• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : PENGATURAN HUKUM TENTANG PENGANGKUTAN

E. Penyelenggaraan Pengangkutan Barang dengan

Bentuk penyelenggaraan pengangkutan barang dengan angkutan darat dapat berupa :41

1. Kegiatan di Terminal Pemberangkatan

Setiap kendaraan bermotor yang dioperasikan dijalan harus sesuai dengan peruntukannya, memenuhi persyaratan teknis, dan layak jalan, serta sesuai dengan kelas jalan yang dilalui. Agar kendaraan bermotor itu memenuhi persyaratan teknis dan layak jalan, wajib diuji tipe dan uji berkala yang dibuktikan dengan tanda bukti lulus uji. Dalam surat tanda bukti uji dicantumkan daya angkut

40

Abdulkadir Muhammad, Op. Cit., hal. 154.

41

maksimum kendaraan bermotor. Setiap kendaraan bermotor yang disediakan oleh pengangkut selalu dalam keadaan memenuhi syarat keselamatan agar dapat sampai di tempat tujuan dengan selamat.

Setelah terjadi kesepakatan antara penumpang atau pengiri mengenai pengangkutan dengan kendaraan bermotor, yang pertama kali diselesaikan adalah pembayaran biaya pengangkutan dan penerbitan dokumen pengangkutan.Atas dasar dokumen tersebut, pengangkut (perusahaan pengangkutan umum) menyiapakan kendaraan bermotor di terminal pemberangkaan atau ditempat yang telah disepakati sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Penumpang yang sudah memiliki karcis dapat naik ke kendaraan bermotor (bus umum, bus kota), atau barang yang akan diangkut dimuat kedalam kendaraan bermotor (truk, boks). Kegiatan ini terdapat pada pengangkutan antarkota/antarprovinsi.Setelah pemuatan selesai, pengangkut atau sopir yang mewakilinya menyiapakan keberangkatan kendaraan bermotor sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. 2. Pelaksanaan Pengangkutan Darat

Untuk kelancaran dan keselamatan pengangkutan darat, setiap pengemudi kendaraan bermotor wajib memiliki surat izin mengemudi. Surat izin mengemudi merupakan tanda bukti kecakapan dan keabsahan pengemudi untuk mengemudikan kendaraan bermotor dijalan dan dapat pula digunakan sebagai identitas pengemudi.

Untuk menjamin keselamatan lalu lintas dan pengangkuta dijalan, perusahaan pengangkutan umum wajib mematuhi ketentuan mengenai waktu kerja dan waktu istirahat bagi pengemudi.Pengaturan ini perlu, mengingat factor kelelahan dan kejenuhan sangat berpengaruh terhadap kemampuan pengemudi

dalam mengemudikan kendaraan bermotor secara wajar.Oleh karena itu, pergantian pengemudi setelah menempuh jarak dan waktu tertentu mutlak diperlukan untuk melindungi keselamatan pengemudi, penumpang, pemilik barang, dan pengguna jalan lainnya.

Untuk keselamatan, keamanan, serta ketertiban lalu lintas dan pengangkutan jalan, pejabat yang ditunjuk Undang-Undang diberi kewenangan untuk melakukan pemeriksaan kendaraan bermotor dijalan. Pemeriksaan kendaran bermotor dijalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 264 tersebut meliputi:

a. Surat Izin Mengemudi, Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor, Surat Tanda Coba Kendaraan Bermotor, Tanda Nomor Kendaraan Bermotor, atau Tanda Coba Kendaraan Bermotor

b. Tanda bukti lulus uji bagi kendaraan wajib uji c. Fisik Kendaraan Bermotor

d. Daya angkut dan/atau cara pengangkutan barang, dan e. Izin penyelenggaraan angkutan.

Melalui kewenangan pejabat yang melakukan pemeriksaan tersebut diharapkan proses penyelenggaraan pengangkutan darat berlangsung dengan tertib, aman, dan selamat tiba ditempat tujuan.

Selama proses pengangkutan berlangsung, pengemudi pengangkutan umum diberi kewenangan untuk menurunkan penumpang atau barang yang diangkut ditempat pemberhentian terdekat jika ternyata penumpang atau barang yang diangkut itu dapat membahayakan keamanan dan keselamatan pengangkut. Kewenangan ini digunakan dengan pertimbangan yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan secara hukum dan kepatutan, antara lain:

a. Penumpang yang melakukan keributan atau pencurian dalam kendaraan sehingga menggangu atau merugikan penumpang lain walaupun sudah diperingatkan secara patut;

b. Barang yang diangkut ternyata barang yang berbahaya bagi keselamatan pengangkutan, seperti mercon atau bahan mudah terbakar; dan

c. Barang yang dapat mengganggu penumpang karena berbau busuk.

Jika pengangkut (perusahaan pengangkutan umum) lalai dalam melakukan tugasnya selama proses pengangkutan berlangsung, perusahaan pengangkutan umum bertanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh penumpang, pengirim barang, atau pihak ketiga. Tanggung jawab terhadap penumpang dimulai sejak penumpang diangkut sampai tiba di tempat tujuan yang telah disepakati.Sedangkan tanggung jawab terhadap pemilik barang dimulai sejak barang diterima dari pengirim sampai barang diserahkan kepada penerima ditempat tujuan yang telah disepakati. Namun, perusahaan pengangkutan umum tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul apabila dia dapat membuktikan bahwa kerugian itu disebabkan oleh:

a. Peristiwa yang tidak dapat diduga lebih dahulu (force majeur). b. Cacat sendiri pada penumpang atau barang yang diangkut. c. Kesalahan/kelalaian pengirim atau ekspeditur.

3. Kegiatan di Terminal Tujuan

Setelah kendaraan bermotor tiba di terminal tujuan atau ditempat yang disepakati seperti yang tertera pada dokumenpengangkutan, penumpang turun dari kendaraan bermotor. Apabila terjadi kecelakaan yang mengakibatkan penumpang menderita luka atau meninggal dunia, PT Asuransi Kerugian Jasa Raharja akan

membayar santunan berdasarkan bukti kecelakaan dan tiket penumpang. Apabila timbul kerugian akibat kesalahan/kelalaian pengangkut dalam penyelenggaraan pengangkutan darat, pengangkut menyelesaikan pembayaran ganti kerugian.

Diterminal tujuan barang dibongkar dari kendaraan bermotor dan disimpan ditempat penyimpanan yang ditetapkan oleh perusahaan pengagkutan umum.Perusahaan pengangkutan umum memberitahukan kepada penerima agar menerima barang kiriman dalam jangka waktu yang ditetapkan.Apabila penerima tidak mengambil barang tersebut dari tempat penyimpanan, penerima dikenakan biaya penyimpanan barang dan wajib dilunasi ketika barang itu diambil.Apabila barang itu tidak diambil dan biaya penyimpanan tidak dilunasi, barang itu dinyatakan sebagai barang tak bertuan dan dapat dijual secara lelang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

4. Hambatan Pengangkutan Darat

Pada pengangkutan penumpang dengan bus, kadang-kadang jadwal pengangkutan yang ditetapkan tidak ditepati. Bus menunggu penumpang sampai penuh barulah diberangkatkan.Hal ini dapat membosankan penumpang yang menunggu sejak awal karena mematuhi jadwal keberangkatan.Pemuatan penumpang yang melebihi kapasitas maksimum kendaraan bermotor merupakan kebiasaan yang sulit dicegah, yang menimbulkan ketidaknyamanan bagi penumpang, dan ini merupakan pelanggaran ketentuan undang-undang yang dapat mengakibatkan kecelakaan.

Pengemudi yang tidak disiplin dan tidak mematuhi peraturan perundang- undangan merupakan alasan utama yang menimbulkan kecelakaan lalu lintas.Ketidakpatuhan pengemudi merupakan bukti bahwa sumber daya manusia

masih berdisiplin rendah.Ini merupakan bukti bahwa penegakan hukum lalu lintas pengangkutan darat sangat lemah.

Pada pengangkutan darat telah ditetapkan tarif biaya pengangkutan yang berlaku.Akan tetapi, ketentuan tersebut sering tidak dipatuhi.Dalam praktiknya terjadi penarikan biaya pengangkutan yang melebihi tarif resmi, baik dilakukan oleh pengangkut maupun oleh calo yang mewakili pengangkut (pengemudi).Hal ini sering terjadi ketika jumlah penumpang banyak.