• Tidak ada hasil yang ditemukan

-Litigasi dan Penyelesaian Sengketa Melalui Jalur -Litigasi.

Bab V, Penutup terdiri dari kesimpulan dan saran.

Universitas Sumatera Utara

20 BAB II

SINKRONISASI UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2016 TENTANG MEREK DAN INDIKASI GEOGRAFIS DENGAN

UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2018 TENTANG KEPALANGMERAHAN

A. Hak Atas Merek dan Jenis- Jenis Merek

Hak atas merek adalah hak eksklusif yang diberikan oleh negara kepada pemilik merek yang terdaftar dalam Daftar Umum Merek untuk jangka waktu tertentu dengan menggunakan sendiri merek tersebut atau memberikan izinkepada pihak lain untuk menggunakannya.36 Hak merek dinyatakan sebagai hak eksklusif karena hak tersebut merupakan hak yang sangat pribadi bagi pemiliknya dan diberi hak untuk menggunakan sendiri atau memberi izin kepada orang lain untuk menggunakan sebagaimana ia sendiri menggunakannya.37

Selaras dengan hal tersebut, Pasal 1 ayat (5) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016, hak atas merek diartikan sebagai: “hak eksklusif yang diberikan oleh negara kepada pemilik Merek yang terdaftar untuk jangka waktu tertentu dengan menggunakan sendiri Merek tersebut atau memberikan izin kepada pihak lain untuk menggunakannya”.

Pemberian izin dari pemilik merek kepada orang lain ini berupa pemberian lisensi, yakni memberikan izin kepada orang lain untuk jangka waktu tertentu menggunakan merek tersebut sebagaimana ia sendiri menggunakannya.38

36Ahmadi Miru, Hukum Merek Cara Mudah Mempelajari Undang-Undang Merek, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005, hal. 12.

37Ibid.

38Ibid.

Universitas Sumatera Utara

Hak khusus memakai merek ini yang berfungsi seperti suatu monopoli.

Hanya berlaku unutuk jenis tertentu. Oleh karena suatu merek memberi hak khusus atau hak mutlak pada yang bersangkutan, maka hak itu dapat dipertahankan terhadap siapa pun. Hak atas merek diberikan kepada pemilik yang beritikad baik. Pemakaiannya meliputi pula barang dan jasa.39

Dewasa ini perkembangan merek yang terjadi merupakan perkembangan dari sifat merek sebagai tanda kepemilikan/ proprietary marks (pada merek mula-mula) sampai dengan sifat merek sebagai citra produk/ product imageatau simbol gaya hidup/ way of life seperti yang terjadi pada saat sekarang ini.40

Ada 2 (dua) jenis merek yang disebutkan dalam undang-undang nomor 20 tahun 2016 tentang Merek Dan Indikasi Geografis, yaitu:

1. Merek dagang (trade mark)

Disebutkan dalam Pasal 1 ayat (2) undang-undang Merek Nomor 20 Tahun 2016, yaitu: “Merek dagang adalah Merek yang digunakan pada barang yang diperdagangkan oleh seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama atau badan hukum untuk membedakan dengan barang sejenis lainnya”.

2. Merek jasa (service mark)

Pada mulanya merek hanya diakui untuk barang, pengakuan untuk merek jasa barulah diakui Konvensi Paris pada perubahan di Lisabon 1958. Di Inggris pun merek jasa baru bisa didaftarkan dan mempunyai konsekuensi yang sama dengan merek barang, setelah adanya ketentuan yang baru diberlakukan pada

39Muhammad Djumhana dan R. Djubaedillah, Op Cit hal. 175.

40Shanti Eka Marthani, “Implementasi Perlindungan Merek Kolektif Dalam Model One Village One Product (OVOP)”, Tesis Program Studi Pasca Sarjana Kekhususan Hukum EkonomiUniversitas Indonesia, Jakarta, 2013, hal. 55-57.

Universitas Sumatera Utara

Oktober 1986, yaitu undang-undang hasil revisi pada tahun 1984 atas Undang-undang Trades Marks 1938. Mengenai merek jasa tersebut, di Indonesia barulah dicantumkan pada Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1992 tentang Merek.41 disebutkan dalam Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Merek Nomor 20 Tahun 2016 yaitu: “Merek jasa adalah Merek yang digunakan pada jasa yang diperdagangkan oleh seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama atau badan hukum untuk membedakan dengan jasa sejenis lainnya.

Selain itu disebutkan juga pengertian mengenai merek kolektif (collctive mark) yang terdapat dalam pasal 1 ayat 4 Undang-Undang Merek Nomor 20 Tahun 2016, yaitu: “Merek Kolektif adalah Merek yang digunakan pada barang dan/atau jasa dengan karakteristik yang sama mengenai sifat, ciri umum, dan mutu barang atau jasa serta pengawasannya yang akan diperdagangkan oleh beberapa orang atau badan hukum secara bersama-sama untuk membedakan dengan barang dan/atau jasa sejenis lainnya”.

Di dalam Konvensi Paris juga diatur mengenai merek kolektif. Merek kolektif ini merupakan merek dari suatu perkumpulan atau asosiasi. Umumnya asosiasi ini dari produsen, atau dari para pedagang dalam barang barang yang dihasilkan dalam suatu negara tertentu atau dari barang barang dan jasa yang mempunyai ciri ciri umum tertentu.42

Menurut Sudargo Gautama, bahwa tanda- tanda yang diperkenalkan dengan istilah merek kolektif ini bukan berfungsi untuk membedakan barang- barang atau jasa- jasa dari suatu perusahaan terhadap perusahaan lain Akan tetapi,

41Muhammad Djumhana dan R. Djubaedillah, loc.cit.

42Muhammad Djumhana dan R. Djubaedillah, Op,Cit..hal 171.

Universitas Sumatera Utara

merek kolektif ini dipakai untuk membedakan asal usul geografis atau karakteristik yang berbeda pada barang- barang atau jasa- jasa dari perusahaan – perusahaan yang berbeda, tetapi memakai merek sama secara kolektif di bawah pengawasan dari yang berhak. Dengan perkataan lain, benda dan jasa tersebut diberikan jaminan tertentu tentang kualitasnya.43

Khusus untuk merek kolektif ini sebenarnya tidak dapat dikatakan sebagai jenis merek yang baru oleh karena merek kolektif ini sebenarnya juga terdiri darimerek barangdan jasa. Hanya saja merek kolektif ini pemakaiannya digunakan secara kolektif.Contoh merek kolektif adalah minuman ringan dengan merek Coca- Cola dan Big Cola, keduanya merupakan minuman ringan, tetapi engan merek berbeda. Oleh karenanya merek kolektif tidak termasuk dalam jenis merek karena tidak tediri dari merek dagang dan jasa yang dipakai secara kolektif.44

Pemilik merek kolektif terdaftar hanya dapat menggunakan merek tersebut bersama-sama dengan perusahaan, perkumpulan, atau perhimpunan lain yang juga memakai merek kolektif yang bersangkutan, apabila hal tersebut dinyatakan dengan tegas persyaratannya dalam persetujuan penggunaan merek kolektif yang dijanjikan.

Peraturan penggunaan merek kolektif harus memuat45:

1. Sifat, ciri-ciri umum atau mutu dari barang atau jasa yang diproduksi dan diperdagangkannya akan menggunakan merek kolektif tersebut.

43Sudargo Gautama dan Rizawanto Winata, Hukum Merek Indonesia,Bandung, Citra Aditya Bakti, 1993,hal 54-55.

44OK Saidin, Op.cit, hal. 23

45 Iswi Hariyani,Prosedur Mengurus HAKI Yang Benar,Yogyakarta, Elex Media Komputindo, 2010 hal. 104.

Universitas Sumatera Utara

2. Ketentuan bagi pemilik merek kolektif untuk melakukan pengawasan yang efektif atas penggunaan merek tersebut dengan peraturan.

3. Sanksi atas penggunaan merek kolektif yang bertentangan dengan peraturan.

Hak atas merek kolektif terdaftar hanya dapat dialihkan kepada pihak penerima yang dapat melakukan pengawasan efektif sesuai dengan ketentuan penggunaan merek kolektif tersebut. Pengalihan hak atas merek kolektif wajib dimohonkan pencatatannya kepada Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual dikenai biaya. Pencatatan pengalihan hak atas merek kolektif dicatat dalam Daftar Umum merek dan diumumkan dalam Berita Resmi Merek. Merek kolektif yang sudah terdaftar tidak dapat dilisensikan kepada pihak lain sebagaimana merek pada umumnya.

B. Syarat Permohonan Pendaftaran Merek di Indonesia

Agar merek dapat didaftarkan, harus dipenuhi syarat- syarat pendaftaran berikut ini :46

1. Tanda yang mempunyai daya pembeda(capable of distinguishing). tanda yang tidak mempunyai daya pembeda karena terlalu sederhana, seperti sepotong garis, sebuah titik, atau karena terlalu rumit seperti lukisan benang kusut, tidak dapat dijadikan Merek.

2.Tidak bertentangan dengan kesusilaan, ketertiban umum, (morality and public order).Lukisan atau perkataan yang melanggar kesopanan, menyinggung rasa

46Abdulkadir muhammad,Kajian Hukum Ekonomi Hak Kekayaan Intelektual,Bandung, Citra Aditya Bakti,2001, hal. 122

Universitas Sumatera Utara

keagamaan, melanggar ketertiban yang hidup dalam masyarakat, seperti lukisan porno, kata vagina tidak dapat dijadikan merek.

3. Bukan menjadi milik umum (not becoming public property), Lukisan jempol yang dikenal sebagai pujian, sudah ,menjadi milik umum, sehingga tidak dapat dijadikan Merek.

4. Bukan keterangan mengenai barang atau jasa yang dimintakan pendaftaran.

Lukisan jeruk, untuk sirup yang mengandung rasa jeruk, lukisan kopi, untuk minuman kopi tidak dapat dijadikan Merek.

5. Tidak mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan Merek milik orang lain yang sudah terdaftar lebih dahulu untuk barang atau jasa sejenis yang termasuk dalam 1 (satu) kelas, atau barang jasa yang tidak sejenis.

6. Bukan peniruan, atau menyerupai nama, atau singkatan nama, lambang atau simbol atau emblem dari negara atau lembaga nasional atau internasional, kecuali atas persetujuan tertulis dari pihak yang berwenang.

7. Bukan peniruan atau menyerupai tanda atau cap atau stempel resmi yang digunakan oleh negara, atau lembaga pemerintah kecuali atas persetujuan tertulis dari pihak yang berwenang.

8. Bukan merupakan atau menyerupai Ciptaan orang lain yang dilindungi Hak Cipta, kecuali atas pretujuan tertulis dari pemegang Hak Cipta tersebut.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tidak mengatur lebih lanjut apa yang disebut gambar, nama, kata, huruf, angka-angka dan susunan warna. Namun demikian Undang-Undang, dalam hal ini Pasal 20 memberikan batasan bahwa

Universitas Sumatera Utara

gambar, nama, kata, huruf, angka atau susunan warna yang dijadikan merek tidak dapat didaftar jika :

a. bertentangan dengan ideologi negara, peraturan perundangan yang berlaku, moralitas agama, kesusilaan atau ketertiban umum. yang dimaksud dengan

"bertentangan dengan ketertiban umum" adalah tidak sejalan dengan peraturan yang ada dalam masyarakat yang sifatnya menyeluruh seperti menyinggung perasaan masyarakat atau golongan, menyinggung kesopanan atau etika umum masyarakat, dan menyinggung ketentraman masyarakat atau golongan.

b. sama dengan, berkaitan dengan, atau hanya menyebut barang dan atau jasa yang dimohonkan pendaftarannya.

c. memuat unsur yang dapat menyesatkan masyarakat tentang asal, kualitas, jenis, ukuran, macam, tujuan penggunaan barang dan atau jasa yang dimohonkan pendaftarannya atau merupakan nama varietas tanaman yang dilindungi untuk barang dan atau jasa yang sejenis. yang dimaksud dengan "mernuat unsur yang dapat menyesatkan" misalnya Merek "Kecap No.1" tidak dapat didaftarkan karena menyesatkan masyarakat terkait dengan kualitas barang, Merek "netto 100 gram"

tidak dapat didaftarkan karena menyesatkan masyarakat terkait dengan ukuran barang.

d. memuat keterangan yang tidak sesuai dengan kualitas, manfaat, atau khasiat dari barang dan atau jasa yang diproduksi. yang dimaksud dengan "rnemuat keterangan yang tidak sesuai dengan kualitas, manfaat, atau khasiat dari barang dan /atau jasa yang diproduksi" adalah mencantumkan keterangan yang tidak sesuai dengan kualitas, manfaat, khasiat, dan/atau risiko dari produk dimaksud.

Universitas Sumatera Utara

Contohnya: obat yang dapat menyembuhkan seribu satu penyakit, rokok yang aman bagi kesehatan.

e. tidak merniliki daya pembeda, dan / atau

f. merupakan nama umum dan/atau lambang milik umum.

Selain itu,dalam pasal 21diatur pula mengenai permohonan yang ditolak

1) Perrnohonan ditolak jika Merek tersebut mernpunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan Merek terdaftar milik pihak lain atau dimohonkan lebih dahulu oleh pihak lain untuk barang dan atau jasa sejenis;

2) Merek terkenal milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa sejenis;

3) Merek terkenal milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa tidak sejenis yang memenuhi persyaratan tertentu; atau Indikasi Geografis terdaftar.

Ketentuan lebih lanjut mengenai penolakan Permohonan Merek sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a sampai dengan huruf c diatur dengan Peraturan Menteri.

Tentang pendaftaran merek di indonesia diatur dalam Undang- Undang MerekDan indikasi geografis dalam Pasal 4 yang menyebutkan bahwa:

(I) Permohonan pendaftaran Merek diajukan oleh Pemohon atau Kuasanya kepada Menteri secara elektronik atau nonelektronik dalam bahasa Indonesia.

(2) Dalam Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mencantumkan:

a. tanggal, bulan, dan tahun Permohonan;

Universitas Sumatera Utara

b. nama lengkap, kewarganegaraan, dan alarnat Pemohon;

c. nama lengkap dan alamat Kuasa jika Permohonan diajukan melalui Kuasa;

d. warna jika Merek yang dimohonkan pendaftarannya menggunakan unsur warna;

e. nama negara dan tanggal permintaan Merek yang pertama kali dalam hal Permohonan diajukan dengan Hak Prioritas; dan

f. kelas barang darr/atau kelas jasa serta uraian jenis barang dan/atau jenis jasa.

(3) Permohonan ditanda tangani Pemohon atau Kuasanya.

(4) Permohonan sebagaimana dimaksud pacta ayat (1) dilampiri dengan label Merek dan bukti pembayaran biaya.

(5) Biaya Permohonan pendaftaran Merek ditentukan per kelas barang dan/atau jasa.

(6) Dalam hal Merek sebagaimana dimaksud pada ayat (4) berupa bentuk 3 (tiga) dirnensi, label Merek yang dilarnpirkan dalam bentuk karakteristik dari Merek tersebut.

(7) Dalam hal Merek sebagaimana dimaksud pada ayat (4) berupa suara, label Merek yang dilampirkan berupa notasi dan rekaman suara.

(8) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dilampiri dengan surat pernyataan kepemilikan Merek yang dimohonkan pendaftarannya.

(9) Ketentuan lebih lanjut mengenai biaya permohonan sebagaimana dimasksud pada ayat (5) diatur dengan peraturan pemerintah.

Universitas Sumatera Utara

Dalam pasal 5 Undang- Undang Merek dan indikasi geografis, juga disebutkan :

(1) Dalam hal Permohonan diajukan oleh lebih dari satu Pemohon yang secara bersama-sama berhak atas Merek tersebut, semua nama Pemohon dicantumkan dengan memilih salah satu alamat sebagai alamat Pemohon.

(2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditandatangani oleh salah satu dari Pemohon yang berhak atas Merek tersebut dengan melampirkan persetujuan tertulis dari para Pemohon yang mewakilkan.

(3) Permohonan sebagaimana dirnaksud pada ayat (1) yang salah seorang Pemohonnya atau lebih warga negara asing dan badan hukum asing yang berdomisili di luar negeri wajib diajukan melalui Kuasa.

(4) Dalam hal Perrnohonan sebagaimana dirnaksud pada ayat (1) diajukan melalui Kuasanya, surat kuasa untuk itu ditandatangani oleh semua pihak yang berhak atas Merek tersebut.

Dalam Pasal 6 Undang- Undang No. 20 Tahun 2016 Tentang Merek dan Indikasi Geografis disebutkan :

(1) Permohonan untuk lebih dari 1 (satu) kelas barang dan atau jasa dapat diajukan dalam satu Permohonan.

(2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus menyebutkan jenis barang dan atau jasa yang termasuk dalam kelas yang dimohonkan pendaftarannya.

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai kelas barang dan/atau jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.

Universitas Sumatera Utara

Selanjutnya, dalam Pasal 7 Undang- Undang No. 20 Tahun 2016 Tentang Merek dan indikasi geografis disebutkan:

(1) Permohonan dan hal yang berkaitan dengan administrasi Merek yang diajukan oleh Pemohon yang bertempat tinggal atau berkedudukan tetap di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia wajib diajukan melalui Kuasa.

(2) Pemohon sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib menyatakan dan memilih alamat Kuasa sebagai domisili hukum di Indonesia.

C. Sistem Perlindungan Merek di Indonesia

Untuk menentukan siapa yang berhak atas merek tergantung sistem yang dianut oleh negara yang bersangkutan. Sistem–sistem tersebut biasanya dikenal dengan dengan sistem konstitutif dan sistem deklaratif.47

1. Sistem Deklaratif

Perlindungan hukum merek menurut UU merek Tahun 1961 menganut sistem deklaratif sebagaimana dapat dibaca pada pasal 2 ayat (1), yang berbunyi :

“ Hak khusus yang memakai suatu merek guna membedakan barang-barang hasil perusahaan atau barang-barang perniagaan seseorang atau usaha badan dari orang lain atau badan lain diberikan kepada barang siapa yang untuk pertama kali memakai merek itu untuk keperluan tersebut diatas di indonesia”

Hal ini berarti bahwa seseorang yang sudah mendaftarkan mereknya belum tentu akan tetap dianggap berhak untuk menggunakan merek tersebut untuk selamanya, sebab apabila ada orang lain yang dapat membuktikan bahwa dialah pemilik pertama dari merek yang sama dengan merek yang didaftarkan, maka

47Erma Wahyuni Dkk, Op Cit, hal.143.

Universitas Sumatera Utara

orang yang mendaftarkan merek yang pertama kali akan dibatalkan hak untuk menggunakan merektersebut.

Dalam pendaftaran merek yang sistem deklaratif, pendaftaran itu sendiri bukan merupakan suatu keharusan.Artinya pemilik merek yang memakai pertama tetap dapat memperoleh perlindungan hukum, meskipun tidak didaftarkan.48

Pendaftaran dalam sistem deklaratif lebih berfungsi untuk memudahkan pembuktian, artinyadengan adanya surat memperoleh surat pendaftaran maka akan mudah untuk membuktikan apabila ada pihak lain yang mengaku sebagai pemilik merek yang bersangkutan,49tentu saja hal ini berlaku sepanjang pihak lain tidak dapat membuktikan sebagai pemakai pertama kali merek yang didaftarkan tersebut. Jadi pendaftar pertama kali atas suatu merek hanya sebagai dugaan hukum sebagai pemakai pertama kali.

Pendaftaran dipandang hanya memberikan suatu prasangka menurut hukum atau dugaan hukum bahwa orang yang mendaftarkan merek adalah si pemakai pertama. Jadi pendaftaran ini hanya memberikan suatu dugaan hukum, bahwa orang yang mendaftarkan merek diangggap menurut hukum seolah-olah memang diakui sebagi pemakai pertama, dan karena itu sebagai pemilik merek yang bersangkutan.50

Sistem deklaratif ini seperti telah diuraikan diatas dalam praktek kurang menciptakan ketenangan bagi duina usaha, karena pendaftaran mereknya dpat dibatalkan dengan alasan pihak lain merupakan pemakai yang pertama.

48 Sudargo Gautama dan Rizawanto,Op, Cit.hal.33

49Ibid hal.33

50Erma Wahyuni Dkk, Op Cit, hal.144

Universitas Sumatera Utara

Sedangkan dalam praktek, pembuktian pemakaian pertama tidak sedikit menimbulkan persoalan sehingga sistem deklaratif ini dirasakan kurang menciptakan adanya kepastian hukum.51

Negara lain yang saat ini masih menggunakan pendaftaran dengan sistem deklaratif adalah Amerika Serikat yang termuat dalam Lanham Act of 1946 atauFederal Trademark Lanham Act.52Berdasarkan Lanham Act, disamping menganut sistem pemakai pertama, juga menganut sistem pendaftaran. Ketentuan Pasal 43 (a) atau g1125 (a) 15 USC, Lanham Act mengisyaratkan seseorang dapat memiliki sendiri hak-hak atas merek berdasarkan Undang-Undang negara bagian (state law) dan hukum nasional (federal law) tanpa pendaftaran merek.53

Namun demikian merek dapat didaftarkan berdasarkan ketentuan hukum negara bagian atau hukum nasional.54Selanjutnya berdasarkan pasal 22 atau g1072 , 15 USC Lanham Act, menekankan keuntungan sistem pendaftaran merek nasional yang mengakui hak pendaftar untuk mengatasi setiap tuntutan dari pemakai sebelumnya yang beriktikad baik.55

2. Sistem Konstitutif

Dalam pendaftaran merek dengan sistem konstitutif, Pendaftaran Merek merupakan keharusan agar dapat memperoleh hak atas merek. Tanpa pendaftaran,

51Ibid

52 HD Effendy Hasibuan, op.cit.hal.88.

53 Donald S Chisum dan Michael A Jacob, Understanding Intellectual Property Law, Mathew Bender & Co.Inc, New York, 1995, hal.5-11, yang dikutip HD Effendy hasibuanIbid.hal 89

54 David G Rosenbaun, Patents, Trademarks and Copyrights, Second Edition,Careers Press, Hawthorne, hal.30 yang dikutip oleh HD Effendy Hasibuan, Ibid hal.89.

55 Arthur R Miller dan Michael H Davis, Intellectual Property patents, Trademarks andCopyrights, West Publishing Co. St.Paul Min, 1990, hal.153 yang dikutip HD Effendy Hasibuan, Ibid.hal 89.

Universitas Sumatera Utara

negara tidak akan memberikan hak atas merek kepada pemilik merek. Hal ini berarti tanpa mendaftarkan merek, seseorang tidak akan diberikan perlindungan hukum oleh negara apabila mereknya ditiru oleh orang lain. Pendaftaran merek yang digunakan di Indonesia sejak Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1992 adalah sistem Konstitutif. Pada sistem Konstitutif ini perlindungan hukumnya didasarkan atas pendaftar pertama yang beritikad baik.

Hal ini juga seperti yang tercantum dalam Pasal (21) ayat (3) Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2016 yang menyatakan bahwa pendaftaran merek ditolak oleh pemohon yangberitikad tidak baik.

Dalam Pasal (4) ayat (1) disebutkan bahwa permohonan pendaftaran Merek diajukan oleh pemohon atau kuasanya kepada menteri secaraa elektronik atau non-elektronik dalam bahasa indonesia. Sehingga dimungkinkan permohonan pendaftaran merek dapatberlangsung dengan tertib, pemeriksaan merek tidak hanya dilakukan berdasarkan kelengkapan persyaratan formal saja, tetapi juga dilakukan pemeriksaan subtantif.

Dalam Pasal (23) ayat (1)Undang-UndangNomor 20 Tahun 2016 disebutkan bahwa pemeriksaan substantif merupakan pemeriksaan yang dilakukan oleh pemeriksa terhadap permohonan pendaftaran merek.atas permohonan pendaftaran merek ini dimaksudkan untuk menentukan dapat atau tidaknya merek yang dimohonkan didaftarkan dalam Daftar Umum Merek.

Pasal (23) ayat (3) dalam hal tidak terdapat keberatan dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal berakhirnya pengumuman, dilakukan pemeriksaan substantif terhadap pemohon.

Universitas Sumatera Utara

Pemeriksaan substantif dilakukan dalam jangka waktu paling lima puluh) hari.lama 150 ( seratus lima puluh hari).

Dalam hal Pemeriksa rnemutuskan Permohonan dapat didaftar, dijelaskan dalam pasal (24) ayat (1) , Menteri:

a. mendaftarkan Merek tersebut;

b. memberitahukan pendaftaran Merek tersebut kepada Pemohon atau Kuasanya;

c. menerbitkan sertifikat Merek; dan

d. mengumumkan pendaftaran Merek tersebut dalam Berita Resmi Merek, baik elektronik maupun nonelektronik

Pasal (24) ayat (2), Dalam hal Pemeriksa memutuskan Perrnohonan tidak dapat didaftar atau ditolak, Menteri memberitahukan secara tertulis kepada Pemohon atau Kuasanya dengan menyebutkan alasannya.

Permohonan merek juga harus ditolak apabila merek tersebut mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan merek pihak lain yang sudah terdaftar terlebih dahulu untuk barang atau jasa yang sejenis, mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan indikasi geografis yang sudah dikenal.56

Selain pemeriksaan substantif, harus pula ditempuh mekanisme Pengumuman terdapat dalam pasal 14:

(1). Menteri mengumumkan Permohonan dalam Berita Resmi Merek dalam waktu paling lama 15 (lima belas) Han terhitung sejak Tanggal Penerimaan Permohonan

56 Ahmadi M. Ramli, Cyber Law dan HAKI Dalam Sistem Hukum Indonesia, PT. Refika Aditama, Bandung, 2004, hal.11.

Universitas Sumatera Utara

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13.

(2) Pengumuman Permohonan dalam Berita Resmi Merek sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlangsung selama 2 (dua) bulan.

(3) Berita Resmi Merek sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diterbitkan secara berkala oleh Menteri melalui sarana elektronik dan/atau non-elektronik.

Dalam hal permintaan pendaftaran merek ditolak, keputusan tersebut diberitahukan secara tertulis oleh Direktorat Merek kepada pemilik merek atau kuasanya dengan disertai alasan-alasan.Penolakan terhadap putusan ini dapat diajukanbanding secara tertulis oleh pemilik merek atau kuasanya kepada Komisi Banding Merek. Tentang permohonan banding dan Komisi Banding Merek ini terdapat dalam Pasal 28 sampai dengan Pasal 34 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016.

Komisi Banding Merek merupakan badan khusus yang independen yang berada dilingkungan Direktorat Hak Kekayaan Intelektual.Keputusan yang diberikan oleh Komisi Banding Merek paling lama 3 (tiga) bulan terhitung sejak tanggal penerimaan permohonan banding.Keputusan Komisi Banding bersifat final dan mengikat.Pasal (29), apabila komisi banding merek mengabulkan permintaan banding,Permohonan banding terhadap penolakan Permohonan

Komisi Banding Merek merupakan badan khusus yang independen yang berada dilingkungan Direktorat Hak Kekayaan Intelektual.Keputusan yang diberikan oleh Komisi Banding Merek paling lama 3 (tiga) bulan terhitung sejak tanggal penerimaan permohonan banding.Keputusan Komisi Banding bersifat final dan mengikat.Pasal (29), apabila komisi banding merek mengabulkan permintaan banding,Permohonan banding terhadap penolakan Permohonan

Dokumen terkait