TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penyerapan Tenaga Kerja
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS, 2003:60), penyerapan tenaga kerja merupakan suatu jumlah kuantitas tertentu dari tenaga kerja yang digunakan oleh suatu sektor atau unit usaha tertentu. Jadi dapat disimpulkan bahwa tenaga kerja merupakan jumlah riil dari tenaga kerja yang dikerjakan dalam unit usaha.
Daya serap tenaga kerja merupakan suatu model permintaan suatu unit usaha terhadap tenaga kerja dalam pasar kerja yang di pengaruhi oleh tingkat upah yang berlaku. Tingkat upah yang berlaku ini juga mempengaruhi kekuatan perusahaan dalam menyerap tenaga kerja dari pasar. Kekuatan terhadap permintaan tenaga kerja tersebut dipengaruhi oleh faktor eksternal dan faktor internal dari usaha tersebut. Semakin sempitnya daya serap sektor modern terhadap perluasan penyerapan kerja telah menyebabkan sektor tradisional menjadi tempat penampungan angkatan kerja. Lapangan kerja terbesar yang dimiliki Indonesia berada pada sektor informal. Hal ini disebabkan sektor informal mudah dimasuki oleh para pekerja karena tidak banyak memerlukan modal, kepandaian, dan keterampilan (Depnakertrans, 2004)
15 2.1.1 Pasar Tenaga Kerja
Pasar tenaga kerja adalah seluruh aktifitas yang mempertemukan antara permintaan tenaga kerja dengan penawaran tenaga kerja. Pelaku permintaan dan penawaran terdiri dari pengusaha, pencari kerja, serta perantara atau pihak ketiga yang memberikan kemudahan bagi pengusaha dan pencari kerja untuk saling berhubungan secara langsung.
Proses mempertemukan pencari kerja tidaklah membutuhkan waktu yang singkat, karena dalam prosesnya baik pencari kerja maupun pengusaha dihadapkan pada suatu kenyataan sebagai berikut (M. Rizal Azaini, 2014)
a. Pencari kerja mempunyai tingkat pendidikan, keterampilan, kemampuan dan sikap yang berbeda
b. Setiap perusahaan menghadapi lingkungan yang berbeda: Iuran (output), masukan (input), manajemen, teknologi, pasar, dll, sehingga mempunyai kemampuan yang berbeda dalam memberikan tingkat upah, jaminan sosial dan lingkungan pekerjaan.
c. Baik pengusaha maupun pencari kerja sama-sama mempunyai informasi yang terbatas mengenai hal-hal yang dikemukakan pada butir 1 dan 2.
2.1.2 Permintaan dan Penawaran Tenaga Kerja
Permintaan tenaga kerja berkaitan dengan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan oleh perusahaan atau instansi tertentu. Biasanya permintaan akan tenaga kerja ini dipengaruhi oleh perubahan tingkat upah dan perubahan
faktor-16 faktor lain yang mempengaruhi permintaan hasil output. Semakin tinggi tingkat upah maka semakin kecil permintaan pengusaha terhadap tenaga kerja, akan tetapi sebaliknya perusahaan pun dapat menambah permintaan terhadap tenaga kerja dikarenakan upah yang semakin tinggi dan daya beli masyarakat yang meningkat, justru membuat pengusaha harus meningkatkan produktivitasnya.
Penawaran tenaga kerja adalah jumlah tenaga kerja yang dapat disediakan oleh pemilik tenaga kerja pada setiap kemungkinan upah dalam jangka waktu tertentu. Dalam teori klasik sumberdaya manusia (pekerja) merupakan individu yang bebas mengambil keputusan untuk bekerja atau tidak. Bahkan pekerja juga bebas untuk menetapkan jumlah jam kerja yang diinginkan. Teori ini didasarkan pada teori tentang konsumen, dimana setiap individu bertujuan untuk memaksimumkan kepuasan dengan kendala yang dihadapinya.
Permintaan dan penawaran tenaga kerja dalam sesuatu jenis pekerjaan sangat besar peranannya dalam menentukan upah di tiap jenis perusahaan. Di dalam suatu pekerjaan dimana terdapat penawaran tenaga kerja yang cukup besar tapi tidak banyak permintaan, upah untuk mencapai tingkat yang rendah.
Sebaliknya di dalam suatu pekerjaan dimana terdapat penawaran tenaga kerja yang terbatas tetapi permintaanya sangat besar, upah cenderung untuk mencapai tingkat yang tinggi (Sukirno, 2003:69).
W
SL
17 We E
DL 0 Le L
Gambar 1.1
Kurva Permintaan dan Penawaran
Ket :
SL : Penawaran Tenaga Kerja (Supply of Labor) DL : Permintaan Tenaga Kerja (Demand of Labor)
W : Upah
L : Jumlah tenaga kerja We : Upah Keseimbangan
Le : Jumlah Tenaga Kerja Keseimbangan E : Keseimbangan permintaan dan penawaran Sumber: Ekonomi Mikro, Teori Permintaan dan Penawaran
2.1.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penyerapan Tenaga Kerja
Permintaan tenaga kerja berkaitan dengan jumlah tenaga yang dibutuhkan oleh perusahaan atau instansi. Faktor-faktor yang berpengaruh dalam penyerapan tenaga kerja dalam (Sumarsono, 2003:105-106) adalah:
a. Investasi, investasi dapat diartikan sebagai pengeluaran atau pembelanjaan, penanaman modal atau perusahaan untuk membeli barang-barang modal dan perlengkapan-perlengkapan produksi untuk menambah kemampuan produksi barang dan jasa yang tersedia dalam perekonomian.
b. Upah, upah di artikan sebagai sejumlah dana yang dikeluarkan pengusaha untuk membayar tenaga kerja karena telah melakukan pekerjaan untuk menghasilkan produk barang atau jasa. Upah yang terus meningkat secara langsung akan membawa dampak signifikan
18 pada penawaran tenaga kerja, karena dengan adanya tingkat upah yang naik, maka pengusaha akan berupaya untuk meningkatkan atau menambah jumlah unit usahanya sehingga pengusaha akan menambah jumlah tenaga kerjanya.
c. Nilai Produksi, adalah tingkat atau keseluruhan jumlah barang yang dihasilkan oleh perusahaan. Naik turunnya permintaan pasar akan hasil produksi dari perusahaan yang bersangkutan akan berpengaruh apabila permintaan hasil produksi barang perusahaan meningkat, maka produsen cenderung untuk menambah kapasitas produksinya.
Jumlah orang yang bekerja tergantung dari besarnya permintaan dalam masyarakat. Besarnya penempatan (jumlah orang yang bekerja atau tingkat employment) dipengaruhi oleh faktor kekuatan penyediaan dan permintaan tersebut. Selanjutnya, besarnya penyediaan dan permintaan tenaga kerja dipengaruhi oleh tingkat upah, apabila tingkat upah naik maka jumlah penawaran tenaga kerja akan meningkat (BPS, 2003:61).
2.1.4 Teori Penyerapan Tenaga Kerja
2.1.4.1 Teori Klasik Adam Smith, Specialization and division of labor
Menurut Adam Smith bahwa pertumbuhan penduduk yang tinggi akan dapat menaikan output melalui penambahan tenaga kerja dan ekspansi pasar baik pasar dalam neger maupun luar negeri. Para ekonom klasik mengemukakan bahwa pertumbuhan penduduk yang diiringi dengan adanya perubahan teknologi akan mendorong tabungan dan juga penggunaan skala ekonomi dalam produksi (Sukirno, 2006:123-124).
19 Pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan angkatan kerja secara tradisional dianggap sebagai salah satu faktor positif yang memacu pertumbuhan ekonomi.
Jumlah tenaga kerja yang lebih besar berarti akan menambahkan tingkat produksi, sedangkan pertumbuhan penduduk yang lebih besar berarti ukuran pasar domestiknya lebih besar (Lewis, dalam Arifatul Chusna, 2013).
2.2 Investasi
Investasi dapat diartikan sebagai pengeluaran atau perbelanjaan penanaman modal atau perusahaan untuk membeli barang-barang modal dan perlengkapan perlengkapan produksi untuk menambah kemampuan memproduksi barang dan jasa yang tersedia dalam perekonomian, atau dapat dijelaskan bahwa investasi merupakan komitemen atas sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang dilakukan pada saat ini dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan di masa yang akan datang, kegiatan investasi memungkinkan masyarakat terus menerus meningkatkan kegiatan ekonomi dan penyerapan kerja, meningkatkan pendapatan nasional dan meningkatkan taraf kemakmuran masyarakat, (Sukirno, 2001:106-110).
Investasi merupakan salah satu komponen dari pengeluaran agregat, sehingga kenaikan investasi akan meningkatkan permintaan agregat, pendapatan nasional serrta penyerapan kerja, pertambahan barang modal sebagai akibat investasi akan menambahkan kapasistas produksi. Investasi selalu diikuti oleh perkembangan teknologi, di negara-negara berkembang, kekurangan modal dapat dilihat dari beberapa sudut, yaitu:
1. Kecilnya jumlah mutlak kapita material 2. Terbatasnya kapasitas dan keahlian penduduk
20 3. Rendahnya investasi netto
Akumulasi modal akan berhasil apabila beberapa bagian atau proporsi pendapatan yang ada di tabung dan di investasikan untuk memperbesar produk (output) dan pendapatan di kemudian hari. Investasi di bidang pengembangan sumberdaya manusia akan meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia, sehingga menjadi tenaga ahli yang terampil yang dapat memperlancar kegiatan produktif. Kegiatan investasi memungkinkan suatu masyarakat terus menerus meningkatkan kegiatan ekonomi dan penyerapan kerja, meningkatkan pendapatan nasional dan meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat, dan fungsi penting dari kegiatan investasi yaitu, Investasi merupakan salah satu komponen dari pengeluaran agregat, sehingga kenaikan investasi akan meningkatkan permintaan agregat, pendapatan nasional serta penyerapan kerja (Todaro, 1995:98-99).
2.2.1 Jenis-jenis Investasi
1. Autonomous Investment (Investasi Otonom)
Investasi Otonom adalah investasi yang besar kecilnya tidak dipengaruhi oleh pendapatan nasional, artinya tinggi rendahya pendapatan nasional tidak menentukan jumlah investasi yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan (Sadono Sukirno. 2001:109).
2. Induced Investment (investasi Dorongan)
Investasi dorongan adalah investasi yang besar kecilnya sangat dipengaruhi oleh tingkat pendapatan, baik itu pendapatan daerah ataupun pendapatan nasional. Diadakannya investasi ini akibat adanya pertambahan, permintaan, dimana pertambahan permintaan tersebut sebagai akibat dari pertambahan pendapatan (Sukirno, 2001:115).
21 Menurut Badan Pusat Statistik (BPS, 2009) Investasi asing di Indonesia dapat dilakukan dalam dua bentuk investasi, yaitu:
1. Investasi Portofolio
Investasi portofolio dilakukan melalui pasar modal dengan instrumen surat berharga saham dan obligasi. Dalam investasi portofolio, dana yang masuk ke perusahaan yang menerbitkan surat berharga (emiten), belum tentu membuka lapangan kerja baru. Sekalipun ada emiten yang setelah mendapat dana dari pasar modal untuk memperluas usahanya atau membuka usaha baru, hal ini berarti pula membuka lapangan kerja. Tidak sedikit pula dana yang masuk ke emiten hanya untuk memperkuat struktur modal atau mungkin malah untuk membayar hutang bank. Selain itu, dalam proses ini tidak terjadi alih teknologi atau alih keterampilan manajemen.
2. Investasi Langsung
Investasi langsung atau disebut juga dengan penanaman modal asing (PMA) merupakan bentuk investasi dengan jalan membangun, membeli total atau mengakuisisi perusahaan.
Penanaman modal asing (PMA) atau Foreign Direct Invesment (FDI) banyak mempunyai kelebihan. Selain sifatnya yang permanen/ jangka panjang.
Penanaman modal asing memberi andil dalam alih teknologi, alih keterampilan manajemen dan membuka lapangan kerja baru.Lapangan kerja ini penting diperhatikan, mengingat bahwa masalah menyediakan lapangan kerja merupakan masalah yang cukup memusingkan pemerintah.
2.2.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Investasi
22 Ada beberapa faktor yang mempengaruhi besar kecilnya investasi (Sukirno, 2001:109) di antaranya adalah :
1. Tingkat bunga
Jika tingkat bunga rendah, maka tingkat investasi yang terjadi akan tinggi, karena kredit dari bank menguntungkan untuk mengadakan investasi. Sebaliknya jika tingkat bunga tinggi, maka tingkat investasi akan rendah, karena tingkat kredit dari bank tidak dapet memberikan keuntungan dalam proyek investasi.
2. Marginal Efficiency of capital (MEC)
Jika keuntungan yang diharapkan (MEC) lebih kecil daripada tingkat suku bunga riil yang berlaku, maka investasi tidak akan terjadi. Jika MEC yang diharapkan lebih tinggi daripada tingkat bunga riil, maka tingkat investasi akan dilakukan. Jika MEC sama dengan tingkat suku bunga, maka pertimbangan untuk mengadakan investasi dapat dipengaruhi oleh faktor lain.
3. Peningkatan aktivitas perekonomian
Jika ada perkiraan peningkatan aktivitas ekonomi dimasa yang akan datang, walaupun tingkat bunga lebih besar daripada MEC, maka investasi mungkin akan tetap dilakukan oleh para investor yang mempunyai instring tajam (risk seeking). Karena investor menganggap bahwa investasi di masa yang akan datang akan memperoleh banyak keuntungan. Sekalipun faktor ini bukan merupakan faktor utama, tetapi penting untuk dipertimbangkan oleh para investor dalam mengambil keputusan.
4. Kestabilan politik suatu negara
Semakin stabil kondisi politik suatu negara semakin baik iklim investasi di suatu negara tersebut, sehingga investasi baik dalam bentuk PMA atau PMDN di
23 negara tersebut akan meningkat. Karena dengan suhu politik yang stabil, berarti country risk juga rendah yang berarti keuntungan investasi semakin baik.
5. Tingkat keuntungan investasi yang akan diperoleh.
Semakin tinggi tingkat keuntungan dalam berinvestasi suatu barang tertentu akan makin besar tingkat investasi tersebut. Namun secara umum semakin tinggi tingkat keuntungan dari investasi juga semakin tinggi resikonya.
6. Faktor-faktor lain
Selain kelima faktor tersebut, investasi juga cukup di pengaruhi oleh faktor-faktor seperti: tingkat kemajuan teknologi, ramalan menganai keadaaan ekonomi di masa yang akan datang dan tingkat pendapatan nasional dan perubahan-perubahannya.
2.2.3 Teori Investasi
2.2.3.1 Teori Keynes (The General Theory of Employment, Interest and Money)
Menurut Keynes (Sukirno, 2001:64-110), investasi bergantung pada dua faktor, yaitu perkiraan tingkat keuntungan yang diharapkan dari sebuah investasi dan besarnya tingkat bunga. Keynes mendasari teori permintaan investasi atas dasar konsep Marginal Efficiency of Capital (MEC) bahwa jumlah maupun kesepakatan untuk melakukan investasi didasarkan atas konsep keuntungan yang diharapkan dari investasi atau disebut Marginal Efficiency of Invesment (MEI),
24 maksudnya investasi akan dilakukan apabila MEI lebih besar dari tingkat bunga, apabila tingkat bunga yang terjadi lebih besar dari tingkat MEI atau jumlah investasi yang dilakukan dengan tingkat pengembalian modalnya sejumlah tertentu, maka investasi tidak akan dilakukan, begitu pula sebaliknya.
2.2.3.2 Teori Neo-Klasik oleh Solow
Menurut Solow (dalam Boediono, 2010:143), investasi atas dasar produktivitas marjinal dari faktor produksi modal, artinya yang akan di investasikan dalam proses produksi ditentukan oleh produktivitas marjinal dibandingkan dengan tingkat harga. Suatu kegiatan investasi dalam suatu barang modal adalah menguntungkan jika biaya sewa ditambah tingkat bunga lebih rendah daripada hasil pendapatan yang diharapkan dari suatu kegiatan investasi tersebut. Terdapat 3 hal yang menjadi acuan investasi, yaitu: a). tingkat biaya barang modal, b). tingkat bunga, dan c). pendapatan yang akan diterima.
Ada 4 anggapan yang melandasi model Neo Klasik, yaitu : a. Tenaga Kerja (Penduduk).
b. Adanya fungsi produksi.
c. Adanya kecendrungan untuk menabung propersity to save oleh masyarakat sebagai proporsi tertentu dari pendanpatan.
d. Tabungan yang di investasikan.
Karena hanya ada dua macam faktor produksi (Kapital dan Tenaga Kerja), maka output total akan habis terbagi antara pemilik capital atau modal dan pemilik faktor produksi yaitu tenaga kerja. Dalam perekonomian yang lebh maju penerima-penerima pendapatan akan menyisihkan sebagian pendapatan mereka,
25 untuk ditabung. Tabungan ini akan digunakan sebagai langkah investasi, yaitu dengan modal yang tersedia dan meninggikan kemampuan perkeonomian