BAB II PENGUJIAN ULTRASONIK
2.3 Peralatan untuk Ultrasonik
Untuk memahami bagaimana cara kerja metode pengujian ultrasonik, kita harus mengetahui terlebih dahulu satu siklus pengujian yaitu sebagai berikut:
1. Clock memberikan sinyal pada pulser untuk kemudian menghasilkan tegangan tinggi yang dialirkan ke tranduser seraya memacu suplay tegangan ke pengatur time-base trigger.
2. Time-base trigger menghidupkan titik-titik di CRT memulai perjalannya melewati layar.
3. Tegangan mencapai tranduser dan kemudian tegangan diubah menjadi getaran mekanik seraya memasuki benda uji.
4. Energi dalam benda uji ini kemudian direfleksikan melewati interfase kembali ke tranduser, di dalam tranduser inilah energi (getaran mekanik) diubah dalam bentuk tegangan.
5. Tegangan kemudian diterima dan diluaskan oleh receiver/amplifier. 6. Tegangan yang sudah diluaskan tersebut kemudian dikirim ke “plat
vertikal (sumbu Y)” (atas dan bawah) di CRT. Pada saat itulah plat di atas sumbu Y menarik titik ke atas. Pergerakan ini menghasilkan sinyal pada layar yang berarti pada waktu itu energi telah melakukan satu siklus perjalanan sepanjang benda uji, yaitu dari saat energi meninggalkan tranduser sampai energi diterima oleh tranduser. Titik-titik tersebut diatur sehingga bisa memulai perjalanannya saat energi
masuk ke dalam benda uji. Pengaturan ini diatur secara manual menggunakan delay atau zero control.
Keterangan gambar: A = Clock and Pulser B = Timebase Trigger C = Receiver/Amplifier D = Transduser
E = Test Piece
Gambar 2.11. Siklus pengujian ultrasonik
2.3.1Peralatan Digital
2.3.1.1Pengatur dan Fungsinya
Instrumen ini bervariasi sesuai kebutuhan, tetapi ada tiga pengatur yang biasa digunakan pada alat pendeteksi retak ultrasonik yaitu: sweep(range), delay, dan gain.
a. Sweep (Range)
Pengaturan ini biasa digunakan pada instrumen analog. Dalam unit digital, pengaturan ini biasanya digabung menjadi satu, didesain sebagai “range”. Fungsi pengatur ini adalah untuk mengatur kecepatan titik-titik pada screen (untuk menyesuaikan display dari path suara yang berbeda-beda). Titik-titik akan bergerak lebih lambat saat screen menggambarkan suara dengan path panjang, sebagai contoh: menggambarkan time-base untuk poros besi panajng. Sebaliknya, titik-titik akan bergerak cepat pada screen saat menggambarkan besi yang pendek.
b. Delay (Zero)
Pengaturan ini menghentikan titik dari saat titik memulai perjalanan melewati screen, sebagai contoh: saat menggunakan dual tranduser atau tranduser dengan baji Plexiglass, waktu start titik harus dihentikan sesaat agar mengikuti suara melewati baji Plexiglass sebelum memasuki benda uji. Yang dibutuhkan oleh display hanya menggambakan area, dari atas benda uji. Menggambarkan suara yang melewati baji pada screen tidak dibutuhkan dan juga membingungkan.
c. Gain (Attenuator)
Jika diterima atau ditolaknya suatu keputusan didasarkan pada amplitudo sinyal, pertimbangan terhadap sinyal yang jenuh terhadap screen adalah tidak mungkin. Karena sinyal yang jenuh terhadap screen ini melampaui 100% FSH (Full Screen Height). Karena sinyal tersebut tidak
terlihat di layar/screen, jadi tidak mungkin untuk membuat perbandingan tanpa menyesuaikan tinggi sinyal.
Instrumen gain dibutuhkan untuk membuat sinyal lebih rendah sampai sinyal tersebut mempunyai tinggi yang sama dengan sinyal referensinya. Tinggi sinyal referensi aktual mungkin dikurangi terlalu banyak sehingga tidak terukur, atau pada kasus terburuk, mungkin amplitudonya terlalu rendah sehingga tidak terlihat lagi, dan amplitudo sinyalnya menjadi tidak bisa dibandingkan.
Solusi dari masalah ini adalah menggunakan pengaturan volume, hampir sama dengan yang kita temui pada sistem stereo. Maksudnya sama dengan yang kita ketahui sebagai “calibrated gain control” atau “attenuator”. Perbedaan antara kedua alat ini adalah pada penggunaannya, yaitu sebagai berikut:
1. Saat menunggu attenuator, penambahan attenuasi berdasarkan pengurangan tinggi sinyal.
2. Saat menunggu calibrated gain control, penambahan tingkatan gain berdasarkan peningkatan tinggi sinyal.
Persamaaan antara keduanya adalah keduanya dioperasikan dengan menggunakan sirkuit yang sama.
d. Single and Dual Tranduser Selection
Switch ini mengisolasi sisi transmiter sirkuit dari amplifier. Dengan single tranduser, tegangan mencapai amplifier dari pulser atau tranduser (atau kombinasi keduanya), menghasilkan sinyal di sisi kanan layar yang
selalu dikembalikan sebagai “initial pulse” atau “mainbang”. Secara nyata, initial pulse menutup display untuk area di bawah tranduser (permukaan depan) benda uji.
Menggunakan dual tranduser mampu menghilangkan sinyal initial pulse dari sisi kanan layar, ini meningkatkan waktu pengujian yang tersedia mendekati permukaan depan (atas) benda uji.
e. Frequency Selection
Tranduser dioperasikan pada frekuensi tertentu berdasarkan ketebalannya. Tranduser berosilasi pada frekuensi resonansinya, tapi juga menghasilkan frekuensi yang lain, kadang lebih tinggi dan kadang lebih rendah dari pada frekuensi utamanya. Sehingga dibutuhkan sesuatu untuk menyaring frekuensi yang tidak dibutuhkan tersebut karena bisa menimbulkan noise tingkat rendah. Untuk mengatasinya, beberapa instrumen ultrasonik didesain sehingga bisa menerima range frekuensi tertentu yaitu dengan menambahkan “narrow band receiver” atau “broad band receiver”, efek dari penambahan instrumen ini adalah bahwa receiver hanya memproses frekuensi yang diinginkan seraya menyesuaikan “bandwidth”, contoh selektor 5 MHz mungkin hanya menerima energi antara 4 MHz sampai dengan 6 MHz, didasarkan pada spesifikasi. Nama lain untuk circuit jenis ini adalah “band pass filter” . Band pass filter ada 2 jenis, yaitu :
1. high-pass filter, untuk menyaring frekuensi yang lebih tinggi dari pada frekuensi aslinya.
2. Low-pass filter, untuk menyaring frekuensi yang lebih rendah dari pada frekuensi aslinya.
2.3.1.2 Gate
Elektronik gate digunakan untuk menghasilkan aksi berdasarkan sinyal yang terjadi dalam gate. Gate adalah gaya yang dimasukkan kedalam time base pada lokasi user-selected sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 3.2. Gate biasanya terlihat sebagai garis elektronik tambahan pada time-base. “Positive Gate” akan memungkinkan masuknya sinyal kedalam gate sehingga menyebabkan tegangan terkirim ke alat tertentu, sebagai contoh : alarm audible atau visible. Kebalikannya jika digunakan pada daerah negatif, maka keberadaan sinyal dalam gate dapat menyebabkan aksi serupa terjadi.
Gate dapat digunakan untuk menghasilkan display numeris dari sinyal pada posisi horizontal atau untuk menghasilkan prosentase amplitudo pada layar. Ambang pintu gate biasa diatur sesuai dengan fungsinya saat menyesuaikan amplitude sinyal. Penggunaan yang didasarkan pada aplikasinya juga menentukan posisi dan luas gate.
Instrument modern menggunakan sinyal gate untuk menggunakan
informasi yang bisa digunakan untuk menghitung dan mengukur kedalaman retak, atau dalam kasus angle beam transduser, sinyal gate bisa digunakan untuk menghitung jarak lokasi retak ke depan trasduser dengan program trigonometri. Sinyal gate juga bisa digunakan untuk menghasilkan gambar “C-scan” (lihat Gambar 2.13)
Gambar 2.13. Sinyal gate untuk menghasilkan gambar C-scan
2.3.1.3 Storage Memory
Adalah instrument digital yang menyediakan fasilitas untuk menyimpan kalibrasi atau bentuk gelombang. Kalibrasi dalam jumlah banyak dapat disimpan dan dapat diperoleh kembali kapan saja. Bentuk
gelombang juga disimpan dan dapat dimuat kembali ke komputer untuk kemudian di print.
2.3.1.4 Display
Ada sedikit perbedaan cara untuk menunjukkan informasi ultrasonik. Penunjukan A-scan diperlihatkan oleh alat pendeteksi cacat/retak ultrasonik secara konvensional. Gambar 2.14 menunjukkan hasil tes dimana terdapat dua retak, menurut penunjukan “A-scan”. Display A-scan bisa berupa “rectified” atau “unrectified” sebagaimana ditunjukan oleh Gambar 2.15.
Gambar 2.15. Penunjukan display A-scan
Display “B-scan” ditunjukkan sebagai “potongan” terhadap bagian benda uji. Sinyal ditunjukkan sebagai titik terang atau garis pada layar. Pada display yang ditunjukkan oleh Gambar 2.16, bahwa titik terang serentak terjadi saat unit pencari digerakkan sepanjang benda uji (dengan kecepatan yang sama dengan unit pencari).
Gambar 2.16. Penunjukan display B-scan
“C-scan” mempunyai tipe display seperti peta. Rekaman C-scan pertama dihasilkan oleh rekaman eksternal yang diaktifkan oleh sinyal yang memasuki elektronik gate yang terjadi cacat atau retak. Sebuah pena akan menuliskan area dimana sinyal pada gate diaktifkan di kertas perekam. Dengan kecanggihan teknologi saat ini rekaman gambar dilakukan secara digital dan display ditunjukkan dengan warna yang berbeda-beda pada monitor.
2.3.1.5 Transducers
Istilah lain yang digunakan untuk mendeskripsikan transduser adalah “probe”, “seach unit”, dan “test head”. Kata “transduser” berasal dari bahasa latin “transducere” yang berarti pengantar atau transfer. Fungsi tansduser adalah untuk mentransfer energi listrik menjadi energi mekanik dan kebalikannya.
Tahun 1880, Curie bersaudara, Pierre dan Jacques-Paul, menemukan bahwa jika material kristal tertentu dibagi-bagi menjadi bentuk plat-plat yang spesifik, bisa menghasilkan tegangan saat digeser-geser, ini disebut “piezoelectricity” yaitu elektrisitas karena tekanan. Quartz kristal adalah contoh utama jenis kristal. Adapun material piezoelectric lain yang tersedia di alam, adalah tournaline dan garam Rochelle. Kristal ini digunakan pada awal-awal pengujian ultrasonik sampai material keramik polycrystalline ditemukan, yang kemudian dikembangkan untuk meningkatkan fungsinya. Material polycrystalline yang biasa digunakan dalam transduser adalah lead zirconate titanate (PZT) dan lead metaniobate (PMN). Kedua material tersebut dicampur dalam bentuk bubur dituang dalam cetakan, dikeringkan dalam cetakan, kemudian diiris-iris dengan ketebalan sesuai dengan yang diinginkan. Material tersebut meresonansikan bunyi sesuai dengan formulasi dan ketebalannya. Sebagai contoh : Transduser 5 MHz elemen dari PZT akan mempunyai ketebalan yang berbeda jika elemen tersebut terbuat dari PMN. Potongan-potongan tersebut kemudian ditempatkan pada meja-meja
berongga. Langkah selanjutnya adalah menutup material dengan material konduktif yang sangat tipis, biasanya silver (perak). Pada saat ini, elemen belum bisa aktif sehingga harus dipolarisasi agar bisa digunakan untuk tujuan menghasilkan atau menerima energi ultrasonik. Ini dikenal dengan proses ”poling”. Elektroda ditempelkan pada permukaan dan elemen dicelupkan kedalam oli. Oli ini dipanaskan pada temperatur yang disebut temperatur Curie sesuai dengan jenis materialnya (juga disesuaikan dengan temperatur kritisnya).
Elemen bisa mempunyai polaritas positif (+) dan negative (-). Untuk gelombang longitudinal, elemen terpolarisasi, deformasi elemen ditunjukkan pada Gambar 2.17a. Untuk gelombang geser (gelombang transversal) bisa terbentuk saat element terpolarisasi dan berdeformasi seperti ditunjukkan pada Gambar 2.17b.
Keuntungan keramik polycrystalline transduser adalah efisiensinya yang bisa mencapai 60 sampai dengan 70 kali lebih baik dari pada material lain. Elemen terpolarisasi seperti ditunjukkan oleh gambar 2.17a akan mempunyai fungsi yang sama dengan gerakan piston. Elemen tumbuh menjadi lebih pendek dan lebih gemuk gerakan ini akan terus terjadi sampai alat ultrasonik berhenti berbunyi. Mungkin karena jika gerakan ini tidak diredam, maka sinyal retak dari benda uji yang tertutup akan kelihatan pada layar sebagai satu gabungan sinyal.
Untuk meredam gerakan tersebut maka ditambahkan material “damping” atau “backing” dibelakang elemen, tetapi ikatan antara material backing dan elemen juga penting, yaitu harus ada kesesuaian akustik impedans antara elemen dan material backing. Idealnya tranduser harus mempunyai panjang pulse pendek dan energi output tinggi. Tetapi dua fitur ini berlawanan satu sama lainnya. Untuk itu peredam harus dilengkapi dengan substant yang dilengkapi impedance akustik sesuai dengan material akustik, dan juga mempunyai struktur padat. Biasanya digunakan campuran tungsten dan epoxy.
Seiring dengan perkembangan teknologi, dikembangkan transduser dimana pemilihan elemennya didasarkan pada impedance akustik sesuai dengan aplikasi, sebagai contoh: transduser yang digunakan sebagai “wedge drivers” mempunyai permukaan yang biasanya terbuat dari epoxy (mempunyai impedansi yang baik) dipadukan dengan Plexiglas. Transduser yang diaplikasikan untuk kontak secara langsung seperti unit
convensional zero degree, mempunyai permukaan depan yang terbuat dari material yang mempunyai impedance akustik sesuai dengan benda uji, biasanya aluminium atau besi. Material yang biasa digunakan untuk aplikasi ini biasanya aluminium oxide.
a) Piezocomposite Transducers
Biasanya digunakan dalam lingkungan medis. Ide piezocompisite transduser ditemukan pertama kali pada pertengahan tahun 1970. Keramik dipotong-potong berbentuk persegi. Ruang kecil antar persegi-persegi tersebut diisi dengan epoxy dan transduser disesuaikan ketebalannya, ditutup silver (perak), dan dipolarisasi dengan cara yang sama pada element transduser pada umumnya. Perbedaannya adalah pada penunjukannya. Karena material peredam (epoxy) yang mengelilingi keramik persegi pada transducer mempertunjukkan bandwidth yang besar juga resolution yang besar. Sehingga hanya sedikit bahkan tidak membutuhkan lagi penambahan backing material; menghasilkan efisiensi yang besar daripada keramik peredam transduser konvensional.
b) PVPF (Polyvinylidene Fluoride)
Keramik bukanlah satu-satunya material yang bisa menghasilkan efek piezoelectric. Pada saat-saat tertentu, sensor polimer piezoelectric digunakan dalam industri pengujian ultrasonik.
Keuntungan material PVDF adalah :
1. PVDF mempunyai akustik impedance
2. PVDF mempunyai range frekuensi yang besar, dan begitu juga bandwidth yang luas karena itu PVDF menunjukkan pengurangan ruang dan resolusi dekat permukaan yang sangat mendukung, dibandingkan dengan material elemen piezoelectric konvensional. 3. Material PVDF fleksibel dan dapat dibentuk untuk memfokuskan
beam , sehingga ideal untuk penerapan dengan resolusi tinggi. Kerugian :
1. PVDF mempunyai kekuatan lebih rendah dibandingkan dengan tranduser piezoelectric konvensional.
2. PVDF tidak bisa digunakan untuk aplikasi kontak langsung
c) Non-contact Methods
Teknologi EMAT (Electromagnetic Acoustic transduser) lihat Gambar 2.19. adalah cara lain untuk menghasilkan dan menerima energi ultrasonik. EMAT mirip transduser yang terbuat dari koil yang ditempatkan didekat benda uji. Koil membutuhkan daerah magnetik yang
berinteraksi dengan logam, menghasilkan deformasi dipermukaan material. Deformasi ini menghasilkan energi gelombang ultrasonik.
Gambar 2.19.
EMAT (Electromagnetic Acoustic transduser)
Keuntungan :
1. Tidak membutuhkan couplant, karena transduser EMAT tidak kontak secara langsung.
2. dapat diaplikasikan pada komponen dengan temperatur tinggi. Karena transduser jenis ini tergantung pada daerah induksi, sehingga transduser bisa bekerja pada daerah yang dekat dengan permukaan. Kekuatan daerah magnetis berkurang jika jarak antara transduser dan komponen bertambah jauh.
Kerugian :
1. Effisiensinya lebih rendah dari pada piezoelectric transducer. 2. Ukuran transduser relatif besar
3. Menghasilkan energi ultrasonik pada material nonkonduktif hanya mungkin jika pelapis konduktif ditempatkan dipermukaan material nondestructive tersebut.
d) Laser-Generated Ultrasound
Laser-generated ultrasound menggunakan dua laser. Laser yang pertama untuk mengablatipkan permukaan dan menghasilkan gelombang, sedangkan laser yang kedua (laser interferometer) untuk mendeteksi gerakan pada permukaan karena gangguan dari gelombang reflektif. Teknologi ini digunakan untuk inspeksi pada material komposit dalam industri pesawat terbang.
Keuntungan :
1. Tidak membutuhkan couplant saat penerimaannya menggunakan laser interferometry.
2. Laser dapat ditempatkan jauh dari permukaan benda uji.
e) Bandwidth
Transduser bandwidth dalam ultrasonik dideskripsikan sebagai spektrum atau range frekuensi yang terjadi saat menggunakan transduser. Untuk membuat bandwidth lebih berarti untuk tujuan perbandingan, maka bandwidth diukur dengan menambahkan range amplitude. Biasanya range amplitudo yang digunakan antara –3 db sampai dengan –6 db dari maksimum amplitudo (lihat Gambar 2.20).
Gambar 2.20. Bandwidth
Standard yang digunakan sebagai pembanding pada transduser adalah “quality factor” atau “Q” yang berfariasi karena ditempatkannya peredam mekanik pada elemen. Jika Q lebih tinggi maka sensitifitasnya akan semakin besar, semakin rendah Q maka resolusi karakteristiknya makin besar.
f) Dual transducer
Transduser yang menyatukan fungsi elemen yaitu untuk transmisi dan menerima energi ultrasonik disebut sebagai “dual transducer” (ditunjukkan oleh Gambar 2.21). Seperti terlihat pada gambar, elemen ditempatkan pada garis pembagi, elemen terbuat dari material non-transmitting yaitu gabus. Elemen receiver tidak bisa menerima energi secara langsung dari elemen transmitter.
Keterangan Gambar: A = Insulator
B = Plexiglas stand off C = Elemen
D = Damping E = Case
Gambar 2.21. Dual transducer
Tujuan utama transduser tipe ini adalah untuk menambah kemampuan resolusi near-surface dari sistem ultrasonik. Dual transducer dapat di desain untuk memisahkan reflektor yang sangat dekat dengan permukaan scanning, karena itulah transduser di desain dengan “roof angle” atau “squint angle” yang sesuai. Hal ini bisa menghasilkan energi pada benda uji yang direfraksikan secara langsung pada sisi receiver transduser. Pada kenyataannya, semakin besar roof angle, maka resolusi terhadap permukaan scanning menjadi semakin baik.
Dual transducer dapat digunakan pada aplikasi angle beam. Pada kasus ini ditunjukkan beberapa keuntungan yang sama, yaitu : daerah intersection (perpotongan) energi suara dapat diatur untuk menambah area spesifik pada benda uji atau komponen uji. Tidak benar jika transduser jenis ini disebut sebagai transduser yang difokuskan, tetapi teknik ini tidak
terbatas pada penerimaan energi yang direfleksikan pada daerah dimana beam pada transmitter memotong daerah hypothetical dari beam penerima. Catatan : bahwa tidak ada energi dari receiver, tetapi karena sudut datang sama dengan sudut refleksi, dan karena receiver ditujukan pada daerah transmitted beam, maka refleksi planar pada beam akan merefleksikan energi terhadap receiver. Energi yang mampu dideteksi oleh receiver ditunjukkan oleh daerah intersection pada transmitter. (lihat Gambar 2.22).
Gambar 2.22. Energi yang dideteksi receiver
g) Focused Transducer
Focused Transducer menggunakan prinsip lensa diterapkan pada suara. Yaitu memfokuskan cahaya yang diterima dengan menggunakan lensa. Demikian juga saat meneruskan energi suara, dilakukan dengan cara yang sama. (lihat Gambar 2.23).
Gambar 2.23. Focused Transducer
Tiga pendekatan yang bisa digunakan untuk melakukan pengujian dengan focusing beam adalah :
1. membuat elemen transduser.
2. menambahkan lensa konkaf pada permukaan transduser
3. menambahkan lensa bikonveks pada “path” energi suara (sama dengan memfokuskan cahaya dari matahari menggunakan lensa suryakanta).
Energi suara bisa difokuskan, sehingga energi berkumpul di kedalaman atau area tertentu pada benda uji.
h) Phased Array Transducer
Transduser ini menyatukan elemen-elemen yang disusun dengan pola tertentu untuk tujuan memfokuskan atau mengatur energi. Akibat penggunaan elemen-elemen kombinasi yang disusun berjejer dan penggunaan timing pulse untuk merangsang elemen-elemen tersebut, dihasilkan beam yang fokusnya mempunyai kedalaman yang berbeda-beda pada benda uji (lihat Gambar 2.24). Bermacam-macam gelombang
didepan elemen dikombinasikan untuk membentuk beam. Susunan elemen bisa berbentuk lingkaran atau persegi empat, tergantung pada bentuk beam dan bentuk penyebaran energi yang diinginkan. Penyusunan elemen secara linier lebih banyak digunakan dalam dunia kesehatan dari pada sektor industri.
Gambar 2.24. Fokus beam pada Phased Array Transducer
i) Bubblers and squirters
Pengujian celup tidak hanya terbatas pada penempatan benda uji atau komponen kedalam tangki air. Pengujian immersion (celup) bisa dipermudah dengan menggunakan alat disebut “bubblers” atau “squirters”.
Bubblers adalah alat dimana transduser ditempatkan didalam housing yang didalamnya terdapat reservoir fluida. Fluida tersebut dipompakan secara terus menerus kedalam housing. Transduser yang lebih ringan ditempatkan satu tingkat diatas pemegang. Saat unit bubblers ditempatkan pada permukaan benda uji, permukaan benda uji ditempatkan
Elemen kombinasi
diatas unit, housing diisi dengan fluida, dan menyediakan film couplant didepan transduser. (lihat Gambar 2.25).
Gambar 2.25. Unit bubblers
Squirters (lihat Gambar 2.26) memasukkan nozzle kedalam holder (pemegang). Transduser ditempatkan didalam squirters ini dan semburan air pelan yang ada dalam nozzle membawa energi suara ke permukaan benda uji. Alat ini biasanya disatukan dalam sistim pengujian otomatis seperti pada penggunaan untuk pengujian produk-produk pipa, atau pengujian komponen-komponen pesawat, dimana komponen-komponen tersebut tidak mungkin dicelup.
Gambar 2.26. Squirters
j)Wheel transducers
Pengujian immersion/celup ditemukan dalam berbagai bentuk/cara. Wheel transducer adalah cara lainnya. Transduser ditempatkan pada holder (pemegang) dengan wheel yang diisi dengan fluida. Fluida tersebut bisa air, oli ringan atau material lainyang sesuai. Transduser dapat ditempatkan pada sudut yang strategis dengan wheel sehingga bisa menyediakan sudut refraksi yang sesuai. Alat ini sangat berguna untuk menguji komponen-komponen yang bergerak, dimana permukaan couplant terbatas. Alat ini biasa digunakan pada industri rel kereta api.
k) Permasalahan dalam Transduser
Seperti yang sudah diterangkan sebelumnya, pengujian ultrasonik dimulai dengan transduser. Sehingga yang terpenting adalah cara kerja transduser saat digunakan. Masalah dengan transduser harus dideteksi terlebih dahulu. Sebaiknya selalu mencatat cara kerja setiap transduser saat
digunakan, sehingga cara kerja transduser bisa terpantau selama digunakan. Item-item seperti pulse width, amplitudo, dan sudut (jika digunakan) harus diketahui banyaknya. Photografi spektrum dan bentuk gelombang harus ada. Parameter-parameter ini harus dicek secara teratur dan cara kerjanya (performance) harus diperhatikan. Sebaiknya memperhatikan parameter-parameter pada sistem yang sama setiap kali digunakan. Variable-variabel seperti pulse, receiver, dan kabel, dapat mengakibatkan perubahan yang mungkin bisa mengakibatkan error pada transduser itu sendiri.
Perubahan cara kerja (performance) yang mungkin terjadi adalah sebagai berikut :
1. Pulse length, bisa meningkat (+) karena alasan-alasan dibawah ini; - material backing atau dumping (peredam) terlepas dari transduser - wear face terlepas dari transduser
- elemen atau wear face retak/patah - coil tuning terlepas
2.sensitivitas rendah, bisa terjadi karena beberapa alasan seperti : - material elemen transduser menjadi semakin buruk atau rusak - permukaan transduser terlepas
- coil tuning terlepas
3. beam miring, karena bagian permukaan transduser lepas
5. pada angle beam transducers, pemasangan Plexiglas terlalu ke bawah bisa menyebabkan sudut refraksi berubah.