KERANGKA TEORI
2.2 Peran Aktor dalam Pemberdayaan Masyarakat
Konsep peran menurut Davis (dalam Prabowo, 2010: 21) merupakan suatu pola perilaku yang diharapkan dari seseorang di dalam aktifitasnya yang menyertakan (orang) lain. Sementara itu menurut Suhardono peran dapat dijelaskan melalui beberapa cara yaitu dengan penjelasan historis dan penjelasan menurut ilmu sosial. Pembahasan mengenai peran akan mengarahkan kepada siapa pelaku y ang menjalankan peran. Peran dikaitkan dengan stakeholder dan aktor. Aktor menurut Bryson (dalam Susilantinah, 2005: 32) adalah pihak-pihak yang melakukan tindakan-tindakan penting sebagai upaya untuk mengarahkan bagaimana suatu organisasi berjalan, apa yang harus dikerjakan dan terdapat alasan mengapa melakukan apa yang dikerjakannya itu, sedangkan stakesholders
27 adalah orang, kelompok atau organisasi apapun yang dapat melakukan klaim atau perhatian, sumberdaya atau hasil (output) organisasi atau dapat dipengaruhi oleh hasil tersebut. Stakeholder juga dapat diartikan sebagai orang yang memegang dan memberikan dorongan, dalam hal ini dapat juga berarti pemerintah maupun instansi-instansi yang bertanggung jawab kepada pemerintah.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa peran adalah kombinasi antara posisi dan pengaruh. Peran dapat diartikan juga sebagai kekuasaan dan bagaimana kekuasan itu bekerja, baik secara organisasi dan organis. Dalam peran ini ada yang dirugikan dan diuntungkan, dengan kata lain peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam suatu sistem atau situasi sosial tertentu. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil. Konsep peran sangat penting dalam organisasi, karena dari peran tersebut dapat diketahui jalur utama yang menghubungkan antara individu dan organisasi.
Peran aktor yang sesuai dengan konteks penelitian ini adalan peran Pemerintah. Pemerintah dapat dimaknai sebagai pihak yang memiliki daya atau kekuatan yang hendak diberikan kepada masyarakat dalam hal ini pemberdayaan masyarakat. Di dalam pemberdayaan ini diperlukan adanya partisipasi dari masyarakat. Peran pemerintah bagi pemberdayaan masyarakat dapat dipahami sebab pemerintah memiliki kewenangan yang luas untuk mengatur setiap aspek kehidupan masyarakat. Menurut Santoso (1997: 21), pemerintah sekurang-kurangnya memiliki tiga tugas fungsi pokok sebagai berikut:
28 1) Regulatif Function
Pemerintah dalam fungsi ini merupakan rangkaian organisasi pemerintahan yang menjalankan tugas-tugas pemerintahan umum termasuk di dalamnya memelihara ketertiban dan keamanan, dari tingkat pusat sampai daerah, yaitu propinsi, kabupaten, kecamatan dan desa.
Tugas yang dimiliki oleh pemerintah ini bersifat mengatur.
2) Development Function
Organisasi pemerintahan dalam fungsi ini menjalankan salah satu bidang atau sektor yang khusus guna mencapai tujuan pembangunan, seperti pertanian, pendidikan dan industri.
3) Service
Pemerintah termasuk suatu unit organisasi yang pada hakekatnya merupakan bagian atau berhubungan dengan masyarakat, yang bertugas untuk memberikan pelayanan langsung bagi masyarakat.
Sesuai dengan fungsi yang dimilikinya tersebut, pemerintah baik ditingkat pusat maupun daerah memiliki kewenangan untuk mengatur setiap kegiatan pemberdayaan masyarakat di tingkat desa. Dalam penelitian ini peran pemerintah sangatlah berpengaruh dalam perkembangan desa wisata, baik Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Desa. Berikut adalah tabel peran pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam pemberdayaan masyarakat.
29 Tabel 2.1
Peran Tiga Aktor dalam Pemberdayaan Masyarakat Aktor Peran dalam
Pemberdayaan
Bentuk Output Peran Fasilitasi Pemerintah Formulasi dan
Penetapan Policy, Swasta Kontribusi pada
formulasi, Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa pemerintah lebih banyak berperan dalam penentuan peraturan. Pihak swasta sebagai aktor implementasi kebijakan melalui penerjunan tenaga ahli sebagai pembangkit kesadaran masyarakat untuk mencapai tujuan. Sedangkan partisipasi masyarakat juga sangat dibutuhkan guna mencapai pemenuhan daya masyarakat tersebut dalam mengupayakan kemandirian dan berswadaya. Agar mencapai tujuan pemberdayaan tentunya peran ketiga aktor tersebut haruslah dapat bersinergi dan bekerjasama secara berkelanjutan dalam upaya pengembangan desa wisata.
30 2.3 Partisipasi Masyarakat dalam Pemberdayaan
Partisipasi masyarakat sangat mendukung pengembangan desa wisata di suatu daerah. Partisipasi masyarakat ini dibutuhkan dalam melakukan pemberdayaan dalam masyarakat. Keterlibatan masyarakat pada setiap program pemberdayaan sangat menentukan keberhasilan pembangunan. Secara etimologis, partisipasi berasal dari bahasa Inggris participation yang diterjemahkan di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) sebagai hal turut berperan serta dalam suatu kegiatan, keikutsertaan, peran serta.
Sastropoetro (1986) mendefinisikan partisipasi sebagai keterlibatan yang bersifat spontan yang disertai dengan kesadaran dan tanggung jawab terhadap kepentingan kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Sedangkan partisipasi menurut Mikkelsen (dalam Soetomo, 2006: 438) adalah :
a. Partisipasi adalah adanya kontribusi sukarela dari masyarakat terhadap proyek tanpa ikut serta dalam pengambilan keputusan.
b. Partisipasi adalah usaha untuk membuat masyarakat semakin peka dalam meningkatkan kemampuan menanggapi proyek-proyek pembangunan.
c. Partisipasi adalah proses yang aktif, artinya orang atau kelompok terkait pengambilan inisiatif dan menggunakan kebebasannya untuk melakukan inisiatif tersebut.
d. Partisipasi adalah pemantapan dialog antara masyarakat setempat dengan para staf dalam melakukan persiapan, pelaksanaan dan monitoring proyek
31 agar memperoleh informasi mengenai konteks lokal dan dampak-dampak sosial.
e. Partisipasi adalah keterlibatan sukarela oleh masyarakat dalam perubahan yang ditentukannya sendiri.
f. Partisipasi adalah keterlibatan masyarakat dalam pembangunan diri, kehidupan dan lingkungan mereka.
Dari keenam poin tersebut dapat disimpulkan di dalam partisipasi terdapat kesukarelaan dari masyarakat, kepekaan terhadap proyek, proses peran aktif masyarakat, dan adanya proses komunikasi dua arah melalui dialog sehingga dengan partisipasi dapat memunculkan perubahan demi menumbuhkan pembangunan di lingkungan masyarakat itu sendiri.
Ada beberapa faktor yang mendorong seseorang ikut berpartisipasi, antara lain karena kepentingan, adanya solidaritas, adanya tujuan yang sama dan adanya keinginan untuk melakukan langkah bersama yang pada akhirnya faktor-faktor tersebut yang semula bersifat individual melalui partisipasi harus secara sukarela diubah dan diolah menjadi tujuan dan kepentingan kolektif.
Menurut Pretty 1 ada tujuh karakteristik tipologi partisipasi, yaitu :
1. Partisipasi pasif atau manipulatif. Merupakan bentuk partisipasi yang paling lemah. Karakteristiknya adalah masyarakat menerima pemberitahuan apa yang sedang dan telah terjadi. Pengumuman sepihak
1 http://suniscome.50webs.com/Konsep/Pemberdayaan/Partisipasi/Kelembagaan.pdf. Diakses 5 Oktober 2011.
32 oleh pelaksana proyek tidak memperhatikan tanggapan masyarakat sebagai sasaran program.
2. Partisipasi informatif. Masyarakat hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan untuk proyek, namun tidak berkesempatan untuk terlibat dan mempengaruhi proses keputusan.
3. Partisipasi konsultatif. Masyarakat berpartisipasi dengan cara berkonsultasi dan pendapatnya diperhitungkan. Namun dalam pola ini pendapat tersebut belum berpengaruh terhadap pengambilan keputusan.
4. Partisipasi insentif. Masyarakat memberikan jasa untuk memperoleh imbalan insentif berupa upah. Masyarakat tidak memiliki andil untuk melanjutkan kegiatan-kegiatan setelah insentif dihentikan.
5. Partisipasi fungsional. Masyarakat membentuk kelompok sebagai bagian proyek, setelah ada keputusan-keputusan utama yang disepakati
6. Partisipasi interaktif. Masyarakat berperan dalam proses analisis untuk perencanaan kegiatan dan pembentukan atau penguatan kelembagaan.
Masyarakat memiliki peran untuk mengontrol atas pelaksanaan keputusan-keputusan mereka, sehingga memiliki andil dalam keseluruhan proses kegiatan.
7. Mandiri (self mobilization). Masyarakat mengambil inisiatif sendiri secara bebas (tidak dipengaruhi pihak luar) untuk merubah sistem atau nilai-nilai yang mereka junjung. Mereka mengembangkan kontak dengan lembaga-lembaga lain untuk mendapatkan bantuan dan dukungan teknis serta sumberdaya yang diperlukan.
33 Ketujuh tingkatan partisipasi yang dikemukakan oleh Pretty tersebut merupakan tingkatan partisipasi dalam proses perencanaan atau pembentukan suatu proyek yang memperlihatkan keseluruhan tingkatan. Dalam konsep ini terlihat tingkatan partisipasi dari pastisipasi terendah (partisipasi pasif) yang memiliki kecenderungan hanya memiliki informasi hingga tingkatan partisipasi yang paling tinggi (self mobilization) dimana inisiatif dari masyarakat begitu tinggi untuk merubah sistem atau nilai-nilai yang ada serta dapat menciptakan relasi dengan pihak luar untuk mendukung sumber daya yang diperlukan.
Sedangkan menurut Hamidjojo (1977), ada beberapa bentuk partisipasi masyarakat:
a) Partisipasi buah pikiran. Partisipasi buah pikiran adalah kemampuan untuk menambah pengetahuan dan pengalaman untuk mencari manfaat atas berbagai masalah melalui musyawarah untuk mengawali perencanaan dan penyelenggaraan.
b) Partisipasi ketrampilan. Partisipasi ketrampilan adalah kemampuan untuk mengerahkan ketrampilannya dalam memanfaatkan sumber daya alam dan nilai sosial bagi kepariwisataan, seni budaya, dan lain-lain dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
c) Partisipasi tenaga. Partisipasi tenaga adalah kemampuan masyarakat untuk menyumbangkan tenaga dalam pembangunan.
d) Partisipasi harta benda. Partisipasi harta benda adalah kemampuan masyarakat untuk menyumbangkan harta benda terhadap usaha yang dirasakan masyarakat dan meringankan hidup bersama dan sesamanya.
34 e) Partisipasi uang. Partisipasi uang adalah kemampuan masyarakat untuk memberikan swadaya gotong royong dalam pelaksanaan proyek-proyek pembangunan.
Partisipasi menurut Hamidjojo tersebut dilihat berdasarkan hal yang diberikan. Konsep partisipasi disini mengemukakan beberapa hal yang diberikan individu untuk suatu kepentingan bersama, seperti buah pikiran, ketrampilan, tenaga, harta benda maupun uang. Kelima hal tersebut dapat disumbangkan secara sukarela oleh masyarakat sebagai wujud partisipasi mereka terhadap sebuah proyek ataupun program pembangunan yang sedang berlangsung dilingkungan mereka.
Berbagai konsep tentang partisipasi tersebut dapat disimpulkan partisipasi merupakan suatu rangkaian keikutsertaan masyarakat dalam mempengaruhi proses perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan kebijakan-kebijakan suatu program dengan kontribusi yang berbeda-beda dapat berupa buah pikiran, ketrampilan, tenaga, harta benda maupun uang, partisipasi tersebut dapat dilihat berdasarkan berbagai tingkatan,mulai dari partisipasi pasif sampai pada partisipasi mandiri (self mobilization). Sedangkan dalam konteks pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan desa wisata dapat disimpulkan bahwa partisipasi masyarakat merupakan suatu rangkaian keikutsertaan masyarakat dalam mempengaruhi proses perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan desa wisata, serta kontribusi berupa buah pikiran, ketrampilan, tenaga, harta benda dan uang.
35 Pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan desa wisata di berbagai daerah memang memerlukan partisipasi dari masyarakat. Karena pengembangan desa wisata itu sendiri merupakan lingkungan dimana masyarakat itu tinggal, sehingga secara langsung berhubungan dengan masyarakat. Oleh karena itu masyarakat berkewajiban membantu dalam pengembangan desa wisata.
Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) sebagai aktor dalam pengelolaan desa wisata tentu membutuhkan kerjasama dari masyarakat demi terwujudnya kesejahteraan masyarakat desa wisata itu sendiri.
Dalam penelitian ini, konsep partisipasi yang digunakan adalah partisipasi menurut Mikkelsen (dalam Soetomo, 2006: 438), yaitu partisipasi terdapat kesukarelaan dari masyarakat, kepekaan terhadap proyek, proses peran aktif masyarakat, dan adanya proses komunikasi dua arah melalui dialog sehingga dengan partisipasi dapat memunculkan perubahan demi menumbuhkan pembangunan di lingkungan masyarakat itu sendiri. Dalam konteks penelitian ini konsep partisipasi dilihat dari peran masyarakat yang sukarela, peka terhadap upaya pengembangan desa wisata, peran aktif masyarakat dalam pengembangan itu sendiri, serta adanya proses komunikasi dua arah melalui dialog antara masyarakat dan Pokdarwis sehingga dengan partisipasi dapat memunculkan perubahan demi mengembangkan desa wisata itu sendiri.
Selain itu peneliti juga menggunakan konsep partisipasi dari Hamidjojo (1977), konsep ini digunakan karena dalam pengembangan desa wisata masyarakat memiliki kontribusi yang berbeda-beda baik berupa buah pikiran, ketrampilan, tenaga, harta benda maupun uang. Pengembangan desa wisata
36 menuntut adanya partisipasi atau peran serta dari masyarakat secara aktif mengingat pengembangan desa wisata tersebut merupakan untuk kepentingan bersama agar masyarakat di desa wisata tersebut menjadi mampu dan mandiri dalam meningkatkan kesejahteraannya. Peran serta masyarakat dalam pengembangan desa wisata sangat diperlukan guna mendukung terlaksananya pemberdayaan masyarakat itu sendiri serta untuk pemeliharaan kontrol sosial dalam pelestarian dan pemeliharaan hasil-hasil pembangunan. Hal ini dapat memberikan ruang gerak bagi masyarakat agar dapat melakukan peningkatan peran aktif masyarakat dalam memanfaatkan potensi lokal untuk kesejahteraan masyarakat. Kedua konsep partisipasi tersebut digunakan peneliti untuk mendukung teori pemberdayaan masyarakat yang disampaikan oleh Friedmann dan Sunartiningsih, karena teori tersebut dirasa peneliti sesuai dengan objek penelitian yang akan diteliti, sehingga penelitian pemberdayaan masyarakat lokal dalam pengembangan desa wisata di Desa Wisata Kebon Agung ini diharapkan dapat memberikan hasil dan manfaat bagi pihak-pihak yang terkait.
Selain konsep partisipasi tersebut, peneliti juga menggunakan konsep pariwisata berbasis komunitas. Konsep pengembangan Pariwisata berbasis komunitas atau biasa disebut Community Based Tourism (CBT) lebih meletakkan masyarakat sebagai subjek itu sendiri. Konsep ini sering digunakan dalam model-model pengembangan pariwisata terutama pariwisata pedesaan. Model dari pariwisata pedesaan memiliki nilai pemanfaatan lingkungan sosial, pelestarian kebudayaan masyarakat serta memiliki semangat pemberdayaan komunitas lokal.
CBT adalah kegiatan kepariwisataan yang menyadari kelangsungan budaya,
37 sosial, dan lingkungan. Bentuk pariwisata ini dikelola dan dimiliki oleh masyarakat untuk masyarakat, guna membantu para wisatawan untuk meningkatkan kesadaran mereka dan belajar tentang masyarakat dan tata cara hidup masyarakat lokal (local way of life). Konsep CBT mempunyai prinsip-prinsip yang dapat digunakan sebagai tool of community development bagi masyarakat lokal, yaitu (Muallisin, 2007: 7) :
1. Mengakui, mendukung dan mempromosikan pariwisata yang dimiliki masyarakat
2. Melibatkan anggota masyarakat sejak awal pada setiap aspek 3. Mempromosikan kebanggaan masyarakat
4. Meningkatkan kualitas hidup
5. Menjamin sustainabilitas lingkungan
6. Memelihara karakter dan budaya lokal yang unik 7. Membantu mengembangkan cross-cultural learning
8. Menghormati perbedaan-perbedaan kultural dan kehormatan manusia 9. Mendistribusikan keuntungan secara adil di antara anggota masyarakat 10. Menyumbang prosentase yang ditentukan bagi income proyek masyarakat
Agar pelaksanaan CBT dapat berhasil dengan baik, ada elemen-elemen CBT yang harusi diperhatikan, yaitu (Muallisin, 2007: 8):
a. Sumberdaya alam dan budaya b. Organisasi-organisasi masyarakat c. Manajemen
d. Pembelajaran (learning)
38 Pembelajaran disini bertujuan untuk membantu proses belajar antara tuan rumah (host community) dan tamu (guest), mendidik dan membangun pengertian antara cara hidup dan budaya yang beragam, meningkatkan kesadaran terhadap konservasi budaya dan sumberdaya diantara turis dan masyarakat luas.
Menurut konsep CBT tersebut, pengembangan desa wisata tidak lepas dari peran serta masyarakat, sehingga pemberdayaan dalam pengembangan sangat diperlukan agar pengembangan desa wisata tersebut dapat memperoleh dukungan dan partisipasi dari masyarakat itu sendiri, karena masyarakat adalah salah satu unsur penting dalam pengembangan desa wisata. Pemberdayaan masyarakat dalam konteks pengembangan desa wisata dilaksanakan dengan tujuan untuk mengembangkan kemampuan masyarakat dalam mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan dalam rangka pengembangan desa wisata, serta dapat ikut serta berpartisipasi dalam mengambil keputusan, mengembangkan perasaan memiliki terhadap kelompok, dan menghargai sesama.
2.4 Konsep Desa Wisata dan Pengembangan Desa Wisata
Pengertian desa wisata dan pengembangan desa wisata mengacu pada konsep kepariwisataan Indonesia. Definisi kepariwisataan sendiri Menurut UU No. 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pariwisata dan bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan negara serta interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat, sesama wisatawan, Pemerintah, Pemerintah Daerah dan pengusaha. Sedangkan Menurut MacIntosh (dalam Yoeti, 2008: 9):
39
“ Tourism as the sum of phenomena and relationship arising from the interaction of tourists, bussiness suppliers, host governments, and host communities in process attracting and hosting these tourists and others visitors”.
Menurut MacIntosh (dalam Yoeti, 2008: 9) tersebut pariwisata adalah sejumlah gejala dan hubungan yang timbul, mulai dari interaksi antara wisatawan di satu pihak, perusahaan-perusahaan yang memberikan pelayanan kepada wisatawan dan pemerintah serta masyarakat yang bertindak sebagai tuan rumah dalam proses manarik dan melayani wisatawan yang dimaksud. Batasan yang diberikan MacIntosh ini menekankan pada 4 unsur penting, yaitu (Yoeti, 2008: 9):
a. Wisatawan (tourist), yaitu orang yang melakukan perjalanan wisata b. Para pemasok (bussiness supplier), yaitu perusahaan yang
menyediakan kebutuhan (needs) dan keinginan (wants) serta pelayanan (service)
c. Pemerintah (host government) yang berwenang menetapkan kebijakan, mengatur dan mengarahkan agar wisatawan dapat dilayani dengan baik
d. Masyarakat (host communities) yang bertindak sebagai tuan rumah untuk memberikan pelayanan yang baik kepada wisatawan
Keempat unsur tersebut merupakan unsur-unsur penting dalam kepariwisataan. Sehingga dalam kepariwisataan harus ada wisatawan, para pemasok maupun investor pariwisata, pemerintah baik pemerintah pusat maupun
40 pemerintah daerah dan masyarakat yang bertindak sebagai tuan rumah dalam sebuah objek wisata. Desa wisata merupakan salah satu daya tarik wisata, konsep desa wisata tidak lepas dari konsep kepariwisataan tersebut. Karena di dalam desa wisata terdapat keempat unsur-unsur penting kepariwisataan seperti yang sudah disebutkan.
Pengertian desa wisata menurut Nuryanti adalah suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku (Nuryanti, 1993: 2-3). Pengertian lain menyebutkan desa wisata yaitu suatu wilayah yang memiliki beberapa karakteristik khusus untuk menjadi daerah tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara. Di kawasan ini, penduduknya masih memiliki tradisi dan budaya yang relatif masih asli. Selain itu, di dalam desa wisata juga terdapat beberapa faktor pendukung seperti makanan khas, sistem pertanian dan sistem sosial. Di luar faktor-faktor tersebut, alam dan lingkungan yang masih asli dan terjaga merupakan salah satu faktor terpenting dari sebuah kawasan desa wisata. Sebuah desa wisata juga memiliki fasilitas-fasilitas penunjang seperti sarana transportasi, telekomunikasi, kesehatan, dan juga akomodasi. Untuk sarana akomodasi, desa wisata menyediakan sarana penginapan berupa pondok-pondok wisata (home stay) sehingga para wisatawan dapat ikut merasakan suasana pedesaan yang masih asli.2
2 http://wisata.mitrasites.com/desa-wisata.html. Diakses tanggal 2 Agustus 2011.
41 Untuk menjaga keaslian karakter desa wisata maka diperlukan adanya pengembangan desa wisata. hal ini dilakukan juga untuk meningkatkan daya tarik wisata yang ada di desa wisata itu sendiri. Menurut direktorat Jendral Pariwisata Republik Indonesia, menyebutkan berkembangnya pariwista sangat tergantung pada empat faktor yaitu, daya tarik (attraction), fasilitas (amenities), kemudahan dalam mencapai (accessibility) dan adanya organisasi pariwisata (tourist organization).
1. Daya tarik (attraction) dapat dibedakan menjadi :
a. Site attractions (tempat, misalnya tempat yang dengan iklim yang baik pemandangan indah ataupun tempat-tempat bersejarah)
b. Event attractions (kejadian/peristiwa) misalnya konggres, pameran ataupun peristiwa-peristiwa olahraga, festival.
2. Fasilitas (amenities) yang dimaksud dengan tersedianya fasilitas seperti tempat-tempat penginapan, restoran, hiburan, transport lokal yang memungkinkan wisatawan bepergian di tempat pariwisata tersebut serta alat-alat lain untuk komunikasi.
3. Kemudahan dalam mencapai (accessibility) yang dimaksud adalah tempatnya tidak terlalu jauh, tersedianya transport ke lokasi tersebut secara teratur, sering, murah, nyaman dan aman.
4. Organisasi Pariwisata (tourist organization), untuk menyusun suatu kerangka pengembangan pariwisata, mengatur industri pariwisata serta mempromosikan daerah itu sehingga di kenal orang.
42 Keempat faktor tersebut sangat mempengaruhi berkembangnya pariwisata.
Daya tarik, fasilitas, aksesibilitas dan organisasi pariwisata merupakan faktor-faktor yang tidak dapat lepas dari upaya pengembangan pariwisata, sehingga dalam pengembangan pariwisata daya tarik wisatanya harus diupayakan dengan sebaik mungkin, baik tempat maupun kegiatan promosinya, kemudian perbaikan fasilitas di tempat wisata, aksesibilas menuju tempat wisata serta adanya suatu lembaga/organisasi yang mengelola tempat wisata tersebut agar segala kegiatan dan rancangan program pengembangan dapat diatur dan dilaksanakan dengan baik.
Untuk mengembangkan daya tarik ke Daerah Tujuan Wisata upaya pengembangan yang perlu dilakukan adalah perbaikan dan peningkatan jasa pariwisata, baik upaya peningkatan daya tarik wisata juga jasa-jasa yang mendukung aktifitas kepariwisataan yang meliputi jasa transportasi, restauran dan pelayanan dari guiding. Pengembangan pariwisata harus melalui terutama daya tarik wisata dan jasa wisata harus ditempuh penelitian inventarisasi dan di evaluasi fasilitas wisata sebelum dikembangkan area tertentu (Marpaung, 2002:
79).
Di dalam pengembangan di suatu desa wisata selain mengidentifikasi unsur-unsur yang ada di Desa tersebut juga harus diimbangi dengan pemahaman terhadap karakteristik serta tatanan sosial-budaya masyarakat. Hal ini dimaksudkan untuk dapat dimanfaatkan dalam pengembangan aspek perekonomian desa tersebut. Dalam pengembangan suatu desa wisata
prinsip-43 prinsip yang harus diperhatikan adalah (Laporan Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Juli 2007):
1. Tidak bertentangan dengan adat-istiadat atau budaya masyarakat desa setempat. Pengembangan suatu desa wisata harus memperhatikan berbagai aspek yang berkaitan dengan kehidupan sosial-budaya dan mata pencaharian desa tersebut. Dalam pengembangannya sebagai atraksi wisata harus didesuaikan dengan situasi ataupun tata cara dan adat istiadat yang berlaku di desa tersebut.
2. Pembangunan fisik ditujukan untuk meningkatkan kualitas lingkungan desa. Pengembangan pariwisata di suatu desa pada hakekatnya tidak merubah apa yang sudah ada di desa tersebut, tetapi lebih kepada upaya merubah apa yang ada di desa dan kemudian mengemasnya sedemikian rupa sehingga menarik untuk dijadikan atraksi wisata. Pembangunan fisik lebih ditujukan untuk meningkatkan kualitas lingkungan yang ada sehingga desa tersebut dapat dikunjungi dan dinikmati wisatawan.
3. Memperhatikan unsur kelokalan dan keaslian. Arsitektur bangunan pada lansekap serta material yang digunakan dalam pembangunan haruslah menonjolkan khas desa tersebut, sehingga dapat mencerminkan kelokalan dan keaslian wilayah tersebut..
4. Memberdayakan masyarakat desa wisata. Unsur penting dalam pengembangan desa wisata pemberdayaan masyarakat, karena masyarakat terlibat langsung dalam kegiatan pariwisata dalam bentuk pemberian jasa dan pelayanan yang hasilnya dapat meningkatkan pendapatan masyarakat
44 di luar aktifitas mereka sehari-hari. Bentuk keterlibatan masyarakat tersebut adalah penyediaan fasilitas akomodasi berupa rumah-rumah penduduk (homestay) ,penyediaan kebutuhan konsumsi wisatawan, pemandu wisata, penyediaan transportasi lokal, pertunjukan kesenian, dan lain-lain.
5. Memperhatikan daya dukung dan daya tampung serta berwawasan lingkungan. Pengembangan desa wisata harus memperhatikan kapasitas desa tersebut, baik kapasitas fisik maupun kesiapan masyarakat. Prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) harus mendasari
5. Memperhatikan daya dukung dan daya tampung serta berwawasan lingkungan. Pengembangan desa wisata harus memperhatikan kapasitas desa tersebut, baik kapasitas fisik maupun kesiapan masyarakat. Prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) harus mendasari