Pemberian jaminan kepastian hukum terhadap hak-hak atas tanah bagi seluruh rakyat Indonesia merupakan salah satu tujuan pokok dari Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA) yang sudah tidak dapat ditawar lagi, sehingga undang-undang menginstruksikan kepada Pemerintah untuk mengadakan pendaftaran di seluruh wilayah Indonesia yang bersifat rechtskadaster artinya yang bertujuan untuk menjamin kepastian hukum bagi pemegang hak dalam kepemilikan dan penggunaan tanahnya. Jaminan kepastian hukum dibidang pertanahan adalah memerlukan tersedianya perangkat hukum yang tertulis, lengkap dan jelas serta dilaksanakan secara konsisten, sesuai dengan ketentuan-ketentuannya.63
Cadastre merupakan alat yang tepat dalam memberikan uraian dan identifikasi dari tanah dan berfungsi sebagai continuos recording (rekaman yang berkesinambungan dari hak-hak atas tanah dan juga harus menunjukkan sifat
63 Agusman Rodeka Siregar, Problematika Pendafataran Tanah Adat Menjadi Hak Milik Tanpa Persetujuan Seluruh Ahli Waris pada Kantor Pertanahan Kabupaten Samosir, Tesis Magister Kenotariatan, Fakultas Hukum, Universitas Sumatera Utara, 2017, h.71
yang terbuka untuk umum (public record). Hal ini penting, terutama jika dikaitkan dengan salah satu asas dalam pendaftaran tanah, yaitu asas publisitas.64
Terdapat beberapa misi pokok yang dijabarkan dalam isi Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, yaitu antara lain:65
a) Penyederhanaan dalam proses dan tata laksana operasional dari pelaksanaan pendaftaran tanah;
b) Prioritas penyelesaian pendaftaran tanah bagi tanahtanah eks.B.W tanah-tanah adat dan tanah-tanah-tanah-tanah konsesi raja-raja;
c) Antisipasi terjadinya pemalsuan sertipikat hak atas tanah dan sertipikat ganda;
d) Percepatan pelaksanaan pendaftaran tanah yang disesuaikan dengan target pemerintah untuk melaksanakan pendaftaran tanah diseluruh Indonesia.
Dengan adanya perubahan Peraturan Pemerintah tentang pendaftaran tanah yang yang baru (PP No. 24 tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah) diharapkan kepada masyarakat akan lebih terdorong untuk mendaftarkan tanahnya, karena adanya penyederhanaan tata laksana pendaftaran tanah, sehingga konsekuensi positif yang nyata, yakni tercapainya target pendaftaran.
Adanya perubahan Peraturan Pemerintah tentang pendaftaran tanah yang yang baru (PP No. 24 tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah) diharapkan kepada masyarakat akan lebih terdorong untuk mendaftarkan tanahnya, karena adanya penyederhanaan tata laksana pendaftaran tanah, sehingga konsekuensi positif yang nyata, yakni tercapainya target pendaftaran tanah di Indonesia dapat direalisasikan secara optimal oleh pemerintah secara amanat Pasal 19 ayat (1) Undang-undang Pokok Agraria.66
64 A.Suriyaman Mustari Pide II, Quo Vadis Pendaftaran Tanah, PUKAP, Makassar, 2009, h.11
65 Ibid.
66 Ibid,h.12
Pada kedua Peraturan Pemerintah ini, bentuk pelaksanaan Pendaftaran Tanah dalam rangka pendaftaran tanah yang bertujuan untuk memberikan kepastian hukum kepada pemegang hak atas tanah dengan alat bukti yang dihasilkan pada akhir proses pendaftaran tanah tersebut berupa Buku Tanah dan Sertipikat yang terdiri dari Salinan Buku Tanah dan Surat Ukur.67
Perubahan pokok dalam pengaturan pendaftaran tanah yang diatur oleh Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961 dan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 yaitu: 68
1) Pelaksanaannya pendaftaran tanah pertama kali memuat perubahan mengenai penegasan pengertian pokok-pokok pendaftaran tanah, asas, dan tujuannya;
2) Penyederhanaan prosedur pengumpulan data dan pengumuman (lembaga pengumuman dan lembaga kesaksian);
3) Pemanfaatan teknologi baru (Global Positioning System/GPS, Data Elektronik/ Mikro Film;
4) Lembaga ajudikasi dalam pendaftaran tanah sistematik;
5) Pembukuan tetap dilaksanakan meskipun data belum lengkap/ dalam sengketa;
6) Diberlakukannya lembaga rechtsverwerking.
Dalam rangka membangun hukum tanah nasional, hukum adat merupakan sumber utama untuk memperoleh bahan-bahannya, berupa konsepsi, asas-asas, dan lembaga hukumnya, untuk dirumuskan menjadi norma-norma hukum tertulis yang disusun menurut sistem hukum adat. Hukum tanah baru yang dibentuk dengan menggunakan bahan-bahan dari hukum adat berupa
67Arie S Hutagalung, Penerapan Lembaga “Rechstverwerking” Untuk mengatasi Kelemahan Sistem Publikasi Negatif Dalam Pendaftaran Tanah,” Jurnal Hukum dan Pembangunan 4 (Oktober-Desember 2000), Universitas Indonesia, h.328-329
68 U.Indrayanto, Perubahan Pokok dalam Peraturan Pendaftaran Tanah Menurut PP Nomor 10 Tahun 1961 dengan PP Nomor 24 Tahun 1997, Jurnal Hukum dan Pembangunan, Universitas Indonesia, Tahun Ke-36 No.3 Juli-September 2006, h.303
norma-norma hukum yang dituangkan dalam peraturan perundangundangan sebagai hukum tanah nasional positif yang tertulis.69
Sistem publikasi pendaftaran tanah yang dianut oleh Undang-Undang Pokok Agraria adalah sistem publikasi negatif yang tidak murni, melainkan sistem publikasi negatif yang bertendensi positif. Secara tersirat pembuktian yang kuat, seperti yang dinyatakan dlam Pasal 19 ayat (2) huruf c, Pasal 23 ayat (2), Pasal 32 ayat (2), Pasal 38 ayat (2) UUPA. Sistem publikasi yang negatif murni tidak akan menggunakan sistem pendaftaran hak.70 Sistem Publikasi negatif yang tidak murni diuraikan dalam Penjelasan Pasal 32 ayat (2) PP Nomor 24 tahun 1997 tentang pendaftaran tanah, yaitu:
Pendaftaran tanah yang penyelenggaraannya diperintahkan oleh Undang-undang Pokok Agraria tidak menggunakan sistem publikasi positif, yang kebenaran data yang disajikan dijamin oleh negara, melainkan menggunakan sistem publikasi negatif. Di dalam sistem publikasi negatif negara tidak menjamin kebenaran data yang disajikan, tetapi walau demikian tidaklah dimaksudkan untuk menggunakan sistem publikasi negatif secara murni. Hal tersebut tampak dari perrnyataan dalam Pasal 19 ayat (2) huruf c UUPA, bahwa surat tanda bukti hak yang diterbitkan berlaku sebagai alat bukti yang kuat dan dalam Pasal 23, Pasal 32, dan Pasal 38 UUPA bahwa pendaftaran sebagai peristiwa hukum merupakan alat pembuktian yang kuat. Selain itu, dari ketentuan-ketentuan mengenai prosedur pengumpulan, pengolahan, penyimpanan dan penyajian data fisik dan data yuridis serta penerbitan sertipikat dalam peraturan pemerintah ini, tampak jelas usaha untuk sejauh mungkin memperoleh dan menyajikan data yang benar, karena pendaftaran tanah adalah menjamin kepastian hukum.
UUPA secara tersurat tidak menyebutkan sistem publikasi yang di gunakan, namun dalam dalam substansinya dapat disimpulkan bahwa sistem
69 A.Suriyaman Mustari Pide I, Op.cit, h.136
70 Urip Santoso II, Hukum Agraria Kajian Komprehensif, Kencana Prenada Media, Jakarta, 2012,h.202
publikasi dalam pendaftaran tanah yang dianutnya adalah sistem publikasi negatif yang mengandung unsur positif. Bukti bahwa sistem publikasi dalam pendaftaran tanah yang dianut oleh UUPA adalah sistem publikasi negatif yang mengandung unsur positif, dapat dijelaskan sebagai berikut:71
a) Pendaftaran tanah menghasilkan surat tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat, bukan sebagai alat pembuktian yang mutlak. Kata “kuat” disini merupakan ciri sistem publikasi negatif;
b) Sistem pendaftaran tanah menggunakan sistem pendaftaran hak (registration of titles), bukan sistem pendaftaran akta (registration of deed).
Sistem pendaftaran hak (registration titles) merupakan ciri sistem publikasi positif;
c) Negara tidak menjamin kebenaran data fisik dan data yuridis yang tercantum dalam sertipikat. Hal ini merupakan ciri sistem publikasi negatif;
d) Petugas pendaftaran tanah bersifat aktif meneliti kebenaran data fisik dan data yuridis. Hal ini merupakan ciri sistem publikasi positif;
e) Tujuan pendaftaran tanah adalah untuk memberikan jaminan kepastian hukum. Hal ini merupakan ciri sistem publikasi positif;
f) Pihak lain yang dirugikan atas diterbitkannya sertipikat dapat mengajukan keberatan kepada penyelenggara pendaftaran tanah untuk membatalkan sertipikat atau mengajukan gugatan ke pengadilan agar sertipikat dinyatakan tidak sah. Hal ini merupakan ciri sistem publikasi negatif.
71 Ibid, h.271
Jadi ciri pokok sistem publikasi negatif adalah bahwa pendaftaran tidak menjamin bahwa nama yang terdaftar dalam buku tanah tidak dapat dibantah walaupun ia beritikad baik. Haknya tidak dapat dibantah jika nama yang terdaftar adalah pemilik yang berhak. Hak dari nama yang terdaftar ditentukan oleh hak dan pembeli hakhak sebelumnya, perolehan hak tersebut merupakan satu mata rantai.
Kedudukan Hukum Adat di dalam UUPA pada hakikatnya dimaksudkan untuk menciptakan kesatuan hukum di bidang pertanahan. Apabila dahulu terdapat dualisme hukum pertanahan, yaitu hukum tanah adat dan hukum tanah barat, maka dengan dijadikannya hukum adat sebagai dasar hukum pertanahan di Indonesia, secara otomatis tercipta unifikasi hukum pertanahan di Indonesia.
Pemilihan hukum adat sebagai dasar UUPA dilandaskan pada pemikiran bahwa hukum adat adalah hukum yang sesuai dengan kepribadian Bangsa Indonesia dan merupakan hukum rakyat Indonesia yang asli. Oleh karena sebagian besar rakyat Indonesia tunduk pada Hukum Adat, maka UUPA didasarkan pula pada ketentuan-ketentuan hukum adat yang asli yang disempurnakan dan disesuaikan dengan kepentingan masyarakat.72
Pengadopsian asas rechtsverwerking ke dalam hukum tanah nasional sebagai salah satu asas yang dikenal dalam hukum adat dan sebagai jabaran dari dasar kesatuan yang berdasarkan pada ketentuan Pasal 5 dan Penjelasan Umum
72 Elsa Syarief, Menuntaskan Sengketa Tanah Melalui Pengadilan Khusus Pertanahan, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2012, h.161
III angka 1 UUPA yang ditempatkan sebagai asas yang harus diberlakukan dalam hukum tanah nasional yang tertulis dan harus dipatuhi oleh semua orang termasuk aparat penegak hukum seperti para hakim dalam memutuskan sengketa-sengketa hukum pertanahan.
Secara substansi, asas rechtsverwerking tercakup dalam asas-asas yang sudah dirumuskan dalam UUPA yaitu semua hak atas tanah mempunyai fungsi sosial dan asas kewajiban pemeliharaan tanah sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 6 dan Pasal 15. Semua orang mempunyai hubungan hukum dengan tanah dan kemudian terbentuk hak atas tanah dibebani kewajiban untuk memelihara tanah tersebut. Kewajiban ini mengandung makna bahwa orang yang bersangkutan harus menggunakan atau mengusahakan tanahnya secara terus menerus sehingga tercipta hubungan hukum, apabila kewajiban tersebut tidak dipenuhi, maka hak yang sudah diperoleh tersebut menjadi hapus.73
Ketentuan Pasal 32 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, sertipikat sebagai tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat diperoleh pemegang hak atas tanah apabila dipenuhinya unsur-unsur kumulatif, yaitu :74
1. Sertipikat hak atas tanah nama orang atau badan hukum tersebut diterbitkan secara sah;
2. Hak atas tanah diperoleh dengan itikad baik;
3. Hak atas tanah dikuasai secara nyata;
4. Dalam waktu 5 (lima) tahun sejak diterbitkan sertipikat hak atas.
73 Nurhasan Ismail, “Rechtsverwerking dan Pengadopsiannya Dalam Hukum Nasional”, Jurnal Mimbar Hukum Vol.19, Nomor 2, 2007, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
74 Urip Santoso I, Op.cit, h.280-282
Apabila unsur-unsur diatas dipenuhi secara kumulatif oleh pemilik sertipikat, maka pihak lain yang merasa mempunyai hak atas tanah itu tidak dapat lagi menuntut pelaksanaan hak atas tanahnya. Ketentuan Pasal 32 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997 ditetapkan dalam rangka untuk menutupi kelemahan penerapan sistem publikasi negatif dalam pendaftaran tanah dan mengarah pada sistem publikasi positif.75
Sertipikat hak atas tanah sebagai produk akhir dari pendaftaran tanah yang diperintahkan oleh hukum yaitu Undang-undang Pokok Agraria dan Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, telah mengikat bagi para Pejabat Badan Pertanahan Nasional untuk menerbitkan sertipikat sebagai alat pembuktian yang kuat atas pemilikan tanah.76
Secara umum sertipikat hak atas tanah merupakan bukti hak atas tanah.
Kekuatan berlakunya sertipikat telah ditegaskan dalam Pasal 19 ayat (2) huruf c dan Pasal 32 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, yakni sertipikat merupakan tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat mengenai data fisik dan data yuridis yang termuat didalamnya sepanjang data fisik dan data yuridis sesuai dengan data yang ada dalam surut ukur dan buku tanah hak yang bersangkutan. Sertipikat tanah membuktikan bahwa pemegang hak tanah-tanah yang ada diseluruh
75 Ibid.
76 Ibid.
Indonesia. Tidak sedikit sertipikat yang cacat hukum yang berupa pemalsuan sertipikat, dan sertipikat ganda, yang antara lain disebabkan oleh tidak dilaksanakan UUPA dan peraturan pelaksanaannya secara konsekuen dan bertanggung jawab, disamping adanya orang yang berusaha untuk memperoleh keuntungan pribadi. Faktor kecerobohan petugas pendaftaran tanah juga menyertai lahirnya sertipikat cacat hukum yang disebabkan oleh kecerobohan/
ketidaktelitian dalam menerbitkan sertipikat tanah, artinya petugas tidak meneliti dengan seksama padahal dokumen tersebut tidak memenuhi persyaratan sebagaimana ditentukan oleh ketentuan perundang-undangan yang berlaku.77
Manusia mempunyai hubungan dengan tanah maka berhak untuk memilikinya. Hak milik atas tanah diatur dalam Pasal 20 ayat 1 Undang-undang Pokok Agraria, adalah hak turun temurun, terkuat dan terpenuhi yang dapat dipunyai oleh orang atas tanah dengan mengingat ketentuan dalam Pasal 6 Undang-undang Pokok Agraria.
Turun temurun artinya hak milik atas tanah dapat berlangsung terus selama pemiliknya masih hidup dan bila pemiliknya sudah meninggal dunia, maka hak miliknya dapat dilanjutkan oleh ahli warisnya sepanjang memenuhi syarat hak milik.
Terkuat artinya hak milik atas tanah lebih kuat bila dibandingkan dengan hak atas tanah yang lain, tidak mempunyai batas waktu tertentu, mudah dipertahankan dari gangguan pihak lain dan tidak mudah hangus.
77 Ibid.
Terpenuhi artinya hak milik atas tanah memberi wewenang kepada pemiliknya paling luas bila dibandingkan dengan hak atas tanah yang lain, dapat menjadi induk dengan hak atas tanah yang lain dan tidak berinduk terhadap hak atas tanah yang lain, dan penggunaan tanah lebih luas bila dibandingkan dengan hak atas tanah yang lain. Hak milik atas tanah dapat dipunyai oleh perseorangan warga negara Indonesia dan badan-badan hukum yang ditunjuk oleh pemerintah.
Dalam menggunakan hak milik atas tanah harus memperhatikan fungsi sosial atas tanah yaitu, dalam menggunakan tanah tidak boleh menimbulkan kerugian orang lain, penggunanaan tanah harus disesuaikan dengan keadaan dan sifat haknya, adanya keseimbangan antara kepentingan pribadi dengan kepentingan umum, dan tanah harus dipelihara dengan baik agar bertambah kesuburan dan mencegah kerusakannya.78
Peralihan suatu hak milik terhadap orang tidak diketahui pemiliknya dapat dilakukan melalui pewarisan karena dianggap orang hilang berdasarkan penetapan pengadilan orang hilang. Definisi hilang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai berikut :
1) Tidak ada lagi, lenyap, tidak kelihatan seseorang itu tiba-tiba tidak ada lagi tanpa sebeb jelas atau tidak terlihat lagi dari pandangan.
2) Tidak dikenang lagi, tidak diingat lagi, lenyap seseorang dikatakan mempunyai ketenaran tetapi tidak diketahui kabarnya begitu saja karena suatu kejadian.
3) Tidak ada, tidak kedengaran lagi seseorang yang sering memperlihatkan dirinya dilingkungan sekitar, suatu saat tidak lagi terdengar kabarnya
78 H. Aminuddin Salle, dkk, Hukum Agraria, AS Publishing, Makassar, 2011,h. 109
dikarenakan sesuatu hal terjadi padanya, sehingga orang disekitarnya yang sering mendengar pembicaraannya tidak lagi mendengarnya.79
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Staatsblad 1847 Nomor 23, Burgelijk Wetboek Voor Indonesie (BW) di pasal 467-471 telah mencantumkan ketentuan mengenai miqud/orang hilang KUHPerdata tidak menggunakan istilah mafqud, akan tetapi menggunakan istilah “Orang yang diperkirakan telah meninggal dunia”.80
Pasal 467 KUHPerdata menentukan bahwa seseorang yang telah pergi meninggalkan tempat kediamannya dalam jangka waktu lima tahun, atau telah lewat waktu lima tahun sejak terakhir didapat berita kejelasan tentang keadaan orang tersebut, maka pengadilan bisa menetapkan secara hukum bahwa orang itu telah meninggal, terhitung sejak hari ia meninggalkan tempat tinggalnya, atau sejak hari berita terakhir mengenai hidupnya. Apabila seseorang meninggalkan tempat tinggalnya (hilang) dengan tak memberikan kuasa kepada seseorang untuk mengurus kepentingan-kepentingannya, maka keluarga yang berkepentingan bisa saja mengajukan langsung permohonan kepada pengadilan setempat untuk dapat diputuskan pembagian harta warisan dan kepastian meninggalnya orang yang hilang tersebut oleh Hakim.
79 Joel Canggayuda,dkk, Analisis Yuridis Kedudukan Orang Hilang dalam Hukum Kewarisan Berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata,” Jurnal Hukum Edisi 7 Januari-Juni 2015, Universitas Sebelas Maret Surakarta, h.137
80 Ibid.
Penetapan pengadilan untuk menyatakan seseorang mungkin sudah meninggal dunia sangat penting. Pasal 468 BW menegaskan jika atas panggilan yang ketiga kalinya orang yang mungkin dinyatakan hilang atau kuasanya tidak datang menghadap, meskipun sudah diiklankan di surat kabar, maka atas tuntutan kejaksaan, pengadilan boleh menyatakan tentang adanya dugaan hukum bahwa seseorang telah meninggal dunia semenjak hari ia harus dianggap meninggalkan tempat tinggalnya, atau semenjak hari kabar terakhir tentang masih hidupnya, hari mana harus disebutkan dengan jelas dalam putusan.
Dalam Putusan tersebut juga harus dimuat pertimbangan Hakim mengenai kemungkinan sebab-sebab yang bersangkutan tidak bisa memenuhi panggilan persidangan, sebab-sebab yang mungkin menghalangi yang bersangkutan tidak bisa membaca pengumuman panggilan tersebut, dan hal-hal yang lain berhubungan dengan dugaan kematian. Namun hakim dapat menunda pengambilan putusan sampai jangka waktu lima tahun lebih atau memerintahkan panggilan lanjutan jika ada pertimbangan lain dianggap perlu dan penting untuk diindahkan oleh Hakim, hal ini sangat tergantung kebijaksanaan Hakim dalam melihat fakta terhadap kenyataan dalam persidangan.81
Kedudukan orang hilang menurut Hukum Waris Perdata,untuk memutuskan orang hilang, harus mendapatkan keputusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum, dan jika orang tersebut kembali maka hak-hak dalam warisan harus dikembalikan pada orang yang hilang yang telah kembali
81 Ibid. h.138
tersebut. Tetapi dalam praktek memang belum pernah terjadi tetapi kalaupun terjadi para hakim di Pengadilan Negeri akan mengacu sesuai dalam KUHPerdata Penetapan Orang Hilang sebagai Pewaris Menurut Kewarisan KUHPerdata (BW), menurut Subekti jikalau seseorang meninggalkan tempat tinggalnya dan tidak memberikan kuasa kepada seseorang untuk mengurus kepentingan-kepentingan, sedangkan kepentingan-kepentingan itu harus diurus atau orang itu harus diwakili, maka atas orang yang berkepentingan ataupun atas permintaan Jaksa, Hakim untuk sementara dapat memerintah Balai Harta Peninggalan (Weeskamer) untuk mengurus kepentingan-kepentingan orang yang berpergian itu dan perlu mewakili orang itu.
Jika kekayaan orang yang berpergian itu tidak begitu besar, maka pengurusannya cukup diserahkan pada anggota-anggota keluarga yang ditunjuk oleh Hakim. Jika sudah lima tahun lewat terhitung sejak hari keberangkatan orang yang meninggalkan tempat tinggalnya tanpa memberikan kuasa untuk mengurus kepentingan-kepentingannya, dan selama itu tidak ada kabar yang menunjukkan ia masih hidup, maka orang-orang yang bekepentingan, dapat meminta kepada Hakim supaya dikeluarkan suatu pernyataan yang menerangkan, bahwa orang yang meninggalkan tempt tinggalnya itu “dianggap telah meninggal” sebelum hakim mengeluarkan suatu pernyatan yang demikian itu, harus dilakukan dahulu suatu panggilan umum (antara lain memuat panggilan itu alam surat-surat kabar) yang diulangi paling sedikit tiga kali lamanya. Hakim juga mendengar saksi-saksi yang dianggap perlu untuk
mengetahui kedudukan perkaranya mengenai orang yang meninggalkan tempt tinggalnya itu dan jika dianggapnya perlu ia dapat menunda pengambilan keputusan hingga lima tahun lagi dengan mengulangi panggilan umum.82
Berdasarkan uraian diatas menurut pendapat Abdulkadir Muhammad dan J. Satrio didapatkan suatu gambaran bahwa yang dimkasud dengan keadaan tidak hadir atau Afweigheid harus dalam waktu relatif lama sehingga penentuan Afweigheid oleh pengadilan menetapkan syarat yang cukup penting bahwa si tidak hadir harus meninggalkan kediamannya dan tidak diketahui keberadaannya setelah jangka waktu yang lama atau lebih dari 10 tahun. Maka didapatkan suatu unsur-unsur yang harus dipenuhi oleh suatu keadaan agar dapat disebut sebagai keadaan tidak hadir (Afweigheid). Unsur-unsur Afweigheid tersebut adalah sebagai berikut:83
1. Seseorang;
2. Tidak ada di tempt kediaman;
3. Berpergian atau meninggalkan tempat kediaman;
4. Dengan izin atau tanpa izin;
5. Tak diketahui dimana tempat ia berada ; 6. Dalam jangka waktu yang lama.
Didalam KUHPerdata pengaruh ketidakhadiran ditempat atau Afweigheid terhadap kedudukan hukum seseorang dapat dibedakan dalam tiga masa, yaitu ;
82 Ibid. h.140-141
83 Abdulkadir Muhammad, Hukum Perdata Indonesia, Cetakan Ke-3, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, h.53
a. Masa tindakan sementara (Voorlopige Voorzieningen) terdiri atas pengangkatan Balai Harta Peninggalan sebagai pelaksana pengurusan (Bewindvoerder) oleh pengadilan. Balai Harta peninggalan selanjutnya mengurus kepentingan-kepentingannya, hak-haknya dan harta kekayaannya (Pasal 463 KUHPerdata).
b. Masa mulai dikeluarkannya peraturan persangkaan mati (Vemoedelikj Overleden), jika seseorang meninggalkan tempat kediamannya dan sudah beberapa lama ia tidak pulang tanpa memberi kabar sama sekali tentang keadaannya maka dapatlah hal tersebut dijadikan dasar untuk menyangka bahwa ia tidak akan pulang kembali oleh karena meninggal dunia.
Pemberian pernyataan sangkaan sudah meninggal tidaklah perlu didahului oleh tindakan sementara dan cukup kalau sudah beberapa lama ia tidak pulang.84
Tentang waktu selama beberapa lama itu ditentukan dalam pasal 467 dan 470 KUHPerdata sebagai berikut :
a) lima tahun bila yang tidak hadir tidak mengangkat seorang kuasa untuk mengurusi kepentingannya atau tidak mengatur pengurusannya;
b) sepuluh tahun bila yang tidak hadir meninggalkan kuasa atau mengatur pengurusannya;
c) satu tahun bila yang tidak hadir ternyata merupakan salah seorang sanak buah atau penumpang kapal yang dinyatakan hilang atau mengalami kecelakaan.85
84 R. Soetojo Prawirohamidjojo, Hukum Orang dan Keluarga, Alumni, Bandung, h.201
85 Ibid.
Akibat persangkaan mati itu maka hak-hak orang yang tidak hadir itu beralih secara sementara kepada ahli warisnya dan peralihan ini ada batas-batasnya tertentu.
c. Masa peralihan hak kepada ahli waris secara definitive (Devinitive erfopvolging), dalam hal tahapan peralihan kepada ahli waris secara definitf persangkaan barangkali meninggal dunia sedemikian kuat, sehingga terjadi keadaan yang lebih difinitf, keadaan ini mengakibatkan pewarisan menjadi difinitf. Keadaan difinitif diperoleh apabila diterima kabar kepastian meninggal dunia orang yang tidak hadir itu (Pasal 485 KUHPerdata), yaitu :
Jika kiranya sebelum saat termaksud dalam pasal yang lalu diterima kabar tentang benar meninggalnya si tak hadir, maka mereka yang pada saat meninggal itu karena undang-undang, atau karena surat-surat wasiat si tak hadir, memperoleh hak-hak atas peninggalannya, seperti pun para
Jika kiranya sebelum saat termaksud dalam pasal yang lalu diterima kabar tentang benar meninggalnya si tak hadir, maka mereka yang pada saat meninggal itu karena undang-undang, atau karena surat-surat wasiat si tak hadir, memperoleh hak-hak atas peninggalannya, seperti pun para