BAB II KAJIAN PUSTAKA
C. Peran Guru
1. Peran Guru dalam Aktivitas Pembelajaran
Peran guru dalam aktivitas pembelajaran sangat kompleks. Guru tidak sekadar menyampaikan ilmu pengetahuan kepada anak didiknya, akan tetapi guru juga dituntut untuk memainkan berbagai peran yang bertujuan untuk mengembangkan potensi anak didiknya secara optimal. Mukhtar dan Martinis Yamin (Sutikno, 2013 : 52) menyatakan bahwa peran guru dalam pembelajaran adalah sebagai berikut :
a. Guru sebagai model. Anak dan remaja berkembang ke arah idealisme dan kritis. Mereka membutuhkan guru sebagai model yang dapat dicontoh dan dijadikan teladan. Karena itu, guru harus memiliki kelebihan, baik pengetahuan, keterampilan, maupun kepribadian. Kelebihan ini tampak dalam disiplin pribadi yang tinggi dalam bidang – bidang intelektual, emosional, kebiasaan – kebiasaan yang sehat, sikap yang demokratis, terbaik dan sebagainya. Dalam menjalankan peranan
34
ini, guru harus senantiasa dalam keterlibatan secara emosional dan intelektual dengan anak – anak. Dia senantiasa berusaha memberikan bimbingan, menciptakan iklim kelas yang menyenangkan dan menggairahkan anak untuk belajar, menyediakan kesempatan dimana anak terlibat dalam perencanaan bersama dengan guru, dan memungkinkan secara direktif.
b. Guru sebagai perencana. Guru berkewajiban mengembangkan tujuan – tujuan pendidikan menjadi rencana yang operasional. Tujuan – tujuan umum perlu diterjemahkan menjadi tujuan – tujuan secara spesifik dan operasional. Dalam perencanaan ini, siswa perlu dilibatkan, sehingga menjamin relevansinya dengan perkembangan, kebutuhan, dan tingkat pengalaman mereka. Peranan ini menuntut agar perencanaan senantiasa direlevansikan dengan kondisi masyarakat, kebiasaan belajar siswa, pengalaman dan pengetahuan siswa, metode belajar yang serasi, serta materi yang sesuai dengan minatnya.
c. Guru sebagai pendiagnosa kemajuan belajar siswa. Peranan ini erat kaitannya dengan tugas mengevaluasi belajar siswa. Penilaian memiliki arti yang penting bagi siswa, orang tua dan bagi guru sendiri. Bagi siswa, agar mereka mengetahui seberapa jauh mereka telah berhasil dalam studi. Bagi orang tua, agar mengetahui kemajuan belajar anaknya. Bagi guru, penting untuk menilai dirinya sendiri dan keefektifan pembelajaran yang telah diberikannya. Data yang terkumpul tentang diri siswa, sebagian menunjukkan beberapa kelemahan yang
35
memerlukan perbaikan melalui prosedur bimbingan yang efektif. Dalam menjalankan peranan ini, seharusnya guru mampu melaksanakan dan mempergunakan tes – tes yang telah dilakukan, melaksanakan tes formatif, sumatif, serta memperkirakan perkembangan siswanya. d. Guru sebagai pemimpin. Guru adalah pemimpin dalam kelas, sekaligus
sebagai anggota kelompok – kelompok dari siswa. Banyak tugas yang sifatnya manajerial yang harus dilakukan oleh guru, seperti memelihara ketertiban kelas, mengatur ruangan, bertindak sebagai pengurus rumah tangga kelas, serta menyusun laporan bagi pihak yang memerlukannya. e. Guru sebagai petunjuk jalan kepada sumber – sumber. Guru berkewajiban menyediakan berbagai sumber yang memungkinkan akan memperoleh pengalaman yang kaya. Lingkungan sumber itu perlu ditunjukkan kendatipun pada hakiktnya anak sendiri yang berusaha menemukannya. Tentu saja sumber – sumber yang ditunjukkan itu adalah sumber – sumber yang cocok untuk membantu proses belajar mereka.
Syaiful Bahri Djamarah (2005: 43) menjelaskan bahwa peran guru dalam pembelajaran sebagai berikut :
a. Korektor. Sebagai korektor guru harus bisa membedakan mana nilai yang baik dan mana nilai yang buruk. Kedua nilai yang berbeda ini harus betul – betul dipahami dalam kehidupan di masyarakat. Kedua nilai ini mungkin telah anak didik miliki dan mungkin pula telah mempengaruhinya sebelum anak didik masuk sekolah. Latar belakang
36
kehidupan anak didik yang berbeda – beda sesuai dengan sosio – kultural masyarakat dimana anak didik tinggal akan mewarnai kehidupannya. Semua nilai yang baik harus guru pertahankan dan semua nilai yang buruk harus disingkirkan dari jiwa dan watak anak didik. Bila guru membiarkannya, berarti guru telah mengabaikan perannya sebagai korektor , yang menilai dan mengoreksi semua sikap, tingkah laku, dan perbuatan anak didik. Koreksi yang harus guru lakukan terhadap sikap dan sifat anak didik tidak hanya disekolah, tetapi diluar sekolah pun harus dilakukan. Sebab tidak jarang di luar sekolah anak didik justru lebih banyak melakukan pelanggaran terhadap norma – norma susila, moral, sosial, dan agama yang hidup di masyarakat. Lepas dari pengawasan guru dan kurangnya pengertian anak didik terhadap perbedaan nilai kehidupan menyebabkan anak didik mudah larut di dalamnya.
b. Inspirator. Sebagai inspirator guru harus dapat memberikan ilham yang baik bagi kemajuan belajar anak didik. Persoalan belajar adalah masalah utama anak didik. Guru harus dapat memberikan petunjuk (ilham) bagaimana cara belajar yang baik. Petunjuk itu tidak harus bertolak dari sejumlah teori – teori belajar, dari pengalaman pun bisa dijadikan petunjuk bagaimana cara belajar yang baik. Yang penting bukan teorinya, tapi bagaimana melepaskan masalah yang dihadapi oleh anak.
37
c. Informator. Sebagai informator guru harus dapat memberikan informasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, selain sejumlah bahan pelajaran untuk setiap mata pelajaran yang telah diprogramkan dalam kurikulum. Informasi yang baik dan efektif diperlukan dari guru. Kesalahan informasi adalah racun bagi anak didik. Untuk menjadi informator yang baik dan efektif, penguasaan bahasalah sebagai kuncinya, ditopang dengan penguasaan bahan yang akan diberikan kepada anak didik. Informator yang baik adalah guru yang mengerti apa kebutuhan anak didik dan mengabdi untuk anak didik.
d. Organisator. Sebagai organisator adalah sisi lain dari peranan yang diperlukan dari guru. Dalam bidang ini guru memiliki kegiatan pengelolaan kegiatan akademik, menyusun tata tertib sekolah, menyusun kalender akademik, dan sebagainya. Semuanya diorganisasikan, sehingga dapat mencapai efektivitas dan efisiensi dalam belajar pada diri anak didik.
e. Motivator. Sebagai motivator guru hendaknya dapat mendorong anak didik agar bergairah dan aktif belajar. Dalam upaya memberikan motivasi, guru dapat menganalisis motif – motif yang melatarbelakangi anak didik malas belajar dan menurun prestasinya di sekolah. Setiap saat guru harus bertindak sebagai motivator, karena dalam interaksi edukatif tidak mustahil ada diantara anak didik yang malas belajar dan sebagainya, juga dapat memberikan motivasi pada anak didik untuk lebih bergairah dalam belajar. Peranan guru sebagai motivator sangat
38
penting dalam interaksi edukatif, karena menyangkut esensi pekerjaan mendidik yang membutuhkan kemahiran sosial, menyangkut performance dalam personalisasi dan sosialisasi diri.
f. Inisiator. Dalam perananannya sebagai inisiator, guru harus dapat menjadi pencetus ide – ide kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran. Proses interaksi edukatif yang ada sekarang harus diperbaiki sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pendidikan. Kompetensi guru harus diperbaiki, keterampilan penggunaan media pendidikan dan pengajaran harus diperbarui sesuai kemajuan media komunikasi dan informasi abad ini. Guru harus menjadikan dunia pendidikan, khusunya interaksi edukatif agar lebih baik dari dulu. Bukan mengikuti terus tanpa mencetuskan ide – ide inovasi bagi kemajuan pendidikan dan pengajaran.
g. Fasilitator. Sebagai fasilitator guru hendaknya dapat menyediakan fasilitas yang memungkinkan anak didik dapat belajar secara optimal. Lingkungan belajar yang tidak menyenangkan, suasana ruang yang pengap, meja dan kursi yang berantakan, fasilitas belajar yang kurang tersedia, menyebabkan anak didik malas belajar. Oleh karena itu menjadi tugas guru bagaimana menyediakan fasilitas, sehingga akan tercipta lingkungan belajar yang menyenangkan anak didik.
h. Pembimbing. Peranan guru yang tidak kalah pentingnya dari semua peran yang telah disebutkan diatas, adalah sebagai pembimbing. Peranan ini harus lebih dipentingkan, karena kehadiran guru disekolah
39
adalah untuk membimbing anak didik menjadi manusia dewasa yang cakap. Tanpa bimbingan, anak didik akan mengalami kesulitan dalam menghadapi perkembangan dirinya. Ketidakmampuan anak didik menyebabkan anak lebih banyak tergantung pada bantuan guru. Tetapi semakin dewasa, ketergantungan anak didik semakin berkurang. Jadi, bagaimanapun juga bimbingan dari guru sangat diperlukan pada saat anak didik belum mampu berdiri sendiri (mandiri).
i. Demonstrator. Dalam interaksi edukatif, tidak semua bahan pelajaran anak didik pahami. Apalagi anak didik yang memiliki intelgensi yang sedang. Untuk bahan pelajaran yang sukar dipahami anak didik, guru harus berusaha dengan membantunya, dengan cara memperagakan apa yang diajarkan secara didaktis, sehingga apa yang guru inginkan sejalan dengan pemahaman anak didik, tidak terjadi kesalahan pengertian antara guru dan anak didik. Tujuan pengajaran pun dapat tercapai dengan efektif dan efisien.
j. Pengelola kelas. Sebagai pengelola kelas guru hendaknya dapat mengelola kelas dengan baik, karena kelas adalah tempat berhimpun semua anak didik dan guru dalam rangka menerima bahan pelajaran dari guru. Kelas yang dikelola dengan baik akan menunjang jalannya interaksi edukatif. Sebaliknya, kelas yang tidak dikelola dengan baik akan menghambat kegiatan pengajaran. Anak didik tidak mustahil akan merasa bosan untuk tinggal lebih lama di kelas. Hal ini akan berakibat mengganggu jalannya proses interaksi edukatif. Kelas yang terlalu
40
padat dengan anak didik, pertukatan udara kurang, penuh kegaduhan, lebih banyak tidak menguntungkan bagi terlaksananya interaksi edukatif yang optimal. Hal ini tidak sejalan dengan tujuan umum dari pengelolaan kelas, yaitu menyediakan dan menggunakan fasilitas kelas bagi bermacam – macam kegiatan belajar mengajar agar mencapai hasil yang baik dan optimal. Jadi, maksud dari pengelolaan kelas adalah agar anak didik betah tinggal di kelas dengan motivasi yang tinggi untuk senantiasa belajar di dalamnya.
k. Mediator. Sebagai mediator, guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan dalam berbagai bentuk dan jenisnya, baik media non material maupun materiil. Media berfungsi sebagai alat komunikasi guna mengefektifkan proses interaksi edukatif. Keterampilan menggunakan semua media itu diharapkan dari guru yang disesuaikan dengan pencapaian tujuan pengajaran. Sebagai mediator, guru dapat diartikan sebagai penengah dalam proses belajar anak didik. Dalam diskusi, guru dapat berperan sebagai penengah, sebagai pengatur lalu lintas jalannya diskusi. Kemacetan jalannya diskusi akibat anak didik kurang mampu mencari jalan keluar dari pemecahan masalahnya, dapat guru tengahi, bagaimana menganalisis permasalahan agar dapat diselesaikan. Guru sebagai mediator juga dapat diartikan sebagai penyedia media.
l. Supervisor. Sebagai supervisor, guru hendakya dapat membantu, memperbaiki, dan menilai secara kritis terhadap proses pengajaran.
41
Teknik – teknik supervisi harus guru kuasai dengan baik agar dapat melakukan perbaikan terhadap situasi belajar mengajar menjadi lebih baik. Untuk itu kelebihan yang dimiliki supervisor bukan hanya karena posisi atau kedudukan yang ditempatinya, akan tetapi juga karena pengalamannya, pendidikannya, kecakapannya, atau keterampilan – keterampilan yang dimilikinya, atau karena memiliki sifat kepribadian yang menonjol daripada orang – orang yang disupervisinya. Dengan semua kelebihan yang dimiliki, ia dapat melihat, menilai atau mengadakan pengawasan terhadap orang atau sesuatu yang disupervisi. m.Evaluator. Sebagai evaluator guru dituntut untuk menjadi seorang
evaluator yang baik dan jujur, dengan memberikan penilaian yang menyentuh aspek ekstrinsik dan intrinsik. Penilaian terhadap aspek intrinsik lebih menyentuh pada aspek kepribadian anak didik, yakni aspek nilai (values). Berdasarkan hal ini, guru harus bisa memberikan penilaian dalam dimensi yang luas. Penilaian terhadap kepribadian anak didik tentu lebih diutamakan daripada penilaian terhadap jawaban anak didik ketika diberikan tes. Anak didik yang berprestasi baik belum tentu memiliki kepribadian yang baik. Jadi, penilaian itu pada hakikatnya diarahkan pada perubahan kepribadian anak didik agar menjadi manusia susila yang cakap. Sebagai evaluator, guru tidak hanya menilai produk (hasil pengajaran), tetapi juga menilai proses (jalannya pengajaran). Dari kedua kegiatan ini akan mendapatkan umpan balik (feedback) tentang pelaksanaan interaksi edukatif yang dilakukan.
42
Mukhlis (Nini Subini, 2012 : 20) mengemukakan bahwa peranan guru mencakup tiga belas hal yaitu :
a. Guru sebagai korektor. Dalam sekolah latar belakang kehidupan anak didik berbeda – beda sesuai dengan sosio – kultural masyarakat tempat anak didik tinggal akan mewarnai kehidupannya. Guru harus bisa membedakan nilai yang baik dan buruk . Bila guru membiarkan berarti guru telah mengabaikan peranannya sebagai korektor yang menilai dan mengoreksi semua sikap, tingkah laku, dan perbuatan anak didiknya. b. Guru sebagai inspirator. Guru harus dapat memberikan petunjuk kepada
anak didik cara belajar yang baik. Ada banyak cara yang bisa dipilih siswa dalam belajar sehingga anak lebih mudah mengikuti kegiatan pembelajaran.
c. Guru sebagai informator. Guru harus bisa menjadi informator bagi murid – muridnya. Informasi yang baik dan efektif dibutuhkan anak dari guru. Kesalahan infomasi dapat menjadi racun bagi anak didik. Informator yang baik adalah guru yang mengerti kebutuhan anak didik dan mengabdi untuk anak didik.
d. Guru sebagai inisiator. Peran guru sebagai inisiator menuntut guru harus dapat menyusun perangkat pembelajaran. Semua diorganisasikan, sehingga dapat mencapai efektivitas dan efisiensi dalam pembelajaran dalam diri anak didik.
e. Guru sebagai motivator. Dalam upaya memberikan motivasi, guru dapat menganalisis hal – hal yang melatarbelakangi anak didik malas belajar
43
dan menurun prestasinya di sekolah. Motivasi dapat efektif bila dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan anak didik. Dalam proses pembelajaran, peranan guru sebagai motivator sangat penting karena menyangkut esensi pekerjaan mendidik yang membutuhkan kemahiran sosial, performance dalam personialisasi, dan sosialisasi diri.
f. Guru sebagai inisiator. Sebagai inisiator, guru harus dapat mencetuskan ide – ide kemajuan dalam bidang pendidikan. Guru harus menjadikan dunia pendidikan lebih baik dulu sebelum memikirkan hal lain yang tidak ada kaitannya dengan pendidikan.
g. Guru sebagai fasilitator. Dalam peranannya sebagai fasilitator, guru hendaknya dapat menyediakan fasilitas yang memungkinkan terciptanya kemudahan kegiatan belajar anak didik. Hal ini akan membantu terciptanya lingkungan belajar yang menyenangkan bagi anak didik.
h. Guru sebagai pembimbing. Sebagai pembimbing, peranan guru harus lebih diutamakan. Hal ini dikarenakan tanpa bimbingan anak didik akan mengalami kesulitan dalam perkembangan dirinya.
i. Guru sebagai demonstrator. Guru juga harus bisa mendemonstrasikan materi pelajaran. Apalagi untuk bahan pelajaran yang sukar dipahami anak didik, guru harus berusaha membantunya dengan cara memeragakan apa yang diajarkan secara didaktis. Dengan demikian, anak didik akan mudah memahami apa yang diajarkan sehingga apa yang guru inginkan sejalan dengan pemahaman muridnya.
44
j. Guru sebagai pengelola kelas. Kelas adalah tempat berkumpulnya anak didik dengan berbagai warna. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat mengelola kelas dengan baik. Kelas yang tidak dikelola dengan baik akan menghambat kegiatan pembelajaran. Anak didik tidak mustahil akan merasa bosan untuk tinggal lebih lama di kelas. Anak akan keluar masuk kelas, hal ini akan berakibat menganggu jalannya kegiatan belajar mengajar yang sedang berlangsung. Guru harus bisa menciptakan suasana kondusif di kelas agar anak didik betah tinggal di kelas dengan motivasi yang tinggi untuk senantiasa belajar di dalamnya. Salah satu caranya adalah guru harus mengelola kelas dengan baik. k. Guru sebagai mediator. Dalam peranannya sebagai mediator, guru
menjadi penengah dalam proses pembelajaran anak didik. Guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan sehingga siap menyampaiakan materi kepada anak didiknya.
l. Guru sebagai supervisor. Guru harus menguasai berbagai teknik supervisi agar dapat melakukan perbaikan terhadap situasi belajar mengajar pada anak. Dengan supervisi diharapkan kekurangan cara mengajar dapat dibenahi dan diganti dengan metode mengajar yang sesuai dengan kondisi masing – masing kelas.
m.Guru sebagai evaluator. Sebagai evaluator, guru dituntut untuk menjadi seseorang yang baik dan jujur. Penilaian yang dilakukan harus menyentuh aspek ekstrinsik dan intrinsik. Tidak hanya faktor luar dari
45
anak, namun juga faktor yang berasal dari dalam diri anak. Nilai yang diberikan harus murni berdasarkan hasil belajar anak, tidak dipandang bulu karena siswa ini anak orang terpandang.
Berdasakan beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa salah satu peran guru yang terkait dengan usaha memandirikan siswa adalah guru sebagai pembimbing. Guru sebagai pembimbing sangat penting peranannya dalam pembelajaran. Nini Subini (2012: 13) menjelaskan bahwa yang berhubungan dengan tugas guru sebagai pembimbing dalam pembelajaran yaitu mendorong berkembangnya perilaku positif dalam pembelajaran dan membimbing peserta didik memecahkan masalah dalam pembelajaran. Dari pendapat diatas, peneliti dapat menyebutkan beberapa indikator peran guru untuk mendorong berkembangnya perilaku positif yaitu guru memberikan motivasi dan dukungan dalam pembelajaran, guru memberikan kebebasan anak untuk mengembangkan kemampuannya baik dalam pembelajaran maupun diskusi. Sedangkan indikator peran guru membimbing peserta didik memecahkan masalah dalam pembelajaran yaitu memberikan arahan pada siswa ketika siswa mengalami kesulitan dalam diskusi, memberikan bimbingan pada siswa di dalam kegiatan pembelajaran.
2. Pengaruh Peran Guru dalam Upaya Mencapai Kemandirian Belajar