TINGKAT MASYARAKAT (KELURAHAN/DESA)
ASPEK SOSIAL
III.6.2 PENYIAPAN INSTRUMEN ATAU DOKUMEN
2.1. Penyusunan Instrumen Pengelolaan Lingkungan
1. Penyusunan Surat Pernyataan Pengelolaan Dampak Lingkungan(SPPL)
Kegiatan usulan yang akan didanai oleh P2KKP ditingkat kelurahan/desa, maka pengelola kegiatan (BKM dan Lurah/Kepala Desa) harus melakukan hal sebagai berikut :
a. Berkoordinasi dengan POKJA PKP/Dinas terkait penyiapan SPPL untuk penyelenggaraan kegiatan pada sub-‐sektor tertentu.
b. Menyiapkan Surat Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL) untuk Kegiatan, seperti format disajikan pada Lampiran 15. c. Melaksanakan berbagai upaya mitigasi lingkungan dengan mengacu pada SOP
pada setiap sub-‐sektor. Daftar mengenai panduan atau SOP tercantum didalam lampiran 18.
2. Pengelolaan Kayu
Pengelolaan kayu ditingkat Masyarakat adalah sama seperti pengelolaan kayu ditingkat Kota, dengan memperhatikan beberapa hal penting sebagai berikut :
1. Pemakaian kayu 3 m3 atau lebih untuk satu kegiatan usulan wajib dengan melampirkan bukti sahnya kayu FAKO atau SKSHH (atau dokumen sejenis: SAKO);
2. Copy SKSHH dilampirkan pada laporan pertanggungjawaban keuangan setiap KSM yang membeli kayu
3. Koordinator Kota wajib memeriksa ada tidaknya SKSHH ini pada setiap supervisi ke lapangan.
4. Koordinator kota wajib memeriksa bahwa dokumen SKSHH yang dilampirkan berasal dari supplier/toko yang tercantum dalam kuitansi pembelian.
5. Apabila kayu yang digunakan tidak memiliki dokumen yang sah (ilegal) maka akan dikenakan sanksi pemberhentian sementara proses pelaksanan kegiatan sampai ada penyelesaian penggunaan kayu yang ilegal.
6. Pengadaan kayu yang bukan berasal dari pembelian, misalnya kayu bekas bangunan lama tetapi masih layak pakai (kuat) atau kayu lokal maka pengaturannya adalah :
a. Kayu bekas bangunan lama yang masih layak pakai, boleh digunakan dengan rekomendasi dari POKJA atau Tim Korkot.
b. Kayu lokalseperti jati rakyat, sonokeling, akasia, mahoni, suren/surian, nangka dan durian dapat digunakan tetapi dilengkapi dengan Surat Ijin Tebang dari aparat Kelurahan/Desa setempat dimana pohon tersebut berasal.
38 Petunjuk Pelaksanaan Pengamanan Lingkungan & Sosial – P2KKP
2.2. Penyusunan Instrumen Pengelolaan Dampak Sosial
1. Pengadaan Tanah
Penyaringan atau identifikasi awal mengenai potensi dan besaran dampak sosial, baik negatif maupun positif akibat dari pengadaan tanah, maka BKM/TIPP dan KSM menyusun perencanaan pengadaan tanah yang terkait, seperti pada tabel 3.
Prosedur Pengadaan Tanah:
a. BKM wajib melaporkan kepada POKJA PKP dan Kordinator Kota tentang hasil proses penyaringan untuk mengidentifikasi potensi dampak dari kegiatan proyek dan pengadaan tanah yang digunakan.
b. BKM dan KSM melengkapi instrumen pengadaan tanah. Alternatif untuk pengadaan tanah yang akan digunakan didasarkan pada potensi dampak ditetapkan berdasarkan kriteria dalam tabel 3 diatas, yaitu :
1. Surat Pernyataan Sumbangan Tanah, (Lampiran 6), 2. Surat Pernyataan Izin Pakai Tanah (lampiran 7), atau 3. Surat Pernyataan Izin Tanah Dilewati lampiran (lampiran 8)
2. Rencana Masyarakat Adat (RK-‐MA)
Instrumen untuk Rencana Kegiatan Masyarakat Adat (RK-‐MA) ditingkat masyarakat adalah menggunakan instrumen yang sudah di buat dan ditetapkan oleh POKJA PKP di tingkat Kota.
BKM dan tim fasilitator, memfasilitasi dan bersama-‐sama dengan tim POKJA PKP/fasilitator yang ditunjuk POKJA PKP untuk melakukan proses penyusunan RK-‐MA, seperti dalam tahapan dibawah ini :
a. Melakukan konsultasi/rembug dengan MA dan mendiseminasikan informasi kepada MA dengan difasilitasi oleh fasilitator dalam cara-‐cara sesuai dengan kebiasaan budaya MA dan menggunakan bahasa MA.
b. Membantu POKJA PKP dalam melakukan kajian sosial (social assessment) dalam rangka memperoleh informasi dasar tentang MA, termasuk: jumlah populasi, karakteristik kehidupan, mata pencaharian, budaya, keterikatan kepada habitat alami serta dengan kelompok MA lainnya;
c. Memfasilitasi pelaksanaan konsultasi/rembug dengan MA untuk mengidentifikasi berbagai alternatif rencana mitigasi dampak, untuk menyiapkan Rencana MA, dan untuk mendapatkan dukungan yang luas terhadap kegiatan dan Rencana MA dari Masyarakat MA.
d. Mensosialisaikan konsep rancangan kegiatan, yang sudah mengakomodasi kebutuhan MA untuk mendapatkan tanggapan, untuk selanjutnya dapat
memperbaiki lagi konsep rancangan Kegiatan serta untuk
mengkonfirmasikan dukungan penuh dari MA.
Petunjuk Pelaksanaan Pengamanan Lingkungan & Sosial – P2KKP 39
III. 7 TAHAP PELAKSANAAN KONSTRUKSI
III.7.1. Pengelolaan LingkunganSeluruh proses penyusunan kajian lingkungan harus diselesaikan sebelum BKM atau KSM melaksanakan kegiatan pembangunan. Proposal yang diajukan oleh KSM sudah diverifikasi oleh tim Koordinator Kota dan dinyatakan layak untuk dilaksanakan. KSM perlu membuat rencana kerja pelaksanaan yang disepakati dalam MP2K (Musywarah Persiapan Pelaksanaan Kegiatan). Perjanjian kerjasama BKM dan KSM (Surat Perjanjian Pemanfaatan dana Lingkungan/ SPPDL) harus memuat bagian dari pasal/klausal seperti dibawah ini :
III.7.2. Pengelolaan Kayu
Pengelolaan kayu ditingkat Masyarakat adalah sama seperti pengelolaan kayu ditingkat Kota, dengan memperhatikan beberapa hal penting sebagai berikut :
1. Pemakaian kayu 3m3 atau lebih untuk satu kegiatan usulan wajib dengan melampirkan bukti sahnya kayu yaitu FAKO atau dokumen setara SKSHH.
2. Photo bukti sahnya kayu dilampirkan pada laporan pertanggungjawaban keuangan setiap KSM yang membeli kayu.
3. Koordinator Kota wajib memeriksa ada tidaknya bukti sahnya kayu pada setiap supervisi ke lapangan.
4. Koordinator kota wajib memeriksa bahwa dokumen bukti sahnya kayu yang dilampirkan berasal dari supplier/toko yang tercantum dalam kuitansi pembelian.
5. Apabila kayu yang digunakan tidak memiliki dokumen yang sah (ilegal) maka akan dikenakan sanksi pemberhentian sementara proses pelaksanan kegiatan sampai ada penyelesaian penggunaan kayu yang ilegal.
6. Pengadaan kayu yang bukan berasal dari pembelian, misalnya kayu bekas bangunan lama tetapi masih layak pakai (kuat) atau kayu lokal maka pengaturannya adalah :
a. Kayu bekas bangunan lama yang masih layak pakai, boleh digunakan dengan rekomendasi dari POKJA atau Tim Korkot.
b. Kayu lokalseperti jati rakyat, sonokeling, akasia, mahoni, suren/surian, nangka dan durian dapat digunakan tetapi dilengkapi dengan Surat Ijin Tebang dari aparat Kelurahan/Desa setempat dimana pohon tersebut berasal.
"Pihak Kedua (atau /KSM...) telah memahami dengan jelas dan harus mengikuti rekomendasi dari SOP/SPPL yang ditetapkan dalam kegiatan ini. Dalam melakukan pekerjaan pembangunan, pihak kedua harus selalu mengikuti ketentuan atau peraturan yang berlaku untuk perlindungan lingkungan, sebagaimana ditentukan dalam SOP/SPPL pengamanan lingkungan"
40 Petunjuk Pelaksanaan Pengamanan Lingkungan & Sosial – P2KKP
III.7.3. Pengadaan Tanah
a. Seluruh proses pengadaan tanah harus diselesaikan sebelum KSM melakukan pelaksanaan konstruksi. Pelaksanaan pengadaan tanah harus diselesaikan sesuai dengan hasil kesepakatan dan hasil kesepakatan tersebut diumumkan secara luas; b. Desain Teknis Kegiatan serta pelaksanaan pekerjaan konstruksi harus sesuai
dengan batas-‐batas tanah dan mengakomodasi berbagai upaya yang telah disepakati sebagaimana direkomendasikan di dalam Surat pernyataan Hibah atau pernyataan izin dari pemilik;
III.7.4. Rencana Kegiatan Masyarakat Adat
Aspek-‐aspek berikut perlu dipertimbangkan oleh BKM atau KSM dalam pelaksanaan RK-‐MA selama tahap perencanaan dan pelaksanaan konstruksi :
a. Rekomendasi dari Rencana Kegiatan Masyarakat Adat (RK-‐MA) yang mencerminkan kesepakatan bersama atau rekomendasi dari MA harus dimasukkan dalam perencanaan teknis kegiatan yang mengakomodasi kesepakatan dari Masyarakat Adat.
b. Selama masa konstruksi, MA perlu dilibatkan untuk memastikan bahwa kesepakatan dan rekomendasi dari MA dilaksanakan secara konsisten, atau jika ada perubahan harus langsung dikonsultasikan dengan MA pada saat pelaksanaan konstruksi.
c. Koordinator Kota berkoordinasi dengan POKJA dan Bappeda di tingkat Kabupaten/Kota dalam melakukan pemantauan terhadap kualitas pelaksanaan RK-‐MA sebagai bagian dari kegiatan pemantauan keseluruhan kegiatan P2KKP di Kabupaten/Kota. Laporan pelaksanaan Kegiatan mengenai pelaksanaan RK-‐MA menjadi bagian dari Laporan Triwulanan dan Laporan Akhir mengenai Pemantauan, Evaluasi.