BAB I PENDAHULUAN
C. Penyelesaian Konflik Sengketa Wilayah dalam Hukum Internasional
Sementara itu, Mahkamah Internasional Permanen dalam sengketa Mavrommatis Palestine Concessions (Preliminary Objections) (1924) mendefinisikan pengertian sengketa sebagai: “disagreement on a point of law or fact, a conflict of legal views or interest between two persons”.89
Sengketa wilayah adalah perselisihan antara dua negara atau lebih yang memperebutkan kepemilikan suatu wilayah baik berupa lautan maupun daratan.
Ketidakjelasan batas wilayah antara negara dapat menimbulkan tumpang tindih klaim untuk itu hukum internasional mengatur mengenai penyelesaian sengketa wilayah.
Sengketa wilayah sama dengan sengketa internasional yang lain pada umumnya, sehingga penyelesaian yang ditempuh juga sama yaitu sesuai dengan Piagam PBB yang mewajibkan negara menyelesaikan sengketanya dengan cara damai berdasarkan prinsip-prinsip hukum internasional. Pasal 2 Ayat 4 Piagam PBB juga melarang negara menggunakan kekerasan dalam penyelesaian sengketanya.90 Kewajiban negara menyelesaikan sengketanya secara damai telah menjadi hukum internasional yang universal sesuai dengan ketentuan dalam pasal 1, 2 dan 33 Piagam PBB. Meski bersifat universal, namun kewajiban ini tidak mengikat negara secara mutlak karena kedaulatan penuh yang dimiliki negara
88 Bryan A. Garner, Black’s Law Dictionary, Thomson West, St. Paul, 2004, hlm. 319 dan 505.
89 Huala Adolf, Hukum Penyelesaian Sengketa Internasional, Sinar Grafika, Bandung, 2004, hlm. 2
90 Boer Mauna, Op. Cit., hlm. 193
sebagai subjek hukum internasional par excellence.91 Hal ini berarti meskipun negara tunduk kepada kewajiban penyelesaian sengketa secara damai namun negara tetap memiliki kewenangan penuh dalam menentukan cara-cara penyelesaian sengketanya.
Pada umumnya metode-metode penyelesaian sengketa digolongkan ke dalam dua kategori yaitu dengan cara-cara penyelesaian secara damai dan dengan cara-cara penyelesaian secara paksa atau dengan kekerasan.
1. Penyelesaian Sengketa Internasional Secara Damai
Cara penyelesaian sengketa dengan damai dapat dilihat dalam Pasal 33 (1) Piagam PBB, yaitu: perundingan (negotiation), penyelidikan (inquiry), mediasi (mediation), konsiliasi (conciliation), Arbitrase (arbitration), penyelesaian menurut hukum (judicial settlement) melalui badan atau pengaturan regional atau dengan cara damai yang dipilih sendiri.92 Berikut ini adalah penjelasan dari masing-masing penyelesaian sengketa tersebut:
a. Perundingan (Negotiation)
Negosiasi atau perundingan adalah cara penyelesaian sengketa yang paling penting dan banyak ditempuh, serta efektif dalam menyelesaikan sengketa internasional. Praktik negara-negara menunjukkan bahwa mereka lebih cenderung untuk menggunakan sarana negosiasi sebagai langkah awal
91 Huala Adolf, Op.Cit., hlm. 11
92 Sri Setianingsih Suwardi, Penyelesaian Sengketa Internasional, UI Press, Jakarta, 2006, hlm. 4
untuk menyelesaikan sengketanya. Negosiasi adalah perundingan yang diadakan secara langsung Antara para pihak dengan tujuan untuk mencari penyelesaian melalui dialog tanpa melibatkan pihak ketiga. Menurut Fleischhauer, dengan tidak adanya keikutsertaan pihak ketiga dalam penyelesaian sengketa, masyarakat internasional telah menjadikan negosiasi ini sebagai langkah pertama dalam penyelesaian sengketa.93
Deklarasi Manila di dalam hal penyelesaian sengketa internasional secara damai menyoroti fleksibilitas sebagai salah satu ciri dari negosiasi secara langsung sebagai sarana penyelesaian sengketa secara damai.
Negosiasi adalah cara yang fleksibel dari suatu penyelesaian sengketa secara damai di dalam beberapa hal. Hal tersebut dapat diaplikasikan ke semua jenis sengketa, baik itu politik, hukum maupun teknis.94
b. Penyelidikan (Inquiry)
Para pihak yang bersengketa dapat pula menunjuk suatu badan independen untuk menyelidiki fakta-fakta yang menjadi sebab sengketa.
Tujuan utamanya adalah untuk memberikan laporan kepada para pihak mengenai fakta yang ditelitinya. Dengan adanya pencarian fakta-fakta demikian, diharapkan proses penyelesaian sengketa di antara para pihak dapat segera diselesaikan.95
Penyelidikan sebagai sarana penyelesaian sengketa telah diatur dalam sejumlah perjanjian bilateral dan multilateral, termasuk perjanjian
93 Huala adolf, Op. Cit., hlm. 26-27
94 United Nations, Handbook on the Peaceful Settlement of Disputes Between States, United Nations Publication, New York, 1992, hlm. 9
95 Huala adolf, Op. Cit., hlm. 29
liga bangsa-bangsa, piagam PBB dan instrumen konstituen dari badan-badan khusus tertentu dan organisasi internasional lainnya dalam sistem PBB, dan dalam berbagai instrumenoleh badan-badan regional.96
c. Mediasi (Mediation)
Ketika para pihak yang bersengketa internasional tidak dapat menyelesaikan sengketanya dengan cara negosiasi, intervensi ataupun campur tangan dari pihak ketiga adalah cara yang mungkin untuk memecahkan kebuntuan dan menghasilkan solusi yang dapat diterima.97
Mediasi merupakan suatu prosedur penengahan di mana seseorang bertindak sebagai “kendaraan” untuk berkomunikasi antarpara pihak, sehingga pandangan mereka yang berbeda atas sengketa tersebut dapat dipahami dan mungkin didamaikan, tetapi tanggung jawab utama tercapainya suatu perdamaian tetap berada di tangan para pihak sendiri.98
Mediasi melibatkan keikutsertaan pihak ketiga (mediator) yang netral dan independen dalam suatu sengketa. Mediator bisa negara, individu, organisasi internasional, dan lain-lain. Dalam menjalankan fungsinya, mediator tidak tunduk pada suatu aturan hukum acara tertentu.
Ia bebas menentukan bagaimana proses penyelesaian sengketanya berlangsung. Peranannya di sini tidak semata-mata mempertemukan para pihak agar bersedia berunding, tetapi ia juga terlibat dalam perundingan
96 United Nations, Op. Cit., hlm. 24
97 Barry E. Carter dan Philip R. Trimble, International Law, Little, Brown and Company, London, 1991, hlm. 258
98 Frans Hendra Winarta, Hukum Penyelesaian Sengketa Arbitrase Nasional Indonesia dan Internasional, Sinar Grafika, Jakarta, 2013, hlm. 15
dengan para pihak dan bisa pula memberikan saran-saran atau usulan penyelesaian sengketa. Bahkan mediator dapat pula berupaya mendamaikan para pihak.99
d. Konsiliasi (Conciliation)
Menurut J. G. Starke (1991:673), istilah konsiliasi mempunyai suatu arti yang luas dan sempit. Dalam pengertian luas, konsiliasi mencakup berbagai ragam metode dimana suatu sengketa diselesaikan secara damai dengan bantuan negara-negara lain atau badan- badan penyelidik dan komite-komite penasihat yang tidak berpihak. Dalam pengertian sempit, konsiliasi berarti penyerahan suatu sengketa kepada sebuah komisi atau komite untuk membuat laporan beserta usulan-usulan kepada para pihak bagi penyelesaian sengketa tersebut, usulan itu tidak memiliki sifat mengikat. Konsiliasi menurut the Institute of International Law melalui the Regulations on the Procedure of International Conciliation yang telah diadopsinya pada tahun 1961 dalam Pasal 1 dinyatakan, sebagai suatu metode dari penyelesaian sengketa bersifat internasional di dalam suatu komisi yang dibentuk oleh pihak-pihak, baik sifatnya permanen atau ad hoc (sementara) berkaitan dengan proses penyelesaian sengketa. Proses seperti ini berupaya mendamaikan pandangan-pandangan para pihak yang bersengketa meskipun usulan-usulan penyelesaian yang dibuat oleh konsiliator sifatnya tidak mempunyai kekuatan hukum.100
99 Huala Adolf, Op. Cit., hlm. 33-34
100 Dewa Gede Sudika Mangku, “Suatu Kajian Umum Tentang Penyelesaian Sengketa Internasional Termasuk di Dalam Tubuh ASEAN”, Perspektif, (Volume XVII No. 3 Tahun 2012 Edisi September), hlm. 154
e. Arbitrase (Arbitration)
Praktik penyelesaian perselisihan melalui pihak ketiga bukan merupakan hal baru yang muncul bersamaan dengan munculnya pemerintahan-pemerintahan modern, karena dalam sejarahnya yang panjang model penyelesaian arbitrase ternyata sudah dipraktikkan oleh bangsa-bangsa yang hidup sejak jaman Yunani Kuno.101
Aristoteles, misalnya menganggap arbitrase sebagai alternative dari pengadilan karena keadilan bagi filosof besar ini merupakan sesuatu yang berlaku lebih dari sekedar hukum tertulis. Sangatlah adil kata Aristoteles memilih arbitrase dibandingkan pengadilan umum, karena pandangan-pandangan arbiter selalu bertumpu pada keadilan, sementara hakim hanya terfokus pada hukum. Alasan menunjuk arbiter dalam penyelesaian perselisihan karena adanya jaminan dipenuhinya rasa adil bagi para pihak.102
Secara singkat arbitrase adalah salah satu pranata penyelesaian sengketa (disputes) perdata (private) di luar pengadilan (non-litigation) dengan dibantu oleh seorang atau beberapa orang pihak ketiga (arbiter) yang bersifat netral yang diberi kewenangan untuk membantu para pihak menyelesaikan sengketa yang sedang mereka hadapi. Penyelesaian sengketa melalui arbitrase ini didasarkan pada perjanjian atau klausula arbitrase
101 Maqdir Ismail, Pengantar Praktek Arbitrase di Indonesia, Malaysia, Singapura dan Australia, Fakultas Hukum Universitas Al-Azhar Indonesia, Jakarta, 2007, hlm. 1
102 Ibid., hlm. 1-2
(arbitration clause), yang dibuat secara tertulis oleh para pihak, baik sebelum maupun setelah timbulnya sengketa.103
f. Penyelesaian Menurut Hukum (Judicial Settlement)
Penyelesaian yudisial berarti suatu penyelesaian yang dihasilkan melalui suatu pengadilan yudisial internasional yang dibentuk sebagaimana mestinya dengan memperlakukan dari suatu kaidah-kaidah hukum.
Peradilan yudisial ini menurut F. Sugeng Istanto juga dapat disamakan dengan suatu peradilan internasional. Di dalam Peradilan Internasional penyelesaian masalah dilakukan dengan menerapkan ketentuan hukum yang dibentuk secara teratur. Pengadilan dapat dibagi ke dalam dua kategori yaitu pengadilan permanen dan pengadilan ad hoc atau pengadilan khusus.
Pengadilan internasional permanen contohnya adalah Mahkamah Internasional (ICJ). Menurut F. Sugeng Istanto (1998:94), peradilan internasional berbeda dengan arbitrase internasional yakni ketentuan yang dijadikan dasar pembuatan keputusan dan sifat acaranya. Peradilan internasional memutuskan masalah yang diajukan kepadanya pada prinsipnya hanya berdasarkan pada ketentuan hukum, sedangkan arbitrasi internasional dapat memutuskan masalah yang diajukan kepadanya dapat berdasarkan ketentuan hukum ataupun berdasarkan kepantasan dan kebaikan dan di samping itu acara dalam peradilan internasional yang pada
103 Suleman Batubara dan Orinton Purba, Arbitrase Internasional Penyelesaian Sengketa Investasi Asing Melalui ICSID, UNCITRAL, dan SIAC, Raih Asa Perkasa, Jakarta, 2013, hlm. 8
prinsipnya adalah terbuka, sedangkan arbitrasi internasional adalah tertutup.104
2. Penyelesaian Sengketa Internasional Secara Paksa
Saat terjadi sengketa dimana para pihak tidak dapat menyelesaikan sengketanya secara damai, kadang-kadang salah satu pihak terpaksa mengambil tindakan sepihak. Tindakan sepihak demikian dilakukan dengan sasaran untuk mencapai tujuannya dengan menguntungkan pihaknya sendiri. Tindakan tersebut berupa tindakan paksaan, yang berupa tekanan agar pihak lain merasa terpaksa menerima kehendaknya. 105 Dalam hukum internasional dikenal beberapa bentuk tindakan paksaan, yaitu:106
a. Ristorsi
Tindakan kekerasan di sini yang paling lemah, pada hakikatnya ini merupakan tindakan pembalasan, tindakan yang tak bersahabat dan tindakan paksaan ini tidak bertentangan dengan hukum internasional publik.
Tindakan-tindakan retorsi ini dapat dimisalkan seperti pemutusan hubungan diplomatic, pembatasan gerak-gerik perwakilan diplomatik negara lawan, penarikan kembali exequatur bagi konsul negara lawan, penghapusan hak-hak istimewa warga negara/ perusahaan milik negara lawan, penutupan tapal batas bagi arus lalu lintas, dan penolakan barang impor hasil negara lawan atau kenaikan bea masuk bagi produk negara lawan.
104 Dewa Gede Sudika Mangku, Op. Cit., hlm. 151-152
105 Sri Setianingsih Suwardi, Op. Cit., hlm. 196
106 Ibid., hlm. 196-206.
Jika diperhatikan maka retorsi tidak melanggar hukum internasional.
Sebaliknya bila dilihat dari kepentingan negara lawan, maka retorsi ini melanggar haknya. Ciri khas dari retorsi ini adalah bahwa tindakan pembalasan tidak bertentangan/melanggar hukum internasional.
b. Tindakan Pembalasan (reprisal)
Reprisal adalah tindakan pembalasan suatu negara kepada negara lain dengan maksud untuk memperoleh keadilan mengenai suatu delik internasional yang telah dijalankan oleh negara lain itu. Negara yang menjalankan Tindakan pembalasan sebenarnya mencari keadilan dengan mengambil hukum ditangannya sendiri secara sepihak. Oleh sebab itu sebenarnya tindakan pembalasan ini adalah tidak menurut ketentuan hukum.
Walaupun demikian hal ini diperbolehkan oleh hukum internasional.
Tindakan pembalasan dalam prakteknya dapat berupa boikot atas barang-barang suatu negara, embargo, demonstrasi angkatan laut atau berupa pemboman. Contoh tindakan pembalasan yang berbentuk embargo adalah tindakan negara-negara Arab untuk menghentikan ekspor minyak kepada negara-negara barat yang mendukung Israel sesudah pecah perang antara Arab dengan Israel pada tahun 1973.
Di samping reprisal yang dijalankan pada waktu damai terdapat pula reprisal yang dijalankan diwaktu perang. Reprisal di waktu damai dipakai untuk menyelesaikan suatu sengketa internasional tanpa mengadakan perang. Sedangkan di waktu perang, reprisal adalah suatu tindakan sepihak untuk memaksa musuh yang melanggar hukum-hukum perang Kembali
menaatinya. Misalnya ketika Inggris pada tahun 1939-1940 menentukan bahwa barang-barang ekspor Jerman yang yang diangkut oleh kapal-kapal niaga netral akan dirampas sebagai pembalasan atas penenggelaman kapal-kapal niaga Inggris oleh ranjau-ranjau Jerman.107
c. Blokade Secara Damai (pacific blockade)
Blokade secara damai lazim dipakai untuk memaksakan agar negara pihak lawan menyetujui permintaan negara yang memblokir. Jika dibandingkan dengan bentuk tindakan pembalasan maka blokade dengan damai adalah bentuk khusus dari tindakan pembalasan. Blokade secara damai disebutkan dalam Pasal 42 piagam PBB yaitu sebagai salah satu tindakan yang dapat diambil oleh Dewan Keamanan dalam menjalankan tugasnya untuk memulihkan dan mempertahakan perdamaian dan keamanan nasional.
d. Intervensi (Invervention)
Intervensi berarti campur tangan secara diktatorial (sepihak) oleh suatu negara terhadap urusan-urusan negara lain, dengan maksud untuk mempertahankan atau mengubah kondisi dan situasi di negara tersebut.
Negara ketiga dapat menjalankan intervensi kepada kedua belah pihak yang sedang bersengketa, dengan tujuan agar mereka dapat menyelesaikan sengketanya menurut kehendak negara ketiga yang menjalankan intervensi.
Berdasarkan uraian di atas, yang dimaksud dengan intervensi adalah memaksa kedua belah pihak yang bersengketa agar menyelesaikan
107 J.G Starke, Op. Cit., hlm. 681
sengketanya, dan bukanlah yang dimaksud bahwa negara yang menjalankan intervensi itu melibatkan diri di dalam sengketa itu.
Contohnya adalah pada waktu meletus Perang Korea, untuk mengakhiri sengketa antara Korea Utara dengan Korea Selatan, maka PBB secara kolektif mengadakan intervensi. Berhasilnya intervensi PBB di Korea membuat pihak Korea Utara menarik pasukannya sampai perbatasan 38 derajat lintang utara.108
e. Perang (war)
Perang adalah cara terakhir yang ditempuh pihak yang bersengketa dimana salah satu pihak memaksakan pihak lain untuk menerima penyelesaian sengketa yang dikehendakinya. Menurut Oppenheim Lauterpacht, perang adalah suatu sengketa bersenjata antara dua negara atau lebih yang mempergunakan kekuatan bersenjatanya dengan maksud mengadu kekuatan masing-masing untuk dapat mencapai perdamaian setelah mendapatkan kemenangan.
Lain halnya menurut F. Sugeng Istanto, pertikaian bersenjata atau perang adalah suatu pertentangan yang disertai penggunaan kekerasan angkatan bersenjata masing- masing pihak dengan tujuan menundukkan lawan dan menetapkan persyaratan perdamaian secara sepihak. Sementara itu, menurut J. G. Starke, keseluruhan tujuan dari perang adalah untuk dapat menaklukkan negara lawan dan untuk membebankan syarat-syarat
108 Abdul Muthalib Tahar, Peranan PBB dalam Menyelesaikan Masalah Timor Timur, Skripsi Sarjana Hukum, Fakultas Hukum Universitas Lampung, Tanjung karang, hlm. 45
penyelesaian dimana negara yang ditaklukkan itu tidak memiliki alternatif lain selain mematuhinya.109
109 Dewa Gede Sudika Mangku, Op. Cit., hlm. 155
72 BAB IV
TINJAUAN HUKUM INTERNASIONAL DALAM KONFLIK BATAS WILAYAH ANTARA MALAYSIA DAN BRUNEI DARUSSALAM DI
DARATAN SARAWAK TAHUN 1979
A. Latar Belakang Konflik Batas Wilayah di Daratan Sarawak
Pada awal abad ke 18, Benua Asia khususnya kawasan Asia Tenggara mengalami penjajahan atau Kolonialisme oleh Bangsa-bangsa Eropa. Adapun contoh dari penjajahan itu antara lain, Indonesia dikuasai oleh Belanda, Filipina dicaplok oleh Spanyol, Prancis menduduki Indo-China dan Inggris menyatakan bahwa Semenanjung Malaya dan Pulau Singapura adalah Koloninya.110
Kekuasaan Inggris di Semenanjung Malaya menjadi ancaman bagi eksistensi Kesultanan Brunei. Pengaruh Inggris di Brunei dimulai saat kedatangan James Brooke ke Kuching, Serawak pada tahun 1839.111 James Brooke adalah seorang petualang berkebangsaan Inggris yang lahir di India, ia meminjam uang dari ayahnya untuk membeli sebuah kapal guna berdagang ke Timur Jauh. James Brooke tiba di Sarawak, dimana ia kemudian menjalin persahabatan dengan Sultan dan membantu memadamkam pemberontakan yang dilakukan etnis Minoritas
110 Paul Kratoska. South East Asia, Colonial History: Imperialism before 1800. Taylor &
Francis, London, 2001, hlm. 23
111 Robert Payne. The White Rajahs of Sarawak, Weidenfield & Nicholson, London, 1960, hlm. 98
“Bidayuh‟. Atas jasa-jasanya, James Brooke diangkat sebagai gubernur Serawak.112
Pada tahun 1843 terjadi konflik antara James Brooke dan Sultan Saifudin II yang berakhir dengan kekalahan di pihak Brunei. Sultan Saifudin II akhirnya terpaksa mengakui kemerdekaan Serawak, dimana James Brooke mengangkat dirinya sebagai Raja disana. Terpisahnya Serawak membuat gerakan Inggris menjadi semakin mudah karena memiliki kawasan yang lebih strategis.
Wilayah kekuasaan Brunei pun semakin mengecil, Pada tahun 1877, James Brooke juga memaksa Brunei untuk menandatangani perjanjian penyewaan tanah kosong yang ada disebelah timur (kini bernama Sabah) kepada Perusahaan Borneo Utara milik Inggris. Wilayah Brunei yang awalnya begitu luas pun berubah menjadi kecil akibat dikikis oleh Inggris.113 Inilah awal mula masa dimana penjajahan kolonialsime dimulai di Malaysia dan Brunei Darussalam tepatnya di daratan Sarawak.
Masa penjajahan oleh kolonialisme bangsa Eropa terhadap daratan Sarawak terjadi sampai pada masa perang dunia kedua. Hal ini terjadi karena Jepang mengadakan perluasan kekuasaan ke wilayah selatan. Wilayah yang mulai di datangi oleh Jepang adalah wilayah Asia Tenggara. Hampir seluruh wilayah Asia Tenggara di kuasai Jepang. Jepang melakukan ekspansi ke Asia Tenggara dalam rangka perluasan kekuasaan wilayah serta menunjukan kekuatan Jepang kepada
112 Gertrude Le Grand Jacob. The Raja of Saráwak: An Account of Sir James Brooks, MacMillan, London, 1876, hlm. 13
113 Hussainmiya, B.A., Sultan Omar Ali Saifuddin II and Britain: The Making of Brunei Darussalam, Oxford University Press, Kuala Lumpur, 1995, hlm. 80
bangsa Eropa. Wilayah Asia Tenggara yang di kuasai oleh Jepang meliputi, Semenanjung Malaya, Indonesia, dan Borneo Utara.
Pada tahun 1942, Tentara Kekaisaran Jepang melakukan Invasi terhadap Pulau Kalimantan. Kampanye Militer ini bertujuan untuk menguasai pulau Kalimantan, dan penyerangan dipusatkan ke Kerajaan Sarawak, Brunei, Borneo Utara serta bagian barat dari Kalimantan yang saat itu masih bagian dari Hindia Belanda. Pasukan Jepang yang dikerahkan untuk misi ini adalah Pasukan Infanteri ke-35, yang dipimpin oleh Mayor Jendral Kiyotake Kawaguchi. Pasukan Jepang kemudian berhasil memenangkan pertempuran ini dan menguasai seluruh wilayah Kalimantan.114
Dibawah pendudukan militer Jepang, Sarawak & Brunei dipersatukan namun dibagi menjadi 3 daerah administratif (shu): Kuching-shu, Miri-shu (termasuk wilayah Brunei) & Sibu-shu. Sedangkan, Sabah & Labuan dibagi lagi menjadi 2 Area: Sekai-shu (termasuk Labuan) & Tokai-shu. 5 wilayah Shu dipimpin oleh seorang Gubernur Militer Jepang dengan penduduk Melayu Pribumi sebagai pegawainya.115
Pada tanggal 10 Juni 1945, Pasukan Australia yang dipimpin oleh George Wooten dan Victor Windeyer mendarat di Muara Bawah dan melaksanakan Operation Oboe Six untuk merebut kembali Brunei. Mereka didukung oleh US Air Force dan US Marine. Brunei & Kalimantan Utara berhasildirebut dalam 3 hari.
114 Arthur Ernest Percival, The War in Malaya, Eyre & Spottiswoode, London, 1949 hlm.
115
115 Paul Kratoska, Southeast Asian Minorities in the Wartime Japanese Empire, London : Routledge, London, 2013, hlm. 50
Perang berakhir dengan menyerahnya Letnan Jendral Baba Masao di Labuan pada tanggal 10 September 1945.116
Setelah Perang Dunia II, Inggris berencana ingin menyatukan pengelolaan Malaya di bawah entitas tunggal yang disebut Uni Malaya didirikan dengan penentangan yang hebat dari Suku Melayu, yang melawan upaya pelemahan para Sultan Melayu dan mengizinkan kewarganegaraan ganda kepada etnis Cina dan minoritas lainnya. Uni Malaya, didirikan pada 1946 dan terdiri atas semua jajahan Inggris di Semenanjung Malaya, kecuali Singapura, dibubarkan pada tahun 1948 dan diganti oleh Persekutuan Tanah Melayu, yang memberikan otonomi para para Sultan-Sultan di Semenanjung Malaya namun dibawah Protektorat Inggris.117
Selama masa itu, terjadi pemberontakan Partai Komunis Malaya di bawah kepemimpinan Chin Peng yang melancarkan operasi gerilya guna mengusir Inggris dari Malaya.118 Darurat Malaya, begitulah dikenalnya, berlangsung sejak 1948 dan melibatkan sejumlah operasi Counter Insurgency oleh Inggris di Semenanjung Malaya.119 Meskipun pemberontakan dengan cepat ditumpas namun tentara Inggris masih saja bercokol di Semenanjung Malaya bersamaan dengan masuknya Era Perang Dingin. Akhirnya, Inggris memberikan kemerdekaan pada Persekutuan
116 Ooi Keat Gin. ‘Prelude to Invasion: Covert Operations Before the Re-Occupation of Northwest Borneo, 1944-45.’ Journal of the Australian War Memorial. (October 2002), hlm. 37
117 Ken'ichi Goto. Tensions of Empire: Japan and Southeast Asia in the Colonial and Postcolonial World, Ohio University Press, Athens, 2003, hlm. 222
118 C. C. Chin & Karl Hack, Dialogues with Chin Peng: New Light on the Malayan Communist Party, NUS Press, Singapore, 2004, hlm. 295
119 Karl Hack. 'Iron Claws on Malaya : The Historiography of the Malayan Emergency'.
Journal of Southeast Asian Studies. Vol. 30, No. 1 (Mar, 1999), hlm. 99-125
Tanah Melayu pada 31 Agustus 1957 namun tetap terikat dalam British Commonwealth (Persemakmuran Inggris).120
Gagasan pembentukan federasi Malaysia pertama kali dilontarkan Perdana menteri Malaysia, Tungku Abdul Rachman pada 27 Mei 1961 di hadapan Foreign Correspondent Association di Singapura. Menurutnya, federasi yang akan dibentuk terdiri atas Malaya, Singapura, Brunei, Serawak, dan Sabah.121
Pada bulan Oktober 1961 diadakan perundingan antara Perdana Mentri Malaysia, Tungku Abdul Rachman dan Perdana Mentri Inggris Sir Harold McMillan di London, Inggris. Dari hasil pertemuan itu, Inggris menyampaikan dukungannya terhadap cita-cita pembentukan Federasi Malaysia. Hal ini disebabkan Malaya merupakan bekas wilayah jajahan Inggris yang terikat dalam British Commonwealth (Persemakmuran Inggris).
Berdasarkan pertemuan pada tanggal 13 Oktober 1961 di London, sebuah panitia penyelidikan Fact-Finding Comission yang diketuai Lord Cobbald akan dibentuk untuk mengumpulkan jajak pendapat masyarakat mengenai rencana pembentukan tersebut.122
Inggris sebagai negara besar yang memiliki negara persemakmuran-nya di Asia Tenggara, berupaya memperkuat dirinya di kawasan Asia Tenggara, dengan meragukan eksistensi Indonesia di bawah pemerintahan Soekarno yang sudah mulai disusupi oleh kelompok elit Komunis. Di samping itu, Indonesia juga memiliki
120 Clive J Christie. Southeast Asia in the Twentieth Century: A Reader, I.B.Tauris, London, 1998, hlm. 183
121 R. S. Milne. 'Malaysia: A New Federation in the Making'. Asian Survey, Vol. 3, No. 2,
121 R. S. Milne. 'Malaysia: A New Federation in the Making'. Asian Survey, Vol. 3, No. 2,