• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)

2.1.6 Penyelenggaraaan Jaminan Kesehatan Nasional

Dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional Bab V tentang cara penyelenggaraan JKN menerangkan :

1. Pendayagunaan Sumber Daya Manusia Kesehatan

a. Pemerintah bekerja sama dengan Pemerintah Daerah melakukan upaya penempatan tenaga kesehatan yang ditujukan untuk mencapai pemerataan yang berkeadilan dalam pembangunan kesehatan.

b. Dalam rangka penempatan tenaga kesehatan untuk kepentingan pelayanan publik dan pemerataan, Pemerintah/Pemerintah Daerah melakukan berbagai pengaturan untuk memberikan imbalan material atau non material kepada tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan didaerah yang tidak diminati, seperti: daerah terpencil, daerah sangat terpencil, daerah tertinggal, daerah pedesaan, pulau-pulau terluar dan terdepan, serta daerah bencana dan rawan konflik.

c. Dalam rangka pendayagunaan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi sesuai standar kompetensi yang telah dilaksanakan oleh Pemerintah, Pemerintah Derah, dan/atau swasta.

2. Pembinaan dan Pengawasan Mutu Sumber Daya Manusia Kesehatan

1) Pembinaan. Penyelenggaraan, pengembangan, dan pemberdayaan sumber daya manusia kesehatan di berbagai tingkatan dan/atau organisasi memerlukan komitmen yang kuat dari Pemerintah dan Pemerintah Daerah

serta dukungan peraturan perundang-undangan mengenai pengembangan dan pemberdayaan sumber daya manusia kesehatan tersebut.

2) Pembinaan dan pengawasan praktik profesi bagi tenaga kesehatan dilakukan melalui uji kompetensi, sertifikasi, registrasi, dan pemberian izin praktik/izin kerja bagi tenaga kesehatan yang memenuhi syarat.

3) Pengawasan sumber daya manusia kesehatan dilakukan untuk mencegah terjadinya pelanggaran etik/disiplin/hukum yang dilakukan oleh tenaga kesehatan maupun tenaga pendukung/penunjang kesehatan yang bekerja dalam bidang kesehatan. Pelanggaran etik dapat dikenakan sanksi etik oleh organisasi profesi yang bersangkutan. Pelanggaran disiplin dapat dikenakan sanksi disiplin sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Apabila pelanggaran tersebut menyebabkan kerugian kepada pihak lain, maka dalam rangka melindungi masyarakat, yang bersangkutan dapat dikenakan sanksi hukum sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.

3. Subsistem Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Makanan a. Pengertian

Subsistem sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan adalah pengelolaan berbagai upaya yang menjamin keamanan, khasiat/manfaat, mutu sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan. Sediaan farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional, dan kosmetika.

b. Tujuan

Tujuan penyelenggaraan subsistem sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan adalah berkhasiat/terdianya farmasi, alat kesehatan, dan makanan yang terjamin aman, berkhasiat/bermanfaat dan bermutu, dan khusus untuk obat dijamin ketersediaan dan keterjangkauannya guna menigkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.

c. Unsur-unsur

Unsur-unsur subsistem sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan terdiri dari:1) Komoditi; 2) Sumber daya 3) Pelayanan kefarmasian; 4) Pengawasan;dan 5) Pemberdayaan masyarakat.

Fasilitas sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan adalah peralatan atau tempat yang harus memenuhi kebijakan yang telah ditetapkan, baik difasilitas produksi, distribusi maupun fasilitas pelayanan kesehatan primer, sekunder, tersier. Pelayanan kefarmasian ditujukan untuk dapat menjamin penggunaan sediaan farmasi dan alat kesehatan, secara rasional, aman, dan bermutu di semua fasilitas pelayanan kesehatan dengan mengikuti kebijakan yang ditetapkan.

2.1 Program Rujuk Balik

2.2.1 Pengertian Program Rujuk Balik

Pelayanan program rujuk balik adalah pelayanan kesehatan yang diberikan kepada pasien penderita penyakit kronis yang merupakan peserta JKN dengan kondisi stabil yang telah mendapatkan layanan kesehatan di rumah sakit dan masih memerlukan pengobatan atau asuhan keperawatan jangka panjang, sehingga dirujuk untuk untuk kembali mendapatkan layanan kesehatan di faskes

tingkat pertama atau Puskesmas atas rekomendasi/rujukan dari Dokter Spesialis/Sub Spesialis yang merawat pasien di rumah sakit (BPJS Kesehatan, 2014).

Berdasarkan buku panduan prakis Program Rujuk Balik bagi peserta JKN bahwa yang dimaksud dengan pelayanan obat rujuk balik adalah pemberian obat-obatan untuk penyakit kronis di faskes tingkat pertama sebagai bagian dari program pelayanan rujuk balik (BPJS Kesehatan, 2014).

2.2.2 Manfaat Program Rujuk Balik 1. Bagi Peserta

a. Meningkatkan kemudahan akses pelayanan kesehatan;

b. Meningkatkan pelayanan kesehatan yang mencakup akses promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif;

c. Meningkatkan hubungan dokter dengan pasien dalam konteks pelayanan holistik;

d. Memudahkan untuk mendapatkan obat yang diperlukan 2. Bagi Faskes Tingkat Pertama

a. Meningkatkan fungsi Faskes selaku Gate Keeper dari aspek pelayanan komprehensif dalam pembiayaan yang rasional;

b. Meningkatkan kompetensi penanganan medik berbasis kajian ilmiah terkini (evidence based) melalui bimbingan organisasi/dokter spesialis;

c. Meningkatkan fungsi pengawasan pengobatan.

3. Bagi Faskes Rujukan Tingkat Lanjutan

a. Mengurangi waktu tunggu pasien di poli RS;

b. Meningkatkan kualitas pelayanan spesialistik di Rumah Sakit;

c. Meningkatkan fungsi spesialis sebagai koordinator dan konsultan manajemen penyakit (BPJS Kesehatan, 2014).

2.2.3 Ruang Lingkup Pogram Rujuk Balik 1. Jenis Penyakit

Jenis Penyakit yang termasuk Program Rujuk Balik adalah: 1) Diabetus Mellitus; 2) Hipertensi; 3) Jantung; 4) Asma; 5) Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK); 6) Epilepsy; 7) Schizophrenia; 8) Stroke; 9) Systemic Lupus Erythematosus (SLE).

Sesuai dengan rekomendasi Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia dan Komite Formularium Nasional, penyakit sirosis tidak dapat dilakukan rujuk balik ke

Faskes Tingkat Pertama karena :

a. Sirosis hepatis merupakan penyakit yang tidak curabel;

b. Tidak ada obat untuk sirosis hepatis;

c. Setiap gejala yang timbul mengarah kegawatdaruratan (misal : eshopageal bleeding); yang harus ditangani di Faskes Rujukan Tingkat Lanjutan;

d. Tindakan-tindakan medik untuk menangani gejala umumnya hanya dapat dilakukan di Faskes Rujukan Tingkat Lanjutan.

2. Jenis Obat

Obat yang termasuk dalam Obat Rujuk Balik adalah:

a. Obat Utama, yaitu obat kronis yang diresepkan oleh Dokter Spesialis/Sub Spesialis di Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan dan tercantum pada Formularium Nasional untuk obat Program Rujuk Balik.

b. Obat Tambahan, yaitu obat yang mutlak diberikan bersama obat utama dan diresepkan oleh dokter Spesialis/Sub Spesialis di Faskes Rujukan Tingkat Lanjutan untuk mengatasi penyakit penyerta atau mengurangi efek samping akibat obat utama (BPJS Kesehatan, 2014).

2.2.4 Mekanisme Pendaftaran Peserta Rujuk Balik

Peserta yang berhak memperoleh obat program rujuk balik adalah peserta dengan diagnosa penyakit kronis yang telah ditetapkan dalam kondisi terkontrol/stabil oleh Dokter Spesialis/Sub Spesialis dan telah mendaftarkan diri untuk menjadi peserta Program Rujuk Balik.

Adapun mekanisme pendaftaran peserta program rujuk balik yaitu :

1. Peserta mendaftarkan diri pada petugas Pojok Program Rujuk Balik dengan menunjukan :

a. Kartu Identitas peserta BPJS Kesehatan;

b. Surat Rujuk Balik (SRB) dari dokter spesialis;

c. Surat Elijibilitas Peserta (SEP) dari BPJS Kesehatan;

d. Lembar resep obat/salinan resep.

2. Peserta mengisi formulir pendaftaran peserta Program Rujuk Balik.

3. Peserta menerima buku kontrol Peserta Program Rujuk Balik (BPJS Kesehatan, 2014).

Mekanisme pendaftaran peserta rujuk balik dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 2.1 Mekanisme Pendaftaran Peserta Program Rujuk Balik 2.2.5 Mekanisme Pelayanan Obat Program Rujuk Balik

Adapun mekanisme pelayanan obat program rujuk balik yaitu : 1. Pelayanan pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama

a. Peserta melakukan kontrol ke Faskes Tingkat Pertama (tempatnya terdaftar) dengan menunjukkan identitas peserta BPJS, SRB dan buku kontrol peserta PRB.

b. Dokter Faskes Tingkat Pertama melakukan pemeriksaan dan menuliskan resep obat rujuk balik yang tercantum pada buku kontrol peserta PRB.

2. Pelayanan pada Apotek/depo Farmasi yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan untuk pelayanan obat PRB yaitu dilaksanakan melalui mekanisme:

a. Peserta menyerahkan resep dari Dokter Faskes Tingkat Pertama;

b. Peserta menunjukkan SRB dan Buku Kontrol Peserta.

3. Pelayanan obat rujuk balik dilakukan 3 kali berturut-turut selama 3 bulan di Faskes Tingkat Pertama.

4. Setelah 3 (tiga) bulan peserta dapat dirujuk kembali oleh Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama ke Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan untuk dilakukan evaluasi oleh dokter spesialis/subspesialis.

5. Pada saat kondisi peserta tidak stabil, peserta dapat dirujuk kembali ke dokter Spesialis/Sub Spesialis sebelum 3 bulan dan menyertakan keterangan medis dan/atau hasil pemeriksaan klinis dari dokter Faskes Tingkat Pertama yang menyatakan kondisi pasien tidak stabil atau mengalami gejala/tanda-tanda yang mengindikasikan perburukan dan perlu penatalaksanaan.

6. Apabila hasil evaluasi kondisi peserta dinyatakan masih terkontrol/stabil oleh dokter spesialis/subspesialis, maka pelayanan program rujuk balik dapat dilanjutkan kembali dengan memberikan SRB baru kepada peserta (BPJS Kesehatan, 2014).

2.2.6 Ketentuan Pelayanan Obat Program Rujuk Balik

Adapun ketentuan pelayanan obat Program Rujuk Balik yaitu :

1. Obat PRB diberikan untuk kebutuhan maksimal 30 (tiga puluh) hari setiap kali peresepan dan harus sesuai dengan Daftar Obat Formularium Nasional untuk Obat Program Rujuk Balik serta ketentuan lain yang berlaku.

2. Perubahan/penggantian obat program rujuk balik hanya dapat dilakukan oleh Dokter Spesialis/sub spesialis yang memeriksa di Faskes Tingkat Lanjutan dengan prosedur pelayanan RJTL. Dokter di Faskes Tingkat Pertama melanjutkan resep yang ditulis oleh Dokter Spesialis/sub-spesialis dan tidak

berhak merubah resep obat PRB. Dalam kondisi tertentu Dokter di Faskes Tingkat Pertama dapat melakukan penyesuaian dosis obat sesuai dengan batas kewenangannya.

3. Obat PRB dapat diperoleh di Apotek/depo farmasi yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan untuk memberikan pelayanan Obat PRB.

4. Jika peserta masih memiliki obat PRB, maka peserta tersebut tidak boleh dirujuk ke Faskes Rujukan Tingkat Lanjut, kecuali terdapat keadaan emergency atau kegawatdaruratan yang menyebabkan pasien harus konsultasi ke Faskes Rujukan Tingkat Lanjut (BPJS Kesehatan, 2014).

2.2.7 Program Rujuk Balik untuk Penyakit Hipertensi

Kasus hipertensi yang dirujuk ialah penderita hipertensi nonesensial yakni hipertensi sekunder yang terjadi karena adanya penyebab lain yang mendasari atau penyakit hipertensi dalam kategori sedang dan berat. Segala kondisi hipertensi nonesensial harus mendapatkan pengobatan di dokter spesialis terlebih dahulu, untuk nantinya dilakukan rujukan balik apakah kondisi pasien cukup stabil untuk ditangani di Puskesmas. Contohnya dari kasus ini adalah hipertensi yang terdapat pada pasien dengan stroke, cedera kepala, gagal jantung, diabetes melitus tak terkontrol, penyakit gangguan ginjal dan penyakit-penyakit lain yang menimbulkan komplikasi hipertensi.

Pada kasus hipertensi esensial, kebijakan rujukan baru dapat dilakukan apabila pasien telah diterapi selama 2-3 bulan sesuai dengan panduan terapi pada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 5 tahun 2014 namun target tekanan darah tidak tercapai sehingga perlu dirujuk ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut untuk

rumah sakit untuk mendapatkan layanan kesehatan dari dokter spesialis, apabila target penurunan tekanan darah telah tercapai, maka pasien akan kembali dirujuk (rujuk balik) untuk mendapatkan layanan kesehatan di fasilitas kesehatan primer atau Puskesmas). Prinsip dalam pemberian terapi hipertensi haruslah ada kerjasama antara pasien dengan tenaga kesehatan sehingga selain modifikasi gaya hidup pasien juga harus rutin melakukan kunjungan untuk evaluasi terapi yang diberikan. Berikut adalah guideline pengobatan hipertensi sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 5 tahun 2014, mengenai panduan praktek klinis bagi dokter di faskes primer yang dikombinasikan dengan indikasi rujukan.

Pasien tidak perlu didampingi oleh tenaga medis apabila dirujuk ke poliklinik penyakit dalam dengan kondisi stabil, namun bila terdapat krisis hipertensi (Diastole > 140), pasien wajib didampingi oleh tenaga medis dengan ambulan transport yang memadai, setelah sebelumnya dokter menghubungi pihak rumah sakit tujuan, untuk dipastikan pasien tersebut mendapatkan kamar (Kemenkes RI, 2014).

2.3 Hipertensi

2.3.1 Pengertian Hipertensi

Penyakit tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah salah satu jenis penyakit pembunuh paling terbesar di dunia saat ini. Usia merupakan salah satu faktor risiko hipertensi. Lebih banyak dijumpai bahwa penderita penyakit tekanan darah tinggi atau hipertensi pada usia senja (Fauzi, 2014).

Hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah > 40/90 mmHg.

Hipertensi diklasifikasikan atas hipertensi primer (esensial) (90-95%) dan

hipertensi sekunder (5-10%). Dikatakan hipertensi primer bila tidak ditemukan penyebab dari peningkatan tekanan darah tersebut, sedangkan hipertensi sekunder disebabkan oleh penyakit/keadaan seperti feokromositoma, hiperaldosteronisme primer (sindroma Conn), sindroma Cushing, penyakit parenkim ginjal dan renovaskuler, serta akibat obat (Bakri, 2014).

Seseorang divonis hipertensi bila tekanan darahnya jauh melebihi batas normal. Batas normal tersebut 120/80 mmHg yang berarti tekanan sistolik 120 mmHg dan tekanan diastolik 80 mmHg. Hipertensi ada banyak macamnya sesuai dengan kondisi tekanan masing-masing penderitanya. Pengukuran tekanan darah dapat dilakukan oleh dokter atau petugas kesehatan di laboratorium kesehatan.

Saat mengukur tekanan darah seharusnya pasien untuk duduk istirahat selama lebih kurang 5 menit agar tidak terjadi kekeliruan membaca data saat pengukuran (Susilo dan Wulandari, 2013).

2.3.2 Klasifikasi Hipertensi

Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibedakan menjadi dua golongan yaitu hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer atau hipertensi esensial adalah suatu kondisi di mana terjadinya tekanan darah tinggi sebagai akibat dampak dari gaya hidup seseorang dan faktor lingkungan. Hipertensi sekunder atau hipertensi renal merupakan suatu kondisi dimana terjadinya peningkatan tekanan darah tinggi sebagai akibat seseorang mengalami/menderita penyakit lainnya seperti gagal jantung, gagal ginjal, atau kerusakan sistem hormon tubuh (Fauzi, 2014).

Klasifikasi hipertensi menurut gejala dibedakan menjadi dua yaitu hipertensi benigna dan hipertensi maligna. Hipertensi benigna merupakan keadaan hipertensi yang tidak menimbulkan gejala-gejala, biasanya ditemukan saat penderita check up atau melakukan pemeriksaan. Hipertensi maligna merupakan keadaan hipertensi yang membahayakan biasanya disertai keadaan kegawatan sebagai akibat komplikasi pada organ-organ seperti otak, jantung dan ginjal (Julius, 2014)

2.3.3 Gejala Hipertensi

Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala yang khusus. Meskipun secara tidak sengaja, beberapa gejala yang bersamaan dan dipercaya berhubungan dengan hipertensi. Gejala yang dimaksud adalah sakit kepala, perdarahan dari hidung (mimisan), migren, atau sakit kepala sebelah, wajah kemerahan, mata berkunang-kunang, sakit tengkuk, dan kelelahan (Susilo dan Wulandari, 2013).

Hipertensi dapat diketahui dengan mengukur tekanan darah secara teratur.

Penderita hipertensi, apabila tidak ditangani dengan baik, akan mempunyai resiko besar untuk meninggal karena komplikasi kardiovaskular seperti stroke, serangan jantung, gagal jantung, dan gagal ginjal (Fauzi, 2014).

2.3.4 Faktor-faktor Risiko Hipertensi

Adapun faktor-faktor resiko hipertensi ialah : 1. Faktor Risiko yang Tidak Dapat Dikontrol

a) Usia

Kepekaan terhadap hipertensi akan meningkat seiring dengan bertambahnya umur seseorang. Individu yang berumur di atas 60 tahun, 50-60%

mempunyai tekanan darah lebih besar atau sama dengan 140/90 mmHg. Hal itu merupakan pengaruh degenerasi yang terjadi pada orang yang bertambah usianya.

Bukan berarti kita harus takut dengan bertambahnya usia. Proses menua adalah hal alami yang tidak bisa kita hindari. Namun, menjadi tua dengan tetap sehat adalah hal yang bisa kita usahakan sejak dini (Susilo dan Wulandari, 2013).

b) Jenis kelamin

Jenis kelamin mempunyai pengaruh penting dalam regulasi tekanan darah.

Sejumlah fakta menyatakan hormon seks mempengaruhi sistem renin angiotensin.

Secara umum tekanan darah pada laki – laki lebih tinggi daripada perempuan.

Pada perempuan risiko hipertensi akan meningkat setelah masa menopause yang mununjukkan adanya pengaruh hormon (Julius, 2014).

c) Riwayat keluarga

Perjalanan penyakit hipertensi sangat perlahan. Penderita hipertensi mungkin tidak menunjukkan gejala selama bertahun – tahun. Masa laten ini menyelubungi perkembangan penyakit sampai terjadi kerusakan organ yang bermakna. Bila terdapat gejala biasanya bersifat tidak spesifik, misalnya sakit kepala atau pusing. Gejala lain yang sering ditemukan adalah epistaksis, mudah marah, telinga berdengung, rasa berat di tengkuk, sukar tidur, dan mata berkunang-kunang. Apabila hipertensi tidak diketahui dan tidak dirawat dapat mengakibatkan kematian karena payah jantung, infark miokardium, stroke atau

gagal ginjal. Namun deteksi dini dan parawatan hipertensi dapat menurunkan jumlah morbiditas dan mortalitas (Julius, 2014).

2. Faktor Risiko yang Dapat Dikontrol a) Konsumsi garam

Hipertensi memang bisa dipicu oleh kelebihan asupan garam didalam tubuh tertutama yang berasal dari makanan-makanan gurih dan makanan cepat saji. Namun demikian kekurangan garam juga tidak baik bagi kesehatan. Oleh karena itu, kita tetap harus mengkonsumsi garam dalam jumlah cukup sesuai dengan keperluan (Susilo dan Wulandari, 2013).

b) Obesitas

Kegemukan (obesitas) juga merupakan salah satu faktor yang menyeabkan timbulnya berbagai macam penyakit berat, salah satunya hipertensi. Penelitian epidemiologi menyebutkan adanya hubungan antara berat badan dengan tekanan darah baik pada pasien hipertensi maupun nonhipertensi. Pada populasi yang tidak ada peningkatan berat badan seiring umur, tidak dijumpai peningkatan tekanan darah sesuai peningkatan umur. Yang sangat mempengaruhi tekanan darah adalah kegemukan pada tubuh bagian atas dengan peningkatan jumlah lemak pada bagian perut atau kegemukan terpusat (Susilo dan Wulandari, 2013).

c) Konsumsi Rokok

Merokok menjadi salah satu faktor risiko hipertensi yang dapat di modifikasi. Merokok merupakan faktor risiko yang potensial untuk ditiadakan dalam upaya melwan arus peningkatan hipertensi khususnya dan penyakit kardiovaskuler secara umum di Indonesia (Susilo dan Wulandari, 2013).

d) Konsumsi Alkohol

Alkohol juga sering dihubungkan dengan hipertensi. Orang yang minum alkohol terlalu sering atau terlalu banyak memiliki tekanan darah yang lebih tinggi daripada individu yang tidak minum atau minum sedikit. Pada penelitian epidemiologi dengan pendekatan cross sectional rata-rata tekanan darah meningkat bila intake alkohol diatas tiga gelas per hari. Pada penderita hipertensi yang konsumsi alkoholnya tinggi, tekanan darah akan menurun dengan menurunnya konsumsi alcohol (Susilo dan Wulandari, 2013)

e) Stress

Stress akan meningkatkan resistensi pembuluh darah perifer dan curah jantung sehingga akan menstimulasi aktivitas saraf simpatetik. Adapun stress ini dapat berhubungan dengan pekerjaan, kelas sosial, ekonomi, dan karakteristik personal. Stress tidak hanya memicu timbulnya hipertensi, tetapi juga banyak penyakit fisik berat lainnya yang disebabkan oleh stress (Susilo dan Wulandari, 2013).

f) Olahraga

Meskipun tekanan darah meningkat secara tajam, ketika berolah raga secara teratur akan lebih sehat dan memiliki tekanan darah yang lebih rendah daripada mereka yang tidak melakukan olah raga. Hal ini sebagian disebabkan karena mereka yang berolah raga makan secara lebih sehat, tidak merokok, dan tidak minum banyak alkohol, meskipun olah raga juga tampaknya memiliki pengaruh langsung terhadap menurunnya tekanan darah .(Susilo dan Wulandari, 2013).

2.4 Puskesmas

2.4.1 Pengertian Puskesmas

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat menjelaskan bahwa fasilitas pelayanan kesehatan adalah suatu tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah dan/atau masyarakat. Adapun yang dimaksud dengan Pusat Kesehatan Masyarakat yang selanjutnya disebut Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya.

2.4.2 Tujuan Puskesmas

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat menjelaskan bahwa pembangunan kesehatan yang diselenggarakan di Puskesmas bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang:

a. Memiliki perilaku sehat yang meliputi kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat;

b. Mampu menjangkau pelayanan kesehatan bermutu;

c. Hidup dalam lingkungan sehat; dan

2.4.3 Fungsi Puskesmas

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat menjelaskan bahwa Puskesmas mempunyai tugas melaksanakan kebijakan kesehatan untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya dalam rangka mendukung terwujudnya kecamatan sehat. Dalam melaksanakan tugas tersebut Puskesmas menyelenggarakan fungsi yaitu untuk :

a. Penyelenggaraan UKM (Upaya Kesehatan Masyarakat) ingkat pertama di wilayah kerjanya; dan

b. Penyelenggaraan UKP (Upaya Kesehatan Perseorangan) tingkat pertama di wilayah kerjanya.

2.4.4 Upaya Kesehatan di Puskesmas

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat menjelaskan bahwa Puskesmas menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat tingkat pertama dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama yang dilaksanakan secara terintegrasi dan berkesinambungan. Upaya kesehatan masyarakat tingkat pertama meliputi upaya kesehatan masyarakat esensial dan upaya kesehatan masyarakat pengembangan.

1. Upaya kesehatan masyarakat esensial yang harus diselenggarakan oleh setiap Puskesmas untuk mendukung pencapaian standar pelayanan minimal kabupaten/kota bidang kesehatan, meliputi:

a. Pelayanan promosi kesehatan;

b. Pelayanan kesehatan lingkungan;

c. Pelayanan kesehatan ibu, anak, dan keluarga berencana;

d. Pelayanan gizi; dan

e. Pelayanan pencegahan dan pengendalian penyakit.

Upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama sebagaimana dilaksanakan dalam bentuk:

a. Rawat jalan;

b. Pelayanan gawat darurat;

c. Pelayanan satu hari (one day care);

d. home care; dan/atau

e. Rawat inap berdasarkan pertimbangan kebutuhan pelayanan kesehatan.

2. Upaya kesehatan masyarakat pengembangan merupakan upaya kesehatan masyarakat yang kegiatannya memerlukan upaya yang sifatnya inovatif dan/atau bersifat ekstensifikasi dan intensifikasi pelayanan, disesuaikan dengan prioritas masalah kesehatan, kekhususan wilayah kerja dan potensi sumber daya yang tersedia di masing-masing Puskesmas.

2.5 Kerangka Pikir Penelitian

Berdasarkan tinjauan pustaka yang telah dijabarkan diatas, maka kerangka pikir dalam penelitian ini adalah :

Gambar 2.2 Kerangka Pikir Penelitian

Puskesmas (FKTP) Rumah Sakit

(FKTL)

Pelaksanaan Program Rujuk Balikdalam

Era JKN pada Penyakit Hipertensi

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah survey bersifat deskriptif dengan menggunakan metode penelitian kualitatif untuk mendeskripsikan permasalahan penelitian yang ingin diteliti yakni mengenai pelaksanaan program rujuk balik dalam era JKN pada penyakit hipertensi di Puskesmas Salak Kabupaten Pakpak Bharat tahun 2017 .

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian

Lokasi dalam penelitian ini dilakukan di Puskesmas Salak Kabupaten Pakpak Bharat. Alasan pemilihan lokasi ini karena tingginya angka rujukan pada kasus penyakit hipertensi yang ada di wilayah kerja Puskesmas Salak Kabupaten Pakpak Bharat, sedangkan pasien hipertensi yang dirujuk balik, jumlahnya dinilai masih sedikit.Pada tahun 2016 jumlah kunjungan pasien hipertensi sebanyak 198 orang dengan jumlah pasien yang dirujuk sebanyak 157 orang (79,29%) dan yang dirujuk balik hanya sebanyak 58 orang (36,9%), dan tahun 2017 jumlah kunjungan pasien hipertensi sebanyak 204 orang dengan jumlah pasien yang

Lokasi dalam penelitian ini dilakukan di Puskesmas Salak Kabupaten Pakpak Bharat. Alasan pemilihan lokasi ini karena tingginya angka rujukan pada kasus penyakit hipertensi yang ada di wilayah kerja Puskesmas Salak Kabupaten Pakpak Bharat, sedangkan pasien hipertensi yang dirujuk balik, jumlahnya dinilai masih sedikit.Pada tahun 2016 jumlah kunjungan pasien hipertensi sebanyak 198 orang dengan jumlah pasien yang dirujuk sebanyak 157 orang (79,29%) dan yang dirujuk balik hanya sebanyak 58 orang (36,9%), dan tahun 2017 jumlah kunjungan pasien hipertensi sebanyak 204 orang dengan jumlah pasien yang

Dokumen terkait