4. Tempat Pemrosesan Akhir (TPA)
3.5. Penyediaan Air Bersih
Air minum merupakan salah satu kebutuhan dasar bagi kualitas dan keberlanjutan hidup manusia. Oleh karenanya air minum mutlak harus tersedia baik dalam segi kualitas maupun kuantitas. Pada hakekatnya Alam telah menyediakan air minum yang dibutuhkan, akan tetapi desakan pertumbuhan penduduk yang tidak merata serta keberagaman aktivitasnya telah menimbulkan berbagai dampak perubahan tatanan dan keseimbangan lingkungan yang menyebabkan potensi air yang ada di alam terganggu kuantitas dan kualitasnya sehingga tidak layak lagi dikonsumsi secara langsung.
Diperlukan prasarana dan sarana air minum untuk merekayasa agar air yang tersedia di alam dapat aman dan sehat dikonsumsi. Berkaitan dengan hal tersebut, Pemerintah mempunyai perhatian yang cukup besar untuk mengembangkan prasarana dan sarana air minum. Sejak awal tahun 1979 sampai dengan saat ini penyediaan air minum khususnya perpipaan telah dibangun dan dikembangkan menggunakan berbagai pendekatan baik yang bersifat sektoral maupun pendekatan keterpaduan dan kewilayahan (perkotaan dan perdesaan).
3.5.1. Landasan Hukum/Legal Operasional
Secara umum Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (KSNP SPAM) mengacu pada sasaran terukur yang tertuang dalam Rencana Rencana Pembangunan Jangka Menegah Nasional (RPJMN) 2004-2009 dan sasaran dalam pencapaian MDGs tahun 2015 serta beberapa sasaran terukur lainnya. Selain itu juga menuju sasaran yang normatif
BUKU PUTIH SANITASI Profil Sanitasi Kota Mataram 74 seperti tertuang dalam PP. No. 16 Tahun 2005 tentang, Pengembangan Sistem Penyediaan Air minum (SPAM).
Dalam menyusun rencana optimalisasi SPAM, acuan utama adalah :
Peraturan Pemerintah No. 16 tahun 2005, tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM).
Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997, tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 907 Tahun 2002, Tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 77 Tahun 2001, Tentang Irigasi.
Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 Tahun 1998, Tentang Pedoman Penetapan Tarif Air Minum Pada Perusahaan Daerah Air Minum.
Keputusan Menteri Kimpraswil No. 409 Tahun 2002, Tentang Pedoman Kerjasama Pemerintah & Badan Usaha Swasta dalam Penyelenggaraan dan atau Pengelolaan Air Minum dan Sanitasi.
Keputusan Direktur Jenderal Cipta Karya No. 61 Tahun 1998, Tentang Petunjuk Teknis Perencanaan, Pelaksanaan & Pengawasan Pembangunan, Pengelolaan Sistem Penyediaan Air Minum Perkotaan.
Peraturan Presiden No. 67 tahun 2005, tentang Kerjasama Pemerintah dan Swasta dalam Bidang Prasarana.
3.5.2. Aspek Institusional
Secara kelembagaan yang memiliki kewenangan dalam pengelolaan Air Bersih di Kota Mataram adalah PDAM Menang Mataram, mencakaup wilayah pelayanan Kota Mataram dan Lombok Barat.
Perusahaan Daerah Air Minum Menang Mataram dibentuk atas dasar Keputusan bersama Bupati Lombok Barat dan Walikota Mataram No. 45 Tahun 1998 dan No. 03/KPTS/1998 tentang Pemilikan Hak dan Kewajiban PDAM Lombok Barat.
Adapun Fungsi dan tugas pokok PDAM Menang Mataram yaitu menyelenggarakan pengolahan air bersih untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang mencakup aspek sosial, kesehatan, dan pelayanan umum.
Untuk melaksanakan fungsi dan tugas pokok tersebut, PDAM berkewajiban untuk:
a. Melaksanakan pelayanan umum/jasa kepada masyarakat konsumen dalam penyediaan air bersih.
b. Menyelenggarakan pemanfaatan umum yang dapat dirasakan masyarakat.
c. Memupuk pendapatan untuk membiayai kelangsungan hidup perusahaan dan pengembangan daerah.
BUKU PUTIH SANITASI Profil Sanitasi Kota Mataram 75 3.5.3. Cakupan Pelayanan
Cakupan pemanfaatan air bersih di Kota Mataram tahun 2008 adalah sebagai berikut :
Tabel 3.19. Cakupan Sarana Air Bersih Menurut Kecamatan Tahun 2008 Puskesmas Jumlah
Jiwa
Jenis Sarana Air Bersih Cakupan
SR KU SGL SPT PMA Jiwa %
Ampenan 56.914 4.207 77 5.525 5 4 50.090 88,01
Tj. Karang 44.587 5.602 47 1.939 38.410 86,15
Karang Pule 36.570 4.377 21 1.169 28.045 76,69
Mataram 54.394 4.501 52 4.177 44.170 81,20
Pagesangan 57.471 5.719 70 3.604 47.665 82,94
Cakranegara 48.254 4.077 80 2.565 14 113 40.270 83,45
Kr.Taliwang 36.274 3.658 45 2.425 31.090 85,71
Dsn Cermen 20.067 1.659 30 1.647 16.980 84,62
Total 354.531 33.800 422 23.051 19 117 296.720 83,69 Sumber : Profil Kesehatan Kota Mataram 2008
Sedangkan kualitas air bersih hasil inspeksi sanitasi berdasarkan tingkat pencemarannya digolongkan menjadi empat yakni tingkat pencemaran amat tinggi, tinggi, sedang dan rendah. Sebagaimana tertuang dalam table 3.4. ini.
Tabel 3.20. Kualitas Air Bersih Berdasarkan Hasil Inspeksi Sanitasi Menurut Jenis Sarana Air Bersih di Kota Mataram Tahun 2008
Jenis Sarana Jumlah Diperiksa
Tingkat Pencemaran Amat
Tinggi Tinggi Sedang Rendah
Jml % Jml % Jml % Jml %
Sumur Gali 8.029 521 6,49 2.031 25,30 2.998 37,34 2.479 30,88
Samb. Rumah 7.983 - - - - - - 7.983 100,00
Kran Umum - - - - - - - - -
SPT / PMA - - - - - - - - -
Total 16.012 521 6,49 2.031 25,30 2.998 37,34 10.462 65,34 Th.2007 14.938 636 4,26 1.984 13,28 3.584 23,99 8.734 58,47 Th. 2006 14.577 501 3,44 1.801 12,36 3.737 25,64 8,538 58,57
Sumber : Profil Kesehatan Kota Mataram 2008
BUKU PUTIH SANITASI Profil Sanitasi Kota Mataram 76 Tabel 3.21 : Kualitas Air Berdasarkan Hasil Inspeksi Sanitasi di Kota Mataram
Tahun 2008
Pusk Jumlah
SAB Jumlah diperiksa
Jenis Sarana Air Bersih
Amat tinggi Tinggi Sedang Rendah
Jmlh % Jmlh % Jmlh % Jmlh %
Sumber : Profil Kesehatan Kota Mataram 2008
Tarif dasar air merupakan acuan dasar dalam perhitungan proyeksi keuangan khususnya proyeksi pendapatan. Tarif dasar air tahun 2007 dapat dilihat pada Tabel dibawah ini.
Tabel 3.22. Tarif Dasar Air PDAM Menang Mataram Tahun 2007
I Kelompok I IV Kelompok IV (Khusus) Berdasarkan Kesepakatan (TK)
NO KLASIFIKASI PELANGGAN BLOK KONSUMSI (M3)
0 - 10 > 10 - 20 > 20 - 30 > 30
Sumber : Master Plan Rencana Induk PDAM Menang Mataram
BUKU PUTIH SANITASI Profil Sanitasi Kota Mataram 77 Adapun jumlah pelayanan Air Bersih oleh PDAM Menang Mataram dalam tiga tahun terakhir (tahun 2008, 2009 dan 2010), menunjukan kecenderungan yang meningkat dari tahun ke tahun, sebagaimana terlihat pada tabel berikut ini.
Tabel 3.23. Pelayanan Air Bersih PDAM Menang Mataram
NO URAIAN SATUAN Tahun
Sistem penyediaan air bersih di Kota Mataram menggunakan sistem perpipaan yang dilayani oleh PDAM. Dalam penyediaan air bersih bersumber dari Mata Air yang berasal dari Mata Air Sarasuta, Mata Air Saraswaka, Mata Air BBI (Balai benih Ikan) dan Mata Air Ranget. Sistem penyediaan air minum Kota Mataram dibagi menjadi 2 sistem yang dikelompokan berdasarkan daerah
BUKU PUTIH SANITASI Profil Sanitasi Kota Mataram 78 pelayanan unit reservoir distribusi, kedua sistem tersebut adalah : Sistem Reservoir Bug-Bug dan Sistem Reservoir Telaga Sari.
Sistem Reservoir Bug-Bug ini menggunakan sumber air yang berasal dari Mata Air Sarasuta, Mata Air Saraswaka dan Mata Air BBI (Balai benih Ikan). Ketiga sumber mata air tersebut terletak di Desa Lingsar Kecamatan Lingsar dan berada dalam satu wilayah yang saling berdekatan antara satu dengan yang lainnya.
Unit-unit sistem reservoir Bug-Bug terdiri dari; Bronkaptering, Bak Penampung, Pipa transmisi, Reservoir, Desinfeksi dan Pipa distribusi.
Selengkapnya mengenai unit-unit sistem Reservoir Bug-Bug adalah sebagai berikut :
1. Bronkaptering
Bronkaptering Sarasuta
Unit Bronkaptering Sarasta terletak di desa Lingsar Kecamatan Lingsar Kabupaten Lombok Barat. Bronkaptering Sarasuta berada pada ketinggian + 96 m dpl. Kapasitas sumber mata air Sarasuta diperkirakan sebesar ± 200 L/D, akan tetapi saat ini debit yang dimanfaatkan/diproduksi hanya sebesar 77 L/D. Bronkaptering mata air Sarasuta dibangun sekitar tahun 1971 dengan konstruksi beton bertulang berbentuk segi empat.
Adapun Dimensi Bronkaptering MA. Sarasuta adalah sebagai berikut :
Panjang : 3 m
Lebar : 3 m
Dalam : 3,0 m + 0,8 m tinggi bebas
Lubang Kontrol (manhole) : 0,8 x 0,8 cm (1 unit)
Pipa Outlet : ACP Ø 500 mm
Aliran mata air masuk ke dalam bangunan bronkaptering ini melalui dinding samping dan dari bawah, dari dinding air keluar melalui lubang persegi empat dengan ukuran (20 x 20) cm, sebanyak 18 buah lubang.
Bronkaptering Sarasuta
BUKU PUTIH SANITASI Profil Sanitasi Kota Mataram 79
Bronkaptering Saraswaka
Unit Bronkaptering Mata Air Saraswaka terletak sekitar ± 500 m dari Mata Air Sarasuta dengan ketinggian + 99 m diatas permukaan laut (dpl). Bronkaptering Saraswaka dibangun sekitar tahun 1971, dengan kapasitas sumber diperkirakan sebesar ± 100 L/D. Unit Bronkaptering ini berupa bak terbuka dengan dinding dari konstruksi batu kali setinggi
± 1 m, yang berfungsi sebagai dinding penahan masuknya limpasan air hujan. Dalam perkembangannya sekitar tahun 2004 pada bagian atas bronkaptering tersebut dipasang penutup/atap dari seng.
Air dari bronkaptering ini pada awalnya sebagian dialirkan ke bak penampung Sarasuta II, sebagian lagi langsung ke daerah pelayanan Gunung Sari dan Senggigi. Akan tetapi saat ini pipa yang menuju bak penampung Sarasuta II sudah di tutup (di dop), sehingga aliran seluruhnya menuju daerah pelayanan Gunung Sari dan Senggigi dengan debit pengambilan sebesar 23 L/D.
Dalam upaya meningkatkan kapasitas sumber, pada tahun 2006 di sekitar lokasi bronkaptering dibangun 3 unit sumur berbentuk segi empat dengan kedalaman sekitar 2 m. Dinding Sumur I dan Sumur II terbuat dari pasangan batu kali, sedangkan Sumur III terbuat dari pasangan bata.
Ke tiga sumur tersebut saling berhubungan satu sama lain. Sumur I berhubungan dengan Sumur II melalui buis beton Ø 400 mm sepanjang ± 15 m, sedangkan Sumur II berhubungan dengan Sumur III melalui pipa PVC Ø 200 mm sepanjang ± 10 m. Air dari Sumur I mengalir ke Sumur II, selanjutnya mengalir ke Sumur III. Dari Sumur III air dialirkan ke reservoir Bug-Bug melalui pipa PVC Ø 300 mm sepanjang ± 2500 m.
Sistem pengaliran dari Sumur I hingga reservoir Bug-Bug dilakukan secara gravitasi. Berdasarkan informasi dari PDAM Mataram yang dimanfaatkan dari mata air Saraswaka untuk pelayanan Kota Mataram ini sebesar ± 66 L/det.
Bronkaptering Saraswaka
BUKU PUTIH SANITASI Profil Sanitasi Kota Mataram 80
Bronkaptering BBI (Balai Benih Ikan)
Untuk meningkatkan kapasitas sumber air baku, pada tahun 2006, PDAM membuat 2 unit bronkaptering di lokasi BBI (Balai Benih Ikan), berjarak ± 50 m dari bronkaptering Sarasuta. Dari 2 unit bronkaptering tersebut, hanya satu yang berhasil. Dari bronkaptering ini air dialirkan (di tappingkan) terhadap pipa transmisi dari Sumur III menuju reservoir Bug-Bug menggunakan pipa PVC Ø 300 mm. Pada saat kunjungan, kondisi bangunan bronkaptering Balai Benih Ikan (BBI) masih cukup baik. Debit yang dihasilkan dari Bronkaptering BBI ini sekitar ± 10 L/D.
Reservoir Bug-Bug mendapat pasokan air dari mata air Sarasuta sebesar
77 L/d dan dari mata air Saraswaka dan BBI sebesar 76 L/D. Selanjutnya air dari reservoir Bug-Bug I dan reservoir Bug-Bug II dialirkan secara gravitasi ke daerah pelayanan Kota Mataram.
Skema 4.
Sistem Pengaliran Pada Reservoir Bug-Bug
BUKU PUTIH SANITASI Profil Sanitasi Kota Mataram 81
Gambar 5. Jaringan Pipa Distribusi Sistem Penyediaan Air Minum Kota Mataram
BUKU PUTIH SANITASI Profil Sanitasi Kota Mataram 82 3.6. Komponen Sanitasi Lainnya
Pembangunan Kesehatan adalah bagian dari pembangunan nasional yang bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Berbagai kegiatan dilakukan untuk dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk hidup sehat, sehingga nantinya diharapkan masyarakat dapat menolong dirinya sendiri dibidang kesehatan.
3.6.1. Penanganan Limbah Industri dan Limbah Medis
Air Limbah di Kota Mataram bersumber dari limbah domestik yaitu rumah tangga dan limbah non domestik yaitu rumah tangga (Tahu Tempe), industri kerajinan emas dan perak, industri Tenun Ikat, Limbah Medis, dan Umum. Kapasitas air limbah Kota Mataram dari kelima sumber terendah 0,5 m3 /hari hingga tertinggi sebanyak 40 m3 /hari. Kapasitas air limbah terbesar berasal dari air limbah industri rumah tangga, industri tahu tempe yaitu sebesar 40 m3 /hari, sedangkan yang terkecil bersumber dari air limbah industri tenun ikat dan pabrik minyak goreng. Untuk industri kerajinan emas perak rata-rata air limbah secara kumulatif yang dibuang melalui saluran drainase sebanyak 0,01 m3/hari.
Permasalahan yang umum dijumpai dalam pembuangan air limbah tahu tempe terutama bagi industri-industri tahu tempe yang memiliki lokasi relatif dekat dengan sungai, dan beberapa diantaranya menggunakan saluran lingkungan sehingga seringkali menjadi masalah pencemaran udara terutama aroma yang kurang sedap. Sebagian diantaranya membuat saluran terpisah dari saluran lingkungan menggunakan piva PVC dengan kapasitas yang kurang memadai sehingga meluap dari bak penampung.
Untuk industri kerajinan emas dan perak rata-rata air limbah secara kumulatif yang dibuang melalui saluran drainase sebanyak 0`01 m3/hari. Air limbah yang dikeluarkan industri emas dan perak, selain serbuk emas dan perak juga dapat berupa air raksa dan beberapa zat kimia pelarut. Air limbah rumah tangga merupakan buangan air kotor dari rumah tangga dan fasilitas umum berupa air limbah manusia (tinja) dan air limbah bekas cucian dan mandi. Sistem on site dengan septictak tanpa peresapan, sedangkan air bekas cuci dan mandi pada umumnya disalurkan melalui saluran yang menyatu dengan saluran drainase.
Limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) adalah sisa suatu usaha dan atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan atau beracun yang karena sifat dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, dapat mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya.
Sebagaimana definisi B3 di atas, meskipun B3 sangat berbahaya bagi lingkungan hidup dan kesehatan manusia, namun banyak barang-barang yang menghasilKan B3 memang sangat dibutuhkan bagi kehidupan manusia, seperti sabun, pupuk, dan pestisida. Bahan berbahaya dan beracun (B3) umumnya
BUKU PUTIH SANITASI Profil Sanitasi Kota Mataram 83 digunakan pada sektor industri, pertanian, pertambangan dan rumah tangga.
Penggunaan B3 pada berbagai sektor tersebut juga akan menghasilkan limbah B3 yang memerlukan pengelolaan lebih lanjut. B3 adalah bahan yang karena sifat atau konsentrasi- nya dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup, dan atau membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia, serta makhluk hidup lainnya.
Di Kota Mataram salah satu sumber penghasil limbah B3 adalah Rumah Sakit dan klinik kesehatan (berupa sisa-sisa bahan kimia dari hasil pemeriksaan laboratorium dan limbah radioaktif hasil kegiatan rotgen) dan industri/bengkel kendaraan (menghasilkan percikan bahan bakar berupa oli dan sampah baterai dan accu). Limbah B3 tersebut berpotensi mencemari lingkungan karena mengandung logam/senyawa yang berbahaya bagi kesehatan. Untuk saat in limbah B3 yang berasal dari Rumah Sakit langsung dimusnahkan menggunakan Insinerator,sedangkan limbah B3 yang berasal dari bengel berupa oli dikumpulkan lalu dibawa/dijual ke perusahaan pengumpul di Surabaya
3.6.2. Kampanye PHBS
Indikator-indikator yang dipakai untuk melihat keadaan perilaku masyarakat adalah : Rumah tangga yang melaksanakan PHBS
Kegiatan Penyuluhan Masyarakat Pola Hidup Sehat pada Tahun 2008 bertujuan untuk tercapainya Rumah Tangga Sehat sebesar 56%. Bentuk kegiatan yang dilaksanakan adalah Survei PHBS yang dilaksanakan oleh petugas Puskesmas. Pada survey PHBS diharapkan terjadi diskusi, transfer pengetahuan dan memperkenalkan indikator PHBS yang bermasalah dengan ibu rumah tangga/kepala rumah tangga selaku responden.
Tabel 3.24. Hasil Pelaksanaan Survey PHBS di Kota Mataram Tahun 2008 No Indikator TARGET SPM/
Sumber : Data Primer Tahun 2008
BUKU PUTIH SANITASI Profil Sanitasi Kota Mataram 84 Berdasarkan Tabel di atas, pada tahun 2008 pencapaian Rumah Tangga Sehat di Kota Mataram meningkat sebesar 11,47% dibandingkan Tahun 2007.
Apabila dilihat dari 10 indikator PHBS, ada 5 indikator PHBS yang mencapai target yaitu :
1) Konsumsi sayur dan buah (baru mencapai 37,10% dari target 80%) 2) Tidak merokok (48,27% dari target 80%)
3) Kepesertaan JPKM (58,30% dari target 80%) 4) ASI Ekslusif (59,50% dari target 80%) 5) Kepadatan rumah (62,40% dari target 80%)
Perkembangan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) juga semakin meningkat. Meningkatnya budaya hidup sehat di kalangan masyarakat, dengan menciptakan lingkungan rumah tangga yang bersih, sehat serta memanfaatkan pekarangan melalui berbagai tanaman yang berguna untuk kesehatan dan kesejahteraan keluarga.
Tabel 3.25. Persentase Rumah Tangga Ber Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
Kecamatan Puskesmas RUMAH TANGGA
Dipantau Ber PHBS * %
Sumber : Profil Kesehatan Kesehatan Kota Mataram 2008
3.6.3. Program Air Minum dan Sanitasi
Program Air Minum dan Sanitasi atau WES (Water Envirioment Sanitation) merupakan program yang telah dilaksanakan sejak tahun 2008, kerjasama pemerintah Kota Mataram yang diwakili oleh POKJA AMPL dengan pihak UNICEF, sebagai leading adalah Dinas Kesehatan Kota Mataram.
Beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan antara lain : 1. Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS)
a. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) se-Dunia dan Hari Sanitasi Internasional yang jatuh pada tanggal 15 Oktober 2008. Kegiatan yang dipusatkan di Taman Bumi Gora, Jalan Udayana Mataram, dirangkai dengan Lomba mewarnai gambar dan mewarnai „bong‟ (bhs. Sasak; sejenis tong besar terbuat dari tanah liat) tingkat Siswa Sekolah Dasar, sebagai peserta terdiri dari 10 Sekolah Dasar (SD) di Kota Mataram.
BUKU PUTIH SANITASI Profil Sanitasi Kota Mataram 85 b. Kampanye Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) pada murid-murid Sekolah
Dasar pada 6 enam kelurahan, dilaksanakan pada 15 Oktober 2009, kegiatan dilaksanakan di Sekolah Dasar terpilih pada enam wilayah kelurahan Kota Mataram.
Gambar . Kegiatan Memperingati Hari CTPS Se-Dunia tahun 2008
Gambar . Kegiatan Kampanye CTPS di Sekolah Dasar tahun 2009
2. Lomba Sanitasi tingkat Kelurahan
Lomba ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang upaya penyehatan lingkungan dengan sasaran untuk meningkatkan motivasi kelurahan dalam pelayanan sanitasi dan meningkatkan kualitas lingkungan yang sehat dan bersih. Kegiatan dilaksanakan pada 6 kelurahan, 2 kelurahan dimulai sejak tahun 2008 dan pada tahun 2009 menjadi 6 kelurahan. Adapun kelurahan dan lingkungan yang ikut dalam lomba Sanitasi ini adalah sebagai berikut :
Tabel. 3.26 . Lokasi Kelurahan Peserta Lomba Sanitasi tingkat Kelurahan No Kecamatan / Kelurahan Lingkungan
1. Sandubaya Sumber : Bidang Sosbud Bappeda Kota Mataram, 2010
BUKU PUTIH SANITASI Profil Sanitasi Kota Mataram 86 3. Pelatihan Komposting Berbasis Komunitas
Kegiatan Sosialisasi, pelatihan dan bantuan peralatan Komposting Limbah sampah organik dilaksanakan pula pada enam kelurahan seperti tersebut di atas dengan jumlah peserta sebanyak 20 orang per kelurahan serta satu lokasi di Karang Buaya merupakan kelompok swadaya dengan anggota 10 orang.
Kegiatan dilaksanakana pada tahun anggaran 2009, dalam rangka penerpaan konsep 3R (Reuse, Reduce dan Recycling).
4. Penyusunan Awiq-awiq Lingkungan Bersih dan Sehat
Pada bulan Mei 2010, UNICEF bekerjasama dengan Kota Mataram, melalui POKJA AMPL memfasilitasi kegiatan musyawarah masyarakat di beberapa lingkungan pada enam kelurahan dalam rangka penyusunan Awiq-awiq Lingkungan Bersih dan Sehat.