Asal-usul kemampuan mengobati dari para wong pinter
diperoleh dari berbagai sumber misalnya ada yang belajar sendiri, keturunan, belajar dari orang-orang terdahulu dengan cara niteni, belajar di pesantren, atau kepada guru. Sebagian
yang lainnya melakukan laku prihatin dengan usaha-usaha
semedi atau meditasi di tempat-tempat sunyi seperti sungai- sungai, ziarah ke tempat-tempat yang disakralkan, atau dengan melakukan banyak wirid dan sholat tahajud. Narasumber lain berdoa dan meminta pertolongan Allah dengan melakukan sholat, puasa dan dzikir tiap malam ketika harus menangani masalah yang berat.
Terdapat kepercayaan bahwa kegiatan membantu
hanya dilakukan ketika seseorang sudah mencapai
kedewasaan tertentu. Aturan kedewasaan dalam hal
membantu sebagai penyembuh ini berbeda dengan
kedewasaan biologis. Salah satu contohnya, Pak Ento tukang pijat di Parakan yang pernah penulis wawancarai, mengatakan bahwa ketika SMA ia sudah mampu memberi bantuan penyembuhan tetapi ketika hal tersebut diceritakan kepada ayahnya, justru dia mendapat marah. Menurut ayahnya, saat itu belum waktunya ia memberi bantuan. Narasumber ini mengatakan bahwa bila seseorang dengan kemampuannya memberi bantuan penyembuhan pada waktu yang belum tepat
sejak usia anak-anak. Saat kecil, narasumber ini menunjukkan keanehannya. Ketika rambut gimbalnya akan dipotong, gunting yang dipakai untuk memotong ternyata tidak kuat dan patah. Ia juga sudah mampu berlari di atap rumah dan duduk bersila di pucuk pohon bambu.
Pengetahuannya yang di luar kebiasaan orang pada umumnya didapatkan dengan cara yang tidak biasa juga. Data penelitian mencatat beberapa informasi tentang bagaimana
cara penyembuhan yang dilakukan para wong pinter datang.
Mbah Derun mengatakan mendapatkan petunjuk saat tidur lewat mimpi bahwa maag juga dapat diobati dengan mengonsumsi nasi hanya pada hari Kamis saja. Selain hari Kamis dibolehkan mengonsumsi makanan selain nasi. Bisikan gaib itu didapatkan ketika tidur. Narasumber merasa tidak mengetahui wujudnya tetapi mendengarkan bisikannya. Petunjuk lewat mimpi juga dialamai Pak Ahmad Daroji. Sedangkan, Mbah Marwoto dan Mbah Siswo Utomo mendapat petunjuk penyembuhan melalui meditasi.
Narasumber lain, Pak Sareng Widodo, mengatakan bahwa penanganan suatu penyakit akan berbeda pada tiap orang. Hal ini sangat ditentukan oleh pertanda tertentu yang terlintas di pikiran. Narasumber merasakan seperti ada kontak dengan makhluk lain yang ada dalam dirinya. Hal itu
berlangsung secara kilat dan kontan. Ketika seseorang datang
menyampaikan masalahnya, adanya penyakit atau
permasalahan lain, seketika itu juga terjadi kontak dengan makhluk tersebut dan penyelesaian masalah pun didapatkan. Pelayanan segera dapat dilakukan kepada tamu yang datang tersebut.
Mbah Marwoto, narasumber lain yang beragama Budha, selalu melakukan meditasi dengan tujuan dapat mengetahui penyakit-penyakit yang diderita orang-orang yang datang meminta bantuan. Menurutnya, Tuhan Yang Maha Esa
memberikan ilham kepadanya. Narasumber mengaku
mendapatkan gambaran penyakit yang diderita tamunya di dalam kepalanya. Diceritakan, suatu saat seseorang datang untuk diberi tahu dirinya mengidap penyakit jenis apa. Narasumber mengatakan bahwa yang bersangkutan mengidap usus buntu, dan ternyata setelah dilakukan deteksi medis, benar bahwa penyakit yang dideritanya adalah usus buntu. Narasumber lain, Mbah Siswo Utomo, yang juga beragama Budha mengatakan bahwa dengan meditasi dirinya merasa mendapatkan bisikan dari dzat yang tidak diketahui wujudnya.
Pak Sudarto, salah satu narasumber dari Candiroto mengatakan bahwa dirinya tidak bisa memberikan informasi mengenai metode penyembuhan setiap penyakit tetapi secara umum dirinya memberi penyembuhan dengan media tanaman dan air. Meskipun demikian detail cara pengobatannya tidak dapat dijelaskan. Menurut pengakuannya, jenis penyembuhan bagi masing-masing penyakit yang diderita pasien berbeda dan diperoleh melalui hidayah Tuhan secara langsung. Hal
yang dipersyaratkan adalah wong pinter tersebut bertemu
dengan orang yang sakit secara langsung. Narasumber menggambarkannya seperti orang membuka laptop. Mungkin
bahwa dirinya bukan orang sembarangan. Kemudian pada
waktu yang lain wong pinter tersebut memberi “pegangan”
berupa keris kecil yang kemudian dibacakan doa dan selanjutnya keris tersebut melayang di atas kepalanya. Seterusnya keris tersebut masuk ke dalam kepalanya melalui keningnya. Setelah keris tersebut masuk maka dirasakan panas
di sekujur tubuhnya, tetapi kemudian wong pinter tersebut
mengatakan bahwa suatu saat akan banyak orang
mendatanginya. Setelah itu narasumber mengunjungi wong
pinter yang memberinya keris kecil setiap Rabu. Narasumber juga mengunjungi tempat-tempat sakral untuk melakukan
pertapaan. Ia juga melakukan laku prihatin dengan bermalam
di makam wali. Saat bermalam tersebut dirinya mengaku sering didatangi sosok seperti manusia yang salah satunya berpakaian seperti Pangeran Diponegoro.
Mbah Tutik ketika melakukan penyembuhan
menanyakan nama, tanggal lahir, dan apa yang dimakan, kegiatan, dan lainnya. Dengan memegang segelas air ia berdoa. Bibirnya didekatkan ke gelas dan dari gelas tersebut keluar makhluk besar seperti manusia. Gelasnya pun menjadi seperti raksasa. Makhluk inilah yang memberi tahu hal-hal apa saja yang harus dipenuhi pasiennya. Syarat tersebut misalnya: kembang mawar merah putih, salam dan air doa. Ada juga
syarat kembang kantil. Pada hari berikutnya pasien akan datang lagi dengan membawa syarat tersebut untuk didoakan lagi.
Bapak Mukarto: Puasa dan Prihatin (Sumber: Dokumen Pribadi Peneliti)
Bapak Suryoto: Ilmu dari Kakek (Sumber: Dokumen Pribadi Peneliti)
Dalam rangka melakukan kegiatan menyembuhkan dan memberi pelayanan sosial kepada warga masyarakat yang
membutuhkan, para wong pinter memiliki beberapa motivasi
atau dorongan. Dari hasil penelitian menunjukkan data
motivasi wong pinter melakukan kegiatan tersebut adalah
sebagai berikut.
No Nama Nara Motivasi/Dorongan
Sumber
1 Sugiyanto Keinginan untuk membantu orang
yang tidak mampu.
2 Sudarto Meringankan beban masyarakat
desa yang pada umumnya
berkekurangan.
3 Subartun Keyakinan bahwa membantu
sesama adalah kewajiban setiap
manusia.
4 Susanto Menolong dan membantu dengan
tulus karena Allah.
5 Derun Cinta kasih.
Sesama manusia harus saling
tolong-menolong.
6 Siwo Utomo Rasa cinta kasih.
Meyakini bahwa sesama makhluk hidup harus saling mengasihi.
7 Akhmad Manusia harus membantu sesama.
Daroji
8 Arisun Didasari rasa welas asih (cinta
kasih) karena ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain.
Sesama manusia hendaknya saling membantu karena manusia hidup
bersama orang lain. Harus
membantu orang yang
membutuhkan.
9 Rohim Menghilangkan kejahatan karena
pada saat itu banyak anak muda
mabuk dengan melatih tenaga
dalam. Para pemuda kemudian
mempunyai kemampuan
penyembuhan. Keyakinan yang
ditumbuhkan adalah bahwa
membantu orang sakit atau
terkena sihir, asal tidak
menggunakan ketamakan dan
biaya maka pahala akan mengalir
dan orang yang dibantu akan
bantuan, beliau ikhlas membantu
tanpa minta balasan. Penting
untuk membuat semua orang sakit
menjadi sembuh. Tidak boleh
menolak orang yang meminta
bantuan.
12 Sri Astuti Memberi bantuan kepada orang
yang datang meminta bantuan.
13 Robianus Niat murni ingin menolong
Marciano sesama manusia.
Umba Ingin mengungkapkan cintanya
pada manusia dengan menolong sesama.
14 Prawoto Mendapat pelajaran penyembuhan
dari seorang guru. Keyakinannya
bahwa beliau harus setia pada
guru. Melalui perantara gurunya,
beliau mampu memberikan
pertolongan kepada banyak orang atas izin Tuhan Yang Maha Esa.
15 Mukarto Keinginan untuk membantu
masyarakat dan mencari amal
baik.
16 Karyo Keinginan untuk mencari ilmu (ke
Kraton Yogyakarta) yang berguna
bagi masyarakat.
17 Suryoto Merasa mendapat pesan
gaib/wahyu dari Tuhan melalui
mimpi yang menyuruh beliau
membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan.
Bila ada warga masyarakat
meminta bantuan, beliau mau
melakukannya semata-mata untuk membantu mendoakan.
18 Sarman Kasihan, keinginan membantu,
dan beribadah.
19 Alon Beliau meyakini bahwa Allah akan
Musyafak menolong hambaNya sepanjang
hamba tersebut mau menolong
saudaranya.
Keinginan untuk memberikan
pertolongan kepada orang yang membutuhkan karena menolong tidak hanya dengan menggunakan
materi.
yang senantiasa harus dimiliki
manusia agar kehidupan dapat
berjalan dengan harmoni.
22 Tugiyanto Kurang ada data karena
narasumber sebagai
pengurus/misionaris organisasi
banyak menjelaskan Sapto Darmo.
23 Abdul Fatah Ikhlas karena Allah SWT dan
sudah dibenarkan dari iman dan hatinya.
Adanya keyakinan bahwa
membantu orang yang
membutuhkan akan mendapat
ridlo Allah SWT.
24 Sareng Mempunyai kemampuan
Widodo menyembuhkan sejak kecil.
Membantu orang yang datang
meminta bantuan/pertolongan.
25 R.A.B. Menolong sesama. Marsuhud
Ibu Sri Astuti Tetap Menolong Meskipun Sakit (Sumber: Dokumen Pribadi Peneliti)
Bapak Tugiyanto Motivasi Menyebarkan Sapto Dharmo (Sumber: Dokumen Pribadi Peneliti)
merupakan kewajiban kepada sesama.
3.Ingin berguna bagi sesama, mencari amal kebaikan.
4. Membantu dengan tulus dan ikhlas karena Allah,
tidak mengharap imbalan.
5. Memintakan pertolongan Allah, bila cocok maka
orang yang meminta penyembuhan akan sembuh dari sakit.
6. Keyakinan bahwa bila orang membantu sesama
maka orang akan mendoakan yang membantu.
Bapak Rohim Wong Pinter yang juga Kepala Madrasah (Sumber: Dokumen Pribadi Peneliti)
Sebagian dari para wong pinter melakukan bantuan penyembuhan dan pelayanan sosial lainnya karena adanya bisikan gaib, mengikuti petunjuk guru, atau mendapatkan kemampuan secara tidak disengaja. Karena kemampuannya tersebut, mereka didatangi orang-orang yang memerlukan bantuan. Ketika kemudian seseorang mampu melakukan penyembuhan dan bantuan lainnya, hal yang ditekankan adalah keikhlasan, memberi bantuan tanpa mengharap imbalan, tidak menawarkan diri untuk membantu, tetapi bila ada orang datang meminta bantuan maka pantang menolak untuk memberi bantuan.
Bapak Sugiyanto: Membantu Orang Tidak Mampu (Sumber: Dokumen Pribadi Peneliti)
Alasan lain mengapa para wong pinter ini tetap melaksanakan kegiatannya adalah karena keluarga dan
melakukan meditasi yang dianggap tidak diajarkan Islam. Praktik semacam ini oleh mereka dianggap tidak sesuai ajaran Islam dan bahkan dianggap syirik sehingga pantas dihilangkan. Bagi narasumber, ekstrimis yang berpandangan
sempit ini dianggap keminter. Meskipun demikian,
kenyataannya sebagian besar masyarakat masih menerima keberadaannya dan menganggap figur mereka sebagai tokoh panutan.
Bapak Ahmad Nasikhun dari Pesantran: Membantu sesama tanpa Minta Upah
(Sumber: Dokumen Pribadi Peneliti)
Bapak Akhmad Daroji (Berpeci Hitam) Wong Pinter sekaligus Pamong Desa (Sumber: Dokumen Pribadi Peneliti)
Mbah Karyo: Doa Unsur Penting (Sumber: Dokumen Pribadi Peneliti)
Wong pinter melayani berbagai masalah yang dihadapai oleh warga masyarakat. Masalah tersebut berkaitan dengan penyakit-penyakit fisik, penyakit non fisik, dan persoalan sosial kemasyarakat. Yang termasuk penyakit fisik seperi: darah tinggi, diabetes, tumor, demam, dan lainnya. Yang termasuk penyakit non-fisik seperti: terkena santet,
diganggu jin, terkena sawan, dan lainnya. Sedangkan
pelayanan sosial yang lain misalnya: mendamaikan keluarga, menangani anak rewel, memberi nasihat, dan lainnya.
Metode yang dilakukan adalah penyembuhan dengan memberikan obat berbahan herbal dan bahan alami, dengan pijat dan pembenahan saraf, serta metode penyembuhan dengan model doa. Untuk penyakit fisik dilakukan penyembuhan dengan model herbal dan bahan alami, pijat, pembenahan saraf, dan juga penyembuhan dengan doa. Penyembuhan pada masalah non-fisik dan masalah sosial yang lain kebanyakan dilakukan dengan metode doa.
Kegiatan penyembuhan dan bantuan-bantuan sosial
yang dilakukan oleh para wong pinter dilandasi oleh beberapa
nilai yaitu: cinta kasih atau welas asih, keinginan untuk
menolong sesama, ingin berguna bagi sesama, mencari amal kebaikan, membantu dengan tulus dan ikhlas dengan tidak
mengharap imbalan, memasrahkan diri pada pertolongan Tuhan, dan keyakinan bahwa membantu sesama adalah kewajiban sebagai manusia.
B. Saran
Pengetahuan para wong pinter merupakan pengetahuan
tradisional yang mungkin tidak didasari oleh pengetahuan yang memadai. Dimungkinkan bahwa pengetahuan dan kepercayaan warga masyarakat yang meminta bantuan sebagian ditentukan oleh pandangan-pandangan yang tidak terukur yang dapat ditelusuri pada mitos-mitos yang dipercayai masyarakat. Oleh karena itu menarik dilakukan kajian lebih lanjut mengenai latar belakang pemahaman atau kepercayaan masyarakat terhadap cara-cara penyembuhan dan eksistensi para penyembuh tersebut.
Daniels, Timothy P. 2009. Islamic Spectrum in Java, Farnham,
England; Burlington, VT: Ashgate, 55–80,
http://public.eblib.com/
EBLPublic/PublicView.do?ptiID=449235.
Foster, George M. and Barbara Gallatin Anderson. 2006. Antropologi Kesehatan. Judul Asli: Medical Anthropology. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.
Geertz, Clifford. 1976. The Religion of Java. Chicago: University
of Chicago Press, 86–111.
Incayawan, Mario, dan Ronald C. Wintrob. 2009. Psychiatrists
and Traditional Healers: Unwitting Partners in Global Mental Health. UK: John Wiley and Sons Ltd.
Indrasuari, Apita Fikri. 2012. “Kepercayaan Pedagang terhadap
Wong Pinter dalam Menunjang Usaha Dagang di
Pasar Bintoro Demak”, Solidarity, Vol 1, No 1
(2012) dalam http://journal.unnes.ac.id/ sju/ index.php/ solidarity/article /view/217.
Koentjaraningrat. 2000. Kebudayaan Mentalitas Pembangunan.
Jakarta: Pustaka Gramedia.
Marsiya, Metik. 2011. “Alternatif dan Medis adalah Pilihan
Lengkap dengan Resikonya”, dalam
Kesehatan.kompasiana.com/alternative /2011
/02/23/alternatif-dan-analisa-adalah-pilihan-lengkap- dengan-resikonya.
Matondang, Sopan TR. 2014. “Nilai-nilai Simbolik upacara
adat Belian Masyarakat Dayak Paser Kalimantan
Timur”, Skripsi Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta.
Santino, Jack. 1985. “On The Nature of Healing as a Folk
Event,” Western Folklore 44, no. 3 (July 1985): 153, doi:10.2307/1499833.
Sartini a. 2014. “Wong Pinter di antara Para Penyembuh
Tradisional Jawa”, dalam Patrawidya, Vol. 15, No. 4, 641-664.
Sartini b. 2014. ”Profil Wong Pinter menurut Masyarakat
Temanggung Jawa Tengah”, dalamPatrawidya, Vol. 16,
No. 2, 269-286.
Sartini. 2015. “Aspek-Aspek Mistisisme pada Wong Pinter di
Temanggung Jawa Tengah” , Laporan Penelitian
Fakultas Filsafat UGM, Yogyakarta,
Sofwan, Ridin. 2010. Peranan Wong Pinter dalam
Penyembuhan Alternatif di Kota Semarang, IAIN Walisongo Semarang.
Sutiono, Agustinus. 2014. “The Roles and Significance of Wong
Pinter, The Javanese Shaman”, Dissertation, The University of Leeds York St. John University.
Trisakti, Sonjoruri Budiani. 2009. “Kecerdasan Lokal dalam
Prosesi Ritual menjadi Balin pada Masyarakat
Dayak”, dalam http://filsafat.ugm.ac.id/?p=873,
Laporan Penelitian Fakultas Filsafat UGM.
Profil Peneliti/Penulis
SARTINI, lahir di Temanggung, 28 Maret 1968, adalah dosen di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada sejak tahun 1993, sekarang berpangkat Lektor Kepala. Mengajar matakuliah: Filsafat Kebudayaan, Kearifan Lokal, Filsafat Perenial, dan Pendidikan Kewarganegaraan. Pendidikan S1, Bidang Ilmu Filsafat UGM. S2, Bidang Ilmu Filsafat UGM, sedang menyelesaikan studi S3 Bidang Inter-Religious Studies UGM.
Karya ilmiah: Menggali Kearifan Lokal Nusantara
Sebuah Kajian Filsafati (2004). Makna Kebebasan Beragama
(2007). Mutiara Kearifan Lokal Nusantara (2008) Nilai-nilai
Individualisme sebagai Tantangan Nilai Kehidupan Kolektif Kearifan Lokal Nusantara (2008). Kearifan Ekologis sebagai Implementasi Pandangan Organistik Holistik (Studi Kasus Masyarakat Hutan Adat Wonosadi Ngawen Gunung Kidul) (2009). Inventarisasi Pemikiran tentang Perkembangan Kebudayaan (2011). Inventarisasi Tokoh dan Pemikiran tentang Kritik Perkembangan Kebudayaan Modern (2011). Hutan Wonosadi Antara Mitos dan Kearifan Lingkungan (2011). Mitos-Mitos Situs Sakral Alami dan Fungsinya bagi Pengembangan Etika Lingkungan (2012). Ritual Bahari di Indonesia: Antara Kearifan Lokal dan Nilai Konservasinya (2012). Nilai-nilai Kearifan Lokal pada Hubungan antara Mitos Dewi Sri dan Eksistensi Seni Tradisional di Indonesia
(2012). Religion and Local Wisdom: When Indonesians Practice
matakuliah: Filsafat Sosial, Teori-teori Sosial, Pendidikan Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan. Pendidikan S1, S2, dan S3 Bidang Ilmu Filsafat UGM UGM. Karya ilmiah: Media sebagai Ruang Publik dalam Konteks Perwujudan Demokrasi,
Konsep Ajjoareng Joa‟ dalam Tatanan Sosial Masyarakat
Bugis (Perspektif Filsafat Sosial) (2010), Konsep Keadilan John Rawls dalam wacana Filsafat, Sosial, Totalitarianisme Kekuasaan dalam Pemikiran Hannah Arendt (2011), Teori Tindakan Sosial Max Weber: Perspektif Filsafat Sosial (2012), Politik Pencitraan dalam Telaah Teori Fantasi Sosial Slavoj Zizek: Sebuah Kritik Ideologi Atas Politik Pencitraan Susilo Bambang Yudhoyono (2013), Negara dan Civil Society dalam Pandangan John Locke, Pendekatan Skizoanalisis Gilles Deleuze dan Felix Guattari dalam Melihat Persoalan Kapitalisme (2014).
Email: [email protected].
LUWIYANTO, lahir di Pati 2 November 1963, adalah dosen pada Program Studi Bahasa Jawa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Widya Dharma Klaten Jawa Tengah sejak tahun 2009. Menyelesaikan studi S1 dan S2 di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Pangkat Asisten Ahli. Mengajar beberapa matakuliah antara lain: Bahasa Jawa, Tembang Macapat, Filologi Jawa, Telaah Naskah. Karya
ilmiahnya antara lain: Kama dan Siwa dalam Penciptaan Teks Kakawin (2013), Pesan Moral Kelahiran Dasamuka Versi Serat
Purwakandha Brantakusuman (2014), Babad Pacitan: Suntingan
Teks, Terjemahan, dan Kajian Sastra (2016).
Email: [email protected].