D. Implementasi Pendidikan Agama Islam Terhadap Nilai-nilai Moral Mahasiswa Demonstran
3. Peran Agama Islam Bagi Mahasiswa
Manusia sebagai khalifah di muka bumi, merupakan gambaran citra ideal yang telah diciptakan Allah SWT. Mahasiswa dalam kapasitasnya berkedudukan sebagai manusia, disamping sebagai makhluk Allah, ia juga merupakan makhluk individual dan sosial. Untuk itu, ia harus terus berkembang dan mempunyai pengalaman-pengalaman transendental yang menjadikannya harus terus menyempurnakan dirinya sejalan dengan totalitas potensi yang dimilikinya, dengan tetap bersandar pada nilai-nilai agamanya.
Pengembangan dimensi ini merupakan sarana bagi pengembangan aktivitas mahasiswa secara optimal, guna terwujudnya kepribadian paripurna yang berilmu, bermoral (akhlaq al-karimah), serta beriman sebagai ultimate aim kepada Khaliqnya yaitu Allah SWT. Dengan adanya pendekatan ini, diharapkan mahasiswa akan mampu mengembangkan totalitas dirinya secara optimal, memiliki wawasan ilmu pengetahuan dan teknologi yang luas, berakhlak mulia, dan sekaligus memiliki tanggung jawab, baik tanggung jawab individual-vertikal (hubungan manusia dengan Allah) maupun individual-horizontal (hubungan manusia dengan sesama manusia).82
Agama melihat tingkah laku kita sebagai tingkah laku yang dibimbing oleh kepercayaan keagamaan dan nilai-nilai yang dianut dalam agama. Demikian juga, demokrasi mencita-citakan hal yang sama bahwa tingkah laku harus jujur, tidak boleh menipu, dengan orang lain harus
menghormati, dan dalam perbedaan harus toleran. Oleh karena itu, demokrasi merupakan proses kemanusiaan yang secara nilai erat kaitannya dengan nilai Islam.83
Fungsionalisasi agama sebagai sumber motivasi bagi pembangunan, membawa implikasi terhadap pendekatan pembangunan melalui agama. Dalam hal ini, agama tidak hanya dijadikan sebagai sasaran pembangunan, yang menampilkan pembangunan aspek fisik dari keberagamaan, seperti pembangunan prasarana dan pranata keagamaan, tapi juga dijadikan sebagai sarana pembangunan, yang menekankan pembangunan aspek non-fisik dari keberagamaan, yaitu menciptakan suasana yang kondusif bagi peningkatan pemahaman, penghayatan, dan pengamalan nilai-nilai agama.
Tujuan dari nilai pendidikan Islam dimaksudkan untuk mencapai (tujuan) terbentuknya manusia seutuhnya, yaitu manusia berakhlak. Akhlak dalam perspektif Islam berdimensi ganda, yaitu etik dan etos. Muslim berakhlak sebagai produk dari sistem peribadatan, diharapkan tidak hanya memiliki sikap etik (etis), seperti sopan santun, hormat, bijak, cinta bersama, tetapi juga etos dalam menghadapi kehidupan, seperti etos kerja, etos ekonomi, serta etos politik. Perpaduan keduanyalah yang dapat membentuk
kepribadian muttaqi (bertaqwa) yang merupakan tingkat tinggi dari keislaman.84
Dalam proses mempersiapkan generasi penerus kekhalifahan yang sesuai dengan nilai-nilai Ilahiah (ketuhanan), pendidikan yang ditawarkan harus mampu memberikan dan membentuk pribadi mahasiswanya dengan acuan nilai-nilai Ilahiah.
Dengan penanaman ini, akan menjadi panduan baginya dalam melaksanakan amanat Allah di muka bumi. Kekosongan akan nilai-nilai religius, akan mengakibatkan manusia akan bebas kendali dan berbuat sekehendaknya. Sikap yang demikian, akan berimplikasi timbulnya nilai egoistis yang bemuara kepada tumbuhnya sikap angkuh dan sombong pada diri manusia.
Jika ini terjadi, pada waktu yang sama, nilai-nilai sakral kemanusiaan manusia telah tercampak dan sekaligus tumbuhlah cikal bakal mafsadah di muka bumi ini. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Luqman : 18, yang berbunyi:
☺
84 Din Syamsuddin, Etika Agama dalam Membangun Masyarakat Madani, op.cit., h. 234-235.
Artinya :
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (QS. Luqman : 18).
Berpijak pada penjelasan dari ayat ini, terlihat jelas bahwa untuk menciptakan tatanan kehidupan yang sesuai dengan nilai-nilai Ilahiah, tugas dan fungsi manusia sebagai khalifah tidaklah bisa diartikan secara umum, akan tetapi dapat dilihat dalam konteks khalifah syar’iyyat. Dengan diserahkannya predikat khalifah kepada khalifah syar’iyat, maka akan terpeliharalah amanat yang diberikan-Nya kepada manusia dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian, akan terpeliharalah nilai-nilai sakral kemanusiaan manusia pada derajat yang tinggi, yang sesuai dengan potensi yang dimilikinya.85
Tujuan dari pendidikan Islam lebih berorientasi kepada nilai-nilai luhur dari Allah yang harus diinternalisasikan ke dalam individu mahasiswa melalui proses pendidikan. Dengan penanaman nilai ini, diharapkan pendidikan Islam mampu mengantarkan, membimbing, dan mengarahkan mahasiswa untuk melaksanakan fungsinya sebagai ‘abd dan khalifah, guna membangun dan memakmurkan alam dini sesuai dengan konsep-konsep
yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Perwujudan ini tidak terlepas dari pribadi insan kamil yang bertaqwa dan berkualitas intelektual.86
Fungsi pendidikan dalam perspektif Islam merupakan proses penanaman nilai-nilai Ilahiah pada diri mahasiswa, sehingga mereka mampu mengaktualisasikan dirinya semaksimal mungkin sesuai dengan prinsip-prinsip religius.
Prinsip-prinsip dari pendidikan Islam merupakan pengembangan nuansa berpikir bebas (bebas memilih alternatif sesuai dengan kemampuannya, melalui norma-norma Ilahiah) serta mandiri yang dilakukan secara demokrasi berdasarkan orientasi atas kecenderungan mahasiswa secara individual yang menyangkut aspek kecerdasan akal, bakat dan fitrahnya sebagai insan beragama yang dititik beratkan pada pengembangan akhlaq. Dengan orientasi ini, diharapkan akan terpelihara nilai-nilai humanistik mahasiswa dengan sebaik-baiknya.
Untuk itu, pendidikan Islam harus mampu menjadi penyalur nilai-nilai yang ada dalam pranata kehidupan manusia supaya tetap eksis kepermukaan. Oleh karena itu, pendidikan Islam harus mampu menyerap, mengolah, dan menganalisa serta menjabarkan aspirasi dan identitas nilai yang dianut oleh suatu masyarakat. Artinya, pendidikan Islam harus mampu mengalihkan dan menginternalisasi identitas masyarakat pada mahasiswa,
sekaligus mampu mewarnai perkembangan nilai masyarakat yang berkembang dengan warna dan nilai Islami.87
Konsep ini merupakan landasan normatif bagi pengembangan kualitas mahasiswa melalui proses pendidikan yang dilaksanakan. Nilai-nilai yang terkandung dari pendidikan Islam tersebut harus mampu menumbuhkan rasa sosial dan taqarrub kepada Allah sebagai bentuk pengabdian kepada-Nya.88 Nilai-nilai tersebut meliputi ungkapan dari sekumpulan nilai Ilahiah yang ada dalam diri manusia dan merupakan petunjuk sekaligus mewarnai kebudayaan dan moralitas manusia.