• Tidak ada hasil yang ditemukan

The Representation of Ideology and Maritime Identity in the Southeast Moluccas Islands

REPRESENTASI IDEOLOGI DAN

C. Perahu Sebagai Simbol di Kepulauan

tertentu seperti di Lolotuara, Pulau Lakor,

Maluku Tenggara: Ideologi dan

bagian tembok keliling menampilkan

Identitas Sosial

karakter dengan bentuk haluan sebuah

Representasi tema perahu dalam ragam perahu. Aspek kedua berkaitan dengan

budaya bendawi menunjukkan bagaimana orientasi pemukiman yang ditata mengacu

perahu di Maluku Tenggara tidak hanya pada arah edar matahari dari timur menuju

memiliki fungsi praksis namun telah barat. Model orientasi ini oleh masyarakat

memasuki ranah simbolis. Dalam konteks ini umumnya dipandang secara simbolis sebagai

perahu diadopsi sebagai wahana tanda untuk orientasi pelayaran. Karena itu letak pintu

m e n g a t u r r a g a m k e h i d u p a n s o s i a l gerbang yang biasanya berada pada sisi timur

masyarakat. Salah satu aspek yang teramati dan barat pemukiman. Aspek ketiga

a d a l a h k o n d i s i k o m u n i t a s d a n p e n e r a p a n p e r a h u s e b a g a i s i m b o l

pemukimannya sebagai satu kesatuan sosial ditampilkan lewat rencana ruang pemukiman

yang diibaratkan sebagai sebuah perahu. kuna. Dalam konteks ini desa sebagai satuan

35

S. McKinnon, “Tanimbar Boats,” dalam Islands and Ancestors: Indigenous Styles of Southeast Asia (eds J.P Barbier and D. Newton). (New York: The Metropolitan Museum of Art. 1988), hlm. 152-169.

Struktur sosial masyarakat dengan ragam kompleks di tingkat komunitas. Desa peran dalam komunitas, diidentikan dengan (termasuk masyarakatnya) dipandang ragam peran spesifik para awak dalam sebagai sebuah perahu dengan keluarga-sebuah perahu. Kondisi ini kemudian keluarga yang memiliki peran sosial yang dimanifestasikan secara materi melalui diibaratkan dengan fungsi spesifik awak beragam produk budaya bendawi. Dalam dalam sebuah perahu. Kepala Desa memiliki konteks ini kiranya kompleksitas konsep fungsi yang pararel dengan peran seorang perahu sebagai simbol dapat dipandang nakhoda, selaras dengan peran-peran lain s e b a g a i w a h a n a m a t e r i u n t u k dalam struktur adat. Masyarakat dalam arti merepresentasikan ragam aspek ideologi luas dipandang sebagai penumpang yang dalam masyarakat Maluku Tenggara. senantiasa harus diayomi oleh para tetua. Dalam konteks ini, perahu sebagai Aspek ideologis dalam lingkup

representasi semangat bahari, menjadi kepulauan Maluku Tenggara memang dapat

inspirasi bagi tata-kelola sosial dalam ditinjau dengan mengacu pada tema perahu

lingkup komunitas. Aspek ideologis inilah sebagai benang merah simbol dalam

yang kemudian dimaterialisasi melalui kawasan. Fenomena ini sudah teramati

ragam budaya bendawi di Maluku Tenggara. bahkan pada penerapan konsep kosmologi di

tingkat yang paling dasar. Pemahaman Pemahaman konsep materialisasi

tradisional masyarakat Dawera dan Dawelor ideologi ini dikemukakan oleh DeMarrais di Kepulauan Babar misalnya, memandang yang memandang materialisasi sebagai individu sebagai satuan kosmik yang paling proses transformasi ide, nilai, kisah, mitos ke fundamental dalam lingkup semesta. dalam ranah kodrati yang terwakili dalam Manusia, sebagai sebuah entitas, adalah upacara, benda simbolis, monumen, dan

3 6

perpaduan antara aspek fisikal yang dikenal sistem tulisan. Dalam pandangan sebagai mormorsol serta aspek spiritual yang DeMarrais, ideologi direpresentasikan dalam disebut sebagai dmeir. Mormorsol diwakili bentuk konkret agar memiliki daya penetrasi oleh tubuh dan bersifat sementara, dmeir lebih dalam bagi masyarakat. Proses diwakili oleh roh, jiwa dan karakter yang materialisasi ini merupakan upaya agar karenanya bersifat unik dan abadi. Penerapan ideologi dapat dikendalikan, dimanipulasi, simbolisasi perahu pada tingkat individu ini dan diteruskan di dalam maupun di luar nampak melalui filosofi tradisional b a t a s - b a t a s k o m u n i t a s . D e M a r r a i s masyarakat yang mengibaratkan mormorsol memandang ideologi sebagai elemen utama (tubuh) sebagai sebuah perahu dan dmeir d a l a m s i s t e m k e b u d a y a a n d e n g a n (jiwa/karakter) sebagai jurumudi. Hidup memahaminya sebagai sumber ikatan sosial. sebagai sebuah pelayaran dan perjalanan Dalam pandangannya, ideologi sebagai baru dapat dimulai ketika dua aspek ini wahana kekuasaan dapat berfungsi dengan menyatu utuh dalam individu. baik ketika aspek ide dan imaji dipadukan dan dimanifestasikan untuk mencapai tujuan Filosofi serupa kemudian meluas

bersama dalam komunitas. Premis dasar penerapannya dalam lingkup keluarga yang

DeMarrais memahami ideologi sebagai juga dipandang ibarat sebuah perahu.

elemen dengan aspek materi dan simbolik. Pemahaman tradisional masyarakat di

Kehadiran ragam benda budaya ini Kepulauan Babar, memandang perempuan

merepresentasikan aspek-aspek yang lebih ibarat sebuah perahu yang menanti seorang

kompleks dalam kebudayaan yang mencakup laki-laki dengan perannya sebagai jurumudi.

pola sosial, politik, aktivitas ekonomi, dan Penyatuan antara keduanya, merupakan

identitas masyarakat di masa lalu. prasyarat bagi dimulainya sebuah pelayaran

dalam lingkup keluarga. Penerapan konsep Kondisi serupa kiranya ditemukan khas ini kemudian menjadi semakin dalam konstruksi sejarah budaya di Maluku

36

E. De Marrais, dkk., “Ideology, materialization, and power strategies,” dalam Current Anthropology. Vol. 37. No. 1. (Chicago: University of Chicago Press. 1996), hlm. 15-31.

Tenggara di mana perahu sebagai simbol rencana ruang pada pemukiman kuna di dimaterialisasi menjadi penanda identitas wilayah ini.

komunal. Dalam persepektif ini, fungsi

Dengan demikian bagi masyarakat di simbolis perahu direpresentasikan dalam dua

Maluku Tenggara, perahu dipandang tidak aspek. Pertama, perahu sebagi simbol

hanya memiliki fungsi praksis namun meluas menjadi wahana penanda struktur sosial

ke aspek ideologis. Dalam konteks ini perahu dalam masyarakat, perahu menjadi elemen

difungsikan sebagai penanda identitas simbolik yang membagi komunitas menurut

komunal untuk merefleksikan identitas sosial peran spesifik setiap anggotanya secara

dalam masyarakat. Peran berbeda setiap sosial, diibaratkan dengan ragam peran

individu pun kelompok dalam suatu dalam perahu. Fenomena khas ini dapat

komunitas diibaratkan dengan ragam peran teramati secara materi melalui model

spesifik dalam sebuah perahu. Monumen pembagian ruang pada monumen perahu

tradisional dan rencana ruang pemukiman batu dan rencana ruang dalam rekayasa

kuna dengan tema perahu adalah wujud pemukiman kuna di Maluku Tenggara

materialisasi ideologi sebagai simbol di sebagaimana telah diulas di atas. Pada aspek

wilayah ini. yang kedua, perahu diadopsi sebagai simbol

yang berfungsi menyatukan ragam kelompok Paparan singkat di atas kiranya dan individu dalam satu komunitas. merupakan sebuah tinjauan awal untuk Pemukiman dipandang sebagai sebuah melihat perahu sebagai tema budaya dalam perahu yang menjadi wahana bersama bagi skala kawasan. Dalam konteks Maluku kelompok-kelompok keluarga dalam Tenggara perahu telah diadopsi sebagai masyarakat. Melalui perspektif ini, perahu simbol untuk menampilkan aspek-aspek menjadi wahana simbolik yang memberi ideologi dalam sejarah budaya masyarakat di nuansa 'kesatuan' guna menjaga semangat wilayah ini. Perahu direpresentasikan secara kebersamaan sebagai sebuah komunitas. simbolis sebagai wahana materi yang

menampilkan ragam aspek identitas komunal. Lepas dari nilai strategis perahu

III. PENUTUP sebagai simbol dalam sejarah budaya, penelitian arkeologi yang berkiblat pada Sebagaimana wilayah lain di Kepulauan

tema spesifik ini masih sangat terbatas di Asia Tenggara, masyarakat masa lalu di

Maluku Tenggara. Beberapa survei awal Maluku Tenggara juga mengadopsi tema

memang telah dilakukan pada situs-situs perahu sebagai simbol. Fenomena ini bisa

yang memiliki karakter khas bahari ini. diamati dari representasi tema perahu pada

Namun demikian, jangkauan ragam situs-situs arkeologi di kawasan ini. Tema

penelitian tersebut kiranya masih harus perahu direpresentasikan dalam tiga bentuk

diperdalam. Situs-situs ini masih tetap yaitu: sebagai lukisan cadas, sebagai

dipandang sebagai tempat keramat yang monumen tradisional, dan cetak biru dalam

DAFTAR PUSTAKA

Ballard C., 1988. “Dudumahan: a rock art site on Kai Kecil, Southeast Mollucas,” dalam

Bulletin of the Indo-Pacific Prehistory Association, 8, hal. 139-161.

Ballard C.; Bradley, R; Myhre, L.N; Wilson, M. 2003. “The ship as symbol in the prehistory of Scandinavia and Southeast Asia,” dalam World Archaeology Vol 35(3): Seascapes. London: Routledge, hal. 385-403.

D. Suryanto dan Sudarmika, G.M.1999. “Laporan Penelitian Situs Ohoidertawun Kei Kecil”. Tidak diterbitkan. Ambon: Balai Arkeologi Ambon.

De Marrais E., dkk., 1996. “Ideology, materialization, and power strategies,” dalam Current Anthropology Vol. 37. No. 1. Chicago: University of Chicago Press. hal. 15-31

De Jonge N., and van Dijk, T. 1995. Forgotten Islands of Indonesia: The Art and Culture of the Southeast Mollucas. Singapore.

Fadhlan S Intan, 2004. “Tinggalan Megalitik dari Situs Sangliat Dol Maluku,” dalam Naditira Widya No 13. Banjarmasin: Balai Arkeologi Banjarmasin.

Fadhlan S. Intan dan Istari. 1995. “Laporan Penelitian Situs Loh-Vat, Kei Kecil”. Tidak Diterbitkan. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional. Fox J. J., 2000. “Maritime communities in the Timor and Arafura region: some historical and

anthropological perspective,” dalam East of Wallace's Line: Modern Quaternary Research in Southeast Asia. (eds O'Connor, S and Veth, P). A.A Balkema, Rotterdam, hlm. 337-356.

H. Sukendar, 2002. Perahu Tradisional Nusantara. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Kempers A. J. Bernet,1988. The Kettledrums of Southeast Asia. Rotterdam. A.A Balkema Le Bar F. M., 1976. Insular Southeast Asia: Ethnographic Studies. Connecticut: New Haven. M. Ririmasse, 2007. “Visualisasi tema perahu dalam rekayasa situs arkeologi di Maluku,”

dalam Naditira Widya Volume 2 No. 1. Banjarmasin: Balai Arkeologi Banjarmasin.

Manguin P. Y., 1986. “ Shipshape Societies: boat symbolism and political systems in insular

th th

Southeast Asia,” dalam Southeast Asia in the 9 to 14 Centuries (eds. D. G. Marr and A. C. Milner). Singapore and Canberra: Institute of Southeast Asian Studies and Research School of Pacific Studies, Australian National University, hlm. 187-213.

McKinnon S., 1988. “Tanimbar Boats,” dalam Islands and Ancestors: Indigenous Styles of Southeast Asia (eds J.P Barbier and D. Newton). New York: The Metropolitan Museum of Art, hlm. 152-169.

Southon M., 1995. The Navel and the Prahu: Meaning and Value in the Maritime Trading Economy of a Butonese Village. Canberra: Australian National University. W. Handoko, dan Sudarmika, G.M. 2009. “Situs Lukisan Cadas di Kei Kecil”. Laporan

I. PENDAHULUAN Dasuk, Batuputih, Gapura, Batang-batang, Dungkek, Nonggunong, Gayam, Raas,

Sentra nelayan di wilayah Kabupaten 1

Sapeken, Arjasa, dan Masalembu. Di antara Sumenep tersebar di Kecamatan Pragaan,

desa-desa nelayan tersebut ada desa nelayan Bluto, Saronggi, Giligenting, Talango,

yang memiliki tradisi unik, yang tidak Kalianget, Pasongsongan, Ambunten,

dimiliki oleh desa-desa nelayan yang lain,

TRADISI TIDUR DI PASIR: FENOMENA UNIK MASYARAKAT