• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : STRATEGI PEMASARAN DALAM

D. HAJI DAN UMRAH

3. Penyelenggaraan ibadah haji dan umroh

Penyelenggaraan ibadah haji adalah rangkaian kegiatan yang meliputi pembinaan, pelayanan, dan perlindungan pelaksanaan ibadah haji. Sedangkan pembinaan ibadah haji adalah rangkaian kegiatan yang mencangkup penerangan, penyuluhan dan pembimbingan tentang haji (Imam Syaukani, 2009:1) dalam UU

68 No. 13 tahun 2008 tentang penyelenggaran ibadah haji dijelaskan bahwa penyelenggaraan ibadah haji adalah rangkaian kegiatan pengelolaan, pelaksanaan ibadah haji yang meliputi pembinaan, pelayanan, dan perlindungan jamaah haji.

Penyelenggaran ibadah haji bertujuan untuk memberikan pembinaan, pelayanan, dan perlindungan yang sebaik-baiknya melalui sistem dan manajemen penyelenggaran yang baik agar pelaksanaan ibadah haji dapat berjalan dengan aman, tertib, lancar dan nyaman sesuai dengan tuntutan agama serta jamaah haji dapat melaksanakan ibadah haji secara mandiri sehingga diperoleh haji mabrur, dalam rangka menata sistem dan mekanisme penyelenggaran ibadah haji di Indonesia, pemerintah sudah berupaya maksimal, yakni dengan bukti terbentuknya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 1999 tentang penyelenggaraan ibadah haji (Depag RI, 2002:4-6)

Peraturan Pelaksanaan haji melibatkan banyak lembaga pemerintah dan non pemerintah yang bertugas sesuai dengan fungsi dan peran masing-masing, sehingga tidak mungkin ditangani oleh satu lembaga saja. Didalam negeri jamaah haji, khusunya Indonesia, masalah haji ditangani oleh kementrian agama dengan melibatkan yang lain dan unsur masyarakat seperti depertemen kesehatan, departemen perhubungan, departemen dalam negeri, perusahaan penerbangan, biro perjalanan umum serta unsur masyarakat lainya, sedangkan di

69

Arab Saudi ditangani oleh negara dengan melibatkan kementrian Haji Arab Saudi.

Karena melibatkan hubungan antar pemerintah dan banyak pihak serta yang secara intitusional mempunyai wewenang terhadap pelaksanaan haji, maka diperlukan suatu sistem untuk menangani haji, dan dalam kaitan inilah organisasi pelaksanaan haji berperan dalam mengurus, mengelola, menatalaksana, dan mengatur pelaksanaan haji(Nidjam,2008:23).

Selanjutnya agar penyelenggaraan ibadah haji khusus diberikan kepada penyelenggaran perjalan umroh yang telah mendapatkan izin dari mentri untuk melakukan penyelenggaran haji khusus dan di awasi oleh komisi pengawas haji indonesia (KPHI) yang merupakan lembaga mandiri yang dibentuk untuk melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan ibadah haji. Penyelenggaraan ibadah haji dilaksanakan berasarkan asas keadilan, profesionalitas dan akuntabilisasi dengan prinsip nirbala. Sehingga jamaah haji dapat menunaikan ibadahnya sesuai dengan ketentuan ajaran agama islam.

Nadjam dan hanan dalam buku(Nahrawi, 2009:1) menjelaskan, terdapat enam unsur pokok dalam penyelenggaran ibadah haji yang harus diperhatikan: (1) calon haji, (2) pembiayaan, (3) kelengkapan administrasi, (4) sarana transportasi, (5) hubungan bilateral antar negara, (6) organisasi pelaskanaan. Enam unsur tersebut saling berhubungan satu sama

70 lain, dimana keenam mempersyaratkan jaminan dalam penyelenggaraan ibadah haji yang berkaitan dengan: pertama, jamaah haji yang telah mendaftar sah dan mematuhi syarat dapat diberangkatkan ke arab saudi, ketiga, seluruh jamaah haji yang telah berada ditanah suci dapat memenuhi akomodasi, konsumsi, dan transportasi, ketiga, seluruh jamaah haji yang telah berada ditanah suci dapat menjalankan ibadah wukuf diarafah dan rukun haji lainya, dan empat, jamaah haji yang telah menunaikan ibadah haji seluruhnya dapat dipulangkan ke daerah asal dengan selamat.

Adapun hal-hal yang berkaitan dengan penyelenggaran haji dan umroh yang diatur dalam UU adalah sebagai berikut:

1. Hak jamaah haji

Jamaah haji memperoleh pembinaan, pelayanan, dan perlindungan dalam menjalankan ibadah haji, seperti: a) pembinaan manasik haji, b) pelayanan akomodasi, transportasi, dan pelayanan kesehatan baik ditanah air, perjalan dan di arab saudi, c) perlindungan sebagai WNI, d) penggunaan paspor dan dokumen yang diperlukan dalam pelaksanaan ibadah haji, dan e)pemberian kenyamanan dalam transportasi dan pemondokan selama ditanah air dan diarab saudi dan saat kepulangan di tanah air.

71

2. Panitia penyelenggaraan ibadah haji

Pelaksana penyelenggaraan ibadah haji diatur dalam UU dibawah pengawasan pemerintah dan koordinator oleh menteri. Panitia penyelenggaraan ibadah haji (KPIH) merupakan panitia pelaksana penyelenggaraan ibadah haji yang memiliki tugas dalam melakukan penyelenggaraan ibadah haji terdiri dari: a) tim pemandu haji indonesia, b)tim pembimbing ibadah haji indonesia, c) tim kesehatan haji indonesia biaya penyelenggara haji.

3. Komisi pengawas ibadah haji

Komisi pengawas ibadah haji dibentuk untuk melakukan pengawasan dalam rangka meningkatkan pelayanan penyelenggaraan ibadah haji yang bertanggung jawab langsung kepada presiden. KPIH memiliki fungsi sebagai berikut: a) memantau dan menganalisa kebijakan operasional peyelenggaraan ibadah haji b) menganalisa hasil pengawasan dari pengawas masyarakat, c) menerima masukan dan saran masyarakat dalam penyelenggaraan ibadah haji, d) merumuskan pertimbangan dan saran dalam penyempurnaan penyelenggaraan ibadah haji.

4. Pendaftaran dan kuota

Pendaftaran jamaah haji dilakukan dipanitia penyelenggaraan ibadah haji dengan mengikuti prosedur dan mematuhi persyaratan yang telah ditetapkan. Menteri

72 menetapkan kuota nasional, kuota haji khusus dan kuota provinsi dengan memperhatikan prinsip adil dan proposional.

5. Pembinaan

Dalam rangka pembinaan ibadah haji pembinaan dilakukan sesuai dengan mekanisme dan prosedur pembinaan ibadah haji. Pembinan tersebut berupa pedoman pembinaan, tuntutan manasik dan panduan perjalanan ibadah haji. 6. Kesehatan

Pembinaan dan pelayanan kesehatan jamaah haji baik saat persiapan pelaksanaan penyelenggaraan ibadah haji dilakukan oleh menteri dalam ruang lingkup tugas dan tanggung jawabnya dibidang kesehatan. Pemeriksaan kesehatan dilakukan 2 kali, mula-mula dilakukan pemeiksaan dipuskesmas setempat kemudian dirumah sakit daerah milik pemerintah untuk pemeriksaan miningitis jika ada kemungkinan penyakit beresiko tinggi maka dilakukan pemantauan dokter. Biaya pemeriksaan kesehatan calon jamaah haji ditetapkan melalui surat keputusan (SK) Walikota.

7. Transportasi

Pelayanan transportasi jamaah haji di Arab saudi dan pemulangannya ketempat embarkasi asal di Indonesia merupakan tanggung jawab menteri dan berkoordinasi

73

dengan menteri yang ruang lingkup tugas dan tanggung jawabnya dibidang perhubungan. Penunjukan pelaksanaan transportasi jamaah dilakukan dengan memperhatikan aspek keamanan, keselamatan, kenyamanan dan efisiensi.

8. Akomodasi

Akomodasi bagi jamaah haji harus memenuhi standar dengan memperhatikan aspek kesehatan, keamanan, kenyamanan, dan kemudahan jamaah haji beserta barang bawaannya.

74

Dokumen terkait