• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyusunan Proposisi dari Analisis Lintas Kasus

Dalam dokumen PEMANFAATAN SIM PADA HUMAS (Halaman 107-116)

HASIL DAN ANALISIS DATA

F. Analisis dan Pembahasan Lintas Kasus

4. Penyusunan Proposisi dari Analisis Lintas Kasus

Berdasarkan hasil diskusi dan analisis lintas kasus maka disusun tiga proposisi sebagai berikut:

a. Proposisi Latar Belakang Penyelenggaraan Website Sekolah

1) Posisi sekolah dalam peta persaingan mempengaruhi latar belakang penyelenggaraan website sekolah.

2) Tujuan utama penyelenggaraan website sekolah adalah agar lebih dikenalnya sekolah di mata masyarakat sehingga kelak memperoleh input unggulan

3) Kelengkapan fasilitas akan mendorong pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi, namun juga harus diiringi dengan keberadaan SDM yang cukup baik dari sisi kuantitas dan kualitas 4) Penyelenggaraan website sekolah tidak selalu menuntut kecukupan

fasilitas/dana yang tinggi, dibekali dengan motivasi dan penguasaan teknologi keterbatasan fasilitas/dana segala keterbatasan dapat disikapi secara positif

5) Penyelenggaraan website sekolah pada akhirnya bermuara pada keinginan menjadikan media tersebut sebagai sarana belajar interaktif dan jarak jauh (e-learning).

b. Langkah-langkah pemanfaatan website sekolah sebagai sarana humas

1) Dalam rangka memaksimalkan pemanfaatan website sekolah sebagai sarana humas, perlu ditempuh langkah antara lain memperhatikan karakter komunikan, kemudahan penggunaan, relevansi pesan dengan kebutuhan komunikan, dan jenis pesan yang disampaikan.

2) Pesan/informasi yang terdapat pada website sekolah antara lain visi misi sekolah, kurikulum, informasi kelembagaan seperti lokasi, nomor telepon yang dapat dihubungi, data guru (masih sebagian kecil), program-program kesiswaan, fasilitas sekolah, dan informasi atau pengumuman. Agar menarik dan memperkuat isi pesan, maka disertai juga dengan gambar.

3) Pemanfaatan website sekolah sebagai sarana humas salah satunya ditempuh melalui tampilan berita yang menyajikan kegiatan sekolah tidak hanya internal namun juga yang melibatkan pihak eksternal.

4) Sebagai sarana humas maka website sekolah juga mengangkat tentang keunggulan sekolah sekaligus menekankan bahwa keberadaannya adalah sebagai organisasi yang terbuka terhadap masyarakat

5) Pemanfaatan website sebagai media dalam humas sekolah diakui keberadaannya, namun sementara ini masih dikonsumsi oleh kalangan terbatas seiring penggunaan internet yang juga belum terlalu awam di kalangan orangtua dan masyarakat sekalipun. 6) Pemanfaatan website sebagai sarana humas perlu didukung dengan

pengelola website yang memiliki koordinasi erat dengan bagian/petugas humas, jika perlu pengelola website berada di bawah naungan fungsi humas.

7) Pemanfaatan website sebagai media humas sebaiknya turut memperhatikan tingkat keamanan data, dan sejauh ini pengamanan terhadap data masih belum menjadi prioritas.

8) Langkah pemanfaatan website untuk fungsi humas belum didukung oleh sistematika yang baku di masing-masing sekolah, hal ini berakibat pada perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi yang tidak memiliki mekanisme jelas.

c. Manajemen Tenaga Pengelola Website Sekolah dalam rangka Mendukung Fungsi Kegiatan Husemas

1) Latar belakang pendidikan formal menjadi pertimbangan utama dalam merekrut tenaga pengelola website sekolah, meskipun

demikian pada situasi yang serba terbatas maka dimungkinkan merekrut tenaga yang tidak memiliki dasar pendidikan formal yang relevan namun memiliki keterampilan, keuletan dan minat di bidang ICT.

2) Hambatan pada bidang tenaga pengelola website akan mempengaruhi keseluruhan penyelenggaraan website sekolah.

3) Peran pengelolaan website yang diberikan tanpa deskripsi tugas yang jelas akan menghambat perkembangan website sekolah itu sendiri.

4) Ketiadaan atau kurangnya kompensasi bagi pengelola website akan mempengaruhi kinerja baik langsung maupun tidak langsung. Pada situasi tertentu kompensasi memang dapat sementara digantikan dengan motivasi atau reward bentuk non fisik namun sebagai manusia yang memiliki kebutuhan ekonomi maka upah menjadi sebuah tuntutan yang wajar.

5) Pemberian peluang partisipasi dalam pelatihan bidang pengelolaan website sekolah atau yang terkait hendaknya tidak hanya dilandasi bidang dan latar belakang serta minat pegawai namun juga mempertimbangkan faktor usia. Bukan berarti yang senior tidak perlu dilatihkan tentang media website, namun prioritas lebih baik diberikan kepada yang muda.

6) Evaluasi dan penilaian kerja pengelola website tidak dapat diabaikan dalam rangka memperbaiki website sekolah terus-menerus. Namun selama kompensasi bagi para pengelola website

belum terjamin maka sulit sekali untuk menuntut harapan yang tinggi terhadap para pengelola website.

7) Peran kepala sekolah sangatlah vital dalam penyelenggaraan website sekolah sehubungan dengan fungsi dirinya selaku school

manager sekaligus educational leader. Pada bidang school manager perannya adalah mengkoordinasi, mengarahkan, dan

mensuport kerja pengelola website dan atau petugas humas. Kepala sekolah dalam hal ini berperan pada pencapaian tujuan yang telah ditetapkan, mengevaluasi unjuk kerja, memberi sumber daya yang dibutuhkan dan membangun iklim psikologis yang mendukung. Namun tidak cukup hanya itu, kepala sekolah juga perlu memainkan perannya yang kedua yakni educational leader, karena pada gilirannya kepribadian dan sikap aktif kepala sekolah menjadi panutan atau model bagi bawahan termasuk diantaranya pengelola website sekolah.

BAB VII PENUTUP

C. Kesimpulan

Berdasarkan fokus penelitian, uraian data dan temuan kasus individu serta pembahasan lintas kasus maka hasil penelitian ini dapat terumuskan dalam empat kesimpulan, yakni sebagai berikut:

1. Latar belakang penyelenggaraan website sekolah memuat kondisi persaingan antar sekolah, kesadaran perlunya menjalin komunikasi dengan pihak eksternal, keberadaan fasilitas dan SDM pendukung, dan cita-cita untuk menciptakan model belajar yang lebih interaktif, mandiri dan jarak jauh berupa e-learning.

2. Langkah agar website benar-benar dapat dimanfaatkan sebagai media humas adalah dengan mengemas isi pesan dan tampilan sedemikian rupa, memperhatikan karakteristik sekolah dan ilmu jurnalisme, menampilkan image positif sekolah yang tidak hanya berkutat pada sekolah internal namun juga yang berkaitan dengan hubungan sekolah dengan masyarakat, pengaturan fungsi pengelolaan website di bawah humas sekolah, memperhatikan keamanan data, dan mengatur mekanisme secara jelas tentang pengelolaan website sekolah.

3. Manajemen tenaga pengelola website dalam rangka mendukung fungsi kegiatan husemas masih diwarnai oleh hambatan di bidang SDM dan pendanaan, ketiadaan deskripsi tugas yang jelas, dan evaluasi yang belum

menyeluruh. Peran kepala sekolah dalam menyikapi segala keterbatasan pun akhirnya menjadi ujung tombak yang tak terelakkan.

4. Baik SMP N 5 maupun SMP N 9 Kota Yogyakarta memiliki persamaan berupa: (a) penyikapan terhadap persaingan, (b) cita-cita menggunakan website sekolah untuk media e-learning, (c) isi dan kemasan umum pesan dalam website sekolah, (d) belum terselenggaranya mekanisme pengolahan informasi secara jelas, (e) kesempatan bagi tenaga untuk mengikuti pelatihan. Untuk perbedaannya sendiri adalah: (a) ketersediaan SDM dengan latar belakang pendidikan formal yang relevan, (b) ketersediaan fasilitas dan dana pendukung, (c) hubungan antara fungsi humas dengan pengelola website, (d) gaya evaluasi kepala sekolah, (e) pembaruan data, (f) variasi isi informasi dalam website, (g) ketersediaan kompensasi bagi pengelola website sekolah, dan (h) peran kepala sekolah dalam penyelenggaraan website.

D. Saran-Saran

Saran peneliti berdasarkan temuannya yaitu sebagai berikut:

1. Sekolah perlu mensosialiasasikan keberadaan website sekolah itu sendiri di kalangan internal dan eksternal

2. Mengembangkan contoh-contoh website dari sekolah lain yang sudah lebih maju

3. Melakukan evaluasi terus menerus agar media website benar-benar optimal penggunaannya

4. Meningkatkan profesionalisme sekaligus kesejahteraan pengelola website sekolah

5. Meningkatkan kemampuan petugas humas sekolah untuk memanfaatkan teknologi website-internet.

BAB VI

JADWAL PELAKSANAAN

Penelitian ini dilaksanakan di Kota Yogyakarta dengan waktu penelitian dimulai dari bulan Mei sampai dengan Desember 2008. Berikut ini merupakan jadwal pelaksanan penelitian.

Tabel 3. Jadwal Pelaksanaan Penelitian

Kegiatan Sub Kegiatan Waktu (dalam Bulan)

1 2 3 4 5 6 7 8

Persiapan 1. Koordinasi anggota tim penelitian

2. Penetapan jadwal penelitian

3. Observasi pra penelitian di sekolah

4. Penentuan subjek penelitian

5. Penyusunan instrument

6. Pengajuan ijin penelitian

7. Pemantapan instrumen

Pelaksanaan 1. Penyediaan instrumen penelitian

2. Pengumpulan data

3. Sinkronisasi antar data

4. Analisis Data

5. Menafsirkan hasil analisis

6. Penarikan kesimpulan

Penyusunan laporan penelitian 1. Penyusunan konsep laporan

2. Diskusi antar anggota tim penelitian

3. Penyusunan konsep laporan akhir

4. Penyusunan laporan akhir dan bahan untuk seminar Seminar Laporan hasil penelitian 1. Penggandaan laporan

2. Pengiriman laporan hasil penelitian 3. Seminar 4. Revisi Penulisan ke dalam artikel ilmiah 1. Penyusunan naskah artikel

BAB VII

Dalam dokumen PEMANFAATAN SIM PADA HUMAS (Halaman 107-116)