g. Pagu Indikatif belum memperhitungkan gaji ke 14, karena kebijakan terkait hal tersebut belum ada
1. Program dan kegiatan MPR di tahun 2017 merupakan kegiatan rutin yang sudah dilakukan di tahun-tahun sebelumnya dengan meningkatkan volume kegiatan. Kenaikan
2.1.4. C Penyusunan RKP 2016 Mitra DPD
Pertemuan Trilateral Meeting yang dilaksanakan pada tanggal 29 April 2016 membahas seluruh program/Kegiatan untuk dapat disesuaikan dengan norma dan standar. Adapun catatan penting dari hasil pembahasan Trilateral Meeting Kementerian Bappenas, DPD dan Kementerian Keuangan yang sudah dilaksanakan, antara lain:
3. DPD tidak mengajukan kebutuhan tambahan mendesak, namun meminta tambahan anggaran untuk pencapaian target penyusunan RUU sebanyak 22 RUU. Anggaran DPD indikatif DPD baru memenuhi untuk penyusunan RUU sebanyak 5 RUU, sehingga masih ada kekurangan sebesar 17 RUU.
4. DPD menargetkan di tahun 2017 akan dilakukan penyusunan RUU akan dilakukan sebanyak 57 RUU dan 2 materi. DPD akan melaksanakan fungsi legislasi dengan menyusun RUU usul DPD RI sebanyak 22 RUU, penyusunan pandangan/pendapat dan pertimbangan DPD RI atas RUU tertentu sebesar 35 RUU, penyusunan pertimbangan DPD RI atas hasil pemeriksaan BPK sebanyak 2 materi, dan pertimbangan DPD RI atas pemilihan anggota BPK sebanyak 2 kali. Selain itu DPD akan melaksanakan pembahasan RUU bersama DPD RI dan pemerintah sebanyak 18 RUU dan melakukan penyusunan hasil pengawasan DPD RI atas pelaksanaan UU tertentu sebanyak 28 UU. 5. Moratorium untuk pembangunan gedung DPD di Ibukota Negara maupun Ibukota
Provinsi sebagaimana arahan Bapak Presiden dan belum dicabutnya surat Kemenkeu terkait moratorium pembangunan gedung tahun 2015.
Adapun Tabel Catatan Pembahasan Trilateral Meeting DPD dapat dicermati pada tabel dibawah ini
Tabel 2.22 Pembahasan Trilateral Meeting Bappenas, Kemenkeu dan DPD tanggal 29 April 2016
NO POKOK BAHASAN CATATAN PEMBAHASAN
1 Konfirmasi Norma dan
Standar
Kegiatan telah sesuai dengan Norma dan Standar
2 Kebutuhan tambahan
mendesak (difokuskan pada prioritas pertama dan diurutkan berdasarkan skala prioritas)
Tidak ada
3 Dukungan Sumber
pendanaan lainnya
Dukungan pendanaan seluruh program dan kegiatan berasal dari APBN
4 Hal lainnya (jika
diperlukan/sesuai dengan kebutuhan)
DPD mempunyai tugas dan fungsi utama yaitu fungsi legislasi dan pengawasan. Rencana Pelaksanaan fungsi legislasi dan pengawasan di tahun anggaran 2017 adalah sebagai berikut:
NO MATERI TARGET TAHUN
2017 1 Penyusunan Produk Legislasi
DPD RI atas RUU Tertentu
a Penyusunan RUU Usul
DPD RI 22 RUU b Penyusunan Pandangan/Pendapat dan Pertimbangan DPD RI atas RUU Tertentu 35 RUU
60
NO POKOK BAHASAN CATATAN PEMBAHASAN
c Penyusunan Pertimbangan DPD RI atas Hasil Pemeriksaan BPK 2 Materi d Pertimbangan DPD RI atas Pemilihan Anggota BPK 2 Kali
2 Pembahasan RUU Bersama
dengan DPR RI dan Pemerintah 18 RUU 3 Penyusunan Hasil Pengawasan DPD RI atas Pelaksanaan UU Tertentu 28 RUU
Hasil Exercise Pagu Indikatif DPD Bappenas sebesar Rp. 802.552.102.000 (total) bersumber Rupiah Murni APBN dengan rincian:
o Non Operasional sebesar : Rp. 410.111.909.000 o Belanja Operasional sebesar : Rp. 392.440.193.000
dengan belanja Pegawai Rp. 218.271.758.000 dan belanja operasional Rp. 174.168.435.000
Melihat ketersediaan anggaran yang ada pada Rancangan Pagu Indikatif, DPD mengemukakan bahwa anggaran tersebut tidak dapat memenuhi kegiatan prioritas DPD RI dalam rangka pelaksanaan tugas-tugas konstitusional DPD RI. Hal ini akan mengakibatkan adanya pengurangan target untuk kegiatan-kegiatan utama/prioritas seperti jumlah penyusunan RUU, penyusunan pandangan/pendapat, dll.
DPD RI akan mengusulkan tambahan anggaran non
operasional sebesar Rp. 1.350.390.173.000 total dengan rincian : (Program Penguatan Kelembagaan DPD dalam Sistem Demokrasi : Rp. 458.936664.600); (Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Lainnya DPD RI : Rp. 170.140.833.650); (Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur DPD RI : Rp. 721.310.674.750):
o Tambahan anggaran untuk pencapaian target
penyusunan RUU sebanyak 22 di tahun 2017 karena dengan rancangan pagu indikatif baru dapat memenuhi target penyusunan RUU sebanyak 5, sehingga masih ada kekurangan biaya untuk 17 RUU.
o Pemenuhan kebutuhan karena perubahan
struktur kelembagaan DPD (penambahan stuktur eselon I dengan 4 eselon II).
o Fasilitas dan operasionalisasi 4 kantor baru DPD di daerah/provinsi (NTT, Bali, Yogyakarta dan Sumsel).
o Pembangunan gedung DPD di ibukota negara dan ibukota provinsi
DPD RI akan mengusulkan tambahan anggaran operasional sebesar Rp. 93.583.390.000, dengan rincian :
Belanja Pegawai :Rp. 76.728.200.000 Belanja operasional : Rp. 16.855.190.000
Pertimbangan kenaikan anggaran operasional antara lain: o Alokasi Anggaran Tunjangan Kinerja (Tukin) dan
Tunjangan Selisih (Tusil);
61
NO POKOK BAHASAN CATATAN PEMBAHASAN
Negara, Listrik, Telepon, dan Uang Kehormatan Pejabat Negara;
o Gaji dan Tunjangan PNS di 4 Provinsi;
o Kenaikan Honorarium Tenaga Administrasi/Tenaga Perbantuan di Ibukota Negara dan 33 (tiga puluh tiga Provinsi);
o Operasional kantor DPD RI di ibukota negara. Penambahan anggaran operasional terkait perubahan
struktur kelembagaan DPD yaitu penambahan 2 eselon I serta 3 eselon II. Draft Peraturan Presiden (Perpres) tentang SOTK Sekretariat Jenderal DPD RI saat ini sudah berada di Sekretariat Negara.
Usulan untuk pembangunan Gedung DPD di Ibukota negara dan pembangunan gedung DPD di ibukota provinsi perlu mempertimbangkan kebijakan dan persiapan teknis lainnya terkait pembangunan gedung:
o Moratorium pembangunan gedung sesuai dengan kebijakan Presiden RI dan Surat Menteri Keuangan No S-841/MK.02/2014
o Persiapan lahan, sertifikat, kebutuhan/urgensi dari pembangunan gedung
o Alokasi anggaran operasional yang melekat pada gedung baru
DPD perlu menajamkan matriks kegiatan DPD TA 2017 terkait:
o Indikator Utama per Program;
o Penyesuaian target dari indikator dari tahun ke tahun (bertambah 1 target di tiap tahun).
DPD diharapkan dapat mengutamakan tugas dan fungsi pokok kelembagaannya, seperti penyusunan RUU dan penyusunan pandangan/pendapat dan pertimbangan DPD atas RUU tertentu. Kegiatan tersebut agar dapat diprioritaskan dibanding kegiatan lainnya.
Sesuai arahan Bapak Presiden terkait kebijakan moratorium pembangunan gedung tertentu, usulan tambahan anggaran untuk pembangunan gedung DPD baik di ibukota negara maupun provinsi belum dapat diakomodasi
5 Lampiran
6 Konfirmasi Norma dan
Standar
Kegiatan telah sesuai dengan Norma dan Standar
7 Kebutuhan tambahan
mendesak (difokuskan pada prioritas pertama dan diurutkan berdasarkan skala prioritas)
Tidak Ada
8 Dukungan Sumber
pendanaan lainnya
Dukungan pendanaan seluruh program dan kegiatan berasal dari APBN (Rupiah Murni)
9 Hal lainnya (jika
diperlukan/sesuai dengan kebutuhan)
Tugas dan Fungsi MPR
10. Berdasarkan tugas dan fungsi, MPR RI mempunyai Kewenangan dan Tugas Konstitusional yaitu:
Kewenangan Konstitusional MPR
g) Mengubah dan Menetapkan Undang-Undang Dasar
(Pasal 3 ayat (1) UUD NRI Tahun 1945)
h) Melantik Presiden dan Wakil Presiden Hasil Pemilihan Umum (Pasal 3 ayat (2) UUD NRI Tahun
62
NO POKOK BAHASAN CATATAN PEMBAHASAN
1945)
i) Memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden dalam Masa Jabatannya (Pasal 3 ayat (3) UUD NRI Tahun 1945)
j) Mengangkat Wakil Presiden Menjadi Presiden Dalam Hal Terjadi Kekosongan Jabatan Presiden (Pasal 8 ayat (1) UUD NRI 1945)
k) Memilih dan Melantik Wakil Presiden Dalam Hal Terjadi Kekosongan Jabatan Wakil Presiden (Pasal 8 ayat (2) UUD NRI Tahun 1945)
l) Memilih dan Melantik Presiden dan Wakil Presiden Apabila Keduanya Berhenti Secara Bersamaan dalam Masa Jabatannya (Pasal 8 ayat (3) UUD NRI Tahun 1945)
Tugas Konstitusional MPR
h) Pemasyarakatan Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, dan Ketetapan MPR (Pasal 5 huruf a dan b, Undang-Undang MD3) i) Pengkajian Sistem Ketatanegaraan, UUD NRI
Tahun 1945, serta Pelaksanaanya (Pasal 5 huruf c, Undang-Undang MD3)
j) Melaksanakan Pengelolaan Aspirasi Masyarakat dan Daerah dalam rangka Penyusunan Pokok Haluan Penyelenggaraan Negara (PHPN) (Pasal 5 huruf d, Undang-Undang MD3)
k) Menyampaikan Pokok Haluan Penyelenggaraan
Negara (PHPN) kepada Lembaga Negara yang Kewenangannya diberikan oleh UUD NRI Tahun 1945 (Pasal 154 Paraturan MPR Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Tata Tertib MPR)
l) Menyelenggarakan Sidang Tahunan MPR dalam rangka Laporan Kinerja Lembaga Negara kepada Publik (Pasal 2 ayat (3) UUD NRI Tahun 1945) m) Melaksanakan Konsultasi dan Koordinasi dengan
Pimpinan Lembaga Negara lainnya (Pasal 4 Peraturan MPR Nomor 1 Tahun 2014 tentang Tata Tertib MPR)
n) Memberikan Penjelasan atas Tafsir Kaidah
Konstitusional dalam Sidang Mahkamah Konstitusi (Pasal 3 ayat (1) UUD NRI Tahun 1945)
11. Program dan kegiatan MPR di tahun 2017 merupakan kegiatan rutin yang sudah dilakukan di tahun-tahun sebelumnya dengan meningkatkan volume kegiatan. Kenaikan volume kegiatan ini dikarenakan adanya peningkatan jumlah kajian yang akan dilakukan oleh Badan Kajian MPR-RI dengan 15 program unggulannya dan penambahan peran/kontribusi MPR-RI dalam mensosialisasikan isu-isu aktual terkait karakter bangsa disamping 4 pilarnya.
12. Tahun 2017 MPR mengantisipasi rencanadilakukan amandemen Undang-Undang Dasar dan rencana perancangan/perumusan GBHN.
63
NO POKOK BAHASAN CATATAN PEMBAHASAN
13. Hasil Rancangan Pagu Indikatif MPR tahun anggaran 2017 sebesar Rp 654.024,9 juta
Belanja Non Operasional sebesar Rp 561.968,5 juta. Usulan tambahan anggaran biaya non operasional untuk memenuhi kebutuhan anggaran antara lain:
o Pembangunan karakter serta persiapan
amandemen UU NKRI 1945 dengan
mengintensifkan penyerapan aspirasi
masyarakat
o Kajian dan sosialisasi yang dilakukan langsung oleh pimpinan MPR, anggota MPR dan fraksi MPR
o Perbaikan sarana dan prasarana ruang kerja pimpinan MPR dan pegawai, renovasi gedung merdeka di Bandung serta pembuatan display diorama sejarah MPR
Belanja Operasional sebesar Rp92.056,4 juta yaitu belanja pegawai operasional Rp45.259,9 juta dan belanja barang operasional sebesar Rp 46.796,5 juta.
14. Hasil exercise rancangan pagu indikatif
mempertimbangkan penyerapan anggaran MPR RI tahun 2015 sebesar 75,34%. Penurunan realisasi anggaran disebabkan antara lain:
c. Kegiatan yang tidak dapat terlaksana sebagian besar bersumber dari APBN-P tahun 2015 dan waktu yang tersedia terbatas.
d. Adanya usulan revisi APBN-P tahun 2015 yang memerlukan reviu ulang dari BPKP namun tidak disahkan oleh DJA.
15. Hasil Rancangan Pagu Indikatif tidak memenuhi usulan anggaran MPR RI sebesar Rp 2.117.666.962.366,-
(sesuai surat No.
R-751/PR.04.01/B-IV/SetjenMPR/03/2016). Oleh karena itu MPR RI mengusulkan tambahan anggaran untuk:
Belanja non operasional sebesar Rp
1.425.664.524.768,-
Alokasi tersebut untuk menunjang kebutuhan antara lain:
6) Sosialisasi berbasis Anggota MPR (Tahun 2016 dialokasikan sebanyak 6 kali per-anggota dengan alokasi pagu saat ini baru teralokasi 1 kali per-anggota);
7) Publikasi kegiatan MPR melalui berbagai media; 8) Tambahan kegiatan sosialisasi 4 Pilar MPR,
diantaranya :ToT, Sosialisasi untuk memenuhi
undangan/permintaan instansi/ormas,
sosialisasi Kabupaten /Kota, sosialisasi Outbond;
9) Sidang MPR perubahan UUD NRI Tahun 1945, Rapat Panitia Ad Hoc dan Badan Pekerja;
10) Kegiatan Pengakajian, diantaranya :
Penyerapan Aspirasi Masyarakat, Seminar Nasional di Daerah dan Jakarta, Workshop Pancasila, Konstitusi, danKetatanegaraan)
64
NO POKOK BAHASAN CATATAN PEMBAHASAN
Belanja operasional sebesar Rp. 37.939.598.000,- Alokasi tersebut untuk menunjang kebutuhan antara lain:
4) Tunjangan Kinerja Pegawai Sekretariat Jenderal MPR;
5) Pemeliharaan server;
6) Tambahan alokasi pengadaan obat-obatan bagi Anggota Lembaga Pengkajian MPR.
Rancangan Pagu Indikatif sebesar Rp. 654.024,9 juta belum mengakomodir kebutuhan MPR, karena melalui kesepakatan Alat Kelengkapan (Pimpinan
MPR, Fraksi/Kelompok, dan Badan-Badan)
kebutuhan anggaran untuk tahun 2017 sebesar Rp. 2.117.666,962 juta, mengingat kegiatan MPR berskala nasional dari tingkat Kabupaten di 34 Provinsi.
16. Bappenas meminta agar Belanja non prioritas diharapkan agar tetap disesuaikan dengan kebijakan money follow program, sehingga penentuan alokasi harus efektif dan efisien. MPR RI perlu membuat skala prioritas terkait program/kegiatan yang akan dilaksanakan.
17. Rancangan program/kegiatan/sasaran dan indikator harus jelas, mudah dipahami serta target terukur. Melanjutkan penyederhanaan nomenklatur sasaran dan target
18. Perlu diperhatikan usulan alokasi rancangan pagu indikatif tahun 2017 sebagai berikut:
Program Pelaksanaan Tugas Konstitusional MPR dan Alat Kelengkapannya Rp 535.536,588 juta
Program Dukungan Manajemen dan
Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya MPR Rp 85.219,204 juta
Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur MPR Rp 33.269,108 juta
65
BAB 3. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
3.1 KESIMPULAN
Kegiatan penyusunan RKP 2017 mempunyai tahapan yang berbeda dengan penyusunan RKP 2016 yaitu dengan dilakukannya pertemuan Multilateral dan Bilateral yang mempertemukan Bappenas dengan Kementerian/Lembaga Teknis yang merupakan mitra kerja dan Kementerian/Lembaga yang mempunyai kontribusi/dukungan terhadap program Prioritas Nasional. Dokumen RKP 2017 yang dihasilkan memuat narasi yang lebih pendek ketimbang dokumen RKP 2016, selain itu dilengkapi dengan lampiran Program/Kegiatan Kementerian/Lembaga yang termasuk program Nasional dan Program Prioritas saja. Proses penyusunan dan pembahasan program/kegiatan prioritas dilakukan melalui aplikasi system e-Planning SIMU dalam pertemuan baik Multilateral, Bilateral, Trilateral dan Musrenbangnas dengan Pemerintah Daerah. Pembahasan dan penyusunan program/kegiatan dilakukan berdasarkan skala prioritas serta menggunakan prinsip kebijakan money follow program yang berarti kebijakan anggaran belanja yang dilakukan berdasarkan program prioritas yang akan dilaksakan.
Hasil koordinasi dan serangkaian pertemuan rapat menghasilkan dokumen RKP 2017 yaitu “Memacu Pembangunan Infrastruktur dan Ekonomi untuk Meningkatakan Kesempatan Kerja serta Mengurangi Kemiskinan dan Kesenjangan Antarwilayah” yang mencakup Pembangunan Manusia dan Masyarakat; Pembangunan Sektor Unggulan; Pembangunan Pemerataan dan Kewilayahan; dan Pembangunan Politik, Hukum, Pertahanan dan Keamanan.
3.2 REKOMENDASI
Kegiatan penyusunan RKP 2017 masih memerlukan koordinasi yang sinergis antara Bappenas, Kementerian Keuangan, Kementerian/Lembaga Teknis serta Pemerintah Daerah dalam penyusunan RKP. Mekanisme penyusunan RKP di tahun selanjutnya perlu ditingkatkan terutama untuk menjamin terlaksananya tujuan dan output dari serangkaian pertemuan multilateral, bilateral dan trilateral meeting serta penyusunan detail program/kegiatan prioritas yang telah diinput dalam aplikasi e-planning SIMU. Diperlukannya komitmen antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah atas hasil pembahasan RKP 2017 final yang telah disahkan melalui Perpres untuk pelaksanaan program/kegiatan priotitas, alokasi anggaran serta output dan outcome yang dihasilkan.