini karena wilayah landai cagar alam ini telah dijadikan Taman Wisata Alam Sibolangit.
Tanah di cagar alam sebagian besar termasuk jenis andosol dan asosiasi andosol
23
dengan podsolik merah kuning yang tertutup humus tebal. Bahan induk berasal dari gunung berapi berupa tuff intermedier dengan keasaman tanah 4,5 – 5,6.
Tingkat kestabilan tanah di kawasan ini sangat rendah sehingga sering terjadi longsor (Rahmawaty, 2004).
Menurut pembagian iklim Schmidt dan Ferguson, iklim kawasan Cagar Alam Sibolangit tergolong tipe B dengan curah hujan berkisar antara 3000 – 4000 mm/tahun dengan jumlah hari hujan rata-rata 170 hari hujan. Rata-rata suhu maksimum kawasan adalah 35,6oC dan minimum 25,3oC dengan kelembaban antara 60-80%.
D. Flora dan Fauna
Flora yang tumbuh di Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Sibolangit merupakan jenis asli. Antara tahun 1914 dan 1924, J.A. Lorzing mencatat beberapa tanaman asli yang ada seperti meranti (shorea sp), 30 jenis Ficus, 20 jenis kecing (Quercus sp), kenanga, kulit manis, manggis, dan artocarpus sp (Rahmawaty, 2004). Strata bawah Cagar Alam Sibolangit didominasi oleh tumbuhan semak, jelatang, rotan, dan liana. Selain itu terdapat juga
beranekaragam palem-paleman.
Cagar Alam Sibolangit memiliki beberapa sungai kecil yang berhulu di dalam cagar alam dan mengalir ke Lau Betimus. Ada juga anak sungai yang berasal dari Desa Sibolangit dan melintasi Cagar Alam Sibolangit. Keadaan ini menjadikan Cagar Alam Sibolangit menjadi habitat bagi beberapa jenis primata, aves, mamalia dan reptil. Jenis fauna yang sering terlihat yaitu monyet ekor panjang,
24
lutung hitam (Trachipithecus cristatus), kedih (Presbytis thomasi), trenggiling (Manis javanica), tupai (Tupaia javanica), babi hutan (Sus scropa). Jenis burung yang hidup di kawasan ini antara lain elang bido (Spilornis cheela), julang emas (Aceros undulatus), dan beberapa jenis burung lain. Jenis reptil yang terdapat pada kawasan ini diantarnya beberapa jenis ular sanca dan ular hijau, kadal, dan biawak. Cagar Alam Sibolangit juga dikenal memiliki banyak lintah dan pacet (Haemadipsa sp).
VI. SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di Cagar Alam Sibolangit Sumatera Utara Mei 2015, maka dapat disimpulkan sebagai berikut.
1. Dua kelompok monyet ekor panjang ditemukan pada habitatnya di Cagar Alam Sibolangit. Kelompok I terdapat pada bagian selatan cagar alam dan kelompok II terdapat di sebelah utara cagar alam dan Taman Wisata Alam Sibolangit.
2. Monyet ekor panjang kelompok I ditemukan sebanyak 18-25 ekor dan kelompok II sebanyak 15-20 ekor.
3. Kondisi vegetasi di lokasi keberadaan monyet masih baik dan masih banyak terdapat sumber pakan alami monyet ekor panjang di dalam Cagar Alam Sibolangit seperti: rambung merah (Ficus sumatrana), terap (Artocarpus elasticus), kayu ageng (Antidesma montanum), nanglit (Nauclea cyrtopoda), lateng gajah (Laporta sinuata), beringin (Ficus benjamina), jelatang
(Toxicodendron radicans), aren (Arenga pinnata), riman (Caryota sp), dan senduduk (Melastoma affine).
46
B. Saran
Saran yang dapat diberikan setelah melakukan penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai sex ratio dan sebaran umur monyet ekor panjang di Cagar Alam Sibolangit Sumatera Utara.
2. Perlu sosialisasi akan pentingnya keberadaan satwa liar kepada masyarakat sekitar cagar alam agar tidak memburu monyet dan satwa lain yang masuk ke ladang mereka.
3. Perlu dilakukan monitoring untuk mengetahui perubahan populasi monyet ekor panjang dari waktu ke waktu agar populasi monyet ekor panjang tetap terjaga.
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR PUSTAKA
Alikodra, H. S. 1990. Pengelolaan Satwa Liar. Buku. Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat Institut Pertanian Bogor. Bogor. 303 p.
. 2010. Teknik Pengelolaan Satwaliar Dalam Rangka
Mempertahankan Keanekaragaman Hayati Indonesia. Buku. IPB Press.
Bogor. 368 p.
Aspinall, R. dan Pearson, D. 2000. Integrated geographical assessment of environmental condition in water catchments: lingking landscape ecology, environmental modelling dan GIS. Journal of Environmental Management.
59(4): 299-319.
Bahri, S., Djuwantoko, dan I. N. Ngariana. 1996. Komposisi jenis tumbuhan pakan kera ekor panjang (Macaca fascicularis) di habitat hutan jati. Biota.
1(2):1-8.
Bercovitch, F. B., dan M. A. Huffman. 1999. The Macaques. Pp 77-85 dalam: The Nonhuman Primates. Dolhinow P, Fuentes A, (editor). Buku. Mayfield Publishing. California. 340 p.
Bismark, M. 2011. Prosedur Operasi Standar untuk Survey Keragaman Jenis pada Kawasan Konservasi. Buku. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Bogor. 40 p.
Crocket, C. M., dan W. L. Wilson. 1978. The Ecological Sepreation of macaca nemestrina and macaca fascicularis in Sumatra. Pp 148-181 dalam: The Macaques: Studi in ecology, behavior, and evolution. Buku. Linburg D.G.
(editor). Van Nostrand Reinhold. New York. 384 p.
Departemen Kehutanan. 2002. Data dan Informasi Kehutanan Provinsi Sumatera Utara. Buku. Departemen Kehutanan. Jakarta. 42 p.
Fakhri, K., B. Priyono, dan M. Rahayuningsih. 2012. Studi awal populasi dan distribusi Macaca fascicularis Raffles di Cagar Alam Ulolanang. Unnes J Life Sci. 1(2): 119-125.
49
Febrian, F., dan Solikhah. 2013. Analisis spasial kejadian penyakit leptospirosis di Kabupaten Sleman Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2011.
Kesmas. 7(1):7-13.
Geoghegan, J., Wainger, L. A., dan Bockstael, N. E. 1997. Spatial landscape indicies in a hedonic framework: an ecological economics analysis using GIS. Ecological Economics. 23(3): 251-264.
Gumert, M. D., Rachmawan, D., Iskandar, E., dan Pamungkas, J. 2012. Populasi monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Jurnal Primatologi Indonesia. 9(1): 3-12.
Hadi, I., B. Suryobroto, dan D. Perwitasari-Farajallah. 2007. Food preference of semiprovisioned macaques based on feeding duration and foraging party size. Hayati. 14:13-17.
Hambali, K., A. Ismail, dan B. M. Md-Zain. 2012. Daily activity budget of long-tailed macaques (Macaca fascicularis) in Kuala Selangor Nature Park.
IJABS-IJENS. 12(04): 47-52.
Hebblewhite, M. dan Haydon, D. T. 2010. Distinguishing technology from biology: a critical review of the use of GPS telemetry data in ecology. Phil.
Trans. R. Soc. B. 365:2303-2312.
IUCN, The World Conservation Union. 2007. Pedoman dan Metodologi Rapid Assessement untuk Kerusakan Ekosistem Darat Pesisir Akibat Tsunami.
Buku. IUCN Publications Services Unit. Cambridge. 24 p.
Kementerian Kehutanan. 2014. Peta Penetapan Kawasan Hutan Cagar Alam/Taman Wisata Alam Sibolangit. Kementerian Kehutanan. Jakarta.
Kamilah, S. N., Fitria, R. S., Jarulis, dan Syarifuddin. 2013. Jenis-jenis tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai makanan oleh Macaca fascicularis (Raffles, 1821) di Taman Hutan Raya Rajolelo Bengkulu. Jurnal Ilmiah Konservasi Hayati J Biosci. 9(1): 1-6.
Kemp, N. J., dan J. B. Burnett. 2003. Kera Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Pulau Nugini: Penilaian dan Penatalaksanaan Resiko terhadap
Keanekaragaman Hayati. Ninil R. M., Purwandari M. M. O., Tuka J. M., Kemp N. J., (penerjemah). Buku. Indo-Pacific Conservation Alliance.
Washington D. C. 112 p.
Kyes, R. C., D. Sajuthi, W. R. Morton, O. A. Smith, R. P. A. Lelana, J.
Pamungkas, D. Iskandriati, E. Iskandar, dan C. M. Crockett. 1997. Sepuluh tahun pengelolaan: fasilitas penangkaran habitat alami Pulau Tinjil. Jurnal Primatologi. 1(1):1-8.
50
Latif, A. 2014. Desain sistem informasi geografis pemetaan dan letak kawasan hutan lindung Kabupaten Merauke. Jurnal Ilmiah Mustek Anim Ha.
3(3):248-266.
Lekagul, B. dan J. A. McNeely. 1977. Mammals of Thailand. Buku. Kurusapha Ladprao Press, Sahakarnbhat Co. Bangrak. Bangkok. 758 p.
Lindburg, D. G. 1980. The Macaques: Studies in Ecology, Behaviour and Evolution. Buku. Van Nostrand Reinhold Company. New York. 384 p.
Malaivijitnond, S. dan Y. Hamada. 2008. Current situation and status of long-tailed macaques (Macaca fascicularis) in Thailand. The Natural History Journal of Chulalongkorn University. 8(2): 185-204.
Medway, L. 1969. The Wild Mammals of Malaya and Offshore Island Incluiding Singapore. Buku. Oxford University Press. Kuala Lumpur. 127 p.
. 1978. The Wild Mammals of Malayan and Singapore. Buku. Oxford University Press. Kuala Lumpur. 128 p.
Napier, J. R. dan P. H. Napier. 1967. A Handbook of Living Primates: Morfology, Ecology and Behaviour of Nonhuman Primates. Buku. Academic Press.
London. 456 p.
Poirier, F. E. dan E. O. Smith. 1974. The crab-eating macaque (Macaca
fascicularis) of Angaur Island, Palau, Micronesia. Folia Primatology. 22:
258-306.
Primack, R. B., J. Supriatna, M. Indrawan, dan P. Kramadibrata. 1998. Biologi Konservasi. Buku. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta. 345 p.
Pringgoseputro, S. dan B. Srigandono. 1990. Ekologi Umum. Buku. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. 1140 p.
Putra, I. G. A. A., A. Fuentes, K. G. Suaryana, dan A. L. T. Rompis. 2000.
Perilaku makan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di Wenara Wana, Pedangtegal, Ubud, Bali. Dalam Prosiding Seminar Primatologi Indonesia, Yogyakarta 7 September 2000. Prosiding. UGM . Yogyakarta.
256 p.
Putra, I. G. A. A., I. N. Wandia, I. G. Soma, dan D. Sajuthi. 2006. Indeks massa tubuh dan morfometri monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di Bali.
Jurnal Veteriner. 7:119-124.
Raffles, T. S. 1821. Systematic Review of Southeast Asian Longtail Macaques, Macaca fascicularis. Buku. Field Museum of Natural History. Chicago.
228 p.
51
Rahmawaty. 2004. Studi Keanekaragaman Mesofauna Tanah di Kawasan Hutan Wisata Alam Sibolangit. e-USU Repository. Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara. Medan. 17 p.
Richards, C. dan Host, G. 1994. Examining land use influences on stream habitats and macroinvertebrates: a GIS approach. Journal of the American Water Resources Association. 30(4): 729-738.
Risdiyansyah, S. P. Harianto, dan N. Nurcahyani. 2014. Studi populasi monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di Pulau Condong Darat Desa Rangai Kecamatan Ketibung Kabupaten Lampung Selatan. Jurnal Sylva Lestari.
2(1):41-48.
Roonwal, M. L. dan S. M. Mahnot. 1997. Primates of South Asia : Ecology, Sociobiology and Bahaviour. Buku. Harvard University Press. London.
421 p.
Santoso, N. 1996. Analisis habitat dan potensi pakan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis, Raffles) di Pulau Tinjil. Media Konservasi. 5(1):5-9.
Samingan, T. 1993. Dasar-Dasar Ekologi. Buku. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta. 697 p.
Siswanda, A. 2007. Rahasia 90 tahun Cagar Alam Sibolangit.
https://andiwana.wordpress.com/2007/02/28/rahasia-90-tahun-cagar-alam-sibolangit.html. Diakses pada 24 April 2014.
Smith J. B. dan S. Mangkoewidjojo. 1988. Pemeliharaan, Pembiaakan dan Penggunaan Hewan Percobaan di Daerah Tropis. Buku. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta. 276 p.
Soehartono, T. dan A. Mardiastuti. 2003. Pelaksanaan Konvensi CITES di Indonesia. Buku. JICA. Jakarta. 373 p.
Subiarsyah, M. I., I. G. Soma, dan I. K. Suatha. 2014. Struktur populasi monyet ekor panjang di kawasan Pura Batu Pageh, Ungasan, Badung, Bali.
Indonesia Medicus Veterinus. 3(3): 183-191.
Sukabudhi, G. 1993. Studi Penampilan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Unit Penangkaran Pusat Studi Satwa Primata Institut Pertanian Bogor. Skripsi. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Bogor. 78 p.
Supriatna, J. dan E. H. Wahyono. 2000. Panduan Lapangan Primata Indonesia.
Buku. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta. 332 p.
52
Tomkiewicz, S. M., Fuller, M. R., Kie, J. G., dan Bates, K. K. 2010. Global positioning system and associated technologies in animal behaviour and ecological research. Phil. Trans. R. Soc. B. 365: 2163-2176.
Wheatley, B. P., R. Stephenson, dan H. Kurashina. 1999. The Effects of Hunting on the Longtailed Macaques of Ngeaur Island, Palau. Dalam The
Nonhuman Primates. Dolhinow, P and A. Fuentes (editor). Buku. Mayfield Publishing, California. 340 p.