• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Peran Pemerintah Daerah Dalam Pemberdayaan Masyarakat Petani Kopi di Desa Pebaloran Kecamatan Curio KabupatenPetani Kopi di Desa Pebaloran Kecamatan Curio Kabupaten

2. Penyediaan Fasilitas Pembiayaan dan Permodalan

Membahas pertanian memang tidak ada habisnya. Selalu muncul permasalahan yang melanda di lini hajat banyak ini. Permasalahan umum yang kerap terjadi di masyarakat antara lain, tidak didukung oleh sistem yang menunjang, sebagian besar petani masih memakai cara konvensional dan tradisional, tidak didukung oleh aspek teknologi, manajemen, serta pendanaan

yang kurang memadai. Seperti yang diungkapkan oleh Anwar seorang petani dalam wawancara sebagai berikut:

“Kami disini hanya menggunakan cara-cara yang lama karena kami hanya mengetahui cara itu. Lagipula dengan cara ini, hasil pertanian kami juga sudah cukup baik. Kami tidak tau bagaimana menggunakan teknologi dan teknologi bagaimana yang harus kami gunakan.”(Hasil wawancara AW, 3 Oktober 2014).

Menurut laporan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, salah satu faktor yang menyebabkan sektor pertanian Indonesia lemah yaitu sulitnya akses petani ke sumber modal yang ada. Akses petani melalui sektor perbankan yang sangat lemah dapat disebabkan karena: (1) petani tidak memiliki jaminan atau agunan guna mendapatkan kredit; (2) pertanian dianggap sebagai usaha yang memiliki risiko tinggi sehingga perbankan mengalami kesulitan dalam menyalurkan kreditnya; dan (3) skala kredit yang dibutuhkan rumah tangga petani sangat kecil (karena sempitnya lahan) sehingga tidak memenuhi skala kredit kecil dari perbankan.

Beberapa bulan terakhir masih terngiang di benak pikiran kita, harga bawang melonjak drastis di pasaran hampir merata di kota-kota besar, hal ini terjadi lantaran lemahnya kontrol perlindungan pemerintah terhadap petani. Hal ini dikatakan oleh AG selaku kepala Desa Pebaloran dalam wawancara sebagai berikut:

“Lemahnya kontrol pemerintah terhadap petani dapat kita lihat dari harga kopi yang kadang melonjak drastis dan kadang juga menurun darastis. Dengan kata lain tidak stabil.” (Hasil wawancara AG, tanggal 29 September 2014).

Hal ini juga dikeluhkan oleh petani kopi dalam wawancara sebagai berikut:

“Harga kopi di pasar sangat tidak stabil. Tiba-tiba melonjak dan tiba-tiba menurun drastis. Kami sangat mengaharapkan pemerintah bisa mengontrol harga di pasar agar ketika terjadi penurunan, kami tidak terlalu dirugikan”. (Hasil wawancara UM, tanggal 28 September 2014)

Perlindungan dan pemberdayaan petani bisa dilakukan dengan berbagai cara seperti melindungi petani dari kegagalan panen & risiko harga, meningkatkan kemandirian dan kedaulatan petani. Selain itu dengan memberikan kepastian usaha tani, menyediakan prasarana dan sarana, serta menumbuh kembangkan kelembagaan pembiayaan pertanian. Seperti yang dikatakan oleh

Dalam RUU Perlindungan dan Pemberdayaan Petani pasal 1 ayat (4) dijelaskan bahwa pertanian adalah kegiatan mengelola sumberdaya alam hayati dengan bantuan teknologi, modal, tenaga kerja, dan manajemen untuk menghasilkan komoditas pertanian yang mencakup tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan/atau peternakan dalam suatu agroekosistem. Sedangkan di pasal 1 ayat (3) dikatakan, petani adalah warga negara Indonesia perseorangan dan/atau beserta keluarganya yang melakukan usaha di bidang pertanian. Dengan adanya masalah modal yang sangat menyulitkan masyarakat petani, mereka sangat berharap bisa mendapat bantuan. Hal ini diungkapkan oleh petani kopi pada wawancara sebagai berikut:

“Disini yang kami butuhkan modal. Seandainya pemerintah mau membantu kami. Dulu kami dijanjikan bahwa aka nada koperasi untuk para petani agar petani bisa meminjam uang untuk modal, tetapi sampai sekarang belum ada”. (Hasil wawancara CL, tanggal 3 Oktober 2014).

Hal ini juga dikatakan oleh Petani kopi di desa pebaloran dalam wawancara sebagai berikut:

“Iya, memang dulu kelompok tani melalui ketuanya pernah meminta kepada kepala desa agar pemerintah membantu dalam hal modal. Salah satu cara yang kami ajukan adalah mendirikan koperasi, tapi sampai saat ini belum ada”. (Hasil wawancara CM, tanggal 1 Oktober 2014).

Modal merupakan hal yang paling utama dalam melakukan usaha apapun baik itu dalam bidang perdagangan maupun pertanian. Kekurangan modal selalu menjadi masalah klasik bagi sebagian besar pelaku usaha pertanian, termasuk petani kopi di Desa Pebaloran. Sayangnya hingga saat ini belum ada usaha dari petani di Desa Pebaloran untuk mengusahakan atau setidaknya membicarakan hal ini dengan pemerintah daerah. Mereka hanya menunggu kapan lagi ada bantuan dari pemerintah. Seperti yang di ungkapkan oleh AG selaku Kepala Desa Pebaloran.

“Sebenarnya masalah utama yang di hadapi oleh petani kopi di desa ini adalah masalah kurangnya modal, sementara harga pupuk dan biaya perawatan untuk kopi cukup besar. Sementara belum ada usaha dari pemerintah untuk mencari solusi dari masalah yang dihadapi petani. Bukan hanya petani desa Pebaloran yang mengalami masalah ini, saya rasa masalah modal juga menjadi masalah bagi para petani di daerah lain”

(Hasil Wawancara AG, tanggal 28 Oktober 2014).

Hal ini senada dengan yang diungkapkan oleh UM petani Kopi di Desa Pebaloran.

“Masalah kita para petani di sini, sebenarnya adalah masalah modal. Kita tidak punya banyak modal untuk membeli pupuk dan lain-lain, sementara tanaman kita bagus tidaknya tergantung dari pupuk itu. Kita jadi serba salah, sehingga kadang kita harus meminjam uang dulu baru bisa beli pupuk, sehingga kadang-kadang hasil penjualan kopi yang bisa kita

ambil cuma sedikit”. (Hasil wawancara UM, tanggal 1 Oktober 2014).

Dalam Pasal 7 Ayat (1) dijabarkan bagaimana Strategi perlindungan dan pemberdayaan petani sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ditetapkan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai kewenangannya dengan memperhatikan kebijakan perlindungan dan pemberdayaan petani. Ayat (2) nya mengatakan Strategi perlindungan petani dilakukan melalui prasarana dan sarana produksi pertanian, kepastian usaha, harga komoditas pertanian, Asuransi Pertanian, penghapusan praktik ekonomi biaya tinggi; dan pembangunan sistem peringatan dini dan penanganan dampak perubahan iklim.

Dan Ayat (3) nya menjelaskan tentang Strategi pemberdayaan petani dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan, penyuluhan dan pendampingan, pengembangan sistem dan sarana pemasaran hasil pertanian, pengutamaan hasil pertanian dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional, konsolidasi dan jaminan luasan lahan pertanian, penyediaan fasilitas pembiayaan dan permodalan, kemudahan akses ilmu pengetahuan, teknologi, dan informasi; dan penguatan kelembagaan petani.

Lantas siapa yang harus dilindungi, petani bagaimana yang masuk dalam kriteria perlindungan dan patut diberdayakan. Pasal 12 ayat (2) lebih rinci menerangkan kategori tersebut yakni, Perlindungan petani sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d diberikan kepada a.) Petani yang tidak mempunyai lahan yang mata pencaharian pokoknya adalah melakukan usaha tani. b.) Petani yang mempunyai lahan dan melakukan usaha

budidaya tanaman pangan pada luas lahan paling banyak 2 (dua) hektar; dan/atau c.) Petani hortikultura, pekebun, atau peternak yang tidak memerlukan izin usaha.

Adanya undang-undang tentang pemberdayaan petani ternyata tidak berpengaruh besar terhadap para petani, seperti yang dikatakan AG sebagai Kepala Desa Pebaloran sebagai berikut:

“Saya kira sudah ada undang-undang tentang pemberdayaan petani. Seharusnya kehidupan para petani tidak hanya di desa ini, tetapi di seluruh Indonesia bisa sedikit meningkat. Tetapi buktinya para petani malah semakin terpuruk.” (Hasil wawancara AG, tanggal 28 September 2014).

Hal ini juga sempat dikatakan oleh SS selaku sekertaris Desa Pebaloran dalam wawancara sebagai berikut:

“Dengan adanya undang-undang pemberdayaan petani seharusnya petani bisa sedikit terbantu. Baik itu dari sarana dan prasarana, modal maupun harga atau pemasarannya. Tetapi saya lihat undang-undang tersebut belum menyentuh petani di pelosok, buktinya petani di sini harus berkerja dengan usaha sendiri belum ada bantuan apapun dari pemerintah dalam masalah modal”. (Hasil wawancara SS, tanggal 30 September 2014).

Pernyataan di atas dibantah oleh AB sebagai Kepala Dinas Pertanian dalam wawancara sebagai berikut:

“Undang-undang tentang pemberdayaan petani memang sudah ada dan sebenarnya sudah dijalankan. Tetapi semuanya butuh proses, tidak mungkin semuanya bisa dijalankan sekaligus.

Pasti ada hambatan-hambatan yang membuat realisasi dari undang-undang tersebut terhambat. Baik itu dari pemerintah, lingkungan maupun petani itu sendiri”. (Hasil wawancara AB, tanggal 26 September 2014)

Pernyataan dari Ketua kelompok tani Dusun Minanga dalam wawancara sebagai berikut:

“Kami berharap agar bisa sedikit bersabar dan menunggu bantuan dari pemerintah. Kami juga meminta partisipasi dan kerjasama agar semua program yang kita rancang untuk mensejahterakan masyarakat petani bisa terealisasi dengan baik”. (Hasil wawancara tanggal TY, 2 Oktober 2014).

Dari beberapa hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa modal merupakan kendala utama yang dihadapi oleh para petani kopi di Desa Pebaloran, sementara itu masih banyak potensi dana di perbankan yang belum banyak dimanfaatkan untuk sektor pertanian. Untuk menjembatani kepentingan petani dan pihak perbankan diperlukan lembaga mediator agar kedua pihak dapat menjalin kerja sama usaha yang saling menguntungkan. Lembaga mediator ini bisa dari pemerintah misalnya dari dinas pertanian atau bisa juga dari petani itu sendiri misalnya ketua kelompok tani dari Desa Pebaloran.

Dokumen terkait