BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.5 Konsep Dasar (BUMG)
2.5.2. Peran BUMG
dampaknya akan berkaitan dengan pengaturannya dalam Peraturan Daerah maupun peraturan Gampong/Qanun Gampong.44
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan BUMG adalah suatu lembaga yang didirikan secara bersama oleh masyarakat Gampong dan pemerintah gampong dalam rangka memperoleh keuntungan bersama sebagai salah satu sumber peningkatan kesejahteraan bersama.
BUMG sebagai lembaga berbentuk badan hukum menaungi berbagai unit usaha dalam desa dan juga memiliki perenan penting dalam peningkata kesejahteraan gampong. Adapun Peran BUMG terhadap peningkatan perekonomian gampong, Menurut seyedi yaitu :
a. Pembangunan dan pengembangan potensi dan Kemampuan masyarakat gampong pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya
b. Berperan secara aktif dalam upaya mempertinggi kualiatas kehidupan manusia dan masyarakat.
c. Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional dengan BUMG sebagai pondasinya.
d. Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian masyarakat gampong.
e. Membantu para masyarakat untuk meningkatkan penghasilan sehingga dapat menigkatkan pendapatan dan kemakmuran masyarakat.47
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa peran merupakan tindakan dan prilaku yang dilakukan oleh seseorang yang menempati suatu posisi di dalam status social, sedangkan peran BUMG dalam sebuah gampong berperan secara aktif dalam upaya mewujudkan dan mengembangkan perekonomian masyarakat gampong serta meningkatkan penghasilan sehingga dapat menigkatkan pendapatan dan kemakmuran masyarakat.
47 Seyadi, BUMG Sebagai Alternative Lembaga Keuangan Desa (Yogyakarta: UPP STM YKPN, 2003), hal. 16.
2.5.3 Tujuan dan Fungsi Badan Usaha Milik Gampong (BUMG)
Terdapat empat tujuan utama pendirian Badan Usaha Milik Gampong (BUMG), antara lain:
a) Meningkatkan perekonomian asli Gampong.
b) Meningkatkan pendapatan asli Gampong.
c) Meningkatkan pengolahan potensi Gampong sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
d) Menjadikan tulang punggung pertumbuhan dan pemerataanekonomi Gampong.48
BUMG pada dasarnya merupakan bentuk konsolidasi atau penguatan terhadap lembaga-lembaga ekonomi Gampong. BUMG yang baik adalah BUMG yang dapat melakukan tugasnya sesuai dengan tujuan pendirian BUMG, antara lain:
a) Meningkatkan perekonomian Gampong.
b) Mengoptimalkan asset Gampong agar bermanfaat untuk kesejahteraan Gampong.
c) Meningkatkan usaha masyarakat dalam pengelolaan potensi ekonomi Gampong.
d) Mengembangkan rencana kerjasama usaha antar Gampong dan dengan pihak ketiga.
e) Menciptakan peluang dan jaringan pasar yang mendukung kebutuhan layanan umum warga.
f) Membuka lapangan kerja.
g) Meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui perbaikan pelayanan umum, pertumbuhan dan pemerataan ekonomi Gampong.
48 Departemen Pendidikan Nasional Pusat Kajian Dinamika Sistem Pembangunan (PKDSP),Buku Panduan Pendirian dan Pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), (Fakultas Ekonomi:Universitas Brawijaya, 2007), hal.5.
h) Meningkatkan pendapatan masyarakat Gampong dan Pendapatan Asli Gampong.49
Tujuan BUMG suatu perwujudan dari pengelolaan ekonomi produktif Gampong yang dilakukan secara kooperatif, transparansi, dan akuntabel. Karena itu, dibutuhkan usaha yang dapat menjadikan pengelolaan BUMG tersebut berjalan secara professional, efektif, dan efisien. Agar tujuan tersebut dapat tercapai, harus dilakukan pemenuhan kebutuhan masyarakat baik secara produktif maupun konsumtif melalui pelayanan distribusi barang dan jasa yang dikelola oleh masyarakat dan pemerintah Gampong.50
Pemenuhan kebutuhan ini diusahakan tidak memberatkan masyarakat, mengingat BUMG merupakan lembaga usaha Gampong yang paling dominan dalam menggerakkan roda perekonomian Gampong. Lembaga ini juga dituntut mampu memberikan pelayanan kepada non-anggota (di luar Gampong) dengan menepatkan harga dan pelayanan yang berlaku dalam standar pasar. Artinya, terdapat mekanisme kelembagaan atau tata aturan yang telah disepakati bersama, sehingga tidak menimbulkan penyimpangan ekonomi di Gampong.51
BUMG merupakan sarana untuk menjalankan usaha pelayanan ekonomi di Gampong, yang meliputi jenis usaha penyewaan, peternakan sapi, dan Air bersih.
Adapun fungsi dari keberadaan BUMG adalah:
49 Ibid, hal 5.
50 Ibid, hal 6.
51 Departemen Pendidikan Nasional Pusat Kajian Dinamika Sistem Pembangunan (PKDSP),Buku Panduan Pendirian dan Pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), (Fakultas Ekonomi:Universitas Brawijaya, 2007), hal.12.
a) Pembentukan usaha baru yang berakar dari sumber daya yang ada serta optimalisasi kegiatan-kegiatan ekonomi masyarakat Gampong yang telah ada.
b) Meningkatkan kesejahteraan masyarakat Gampong.
c) Usaha peningkatan kesempatan dalam rangka memperkuat otonomi Gampong dan mengurangi pengangguran.
d) Membantu pemerintah Gampong dalam mengurangi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama masyarakat kurang mampu di Gampong.52
Selanjutnya, BUMG juga memiliki fungsi antara lain:
a) BUMG dapat memotivasi masyarakatnya untuk memberi masukan tentang kelanjutan Gampong ke depan.
b) BUMG yang memfasilitasi segala aktivitas program pembangunan.
c) BUMG yang mensosialisasikan hasil-hasil usulan rencana usaha yang telah ditetapkan. Selain itu BUMG dapat membantu pemerintah Gampong menyelesaikan masalah-masalah yang ada di Gampong.
d) BUMG berperan sebagai penyeimbang harga kebutuhan yang dijadikan usaha pembangunan.
e) BUMG berperan sebagai pendorong masyarakat untuk lebih berperan aktif dalam kegiatan BUMG.53
Keterlibatan pemerintah Gampong sebagai penyalur modal terbesar BUMG diharapkan mampu memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM), yang diwujudkan dalam bentuk perlindungan atas intervensi yang merugikan dari pihak ketiga (baik dari dalam maupun luar Gampong). Demikian pula pemerintah Gampong harus turut berperan dalam pembentukan BUMG sebagai badan hukum
52 Ibid, hal 12.
53 Ade Eka Kurniawan,“Peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) dalam Peningkatan Pendapatan Asli Desa (Desa Lanjut Kecamatan Singkep Pesisir Kabupaten Lingga Tahun 2015)”, Jurnal Ilmu Pemerintahan Fakultas Sosial dan Ilmu Politik, (2016), hal. 24.
yang berpijak pada aturan perundangan yang berlaku, serta sesuai dengan kesepakatan yang terbangun di masyarakat Gampong.54
Berdasarkan uraian di atas maka penulis menyimpulkan bahwa tujuan pendirian BUMG adalah sebagai suatu badan usaha yang dapat memberdayakan berbagai potensi usaha masyarakat di Gampong, serta mendukung pelaksanaan di Gampong, dan menjadi tulang punggung pertumbuhan dan pemerataan ekonomi Gampong. Upaya pengembangan dan pengelolaan BUMG pun harus dilaksanakan dengan langkah-langkah yang terencana serta terpadu antara satu dengan yang lainnya dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
2.5.4 Landasan Hukum Badan Usaha Milik Gampong (BUMG)
Dasar pembentukan BUMG adalah Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang desa. Pemerintah bahkan membuat satu bab khusus mengenai BUMG yaitu Bab X Badan Usaha Milik Gampong.
a. Pasal 87 UU No. 6 Tahun 2014 tentang desa :
1) Gampong dapat mendirikan Badan Usaha Milik Gampong yang disebut BUMG.
2) BUMG dikelola dengan semangat kekeluargaan.
3) BUMG dapat menjalankan usaha di bidang ekonomi atau pelayanan umum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.55
b. Pasal 88 UU No. 6 Tahun 2014 tentang desa :
1) Pendirian BUMG disepakati melalui Musyawarah Gampong.
2) Pendirian BUMG sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Gampong.
c. Pasal 89 UU No. 6 Tahun 2014 tentang desa : Hasil usaha BUMG dimanfaatkan untuk:
1) Pengembangan usaha.
54 Ibid, hal 24
55 Undang-undang No.6 Tahun 2014 Tentang Badan Usaha Milik Desa, Pasal 87.
2) Pembangunan Gampong, pemberdayaan masyarakat Gampong, dan pemberian bantuan sosial, dan kegiatan dana bergulir yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Gampong.
d. Pasal 90 UU No. 6 Tahun 2014 tentang desa :
Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota, dan Pemerintah Gampong mendorong perkembangan BUMG dengan:
1) Memberikan hibah dan akses permodalan.
2) Memprioritaskan BUMG dalam pengelolaan sumber daya alam di Gampong.56
Berdasarkan Permendagri No. 113 Tahun 2014. Tentang keuangan desa.
Pasal 2 No. 113 Tahun 2014 asas pengelolaan keuangan desa:
1). Keuangan desa dikelola berdasarkan asas-asas transparan, akuntabel, partisipatif serta dilakukan dengan tertib dan disiplin anggaran.
2). Pengelolaan keuangan desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dikelola dalam masa 1 (satu) tahun anggaran yakni mulai tanggal 1 Januari sampai dengan tanggal 31 Desember.
Dalam Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan Desa, juga mengatur bahwa pengelolaan keuangan desa adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, dan pertanggungjawaban.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI Nomor 11 Tahun 2021 Tentang Badan Usaha Milik Desa, mengatur lebih terincih tujuan BUMDes dalam pasal 3 antara lain: BUM Desa/BUM Desa bersama bertujuan: a. Melakukan kegiatan usaha ekonomi melalui pengelolaan usaha, serta pengembangan investasi dan produktivitas perekonomian dan potensi Desa. b. Melakukan kegiatan pelayanan umum melalui barang dan atau jasa serta pemenuhan kebutuhan umum masyarakat Desa, dan mengelola lumbung pangan Desa. c. Memperoleh keuntungan atau laba
56 Undang-undang No.6 Tahun 2014 Tentang Badan Usaha Milik Desa, Pasal 90.
bersih bagi peningkatan pendapatan asli Desa serta mengembangkan sebesar-bessarnya manfaat atas sumber daya ekonomi masyarakat Desa. d. Pemanfaatan Aset Desa dalam menciptakan nilai tambah atas Aset Desa dan e. Mengembangkan ekosistem ekonomi digital di Desa.
Pengaruh BUMDes untuk masyarakat desa sangatlah besar dapat di lihat dalam PP RI Nomor 11 Tahun 2021 Tentang Badan Usaha Milik Desa, dalam pasal 10 menyatakan “Pendirian BUM Desa/BUM Desa bersama sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 7 didasarkan pada pertimbangan: a. Kebutuhan masyarakat; b. Pemecah masalah bersama c. kelayakan usaha. d. model bisnis, tata keIola, bentuk organisasi dan jenis usaha, serta pengetahuan dan teknologi; dan e.
visi pelestarian, orientasi keberlanjutan, dan misi pelindungan nilai religi, adat istiadat, perilaku sosial, dan kearifan lokal”
Berdasarkan PP RI Nomor 11 Tahun 2021 Tentang Badan Usaha Milik Desa, pada BAB VII Unit Usaha BUM Desa/BUM Desa Bersama antara lain :57
a. Pasal 49 PP No. 11 Tahun 2021 Tentang BUMG
1) BUM Desa/BUM Desa bersama dapat memiliki dan/atau membentuk Unit Usaha BUM Desa/BUM Desa bersama sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
2) Dalam hal ini Usaha BUM Desa/BUM Desa bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memiliki fungsi strategis serta berhubungan dengan hajat hidup orang banyak dan kesejahteraan umum, sebagian besar rnodal unit usaha tersebut harus dimiliki oleh BUM Desa/BUM Desa bersama.
3) BUM Desa/BUM Desa bersama dapat memiliki modal di luar Unit Usaha BUM Desa/BUM Desa bersama setelah mendapat persetujuan Musyawarah Desa/ Musyawarah antar Desa.
57 PP RI Nomor 11 Tahun 2021 Tentang Badan Usaha Milik Desa,
b. Pasal 50 PP No. 11 Tahun 2021 Tentang BUMG
Untuk memperoleh keuntungan finansial dan memberikan manfaat kepada masyarakat, Unit Usaha BUM Desa/BUM Desa bersama dapat melakukan kegiatan:
a. Pengelolaan sumber daya dan potensi baik alam, ekonomi, budaya, sosial, religi, pengetahuan, keterampilan, dan tata cara hidup berbasis kearifan lokal di masyarakat.
b. Industri pengolahan berbasis sumber daya lokal Jaringan distribusi dan perdagangan.
c. Layanan jasa keuangan.
d. Pelayanan umum prioritas kebutuhan dasar termaksud pangan, elektifikasi sanitasi, dan permukiman.
e. Perantara barang/jasa termasuk distribusi dan Kegiatan lain yang memenuhi kelayakan.
Posisi BUMG setelah UU Cipta Kerja No.11 tahun 2020 sebagai Badan Hukum Entitas Baru yang kedudukannya setara dengan Perseroan Terbatas (PT) setara dengan BUMN pada level nasional dan BUMD pada level daerah sebagaimana dijelaskan dalam Penjelasan Pasal 117 UU Cipta Kerja yang mengubah Pasal 87 UU Desa bahwa Posisi BUMDes sebagai badan hukum tidak dapat dipersamakan dengan Perseroan dan Koperasi.
a. Pasal 1 UU Cipta Kerja No.11 tahun 2020 menyebut:
1). Badan Usaha Milik Desa, yang selanjutnya disebut BUM Desa adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh desa melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan desa yang dipisahkan guna mengelola aset, jasa pelayanan dan usaha lainnya untuk sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat desa.
b. Pasal 117 UU Cipta Kerja No.11 tahun 2020 menyebut:
1). Badan Usaha Milik Desa, yang selanjutnya disebut BUM Desa adalah badan hukum yang didirikan oleh desa dan/atau bersama desa-desa guna mengelola usaha, memanfaatkan aset, mengembangkan investasi dan produktivitas, menyediakan jasa pelayanan, dan/atau jenis usaha lainnya untuk sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat desa.
c. Pasal 87 UU Cipta Kerja No.11 tahun 2020 menyebut:
1). Desa dapat mendirikan BUM Desa
2). BUM Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikelola dengan semangat kekeluargaan dan kegotongroyongan
3). BUM Desa dapat menjalankan usaha di bidang ekonomi dan/atau pelayanan umum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
4). BUM Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat membentuk unit usaha berbadan hukum sesuai dengan kebutuhan dan tujuan.
5). Ketentuan lebih lanjut mengenai BUM Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur dengan Peraturan Pemerintah58 Penjelasan Pasal 117 ayat (1) UU Cipta Kerja yang mengubah ketentuan dalam Pasal 87 UU Desa menjelaskan bahwa BUMDes dibentuk oleh Pemerintah Desa untuk mendayagunakan segala potensi ekonomi, kelembagaan perekonomian, serta potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa. BUMDes secara spesifik tidak dapat disamakan dengan badan hukum seperti perseroan terbatas, atau koperasi.
2.5.5 Prinsip-Prinsip Pengelolaan BUMG
Prinsip-prinsip pengelolaan BUMG penting untuk diuraikan agar memudahkan pemahaman dan dapat dipersepsikan dengan cara yang sama oleh pemerintah Gampong, anggota (penyerta modal), BPD, Pemerintah Kabupaten, dan masyarakat. Terdapat enam prinsip terkait pengelolaan BUMG, antara lain:
1) Kooperatif, artinya semua komponen ikut terlibat di dalam BUMG serta harus mampu melakukan kerjasama yang baik demi pengembangan dan kelangsungan hidup usahanya.
2) Partisipatif, artinya semua komponen yang terlibat di dalam BUMG harus bersedia secara sukarela atau tanpa diminta memberikan dukungan dan peran yang dapat mendorong kemajuan usaha BUMG.
58 Alfiansyah, Setatus Badan Usaha Milik Desa Sebagai Badan Hukum Atas Di Undangkannya Undang-Undang Cipta Kerja, Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan, Vol. 5, No. 1, (Maret 2021), hal. 683