• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Aspek Penyuluhan

2.3.1 Pengertian Penyuluhan Pertanian

Penyuluhan pertanian adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama dan pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan

dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan, dan sumber daya lainnya, sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan, dan kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup (UU SP3K No. 16 Tahun 2006).

2.3.2 Tujuan Penyuluhan Pertanian

Tujuan penyuluhan pertanian yang akan dicapai dibagi menjadi dua yaitu tujuan jangka panjang dan tujuan jangka pendek.

1. Tujuan jangka panjang yaitu meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan petani guna terwujudnya perbaikan teknis bertani (better farming), perbaikan usahatani (better business), dan perbaikan kehidupan petani dan masyarakat (better living).

2. Tujuan jangka pendek yaitu menumbuhkan perubahan yang lebih terarah pada usahatani yang meliputi perubahan pengetahuan, kecakapan, sikap dan tindakan petani melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikap (Zakaria, 2006).

2.3.3 Sasaran Penyuluhan Pertanian

Sasaran penyuluhan pertanian menurut UU No. 16 Tahun 2006 tentang SP3K yaitu:

1) Pihak yang paling berhak memperoleh manfaat penyuluhan adalah sasaran utama dan sasaran antara.

2) Sasaran utama penyuluhan yaitu pelaku utama dan pelaku usaha.

3) Sasaran antara penyuluhan yaitu pemangku kepentingan lainnya yang meliputi kelompok atau lembaga pemerhati pertanian, perikanan, dan kehutanan serta generasi muda dan tokoh masyarakat.

2.3.4 Materi Penyuluhan Pertanian

Materi penyuluhan yaitu bahan penyuluhan yang akan disampaikan oleh penyuluh kepada pelaku utama dan pelaku usaha dalam berbagai bentuk yang

meliputi informasi, teknologi, rekayasa sosial, manajemen, ekonomi, hukum, dan kelestarian lingkungan. Materi penyuluhan dibuat berdasarkan kebutuhan dan kepentingan pelaku utama dan pelaku usaha dengan memperhatikan manfaat dan kelestarian sumber daya pertanian, perikanan, dan kehutanan yang berisi unsur pengembangan sumber daya manusia dan peningkatan modal sosial serta unsur ilmu pengetahuan, teknologi, informasi, ekonomi, manajemen, hukum, dan pelestarian lingkungan (UU SP3K No. 16 Tahun 2006).

2.3.5 Metode Penyuluhan Pertanian

Metode penyuluhan pertanian adalah teknik penyampaian materi penyuluhan oleh penyuluh kepada pelaku utama dan pelaku usaha agar tahu, mau, dan mampu menolong serta mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan, sumber daya lainnya sebagai upaya meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan, dan kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup. Metode penyuluhan pertanian disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi pelaku utama dan pelaku usaha serta ditentukan oleh penyuluh pertanian dengan mengacu pada programa penyuluhan pertanian dan rencana kerja tahunan penyuluh pertanian (Permentan No. 52 Tahun 2009). Metode penyuluhan pertanian menurut Permentan No. 52 Tahun 2009 terdiri atas:

1. Teknik Komunikasi

a. Metode penyuluhan secara langsung, dilakukan melalui tatap muka dan dialog antara penyuluh pertanian dengan pelaku utama dan pelaku usaha, antara lain demonstrasi, kursus tani, obrolan sore.

b. Metode penyuluhan secara tidak langsung, dilakukan melalui perantara (media komunikasi), antara lain pemasangan poster, siaran radio, penyebaran brosur/leaflet/folder/majalah, televisi, pemutaran slide dan film.

2. Jumlah Sasaran

a. Pendekatan perorangan, dilakukan secara perorangan, antara lain kunjungan rumah/lokasi usaha, surat-menyurat, hubungan telepon.

b. Pendekatan kelompok, dilakukan secara berkelompok, antara lain diskusi, karya wisata, kursus tani, pertemuan kelompok.

c. Pendekatan massal, dilakukan secara massal, antara lain siaran radio, siaran televisi, pemasangan poster/spanduk, kampanye.

3. Indera Penerima

Indera penerima digunakan oleh sasaran untuk menangkap rangsangan dalam kegiatan penyuluhan, semakin banyak indera penerima yang digunakan maka akan semakin efektif sasaran menerima materi penyuluhan. Metode penyuluhan pertanian berdasarkan indera penerima sasaran terdiri atas:

a. Indera penglihatan, materi penyuluhan diterima sasaran melalui indera penglihatan, contohnya penyebaran bahan cetak, slide, album foto.

b. Indera pendengaran, materi penyuluhan diterima sasaran melalui indera pendengaran, contohnya hubungan telepon, obrolan sore, pemutaran tape recorder dan siaran pedesaan.

c. Kombinasi indera penerima, sasaran menerima materi penyuluhan melalui kombinasi antara indera penglihatan, pendengaran, penciuman dan peraba, contohnya demonstrasi cara/hasil, pemutaran film/video dan siaran televisi.

2.3.6 Media Penyuluhan Pertanian

Media penyuluhan adalah suatu benda yang dikemas sedemikian rupa untuk memudahkan penyuluh menyampaikan materi kepada sasaran agar mampu menyerap pesan yang disampaikan dengan mudah dan jelas. Media penyuluhan sebagai alat komunikasi atau perantara untuk mengantarkan informasi dari penyuluh ke petani. Tujuan media dalam pelaksanaan penyuluhan pertanian yaitu

mempermudah dalam penyampaian informasi, mengurangi kesalahan persepsi, memperjelas informasi, mempermudah pengertian, dan memperlancar komunikasi.

Jenis media penyuluhan pertanian berdasarkan karakteristik dan contohnya sebagai berikut:

1. Media cetak. Contohnya gambar, foto, sketsa, poster, leaflet, folder, peta singkap, kartu kilat, diagram, grafik, bagan, peta, brosur, majalah, buku.

2. Media audio. Contohnya CD, DVD, MP3, MP4, kaset, audio.

3. Media audio visual. Contohnya video (VCD,DVD) slide film, movie fim, film strip, film, televisi, komputer.

4. Media benda sesungguhnya dan tiruan. Contohnya sample, spesimen, model, simulasi, tiga dimensi dan alat peraga.

2.3.7 Pelaksanaan Penyuluhan

Pelaksanaan penyuluhan pertanian yaitu melakukan tindakan secara nyata terhadap programa penyuluhan yang telah disusun dan ditetapkan. Dalam pelaksanaannya, perlu ditentukan materi yang harus disampaikan, lokasi pelaksanaan, waktu pelaksanaan, siapa yang melakukan dan bagaimana cara melakukan penyuluhan (Ibrahim et al., 2003).

Dalam melaksanakan proses penyuluhan seorang penyuluh berperan memfasilitasi sasaran, karena dalam pendidikan orang dewasa prinsip dari proses belajar orang dewasa adalah saling bertukar pengalaman. Oleh karena itu, seorang penyuluh harus menerapkan pendidikan orang dewasa dimana penyuluh berperan sebagai fasilitator (mempermudah proses belajar), penyuluh tidak diperkenankan bersikap menggurui atau merasa paling benar, karena akan berpengaruh terhadap berlangsungnya proses belajar orang dewasa/penyuluhan (Mardikanto, 2009).

2.3.8 Evaluasi Penyuluhan Pertanian

Evaluasi penyuluhan pertanian merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menilai suatu program penyuluhan pertanian. Evaluasi dilakukan dengan proses pengumpulan data, penentuan ukuran, penilaian dan perumusan keputusan yang digunakan untuk perbaikan atau penyempurnaan rencana selanjutnya demi tercapainya tujuan. Evaluasi sebagai upaya memperbaiki dan menyempurnakan program penyuluhan pertanian sehingga lebih efektif, efisien dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Farid et al., 2016).

Tujuan evaluasi penyuluhan pertanian antara lain:

1) Menentukan sejauh mana kegiatan penyuluhan dapat dicapai yang ditandai dengan perubahan perilaku sasaran.

2) Memperoleh keterangan dari lapangan yang dapat digunakan untuk penyesuaian program penyuluhan pertanian yang sedang berjalan.

3) Mengukur keefektifan metode dan alat bantu yang digunakan dalam melaksanakan penyuluhan.

4) Memperoleh data laporan tentang hal-hal yang terjadi di lapangan.

5) Memperoleh landasan untuk program penyuluhan pertanian.

6) Memberikan kepuasan psikologis orang-orang yang terlibat dalam program penyuluhan pertanian.

Langkah-langkah evaluasi penyuluhan pertanian adalah (1) Mengetahui tujuan penyuluhan yang akan dievaluasi, (2) Menetapkan indikator untuk mengukur kemajuan yang dicapai, (3) Membuat alat ukur pengumpulan data, (4) Menarik sampel dan melakukan pengumpulan data, (5) Melakukan analisa dan interpretasi data, dan (6) Pelaporan.

Jenis-jenis evaluasi yang dapat dilaksanakan menurut Azwar (2013) antara lain:

1. Evaluasi formatif, merupakan bentuk evaluasi yang dilaksanakan pada tahap sebelum program dimulai dan pengembangan program. Evaluasi ini menghasilkan informasi yang digunakan untuk mengembangkan program agar sesuai dengan situasi dan kondisi sasaran.

2. Evaluasi proses, merupakan proses yang memberikan gambaran tentang berlangsungnya suatu program dan memastikan ada dan terjangkaunya elemen-elemen fisik dan struktural suatu program.

3. Evaluasi sumatif, merupakan evaluasi yang memberikan pernyataan efektivitas suatu program selama kurun waktu tertentu dan memberi nilai sesudah program berjalan.

4. Evaluasi dampak, merupakan evaluasi yang menilai keseluruhan efektivitas program dalam menghasilkan target sasaran.

5. Evaluasi hasil, merupakan evaluasi yang menilai perubahan atau perbaikan morbiditas, mortalitas atau indikator status lainnya untuk sekelompok penduduk tertentu.

2.3.9 Aspek Pengetahuan

Aspek-aspek pengetahuan berdasarkan teori Bloom dalam Azwar (2013) terdiri dari:

A. Mengetahui (Know)

Mengetahui diartikan sebagai mengingat materi yang telah dipelajari sebelumnya. Yang termasuk ke dalam tingkat mengetahui adalah mengingat kembali (re-call) rangsangan yang telah diterima.

B. Memahami (Comperhension)

Memahami adalah kemampuan menjelaskan objek yang diketahui dan menginterpretasikan materi secara benar.

C. Aplikasi (Application)

Aplikasi adalah kemampuan untuk menggunakan materi misalnya yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi yang sebenarnya.

D. Analisa (Analysis)

Analisa meliputi pemilahan informasi menjadi bagian-bagian atau meneliti dan mencoba memahami struktur informasi.

E. Sintesis

Sintesis artinya suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.

F. Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi adalah kemampuan dalam melakukan penilaian terhadap suatu materi. Pengukuran dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek kajian atau responden.

2.3.10 Skala Guttman

Skala Guttman merupakan skala yang digunakan untuk mendapatkan jawaban tegas dari responden, yaitu hanya terdapat dua interval seperti Ya-Tidak, Benar-Salah. Skala ini dapat dibuat dalam bentuk pilihan ganda maupun checklist dengan skor jawaban paling tinggi yaitu 1 dan skor paling rendah yaitu 0 (Sugiyono, 2014).

2.3.11 Uji Validitas dan Reliabilitas

Validitas merupakan suatu pengukuran yang menunjukkan skala tingkat kevalidan suatu instrumen. Sebuah instrumen dinyatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan dan mengungkapkan data dari variabel yang diteliti secara tepat. Untuk menguji tingkat validitas empiris suatu instrumen, maka harus menguji instrumen tersebut. Apabila hasil uji coba sudah selesai dengan yang

seharusnya, maka instrumen tersebut sudah baik atau valid. Untuk mengetahui ketepatan data diperlukan teknik uji validitas (Arikunto, 2013).

Uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui apakah instrumen dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data atau tidak. Instrumen yang reliabel atau sudah dapat dipercaya akan menghasilkan data yang dapat dipercaya pula. Apabila data memang benar sesuai dengan kenyataan, maka berapa kalipun digunakan hasilnya akan tetap sama. Reliabilitas merujuk pada tingkat keterandalan sesuatu artinya dapat dipercaya/diandalkan (Arikunto, 2013).

Dokumen terkait